You are on page 1of 35

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.

: SENIN/4 MARET 2013 ACARA NAMA : AYUNI INTAN : D61112005

: FILUM PROTOZOA & BRYOZOA NO. MHS Keterangan 1. Test 2. Endodermis 3. Eksodermis :

Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan

Samping :1 : 948 : Protozoa : Sarcodina : Foraminifera : Nummulitesidae : Nummulites : Nummulites millecaput BOUBEE : Mineralisasi : Plate/disk : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Eosen Tengah (50-44 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini merupakan filum dari Protozoa, kelas Sarcodina, ordo Foraminifera, family Nummulitesidae, genus Nummulites dengan nama spesies Nummulites millecaput BOUBEE. Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi dan mengakibatkan pori-pori dari organisme tersebut semakin kecil. Kemudian terjadi proses mineralisasi dimana terjadinya suatu penggantian seluruh tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen misalnya gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, maka material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk menyerupai piring atau yang biasa disebut plate atau disk. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali yaitu test, endodermis, dan eksodermis. Test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil. Endodermis adalah bagian dalam tubuh fosil. Eksodermis adalah bagian luar tubuh fosil. Komposisi mineral dari fosil ini yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapannya berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi umur dari fosil ini sekitar Eosen Tengah (49-43 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan menggunakan fosil bentonik, sebagai penentu umur relatif batuan yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan

biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen.

Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.30 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA & BRYOZOA NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005 Keterangan : 1. Test 2. Mantikula 3. Endodermis 4. Eksodermis Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan Pengendapan Keterangan Dorsal :2 : 1653 : Bryozoa : Gymnolaemata : Cyclostomata : Thecosmilianidae : Thecosmilia : Thecosmilia trichomata GOLDF : Permineralisasi : Branching : Silika (SiO2) : Jura Atas (160-141 juta tahun lalu) : Laut Dalam : Samping

Fosil ini merupakan filum dari Bryozoa. kelas Gymnolaemata, ordo Cyclostomata, family Thecosmilianidae dan termasuk genus Thecosmilia dengan nama spesies Thecosmilia trichomata GOLDF. Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori organisme semakin mengecil dan kemudian terjadi proses permineralisasi dimana terjadinya suatu penggantian sebagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk yang bercabang atau yang biasa disebut branching. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali, yaitu test, mantikula, endodermis, dan eksodermis. Test merupakan bagian keseluruhan dari tubuh fosil. Mantikula merupakan lubang pori besar yang berfungsi untuk memasukkan makanan dan mengeluarkan kotoran. Endodermis merupakan bagian dalam tubuh fosil. Sedangkan eksodermis merupakan bagian luar tubuh fosil. Adapun komposisi mineral yang terkandung di dalam fosil ini, yaitu silika (SiO2) dengan lingkungan pengendapan di laut dalam yang. Berdasarkan skala waktu geologi, umur dari fosil ini sekitar Jura Atas (161-140 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan menggunakan fosil bentonik, sebagai penentu umur relatif batuan yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen.

Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.00 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA & BRYOZOA Keterangan : 1. Test 2. Zooid 3. Zoorium 4. Mantikula Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan :3 : 263 : Bryozoa : Gymnolaemata : Ctenomata : Heliolithesidae : Heliolithes : Heliolithes cf. megastoma McCOY : Permineralisasi : Branching : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Silur Tengah (423 juta tahun lalu) : Laut Dangkal : NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005

Fosil ini merupakan Filum dari Bryozoa, kelas Gymnolaemata, ordo Cryptostomata, family Heliolithesidae, dan termasuk genus Heliolithes dengan nama spesies Heliolithes cf. megastoma McCOY Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori organisme semakin mengecil dan kemudian terjadi proses permineralisasi dimana terjadi suatu penggantian sebagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk yang bercabang yang biasa disebut branching. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali, yaitu test, zooid, zoorium, dan mantikula. Dimana test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil, zooid adalah lubang pori yang berukuran sedang yang ada pada bagian tubuh fosil, zoorium adalah lubang pori yang berukuran paling kecil pada bagian tubuh fosil, dan mantikula adalah lubang pori yang berukuran paling besar yang berfungsi sebagai mulut pada fosil. Komposisi mineral yang terkandung di dalam fosil ini yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapan berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi, umur dari fosil ini yaitu sekitar Silur Tengah (423 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan

menggunakan

fosil

bentonik,

sebagai

penentu

umur

relatif

batuan

yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi. http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.30 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA DAN BRYOZOA NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005 :

