Вы находитесь на странице: 1из 10

ACUTE MEDULLA COMPRESSION

Dalam keadaan normal, medula spinalis dilindungi oleh kolumna spinalis yang memiliki
struktur seperti tulang, tetapi penyakit tertentu dapat mekenan medula spinalis dan mengganggu
fungsi normalnya.Jika penekannya sangat hebat, maka sinyal saraf ke atas dan ke bawah medula
spinalis akan terhambat total.Penekanan yang tidak terlalu hebat hanya akan mengganggu beberapa
sinyal. Ada 3 macam:
1. Fraktur: biasanya yang patah adalah discus intervertebralis. Jika itu patah maka akan
menyebabkan dura ikut robek,dan arteri yang memperdarahi medulla spinalis bisa
terputus.
2. Dislokasi: yaitu terjepitnya medulla spinalis karena kanalis vertebralis menjadi sempit. Dan bisa
juga menyebabkan arteri dan nervus medulla spinalis tertekan. Biasanya yang terkena
dislokasi adalah bagian cervical 1-2 atau cervical 5-6 dan thorakal 11-12.
3. Hematom: yaitu terjadi perdarahan medulla spinalis.Biasanya ada yang nmanya whiplash.Yaitu
karena terjatuh dari tempat yang tinggi dan dalam posisi berdiri atau duduk. Biasanya
karena posisinya terlalu dorsolateral atau anterolateral.
Kompresi medula spinalis dapat terjadi akibat dislokasi vertebra maupun perdarahan epi dan
subdural. Gambaran klinisnya sebanding dengan sindrom kompresi medula spinalis akibat
tumor, kista dan abses di dalam kanalis vertebralis. Akan didapati nyeri radikuler, dan paralisis
flaksid setinggi lesi akibat kompresi pada radiks saraf tepi.

Akibat hiperekstensi, hiperfleksi, dislokasi, fraktur dan gerak lecutan (Whiplash) radiks saraf
tepi dapat tertarik dan mengalami jejas (reksis). Pada trauma lecutan radiks C5-7 dapat mengalami
hal demikian, dan menimbulkan nyeri radikuler spontan. Dulu gambaran penyakit ini dikenal sebagai
hematorakhis, yang sebenarnya lebih tepat dinamakan neuralgia radikularis traumatik yang
reversibel. Di bawah lesi kompresi medula spinalis akan didapati paralisis spastik dan gangguan
sensorik serta otonom sesuai dengan derajat beratnya kompresi. Kompresi konus medularis terjadi
akibat fraktu-dislokasi vertbra L1, yang menyebabkan rusaknya segmen sakralis medula spinalis.
Biasanya tidak dijumpai gangguan motorik yang menetap, tetapi terdapat gangguan sensorik pada
segmen sakralis yang terutama mengenai daerah sadel, perineum dan bokong.
Di samping itu djumpai juga gangguan otonom yang berupa retensio urine serta pada pria
terdapat impotensi. Kompresi kauda ekuina akan menimbulkan gejala, yang bergantug pada serabut
saraf spinalis mana yang terlibat. Akan dijumpai paralisis flaksid dan atrofi otot. Gangguan sensorik
sesuai dengan dermatom yang terlibat.
Kompresi pada saraf spinalis S2, S3 dan S4 akan menyebabkan retensio urin dan hilangnya
kontrol volunter vesika urinaria, inkontinensia alvi dan impotensi.
Dalam keadaan normal, medula spinalis dilindungi oleh kolumna spinalis yang memiliki struktur
seperti tulang, tetapi penyakit tertentu dapat mekenan medula spinalis dan mengganggu fungsi
normalnya.
Jika penekannya sangat hebat, maka sinyal saraf ke atas dan ke bawah medula spinalis akan
terhambat total. Penekanan yang tidak terlalu hebat hanya akan mengganggu beberapa sinyal. Jika
penekanan telah ditemukan dan diobati sebelum terjadinya kerusakan saraf, maka biasanya fungsi
medula spinalis akan kembali seperti semula.

