You are on page 1of 28

X.

LISTRIK STATIS

X.1 Hukum Coulomb

Tinjaulah interaksi antara dua benda bermuatan yang dimensi geometrinya dapat
diabaikan terhadap jarak antar keduanya. Maka dalam pendekatan yang cukup baik dapat
dianggap bahwa kedua benda bermuatan tersebut sebagai titik muatan. Charles Augustin
de Coulomb(1736-1806) pada tahun 1784 mencoba mengukur gaya tarik atau gaya tolak
listrik antara dua buah muatan tersebut. Ternyata dari hasil percobaannya, diperoleh hasil
sebagai berikut:

* Pada jarak yang tetap, besarnya gaya berbanding lurus dengan hasil kali muatan dari
masing –masing muatan. * Besarnya gaya tersebut berbanding terbalik dengan kuadrat
jarak antara kedua muatan. * Gaya antara dua titik muatan bekerja dalam arah sepanjang
garis penghubung yang lurus. * Gaya tarik menarik bila kedua muatan tidak sejenis dan
tolak menolak bila kedua muatan sejenis. Hasil penelitian tersebut dinyatakan sebagai
hukum Coulomb, yang secara matematis:

k adalah tetapan perbandingan yang besarnya tergantung pada sistem satuan yang
digunakan. Pada sistem SI, gaya dalam Newton(N), jarak dalam meter (m), muatan dalam
Coulomb ( C ), dan k mempunyai harga :

sebagai konstanta permitivitas ruang hampa besarnya = 8,854187818 x 10-12 C2/Nm2.


Gaya listrik adalah besaran vektor, maka Hukum Coulomb bila dinyatakan dengan notasi
vector menjadi :

Dimana r12 adalah jarak antara q1 dan q2 atau sama panjang dengan vektor r12, sedangkan
r12 adalah vektor satuan searah r12. Jadi gaya antara dua muatan titik yang masing-masing
sebesar 1 Coulomb pada jarak 1 meter adalah 9 x 109 newton, kurang lebih sama dengan
gaya gravitasi antara planet-planet.

Contoh 1:

Muatan titik q1 dan q2 terletak pada bidang XY dengan koordinat berturut-turut(x1,y1) dan
(x2,y2), tentukanlah :

a. Gaya pada muatan q1 oleh muatan q2

b. Gaya pada muatan q1 oleh muatan q2


Penyelesaian :

a. Gaya pada muatan q1 oleh muatan q2

b. Gaya pada muatan q2 oleh muatan q1

Dari hasil perhitungan bahwa gayanya akan sama besar namun berlawanan arah.

Prinsip Superposisi

Dalam keadaan Rill , titik-titik muatan selalu terdapat dalam jumlah yang besar. Maka
timbullah pertanyaan : apakah interaksi antara dua titik muatan yang diatur oleh Hukum
Coulomb dapat dipengaruhi oleh titik lain disekitarnya? Jawabannya adalah tidak, karena
pada interaksi elektrostatik hanya meninjau interaksi antar dua buah muatan, jika lebih
dari dua buah muatan maka diberlakukan prinsip superposisi (penjumlahan dari semua
gaya interaksinya).

Secara matematik, prinsip superposisi tersebut dapat dinyatakan dengan mudah sekali
dalam notasi vektor. Jadi misalnya F12 menyatakan gaya antara q1 dan q2 tanpa adanya
muatan lain disekitarnya, maka menurut Hukum Coulomb,

Begitu pula interaksi antara q1 dan q3 tanpa adanya muatan q2, dinyatakan oleh :

Maka menurut prinsip superposisi dalam sistem q1, q2 dan q3, gaya total yang dialami q1
tak lain adalah jumlah vector gaya-gaya semula :

Contoh 2 :

Tiga buah muatanmasing-masing q1 = 4 C pada posisi (2,3), q2 = -2 C pada posisi(5,-1)


dan q3 = 2 C pada posisi (1,2) dalam bidang x-y. Hitung resultan gaya pada q2 jika posisi
dinyatakan dalam meter.

