You are on page 1of 23

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN KESUBURAN TANAH


Pengaruh Dosis Pemupukan Urea Terhadap Pertumbuhan
Tanaman Jagung (Zea mays L.)

Oleh

NEDHA
115040201113002
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA KAMPUS IV


FAKULTAS PERTANIAN
KEDIRI
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Jagung (Zea mays L.) merupakan komoditas pangan yang memiliki potensi
besar untuk kepentingan industri pangan, pakan, dan biofuel. Selain untuk
konsumsi manusia, jagung juga dimanfaatkan sebagai pakan ternak unggas dan
ruminansia.
Di negara maju, sari pati jagung diolah menjadi gula rendah kalori dan
ampasnya diproses kembali untuk menghasilkan alkohol dan monosodium
glutamat. Dengan semakin berkembangnya industri pengolahan pangan di
Indonesia maka kebutuhan akan konsumsi jagung di Indonesia terus meningkat.
Hal ini didasarkan pada semakin meningkatnya tingkat konsumsi perkapita per
tahun dan semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia.
Saragih et al., (2013) mengatakan bahwa tanaman jagung mengambil N
sepanjang hidupnya. Nitrogen diserap tanaman selama masa pertumbuhan sampai
pematangan biji, sehingga tanaman ini menghendaki tersedianya N secara terus
menerus pada semua stadia pertumbuhan sampai pembentukan biji. Pemberian
pupuk yang tepat selama pertumbuhan tanaman jagung dapat meningkatkan hasil
jagung.
Mengingat pupuk urea merupakan faktor pembatas dalam pertumbuhan dan
hasil jagung, maka penulis tertarik untuk mengadakan percobaan untuk
mengetahui pengaruh perbedaan dosis pupuk urea terhadap pertumbuhan tanaman
jagung.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui:
a. Pengaruh perbedaan dosis pupuk urea erhadap tinggi tanaman, jumlah daun
dan berat segar tanaman jagung.
b. Dosis pupuk urea yang memberikan respon terbaik terhadap pertumbuhan
tanaman jagung.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Jagung


Tanaman jagung (Zea mays L.) berasal dari Amerika dan melalui Eropa
menyebar ke Asia dan Afrika. Jagung termasuk famili Graminae (Iriany et al.,
2007). Jagung dapat menggantikan rumput potong pada masa istirahat sesudah
defoliasi sehingga kontinuitas pakan terjaga. Komposisi kimia hijauan jagung
untuk pakan berturut-turut TDN, PK, Ca, P adalah 58%; 8,8%; 0,28% dan 0,14%
(Iriany et al., 2007).
Menurut Tjitrosoepomo (2000), tanaman jagung (Zea mays L.) dalam tata
nama atau sistematika (taksonomi) tumbuh-tumbuhan dimasukkan dalam
klasifikasi sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae


Classis

: Monocotyledone

Ordo

: Graminae

Familia

: Graminaceae

Genus

: Zea

Species

: Zea mays L.

Akar yang tumbuh relatif dangkal merupakan akar adventif dengan


percabangan yang amat lebat, yang menyerap hara pada tanaman. Akar layang
penyokong memberikan tambahan topangan untuk tumbuh tegak dan membantu
penyerapan unsur hara. Akar layang ini tumbuh di atas permukaan tanah, tumbuh
rapat pada buku-buku dasar dan tidak bercabang sebelum masuk ke tanah
(Saragih et al., 2013).
Batang jagung tidak bercabang, berbentuk silinder, dan terdiri dari beberapa
ruas dan buku ruas. Pada buku ruas akan muncul tunas yang berkembang menjadi
tongkol. Tinggi batang jagung tergantung varietas dan tempat penanaman,
umumnya berkisar 60 300 cm (Saragih et al., 2013).

Daun tanaman jagung berbentuk pita atau garis, mempunyai ibu tulang daun
yang terletak tepat di tengah-tengah daun. Tangkai daun merupakan pelepah yang
biasanya berfungsi untuk membungkus batang tanaman jagung. Daun pada
tanaman jagung mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan tanaman
utamanya dalam penentuan produksi (Saragih et al., 2013)
Jumlah daun umumya berkisar antara 10-18 helai, rata-rata munculnya daun
yang terbuka sempurna adalah 3-4 hari setiap daun. Tanaman jagung di daerah
tropis mempunyai jumlah daun relatif lebih banyak dibanding di daerah beriklim
sedang (Saragih et al., 2013).
Jagung disebut juga tanaman berumah satu (monoceous) karena bunga
jantan dan bunga betina terdapat dalam satu tanaman. Bunga betina (tongkol)
muncul dari axillary apical tajuk. Bunga jantan (tassel) berkembang dari titik
tumbuh apikal diujung tanaman. Rambut jagung adalah pemanjangan dari saluran
stylar ovary yang matang pada tongkol. Hampir 95 % dari persariannya berasal
dari serbuk sari tanaman lain, dan hanya 5 % yang berasal dari serbuk sari
tanaman sendiri. Karena itu disebut juga tanaman bersari bebas (Iriany et al.,
2007).
Buah jagung terdiri atas tongkol, biji, dan daun pembungkus. Biji jagung
mempunyai bentuk, warna dan kandungan endosperm yang bervariasi, tergantung
pada jenisnya. Pada umumnya, biji jagung tersusun dalam barisan yang melekat
secara lurus atau berkelok-kelok dan berjumlah antara 8 20 baris biji. Biji
jagung terdiri atas tiga bagian utama, yaitu kulit biji, endosperm dan embrio
(Iriany et al., 2007).
Jagung dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa karakter diantaranya
lingkungan tempat tumbuh dan umur panen. Jenis jagung berdasarkan lingkungan
tempat tumbuh meliputi jagung yang tumbuh di dataran rendah tropik (< 1.000 m
dpl), dataran rendah subtropik dan mid-altitude (1.000 1.600 m dpl), dan dataran
tinggi tropik (>1.600 m dpl). Jenis jagung berdasarkan umur panen
dikelompokkan menjadi dua yaitu jagung berumur genjah dan umur dalam.
Jagung umur genjah adalah jagung yang dipanen pada umur kurang dari 90 hari
sedangkan jagung umur dalam dipanen pada umur lebih dari 90 hari (Iriany et al.,
2007).