PENYEBAB
1. kompresi epidural:
a. tumor metastasis (terutama dari paru dan payudara)
b. trauma
c. limfoma
d. mieloma multiple
e. abses ato hematoma epidural
f. subluksasio atlanto aksial
2. kompressi intradural-ekstrameduler
a. meningioma
b. neurofibroma
3. ekspansi intrameduler
a. glioma
b. ependimoma
c. malformasi arteriovena

Tekanan pada medula spinalis bisa berasal dari:
- Tulang belakang yang patah atau tulang lainnya di dalam kolumna spinalis
- Ruptur pada satu atau beberapa diskus yang terletak diantara tulang belakang
- Infeksi (abses medula spinalis)
- Tumor medula atau kolumna spinalis.
Tekanan yang tiba-tiba biasanya berasal dari cedera atau perdarahan, tetapi bisa juga disebabkan
oleh infeksi atau tumor. Suatu pembuluh darah yang abnormal (malformasi arteriovenosa) juga
bisa menyebabkan penekanan pada medula spinalis.

GEJALA
- Lokasi dari kerusakan pada medula spinalis menentukan otot dan sensase yang terkena.
Kelemahan atau kelumpuhan serta berkurangnya atau hilangnya rasa cenderung terjadi
dibawah daerah yang mengalami cedera.
- Tumor atau infeksi di dalam atau di sekitar medula spinalis bisa secara perlahan menekan
medula, sehingga timbul nyeri pada sisi yang tertekan disertai kelemahan dan perubahan
rasa. Jika keadaan semakin memburuk, nyeri dan kelemahan akan berkembang menjadi
kelumpuhan dan hilangnya rasa, dalam beberapa hari atau minggu.
- Jika aliran darah ke medula spinalis terputus, maka kelumpuhan dan hilangnya rasa bisa
terjadi dalam waktu hanya beberapa menit.
- Penekanan medula spinalis yang berjalan paling lambat biasanya merupakan akibat dari
kelainan pada tulang yang disebabkan oleh artrits degenerativa atau tumor yang
pertumbuhannya sangat lambat. Penderita tidak merasakan nyeri atau nyeri bersifat ringan,
perubahan rasa (misalnya kesemutan) dan kelemahan berkembang dalam beberapa bulan.

Gejala khas Gejala awal Gejala lanjut
1. nyeri punggung
2. parestesi tungkai
3.perubahan pola kencing
(lebih sering atau lebih jarang)
4.kelemahan anggota gerak
bawah (terutama saat naik
tangga)
5. konstipasi
1.hilangnya sensasi nyeri
2.hilangnya sensasi getar dan
posisi pada kaki
3.hiper refleksi pada anggota
gerak bawah diandingkan
anggota gerak atas
4.nyeri pada kolumna
vertebralis
1.kelemahan yg nyata (berat)
2.hiper refleksi
3.refleks patologis
4.hilangnya tonus otot sfingter
ani,tdk ada refleks dinding
perut,tdk ada refleks bulbo
kavernosa
5. retensio urin

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik. Kerusakan pada dada
bagian tengah bisa menyebabkan kelemahan dan mati rasa pada tungkai dan gangguan fungsi
pencernaan serta kandung kemih.
CT scan atau MRI bisa menunjukkan lokasi penekanan dan menentukan penyebabnya.
Mielogram dilakukan untuk membantu menentukan lokasi penekanan. Jika pemeriksaan
menunjukkan adanya pertumbuhan abnormal, maka perlu dilakukan biopsi untuk menentukan
apakah pertumbuhan tersebut bersifat ganas atau tidak.

PENGOBATAN
Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Jika memungkinkan, penekanan harus
dihilangkan secepat mungkin. Pembedahan dilakukan untuk menghilangkan tekanan, sedangkan
penekanan karena tumor bisa diatasi dengan terapi penyinaran.
Kortikosteroid (misalnya deksametason) seringkali diberikan untuk membantu mengurangi
pembengkakan di dalam atau di sekitar medula spinalis yang bisa menyebabkan penekanan.
Jika penyebabnya infeksi, maka diberikan antibiotik. Jika terjadi abses, maka dilakukan
pembuangan nanah yang terkumpul.
1. radioterapi (utk tumor metastasis)
2. operasi dekompresi utk tumor ekstradural soliter solit yg bersifat resisten
3. kombinasi keduanya
4. deksametason 10-50mg iv segera di berikan sebelum mielografi, MRI, radioterapi, atau
operasi.