Penyelesaian :
X. 2 Medan Listrik

Medan adalah suatu besaran yang mempunyai harga pada tiap titik dalam ruang. Atau
secara matematis, medan merupakan sesuatu yang merupakan fungsi kontinu dari posisi
dalam ruang. Medan ada dua macam yaitu :

- Medan Skalar, misalnya temperatur, potensial dan ketinggian

- Medan vektor, misalnya medan listrik dan medan magnet

Untuk membahas suatu medan listrik, digunakan pengertian kuat medan, yakni : “Vektor
gaya Coulomb yang bekerja pada suatu muatan yang kita lewatkan pada suatu titik dalam
medan gaya ini”, dan dinyatakan sebagai E(r). dalam bentuk matematis :

Dengan menggunakan persamaan harus diingat ;


- hubungan ini hanya berlaku untuk muatan sumber berupa titik

- pusat sistem koordinat ada pada muatan sumber

- besaran yang digunakan dalam sistem MKS

- hubungan diatas hanya berlaku dalam vakum atau udara

X.2.1 Kuat Medan Listrik oleh Satu Muatan Titik

Muatan sumber q berupa muatan titik terletak pada vektor posisi r’, sedang titi p pada
posisi r. Posisi relatif p terhadap muatan sumber adalah (r-r’), vektor satuan arah SP
adalah

Jadi kuat medan listrik E di titik r oleh muatan q adalah

X.2.2 Kuat Medan Listrik oleh Beberapa Muatan Titik

Jika sumber muatan berupa beberapa muatan titik yang berbeda besar dan posisinya,
maka kuat medan listrik resultan E (r )adalah penjumlahan masing-masing kuat medan,
dimana secara matematis dinyatakan sebagai

Bila ada N buah muatan titik sebagai sumber, dengan muatan sumber q1 yang masing-
masing berada pada jarak ri’, maka medan resultan pada vector posisi r adalah :
Contoh 3

Dua buah muatan berada pada bidang x-y dengan masing-masing muatan q1 = 7 C pada
pusat koordinat dan muatan q2 = 5 C terletak pada sumbu x positif berjarak 0,3 meter
dari pusat koordinat.

a. tentukan besar dan arah kuat medan listrik di titik P yang terletak pada sumbu y positif
yang berjarak 0,4 meter dari pusat koordinat.

b. Tentukan gaya yang dialami oleh muatan sebesar 2 x 10-3 C jika terletak di titik P.

Penyelesaian :
. 3 Hukum Gauss

Michael Faraday memperkenalkan cara menggambarkan medan (listrik, magnet, maupun


gravitasi) melalui konsep garis gaya (garis medan). Garis gaya adalah garis-garis
lengkung dalam medan yang dapat menunjukkan arah serta besarnya E pada setiap titik
masing-masing dengan garis singgung dan kerapatan garisnya pada titik yang
bersangkutan

Garis-garis gaya berawal pada titik muatan positif dan berakhir pada titik muatan negatif.
Diantara titik awal dan titik akhir, garis gaya selalu kontinu dan tidak mungkin
berpotongan, kecuali pada titik muatan lain yang terdapat diantaranya

Jumlah garis-garis gaya listrik yang menembus suatu permukaan secara tegak lurus
didefenisikan sebagai fluks magnetic . Bila diketahui kuat medan E, maka jumlah garis
gaya d yang menembus suatu elemen dA tegak lurus pada E adalah :

Bila permukaan dA tidak tegak lurus maka jumlah garis yang keluar dari dA haruslah

Dimana dA = ndA atau n adalah vektor normal dan sudut antara dA dengan bidang
yang tegak lurus pada E. Bila kuat medan pada elemen seluas dA dan E, maka jumlah
garis gaya yang keluar dari seluruh permukaan S adalah :

Elemen luas dA berada pada permukaan S harga medan ;listrik E diambil semua titik
pada permukaan S.

