You are on page 1of 15

Makalah

PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI NASOGASTRIK (NGT) PADA PASIEN TIDAK SADAR ATAU KOMA
Laporan Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kebutuhan Dasar Manusia II

Disusun Oleh: ADE BANU HAMDAN ANNISA CAHYATI FITRIANA DESI W SITI FATHURROHMAH (NIM. P07120113034) (NIM. P07120113038) (NIM. P07120113052) (NIM. P07120113071)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA JURUSAN D-III KEPERAWATAN 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perawat masa kini di tuntut untuk memberikan pelayanan kesehatan / keperawatan yang bermutu tinggi kepada masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan bila perawat mampu menggunakan metode pendekatan pemecahan masalah, menerapkan hasil penelitian / pengetahuan terbaik, bekerja dengan baik bersama tim kesehatan, serta melakukan pengkajian kemampuan diri / reflex diri untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari aspek professional yang dikuasai

Menurut Brunner dan Sudart (2001) Koma adalah keadaan klinnis ketidaksadaran dimana pasien tidak tanggap terhadap dirinya sendiri dan lingkungan. Mutisme akinetik adalah keadaan tidak responsive pada lingkungan dimana pasien tidak membuat gerakan atau bunyi tetapi kadang membuka mata mereka. Keadaan vegetatif persisten adalah salah satu dimana pasien digambarkan sebagai terjaga tetapi tidak adanya isi kesadaran tanpa fungsi mental atau kognitif yang efektif.

Manusia memerlukan nutrisi yang cukup untuk dapat bertahan hidup, tumbuh kembang, sehingga tetap dapat beraktivitas. Tetapi manusia dihadapkan pada kondisi yang menyebabkan tidak bisa mendapatkan asupan nutrisinya, misalnya pada keadaan koma (tidak sadarkan diri) dimana manusia tidak bisa makan secara langsung lewat mulut. Hal ini bisa diatasi dengan memasukan asupan nutrisi dengan selang hidung atau NGT (Nasogastrik). Nutrisi Nasogastrik adalah memasukkan nutsrisi cair dengan selang plastik yang dipasang melalui hidung sampai lambung.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan,maka dalam penulisan ini dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut : 1. Apa definisi dari Pasien Tidak Sadar atau Koma ?

2. Apa definisi dari NGT ( Nasogastrik ) 3. Bagaimana patofisiologi dan Penatalaksanaan Pasien Koma ( Tidak Sadar ) 4. Bagaimana proses keperawatan pada klien dengan tidak sadarkan diri ? C. Tujuan 1. Tujuan Umum Mengetahui cara memberikan dan membuat proses keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi nasogastrik pada tidak sadar atau koma dengan benar 2. Tujuan Khusus a. Mengetahui definisi dari koma b. Mengetahui definisi dari NGT (Nasogastrik) c. Mengetahui patofisiologi dari koma d. Mengetahui penatalaksanaan medis dari koma D. Manfaat 1. Bagi mahasiswa: a. Dapat mengetahui pengertian b. Dapat mengetahui pengertian nutrisi nasogastrik c. Dapat mengetahui cara memenuhi kebutuhan nutrisi nasogastrik pada klien tidak sadar atau koma 2. Bagi masyarakat umum: a. Dapat mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan nutrisi penderita tidak sadar atau koma b. Dapat menambah ilmu pengetahuan mengenai pemenuhan kebutuhan nutrisi nasogastrik

BAB II ISI

1.

PENGERTIAN GANGGUAN / PENYAKIT A. Definisi Koma Koma adalah keadaan tidak sadarkan diri yang berkepanjangan. Pasien koma masih hidup namun tidak dapat merespon lingkungannya dan terlihat seperti sedang tidur. Bedanya, pasien koma tidak dapat dibangunkan oleh rangsangan apapun, bahkan oleh rasa nyeri. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai masalah, termasuk trauma, zat beracun, penyakit, stroke dan cidera otak akibat berbagai hal, bisa karena meningkatnya tekanan otak, perdarahan, kurang oksigen atau penumpukan racun. Cedera yang dialami bisa bersifat sementara, tapi juga bisa menjadi permanen. Selama koma, staf medis harus mengelola fungsi usus dan kandung kemih, gizi (biasanya melalui infus), kulit (luka / ulkus dekubitus), dan mungkin pernapasan pasien. Semakin lama koma berlangsung, semakin parah efeknya. B. Definisi Nasogastrik Selang nasogastrik atau NGT adalah suatu selang yang dimasukkan melalui hidung sampai ke lambung. Sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada seseorang yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan, dan obat-obatan secara oral. Juga digunakan untuk mengeluarkan isi lambung. Bagi anak-anak,kebutuhan akan NGT disebabkan oleh beberapa kondisi seperti anomali anatomi jalan makanan; oesophagus atau alat eliminasi, kelemahan reflek menelan, distress pernafasan atau tidak sadarkan diri. Keselamatan adalah selalu menjadi perhatian,dimana kerjasama perawat pasien dan keluarga sangat dibutuhkan dan pada sebagian anak terkadang agak sedikit dipaksakan. Sebagai perawat profesional, harus berhati-hati dalam melaksanakan tindakan serta memperhatikan keunikan variasi di dalam melaksanakan tindakan secara aman dan nyaman. (WALLEY & WONG, 2000).