DIAGNOSIS BANDING
1. mielitis transversa
2. mielopati radiasi
3. mielopati
4. mielopati transversa

BELLS PALSY
DEFINISI
Bell's Palsy (BP) ialah suatu kelumpuhan akut n. fasialis perifer yang tidak diketahui
sebabnya. Sir Charles Bell (1821) adalah orang yang pertama meneliti beberapa penderita dengan
wajah asimetrik, sejak itu semua kelumpuhan n. fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya
disebut Bell's palsy. Pengamatan klinik, pemeriksaan neurologik, laboratorium dan patologi anatomi
menunjukkan bahwa BP bukan penyakit tersendiri tetapi berhubungan erat dengan banyak faktor
dan sering me-rupakan gejala penyakit lain. Penyakit ini lebih sering ditemukan pada usia dewasa,
jarang pada anak di bawah umur 2 tahun. Biasanya didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas
yang erat hubungannya dengan cuaca dingin.

EPIDEMIOLOGI
Bells palsy menempati urutan ketiga penyebab terbanyak dari paralysis fasial akut. Di dunia,
insiden tertinggi ditemukan di Seckori, Jepang tahun 1986 dan insiden terendah ditemikan di Swedia
tahun 1997. Di Amerika Serikat, insiden Bells palsy setiap tahun sekitar 23 kasus per 100.000 orang,
63% mengenai wajah sisi kanan. Insiden Bells palsy rata-rata 15-30 kasus per 100.000 populasi.
Penderita diabetes mempunyai resiko 29% lebih tinggi, dibanding non-diabetes. Bells palsy
mengenai laki-laki dan wanita dengan perbandingan yang sama. Akan tetapi, wanita muda yang
berumur 10-19 tahun lebih rentan terkena daripada laki-laki pada kelompok umur yang sama.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur, namun lebih sering terjadi pada umur 15-50 tahun. Pada
kehamilan trisemester ketiga dan 2 minggu pasca persalinan kemungkinan timbulnya Bells palsy
lebih tinggi daripada wanita tidak hamil, bahkan bisa mencapai 10 kali lipat

ETIOLOGI
Kausa kelumpuhan n. fasialis perifer sampai sekarang belum diketahui secara pasti.
Umumnya dapat dikelompokkan sbb.
I) Kongenital
1.anomali kongenital (sindroma Moebius)
2.trauma lahir (fraktur tengkorak, perdarahan intrakranial .dll.
II) Didapat
- Trauma
- Penyakit tulang tengkorak (osteomielitis)
- Proses intrakranial (tumor, radang, perdarahan)
- Proses di leher yang menekan daerah prosesus stilomastoideus)
- Infeksi tempat lain (otitis media, herpes zoster)
- Sindroma paralisis n. fasialis familial
Neurotmesis
Terjadi karena axon, schwann cell dan myelin sheat terputus dan terjadi degenerasi
Saraf banyak mengandung serabut yang jika rusak dapat mengakibatkan tipe lesi yang
bermacam-macam sehingga sulit mendiagnosis.
Tekanan yang singkat pada saraf mengakibatkan hilangnya konduksi yang dapat membuat
ischemic dan secara cepat reversible
Contoh : Duduk dengan kaki menyilang dapat mengakibatkan hilangnya konduksi sementara di
ibu jari (n. peroneal)
Kompressi injury yang lebih lama mengakibatkan mechanical displacement nodus of ranvier
Jika proses penekanan hilang sebelum terjadi perubahan strktur maka akan pulih dalam beberapa
minggu.