Keterangan 1. Test 2. Zooid 3. Zoorium 4. Mantikula . Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan Samping :4 :: Bryozoa : Stenolaemata : Cyclostomata : Cupuladrianidae : Cupuladria : Cupuladria cf. canariensis (Reuss) : Permineralisasi : Globular : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Miosen (22.5-5 juta tahun lalu) : Laut Dalam :

Fosil ini merupakan filum bryozoan, kelas Stenolaemata, ordo Cyclostomata, family Cupuladrianidae, dan termasuk genus Cupuladria dengan nama spesies Cupuladria cf. canariensis (Reuss). Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori organisme semakin mengecil dan kemudian terjadi proses pemfosilan yaitu permineralisasi dimana terjadi penggantian sebagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk menyerupai bola yang biasa disebut dengan globular. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali, yaitu test, zooid, zoorium, dan mantikula. Test adalah keseluruhan bagian tubuh fosil, zooid adalah lubang pori yang berukuran sedang yang ada pada tubuh fosil, zoorium adalah lubang pori yang berukuran paling kecil pada bagian tubuh fosil, dan mantikula adalah lubang pori yang berukuran paling besar yang berfungsi sebagai mulut dari tubuh fosil. Komposisi mineral dari fosil ini adalah kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapan berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi, umur dari fosil ini yaitu sekitar Miosen (22.5-5 juta tahun lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan

menggunakan

fosil

bentonik,

sebagai

penentu

umur

relatif

batuan

yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi. http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.30 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA DAN BRYOZOA Keterangan 1. Test 2. Zooid 3. Zoorium 4. Mantikula Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan : NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005

:5 :: Bryozoa : Phylactolaemata : Plumatellina : Halloporanidae : Hallopora : Hallopora ramose (dorbigny) : Permineralisasi : Branching : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Ordovisium (500-435 juta tahun lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini merupakan filum Bryozoa, kelas Phylactolaemata, ordo plumatellina, family Halloporanidae, dan termasuk genus Hallopora dengan nama spesies Hallopora ramose (dorbigny). Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya

terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori dari fosil semakin mengecil dan kemudian terjadi proses permineralisasi dimana terjadi suatu penggantian sebagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi maka, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk yang bercabang-cabang yang biasa disebut branching. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali yaitu test, zooid, zoorium, dan mantikula. Dimana test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil, zooid adalah lubang pori yang berukuran sedang yang ada pada tubuh fosil, zoorium adalah lubang pori yang berukuran paling kecil yang ada pada tubuh fosil, dan mantikula adalah lubang pori yang berukuran paling besar yang berfungsi sebagai mulut pada tubuh fosil. Komposisi mineral dari fosil ini yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapan berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi, umur dari fosil ini yaitu sekitar Ordovisium (500-435 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan menggunakan fosil bentonik, sebagai penentu umur relatif batuan yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.30 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA DAN BRYOZOA Keterangan 1. Test 2. Zooid 3. Zoorium 4. Mantikula Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan :6 : 887 : Bryozoa : Phylactolaemata : Cheilostomata : Caninianidae : Caninia : Caninia cornucopiae NICH : Permineralisasi : Branching : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Karbon Bawah (343-315 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal : : NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005

Fosil ini merupakan filum Bryozoa, kelas phylactolaemata, ordo Cheilostomata, family Caninianidae, dan termasuk genus Caninia dengan nama spesies Caninia cornucopiae NICH. Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori dari fosil ini semakin mengecil dan kemudian terjadi proses pemfosilan yaitu permineralisasi dimana terjadi suatu penggantian sebagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi maka, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk bercabang-cabang yang biasa disebut branching. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali, yaitu test, zooid, zoorium, dan mantikula. Dimana test adalah bagian keseluruhan dari tubuh fosil, zooid adalah lubang pori yang berukuran sedang yang ada pada tubuh fosil, zoorium adalah lubang pori yang berukuran paling kecil pada tubuh fosil, dan mantikula adalah lubang pori yang berukuran paling besar yang berfungsi sebagai mulut dari fosil. Komposisi mineral dari fosil ini yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapan berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi, umur fosil ini sekitar Karbon Bawah (343-315 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan

menggunakan

fosil

bentonik,

sebagai

penentu

umur

relatif

batuan

yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.20 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA DAN BRYOZOA NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005 :

