You are on page 1of 31

TUGAS KELOMPOK ITMKG 4

EFEKTIVITAS PENGGUNAAN POTASSI UM NI TRATE (KNO


3
)
SEBAGAI BAHAN DESENSITISASI


Disusun Oleh :
Gadis Pinandita (04121004037) Gusnia Ira (04121004048)
Maretha Dwi (04121004038) Margaret Yunita (04121004049)
Lidya Astria (04121004039) Dea Meigina K (04121004050)
Dewi Kurniasih (04121004040) Evi Novianti (04121004051)
Ghina Tanzila (04121004041) Nadya Purwanty (04121004052)
Helsi Nadia R (04121004043) Catherine Videllia (04121004053)
Afif R Thabrani (04121004044) Hesti Rahmiati (04121004054)
Yeza Safitri (04121004045) Ria Mayanti (04121004056)
Priskilla R (04121004046) Repika Ayu Y (04121004057)
Ishlah Amanda (04121004047) Rhian Surya P (04101004018)
Yelli Sidabutar (04101004023)

Dosen Pembimbing:
drg. Maya Hudiyati, MD. Sc.
drg. Martha Mozartha, M. Si.

FAKULTAS KEDOKTERAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER GIGI
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2014
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN POTASSI UM NI TRATE (KNO
3
)
SEBAGAI BAHAN DESENSITISASI
BAB 1
PENDAHULUAN
Hipersensitivitas dentin merupakan masalah klinis yang umumnya
dilaporkan oleh penderita setelah mengalami rasa sakit atau rasa ngilu yang tajam
yang disebabkan oleh suatu rangsangan.
1,2,3
Respon rasa sakit umumnya
disebabkan oleh adanya rangsangan terhadap dentin yang terbuka. Rangsangan
tersebut berasal dari luar yang berupa rangsangan termal, kimia, taktil, dan
osmotik.
1,3,4

Dentin terbuka dapat disebabkan oleh beberapa hal. Sebagai contoh,
hilangnya lapisan email atau sementum yang umumnya menutupi permukaan
dentin sebagai akibat dari terjadinya atrisi, abrasi, atau erosi. Selain itu, dapat juga
disebabkan oleh tidak bertemunya lapisan email dan sementum akibat anomali
perkembangan sehingga mengakibatkan permukaan dentin yang terbuka. Secara
umum, timbulnya hipersensitivitas dentin tidak hanya disebabkan oleh satu faktor
saja, melainkan kombinasi dari beberapa faktor.
1
Rasa ngilu yang dirasakan oleh penderita merupakan suatu gangguandan
secara tidak langsung akan menimbulkan masalah lain sepertiterganggunya
pembersihan gigi dan mulut sehingga kebersihanmulut kurang sempurna yang
pada akhirnya akan menyebabkankelainan periodontal. Untuk mencegah
terjadinyakelainan lebih lanjut, maka diperlukan perawatan pada hipersensitivitas
dentin. Perawatan tersebut dapat dilakukan dengan pemberian bahan desensitisasi.
Bahan desensitisasi dapat bekerja menghambat eksitabilitas saraf dan menyumbat
tubulus dentin yang terbuka sehingga mampu mengatasi hipersensitivitas dentin.
Masing-masing bahan desensitisasi memiliki mekanisme tersendiri dalam
perawatan hipersensitivitas dentin.
1,5

Dewasa ini, telah banyak dilakukan penelitian mengenai penggunaan
potassium nitrate sebagai salah satu bahan desensitisasi yang mampu mengurangi
hipersensitivitas dentin. Potassium nitrate telah digunakan sebagai bahan
desensitisasi lebih dari 30 tahun yang lalu.
6
Oleh karena itu, makalah ini akan
membahas mengenai efektivitas penggunaan potassium nitrate sebagai bahan
desensitisasi.
BAB 2
ISI

2.1 Hipersensitivitas Dentin

2.1.1 Definisi Hipersensitivitas Dentin

Hipersensitivitas dentin merupakan suatu keadaan yang ditandai
dengan rasa sakit tajam dan singkat yang timbul akibat dentin yang
terbuka dan biasanya karena adanya rangsangan termal, uap, taktil,
osmotik, atau kimia dan tidak dihubungkan dengan kerusakan gigi dan
patologinya.
5,7


2.1.2 Etiologi Hipersensitivitas Dentin

Hipersensitivitas dentin terjadi karena tubulus dentin yang terbuka
pada permukaan dentin akibat hilangnya email (lesi abrasi, erosi, dan
atrisi). Selain itu, dapat juga dikarenakan permukaan akar yang terbuka
karena hilangnya sementumakibat penyikatan atau perawatan periodontal
(Gambar 1). Hipersensitivitas dentin juga dapat terjadi karena resesi
gingiva akibat penuaan, penyakit periodontal kronis, dan kebiasaan buruk
pasien (Gambar 2).
5,8


Gambar1. Hipersensitivitas dentin yang terjadi karena terbukanya tubulus dentin,
hilangnya sementum, dan resesi gingiva
8


Gambar 2. Etiologi hipersensitivitas dentin
3

Penelitian mengungkapkan bahwa terbukanya dentin akibat
hilangnya email/ sementum terjadi akibat satu atau lebih proses di bawah
ini.
5