Faktor-faktor yang diduga berperan menyebabkan BP antara lain :
- sesudah bepergian jauh dengan kendaraan,
- tidur di tempat terbuka,
- tidur di lantai,
- hipertensi,
- stres,
- hiperkolesterolemi,
- diabetes mellitus,
- penyakit vaskuler,
- gangguan imunologik dan faktor genetic

ANATOMI
Saraf otak ke VII mengandung 4 macam serabut, yaitu :
1. Serabut somato motorik, yang mensarafi otot-otot wajah kecuali m. levator palpebrae
(n.II), otot platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan stapedius di telinga
tengah.
2. Serabut visero-motorik, (parasimpatis) yang datang dari nukleus salivatorius superior.
Serabut saraf ini mengurus glandula dan mukosa faring, palatum, rongga hidung, sinus
paranasal, dan glandula submaksilaris serta sublingual dan lakrimalis.
3. Serabut visero-sensorik, yang menghantar impuls dari alat pengecap di dua pertiga bagian
depan lidah.
4. Serabut somato-sensorik, rasa nyeri dan mungkin juga rasa suhu dan rasa raba dari
sebagian daerah kulit dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus.
Nervus VII terutama terdiri dari saraf motorik yang mempersarafi seluruh otot mimik wajah.
Komponen sensorisnya kecil, yaitu nervus intermedius Wrisberg yang mengantarkan rasa kecap dari
dua pertiga bagian lidah dan sensasi kulit dari dinding anterior kanalis auditorius eksterna.
Serabut-serabut kecap pertama-tama melintasi nervus lingual, yaitu cabang dari nervus
mandibularis lalu masuk ke korda timpani dimana ia membawa sensasi kecap melalui nervus fasialis
ke nukleus traktus solitarius.
Serabut-serabut sekretomotor menginnervasi kelenjar lakrimal melalui nervus petrosus
superfisial major dan kelenjar sublingual serta kelenjar submaksilar melalui korda tympani.
Nukleus (inti) motorik nervus VII terletak di ventrolateral nukleus abdusens, dan serabut
nervus fasialis dalam pons sebagian melingkari dan melewati bagian ventrolateral nukleus abdusens
sebelum keluar dari pons di bagian lateral traktus kortikospinal. Karena posisinya yang berdekatan
(jukstaposisi) pada lantai ventrikel IV, maka nervus VI dan VII dapat terkena bersama-sama oleh lesi
vaskuler atau lesi infiltratif.
Nervus fasialis masuk ke meatus akustikus internus bersama dengan nervus akustikus lalu
membelok tajam ke depan dan ke bawah di dekat batas anterior vestibulum telinga dalam. Pada
sudut ini (genu) terletak ganglion sensoris yang disebut genikulatum karena sangat dekat dengan
genu. Nervus fasialis terus berjalan melalui kanalis fasialis tepat di bawah ganglion genikulatum
untuk memberikan percabangan ke ganglion pterygopalatina, yaitu nervus petrosus superfisial
major, dan di sebelah yang lebih distal memberi persarafan ke m. stapedius yang dihubungkan oleh
korda timpani. Lalu n. fasialis keluar dari kranium melalui foramen stylomastoideus kemudian
melintasi kelenjar parotis dan terbagi menjadi lima cabang yang melayani otot-otot wajah, m.
stilomastoideus, platisma dan m. digastrikus venter posterior.
Lokasi cedera nervus fasialis pada Bells palsy adalah di bagian perifer nukleus nervus VII.
Cedera tersebut terjadi di dekat ganglion genikulatum. Jika lesinya berlokasi di bagian proksimal
ganglion genikulatum, maka paralisis motorik akan disertai gangguan fungsi pengecapan dan
gangguan fungsi otonom. Lesi yang terletak antara ganglion genikulatum dan pangkal korda timpani
akan mengakibatkan hal serupa tetapi tidak mengakibatkan gangguan lakrimasi. Jika lesinya
berlokasi di foramen stilomastoideus maka yang terjadi hanya paralisis fasial (wajah).