Keterangan 1. Test 2. Endodermis 3. Eksodermis

Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan

Samping :7 : 530 : Protozoa : Sarcodina : Foraminifera : Lepidocentrusidae : Lepidocentrus : Lepidocentrus mulleri (SCHULTZE) (plates). : Mineralisasi : Plate/disk : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal :

Fosil ini merupakan filum Protozoa, kelas Sarcodina, ordo Foraminifera, family Lepidocentrusidae, dan termasuk genus Lepidocentrus dengan nama spesies Lepidocentrus mulleri (SCHULTZ) (plates). Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori fosil ini semakin mengecil dan kemudian terjadi proses mineralisasi dimana terjadi suatu penggantian seluruh bagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi maka, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk yang bercabang yang biasa disebut Braching. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali, yaitu test, endodermis, dan eksodermis. Dimana test adalah keseluruhan bagian tubuh fosil, endodermis adalah bagian dalam dari tubuh fosil, dan eksodermis adalah bagian luar dari tubuh fosil. Komposisi mineral dari fosil ini yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapan berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi, umur dari fosil ini sekitar Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan menggunakan fosil bentonik, sebagai penentu umur relatif batuan yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan

biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.30 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL.: SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA : FILUM PROTOZOA DAN BRYOZOA Keterangan 1.Test 2. Zooid 3. Zoorium 4. Mantikula Ventral No. Sampel No. Peraga Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies Proses Pemfosilan Bentuk Komposisi Kimia Umur Lingkungan pengendapan Keterangan :8 : 714 : Bryozoa : Gymnolaemata : Cheilostomata : Stachoidesidae : Stachoides : Stachoides verticallata : Permineralisasi : Branching : Kalsium Karbonat (CaCO3) : Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu) : Laut Dangkal : : NAMA: AYUNI INTAN NO. MHS: D61112005

Fosil ini merupakan filum Bryozoa, kelas Gymnolaemata, ordo Cheilostomata, family Stachoidesidae, dan termasuk genus Stachoides dengan nama spesies Stachoides verticallata. Awalnya organisme ini mati lalu tertransportasi ke cekungan-cekungan yang stabil melalui air, angin, es, dan lain sebagainya. Kemudian organisme tersebut

tertimbun oleh material sedimen akibat adanya tekanan yang terjadi. Selanjutnya terjadi kompaksi antara material sedimen dengan organisme yang tertimbun tadi yang mengakibatkan pori-pori fosil ini semakin mengecil dan kemudian terjadi proses permineralisasi dimana terjadi suatu penggantian sebagian tubuh fosil dengan pengisian mineral-mineral yang lebih resisten terhadap proses pelapukan. Seiring dengan berjalannya waktu, terjadilah yang namanya litifikasi atau pembatuan dimana organisme telah berubah menjadi fosil dan telah menyatu dengan material sedimen. Kemudian karena adanya gaya endogen seperti gempa bumi atau pergeseran lempeng bumi maka, fosil yang telah menyatu dengan material sedimen tadi akan tersingkapkan ke permukaan setelah itu karena adanya gaya eksogen contohnya hujan, angin, air, udara, dan lain sebagainya, material sedimen tersebut akan terkikis dan akan terpisah dengan fosil. Fosil ini memiliki bentuk yang bercabang-cabang yang biasa disebut dengan branching. Adapun bagian tubuh dari fosil ini yang masih dapat dikenali, yaitu test dan zooid. Dimana test adalah keseluruhan bagian tubuh fosil, zooid adalah lubang pori yang berukuran sedang yang ada pada tubuh fosil, zoorium adalah lubang pori yang berukuran paling kecil pada tubuh fosil, dan mantikula adalah lubang pori yang berukuran paling besar yang berfungsi sebagai mulut pada tubuh fosil. Komposisi mineral dari fosil ini yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dengan lingkungan pengendapan berada di laut dangkal. Berdasarkan skala waktu geologi, umur dari fosil ini sekitar Devon Tengah (370-360 juta tahun yang lalu). Adapun kegunaan dari fosil ini yaitu sebagai bukti adanya kehidupan di masa lampau dan memberi tentang serta penunjuk terjadinya evolusi kehidupan, sebagai penentu iklim pada saat terjadi atau berlangsungnya proses sedimentasi atau yang lebih dikenal dengan Paleoclimatology, sebagai penentu kedalaman sedimentasi atau lingkungan pengendapan dari batuan yang mengandungnya, yakni dengan menggunakan fosil bentonik, sebagai penentu umur relatif batuan yang