Fluks listrik total untuk seluruh permukaan

Tanda menyatakan integrasi yang meliputi seluruh permukaan A. Untuk permukaan


tertutup, elemen dA tegak lurus permukaan dan arahnya keluar. Fluks total untuk
permukaan tertutup
Ternyata ada hubungan yang erat antara fluks listrik pada suatu permukaan tertutup
dengan muatan listrik yang berada dalam permukaan tersebut dan hubungan ini dikenal
dengan hukum Gauss, yaitu”jumlah garis gaya yang keluar dari suatu permukaan tertutup
sebanding dengan jumlah muatan listrik yang dilingkupi oleh permukaan tetutup tersebut.
Secara matematis

Dimana S adalah suatu permukaan tertutup qi adalah jumlah muatan yang ada di dalam
atau dilingkupi oleh permukaan tetutup S. jadi dengan hukum gauss kita dapat
menentukan muatan yang ada di dalam permukaan tetutup, bila kita tahu berapa garis
gaya yang keluar dari permukaan tetutup tersebut.

Contoh 4.

Di dalam ruang seperti pada gambar di atas terdapat medan listrik serba sama sebesar
10N/C berarah sumbu z kebawah. Hitung jumlah garis gaya yang keluar dari

a. Luas OABC (luas OABC = 2 m2)

b. Luas OFDC (luas OFDC = 2 m2)

Penyelesaian

a. Kuat medan listrik secara vector adalah E = -k 10 N/C Banyaknya garis gaya

Atau garis gaya banyaknya 20 buah dan arahnya menembus bidang OABC. Arah dA ada
pada sumbu z positif sehingga d = dA

b. pada bidang ini dA = -jdA sehingga


Jadi banyaknya garis gaya = 0, berarti tidak ada garis gaya yang menembus bidang
OFDC

X.3.1 Pemakaian Hukum Gauss

a. Distribusi muatan dalam konduktor

Di dalam konduktor dapat dialirkan arus listrik sebab elektron pada konduktor dapat
bergerak bebas. Berbeda dengan isolator, semua elektron terikat pada masing-masing
atom sehingga bila ada medan listrik, elektron tetap tidak bergerak, akibatnya tidak ada
arus yang mengalir. Bila pada konduktor diberi muatan, maka akan tejadi perubahan
distribusi elektron bebas. Setelah semua elektron menempati posisinya, medan listrik
dalam logam harus sama dengan nol, sebab bila tidak maka elektron bebas akan bergerak
dalam logam. Bila terus diberikan (melampaui keadaan setimbang), muatan ada pada
permukaan logam . jika dipilih sebuah permukaan S tepat di bawah, maka menurut
hukum Gauss muatan pada permukaan itu harus nol sebab medan listrik pada permukaan
logam harus nol, atau:

b. Pelat Tipis Bermuatan


Bila kita mempunyai selembar pelat tipis dengan luas yang cukup besar diberi muatan +Q
yang tersebar secara homogen pada pelat tersebut. Untuk menghitung kuat medan E pada
jarak r, maka kita harus membuat permukaan gauss

Dari gambar dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut

* Karena pelat luas dan muatan tersebar homogen, maka medan listrik harus serba sama
dan tegak lurus pada pelat.

* Karena garis gaya untuk sejajar dan mempunyai kerapatan sama maka kuat medan yang
dihasilkan disetiap tempat juga sama, baik besar maupun arahnya.
Untuk menghitung kuat medan listrik, maka dibut sebuah permukaan Gauss. Bentuk
permukaan Gauss dipilih dengan tujuan untuk mempermudah persoalan. Jika dipilih
permukaan Gauss yang berbentuk silinder dengan panjang 2r dan penampangnya
berbentuk lingkaran. Permukaan tersebut dibagi tiga bagian

* Tutup kanan S1 berbentuk lingkran

* Selubung silinder S2 berbentuk persegi empat

* Tutup kiri S3 juga berbentuk silinder

Misalkan luas penampang silinder adalah A, maka rapat muatan = Q/A. karena muatan
tersebut secara homogen , muatan yang terkandung dalam permukaan gauss S adalah Q2
= A. Hukum Gauss dengan Qs sebagai muatan yang terkandung dalam S. Selanjutnya
integral tertutup dapat diuraikan menjadi :

suku pertama bagian kanan persamaan dengan elemen luas dA diambil pada S1 sehingga
dA=idA dengan i sebagai vector satuan pada sumbu x positif. Sedangkan kuat medan
E=+iE jadi :

Suku kedua pada bagian kanan persamaan sama dengan 0 sebab dA pada S2 berarah tegak
lurus E .