2.2 Kesuburan Tanah dan Pupuk Nitrogen (Urea)


Kesuburan tanah dan produktivitas tanah sekilas nampak serupa, tetapi di
dalam lingkup ilmu tanah dua istilah di atas mempunyai arti yang berbeda.
Tanah subur adalah tanah yang menghasilkan tanaman pada kondisi lingkungan
yang cocok. Oleh karena itu, kesuburan tanah dapat didefinisikan sebagai
kemampuan tanah untuk menyediakan unsur hara esensial dalam bentuk tersedia
dan dalam kesimbangan yang sesuai (Handayanto et al., 2013).
Produktivitas tanah pada dasarnya adalah konsep ekonomi dan
kemampuan tanah untuk menghasilkan tanaman tertentu, atau tanaman dalam
sistem manajemen masukan (input) dan kondisi lingkungan tertentu, misalnya
kondisi iklim. Produktivitas tanah tidak hanya sifat tanah saja, tetapi merupakan
fungsi dari berbgai faktor. Produktivitas tanah diukur dalam hal keluaran
(output) hasil panen dalam hubungannya dengan faktor-faktor produksi untuk
suatu jenis tanah tertentu pada sistem nanajemen tertentu.
Menurut Handayanto et al., (2013) pada dasarnya terdapat dua factor yang
mempengaruhi kesuburan tanah, yaitu faktor alam dan faktor buatan. Faktor
alam terdiri dari bahan induk, topografi, iklim, umur tanah, kedalaman profil
tanah, kondisi fisik tanah, dan erosi tanah. Sedangkan faktor buatan terdiri dari
genangan air, pola tanam, reaksi tanah dan nutrisi tanah.
Nutrisi tanah dapat berasal dari bahan organik maupun bahan anorganik.
Bahan organik dapat berasal dari pupuk hijau, pupuk kandang, seresah dan lain
sebagainya. Sedangkan bahan anorganik dapat diperoleh dari pupuk anorganik
misalnya TSP, ZA, KCl, Urea dan lain sebagainya. Dari semua jenis pupuk
anorganik, pupuk urea merupakan pupuk yang paling diaplikasikan ke lahan
oleh petani.
Pupuk urea memiliki kandungan unsur nitrogen (N) sebesar 46%. Dalam
tubuh tanaman, nitrogen merupakan bagian dari protein dan plasma sel. Oleh
karena itu diperlukan untuk pertumbuhan. Nitrogen juga merupakan penyusun
klorofil dengan Mg sebagai pusat, yang dikelilingi oleh 4 cincin, dimana tiap
cincin mengandung N dengan 4 atom C. Unsur ini juga berperan penting
terhadap pertumbuhan yang jagung, dan membuat daun berwarna hijau. Jika

nitrogen berlebihan mengakibatkan pertumbuhan vegetatif yang berlebihan,


sehingga memperlambat panen.
Defisiensi unsur nitrogen ini, menunjukkan gejala tanaman yang kerdil,
daun menjadi kuning mulai dari daun terbawah, sedangkan daun sebelah atas
tetap hijau (Handayanto et al., 2013).
Nitrogen merupakan unsur hara utama bagi pertumbuhan tanaman, yang
pada umumnya sangat diperlukan untuk pembentukan atau pertumbuhan bagianbagian vegetatif tanaman, seperi daun, batang, dan akar, tetapi kalau terlalu
banyak dapat menghambat pembuangan dan pembuahan pada tamannnya.
Menurut Handayanto et al., (2013) fungsi Nitrogen bagi tanaman adalah:
a. Untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman
b. Dapat menyehatkan pertumbuhan daun, daun tanaman lebar dengan warna yang
lebih hijau, kekurangan N menyebabkan khlorosis (pada daun muda berwarna
kuning)
c. Meningkatkan kadar protein dalam tubuh tanaman
d. Meningkatkan kualitas tanaman penghasil dan-daunan
e. Meningkatkan berkembangbiaknya mikro-organisme didalam tanah.

