You are on page 1of 8

GIPS KEDOKTERAN GIGI

Tujuan Praktikum :
Mampu mengukur waktu pergerasan gips kedokteran gigi tipe II dan III.

Material :
1. Gips plaster
2. Gips stone
3. Aquadest
4. Tissue pembersih

Alat :
1. Mangkuk karet dan spatula
2. Timbangan
3. Gelas ukur
4. Cetakan dari bekas kaleng susu beruang yang sudah dilubangi satu sisi alas /dasarnya
5. Stopwatch
6. Vibrator
7. Satu set alat Vicat
Cara kerja
1. Timbang gips plaster sebanyak 250 gram dan gips stone sebanyak 350 gram.
2. Siapkan Aquadest dengan perbandingan 1 : 2 untuk gips plaster dan 1 : 3 untuk gips
stone.
3. Masukkan aquadest kedalam mangkuk karet sebanyak 100 ml.
4. Masukkan bubuk gips kedalam mangkuk karet yang telah berisi aquadest dalam
waktu 10 detik, dan dalam 20 detik bubuk gips harus sudah terendam dalam aquadest.
5. catat awal waktu dari mulai pencampuran gips dengan aquadest menggunakan
stopwatch.
6. Aduk gips hingga homogen dengan menggunakan spatula sebanyak 120 putaran
selama 1 menit. Bersamaan dengan itu, mangkuk karet diputar perlahanlahan.
7. Gunakan vibrator untuk menghilangkan gelembung.
8. Tuangkan adonan gips kedalam cetakan (bekas kaleng susu) , kemudian ratakan
adonan setinggi cetakan.
9. Letakkan adonan dibawah jarum vicat. Pastikan jarum menyentuh permukaan adonan
gips.
10. Ukur waktu pengeresan adonan gips dengan menggunakan stopwatch.
11. Satu atau dua menit sebelum waktu pengerasan (umumnya dirandai dengan hilangnya
permukaan yang mengkilat atau hilangnya kelebihan air), jarum dilepaskan dan
dibiarkan berpenetrasi kedalam adonan dengan interval waktu 30 detik.
12. Setiap penetrasi, jarum dibersihkan dengan kertas tissue dan cetakan digeser
posisinya sehingga jarum penetrasi didaerah yang baru.
13. Waktu pengerasan dihitung sejak awal pengadukan sampai saat jarum berpenetrasi
hanya 2 mm.

Hasil :

Gips plaster Gips stone
Waktu pengerasan 14.30 menit 18.49 menit
Banyak tusukan 11 kali 5 kali
Keterangan lain Percobaan pertama gagal


Keterangan : percobaan gips plaster yang pertama gagal , karena telah terjadi
pengerasan adonan melelui pengamatan visual pada menit ke 14.45 sebelum
pengukuran tingkat kekerasan menggunakan jarum vicat.
Pembahasan
Plaster dan stone merupakan produksi Kalsium Sulfat Hemihidrat. Bahan ini
merupkan hasil pengapuran sulfat dihidrat atau gypsum. Kandungan utama plaster
dan stone gigi adalah kalsium sulfat hemihidrat (CaSO
4
)
2
.H
2
O.
Reaksi pengerasan, berbagai hidrat memiliki kelarutan yang relative rendah
dengan perbedaan nyata dalam kelarutan hemihidrat dan dihidrat. Dihidrat terlalu
larut untuk digunakan dalam struktur yang terpapar atmosfer , sesuatu yang
menguntungkan , karena penggunaan tersebut akan menghabiskan sumber alami
gypsum kita.
Reaksi pengerasan dapat diamati sebagai berikut :
1. Ketika hemihidrat diaduk dengan air, terbentuk suatu suspensi cair dan dapat
dimanipulasi.
2. Hemihidrat melarut sampai terbentuk larutan jenuh.
3. Larutan jenuh hemihidrat ini amat jenuh dengan dihidrat sehingga dihidrat
mengendap.
4. Begitu dihidrat mengendap, larutan tidak lagi jenuh dengan hemihidrat, jadi terus
melarut. Kemudian proses terus berlanjut yaitu pelarutan hemihidrat dan
pengendapan dihidrat terjadi baik dalam bentuk kristal baru atau pertumbuhan lebih
lanjut pada keadaan yang sudah ada.

