Вы находитесь на странице: 1из 5

NAMA : SYIFA KHAIRUNNISA

NIM :125100300111032
JURUSAN : TIP
KELAS :L

Teori gelombang dari Huygens
Cahaya adalah gejala gelombang seperti halnya bunyi cahaya merambat dengan perantaraan
gelombang yang disebut gelombang cahaya. Menurut teori ini cepat rambat cahaya memenuhi
persamaan:
C = x f
C = Cepat rambat
= Panjang gelombang
f = Frekwensi ( Hz atau cps ).
Menurut teori ini cahaya marambat melalui medium untuk menjelaskan cahaya dapat mengalir
melalui ruang hampa maka dibuat hypotesa bahwa diseluruh ruangan terdapat medium yang
dinamakan Eter

Prinsip Huygens merupakan metoda geometris untuk menentukan bentuk muka gelombang pada
suatu saat bila diketahui muka gelombang ( sebagiannya ) pada saat sebelumnya.

Menurut Prinsip Huygens
Setiap titik pada suatu muka gelombang, dapat dipandang sebagai pusat gelombang sekunder
yang memancarkan gelombang baru ke ssegala arah dengan kecepatan yang sama denga
kecepata rambat gelombang. Muka gelombang yang baru diperoleh dengan cara melukis sebuah
permukaan yang menyinggung ( menyelubungi ) gelombang-gelombang sekunder tersebut
Huygens memperlemah teori partikel Newton karena menurut teori Newton dijelaskan bahwa
cahaya merambat melalui garis lurus dan teori Huygens diperlemah oleh percobaan Michaelson
dan Moreley yang melakukan pengujian terhadap angin eter dan berkesimpulan bahwa angin
eter tidak ditemukan teori gelombangnya Huygens.

A P
A
Q
P
Q R
H R
S S
T
T
B
B

Gambaran prinsip Huygens untuk gelombang siferis

Gambar diatas melukiskan gelombang cahaya yang dipancarkan oleh sebuah titik M ke segala
arah, pada suatu saat muka gelombang digambarkan sebagai permukaan bola AB, akan dicari
muka gelombang baru pada t detik kemudian.
Menurut prinsip Huygens, setiap titik pada muka gelombang AB merupakan pusat gelombang
baru ( gelombang skunder ) misalnya titik PQR, dengan titik tersebut dilukis sebagai pusat
gelombang baru dengan jari-jari yang sama sebesar R = ct. maka gelombang baru yang berpusat
di M adalah suatu permukaan yang menyelubangi semua gelombang-gelombang skunder
tersebut yaitu permukaan AB.
Sinar gelombang adalah garis khayal yang ditarik dalam arah gerak gelombang. Untuk
gelombang siferis ( bola ) seperti gambar diatas adalah geris PP; RR; atau jika dilihat dari
sumber MP; MQ; MR garis-garis tersebut selalu tegak lurus muka gelombang untuk gelombang
yang bersumber dari jauh sekali dapat digambarkan sebagai gelombang datar sebagai berikut

cc
P P
Q Q
R R
S S



Gambaran prinsip Huygens untuk gelombang datar
PQRS adalah muka gelombang
PQRS adalah muka gelombang baru

Penurunan hukum pemantulan berdasarkan Prinsip Huygens
Menurut prinsip Huygens setiap titik pada suatu gelombang dapat dipandang sebagai suatu pusat
gelombang sekunder yang memancarkan gelombang baru ke segala arah dengan kecepatan yang
sama pada suatu rambat gelombang.
Prinsip diatas jika digunakan untuk menjelaskan hukum pemantulan cahaya,dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Perhatikan gambar dibawah ini.
R2 R1
R1 R2
Medium1
Q1
A B