mengandungnya, sebagai penunjuk rekonstruksi paleogeografi, sebagai penentu top dan buttom dari suatu lapisan batuan yang mengandungnya, untuk penentuan biostratigrafi yakni penentuan urutan batuan berdasarkan kandungan biota atau fosil yang dikandung oleh suatu batuan, untuk menentukan arah aliran material sedimentasi, untuk mengetahui kolerasi batuan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Jadi dengan demikian, mengetahui tentang fosil berarti mengetahui tentang umur, kondisi lingkungan dan perkembangan stratigrafi batuan sedimen. Referensi : Asisten paleontologi 2011/2012 laboratorium peleontologi jurusan teknik geologi fakultas teknik universitas hasanuddin, 2012 Penuntun praktikum paleontologi 2012 laboratorium paleontologi. http://paleontologigeo2010.blogspot.com/2011/10/briozoa.html. Diakses pada hari Rabu, 6 Maret 2013 pukul 15.00 WITA. http://www.scribd.com/doc/94159252/Protozoa. Diakses pada hari Jumat, 8 Maret 2013 pukul 10.30 WITA.

ASISTEN

PRAKTIKAN

(AFDAN PRAYUDI)

(AYUNI INTAN)

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL. : SENIN/ 4 MARET 2013 ACARA NAMA : AYUNI INTAN : D61112005

: FILUM PROTOZOA & BRIOZOA NO. MHS BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Memperlajari hewan invertebrate merupakan suatu hal yang kurang lazim bagi kita khususnya dalam hal mempelajari fosil dari hewan invertebrate. Namun, bagi mahasiswa teknik geologi dengan mempelajari hal tersebut mahasiswa dapat mengetahui segala aspek yang pernah ada di kehidupan masa lampau yang memungkinkan bagi mahasiswa untuk menemukan berbagai sumber daya alam yang sangat menjanjikan di kehidupan sekarang ini contohnya minyak bumi. Dua diantara filum hewan invertebrate yang akan dibahas pada praktikum kali ini yaitu filum protozoa dan filum briozoa.

I.2. Maksud dan Tujuan Maksud dari praktikum ini ialah untuk mengenalkan filum protozoa dan filum briozoa kepada mahasiswa baru teknik geologi yang telah menjadi fosil dengan tujuan dari praktikum ini ialah agar praktikan dapat mengetahui pengertian, ciri,
klasifikasi, dan reproduksi dari filum protozoa dan filum briozoa yang telah menjadi fosil serta praktikan dapat mendeskripsikan bagian tubuh dari fosil filum tersebut.

I.3. Alat dan Bahan I.3.1. Alat : 1. Lab Kasa 2. Lap Halus

3. ATM (Alat tulis-menulis) I.3.2. Bahan : 1. Sampel (fosil invertebrate) 2. HCl 3. Format praktikum

I.4. Teori Ringkas I.4.1. Filum Protozoa Protozoa merupakan hewan berukuran mikroskopis yang terdiri dari satu sel. Istilah Protozoa berasal dari bahasa Yunani, yaitu protos berarti pertama dan zoon berarti hewan. Setiap individu protozoa tersusun dari organelaorganela yang merupakan kesatuan lengkap dan sanggup melakukan semua fungsi kehidupan. Sebagian besar protozoa hidup bebas di alam, tetapi beberapa jenis hidup sebagai parasit pada binatang dan manusia. Sesuai dengan klasifikasi Protozoa termasuk Protista yang menyerupai hewan. Kelompok ini mulanya dibentuk untuk mengelompokan organisme yang bukan tumbuhan dan bukan hewan. Itulah sebabnya Protozoa disebut organisme seperti hewan (animal like). Adapun ciri atau karakteristik dari filum protozoa yaitu: Biasanya bersel satu beberapa membentuk koloni simetri radial, bilateral, bulat, atau tidak ada biasanya ukuran 5 - 5000. Bentuk biasanya tetap, lonjong, panjang, bulat, beberapa mengalami perubahan bentuk, sesuai umur atau lingkungan. Mempunyai organela, tidak ada organ sejati. Tidak memiliki dinding sel. Mirip sifat hewan tetapi uniseluler.