1. Kurang atau berlebihannya penyikatan gigi.Penyikatan gigi dengan
tekanan yang kuat atau bahkan kurangnya penyikatan sehingga terjadi
penumpukan plak, menyebabkan inflamasi gingiva yang mengarah ke
komplikasi periodontal dan berpindahnya gingiva ke arah apikal,
terbukanya sementum, lalu dentin pada akar.
2. Tingkat kebersihan mulut yang rendah.Pasien dengan tingkat
kebersihan mulut yang rendah mempunyai derajat kerusakan jaringan
periodontal yang tinggi, hilangnya jaringan tulang pendukung, dan
terbukanya permukaan akar. Terbukanya permukaan akar
dihubungkan dengan hipersensitivitas dentin dan diperburuk oleh aksi
asam yang dikeluarkan oleh bakteri yang mampu membuka tubulus
dentin.
3. Perawatan periodontal dihubungkan dengan hipersensitivitas dentin
yang menyebabkan terbukanya tubulus dentin setelah pembuangan
kalkulus supragingival dan/ atau subgingival. Faktor lainnya adalah
pembuangan sementum yang menutupi akar atau dentin pada
akarselama perawatan periodontal.
4. Terpaparnya asam non-bakteri dalam makanan, produk kimia, dan
obat-obatan. Substansi dengan pH rendah menyebabkan hilangnya
struktur gigi oleh pelarutan kimia tanpa keterlibatan bakteri (erosi).
Pada daerah servikal, email yang lebih tipis secara berangsur-angsur
larut dan dentin menjadi terbuka. Lingkungan asam juga dapat
membuka tubulus dentin, bahkan jauh lebih besar, mengarah ke
sensitivitas yang lebih berat.
5. Kontak oklusal dengan tekanan berlebihan dan kontak oklusal
prematur. Tekanan oklusal yang berlebihan berhubungan dengan
perubahan bentuk gigi yang menghasilkan fraktur kristal email pada
daerah servikal, menyebabkan terbukanya dentin pada korona,
sedangkan pada kasus yang lebih parah dapat mengenai dentin pada
korona dan akar. Keadaan ini dinamakan abfraksi, yang secara tidak
langsung berhubungan dengan makanan, penyakit periodontal, atau
abrasi.
6. Faktor fisiologis.Jumlah gigi dengan terpaparnya permukaan akar
meningkat dengan jelas sebagai akibat bertambahnya umur. Ekstrusi
gigi karena tidak adanya gigi antagonis menyebabkan terpaparnya
permukaan akar yang mengarah ke hipersensitivitas dentin.

2.1.3 Mekanisme Terjadinya Hipersensitivitas Dentin

Ada beberapa teori yang berkaitan dengan mekanisme terjadinya
hipersensitivitas dentin. Teori-teori tersebut antara lain teori transduksi
odontoblas, teori saraf, dan teori hidrodinamik (Gambar 3).
1,7,9



Gambar 3. Teori Hipersensitivitas Dentin. A. Teori Saraf, B. Teori Transduksi
Odontoblas, C. Teori Hidrodinamik
9

1. Teori Transduksi Odontoblas
Menurut teori ini, proses odontoblas yang terbuka pada
permukaan dentin dapat disebabkan oleh berbagai stimulus mekanik
dan kimia. Hasil dari stimulasi neurotransmitter dilepas dan impuls
diteruskan ke arah ujung-ujung saraf (Gambar 4).
1,7



Gambar 4. Proses odontoblas meluas sepanjang tubulus dentin
7

Odontoblas bertindak sebagai reseptor sel yang memperantarai
perubahan di dalam potensial membran odontoblas melalui
sambungan sinaptik dengan saraf. Hal ini menimbulkan rasa sakit
yang berasal dari ujung-ujung saraf yang terletak di batas
pulpodentinal. Akan tetapi, bukti dari teori transduksi odontoblas ini
umumnya masih tidak meyakinkan dan kurang menggambarkan
mekanisme hipersensitivitas dentin.
5


2. Teori Saraf
Sebagai lanjutan dari teori transduksiodontoblas, teori ini
menyatakan bahwa rangsang termal atau mekanis secara langsung
mempengaruhi ujung-ujung saraf di dalam tubulus dentin melalui
hubungan langsung dengan serabut saraf pulpa menuju batang saraf
pada gigi, lalu ke otak. Teori ini didukung oleh dengan adanya serabut
saraf tak bermyelin di dalam lapisan terluar dari sementum (Gambar
5).
1,7

Gambar5. Ujung-ujung saraf di dalam tubulus dentin secara langsung
bergerak karena adanya stimulus
7


3. Teori Hidrodinamik
Teori ini menyatakan bahwa cairan di dalam tubulus dentin
terganggu oleh adanya perubahan termal, fisik, atau osmotik dan
perubahan atau pergerakan cairan yang merangsang suatu
baroreceptor untuk menghentikan jalannya persarafan. Dasar teori ini
adalah cairan pengisi tubulus dentin yang terbuka pada permukaan
dentin dan di dalam pulpa. Rangsangan serabut saraf oleh jenis
stimulus yang berbeda dapat dijelaskan oleh teori hidrodinamik ini.
1,7

Sakit yang disebabkan oleh pergerakan cairan di dalam tubulus
dentin, dapat dijelaskan dan dapat diterima secara luas sesuai dengan
teori hidrodinamik yang diusulkan oleh Brannstrom dan Astron pada
tahun 1964. Berdasarkan teori ini, adanya lesi yang melibatkan
hilangnya email dan/ atau sementum pada daerah servikal dan
mengakibatkan terbukanya tubulus dentin, di bawah stimulus tertentu
memungkinkan pergerakan cairan di dalam tubulus dentin, secara
tidak langsung merangsang ekstremitas dari saraf pulpa (Gambar 6),
sehingga menimbulkan rasa sakit (Gambar 7).
5


Gambar6. Stimulus pada dentin yang terbuka menyebabkan pergerakan
cairan dalam tubulus dentin dan menggerakkan saraf
2



Gambar7. Mekanisme teori hidrodinamik yang diawali oleh adanya
rangsangan terhadap saraf intradental dan akhirnya menimbulkan rasa sakit
10

