You are on page 1of 16

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kondisi geografis Indonesia yang merupakan daerah tropis dengan suhu
dan kelembaban yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur, sehingga
infeksi oleh karena jamur di Indonesia banyak ditemukan.
(1)

Infeksi jamur kulit cukup banyak ditemukan di Indonesia, yang merupakan
negara tropis beriklim panas dan lembab,apalagi hygiene juga kurang sempurna.
Di Jakarta golongan penyakit ini sepanjang masa selalu menempati urutan kedua
setelah dermatitis. Di daerah lain, seperti Padang, Bandung, Semarang, Surabaya,
dan Manado, keadaannnya kurang lebih sama, yakni menempati urutan ke-2
sampai ke-4 terbanyak dibandingkan golongan penyakit lainnnya
(2)
.
M. Nasution, dkk melaporkan jumlah penderita dermatomikosis pada
tahun 1996-1998 sebanyak 4.162 orang dari 20.951 penderita baru penyakit kulit
yang berkunjung ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Kulit Dan Kelamin FK USU,
RSUP H. Adam Malik, RSUD dr. Pirngadi Medan. Dan pada tahun 2002 penyakit
mikosis superfisialis merupakan penyakit kulit yang menduduki urutan pertama
dibandingkan dengan penyakit kulit yang lain
. (1).
Di National Skin Centre Singapura pada tahun 19992003 didapatkan 12
903 kasus mikosis superfisialis. Kasus yang paling banyak adalah tinea pedis
(27,3%), kemudian pitiriasis versikolor (25,2%), dan tinea kruris (13,5%).
Kandidiasis juga sering didapatkan dengan kasus terbanyak adalah kandidiasis
intertriginosa. Tinea kapitis jarang didapatkan.
(3).


1.2 Rumusan Masalah
Uraian ringkas dalam latar belakang masalah diatas memberikan dasar bagi
peneliti untuk merumuskan pertanyaan sebagai berikut:
1. Bagaimana perbandingan jumlah penderita mikosis superfisialis dengan
penderita penyakit kulit kelamin lainnya?
2
2. Bagaimana prevalensi mikosis superfisialis rawat jalan di Rumkit tkt II
Putri Hijau Kesdam I/ BB Medan

1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran umum mikosis superfisislais di Rumkit Tkt II
Putri Hijau Kesdam I/BB periode 20112013 , yang meliputi: kasus baru,
distribusi jenis penyakit, distribusi umur penderita, distribusi kelamin
penderita, distribusi waktu.

1.3.2 Tujuan Khusus
Mengetahui perbandingan jumlah mikosis superfisialis dengan jumlah
penyakit kulit kelamin lainnya.

1.4 Manfaat
Dari uraian tujuan penelitian diatas, maka manfaat yang diharapkan adalah:
1. Peneliti dapat mengambil banyak pengetahuan yang lebih mendalam
mengenai berbagai mikosis superfisialis baik secara teori maupun
praktik.
2. penelitian ini juga diharapkan bisa memberikan informasi tambahan
bagi dunia pendidikan kesehatan.










3
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Defenisi Mikosis Superfisialis
Mikosis superfisialis adalah infeksi jamur superfisial yang disebabkan oleh
kolonisasi jamur atau ragi. Mikosis superfisialis yang paling sering dijumpai
adalah dermatofitosis, pitiarisis versikolor, dan kandidiasis superfisialis
(4).

Mikosis Superfisialis yaitu jamur-jamur yang menyerang lapisan luar pada
kulit, kuku,dan rambut
(5)

Dermatofitosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kolonisasi jamur
dermatofit yang menyerang jaringan yang mengandung keratin seperti stratum
korneum epidermis, rambut, dan kuku. Penyebab dermatofitosis adalah spesies
dari Microsporum, Trichophyton, dan Epidermophyton
. (3).

Pitiriasis versikolor merupakan penyakit infeksi jamur superficial kronis pada
kulit yang disebabkan oleh Malasssezia furfur atau Pityrosporum orbiculare.
(2,3,5).