Pad suku ketiga, elemen luas dA pada S3 berarah ke kiri, jadi dA=-idA dan kuat medan
listrik pada S3 juga berarah ke kiri, yaitu E=-iE: jadi :

Akibatnya menjadi :
c. Bola Bermuatan

Misalkan diambil sebuah bola terbuat dari bahan isolator dengan jari-jari R. Bola ini
mempunyai muatan yang tersebar merata di dalam bola isolator tersebut. Kemudian ,
bagaimana menghitung kuat medan listrik di dalam dan diluar bola. Karena muatan
tersebut merata dalam bola, rapat muatan dalam bola adalah :

Kita buat permukaan gauss berupa bola dengan jejari r. Hukum Gauss menyatakan

Dimana Q adalah muatan listrik yang dilingkupi oleh S1 dalam hal ini :

Pada permukaan Gauss,dA=rdA, sehingga E=rE, karena baik medan listrik maupun
elemen luasan , keduanya dalam arah radial. Harga E tak bergantung pada arah , jadi juga
tak bergantung pada dA. Dengan demikian integral permukaan pada Gauss dapat ditulis
sebagai :

dari hukum Gauss diperoleh :

Untuk medan diluar bola , kita pandang titik Q di luar bola dan berjarak r dari pusat bola .
Kuat medan pada titik Q dapat dihitung dengan membuat permukaan Gauss melalui titik
Q dan menggunakan hukum Gauss. Permukaan Gauss S dibuat membentuk bola dengan
jari-jari r.Hukum Gauss menyatakan
Muatan Q yang dilingkupi S sama dengan muatan tota; Q pada bola, Q = Q pada
permukaan S, E sejajar dA, kuat medan E isotropic yang mempunyai besar sama pada
semua titik di permukaan S. Hukum Gauss menjadi :

Persamaan diatas menyatakan bahwa kuat medan diluar bola sama dengan medan yang
dihasilkan bila seluruh muatan Q terletak di pusat bola.

X.4 Potensial Listrik

Pada mekanika telah diuraikan hukum kkekalan energi mekanik Total, EK + EP konstan,
yang sangat berguna untuk penyelesaian soal-soal. Hukum tersebut berlaku dalam medan
gaya konservatif seperti medan gaya gravitasi. Berhubung medan medan gaya coulomb
dengan bentuk pernyataannya yang sama dengan medan gravitasi, sewajarnya kita
mengharapkan sifat yang serup pula dari medan gaya coulomb (medan elektrostatik)
tersebut. Memang dapat ditunjukkan bahwa medan elektrostatik adalah bersifat
konservatif sehingga dapat pula kita defenisikan disini energi potensial listrik, dan
berlaku pula hubungan EK + EP = Konstan.

Dalam mekanika telah ditunjukkan bahwa gaya gravitasi bersifat konservatif, yaitu kerja
yang dilakukan medan gaya tidak bergantung kepada lintasannya. Jika suatu muatan q’
diletakkan dalam medan listrik, gaya listrik q’ adalah q’. Gaya ini adalah jumlah vektor
dari gaya-gaya yang bekerja pada q’ oleh berbagai muatan yang menghasilkan kuat
medan.Masing-masing gaya memenuhi Hukum Coulomb bersifat konservatif sehingga
gaya q’ juga bersifat konservatif.