Penjelasan yang hampir sama tentang teori hidrodinamik juga
dikemukakan oleh Markowitz dan Syngcuk yang mengemukakan bahwa
melalui dentin yang terbuka, tekanan hidrodinamik akan menyebabkan
kerusakan odontoblas. Adanya hembusan udara atau karena perbedaan
tekanan maka sel-sel odontoblas yang rusak atau mediator lain seperti
prostaglandin masuk ke dalam tubulus dentin bersama-sama dengan cairan
tubulus dentin yang berasal dari cairan pulpa. Sel-sel ini akan merangsang
ujung saraf yang terletak dekat dengan pulpa dan akan menimbulkan rasa
sakit atau ngilu (Gambar 8).
11



Gambar 8. Mekanisme pergerakan cairan dalam tubulus dentin
11

Contoh:
1,7
a. Dehidrasi menyebabkan pergerakan udara di sekeliling permukaan
dentin yang terbuka yang menghasilkan pergerakan cairan ke luar
permukaan dehidrasi, di mana akan menggerakkan serabut saraf dan
memberikan sensasi rasa sakit.
b. Perubahan termal menghasilkan ekspansi atau kontraksi tubulus dentin
yang menyebabkan perubahan aliran cairan tubulus dentin dan
menggerakkan serabut saraf yang dapat menimbulkan rasa sakit
(Gambar 9).

Gambar9. Pergerakan cairan menjauhi pulpa akibat respon terhadap
rangsangan dingin
7

c. Stimulus osmotik yang tinggi seperti gula, asam, dan garam juga dapat
menghasilkan aliran cairan di dalam tubulus dentin dan menyebabkan
stimulasi saraf dan sensasi rasa sakit.
d. Stimulasi fisik seperti abrasi mekanis permukaan dentin yang terbuka
dapat menyebabkan aliran cairan yang tidak diinginkan di dalam
tubulus dentin yang menghasilkan rasa sakit akibat stimulasi serabut
saraf.

Untuk menjelaskan hipersensitivitas dentin, teori hidrodinamik
merupakan teori yang sangat dapat diterima di mana serabut saraf
bermyelin A-Delta di dalam pulpa berperan dalam rasa sakit pada
hipersensitivitas dentin.
6

Rasa sakit memiliki beberapa karakteristik, mulai dari suatu
ketidaknyamanan hingga menjadi suatu keparahan. Tingkat rasa sakit
bervariasi antargigi dan individu yang berbeda. Hal ini berhubungan
dengan daya tahan terhadap rasa sakit, faktor fisik, dan faktor emosional
pasien. Rasa sakit tersebut dapat terlokalisasi (1-2 gigi) atau menyebar
(beberapa gigi) dan pada beberapa kasus rasa sakit dapat terasa pada
semua kuadran gigi di dalam mulut.
5

Secara histologis, dentin yang sensitif menunjukkan pelebaran
tubulus dentin, dua kali lebih lebar jika dibandingkan dengan tubulus
dentin yang normal dan dalam jumlah yang lebih besar pada tiap daerah
jika dibandingkan dengan dentin tanpa rasa sensitivitas.
5

Pada tingkat makroskopis, dentin yang menunjukkan
hipersensitivitas terlihat tidak ada perbedaan dengan dentin yang normal.
Status pulpa pada hipersensitivitas dentin tidak diketahui, tetapi gejala
menunjukkan inflamasi ringan yang akan berlangsung tanpa
mengakibatkan pulpitis.
5



2.2 Bahan Desensitisasi

2.2.1 Definisi Bahan Desensitisasi

Bahan desensitisasi merupakan bahan yang diaplikasikan pada gigi
untuk mengurangi atau menghilangkan hipersensitivitas dentin.Pasien
dapat merasakan giginya sensitif ketika mengonsumsi makanan dan
minuman yang panas, dingin, manis, atau rangsangan udara.
12

2.2.2 Fungsi Bahan Desensitisasi

Banyak bahan desensitisasi bekerja dengan menutup tubulus dentin
yang terbuka untuk mengurangi pergerakan cairan. Hal ini dapat dilakukan
melalui proses penutupan kimia atau mekanis. Bahan-bahan desensitisasi
sebenarnya membentuk suatu ikatan dengan dentin atau memineralisasi
tubulus dentin yang terbuka (Gambar 10, 11, 12). Beberapa bahan
desensitisasi, umumnya potassium nitrate, bekerja dengan melewati
tubulus dentin menuju pulpa dan bereaksi langsung pada saraf. Hal ini
menghasilkan efek menenangkan pada pulpa.
12



Gambar 10. Ilustrasi bahan desensitisasi yang mengendap dalam tubulus dentin
12


Gambar11. Tubulus dentin yang terbuka
7


Gambar 12. Tubulus dentin yang tertutup
7


Bahan desensitisasi digunakan dalam beberapa cara yang berbeda,
dapat digunakan pada saat penempatan restorasi, setelah profilaksis atau
prosedur scaling dan root planing, atau untuk gigi dengan resesi gingiva
dan permukaan akar yang terbuka di mana sangat sensitif terhadap
sentuhan atau temperatur. Salah satu efek samping dari bleaching yaitu
sensitivitas gigi dan gusi selama proses bleaching. Beberapa produk
bleaching mengandung bahan kimia seperti potassium nitrate atau fluoride
yang dapat mengurangi atau menghilangkan sensitivitas selama
bleaching.
12