Uji untuk waktu kerja, pengerasan, dan waktu pengerasan akhir :
a. Waktu pengadukan
Waktu pengadukan adalah waktu dari penambahan bubuk pada air sampai
pengadukan sempurna. Pengadukan stone dan plater secara mekanik biasanya tercapai
dalam 20-30 detik. Pengadukan tangan dengan spatula umumnya memerlukan
minimal 1 menit untuk memperoleh adukan yang halus.
b. Waktu kerja
Ini adalah waktu yang tersedia untuk menggunakan adukan, dimana konsistensi yang
merata dipertahankan untuk dilakukan satu atau beberapa manipulasi. Misalnya,
waktu kerja yang cukup diperlukan untuk mengisi cetakan, mengisi cetakan
cadangan, dan membersihkan peralatan sebelum gipsum benar-benar mengeras.
Umumnya waktu kerja sekitar 3 menit adalah cukup.
c. Waktu pengerasan
Adalah waktu yang terentang antara mulai pengadukan sampai bahan mengeras.
Biasanya diukur dengan beberapa jenis uji penetrasi , menggunakan instrumen.
Waktu pengerasan terjadi selama 5 sampai 15 menit.
d. Uji hilang kilap untuk pengerasan awal
Begitu reaksi berlangsung, sebagian kelebihan air diambil dalam bentuk dihidrat
sehingga adukan kehilangan kilapnya. Hal ini terjadi kurang lebih pada 9 menit, dan
massa masih belum memilik kekuatan kompresi yang dapat diukur.
Pengendalian waktu pengerasan :
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan gipsum ini adalah pengendalian waktu
pengerasan yang secara teori ada 3 metode :
1. Kelarutan hemihidrat (penyusun stone dan plaster) dapat ditingkatkan atau dikurangi
2. Jumlah nukleus kristalisasi dapat ditingkatkan atau dikurangi. Semakin besar jumlah
nukleus kristalisasi, semakin cepat terbentuk kristal gipsum dan semakin cepat pula
pengerasan massa.
3. Bila kecepatan pertumbuhan kristal dapat ditingkatkan atau dikurangi, begitu pula
waktu pengerasan dapat dipercepat atau diperlambat.
Operator dapat mengubah waktu pengerasan dalam batasan tertentu dengan
mengubah rasio W:P dan waktu pengadukan.
1. Ketidakmurnian
Bila proses pengapuran tidak sempurna sehingga tetap terdapat partikel gipsum atau
pabrik menambahkan gipsum kedalam plaster atau stone maka waktu pengerasan
akan diperpendek. Karena peningkatan nukleus kristalisasi sehingga semakin cepat
terbentuk kristal gipsum.
2. Kehalusan
Semakin halus partikel hemihidrat, semakin cepat adukan mengeras. Karena
kecepatan kelarutan hemidrat meningkat.
3. Rasio W : P
Perbandingan antara water dan powder juga harus diperhatikan. W:P ini basanya
tergantung pada jenis plaster dan stone. Misalnya W:P 0,60 maka yang harus
disiapkan adalah 60 ml air dan 100 gram stone. Perbandingan W:P adalah faktor yang
sangat penting dalam menentukan sifat fisik dan kimia dari produk gipsum akhir.
Semakin tinggi perbandingan W : P maka waktu pengerasan akan semakin lama dan
gipsum yang dihasilkan juga berkekuatan lemah.
4. Pengadukan
Semakin lama dan semakin cepat plaster diaduk, semakin pendek waktu pengerasan.
Sebagian kristal gipsum terbentuk langsung ketika plaster atau stone berkontak
dengan air. Begitu pengadukan dimulai, pembentukan kristal ini meningkat pada saat
yang sama, kristal kristal diputuskan oleh spatula pengaduk dan didistribusikan
merata dalam adukan dengan hasil pembentukan lebih banyak nukleus kristalisasi.
5. Temperatur
Sedikit perubahan terjadi pada suhu 0
0
C dan 50
0
C; tetapi bila adukan plester - air
meningkat kurang lebih 50
0
C penigkatan perlambatan terjadi bertahap. Begitu
temperatur mencapai 100
0
C, tidak ada reaksi yang terjadi. Pada temperatur yang lebih tinggi makan
gipsum akan kembali lagi menjadi hemihidrat.
6. Perlambatan dan percepatan
Penambahan bahan kimia tertentu pada adukan plaster atau stone gigi dapat memperlambat atau
mempercepat proses pengerasan. Bahan aselerator adalah bahan kimia yang dapat memperlambat
pengerasan. Aselerator yang sering digunakan adalah kalsium sulfat. Sebenarnya garam anorganik bisa
digunakan sebagai bahan aselerator. Tetapi bila kegunaannya belebihan maka akan menimbulkan efek
sebaliknya. Bahan retarder adalah bahan yang digunakan untuk mempercepat reaksi. Retarder umunya
bekerja dengan membentuk lapisan penyerap hemihidrat untuk mengurangi kelarutan dan menghambat
pertumbuhan kristal kristal gipsum yang ada. Bahan bahan organik seperti lem gelatin dan
beberapa getah karet bersifat seperti itu. Dalam konsentrasi kecil banyak garam anorganik bertindak
sebagao aselerator, tetapi bila konsentrasi ditingkatkan maka akan menjadi retarder.
Contoh :
Tabel : efek rasio W:P dan waktu pengadukan terhadap waktu pengerasan plaster of paris
Rasio W:P Waktu pengadukan (menit) Waktu pengerasan (menit)
1 : 4,5 0,5 5,25
1 : 4,5 1,0 3,25
1 : 6 1,0 7,25
1 : 6 2,0 4,50
1 : 8 1,0 10,50
1 : 8 2,0 7,75
1 : 8 3,0 5,75