Geraknya yang aktif dengan silia atau flagel. memiliki membrane sel dari zat lipoprotein. bercirikan sebagai tumbuhan yaitu jenis protozoa yang hidup autotrof. mengadakan pembelahan secara setiap 15 menit.

Klasifikasi dari filum ini terbagi menjadi 4, yaitu: a. Rhizopoda, alat geraknya berupa pseudopoda (kaki semu) Bergerak dengan kaki semu (pseudopodia)yang merupakan penjuluran protoplasma sel. Hidup di air tawar, air laut, tempat-tempat basah, dan sebagian ada yang hidup dalam tubuh hewan atau manusia. Jenis yang paling mudah diamati adalah Amoeba. Ektoamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di luar tubuh organisme lain (hidup bebas), contohnya Ameoba proteus, Foraminifera, Arcella, Radiolaria. Entamoeba adalah jenis Amoeba yang hidup di dalam tubuh organisme, contohnya Entamoeba histolityca, Entamoeba coli. Kelas ini terdiri dari 5 ordo, yaitu: ordo Proteomyxida (biasanya membentuk filopodia yang tipis dan kecil kadang mirip dengan axopodia).

ordo Mycetozoida (pergerakannya mengikuti gerakan protoplasmic, kadang membentuk sebuah pseudoplasmodium).

ordo Amoebida (bentukan telanjang dan biasanya membentuk lobopodia). ordo Testacida (membentuk filopodia atau lobopodia pada genus yang berbeda). ordo Foraminifera (biasanya membentuk myxopodia).

b. Flagellata (Mastigophora),alat geraknya berupa flagel (bulu cambuk).Bergerak dengan flagel (bulu cambuk) yang digunakan juga sebagai alat indera dan alat bantu untuk menangkap makanan.Dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu : Fitoflagellata Flagellata autotrofik (berkloroplas), dapat berfotosintesis. Contohnya : Euglena viridis, Noctiluca milliaris, Volvox globator, Zooflagellata.

Flagellata heterotrofik (Tidak berkloroplas).Contohnya : Trypanosoma gambiens, Leishmania Dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

Golongan phytonagellata, contohnya: 1. Euglena viridis (makhluk hidup peralihah antara protozoadengan ganggang) - Volvax globator (makhluh hidup peralihah antara protozoa dengan ganggang). 2. Noctiluca millaris (hidup di laut dan dapat mengeluarkan cahaya bila terkena rangsangan mekanik)

Golongan Zooflagellata, contohnya : 1. Trypanosoma gambiense & Trypanosoma rhodesiense. Menyebabkan penyakit tidur di Afrika dengan vektor (pembawa) lalat Tsetse (Glossina sp.) Trypanosoma gambiense vektornya Glossina palpalis tsetse sungai Trypanosoma rhodeslense vektornya Glossina morsitans tsetse semak Trypanosoma cruzl penyakit chagas. Trypanosoma evansi penyakit surra, pada hewan ternak(sapi). Leishmaniadonovani penyakit kalanzar Trichomonas vaginalis penyakit keputihan.

c. Ciliata (Ciliophora), alat gerak berupa silia (rambut getar). Anggota Ciliata ditandai dengan adanya silia (bulu getar) pada suatu fase hidupnya, yang digunakan sebagai alat gerak dan mencari makanan. Ukuran silia lebih pendek dari flagel. Memiliki 2 inti sel (nukleus), yaitu makronukleus (inti besar) yang mengendalikan fungsi hidup sehari-hari dengan cara mensisntesis RNA, juga penting untuk reproduksi aseksual, dan mikronukleus (inti kecil) yang dipertukarkan pada saat konjugasi untuk proses reproduksi seksual. Ditemukan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan air dalam tubuhnya. Banyak ditemukan hidup di laut maupun di air tawar. Contoh : Paramaecium caudatum, Stentor, Didinium, Vorticella, Balantidium coli.