2.2.3 Tujuan Bahan Desensitisasi

Desensitisasi didasarkan atas teoriyang menyatakan bahwa
rangsangan melalui dentin yang terbuka dan melebihi daya tahan fisiologis
akan menimbulkanrasa sakit. Salah satu pertahanan fisiologis terhadap
iritasipulpa adalah terbentuknya dentin sekunder. Di samping
pembentukan dentin sekunder, kalsifikasi dentin peritubuler
jugameningkat sehingga terjadi penyumbatan dentin
peritubuler.Penyumbatan dentin peritubuler secara alamiah oleh kristal-
kristal kalsium merupakan pertahanan fisiologis gigi untukmengurangi
hipersensitivitas dentin. Hal ini dikarenakan penyumbatanakan
menghambat pergerakan cairan dalam tubulusdentindan sesuai dengan
teori hidrodinamik, di mana berkurangnyapergerakan cairan dalam tubulus
dentin akan mengurangi rasasakit akibat adanya rangsangan.
11
Dengan demikian, tujuan dari desensitisasi adalah untuk
menghambat pergerakan cairan dalam tubulus dentin. Salah satu cara
untuk menghambat pergerakancairan dalam tubulus dentin adalah dengan
cara merangsangmineralisasi dentin peritubuler sehingga saluran
dalamtubulus dentin mengecil dan aliran cairan dalam tubulusdentin
menjadi berkurang. Cara lain untuk menghambat pergerakancairan dentin
yaitu dengan menutup orifice pembuluhdentin.
11

2.2.4 Kategori dan Komponen Bahan Desensitisasi

Terdapat berbagai macam bahan desensitisasi, di mana dapat
digolongkan sebagai berikut (Tabel 1).
12

1. Pasta gigi desensitisasi, biasanya membutuhkan penggunaan berulang
sekitar beberapa hari atau minggu.

2. Gel fluoride dan varnish, juga membutuhkan cukup waktu untuk
mengurangi hipersensitivitas dentin.

3. Larutan garam anorganik, mengendap di dalam tubulus dentin yang
terbuka dan segera menutup daerah yang terbuka.

4. Resin primer, akan segera memberikan hasil jika terjadi penutupan
semua tubulus dentin yang terbuka. Pengurangan tingkat sensitivitas
menetap jika beberapa tubulus masih ada yang terbuka.

5. Bonding resin, membutuhkan etsa pada permukaan terlebih dahulu,
kadang-kadang menimbulkan sensitivitas tambahan, khususnya saat
pembilasan dan pengeringan.


Tabel 1. Bahan Desensitisasi
12

Bahan desensitisasi diklasifikasikan berdasarkan mekanisme kerja;
cara pengaplikasian, yaitu diaplikasikan oleh pasien atau dokter gigi
berdasarkan sifat kimia atau fisik; atau berdasarkan karakteristik reversibel
atau ireversibel.
5

Bahan desensitisasi dapat dijumpai dalam bentuk gel, pasta gigi,
obat kumur, atau bahan yang diaplikasikan secara topikal, seperti varnish,
resin komposit, glass ionomer cement, dentinal adhesives, membran
periodontal, dan aplikasi laser.
5


2.2.5 Syarat Bahan Desensitisasi

Syarat ideal bagi bahan desensitisasi antara lain:
1,9
1. Tidak mengiritasi pulpa.
2. Tidak menimbulkan rasa sakit saat pengaplikasian.
3. Mudah diaplikasikan.
4. Bereaksi dengan cepat.
5. Efektif untuk jangka waktu lama.
6. Tidak mewarnai struktur gigi atau efek yang merugikan bagi gigi dan
mukosa.

2.2.6 Macam-macam Bahan Desensitisasi

Berdasarkan mekanisme kerjanya, bahan desensitisasi
dikelompokkan sebagai berikut.
1. Mengurangi Eksitabilitas Saraf
Sejumlah studi melaporkan bahwa potassium nitrate (KNO
3
)
dijadikan sebagai kandungan aktif yang efektif dalam mengobati
hipersensitivitas dentin.
1,2
Penelitian oleh Hodosh merupakan
penelitian pertama yang melaporkan potassium nitrate sebagai
superior desensitizer.
7

Mekanisme aksi potassium nitrate belum diketahui, walaupun
efek oksidasi atau penyumbatan tubulus dentin melalui kristalisasi
telah dikemukakan, tetapi tidak terbukti. Efek potassium nitrate pada
aliran cairan tubulus dentin dilaporkan minimal, bahkan pada
konsentrasi 30%. Ion potassium merupakan komponen aktif
daripotassium nitrate yang mengurangi aktivitas saraf sensorik dentin
menuju aktivitas depolarisasi dan mencegah repolarisasi saraf
(Gambar 13).
1,7



Gambar13. Aksi potassium nitrate pada tubulus dentin.
7

Tarber, dkk. melakukan penelitian mengenai pengaruh pasta
gigi potassium nitrate (KNO
3
) 5% pada permukaan gigi untuk
mengetahui keamanan produk. Pasta gigi digunakan 2-4 kali sehari.
Hasilnya menunjukkan bahwa pasta gigi KNO
3
5% tidak
menyebabkan perubahan lain pada permukaan gigi.
2

Ion K
+
dalam produk desensitisasi KNO
3
bekerja dengan
menghambat sinaptik antara sel saraf, mengurangi pergerakan saraf,
dan rasa sakit.
2

Sebelumnya dipercaya bahwa NO
3
-
merupakan bahan aktif
dari potassium nitrate, tetapi Bilotte, dkk. dan Markowitz, dkk.
menunjukkan bahwa anion NO
3
-
tidak efektif sebagai bahan
desensitisasi, sebaliknya ion K
+
dianggap sebagai bahan desensitisasi
yang efektif tanpa melihat anion sebagai kombinasinya. Selain itu, ion
K
+
mempunyai efek yang reversibel di mana ion K
+
tidak
menunjukkan kerusakan aparatus saraf dentinal.
6