Dengan memperhatikan hal-hal diatas kami melakukan praktikum pengerasan
gips kedokteran gigi dengan jenis produkPlaster model ( Tipe II ) dan Stone Gigi (
Tipe III ).
Plaster kedokteran gigi
Pada pengujian kali ini kami menyiapkan aquadest 100 ml dan bubuk plaster 250 gr,
jadi perbandingan W:P adalah 1 : 2,5 dengan 120 kali putaran salama 60 detik.
Didapat waktu pengerasan 14.30 menit. Praktikum ini menggunakan uji vicat untuk
menghitung waktu pengerasan. Setelah 10 kali tusukan jarum vicat tidak dapat lagi
menembus permukaan plaster yang telah mengeras.
Stone kedokteran gigi
Pada pengujian kali ini kami menyiapkan aquadest 100 ml dan bubuk stone 350 gr,
jadi perbandingan W:P adalah 1:3,5 dengan 120 putaran selama 60 detik. Didapat
waktu pengerasan 18.49 menit. Praktikum menggunakan uji vicat untuk menghitung
waktu pengerasan. Setelah 5 kali tusukan jarum vicat tidak dapat lagi menembus
permukaan stone yang telah mengeras.

Jika dilihat dari penjelasan diatas, waktu pengerasannya berbeda, hal ini
disebabkan oleh :
Perbedaan tipe plaster dan stone (kualitas) . Karena untuk rasio W:P juga tergantung pada aturan
pabrik pembuat plaster atau stone tersebut.
Perbedaan rasio W : P, dimana pada percobaan diatas rasio gips yang digunakan
sedikit sehingga waktu pengerasannya juga akan lebih lama.
Terjadinya kesalahan dalam pengukuran tingkat kekerasan plaster dan stone,
sehingga gips mengeras sebelum pengukuran dengan jarum vicat. ( percobaan yang
gagal )

Kesimpulan :
Berdasarkan hasil percobaan didapatkan bahwa waktu pengerasan gips plaster (tipe
II) lebih cepat dibandingkan gipsstoner (tipe III). Hal ini mungkin dipengaruhi oleh
jenis partikel yang terkandung didalamnya. Partikel gips stone lebih halus dan
reguller, sedangkan gips plaster lebih kasar dan irregular. Daya serap gips plaster
terhadap air lebih besar dibandingkan gips stone sehingga waktu pengerasan gips
plaster lebih cepat di bandingkan gips stone.


MALAM INLAY

Tujuan Praktikum :
Mampu mengadakan pengamatan dan mengukur distorsi akibat adanya stress
released (pelepasan stress) dari malam inlay kedokteran tinggi yang telah
dimanipulasi

Material :
1. Malam inlay
2. Aquadest
Alat :
1. Lampu spritus
2. Petri disk ( cawan petri )
3. Jangka sorong

Cara Kerja :
1. Sebatang malam inlay dilunakkan di atas lampu spritus dengan hati-hati dan jangan
sampai meleleh
2. Bengkokkan malam inlay secara p agar tidak patah sehingga berbentuk seperti tapal
kuda dan biarkan agar kembali ke suhu normal. Ukur jarak kedua ujungnya dengan
jangka sorong (sebagai jarak awal).
3. Catat hasil pengukuran
4. Masukkan malam inlay tersebut kedalam petri disk yang berisi aquadest sampai inlay
terendam.
5. Simpan petri disk tersebut selama 24 jam pada suhu kamar.
6. Lakukan pengamatan terhadap perubahan bentuk malam inlay 24 jam kemudian.
7. Ukur jarak antara dua ujung malam inlay dengan jangka sorong (sebagai jarak akhir)
presentase distorsi bentuk yang terjadi =
.
Hasil :
Jarak awal (cm Jarak akhir (cm)
0.025 0.035
Nilai distorsi = = 40 %

