You are on page 1of 10

TUGAS MATA KULIAH

SISTEM PENYALIRAN TAMBANG


(HTKB-632)








Disusun Oleh :
GITA ANDINI NILASARI
H1C111002






PROGRAM STUDI TEKNIK PERTAMBANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2014
SISTEM PENYALIRAN TAMBANG



1.1. Dasar Teori
Sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada
daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau mengeluarkan air
yang masuk ke daerah penambangan. Upaya ini dimaksudkan untuk mencegah
terganggunya aktivitas penambangan akibat adanya air dalam jumlah yang
berlebihan, terutama pada musim hujan. Selain itu, sistem penyaliran tambang
ini juga dimaksudkan untuk memperlambat kerusakan alat serta
mempertahankan kondisi kerja yang aman, sehingga alat-alat mekanis yang
digunakan pada daerah tersebut mempunyai umur yang lama.

1.2. Metode Penyaliran Tambang
Penanganan mengenai masalah air tambang dalam jumlah besar pada
tambang terbuka dapat dibedakan menjadi beberapa metode, salah satunya
yaitu mengeluarkan air tambang (Mine Dewatering), yang merupakan upaya
untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke lokasi penambangan. Beberapa
metode penyaliran tambang (mine dewatering) adalah sebagai berikut :
1. Membuat sump di dalam front tambang (Pit)
Sistem ini diterapkan untuk membuang air tambang dari lokasi
kerja. Air tambang dikumpulkan pada sumuran (sump), kemudian dipompa
keluar. Pemasangan jumlah pompa tergantung pada kedalaman
penggalian, dengan kapasitas pompa menyesuaikan debit air yang masuk
ke dalam lokasi penambangan.
2. Membuat paritan
Pembuatan parit sangat ideal diterapkan pada tambang
terbuka open cast atau kuari. Parit dibuat berawal dari sumber mata air
atau air limpasan menuju kolam penampungan, langsung ke sungai atau
diarahkan ke selokan (riool). Jumlah parit ini disesuaikan dengan
kebutuhan, sehingga bisa lebih dari satu. Apabila parit harus dibuat
melalui lalulintas tambang maka dapat dipasang gorong-gorong yang
terbuat dari beton atau galvanis. Dimensi parit diukur berdasarkan volume
maksimum pada saat musim penghujan deras dengan memperhitungkan
kemiringan lereng.

1.3. Pembahasan
1. Penyaliran pada Tambang Terbuka
Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu :
a. Mine Drainage
Merupakan upaya untuk mencegah masuknya air ke daerah
penambangan. Hal ini umumnya dilakukan untuk penanganan air
tanah dan air yang berasal dari sumber air permukaan. Beberapa
metode penyaliran mine drainage :
1) Metode Siemens : Pada tiap jenjang dari kegiatan penambangan
dibuat lubang bor, kemudian ke dalam lubang bor dimasukkan
pipa dan di setiap bawah pipa tersebut diberi lubang-lubang.
Bagian ujung ini masuk ke dalam lapisan akuifer, sehingga air
tanah terkumpul pada bagian ini dan selanjutnya dipompa ke atas
dan dibuang ke luar daerah penambangan.


Gambar 1.
Metode Siemens

2) Metode Pemompaan Dalam (Deep Well Pump) : Metode ini
digunakan untuk material yang mempunyai permeabilitas rendah
dan jenjang tinggi. Dalam metode ini dibuat lubang bor kemudian
dimasukkan pompa ke dalam lubang bor dan pompa akan bekerja
secara otomatis jika tercelup air. Kedalaman lubang bor 50 meter
sampai 60 meter.


Gambar 2.
Metode Deep Well Pump
3) Metode Elektro Osmosis : Pada metode ini digunakan batang
anoda serta katoda. Bilamana elemen-elemen dialiri arus listrik,
maka air akan terurai, H+ pada katoda (di sumur besar)
dinetralisir menjadi air dan terkumpul pada sumur lalu dihisap
dengan pompa.