Dalam uji coba klinis yang menggunakan potassium nitrate
dalam bentuk larutan dengan konsentrasi 15%, 10%, 5%, 2%, dan 1%
serta dalam bentuk pasta dengan konsentrasi 10%, ternyata semuanya
efektif menghilangkan hipersensitivitas dentin. Dalam uji coba
tersebut ternyata potassium nitrate tidak mengiritasi gingiva dan tidak
menyebabkan perubahan warna gigi. Di samping itu, setelah
dilakukan uji coba dengan berbagai konsentrasi terbukti bahwa
potassium nitrate masih efektif untuk perawatan hipersensitivitas
dentin walaupun konsentrasinya rendah (1%).
11

Penelitian terhadap 27 subyek hipersensitivitas dentin
menggunakan potassium nitrate 5% dalam bentuk pasta terbukti dapat
menghilangkan hipersensitivitas dentin setelah 2 minggu pemakaian.
Setelah 4 minggu dilaporkan bahwa 92% gejala hipersensitivitas
dentin hilang.
6,11

Markowitz dkk. melakukan penelitian dengan
menggunakanbeberapa bahan kimia terhadap hipersensitivitas
dentinuntuk menguji efektivitas unsur potassium. Penelitian ini
didasarkanatas hasil uji coba klinis bahwa larutan perak
nitrat(HgNO
3
) dan potassium nitrate (KNO
3
) efektif sebagai
bahandesensitisasi walaupun dengan konsentrasi NO
3
-
yang berbeda-
beda.
11

Penelitian dilakukan menggunakan anion NO
3
-
dan kombinasi
kation dengan unsur Na
+
, Li
+
, K
+
, dan Sr
+
untuk mengujisensitivitas
saraf sensorik. Penelitian ini membuktikan bahwaNaNO
3
dan LiNO
3

tidak menimbulkan rangsangan terhadapsaraf sensoris, sedangkan
SrNO
3
harus menggunakan konsentrasiyang tinggi untuk dapat
merangsang saraf sensoris. Larutan lain yang terdiri dari ion K
+

dikombinasikan denganunsur lain yaitu KCl, KNCO
3
, potassium
oxalate (K
2
C
2
O
4
), serta potassium flouride (KF) ternyata semua
efektif untuk menurunkanhipersensitivits dentin.
11

Penelitian menggunakan CaCl
2
, MgC1
2
, SrC1
2
semuanyadapat
mengurangi hipersensitivitas dentin, namun kurang efektifbila
dibandingkan dengan larutan yang berisi potassium (K
+
).
11

Dari penelitian-penelitian di atas dapat disimpulkanbahwa:
11

Ion NO
3
-
tidak efektif untuk digunakan sebagai bahan
desensitisasi.
Ion K
+
efektif sebagai bahan desensitisasi walaupun
dikombinasikandengan unsur lain.
Kation valensi 2 efektif untuk menurunkan hipersensitivitasdentin
namun kurang efektif bila dibandingkan dengan ionK
+
.

Larutan potassiummerupakan larutan yang reversibel sehingga
tidak merusak dentin sehingga dapat digunakan untukdesensitisasi
kavitas yang dalam dan tidak mempunyai pengaruhterhadap aktivitas
saraf intradental.
11


2. Menyumbat Tubulus Dentin
a. Penutupan Tubulus Dentin
1. Ion/ Garam
a. Calcium hydroxide (Ca(OH)
2
)
Beberapa penelitian melaporkan keefektifan
calcium hydroxide dalam mengobati hipersensitivitas
dentin, biasanya setelah root planing. Aksi calcium
hydroxide yaitu menyumbat tubulus dentin melalui
ikatan radikal bebas protein oleh ion kalsium dan
meningkatkan mineralisasi dentin yang terbuka. Selain
itu, juga mendorong pembentukan dentin peritubular.
1,7,9


b. Sodium fluoride (NaF)
Banyak penelitian menunjukkan bahwa
perawatan permukaan akar yang terbuka dengan
menggunakan pasta gigi fluoride dan larutan fluoride
berkonsentrasi efisien dalam mengobati hipersensitivitas
dentin. Perawatan ditujukan ke arah peningkatan
resistensi dentin pada dekalsifikasi asam dan
pengendapan dalam tubulus dentin yang terbuka.
Kemungkinan efek desensitisasi berhubungan dengan
pengendapan senyawa fluoride yang secara mekanis
menyumbat tubulus dentin yang terbuka atau fluoride di
dalam tubulus menyumbat transmisi stimulus.
1,7


c. Sodium monofluorophosphate
Pasta gigi yang mengandung sodium
monofluorophosphate terbukti efektif dalam mengurangi
hipersensitivitas dentin. Mekanisme aksi sodium
monofluorophosphate belum jelas. Aksi penyumbatan
tubulus dentin tidak terlihat sejak penelitian scanning
electronmicroscopic gagal menunjukkan perubahan pada
permukaan dentin yang diobati dengan sodium
monofluorophosphate.
1,7


d. Stannous fluoride (SnF
2
)
Stannous fluoride terbukti efektif dalam
mencegah karies gigi, mengurangi pembentukan plak,
dan mengontrol gingivitis.
2
Stannous fluoride dalam
larutan encer atau dalam glycerine
gelleddengancarboxymethyl cellulose juga efektif dalam
mengontrol hipersensitivitas dentin. Aksinya terlihat
pada induksi kandungan mineral tinggi yang membentuk
suatu barrier kalsifik yang menyumbat tubulus yang
terbuka pada permukaan dentin. Dengan kata lain,
stannous fluoride dapat mengendap pada permukaan
dentin sehingga menyumbat tubulus dentin yang terbuka
dan mengurangi aliran cairan menuju pulpa (Gambar
14).
1,2,7,8