Pembahasan :
Wax adalah material termoplastik, berbentuk padat pada suhu kamar tetapi
meleleh tanpamengalami dekomposisi dan membentuk cairan kental pada suhu yang
lebih tinggi. Dentalwax terdiri dari campuran dari material termoplastik yang dapat
dilunakkan dengannpemanasan dan dikeraskan dengan pendinginan. Komponen
utama komposisi dental wax adalah natural, dan sintetis.
Malam kedokteran gigi dapat diklasifikasikan menjadi 2 yaitu pattern wax dan
processing wax. Malam inlay termasuk dalam bagian pattern wax.
Distorsi malam bisa disebabkan karena perubahan suhu, dan relaksasi dari
tegangan yang disebabkan oleh kontraksi saat pendinginan, udara yang tersumbat,
pencetakan, pengukiran, pelepasan,serta waktu dan suhu penyimpanan.
Faktor-faktor yang menyebabkan distorsi antara lain :
.1. Thermal Expansion
Inlay Wax memiliki ekspansi termal yang lebih tinggi dibanding bahan
kedokteran gigiyang lain. Hal ini dapat dilihat dari grafik dibawah ini.




Pada grafik A menunjukan ekspansi termal ketika malam dibawah tekanan dimana
malam mendingin dari keadaan cairan. Grafik B adalah hasil.
2. Internal Stress
Wax dimanipulasi tanpa dilakukan pemanasan yang cukup hingga diatas suhu
transisi padat-padat sehingga dapat terjadi tekanan yang sangat besar pada
material.Tekanan ini disebut dengan internal stress .Stress ini timbul dari kontraksi
pada saat pendinginan, udara yang terjebak mengakibatkan perubahan
bentuk(distorsi) selama molding serta waktu dan suhu selama penyimpanan. Tekanan
yang dilepaskan oleh wax tersebut pada saat didiamkan menimbulkan suatu kontraksi.
3. Elastic memory
Saat internal stress sudah terlepas dari dalam malam, suhu malam telah
menurun di bawah suhu transisi solid-solid dan bentuk molekul dalam malam akan
menjadi stabil kembali dan akan berhenti mengalami distorsi dan kembali mengeras
atau cenderung kebentuk semula sesudah dimanipulasi (elastic memory). Elastic
memory yang ditunjukkan terjadi lebih besar selama pengukuran ekspansi termal
pada malam yang dibiarkan pada udara bebas daripada malam yang didiamkan dalam
air.

Batang malam inlay dapat dilunakkan dengan api Bunsen , dibengkokkan
menjadi berbentuk seperti tapal kuda , dan didinginkan pada posisi ini. Jika malam ini
dibiarkan mengembang dalam air bertemperatur kamar selama beberapa jam , bentuk
tapal kuda tersebut akan terbuka. Pada malam inlay hal ini lebih penting dibandingkan
pada bahan cetak lain, karena restorasi logam yang dihasilkan harus masuk tepat pada
jaringan keras yang tidak dapat meregang. Jika malam dibengkokkan menjadi tapal
kuda , molekul-molekul bagian dalam akan mengalami ketegangan. Begitu stress
dilepaskan perlahan-lahan pada temperature kamar, malam cenderung menjadi lurus
kembali.

Dengan memperhatikan pembahasan diatas kami melakukan pengamatan dan
mengukur distorsi akibat adanya stress released (pelepasan stress) dari malam inlay
kedokteran gigi yang telah dimanipulasi. Dari hasil percobaan hanya terjadi
perubahan sebesar 0,1 mm dari bentuk tapal kuda. Jarak awal 0,25 mm , setelah
dibiarkan dalam cawan petri berisi aquadest selama 24 jam terjadi perubahan jarak
menjadi 0,35 mm. Berdasarkan teori , seharusnya malam inlay yang berbentuk tapal
kuda yang dibiarkan mengambang dalam air selama beberapa jam, bentuk tapal
kudanya akan terbuka.
Kegagalan praktikum kali ini disebabkan oleh :
Kekurangcermatan pengamat dalam membentuk pola tapal kuda batang malam inlay
Percobaan dilakukan dengan menutup keduabelah sisi cawan, sehingga tidak terjadi
penurunan suhu dan tidak terjadi pelepasan stress sehingga menyebabkan malam
inlay tidak mengalami distorsi
Kesimpulan :
Dari hasil percobaan didapatkan malam inlay kedokteran gigi yang telah
dibengkokkan dan dibiarkan mengambang dalam air selama 24 jam mengalami
sedikit distorsi melalui pelepasan stress secara perlahan-lahan.





BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil praktikum diatas dapat dilihat beberapa tanda dari gipsum seperti berikut :
1. Warna
Terlihat bahwa warna gips menjadi agak keruh. Hal ini terjadi karena pada konsistensi normal
perbandingan powdernya lebih besar sehingga akan lebih memperkeruh campuran.
2. Porositas
Porositas ini terjadi karena pengadukan dan lama waktu diatas vibrator belum mencapai 1 menit
sehingga udara masih terjebak dalam adonan. Porsentasi kemungkinan terjadinya porositas dalam
manipulasi gips lebih besar untuk adonan yang lebih encer, karena semakin banyak air berarti semakin
banyak H2O yang menimbulkan gelembung udara dan dapat mengakibatkan porositas. Namun hal ini
sebenarnya bisa dihindari jika dalam pengerjaannya operator (praktikan) lebih teliti dan hati hati dalam
melakukan pengadukan
3. Kekerasan
Pada saat merapikan gips dapat dirasakan adanya perbedaan kekuatan dan kekerasan pada gips setelah
setting. Hal ini terjadi karena powder (mineral gips) merupakan senyawa yang mempunyai rumus
kimia CaSO4, unsur kalsium (Ca) ini yang menunjukkan kekerasan dan kekuatan dari gips.
4. Initial setting
Initial setting bisa diketahui saat campuran bahan menjadi kaku tetapi tidak keras dan tidak dapat
dibentuk serta terjadi ekspansi termis atau adanya panas. Hal ini terjadi karena ketika partikel calcium
sulfat dalam powder dicampur dengan air akan terjadi massa padat dari dihydrat. Sehingga semakin
banyak air akan semakin lama terjadinya reaksi dan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk
menjadi setting.
5. Final setting
Final setting dapat diketahui dengan menurunnya suhu campuran dan pada akhirnya menjadi dingin.
Pada finnal setting gips sudah bisa dilepas dari cetakan dan bisa dibentuk. Hal ini terjadi karena
semakin banyak air akan semakin memperlambat berakhirnya reaksi membutuhkan waktu yang lebih
lama untuk menjadi setting.

Setelah semuanya dingin panas sudah tidak teraba dengan tangan, balok boleh dibuka. Faktor
kesalahan dari praktikum yang telah dilakukan yaitu terbentuknya lubang-lubang kecil atau porus pada
gypsum. Hal ini disebabkan oleh tidak sempurnanya dalam proses penuangan dan kesalahan praktikan
pada saat menggunakan vibrator yang tidak sempurna. Kemudian ketiga gypsum tersebut dibentuk lagi
dengan ukuran 2,5 x 2,5 x 3,5 dengan menggunaan pisau gips. Supaya gypsum halus, maka dihaluskan
dengan menggunakan kertas gosok.

BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum Gips kali ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa:
Dalam melakukan manipulasi gips perlu diperhatikan atara lain adalah:
o Penyimpanan
o Kebersihan alat untuk manipulasi
o Rasio atau perbandingan air dan powder
o Waktu Pengadukan
o Initial setting-working time
o Final setting
o Pemberian bahan separator
o Hindari terjebaknya udara bias dengan menggunakan vibrator
Gips mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
o Menghasilkan detail yang halus
o Dimensionalnya akurat
o Sifat mekanis yang kuat
Dari data hasil pratikum dan pembahasan sebelumnya dapat disimpulkan bahwa waktu setting dari
gypsum dipengaruhi oleh W/P rasio dan komposisinya. Semakin banyak powdernya, semakin kental
pula campuran tersebut. Semakin kental gypsum maka semakin cepat pula waktu settingnya. Semakin
encer gypsum tersebut maka semakin lambat pula waktu settingnya.

DAFTAR PUSTAKA

Annusavice, Kenneth J. 2003. Phillips: Buku Ajar Ilmu Bahan Kedokteran Gigi. Jakarta: EGC.
Combe, EC. 1992. Sari Dental Material. Penerjemah : Slamat Tarigan. Jakarta : Balai Pustaka
Craig, Robert G, and John M. Power. 2002. Restorative Dental Material: 11th edition. United State of
America : Mosby.
Hatrick, Carol Dixon. 2003. Dental Material : Clinical Application for Dental Assistants and Dental
Hygienist. Philadelphia : Saunders.
Van Noorth, Richard. 2002. Dental Material second edition. London : Mosby.
Wilson, H. J. dkk. 1987. Dental Technology and Materials for Students. Blackwell Scientific
Publication.
Diposkan oleh Amelia Aya di 08.45