2.

PATOFISIOLOGI GANGGUAN / PENYAKIT Tidak sadar atau koma dapat disebabkan oleh karena : gangguan sirkulasi, encephalomeningitis, gangguan metabolisme, gangguan elektrolit dan endokrin, neoplasma, trauma kapitis, epilepsi dan obat-obatan. Gangguan kesadaran dapat dibagi dua : a. Gangguan derajat (kuantitas, arousal, wakefulness) kesadaran. b. Gangguan isi (kualitas, awareness, alertness) kesadaran. Kesadaran ditentukan oleh interaksi antara fungsi korteks serebri termasuk ingatan, berbahasa dan kepintaran (kualitas), dengana scending reticular activating system (ARAS) (kuantitas) yang terletak mulai dari pertengahan bagian atas pons. ARAS menerima serabut-serabut saraf kolateral dari jaras jaras sensoris dan melalui thalamic relay nuclei dipancarkan secara difusi ke kedua korteks serebri. ARAS bertindak sebagai suatu off-on switch, untuk menjaga korteks serebri tetap sadar (awake). Maka apapun yang dapat mengganggu interaksi ini, apakah lesi supratentorial, subtentorial dan metabolik akan mengakibatkan menurunnya kesadaran. Karena ARAS terletak sebagian di atas tentorium serebel dan sebagian lagi di bawahnya, maka ada tiga mekanisme patofisiologi timbulnya koma : 1. Lesi supratentorial 2. Les subtentorial 3. Proses metabolik Koma supratentorial 1. Lesi mengakibatkan kerusakan difus kedua hemisfer serebri, sedang batang otak tetap normal. Ini disebabkan proses metabolik. 2. Lesi struktural supratentorial (hemisfer). Adanya massa yang mengambil tempat di dalam kranium (hemisfer serebri) beserta edema sekitarnya misalnya tumor otak, abses dan hematom mengakibatkan dorongan dan pergeseran struktur di sekitarnya; terjadilah : 1) Hemiasi girus singuli menyebabkan tekanan pads pembuluh darah serta jaringan otak, mengakibatkan iskemi dan edema. 2) Hemiasi transtentorial sentral adalah basil akhir dari proses desak ruang rostrokaudal dari kedua hemisfer serebri dan nukli

basalis; secara berurutan mereka menekan diensefalon, mesensefalon, pons dan medula oblongata melalui celah tentorium. 3) Herniasi unkus terjadi bila lesi menempati sisi lateral fossz kranii media atau lobus temporalis; lobus temporalis mendesak unkus dan girus hipokampus ke arah garis tengah dan ke atas tepi bebas tentorium; akhirnya menekan mesensefalon

ipsilateral, kemudian bagian lateral mesensefalon dan seluruh mesensefalon.

Koma infratentorial Ada dua macam lesi infratentorial yang menyebabkan koma. 1) Proses di dalam batang otak sendiri yang merusak ARAS atau/serta merusak pembuluh darah yang mendarahinya dengan akibat iskemi, perdarahan dan nekrosis. Misalnya pads stroke, tumor, cedera kepala dan sebagainya 2) Proses di luar batang otak yang menekan ARAS Dapat disebabkan oleh tumor serebelum, perdarahan serebelum dan sebagainya. Koma metabolik Proses metabolik melibatkan batang otak dan kedua hemisfer serebri. Koma disebabkan kegagalan difus dari metabolisme sel saraf. Koma terjadi bila penyakit ekstraserebral melibatkan metabolisme otak, yang mengakibatkan kekurangan nutrisi, gangguan keseimbangan elektrolit ataupun keracunan. Pada koma metabolik ini biasanya ditandai gangguan sistim motorik simetris dan tetap utuhnya refleks pupil (kecuali pasien mempergunakan glutethimide atau atropin), juga utuhnya gerakan-gerakan ekstraokuler (kecuali pasien mempergunakan barbiturat).