Kandidiasis superfisialis merupakan infeksi primer pada kulit dan mukosa
dari genus Candida, terutama karena spesies Candida albicans. Kandidiasis
superfisialis yang sering dijumpai yaitu mengenai lipatan-lipatan kulit seperti
inguinal, aksila, lipatan dibawah dada (kandidiasis intertriginosa), daerah
popok/diaper, paronikia, onikomikosis, dan mengenai mukosa (kandidiasis oral,
vagintis,balinitis)
(3,5).


2.2 Etiologi dan Klasifikasi Mikosis Superfisialis
Tabel 2.1 Ada dua golongan jamur yang menyebabkan mikosis superfisialis
yaitu non dermatofita dan dermatofita:
Jamur Lokasi Penyakit
Dermatofita
Microsporum canis
Microsporum audouini
Microsporun gypseum
rambut, kulit
rambut
kulit, rambut

4
Trychophyton tonsurans
Trychophyton rubrum
Trychophyton mentagrophytes
Trychophyton violaceum
Epidermophyton flocosum
rambut, kulit,kuku
rambut. kulit, kuku
rambut, kulit
rambut,kulit,kuku
kulit
Non-Dermatofita
Pityrosporum orbiculare
(Malassezia furfur)
Cladosporium werneckii
Piedraia hortae
Trichosporon beigelii
kulit

kulit
rambut
rambut
Tinea vesikolor

Tinea nigra
Piedra hitam
Piedra putih

Sumber:
(6)

Tabel 2.2 Pembagian Mikosis Superfisialis
Mikosis superfisialis
Dermatofitosis Nondermatofitosis

Tinea kapitis
Tinea barbae
Tinea kruris
Tinea pedis et manum
Tinea korporis
Tinea imbrikata
Tinea favosa
Tinea unguium

Pitiriasis versikolor
Piedra hitam
Piedra putih
Tinea nigra palmaris
Otomikosis
keratomikosis

Sumber :
(5)




5
2.2.1 Dermatofitosis
Penyakit jamur pada jaringan yang mengandung zat tanduk, seperti kuku,
rambut dan stratum korneum pada epidermis, yang disebabkan golongan jamur
dermatofita
(2,5)

Jamur dermatofit dinamai sesuai dengan genusnya (Microsporum,
Trichophyton, dan Epidermophyton) dan spesiesnya (misanya: M.canis,
T.rubrum). Satu sama lain dapat dibedakan dengan pemeriksaan kultur
(7)

Dermatofitosis disebabkan jamur golongan dermatofita yang terdiri dari
tiga genus yaitu genus: Mikrosporon, Trikofiton dan Epidermofiton. Dari 41
spesies dermafito yang sudah dikenal hanya 23 spesies yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia dan binatang yang terdiri dari 15 spesies Trichophyton, 7
spesies Microsporum dan 1 spesies Epidermophyiton.
(5,6).

Pembagian yang lebih praktis dan dianut oleh para spesialis kulit
ialah:
(4,5,6).
- Tinea kapitis, yaitu dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala.
- Tinea barbae, yaitu dermatofitosis pada dagu dan jenggot.
- Tinea kruris, yaitu dermatofitosis pada daaerah genitokrural, sekitar anus,
bokong , dan kadang-kadang sampai perut bagian bawah.
- Tinea pedis et manum, yaitu dermatofitosis pada kaki dan tangan.
- Tinea unguium, yaitu dermatofitosis pada kuku jari tangan dan kaki.
- Tinea korporis, yaitu dermatofitosis pada bagian lain yang tidak termasuk
ke dalam bentuk tinea di atas.

2.2.2 Nondermatofitosis
Infeksi nondermatofitosis pada kulit biasanya terjadi pada kulit yang
paling luar. Hal ini disebabkan oleh jenis jamur ini tidak dapat mengeluarkan zat
yang dapat mencerna keratin kulit dan tetap hanya menyerang lapisan kulit yang
paling luar.
(5)



6
Pitiriasis versikolor disebabkan oleh Malassseizia furfur yang ditandai
dengan bercak putih sampai coklat yang bersisik, umumnya menyerang badan
dan kadang-kadang terlihat diketiak, sela paha, tungkai atas, leher, muka dan kulit
kepala.
(2,5,7,11)