Gambar 14. Mengurangi hipersensitivitas dentin dengan
menggunakan stannous fluoride
8


Studi in vitro menggunakan berbagai teknik,
seperti scanning electron microscopy, electron probe
microanalysis, dan Vickers surface micro-hardness,
menyatakan terjadi pengendapan tin dan fluoride di atas
permukaan dan menutup tubulus dentin. Suatu penilaian
laboratorium menunjukkan bahwa ketika zinc dan tin
menutup tubulus dentin, sebagian besar zinc hilang oleh
irigasi, sedangkan tin yang tersisa menutup atau mengisi
tubulus.
8
Stannous fluoride diberikan dalam bentuk obat
kumur, pasta gigi, dan gel selama beberapa waktu. Pada
tahun 1985, Blong, dkk. melakukan penelitian dan
menyatakan bahwa gelstannous fluoride 0,4%
merupakan bahan yang efektif mengurangi
hipersensitivitas dentin ketika digunakan 2 kali sehari
selama lebih dari 2 bulan.
2,8

Trash, dkk. membandingkan efek gel stannous
fluoride 0,4% dan larutan fluoride 0,717%. Percobaan ini
menyimpulkan bahwa larutan fluoride 0,717%
memberikan efek segera ketika diaplikasikan selama 3-5
menit di klinik. Gel stannous fluoride memberikan efek
sedikit demi sedikit dan dapat digunakan oleh pasien di
rumah untuk memperoleh efek yang lama.
5
Efek stannous fluoride terhadap sensitivitas juga
terlihat saat digunakan sebagai irigasi kavitas. Topical
stannous fluoride terbukti mengurangi sensitivitas pada
permukaan servikal yang terbuka. Suatu penemuan
menyatakan bahwa topical stannous fluoride mengurangi
sensitivitas termal akibat penempatan restorasi amalgam.
Hal ini terbukti dari gigi yang direstorasi tersebut hanya
mengalami sedikit sensitif berdasarkan laporan pasien
dan tes termal.
2
Suatu penelitian dilakukan dengan
membandingkan keefektifan antara kombinasi sodium
fluoride dengan potassium nitrate dan stannous fluoride
dengan potassium nitrate. Hasilnya menunjukkan
kombinasi antara stannous fluoride dengan potassium
nitrate lebih baik dibandingkan kombinasi sodium
fluoride dengan potassium nitrate. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan bahwa stannous fluoride lebih efektif dalam
mengurangi hipersensitivitas dentin daripada sodium
fluoride.
8

Sebagai tambahan, untuk mengurangi
hipersensitivitas dentin dapat digunakan pasta gigi
stannous-containing sodium fluoride yang sekarang telah
dipasarkan di Eropa dan Cina. Pasta gigi stannous-
containing sodium fluoride terbukti dapat mengurangi
sensitivitas, plak, tartar, dan stain sehingga dapat
menjadi pilihan pasien sebagai perawatan di rumah
(Gambar 15).
8



Gambar15. Efek penggunaan stannous-containing sodium
8

e. Strontium Chloride (SrCl
2
)
Aplikasi topikal strontium chloride (SrCl
2
) pada
permukaan gigi memberikan endapan strontium yang
berpenetrasi hingga mencapai kedalaman 20m dan
meluas ke dalam tubulus dentin.
9

f. Oxalate salts
Oxalate saltstelah digunakan secara umum
sebagai bahan desensitisasi, harganya tidak mahal,
mudah diaplikasikan, dan biokompatibel. Larutan ferric
oxalate 6%, potassium oxalate 30%, dan monohydrogen
monopotassium oxalate 3% digunakan sebagai bahan
desensitisasi yang diaplikasikan melalui rubbing atau
burnishing. Ion oxalate bereaksi dengan ion kalsium
dalam cairan tubulus dentin untuk membentuk kristal
calcium oxalate tidak larutyang mengendap di
permukaan dan di dalam tubulus dentin, serta
mengurangi aliran cairan tubulus.
7,9,13

g. Arginine-calcium carbonate
Perawatan dengan menggunakan pasta
desensitisasi arginine-calcium carbonatecukup mudah.
Pasta ini cocok untuk jaringan gingiva karena tidak
memberikan rasa sakit ketika diaplikasikan. Sejumlah
kecil pasta diaplikasikan ke permukaan gigi yang sensitif
melalui burnishing dengan putaran soft prophy cup yang
rendah. Pasta juga dapat diaplikasikan ke daerah yang
mudah dicapai dengan melakukan penekanan
menggunakan cotton-tipped applicator dan ke furkasi,
serta pada daerah lain yang sulit dicapai dapat digunakan
microbrush. Operator seharusnya berhati-hati saat
burnishing menggunakan pasta desensitisasi arginine-
calcium carbonate pada semua daerah sensitif, perlu
diperhatikan pada CEJ, serta sementum dan dentin yang
terbuka.
7

2. Pengendapan Protein
Formaldehyde atau glutaraldehyde umumnya
mengendapkan protein saliva dalam tubulus dentin yang
dapat digunakan untuk mengontrol hipersensitivitas dentin.
Akan tetapi, efek tersebut dipertanyakan karena ditemukan
hanya sedikit atau tidak ada efek terhadap hipersensitivitas
dentin.
1,7


3. Casein phosphopeptides
Produk baru di pasar relatif mengandung casein
phosphopeptides yang digunakan untuk mengobati
hipersensitivitas dentin.
1,7




b. Dentine sealers
Menutup tubulus dentin dengan resin dan adhesif telah
dianjurkanselama beberapa tahun untuk mengurangi
hipersensitivitas dentin. Pada umumnya hasilnya baik, tetapi
masalah timbul ketika adhesif tersebut lepas dan menyebabkan
tubulus terbuka. Teknik ini umumnya diberikan pada kasus
hipersensitivitas dentin yang terbatas dan spesifik.
1,7


c. Material restoratif
Penggunaan material restoratif umumnya merupakan
solusi invasif untuk masalah hipersensitivitas. Material yang
biasanya digunakan adalah resin komposit dan glass ionomer
cement.
1,7