Paramaecium caudatum disebut binatang sandal, yang memiliki dua jenis vakuola yaitu vakuola makanan dan vakuola kontraktil yang berfungsi untuk mengatur kesetimbangan tekanan osmosis (osmoregulator). Memiliki dua jenis inti Makronukleus dan Mikronukleus (inti reproduktif). Cara reproduksi, aseksual membelah diri, seksual konyugasi.

Balantidium coli menyebabkan penyakit diare.

d. Sporozoa adalah protozoa yang tidak memiliki alat gerak. Cara bergerak hewan ini dengan cara mengubah kedudukan tubuhnya. Pembiakan secara vegetatif (aseksual) disebut juga Skizogoni dan secara generatif (seksual) disebut Sporogoni. Marga yang berhubungan dengan kesehatan manusia Toxopinsma dan Plasmodium.. Tidak memiliki alat gerak khusus, menghasilkan spora (sporozoid) sebagai cara perkembang biakannya. Sporozoid memiliki organel-organel kompleks pada salah satu ujung (apex) selnya yang dikhususkan untuk menembus sel dan jaringan inang. Hidupnya parasit pada manusia dan hewan. Contoh: Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium vivax. Filum ini memiliki 2 reproduksi, yaitu: 1. Reproduksi Aseksual: pembelahan biner, pembelahan banyak dan pertunasan (internal dan external). 2. Reproduksi seksual: penyatuan 2 gami dan konjugasi (ciliata). e. Sarcodina adalah organisme yang melayang maupun menjalar, walaupun pada beberapa anggota ada yang sesil. Lapisan periplast yang tipis membentuk pseudopodia dan gerakan amuboid pada spesies yang telanjang. Mungkin terdapat daya penggerak dalam pembentukan pseudopodia tertentu. Beberapa Sarcodina juga mengalami perkembangan sebagai flagellata dalam siklus hidupnya. Fase flagellata terjadi selama gamet, ditemukan pada Foraminifera. Pada beberapa kasus, fase flagellata hanya terlihat sebagai fase aktif kedua pada siklus hidup yang dimorfik. Berdasar pada pseudopodial, Sarcodina dibedakan menjadi dua

kelas, yaitu Actinopoidea dan Rhizipoidea. Actinopoidea memiliki axopodia sedangkan Rhizopodea memiliki pseudopodia lain yang bukan termasuk axopodia. Kelas Actinopodea merupakan kelas yang anggotanya berupa organisme sesil dan melayang terbesar, walaupun terdapat fase flagelata pada beberapa genus. Kelas ini terbagi menjadi tiga ordo, yaitu: a. Helioflagellida, dengan 1 atau lebih flagel yang salah satunya merupakan bentuk tetap atau karakteristik yang dominan pada siklus hidup. b. Heliozoida, dengan fase flagellata yang jarang dan pada sitoplasma bagian dalam tidak dipisahkan dari daerah luar oleh central capsule. c. Radiolaria, central capsule merupakan karakteristik dan memiliki struktur skeletal lebih tinggi dari Heliozoida. I.4.2. Filum Briozoa Briozoa adalah sebuah divisi dari kecil makhluk mikroskopis kuno, tapi menarik dan seringindah, yang membangun koloni yang kompleks. Filum ini telah ada sejak era Ordovisium di (500 juta tahun). Ada sekitar 15.000 spesies dalam Kapur,walaupun tidak semua hidup bersama. Hari ini ada dalam wilayah 5.000 spesies yang diketahui,sebagian besar yang hidup dalam lingkungan laut, meskipun ada sekitar 50 spesies yang menghuniair tawar. Adapun ciri atau karakteristik dari filum ini, yaitu: 1. Bilateral simetris. 2. Badan memiliki lebih dari dua lapisan sel, jaringan dan organ. 3. Rongga tubuhnya berupa coelom sejati. 4. Badannya memiliki usus berbentuk U dengan anus dan memiliki Lophophore. 5. Badan tertutup dalam kotak berkapur, chitinous atau agar-agar, tabung. 6. Tidak memiliki sistem sirkulatori atau organ gas pembuangan. 7. Tidak memiliki sistem ekskretori.