PATOFISIOLOGI
Para ahli menyebutkan bahwa pada Bells palsy terjadi proses inflamasi akut pada nervus
fasialis di daerah tulang temporal, di sekitar foramen stilomastoideus. Bells palsy hampir selalu
terjadi secara unilateral. Namun demikian dalam jarak waktu satu minggu atau lebih dapat terjadi
paralysis bilateral. Penyakit ini dapat berulang atau kambuh.
Patofisiologinya belum jelas, tetapi salah satu teori menyebutkan terjadinya proses inflamasi
pada nervus fasialis yang menyebabkan peningkatan diameter nervus fasialis sehingga terjadi
kompresi dari saraf tersebut pada saat melalui tulang temporal. Perjalanan nervus fasialis keluar dari
tulang temporal melalui kanalis fasialis yang mempunyai bentuk seperti corong yang menyempit
pada pintu keluar sebagai foramen mental.
Dengan bentukan kanalis yang unik tersebut, adanya inflamasi, demyelinisasi atau iskemik
dapat menyebabkan gangguan dari konduksi. Impuls motorik yang dihantarkan oleh nervus fasialis
bisa mendapat gangguan di lintasan supranuklear, nuklear dan infranuklear. Lesi supranuklear bisa
terletak di daerah wajah korteks motorik primer atau di jaras kortikobulbar ataupun di lintasan
asosiasi yang berhubungan dengan daerah somatotropik wajah di korteks motorik primer.
Karena adanya suatu proses yang dikenal awam sebagai masuk angin atau dalam bahasa
inggris cold. Paparan udara dingin seperti angin kencang, AC, atau mengemudi dengan kaca
jendela yang terbuka diduga sebagai salah satu penyebab terjadinya Bells palsy. Karena itu nervus
fasialis bisa sembab, ia terjepit di dalam foramen stilomastoideus dan menimbulkan kelumpuhan
fasialis LMN. Pada lesi LMN bias terletak di pons, di sudut serebelo-pontin, di os petrosum atau
kavum timpani, di foramen stilomastoideus dan pada cabang-cabang tepi nervus fasialis. Lesi di pons
yang terletak di daerah sekitar inti nervus abdusens dan fasikulus longitudinalis medialis.
Karena itu paralisis fasialis LMN tersebut akan disertai kelumpuhan muskulus rektus lateralis
atau gerakan melirik ke arah lesi. Selain itu, paralisis nervus fasialis LMN akan timbul bergandengan
dengan tuli perseptif ipsilateral dan ageusia (tidak bisa mengecap dengan 2/3 bagian depan lidah).
Berdasarkan beberapa penelitian bahwa penyebab utama Bells palsy adalah reaktivasi virus herpes
(HSV tipe 1 dan virus herpes zoster) yang menyerang saraf kranialis. Terutama virus herpes zoster
karena virus ini menyebar ke saraf melalui sel satelit.
Pada radang herpes zoster di ganglion genikulatum, nervus fasialis bisa ikut terlibat sehingga
menimbulkan kelumpuhan fasialis LMN. Kelumpuhan pada Bells palsy akan terjadi bagian atas dan
bawah dari otot wajah seluruhnya lumpuh. Dahi tidak dapat dikerutkan, fisura palpebra tidak dapat
ditutup dan pada usaha untuk memejam mata terlihatlah bola mata yang berbalik ke atas. Sudut
mulut tidak bisa diangkat. Bibir tidak bisa dicucurkan dan platisma tidak bisa digerakkan. Karena
lagoftalmos, maka air mata tidak bisa disalurkan secara wajar sehingga tertimbun disitu.