2.2.7 Pengaplikasian Bahan Desensitisasi

Perawatan terhadap hipersensitivitas dentin dapat dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu perawatan di rumah dan perawatan di klinik.
Perawatan di rumah lebih murah dan sederhana dengan target perawatan
pada banyak gigi, sedangkan perawatan di klinikbersifat lebih kompleks
dan terbatas untuk satu atau beberapa gigi saja.
10
1. Perawatan di Rumah
a. Pasta Gigi
Pasta gigi adalah media yang paling banyak digunakan
untuk desensitisasi gigi. Pasta gigi yang pertama beredar di
pasaran untuk perawatan hipersensitivitas dentin adalah yang
mengandung garam strontium dan fluoride untuk menutup
tubulus dentin dan yang mengandung formaldehid untuk merusak
elemen vital pada tubulus. Sekarang, yang lebih sering digunakan
adalah pasta gigi yang mengandung garam potassium seperti
potassium nitrate, potassium chloride, atau potassium citrate.
Walaupun pada suatu penelitian melaporkan bahwa pasta gigi
yang mengandung sodium fluoride dan kalsium fosfat berguna
untuk mengurangi hipersensitivitas dentin melalui efek
remineralisasinya.
10
Penggunaan garam potassium pada pasta gigi sebagai
desensitisasi didasarkan karena ion potassium berjalan sepanjang
tubulus dentin dan menurunkan eksitabilitas saraf intradental
melalui efek pada membran potensialnya.
10

Pasta gigi seharusnya diaplikasikan melalui penyikatan
gigi. Banyak pasien biasanya berkumur dengan air setelah
menyikat gigi. Berkumur dengan air dapat menyebabkan bahan
aktif larut dan hilang dari mulut sehingga mengurangi efek
pencegahan karies dari pasta gigi ber-fluoride.
10


b. Obat Kumur dan Permen Karet
Penelitian melaporkan bahwa obat kumur yang
mengandung potassium nitrate dan sodium fluoride, potassium
citrate atau sodium fluoride, atau campuran senyawa fluoride
dapat mengurangi terjadinya hipersensitivitas dentin. Penelitian
lain melaporkan permen karet yang mengandung potassium
chloride dapat mengurangi terjadinya hipersensitivitas dentin.
10
Tingkat keparahan hipersensitivitas dentin harus
dievaluasi dalam 2-4 minggu setelah perawatan dirumah
dilakukan. Perawatan di klinikmulai dilakukan apabila perawatan
di rumah tidak memberikan hasil dalam mengurangi keluhan
pasien.
10

2. Perawatan di Klinik
Bahan desensitisasi yang digunakan untuk perawatan di rumah
pada dasarnya lebih mudah digunakan daripada bahan desensitisasi
yang digunakan oleh ahli kesehatan gigi di klinik yang lebih kompleks
dan efektif.
10

a. Secara Topikal
Sebelum ditemukannya anestesi lokal, dokter gigi
menggunakan bahan-bahan kimia toksik seperti silver nitrate,
zinc chloride, dan lain-lain. Namun, sekarang bahan yang kurang
toksik lebih digunakan secara luas (Tabel 2).
10
Fluoride, mengurangi permeabilitas dentin secara invitro
sehingga mengurangi sensitivitas dentin. Misalnya, sodium
fluoride dan stannous fluoride.
Potassium nitrate, biasanya diaplikasikan dalam bentuk pasta
gigi, secara topikal dalam bentuk larutan atau dalam bentuk
gel.
Oxalate. penelitian yang dilakukan Greenhill dan Pashley
pada tahun 1981 melaporkan bahwa potassium oxalate 30%
menyebabkan pengurangan 98% permeabilitas dentin secara
invitro.
Calcium phosphates,mengurangi sensitivitas dentin secara
efektif dengan menutup tubulus dentin dan menurunkan
permeabilitasnya.









Tabel 2. Larutan dan produk yang diperiksa dalam
percobaan klinis
10

b. Resin dan Adhesif
Banyak bahan desensitisasi topikal yang tidak melekat
kuat pada permukan dentin sehingga efeknya hanya sementara.
Sekarang telah digunakan bahan yang merekat lebih kuat yang
memungkinkan efek desensitisasinya berlangsung lebih lama
(Tabel 3).
10








Tabel 3. Resin dan adhesif yang diperiksa dalam percobaan
klinis
10


c. I ontophoresis
Iontophoresis merupakan proses mempengaruhi gerakan
ion oleh arus listrik dan digunakan sebagai prosedur desensitisasi
bersama dengan sodium fluoride. Penelitian melaporkan bahwa
terdapat reduksi sensitivitas segera setelah perawatan dengan
iontophoresis, tetapi gejala secara berangsur-angsur kembali
setelah 6 bulan berikutnya.
1,7
Iontophoresis merupakan suatu teknik yang menggunakan
listrik untuk meningkatkan difusi ion ke dalam jaringan.
Iontophoresis dengan sodium fluoride adalah metode desensitisasi
dentin yang memungkinkan penetrasi ion fluoride lebih dalam ke
tubulus dentin, tetapi teknik ini tidak mudah karena perlu
menggunakan alat-alat khusus dan memberikan hasil yang sama
dengan teknik lain yang lebih mudah. Iontophoresis lebih sering
digunakan bersama dengan pasta gigi dan larutan fluoride yang
mengurangi hipersensitivitas dentin.
5