Kerja yang dilakukan oleh gaya listrik q’E pada muatan uji q’ untuk perpindahanyang
sangat kecil ds adalah

Menurut defenisi, kerja yang dilakukan oleh gaya konservatif adalah negatif dari
perubahan energi potensial(dU), sehingga:

Untuk suatu perpindahan muatan uji dari titik A ke B, potensialnya adalah:

dengan dU=beda energi yang dihasilkan UB=energi potensial pada posisi B (kedudukan
akhir) UA = energi potensial pada posisi A(kedudukan awal) Misalkan ada (+q) di titik 0
dan muatan uji q’ di titik Q, gaya yang bekerja pada muatan uji adalah :
Untuk mencari beda energi potensial bila muatan q’ dipindahkan dari Q ke P adalah
sebagai berikut :

atau secara umum, energi potensial medan listrik dari muatan (q) oleh muatan uji (q’)
pada jarak r adalah :

Dalam membahas medan listrik , kita tidak menggunakan pengertian energi potensial
tetapi menggunakan pengertian potensial listrik yaitu potensial persatuan muatan. Muatan
listrik biasanya dituliskan sebagai :

Dan mempunyai satuan volt atau joule/coulomb. Beda potensial listrik juga dapat
dituliskan dalam bentuk lain, yaitu :

atau dimana Dari dua persamaan di atas, maka dapat dilihat bahwa potensial listrik juga
suatu medan listrik. Tetapi potensial listrik merupakan interaksi medan skalar dengan
gaya Coulomb. Sekarang bagaimana menentukan potensial listrik bila diketahui medan
listrik E(r). Untuk menghitung E( r ) dan V( r ) harus melakukan operasi diferensial. Oleh
karena kuat medan adalah besaran vektor, operator diferensial harus operasi vektor,
operasi ini disebut gradien yang dinyatakan sebagai ?. Sehingga kuat medan E( r ) dapat
ditulis sebagai :

Dimana dapat dinyatakan dalam berbagai koordinat : Kartesian

::
X.5 Potensial Listrik berbagai Distribusi Muatan

a. Pelat Bermuatan

Tinjau pelat tipis bermuatan dengan rapat massa serba sama, yaitu + . Dengan hukum
Gauss, diperoleh kuat medan E konstan dengan harga :

Dari grafik potensial dapat digambarkan sebagai berikut :

b. Bola bermuatan
Misalkan ditinjau bola logam dengan jari-jari R diberi muatan (+Q) yang tersebar merata
pada permukaan. Kuat medan listrik pada bola adalah, E(r)=0, untuk r

Contoh :

1. Pada konfoigurasi muatan berikut ini q1=10-7C, q2=2 q1, q3=-4 q1 dan d = 10 cm.

Hitunglah:

a. Energi potensial listrik antara masing-masing pasangan muatan dan, b. Energi potensial
listrik konfigurasi tersebut.

Penyelesaian :
2. Suatu muatan titik 5 C diletakkan di pusat koordinat, dan muatan titik sebesar -2 C
diletakkan pada posisi (3,0) meter (lihat gambar a). jika titik yang sangat jauh dipilih
sebagai acuan nol potensial listrik, hitunglah : a. Potensial listrik total di titik P(0,4) meter
b. Kerja yang diperlukan untuk membawa muatan ketiga sebesar 4 C dari tempat yang
sangat jauh dari titik P. c. Energi potensial sistem ketiga muatan seperti pada gambar (b)
di bawah ini :

Penyelesaian :

a. Potensial listrik total di titik P yang dihasilkan oleh dua muatan titik adalah :
3. Dua buah bola kondukter dipasang sepusat. Bola diberi muatan qA dan bola B diberi
muatan qB. Bola A mempunyai jari-jari RA dan bola B dengan jari-jari RB dan RA

Penyelesaian :

XI. ARUS DAN RANGKAIAN LISTRIK

XI.1 Gaya Gerak Listrik (GGL)

Bila sebatang logam panjang berada di dalam medan listrik,(Eo), maka akan
menyebabkan elektron bebas akan bergerak ke kiri yang akhirnya akan menimbulkan
medan listrik induksi yang sama kuat dengan medan listrik . (lihat Gambar 11.1)
sehingga kuat medan total menjadi nol. Dalam hal ini potensial kedua ujung logam
menjadi sama besar dan aliran elektron akan berhenti, maka kedua ujung logam terdapat
muatan induksi. Agar aliran elektron bebas berjalan terus maka harus muatan induksi ini
terus diambil, sehingga pada logam tidak timbul medan listrik induksi. Dan sumber ggl
(misal baterai) yang dapat membuat beda potensial kedua ujung logam harganya tetap,
sehingga aliran electron tetap berjalan.