GEJALA KLINIS
Pada awalnya, penderita merasakan ada kelainan di mulut pada saat bangun tidur,
menggosok gigi atau berkumur, minum atau berbicara. Setelah merasakan adanya kelainan di
daerah mulut maka penderita biasanya memperhatikannya lebih cermat dengan menggunakan
cermin.
Mulut tampak moncong terlebih pada saat meringis, kelopak mata tidak dapat dipejamkan
(lagoftalmos), waktu penderita disuruh menutup kelopak matanya maka bola mata tampak berputar
ke atas.(tanda Bell). Penderita tidak dapat bersiul atau meniup, apabila berkumur atau minum maka
air keluar melalui sisi mulut yang lumpuh.
Selanjutnya gejala dan tanda klinik lainnya berhubungan dengan tempat/lokasi lesi.
a. Lesi di luar foramen stilomastoideus
Mulut tertarik ke arah sisi mulut yang sehat,
makanan berkumpul di antar pipi dan gusi,
dan sensasi dalam (deep sensation) di wajah menghilang.
Lipatan kulit dahi menghilang.
Apabila mata yang terkena tidak tertutup atau tidak dilindungi maka air
mata akan keluar terus menerus.
b. Lesi di kanalis fasialis (melibatkan korda timpani)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (a),
ditambah dengan hilangnya ketajaman pengecapan lidah (2/3 bagian depan)
dan salivasi di sisi yang terkena berkurang.
Hilangnya daya pengecapan pada lidah menunjukkan terlibatnya nervus
intermedius, sekaligus menunjukkan lesi di daerah antara pons dan titik di
mana korda timpani bergabung dengan nervus fasialis di kanalis fasialis.
c. Lesi di kanalis fasialis lebih tinggi lagi (melibatkan muskulus stapedius)
Gejala dan tanda klinik seperti pada (a), (b),
ditambah dengan adanya hiperakusis.
d. Lesi di tempat yang lebih tinggi lagi (melibatkan ganglion genikulatum)
Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c)
disertai dengan nyeri di belakang dan di dalam liang telinga.
Kasus seperti ini dapat terjadi pasca herpes di membran timpani dan konka.
Ramsay Hunt adalah paralisis fasialis perifer yang berhubungan dengan herpes
zoster di ganglion genikulatum. Lesi herpetik terlibat di membran timpani,
kanalis auditorius eksterna dan pina.
e. Lesi di daerah meatus akustikus interna
Gejala dan tanda klinik seperti (a), (b), (c), (d),
ditambah dengan tuli sebagi akibat dari terlibatnya nervus akustikus.
f. Lesi di tempat keluarnya nervus fasialis dari pons.
Gejala dan tanda klinik sama dengan di atas,
disertai gejala dan tanda terlibatnya nervus trigeminus, nervus akustikus,
dan kadang-kadang juga nervus abdusens, nervus aksesorius, dan nervus
hipoglosus.
Sindrom air mata buaya (crocodile tears syndrome) merupakan gejala sisa
Bells palsy, beberapa bulan pasca awitan, dengan manifestasi klinik: air
mata bercucuran dari mata yang terkena pada saat penderita makan. Nervus
fasilais menginervasi glandula lakrimalis dan glandula salivatorius
submandibularis. Diperkirakan terjadi regenerasi saraf salivatorius tetapi
dalam perkembangannya terjadi salah jurusan menuju ke glandula
lakrimalis.
DIAGNOSIS
Diagnosis ditegakkan menurut gejalanya. Bells palsy selalu mengenai satu sisi wajah,
kelemahannya tiba-tiba dan dapat melibatkan baik bagian atas atau bagian bawah wajah. Beberapa
pemeriksaan penunjang yang penting untuk menentukan letak lesi dan derajat kerusakan saraf
fasialis sebagai berikut:
- Uji kepekaan saraf (nerve excitability test)
Pemeriksaan ini membandingkan kontraksi otot-otot wajah kiri & kanan setelah
diberi rangsang listrik. Perbedaan rangsang lebih 3,5 mA menunjukkan keadaan patologik
dan jika lebih 20 mA menunjukkan kerusakan saraf fasialis irreversibel.
- Uji konduksi saraf (nerve conduction test)
Pemeriksaan untuk menentukan derajat denervasi dengan cara mengukur
kecepatan hantaran listrik pada saraf fasialis kiri dan kanan.
- Elektromiografi
Pemeriksaan yang menggambarkan masih berfungsi atau tidaknya otot otot wajah.
Uji fungsi pengecap 2/3 bagian depan lidah Gilroy dan Meyer (1979) menganjurkan
pemeriksaan fungsi pengecap dengan cara sederhana yaitu rasa manis (gula), rasa asin dan
rasa pahit (pil kina). Elektrogustometri membandingkan reaksi antara sisi yang sehat dan
yang sakit dengan stimulasi listrik pada 2/3 bagian depan lidah terhadap rasa kecap pahit
atau metalik. Gangguan rasa kecap pada bell's palsy menunjukkan letak lesi saraf fasialis
setinggi khorda timpani atau proksimalnya.
- Uji Schirmer
Pemeriksaan ini menggunakan kertas filter khusus yang diletakkan di belakang
kelopak mata bagian bawah kiri dan kanan. Penilaian berdasarkan atas rembesan air mata
pada kertas filter, berkurang atau mengeringnya air mata menunjukkan lesi saraf fasialis
setinggi ganglion genikulatum