8. Bereproduksi secara normal dengan seksual dan gonokrostik. Briozoa air tawar selain dengan cara pertunasan, juga menghasilkan statoblast, satu sampai beberapa butir pada funiculus. 9. Semua hidup dalam lingkungan perairan dan umumnya dalam laut. Klasifikasi dari filum Briozoa terbagi menjadi 3, yaitu: 1. Kelas Phylactolaemata Zooid silindris, lophophore berbentuk tapal kuda; mempunyai epistome; dinding tubuh berotot; terdapat di air tawar; menghasilkan statoblast; contoh Plumatelladan Lophophus crystallinus. Ordo Plumatellina. Koloni monomorfik 2. Kelas Gymnolaemata Lophophore berbentuk lingkaran; epistome tidak ada; dinding tubuh tidak berotot; koloni polimorfik; zooecia kompleks; lebih dari 3.000 species hidup, kebanyakan laut; banyak spesies fosil. Dalam kelas Gymnolaemata di bagi menjadi 2 ordo yaitu : a. Ctenostomata Zoecia seperti agar, khitin atau membran; diameter orifice sama dengan diameter zoecium; koloni berbentuk lapisan tipis pada batu, cangkang molusca atau ganggang. Contoh : Pladucella (di air tawar) dan Alcyonidium (di air laut). b. Cheilostomata Zoecia dari tanduk atau kapur, berbentuk kotak dan mempunyai avicularia; biasanya mempunyai operkulum; bentuk koloni berumbai-umbai. Contoh: Bugula, Membranipora. 3. Kelas Stenolaemata Bentuk zooecium seperti tabung, terbuka di bagian ujung, dinding zooecia berkapur dan menyatu satu sama lain; orifice bundar; telur dierami dalam ovicell yang besar; 900 spesies hidup, semua di laut. Ada sejak Cambrian sampai sekarang.

Dalam kelas Stenolaemata di bagi menjadi 6 ordo, yaitu : a. Ordo Cyclosmata atau tubulipora, contoh : crissia, tubulipora. b. Ordo Cystoporata c. Ordo Stomatopora d. Ordo Cryptostomata e. Ordo Treopostomata f. Ordo Fenestrata

BAB II PEMBAHASAN

PRAKTIKUM PALEONTOLOGI HARI/ TGL. : SENIN, 4 MARET 2013 ACARA NAMA : AYUNI INTAN : D61112005

: FILUM PROTOZOA & BRIOZOA NO. MHS BAB III PENUTUP

III.1 Kesimpulan Kesimpulan dari praktikum ini yaitu: 1. Protozoa merupakan hewan berukuran mikroskopis yang terdiri dari satu sel. Sedangkan Briozoa adalah sebuah divisi dari kecil makhluk mikroskopis kuno, tapi menarik dan seringindah, yang membangun koloni yang kompleks. 2. Ciri-ciri dari protozoa adalah biasanya bersel satu, beberapa membentuk koloni, simetri radial, bilateral, bulat, atau tidak ada, biasanya ukuran 5 - 5000, dll. Sedangkan ciri-ciri briozoa adalah bilateral simetris, badan memiliki lebih dari dua lapisan sel, jaringan dan organ, rongga tubuhnya berupa coelom sejati, badannya memiliki usus berbentuk U dengan anus dan memiliki Lophophore. 3. Klasifikasi filum protozoa ada 4, yaitu Rhizopoda (Sarcodina), Flagelata, Ciliata, dan Sporozoa. Sedangkan klasifikasi dari filum briozoa ada 3, yaitu Phylactolaemata, Gymnolaemata, dan Stenolaemata. 4. Reproduksi filum protozoa yaitu reproduksi aseksual (pembelahan biner) dan reproduksi seksual (penyatuan 2 gami dan konjugasi). Sedangkan reproduksi dari filum briozoa yaitu reproduksi aseksual pada bryozoa air tawar selain dengan cara pertunasan, juga menghasilkan statoblast, satu sampai beberapa butir pada funiculus.

III.2 Saran

III.2.1. Saran untuk laboratorium Kenyamanan saat praktikum sudah sangat baik bagi praktikan, pertahankan agar seluruh praktikum-praktikum selanjutnya lebih baik lagi.

III.2.2. Saran untuk asisten Cara mengajar dan menjelaskan sudah cukup jelas dan harapannya tetap lebih ditingkatkan lagi agar praktikan dapat lebih mengerti lagi serta asisten dapat lebih mengajari praktikan saat asistensi sehingga praktikan dapat lebih paham mengenai apa yang dipraktikumkan.