Piedra adalah infeksi jamur pada rambut ,ditandai dengan benjolan
(nodus) sepanjang rambut, dan disebabkan oleh piedra hortai (black piedra) atau
Trichosporon beigelii (white piedra).
(4,5)

Tinea nigra adalah infeksi jamur superficial yang disebabkan oleh
Cladosporium werneckii yang biasanya menyerang kulit telapak kaki dan tangan
dengan memberikan warna hitam sampai coklat pada kulit yang terserang.
(5)

Otomikosis adalah infeksi jamur kronik atau subakut pada liang telinga
luar, yang ditandai dengan inflamasi eksudatif dan gatal, yang disebabkan oleh
Aspergillus, Penissilium, dan Mukor.
(4,5)

Keratomikosis adalah infeksi jamur Aspergillus, Fusarium,
Cephalosporum, Curvularia, dan penicillium pada kornea mata yang
menyebabkan ulserasi dan inflamasi setelah trauma pada bagian tersebut diobati
dengan obat-obat antibiotic dan kortikosteroid
(4).

Perbedaan antara dermatofitosis dan nondermatofitosis terletak pada
infeksi dikulit. Golongan dermatofitosis menyerang atau menimbulkan kelainan
didalam epidermis, mulai dari stratum korneum sampai stratum basalis, sedangkan
golongan nondermatofitosis hanya pada bagian superfisialis dari epidermis. Hal
ini disebabkan dermatofitosis mempunyai afinitas terhadap keratin yang terdapat
pada epidermis, rambut, dan kuku sehingga infeksinya lebih dalam.
( 5)


2.3 Patogenesis Mikosis Superfisialis
Dermatofita merupakan jamur keratinofilik yang normalnya ditemukan
pada jaringan keratinisasi yang sudah mati, seperti pada stratum korneum, sekitar
rambut, dan di lapisan kuku atau pangkal kuku. Gejala klinis dari infeksi
dermatofita menunjukkan hasil kerja kombinasi antara jaringan dan respon imun.
Jaringan yang rusak itu menunjukkan kelainan mekanis dan aktivitas enzimatis.
7
Dermatofita memproduksi keratinolitik proteinase yang efektif pada pH asam dan
enzim ini berperan dalam faktor virulensinya.
(8).

Untuk dapat menimbulkan suatu penyakit, jamur harus dapat mengatasi
pertahanan tubuh nonspesifik dan spesifik. Pada waktu menginvasi penjamu
(host), jamur harus mempunyai kemampuan melekat pada kulit dan mukosa
penjamu, serta kemampuan untuk menembus jaringan penjamu. Selanjutnya
jamur harus mampu bertahan di dalam lingkungan penjamu dan dapat
menyesuaikan diri dengan suhu dan keadaan biokimia penjamu untuk dapat
berkembang biak dan menimbulkan reaksi radang. Dari berbagai kemampuan
tersebut, kemampuan jamur untuk menyesuaikan diri, dan kemampuan mengatasi
pertahanan selular, merupakan dua mekanisme terpenting dalam patogenesis
penyakit jamur.
(9).


2.4 Cara Penularan Mikosis Superfisialis
Selain kontak langsung dengan manusia, penularan juga dapat terjadi
antara individu dengan binatang peliharaan yang terinfeksi, tetapi kadang terjadi
karena kontak dengan mamalia liar atau tanah yang terkontaminasi. Infeksi
spesies antropofilik, seperti E.floccosum atau T.rubrum sering menyertai
autoinokulasi dari bagian tubuh lain yang terinfeksi misalnya kaki. Penyebaran
juga mungkin terjadi melalui benda misalnya pakaian, perabot, alat mandi, dan
sebagainya.
(10).

Disamping cara penularan tersebut diatas, untuk timbulnya kelainan-
kelainan di kulit tergantung dari beberapa faktor :
(5,6).

1. Faktor virulensi dari dermatofita. Virulensi ini tergantung pada afinitas jamur
itu, apakah jamur Antropofilik, Zoofilik atau Geofilik. Selain afinitas ini masing -
masing jenis jamur ini berbeda pula satu dengan yang lain dalam afinitas terhadap
manusia maupun bagian-bagian dari tubuh Misalnya: Trichophyton rubrum jarang
menyerang rambut, Epidermatophyton floccosum paling sering menyerang lipat
pada bagian dalam.