Gambar 11.1 Batang logam di dalam medan listrik

Selanjutnya sumber ggl atau sering disebut sumber tegangan), bila dihubungkan dengan
perumusan medan listrik, dapat dilakukan melalui hubungan kerja. Bila dalam rangkain
tertutup ada sumber tegangan dengan ggl sebesar ?, muatan q mendapat tambahan energi
q?, sehingga kerja yang dilakukan oleh medan listrik untuk menggerakkan muatan q
dalam lintasan tertutup haruslah:

(11.1) atau

(11.2)

XI. 2 Arus Listrik dalam Logam

Suatu muatan listrik dapat diterbitkan dengan melepaskan elektron dari ikatannya karena
adanya tegangan listrik. Secara fisis suatu bahan akan bersifat sebagai penghantar listrik
yang baik jika elektron-elektron atom-atom dalam bahan mudah terlepas dari ikatannya.
Andaikan banyaknya muatan yang melewati suatu penampang penghantar adalah q
dalam selang waktu (gbr 11.3), maka arus listrik yang melalui penampang
tersebut didefinisikan sebagai:
Gambar 11.3 Kawat logam dialiri arus listrik

(11.3)
* Arus listrik adalah banyaknya muatan yang mengalir melalui suatu penampang tiap
satuan waktu.
* Arah arus listrik berlawanan dengan gerak muatan negatif.
* Arus listrik mengalir dari tempat berpotensial tinggi ke berpotensial rendah.

Bila jumlah muatan per-satuan volume adalah N dan satuan muatan dasar e, maka besar
rapat muatan p = ne. Andaikan pula laju rata-rata pembawa muatan adalah v dan setelah
waktu dt, maka banyaknya muatan dq=NeAvdt, sehingga pers.(11.3) menjadi:

(11.4)

Selanjutnya bila didefinisikan rapat arus (J) = arus/luas penampang, maka:

(11.5)

Jadi rapat arus sebanding dengan laju rata-rata pembawa muatan V.

Contoh 1: Arus pada kumparan kawat berubah dengan waktu menurut hubungan : I(t) =
4 + 2t2 dengan I dalam ampere dan t dalam detik.

a. Berapa muatan yang melaui penampang kawat antara t = 5 detik dan t = 10 detik.
b. Berapa arus rata-rata interval waktu tersebut.

Penyelesaian : Dari pers. (11.3),

a.

= 706,7 – 103,3 = 603,4 Coulomb


b. Coulomb / S

XI.3 Hukum Ohm

Pada kawat yang diberi medan listrik E, berarti pada pembawa muatan e bekerja gaya eE,
maka sesuai hukum II Newton, seharusnya pembawa muatan bergerak dipercepat dengan
percepatan rata-rata yang dialami muatan-muatan tersebut ditentukan oleh (eE/m) dimana
m massa electron. Sebetulnya gaya ini bukanlah satu-satunya gaya yang bekerja pada
pembawa muatan tetapi masih ada gaya lain, seperti gaya gesekan sebagai akibat
tumbukan pembawa muatan dengan atom logam, tetapi tidak ditinjau. Misalkan jarak
terjauh yang ditempuh electron sebelum bertumbukan dengan atom tetangganya Lo dan
andaikan pula kecepatan rata-rata electron adalah vo, maka kecepatan rata-rata muatan
tersebut adalah:

(11.6a)

Dengan demikian rapat arus (J) dapat dinyatakan sebagai:

(11.6b)

Hubungan ini dikenal sebagai hukum Ohm dan tetapan pembanding disebut
konduktivitas listrik. Suatu bahan dengan konduktivitas yang besar akan mengalirkan
arus yang besar pula untuk suatu harga kuat medan listrik E. Bahan seperti ini disebut
konduktor baik. Karena besarnya ditentukan oleh banyaknya electron bebas (N), maka
bahan bersifat sebagai penghantar yang baik jika memiliki electron bebas yang banyak
dan sebaliknya bahan bersifat sebagai isolator jika memiliki sedikit electron bebas.