Penyakit lain yang juga dapat menyebabkan kelumpuhan saraf wajah adalah:
- Tumor otak yang menekan saraf
- Kerusakan saraf wajah karena infeksi virus (misalnya sindroma Ramsay Hunt)
- Infeksi telinga tengah, sinus mastoideus
- Penyakit Lyme
- Patah tulang di dasar tengkorak.
Untuk membedakan bell's palsy dengan penyakit tersebut, bisa dilihat dari riwayat penyakit, hasil
pemeriksaan rontgen, CT scan atau MRI. Pada penyakit Lyme perlu dilakukan pemeriksaan darah.

PENATALAKSANAAN
Terapi pertama yang harus dilakukan adalah penjelasan kepada penderita bahwa penyakit
yang mereka derita bukanlah tanda stroke, hal ini menjadi penting karena penderita dapat
mengalami stress yang berat ketika terjadi salah pengertian.
1. Istirahat terutama pada keadaan akut
2. Medikamentosa
Selain itu, dari tinjauan terbaru menyimpulkan bahwa pemberian kortikosteroid
dalam tujuh hari pertama efektif untuk menangani Bells palsy. Pemberian sebaiknya
selekas-lekasnya terutama pada kasus bell's palsy yang secara elektrik menunjukkan
denervasi. Tujuannya untuk mengurangi udem dan mempercepat reinervasi. Dosis yang
dianjurkan 3 mg/kg BB/hari sampai ada perbaikan, kemudian dosis diturunkan bertahap
selama 2 minggu.
3. Fisioterapi
Sering dikerjakan bersama-sama pemberian prednison, dapat dianjurkan pada
stadium akut. Tujuan fisioterapi untuk mempertahankan tonus otot yang lumpuh.
3.a. Penanganan mata
Bagian mata juga harus mendapatkan perhatian khusus dan harus dijaga agar
tetap lembab, hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian pelumas mata setiap
jam sepanjang hari dan salep mata harus digunakan setiap malam
3.b. Latihan wajah
Komponen lain yang tidak kalah pentingnya dalam optimalisasi terapi adalah
latihan wajah. Latihan ini dilakukan minimal 2-3 kali sehari, akan tetapi kualitas
latihan lebih utama daripada kuantitasnya. Sehingga latihan wajan ini harus
dilakukan sebaik mungkin. Pada fase akut dapat dimulai dengan kompres hangat
dan pemijatan pada wajah, hal ini berguna mengingkatkan aliran darah pada otot-
otot wajah. Kemudian latihan dilanjutkan dengan gerakan-gerakan wajah tertentu
yang dapat merangsang otak untuk tetap memberi sinyal untuk menggerakkan otot-
otot wajah. Sebaiknya latihan ini dilakukan di depan cermin.
Gerakan yang dapat dilakukan berupa:
Tersenyum
Mencucurkan mulut, kemudian bersiul
Mengatupkan bibir
Mengerutkan hidung
Mengerutkan dahi
Gunakan telunjuk dan ibu jari untuk menarik sudut mulut secara
manual
Mengangkat alis secara manual dengan keempat jari
Setelah melakukan terapi tersebut sebagian penderita akan sembuh
total dan sebagian akan meninggalkan gejala sisa yang dapat
berupa:
1. Kontraktur
Hal ini dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga plika
nasolabialis lebih jelas terlihat dibanding pada sisi yang sehat.
Bagi pemeriksa yang belum berpengalaman mungkin bagian
yang sehat ini yang disangkanya lumpuh, sedangkan bagian yang
lumpuh disangkanya sehat.
2. Sinkinesia (associated movement)
Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakkan satu per satu
atau tersendiri, selalu timbul gerakan bersama. Bila pasien
disuruh memejamkan mata, maka otot orbikularis orispun akan
akan ikut berkontraksi dan sudut mulut terngkat. Bila ia disuruh
menggembungkan pipi, kelopak mata ikut merapat.
3. Spasme spontan
Dalam hal ini otot-otot wajah bergerak secara spontan, tidak
terkendali. Hal ini disebut juga tic facialis. akan tetapi tidak
semua tic facialis merupakan gejala sisa dari Bells palsy
Tindakan operatif umumnya tidak dianjurkan pada anak-anak karena dapat menimbulkan
komplikasi lokal maupun intracranial.
Tindakan operatif dilakukan apabila :
1. Tidak terdapat penyembuhan spontan
2. Tidak terdapat perbaikan dengan pengobatan prednisone pada pemeriksaan elektrik
terdapat denervasi total.
Beberapa tindakan operatif yang dapat dikerjakan pada bell's palsy antara lain dekompresi n. fasialis
yaitu membuka kanalis fasialis pars piramidalis mulai dari foramen stilomastoideum nerve graft
operasi plastik untuk kosmetik (muscle sling, tarsoraphi).