8
2. Faktor trauma. Kulit yang utuh tanpa lesi-lesi kecil, lebih sulit untuk terserang
jamur.

3. Faktor suhu dan kelembaban.Kedua faktor ini sangat jelas berpengaruh
terhadap infeksi jamur, tampak pada lokalisasi atau lokal, di mana banyak
keringat seperti lipat paha dan sela-sela jari paling sering terserang penyakit jamur
ini.

4. Keadaan sosial serta kurangnya kebersihan. Faktor ini memegang peranan
penting pada infeksi jamur di mana terlihat insiden penyakit jamur pada golongan
sosial dan ekonomi yang lebih rendah, penyakit ini lebih sering ditemukan
dibanding golongan sosial dan ekonomi yang lebih baik.

5. Faktor umur dan jenis kelamin. Penyakit Tinea kapitis lebih sering ditemuka
pada anak-anak dibandingkan orang dewasa, dan pada wanita lebih sering
ditemukan infeksi jamur di sela-sela jari dibanding pria dan hal ini banyak
berhubungan dengan pekerjaan. Di samping faktor-faktor tadi masih ada faktor-
faktor lain seperti faktor perlindungan tubuh (topi, sepatu dan sebagainya), faktor
transpirasi serta pemakaian pakaian yang serba nilan, dapat mempermudah
penyakit jamur ini.

2.5 Gejala klinis Mikosis Superfisialis
umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas
yaitu bercak-bercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain,
sehingga memberikan kelainan-kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi yang
aktif serta berbatas tegas sedang bagian tengah tampak tenang .Gejala objektif ini
selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit yang gatal ini digaruk maka papel-
papel atau vesikel-vesikel akan pecah sehingga menimbulkan daerah yang erosit
dan bila mengering jadi krusta dan skuama. Kadang-kadang bentuknya
menyerupai dermatitis (ekzema marginatum), tetapi kadang-kadang hanya berupa
9
makula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder
menyerupai gejala-gejala pioderma (impetigenisasi).
(5,6,12).

Dermatofitosis pada kulit tidak berambut mempunyai morfologi yang
khas, yaitu penderita merasa gatal dan kelainan yang terjadi berbatas tegas.
Bagian tepi lesi lebih aktif, tanda-tanda peradangan terlihat jelas daripada bagian
tengahnya. Eczema marginatum adalah istilah yang tepat untuk lesi dermatofitosis
secara deskriptif
.(4,12).

Dermatofita merupakan organisme penyebab utama pada kepala, sela-sela
jari, telapak kaki, telapak tangan, dan kuku. Di negara berkembang, tinea pedis
merupakan kasus yang sering ditemukan. Berbeda dengan negara tropis yang
didominasi oleh kasus Tinea kapitis dan Tinea korporis.
(1,12).

Golongan jamur dermatofita dapat menyebabkan beberapa bentuk klinis
yang khas. Satu jenis dermatofita dapat menghasilkan bentuk klinis yang berbeda,
bergantung pada lokasi anatominya.
(2,5,12).


2.6 Penatalaksanaan Mikosis Superfisialis
A. Pengobatan Pencegahan : .
(5,6,12)

1. Perkembangan infeksi jamur diperberat oleh panas, basah dan maserasi. Jika
faktor-faktor lingkungan ini tidak diobati, kemungkinan penyembuhan akan
lambat. Daerah intertrigo atau daerah antara jari-jari sesudah mandi harus
dikeringkan betul dan diberi bedak pengering atau bedak anti jamur.
2. Alas kaki harus pas betul dan tidak terlalu ketat.
3. Pasien dengan hiperhidrosis dianjurkan agar memakai kaos dari bahan katun
yang menyerap keringat, jangan memakai bahan yang terbuat dari wool atau
bahan sintetis.
4. Pakaian dan handuk agar sering diganti dan dicuci bersih-bersih dengan air
panas.
B. Pengobatan lokal : .
(5,6,12)

Infeksi pada badan dan lipat paha dan lesi-lesi superfisialis, di daerah
jenggot, telapak tangan dan kaki, biasanya dapat diobati dengan pengobatan
topikal saja.
10

1. Lesi-lesi yang meradang akut disertai vesikula dan eksudat harus dirawat
dengan kompres basah secara terbuka, selang-seling atau terus menerus. Vesikel
harus dikempeskan tetapi kulitnya harus tetap utuh.