Medium2

Gambar 2.1.Tentang proses pemantulan cahaya.
Jika medium 2 bersifat reflektor gelombanmg yang datang ,ke batas medium R1dan R2 adalah
sinar cahaya yang datang sejajar ketika R1 sudah mencapai batas medium yakni titik A R2 baru
sampai dititik B.Titik A merupakan sumber cahaya sekunder yang diatas dari A sudah mencapai
titik B ,maka sumber cahaya sekunder yang diatas dari A sudah mencapai titik A karena
dicapai pada titik A pada waktu yang sama yakni waktu yang di tempuh AA dan BB selama t
detik.
AA=BB=V1t.
Dapat dilihat dari gambar bawah bahwa:
Sin
1
=
Sedangkan
Sin
r
=
Sehingga Sin
1
= Sin
r
atau
=
r

Pada ,pemantulan gelombang dikenal sudut datang sama dengan sudut pantul.

= Sudut datang yakni sudut yang dibentuk antara sinar datang dan garis normal
r
= Sudut yang dibentuk antara garis normal dan garis garis yang dipantulkan

Penurunan hukum pembiasan berdasarkan prinsip Huygens.
Prinsip Huygens juga dapat digunakan untuk menjelaskan hukum pembiasan gelombang.Jika
gelombang datang dari suatu medium ke medium lain yang dapat meneruskan gelombang untuk
menjelaskan perstiwa pembiasan dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

R1
R2 n Normal
B

AA = V
2
t


Penjelasan dari peristiwa bahwa pembasan gelombang cahaya adalah sebagai berikut:
Pembiasan adalah peristiwa sebuah gelombang yang datang dari suatu medium ke medium lain
yang berbeda.
Seperti dilihat pada gambar R1 dan R2 adalah ,dua sinar sejajar ketika R1 mencapai batas
medium dititik A sinar R2 mencapai titik B.Pada waktu I detik medium 1 gelombang mencapai
jarak AA=V
2
t
Sin
1
=

Sin
1
=

Dari persamaan 3 dan 4 :



Hukm pembiasan.
Perbandingan V
1
terhadap V
2
selalu konstan dan dapat didefinisikan sebagai suatu indeks bias
relative atau :
Indeks bias relative antara dua medium dapat didefinisikan yaitu perbandingan kecepatan
gelombang cahaya dalam medium-medium tersebut.
21
=
21
adalah indeks bias untuk sinar cahaya datang dari medium 1 ke medium 2
21
=
Indeks bias absolut
Jika kecepatan cahaya udara atau ruang hampa (c) digunakan sebagai acuan maka indeks bias
suatu medium atau indeks ,bias absolute suatu medium adalah perbandingan anatara kecepatan
cahaya diudara atau vakum dan kecepatan cahaya dimedium tersebut .

N
21
adalah indeks bias relatf jika cahaya datang dari medium 1 ke medium 2
21
=
21
=
Sehingga :
..(7)
atau
1
Sin
1
=
2
Sin
1

Persamaan no 7 dikenal sebagai hukum snellius untuk pembiasan yang dapat terjadi akibat
adanya beberapa kemungkinan hubungan antara
1
dan
2
dengan asumsi gelombang datang dari
medium 1 ke medium 2 sebagai berikut :
1. Bila v
2
<v
1
atau n
21
>
1
,atau n
2
>n
1
,akan diperoleh jika gelombang datang dari medium
renggang ke medium yang lebih padat maka akan dibiaskan mendekati garis normal.
2. Bila v
2
> v
1
atau n
21
>n
1
atau n21<n
1
,akan diperoleh
1
>
2
atau jika gelombang datang
dari medium yang lebih renggang ke medium yang lebih padat maka gelombang akan
dibiaskan menjauhi garis normal.
3. Bila v
2
> v
1
atau n
2
<n
1

sudut datang i sudut bias sebesar 90 disebut sebagai sudut krisis,dan akan diperoleh
jika v
2
> v
1
atau n
2
<n
1
sudut datang lebih besar dari sudut kritis maka akan terjadi
refleksi total.

Sumber : Fakultas Teknik Elektro. 2005. Diktat Kuliah Fisika Optik.Bandung : Universitas
Langlangbuana