d. Laser
Efektivitas laser sebagai perawatan hipersensitivitas dentin
bervariasi dari 5,2%-100% tergantung jenis laser dan parameter
perawatan yang digunakan. Laser lebih efektif dibandingkan
perawatan lain dalam mengurangi hipersensitivitas dentin.
5,10
Penelitian melaporkan bahwa neodymium: yttrium-
aluminum-garnet (YAG)laser, erbium: YAG laser dan galium-
aluminium-arsenide low level laser dapat mengurangi sensitivitas
gigi. Namun, perawatan menggunakan laser ini harganya lebih
mahal dan memerlukan modalitas perawatan yang lebih
kompleks.
10
Mekanisme perawatan laser untuk hipersensitivitas dentin
belum dijelaskan dengan baik. Akan tetapi, Pashley menyatakan
bahwa mungkin terjadi kagulasi dan pengendapan protein plasma
di dalam cairan tubulus dentin atau melalui perubahan aktivitas
serabut saraf. Penelitian oleh McCarthy, dkk. menunjukkan
bahwa pengurangan hipersensitivitas dentin terjadi sebagai hasil
dari perubahan permukaan dentin akar yaitu penyumbatan tubulus
dentin.
5



BAB 3
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Bahan desensitisasi merupakan bahan yang digunakan untuk mengurangi
hipersensitivitas dentin. Berdasarkan mekanisme kerjanya, bahan desensitisasi
bekerja dalam menghambat eksitabilitas saraf dan menyumbat tubulus dentin
yang terbuka. Dewasa ini, penggunaan potassium nitrate yang menghambat saraf
telah banyak diteliti. Potassium nitrate 5% dalam bentuk pasta gigi terbukti dapat
menghilangkan hipersensitivitas dentin setelah 2 minggu pemakaian. Setelah 4
minggu dilaporkan bahwa 92% gejala hipersensitivitas dentin hilang. Ion
potassium merupakan komponen aktif dalam potassium nitrateyang mampu
mengurangi aktivitas saraf sensorik dentin menuju aktivitas depolarisasi dan
mencegah repolarisasi saraf.

3.2 Saran
Penggunaan bahan desensitisasi diharapkan mampu memberikan efek
yang lebih efisien dan dapat bereaksi dengan cepat untuk mengurangi
hipersensitivitas dentin dengan cara menghambat eksitabilitas saraf dan
menyumbat tubulus dentin. Akan tetapi, potassium nitrate hanya mampu bekerja
pada saraf. Oleh karena itu, diharapkan terdapat suatu sediaan yang mengandung
kombinasi antara potassium nitrate dengan bahan lain yang mampu menyumbat
tubulus dentin. Disisi lain, diharapkan adanya suatu bahan yang mampu
mengurangi hipersensitivitas dentin, baik dalam menghambat eksitabilitas saraf
maupun menyumbat tubulus dentin.







DAFTAR PUSTAKA

1. Bartold P.M. Dentinal hypersensitivity: a review. Australian Dental Journal.
2006;51(3):212-218.
2. Walters P.A. Dentinal Hypersensitivity: A Review. The Journal of
Contemporary Dental Practice. 2005 May 15;6(2):107-117.
3. Pol D.G., Jonnala J., Chute M., Gunjikar T., Pol S.D. Association Between
Dentinal Hypersensitivity, Tooth Wear and Faulty Teeth Cleaning Habits.
JIDA. 2011 Apr;5(4):563-566.
4. Jacobsen P.L., Bruce G. Clinical Dentin Hypersensitivity: Understanding the
Causes and Prescribing a Treatment. The Journal of Contemporary Dental
Practice. 2001;2(1):1-8.
5. Porto I.C.C.M., Andrade A.K.M., Montes M.A.J.R. Diagnosis and treatment
of dentinal hypersensitivity. Journal of Oral Science. 2009;51(3):323-332..
6. Sunita Sharma, Neetha J. Shetty, Ashita Uppoor. Evaluation of the Clinical
Efficacy of Potassium nitrate Desensitizing Mouthwash and a Toothpaste in
the Treatment of Dentinal Hypersensitivity. J Clin Exp Dent. 2012;4(1):28-
33.
7. Anand S., Priya A., Raju A., Priya A. Dentine Hypersensitivity An
Enigma? Indian Journal of Dental Advancements. 2011;3(4):659-667.
8. Day T.N., Einwag J., Hermann J.S., He T., Anastasia M.K., Barker M.,
Zhang Y. A Clinical Assessment of the Efficacy of a Stannous-Containing
Sodium Fluoride Dentifrice on Dentinal Hypersensitivity. The Journal of
Contemporary Dental Practice. 2010 Jan 1;11(1):1-9.
9. Shalu B. Periodontic Revisited. New Delhi: Jaypee Brothers Medical
Publishers; 2011.
10. Orchardson R., Gillam D.G. Managing dentin hypersensitivity. JADA. 2006
July;137(7):990-998.
11. Prijantojo. Evaluasi Klinis Perawatan Hipersensitivitas Dentin dengan
Potasium Nitrat. Cermin Dunia Kedokteran. 1996;109:57-61.
12. Hatrick C.D., Eakle W.S., Bird W.F. Dental Materials: Clinical Applications
for Dental Assistants and Dental Hygienists. USA: Saunders; 2003.
13. Assis J.S., Rodrigues L.K.A., Fonteles C.S.R., Colarez R.C.R, Santiago S.L.
Dentin Hypersensitivity After Treatment With Desensitizing Agents: A
Randomized, Double-Blind, Split-Mouth Clinical Trial. Brazilian Dental
Journal. 2011;22(2):157-161.