2. Toksilat, haloprogin, tolnaftate dan derivat imidasol seperti mikonasol,
ekonasol, bifonasol, kotrimasol dalam bentuk larutan atau krem dengan
konsentrasi 1-2% dioleskan 2 x sehari akan menghasilkan penyembuhan dalam
waktu 1-3 minggu.

3. Lesi hiperkeratosis yang tebal, seperti pada telapak tangan atau kaki
memerlukan terapi lokal dengan obat-obatan yang mengandung bahan keratolitik
seperti asam salisilat 3-6%. Obat ini akan menyebabkan kulit menjadi lunak dan
mengelupas. Obat-obat keratolotik dapat mengadakan sensitasi kulit sehingga
perlu hati-hati kalau menggunakannya.

4. Pengobatan infeksi jamur pada kuku, jarang atau sukar untuk mencapai
kesembuhan total. Kuku yang menebal dapat ditipiskan secara mekanis misalnya
dengan kertas amplas, untuk mengurangi keluhan-keluhan kosmetika. Pemakaian
haloprogin lokal atau larutan derivat asol bisa menolong. Pencabutan kuku jari
kaki dengan operasi, bersamaan dengan terapi griseofulvin sistemik, merupakan
satu-satunya pengobatan yang bisa diandalkan terhadap onikomikosis jari kaki.

C. Pengobatan sistemik.
(5,6,12)

Pengobatan sistemik pada umumnya mempergunakan griseofulvin.
Griseofulvin adalah suatu antibiotik fungisidal yang dibuat dari biakan spesies
penisillium. Obat ini sangat manjur terhadap segala jamur dermatofitosis.
Griseofulvin diserap lebih cepat oleh saluran pencernaan apabila diberi bersama-
sama dengan makanan yang banyak mengandung lemak, tetapi absorpsi total
setelah 24 jam tetap dan tidak dipengaruhi apakah griseofulvin diminum
bersamaan waktu makan atau diantara waktu makan.
11
Dosis rata-rata orang dewasa 500 mg per hari. Pemberian pengobatan
dilakukan 4 x sehari , 2 x sehari atau sekali sehari. Untuk anak-anak dianjurkan 5
mg per kg berat badan dan lamanya pemberian adalah 10 hari. Salep ketokonasol
dapat diberikan 2 x sehari dalam waktu 14 hari.



2.7 Kerangka Teori
Gambar 2. Kerangka Teori


Dermatofitosis
Mikosis Superfisialis
Nondermatofitosis
Tinea kapitis
Tinea barbae
Tinea kruris
Tinea pedis et manum
Tinea korporis
Tinea imbrikata
Tinea favosa
Tinea unguium


Pitiriasis versikolor
Piedra hitam
Piedra putih
Tinea nigra palmaris
Otomikosis
keratomikosis

Etiologi dan Klasifikasi Mikosis Superfisialis, Patogenesis
Mikosis Superfisialis, Cara Penularan Mikosis Superfisialis,
Gejala Klinis Mikosis Superfisialis,Penatalaksanaan Mikosis
Superfisialis
12
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan data rekam
medik dari Rumkit Tkt II Putri Hijau Kesdam I/BB. Bahan penelitian berupa data
sekunder dari buku registrasi pasien mengenai kejadian penyakit mikosis
superfisial.

3.2 Lokasi dan Waktu penelitian
Penelitian dilakukan di Rumkit Tkt II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Penelitian
berlangsung pada Juni 2014 - Febuari 2015.

3.3 Kerangka Konsep
Pada penelitian ini, kerangka konsep prevalensi mikosis superfisialis rawat jalan
di Rumkit Tkt.II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan diuraikan berdasarkan
variabel-variabel dibawah :
Gambar 3 Kerangka Konsep
13
Keterangan :

: Variabel yang diteliti.
: Variabel yang tidak diteliti.