Selanjuntnya tinjau suatu logam kawat yang berpenampang (A) serba sama dengan
panjang (L) dialiri arus i.(Gambar 11.3). Misalkan beda potensial antara P dan Q adalah
V, yaitu V (P) – V(Q) = V, dan kuat medan listrik yang bekerja antara P dan Q dalam
logam dianggap serba sama, yaitu E = V/I, sehingga hukum Ohm dapat ditulis dalam
bentuk lain:
Gambar 11.3 Kawat logam dialiri arus i

(11.7)

dengan adalah resistansi (hambatan) dan adalah hambatan jenis.

Tabel 11.1 Resistivitas pada temperatur kamar

Bahan dengan resistivitas antara logam dan isolator disebut semikonduktor. Dalam
semikonduktor jumlah elektron bebas bergantung pada temperature, makin tinggi
temperatur makin banyak elektron bebas. Pada temperatur mendekati 00 K ada elektron
bebas sehingga bahan semikonduktor bersifat isolator.

Bila logam dipanaskan maka hambatan R naik, karena gerakan atom dalam logam makin
keras dan tumpukan yang dialami pembawa muatan makin banyak. Ini sejalan dengan
kenyataan bahwa suatu bahan akan memuai jika dipanaskan sehingga hambatannya juga
bertambah. Dikatakan logam mempunyai koefisien temperatur positif. Sebaliknya jika
suatu bahan makin tinggi temperaturnya makin rendah harga hambatan listriknya,
dikatakan bahan mempunyai koefisien temperature negatif.

Contoh 2:
a. Seutas kawat yang panjangnya 100 m, diameternya 2 mm, mempunyai hambatan jenis
4,8 x 10-8 ?m. hitunglah hambatan kawat tersebut.
b. Kawat kedua terbuat dari bahan yang sama dan beratnya sama dengan kawat pertama,
memiliki diameter dua kali lebih besar. Hitunglah hambatan kawat kedua itu.
Penyelesaian :

a.

b.

Atau

XI.4 Hukum Joule

Bila sebatang logam dialiri arus listrik, maka tumbukan oleh pembawa muatan dalam
logam mendapat energi sehingga menjadi panas dan atom-atom akan bergerak semakin
kuat. Daya hilang yang diubah menjadi getaran atom dalam logam, dengan kata lain
hilang sebagai kalor. Ini dapat dipahami bahwa muatan dq yang bergerak akan mendapat
tambahan energi sebesar dU = (dq) V. Karena arus dan kecepatan tetap, maka energi
yang hilang persatuan waktu (daya), adalah:
(11.8)

Persamaan (11.8) dikenal sebagai Hukum Joule yang menyatakan daya yang hilang (daya
disipasi) pada konduktor dengan hambatan R dan di aliri arus i. Sedangkan besar kalor
disipasi (kalor Joule) dalam waktu dt adalah:

(11.9)

Kalor ini disebut kalor Joule dimana 1 kalori = 4,2 Joule.

Contoh 3: Suatu lampu pijar bertuliskan 120 V/150 W, artinya lampu tersebut
menggunakan daya listrik sebesar 150 watt bila dipasang pada beda potensial 120 V.
Filamen kawat tersebut dari bahan dengan resistivitas 6 x 10-5 ?-m dengan luas
penampang 0,1 mm2. Hitunglah:

a. Panjang filament

b. Arus yang melalui lampu jika dipasang pada tegangan 120 V

c. Arus dan daya pada lampu jika dipasang pada tegangan 60 V

Penyelesaian:

a.

b.

c. Lampu dengan spesifikasi 120 V/ 150 W, dengan hambatan:

Arus dan daya lampu pada beda potensial 60 V adalah:

XI.5 Rangkaian Sederhana


Perhatikan suatu rangkaian sederhana yang terdiri atas sebuah baterai yang dihubungkan
dengan sebuah resistor seperti pada gambar 11.7(a). Rangkaian 11.7 (a) dapat dinyatakan
dengan rangkaian seperti pada gambar 11.7 (b). Baterai dinyatakan dengan sumber ggl
(?) yang dihubungkan seri dengan hambatan dalam (r).