Gambar 3.
Metode Elektro Osmosis

4) Small Pipe with Vacuum Pump : Cara ini diterapkan pada lapisan
batuan yang inpermiabel (jumlah air sedikit) dengan membuat
lubang bor. Kemudian dimasukkan pipa yang ujung bawahnya
diberi lubang-lubang. Antara pipa isap dengan dinding lubang bor
diberi kerikil-kerikil kasar (berfungsi sebagai penyaring kotoran)
dengan diameter kerikil lebih besar dari diameter lubang. Di
bagian atas antara pipa dan lubang bor disumbat agar saat ada
isapan pompa, rongga antara pipa lubang bor kedap udara,
sehingga air akan terserap ke dalam lubang bor.


Gambar 4.
Metode Small Pipe with Vacuum Pump
b. Mine Dewatering
Merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah masuk ke
daerah penambangan. Upaya ini terutama untuk menangani air yang
berasal dari air hujan. Beberapa metode penyaliran mine dewatering
adalah sebagai berikut :
1) Sistem Kolam Terbuka : Sistem ini diterapkan untuk membuang
air yang telah masuk ke daerah penambangan. Air dikumpulkan
pada sumur (sump), kemudian dipompa keluar dan pemasangan
jumlah pompa tergantung kedalaman penggalian.
2) Cara Paritan : Penyaliran dengan cara paritan ini merupakan cara
yang paling mudah, yaitu dengan pembuatan paritan (saluran)
pada lokasi penambangan. Pembuatan parit ini bertujuan untuk
menampung air limpasan yang menuju lokasi penambangan. Air
limpasan akan masuk ke saluran-saluran yang kemudian dialirkan
ke suatu kolam penampung atau dibuang langsung ke tempat
pembuangan dengan memanfaatkan gaya gravitasi.
3) Sistem Adit : Cara ini biasanya digunakan untuk pembuangan air
pada tambang terbuka yang mempunyai banyak jenjang.
Saluran horizontal yang dibuat dari tempat kerja menembus ke
shaft yang dibuat di sisi bukit untuk pembuangan air yang masuk
ke dalam tempat kerja. Pembuangan dengan sistem ini biasanya
mahal, disebabkan oleh biaya pembuatan saluran horizontal
tersebut dan shaft.


Gambar 5.
Sistem Adit
2. Penyaliran pada Tambang Bawah Tanah
Penanganan masalah air pada tambang bawah tanah umumnya
dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Dengan Tunnel (Terowongan)
Penyaliran dengan cara ini adalah dengan membuat tunnel atau
adit bila topografi daerahnya memungkinkan, dimana terowongan
ini dibuat sebagai level pengeringan tersendiri untuk mengeluarkan air
tambang bawah tanah. Cara ini relatif murah dan ekonomis bila
dibandingkan dengan sistem penyaliran menggunakan cara
pemompaan air ke luar tambang.


b. Dengan Pemompaan
Penyaliran tambang bawah tanah dengan sistem pemompaan
adalah untuk mengeluarkan air yang terkumpul pada dasar shaft atau
sumuran bawah tanah yang sengaja dibuat untuk menampung air dari
permukaan maupun air rembesan air bawah tanah.
3. Hal-Hal yang Mempengaruhi Sistem Penyaliran Tambang
a. Permeabilitas
Di samping parameter-parameter lain, permeabilitas
merupakan salah satu yang perlu diperhitungkan. Secara umum
permeabilitas dapat diartikan sebagai kemapuan suatu fluida bergerak
melalui rongga pori massa batuan.
b. Rencana Kemajuan Tambang
Rencana kemajuan tambang nantinya akan mempengaruhi pola
alir saluran yang akan dibuat, sehingga saluran tersebut menjadi
efektif dan tidak menghambat sistem kerja yang ada.
c. Curah Hujan
Sumber utama air yang masuk ke lokasi penambangan adalah
air hujan, sehingga besar kecilnya curah hujan yang terjadi di sekitar
lokasi penambangan akan mempengaruhi banyak sedikitnya air
tambang yang harus dikendalikan. Data curah hujan biasanya
disajikan dalam data curah hujan harian, bulanan, dan tahunan yang
dapat berupa grafik atau tabel. Analisa curah hujan dilakukan dengan
menggunakan Metode Gumbel yang dilakukan dengan mengambil
data curah hujan bulanan yang ada, kemudian ambil curah hujan
maksimum setiap bulannya dari data tersebut, untuk sampel dapat
dibatasi jumlahnya sebanyak data.
Dengan menggunakan Distribusi Gumbel, curah hujan
rencana untuk periode ulang tertentu dapat ditentukan. Periode ulang
merupakan suatu kurun waktu dimana curah hujan rencana tersebut
diperkirakan berlangsung sekali. Untuk itu data curah hujan harus
diolah terlebih dahulu menggunakan kaidah statistik mengingat
kumpulan data adalah kumpulan yang tidak tergantung satu sama lain.
Xr = X + (xn ) . (Y
r
Y
n
)
Keterangan :
Xr = Hujan harian maksimum dengan periode ulang tertentu (mm)
X = Curah hujan rata-rata