3.4 Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien dengan kejadian penyakit
Mikosis superfisialis pada tahun 2011 - 2013 yang memenuhi kriteria inklusi dan
eksklusi. Pengambilan Sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan cara
stratified random sampling. Adapun kriteria inklusi adalah sebagai berikut:
semua pasien yang menderita Mikosis Superfisialis yang berobat ke
Rumkit Tkt II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan.
Berobat antara tahun 2011 sampai 2013.

Sedangkan kriteria ekslusi yang digunakan adalah pasien yang tidak mederita
Mikosis Superfisialis dan bukan berobat antara tahun 2011 sampai 2013.

3.5 Metode Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data sekunder yang berhubungan dari data medik
penderita penyakit mikosis superfisialis terbanyak di Poliklinik Kulit dan Kelamin
Rumkit Tkt II Putri Hijau Kesdam I/BB Medan. Data yang dicatat berupa jenis
penyakit mikosis superfisialis, jenis kelamin, dan umur. Seluruh data yang
dikumpulkan untuk penelitian ini diperoleh dengan cara mencatat data yang
tersedia pada buku registrasi pasien

3.6 Metode Analisis Data
Pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahapan, tahap pertama editing yaitu
mengecek nama dan kelengkapan identitas maupun data responden serta
memastikan bahwa semua jawaban telah diisi sesuai petunjuk, tahap kedua coding
yaitu memberi kode atau angka tertentu pada data untuk mempermudah waktu
mengadakan tabulasi dan analisa, tahap ketiga entry yaitu memasukkkan data
14
kedalam program computer dengan menggunakan program SPSS, tahap keempat
adalah melakukan cleaning yaitu mengecek kembali data yang telah di entry
untuk mengetahui ada kesalahan atau tidak
(13).





























15

DAFTAR PUSTAKA

1. Nasution MA. Mikrologi dan Mikologi Kedokteran: Beberapa Pandangan
Dermatologis. Dalam Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam
Bidang Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin pada Fakultas Kedokteran
USU. (Online), (http://library.usu.ac.id/, diakses 31 Maret 2010),2006.
2. Harahap M. Dermatofitosis. in: Harahap M, Rachmah L, eds. Ilmu
Penyakit Kulit. Jakarta: Hipokrates, 2000: 75-80.
3. Afif Nurul Hidayati, Sunarso Suyoso, Desy Hinda P, Emilian Sandra.
Dermatomikosis di Instalasi Rawat Inap Medik Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya (Penelitian Retrospektof Januari
1998-Desember 2002): Lab/SMF Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin FK
UNAIR/RSU Dr.Soetomo.(Online) Vol 21,No1 (http://journal.unair.ac.id/,
diakses 31 Maret 2010), 2003
4. Budimulja U. Mikosis. In: Budimulja U, ed. Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2002: 90-7.
5. Siregar R.S. Mikosis Superfisialis. In: Hartanto H, ed. Penyakit Jamur
Kulit. Palembang: EGC, 2004: (II) 1-43.
6. Boel T. Mikosis Superfisial. USU digital library, (Online),
(http://library.usu.ac.id/, diakses 31 Maret 2010), 2003.
7. Graham R., Burns BT. Dermatologi. Alih Bahasa oleh M. Anies Zakaria.
Edisi 8. 2003. Jakarta: EMS. 32-41
8. Warnock DW. Texbook of Infectious Disease.2
nd
ed. Philadelphia: Mosby
Elsevier ltd, 2004.
9. Cholis M. Imunologi Dermatomikosis Superfisialis. In: Dermatomikosis
Superfisialis. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
2004: (II) 7-18.
16
10. Goedadi MH. Tinea Korporis dan Tinea Kruris. in: Dermatomikosis
Superfisialis. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
2004: 31-5.
11. Jawetz,Melnick . Textbook of Adelbergs Medical Microbiology.23
th
ed.
The Mc Graw-Hill Companies, Inc.
12. Abidin T. Proporsi Dermatofitosis Superfisialis di RSUD Mataram
Periode Januari Desember 2006.Mataram: Fakultas Kedokteran
Universitas Mataram. pp:8-16. 2008. Skripsi
13. Wahyuni AS. in Statistika kedokteran , Wahyuni AS ed , Jakarta Timur :
Bamboedoea Communication. 8-9