Gambar 11.4 (a) Rangkaian sederhana baterai dan resistor (b) Rangkaian ekivalen sumber
ggl dengan hambatan dalam r dan beban R

Gaya gerak listrik yang dilambangkan dengan dari suatu sumber ggl menyatakan
banyaknya kerja yang dilakukan sumber ggl pada setiap satuan muatan yang
melewatinya(volt). Sumber ggl dapat pula diartikan sebagai beda potensial (tegangan)
antara kutub positif dan kutub negative (V = Vb – Va ) bila tidak dialiri arus. Bila arus
mengalir, maka V disebut tegangan jepit dari sumber ggl yang dinyatakan sebagai:

V= - ir
(11.11)

Karena tegangan V harus sama dengan beda potensial di antara kedua ujung resistor R
(V=iR), sehingga arus yang melalui rangkaian dapat ditulis:

(11.11)

Atau secara umum

Untuk beda potensial dalam rangkaian, tinjau Gambar 5. di bawah ini:

Gambar 5. Resistor dan beda potensial


Misalkan i mengalir dari a ke b, maka di a daya yang dimiliki arus adalah i Va, dan
setelah sampai di b, daya yang tinggal adalah i Vb. Pada proses ini terjadi kehilangan
daya antara a dan b sebesar i2 (R + r1 + r2 ) sebagai kalor joule. Pada ggl pertama
diperoleh daya sebesar i 1, dan terjadi pula kehilangan energi untuk mengisi sumber ggl
kedua sebesar i 2, maka dapat ditulis persamaanya sebagai:

Secara umum dapat disimpulakn bahwa dalam hubungan seri:

(11.13)

Untuk menggunakan persamaan di atas harus diingat bahwa ggl ? atau arus i yang searah
dengan arah dari a ke b diberi tanda positif, dan yang berlawanan dengan tanda tersebut
diberi tanda negatif.

Contoh 4:

Diketahui:

Hitunglah : Vac

Penyelesaian : Maka,

Jadi
XI.6 Hukum Kirchooff dan Analisa Loop

A. Hukum Kirchooff

Ada 2 hukum yang sangat penting dalam melakukan penghitungan rangkaian listrik yang
dikenal sebagai hukum Kirchoff, dimana hukum pertama merupakan hukum kekekalan
muatan listrik dan yang kedua sebagai generalisasi hukum Ohm.

1. Hukum titik cabang : jumlah aljabar arus yang melewati suatu titik cabang suatu
jaringan adalah sama dengan 0. Dalam bentuk matematik dapat ditulis :
2. Hukum Lopp : jumlah aljabar ggl dalam tiap loop suatu jaringan sama dengan jumlah
aljabar hasil kali arus dan hambatan dalam loop yang sama. Dalam bentuk matematik
dapat ditulis :

Untuk penerapan hukum Kirchoff dapat dianalisa rangkaian pada Gambar 11.6 di bawah
ini:

Gambar 11.6 Rangkaian kompleks dengan analisa titik cabang

Arus yang melalui masing-masing baterai dapat ditentukan dengan hukum Kirchooff.

Penyelesaian : Titik cabang a :

Loop 1 :

Loop 2 :
Dari persamaan (a), (b), dan (c), harga-harga i1, i2, dan i3 dapat dihitung. Bila harganya
negative, berarti arah yang kita ambil (tetapkan) terbalik karena arah arus yang diambil
sembarang.

B. Analisa Loop

Dalam metode analisis loop, ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

Loop 1 :

Loop 2 :

Dari persamaan-persamaan (d) dan (e), harga-harga I1 dan I2 dapat dihitung. Arus yang
melewati baterai 1 adalah I1, yang melewati baterai 2 adalah I2, dan melewati baterai 3
adalah I1 dan I2.

Contoh 5: Diketahui:
Penyelesaian

a.

b.