3.

PENATALAKSANAAN MEDIS 1) Mempertahankan jalan nafas Pasien dapat di intubasi melalui hidung atau mulut 2) Pemasangan Kateter Intravena

Digunakan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan pemberian makanan dilakukan dengan selang makanan atau selang gastrostomi 3) Memantau status sirkulasi pasient (tekanan darah, frekuensi jantung) Untuk mengetahui perfusi tubuh yang adekuat dan perfusi otak dapat dipertahankan. 4) Intravena feeding Untuk mengetahui terjadinya perut kembung dan perdarahan pada lambung 5) Selamatkan susunan saraf pusat dengan pemberian oksigen, tiamin dan glukosa. 6) Perbaikan homeostasis ekstrakranial 7) Lakukan kateterisasi, pemasangan CVP dan infus 8) Posisi kepala dinaikkan 10 30 derajat dan posisi badan dibolakbalik tiap 2 jam. 9) Singkirkan kemungkinan proses desak ruang.

lakukan pemasangan EKG

4. PROSES KEPERAWATAN a) PENGKAJIAN Hal-hal yang perlu dikaji dalam memenuhi kebutuhan nutrisi klien adalah: i. ii. iii. Identitas Klien Nama Jenis kelamin Usia Pekerjaan Tingkat pendidikan Diagnosa medis Riwayat kesehatan dan diet Riwayat kesehatan klien masa lalu dan masa sekarang Riwayat kesehatan keluarga Makanan yang membuat klien alergi Observasi TTV

iv.

Kesadaran klien (compos mentis, apatis, delirium, somnolen, stupor, koma) Kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan nutrisinya Auskultasi suara denyut jantung suara peristaltic usus

b) DIAGNOSIS Beberapa diagnosa keperawatan yang mengharuskan klien dipasang NGT: Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan Ketidakseimbangan nutrisi: gangguan menelan

Beberapa diagnose yang sering muncul ketika klien dipasang NGT: Resiko infeksi saluran nafas Gangguan rasa nyaman: mual, muntah

c) PERENCANAAN INTERVENSI
PERENCANAAN INTERVENSI RASIONAL

Kaji kebutuhan nutrisi klien

Dengan menkaji kebutuhan nutrisi klien maka akan menghindari kesalahan dalam tindakan

Cuci tangan sebelum melakukan tindakan

Mencuci tangan dengan benar dapat mengurangi penyebaran mikroorganisme

Jelaskan prosedur pemenuhan kebutuhan nutrisi melalui NGT kepada keluarga klien

Dengan menjelaskan prosedur kepada keluarga klien diharap keluarga klien bisa diajak untuk bekerja sama

Atur posisi klien dengan posisi semi fowler

Dengan posisi semi fowler maka akan menghindari klien tersedak

Pasang pengalas di atas dada klien Bersihkan daerah hidung

Agar makanan tidak mengotori baju klien Untuk menghindari kontaminasi saluran dari kotoran Untuk memastikan tidak ada makanan yang tersisa di

dengan menggunakan tisu Periksa dahulu sisa makanan di lambung dengan menggunakan spuit yang diaspirasikan ke

lambung klien supaya tidak akan terjadi penumpukan

lambung

makanan yang berlebihan Buka klem atau penutup Dengan membuka klem/penutup maka makanan dapat masuk kedalam lambung klien Lakukan tindakan pemberian makanan dengan cara pasang corong/spuit pada pangkal pipa Pemasangan corong akan

mempermudah makanan yang berbentuk cair untuk masuk kedalam pipa

Berikan makanan dalam bentuk cair yang tersedia Catat hasil atau respon klien

Pemenuhan untuk klien Sebagai

kebutuan

nutrisi

bahan

dokumentasi

dalam menentukan tercapai atau tidaknya keperawatan Cuci tangan setelah prosedur dilaksanakan Mencegah kontaminasi dari suaatu tindakan

pasien ke perawat

d) EVALUASI Dalam tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi klien terdapat dua jenis evaluasi, yakni evaluasi proses dan evaluasi hasil. Evaluasi proses merupakan respon dari klien ketika dan atau sesaat dilakukan tindakan. Evaluasi hasil merupakan hasil sementara atau hasil akhir setelah melakukan tindakan keperawatan. Evaluasi hasil untuk diagnosa pemenuhan kebutuhan nutrisi melalui NG tube untuk klien tidak sadar

ini dapat diketahui dengan mengukur pertambahan berat badan. Maka apabila ditemukan pasien dengan diagnose kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh hendaknya perawat menimbang terlebih dahulu berat badan awal klien. Berat badan awal klien sebelum diberikan tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi tersebut merupakan parameter dalam menentukan apakan tindakan tersebut sudah tercapai atau belum tercapai.