PENCEGAHAN
Agar Bell's Palsy tidak mengenai kita, cara-cara yang bisa ditempuh adalah :
1. Jika berkendaraan motor, gunakan helm penutup wajah full untuk mencegah angin
mengenai wajah.
2. Jika tidur menggunakan kipas angin, jangan biarkan kipas angin menerpa wajah langsung.
Arahkan kipas angin itu ke arah lain. Jika kipas angin terpasang di langit-langit, jangan
tidur tepat di bawahnya. Dan selalu gunakan kecepatan rendah saat pengoperasian kipas.
3. Kalau sering lembur hingga malam, jangan mandi air dingin di malam hari. Selain tidak
bagus untuk jantung, juga tidak baik untuk kulit dan syaraf.
4. Bagi penggemar naik gunung, gunakan penutup wajah / masker dan pelindung mata. Suhu
rendah, angin kencang, dan tekanan atmosfir yang rendah berpotensi tinggi
menyebabkan Anda menderita Bell's Palsy.
5. Setelah berolah raga berat, jangan langsung mandi atau mencuci wajah dengan air dingin.
6. Saat menjalankan pengobatan, jangan membiarkan wajah terkena angin langsung. Tutupi
wajah dengan kain atau penutup.



PROGNOSIS
Walaupun tanpa diberikan terapi, pasien Bells palsy cenderung memiliki prognosis yang
baik. Dalam sebuah penelitian pada 1.011 penderita Bells palsy, 85% memperlihatkan tanda-tanda
perbaikan pada minggu ketiga setelah onset penyakit. 15% kesembuhan terjadi pada 3-6 bulan
kemudian.
Sepertiga dari penderita Bells palsy dapat sembuh seperti sedia kala tanpa gejala sisa. 1/3
lainnya dapat sembuh tetapi dengan elastisitas otot yang tidak berfungsi dengan baik. Penderita
seperti ini tidak memiliki kelainan yang nyata.
Penderita Bells palsy dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa.. Faktor resiko yang
memperburuk prognosis Bells palsy adalah:
(1) Usia di atas 60 tahun
(2) Paralisis komplit
(3) Menurunnya fungsi pengecapan atau aliran saliva pada sisi yang lumpuh,
(4) Nyeri pada bagian belakang telinga dan
(5) Berkurangnya air mata.
Pada penderita kelumpuhan nervus fasialis perifer tidak boleh dilupakan untuk mengadakan
pemeriksaan neurologis dengan teliti untuk mencari gejala neurologis lain.
Pada umumnya prognosis Bells palsy baik: sekitar 80-90 % penderita sembuh dalam waktu 6
minggu sampai tiga bulan tanpa ada kecacatan. Penderita yang berumur 60 tahun atau lebih,
mempunyai peluang 40% sembuh total dan beresiko tinggi meninggalkan gejala sisa. Penderita yang
berusia 30 tahun atau kurang, hanya punya perbedaan peluang 10-15 persen antara sembuh total
dengan meninggalkan gejala sisa. Jika tidak sembuh dalam waktu 4 bulan, maka penderita
cenderung meninggalkan gejala sisa, yaitu sinkinesis, crocodile tears dan kadang spasme hemifasial.