x
= Standar deviasi curah hujan

n
= Reduced standart deviation, nilai tergantung dari banyaknya data
Yr = Reduced variate, untuk periode hujan tertentu (table 1.)
Tabel 1.
Periode Ulang Hujan untuk Sarana Penyaliran
Keterangan Periode Ulang Hujan (Tahun)
Daerah terbuka 0 5
Sarana tambang 2- 5
Lereng-lereng tambang dan penimbunan 5- 10
Sumuran utama 10 -25
Penyaliran keliling tambang 25
Pemindahan aliran sungai 100

Untuk menentukan reduced variate digunakan rumus di bawah ini :
Yt = (-ln(-ln(T-1))T
Keterangan :
Yt = Reduced variate (koreksi variasi)
T = Periode ulang (tahun)
Untuk menentukan koreksi rata-rata digunakan rumus :
Yn = ln(-ln(n+1-m))n+1
Rata-rata Yn, YN = YnN
Untuk menghitung koreksi simpangan (reduced standar deviation)
ditentukan dengan rumus sebagai berikut :
Sn = (Yn-YN)2(n-1)
Keterangan :
Yn = Koreksi rata-rata
YN = Nilai rata-rata Yn
n = Jumlah data
Untuk menentukan curah hujan rencana digunakan rumus :
CHR = X + SSn(Yt-YN)
Dari hasil perhitungan diperoleh suatu debit rencana dalam
satuan mm/hari, yang kemudian debit ini bisa dibagi dalam
perencanaan penyaliran. Selain itu juga harus diperhatikan risiko
hidrologi (PR) yang mungkin terjadi, risiko hidrologi merupakan
angka dimana kemungkinan hujan dengan debit yang sama besar
angka tersebut, misalnya 0,4 maka kemungkinan hujan dengan debit
yang sama atau melampaui adalah sebesar 40%. Risiko hidrologi
dapat dicari dengan menggunakan rumus :
PR = 1-(1-1TR)
TL

Keterangan :
PR = Risiko hidrologi
TR = Periode ulang
TL = Umur bangunan
Besarnya intensitas hujan yang kemungkinan terjadi dalam kurun
waktu tertentu dihitung berdasarkan Persamaan Mononobe, yaitu :
I = R2424 (24t)
2/3

Keterangan :
R
24
= Curah hujan rencana per hari (24jam)
I = Intensitas curah hujan (mm/jam)
t = Waktu konsentrasi (jam)
Hubungan antara derajat curah hujan dan intensitas curah hujan dapat
dilihat pada table berikut :








Tabel 2.
Hubungan Derajat dan Intensitass Curah Hujan
Derajat Hujan Intensitas Curah
Hujan
(mm/menit)
Kondisi
Hujan lemah
Hujan normal
Hujan deras


Hujan sangat
deras
0.02 0.05
0.05 0.25
0.25 1.00


>1.00
Tanah basah semua
Bunyi hujan terdengar
Air tergenang di seluruh
permukaan dan terdengar
bunyi dari genangan
Hujan seperti ditumpahkan,
saluran pengairan meluap

1.4. Penutup
1. Kesimpulan
a. Sistem penyaliran tambang adalah suatu usaha yang diterapkan pada
daerah penambangan untuk mencegah, mengeringkan, atau
mengeluarkan air yang masuk ke daerah penambangan.
b. Hal yang mempengaruhi sistem penyaliran tambang di antaranya
adalah permeabilitas, curah hujan, rencana kemajuan tambang
c. Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu Mine Drainage dan Mine Dewatering.
2. Saran
Dalam melakukan aktivitas penambangan, sebaiknya terlebih
dahulu memperhatikan sistem penyaliran tambang dan juga faktor yang
mempengaruhi penyaliran tambang seperi morfologi, curah hujan, dan
lain-lain. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi dalam proses kegiatan
penambangan.