BAB III PELAKSANAAN INTERVENSI 1. PERSIAPAN PERAWAT a. Salam terapeutik disampaikan pada pasien b. Memperkenalkan diri c. Adanya data pasien membutuhkan pemberian makan melalui NGT (klien tidak dapat makan melalui mulut atau klien tidak dapat menelan) d. Memastikan klien (nama, umur, program) e. Tujuan tindakan disampaikan dengan bahasa yang jelas f. Prosedur tindakan dijelaskan dengan benar g. Mengatur posisi klien yang nyaman h. Lingkungan disiapkan untuk menjaga privasi pasien i. Mengatur penerangan dan sirkulasi udara ruangan j. Pengunjung/penunggu pasien diminta keluar k. Cuci tangan dilakukan dengan benar l. Sarung tangan dipakai 2. PERSIAPAN PASIEN a. Posisi pasien nyaman b. Infus terpasang dengan baik 3. PERSIAPAN ALAT a. Cairan makanan b. Syringe 20-50 cc c. Gelas ukur 60 ml d. Pompa makanan (jika ada) e. Tissue f. Bengkok g. Bak instrumen

4. PELAKSANAAN KERJA a. Intervensi b. Evaluasi c. Dokumentasi Keperawatan


No. 1. Tanggal Senin, 2014 Pukul : 07.00 WIB 3 Intervensi Evaluasi

Maret Kaji adanya kebutuhan nutrisi S : pada klien O : Pasien dalam kondisi koma, tidak mampu

makan dan minum sendiri A : Tujuan tercapai P:-

TTD

Perawat 2. Senin, 2014 Pukul : 13.00 WIB 3 Maret Berikan nutrrisi per NGT sesuai S : kebutuhan klien O : Diit masuk/NGT A : Tujuan tercapai P:-

TTD

Perawat

3.

Selasa, 4 Maret 2014 Pukul : 08.00 WIB

Ajarkan kepada keluarga klien S : keluarga mengatakan pentingnya nutrisi pada klien sudah memahami

pentingnya nutrisi untuk klien. O : keluarga bisa

menyebutkan

manfaat

nutrisi untuk klien.

A : Tujuan tercapai P:-

TTD

Perawat

4.

Rabu, 5 Maret 2014 Pukul : 07.00 WIB

Kolaborasikan dengan ahli gizi S : diit yang sesuai dengan O : Diit hasil perhitungan yang dibutuhkan pasien 10 mg/kg, BB 50kg, jadi 10x50 = 500mg per kali makan/NGT A : Tujuan tercapai P:-

kebutuhan klien

TTD

Perawat

BAB IV PENUTUP A. Kesimpulan Koma adalah keadaan tidak sadarkan diri yang berkepanjangan. Pasien koma masih hidup namun tidak dapat merespon lingkungannya dan terlihat seperti sedang tidur. Bedanya, pasien koma tidak dapat dibangunkan oleh rangsangan apapun, bahkan oleh rasa nyeri. Penanganan dirumah sakit melalaui upaya kuratif dan rehabilitatif sangat diperlukan dengan cara perawatan yang baik seperti posisi semi fowler, memberikan asupan nutrisi dalam bentuk cairan melalui selang hidung serta pemberian cairan dalam bentuk infus. B. Saran Bagi tenaga kesehatan terutama perawat diharapkan mengerti dan memahami tentang pengertian, patofisiologi, penatalaksanaan dan pemenuhan nutrisi nasogastrik pada pasien tidak sadar atau koma agar saat menerapkan pada pasien tidak terjadi suatu kesalahan yang menyebabkan pasien komplikasi atau bahkan bisa mengalami kematian karena kesalahan dalam melakukan asuhan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien. Jakarta: Salemba Medika Corwin, E.J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC http://e-learning-keperawatan.blogspot.com/2009/01/tindakan-pemasangannasogastric-tube.html Hidayat, Aziz Alimul. 2005. Kebutuhan Dasar Manusia: Buku Saku Praktikum. Jakarta: EGC Potter, P.A. dan Perry, A.G. 2005. Fundamental Of Nursing. Jakarta: EGC