2.3 Pengaruh Pupuk Urea terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung


Tanaman jagung merupakan tanaman yang peka terhadap kekurangan
unsur N, sehinga pemberiannya perlu dilakukan untuk meningkatkan hasil
secara nyata. Pupuk N diperlukan bila jumlah N yang tersedia di lahan maupun
yang berasal dari pupuk organik kurang memenuhi kebutuhan. Pemberian pupuk
N pada media tumbuh tanaman jagung merupakan salah satu untuk
meningkatkan efisiensi pemupukan, yaitu dapat meningkatkan penyerapan unsur
N oleh tanaman (Zakaria, 2012).
Urea merupakan pupuk nitrogen yang dibutuhkan oleh tanaman untuk
merangsang pertumbuhan secara keseluruhan khususnya batang, cabang, dan
daun. Kekurangan nitrogen menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, daun menjadi
hijau muda dan jaringan-jaringannya mati. Zakaria (2012) menyatakan pupuk
urea termasuk pupuk yang higrokopis (menarik uap air) pada kelembapan 73%
sehingga urea mudah larut dalam air dan mudah diserap oleh tanaman.

Jika diberikan ke tanah, pupuk ini akan mudah berubah menjadi amoniak
dan karbondioksida yang mudah menguap. Sifat lainnya ialah mudah tercuci
oleh air sehingga pada lahan pupuk nitrogen akan hilang karena erosi. Maka dari
itu pemberian pupuk urea secara bertahap perlu dilakukan agar unsur nitrogen
tersedia bagi tanaman jagung di lahan.

BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Percobaan kesuburan tanah ini dilaksanakan pada bulan November hingga
bulan Desember 2013. Percobaan ini mengambil lokasi di halaman Universitas
Brawijaya Kampus IV yang beralamatkan di Jalan Himalaya No. 1 Kelurahan
Sukorame Kecamatan Mojoroto Kota Kediri.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan dalam percobaan ini antara lain timbangan analitis
yang digunakan untuk menimbang pupuk Urea, cetok yang digunakan untuk
mengambil tanah, timbangan tanah yang digunakan untuk menimbang tanah,
ayakan yang digunakan untuk mengayak tanah, polybag sebagai wadah media
tanam, ember plastik sebagai wadah air, mistar yang digunakan untuk mengukur
tinggi tanaman, blanko pengamatan yang digunakan untuk mencatat hasil
pengamatan dan kamera yang digunakan untuk mendokumentasikan hasil
pengamatan.
Bahan yang digunakan adalah air bebas ion yang digunakan untuk
menyiram tanaman, tanah bagian atas sebagai media tanam, benih jagung (Zea
mays L.) sebagai objek pengamatan dan unsur N dalam bentuk pupuk Urea
sebagai faktor perlakuan.

3.3 Metode Percobaan


3.3.1 Rancangan Percobaan
Pada percobaan ini digunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 7 taraf
perlakuan yang terdiri dari perlakuan A (0 kg N/ha), perlakuan B (20 kg N/ha),
perlakuan C (40 kg N/ha), perlakuan D (60 kg N/ha), perlakuan E (90 kg N/ha),
perlakuan F (120 kg N/ha) dan perlakuan G (200 kg N/ha). Setiap perlakuan
tersebut diulang sebanyak 3 kali.

3.3.2 Tata Laksana Percobaan


Percobaan ini dibagi menjadi 4 tahap kegiatan yaitu tahap persiapan,
pelaksanaan, pengambilan data dan analisa data. Pada tahap persiapan dibagi
menjadi 2 kegiatan yaitu kegiatan persiapan alat dan bahan yang digunakan
dalam percobaan serta kegiatan persiapan media tanam. Media tanam yang
digunakan dalam percobaan adalah tanah yang diambil secara acak dari lapisan
tanah atas (top soil) sejumlah yang dibutuhkan. Kemudian tanah tersebut
dihamparkan di atas lantai dan di kering anginkan selama 1 minggu. Tanah yang
sudah kering udara kemudian diayak dan setelah itu ditimbang dan dimasukkan
kedalam polybag. Tanah yang berada dalam polybag tersebut kemudian disiram
dengan air bebas ion sampai mencapai kondisi kapasitas lapangan dan
diinkubasi selama 3 hari sebelum tanam. Hal ini dilakukan untuk memberi
kesempatan reaksi dalam tanah mencapai keseimbangan.
Tahap kedua dalam percobaan ini adalah tahap pelaksanaan. Dalam tahap
ini benih jagung yang sudah disediakan ditanam di media tanam yang sudah ada.
Kemudian dilakukan penempatan pot sesuai dengan pengacakan yang telah
dilakukan. Selain kegiatan penanaman, pada tahap ini juga dilakukan kegiatan
pemeliharaan tanaman yang meliputi penyiraman air, penyiangan, penjarangan
dan pemupukan sesuai dengan dosis yang telah ditentukan.
Tahap ketiga dalam percobaan ini adalah tahap pengambilan data.
Pengambilan data ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan terhadap
parameter pengamatan yang telah ditentukan yaitu tinggi tanaman, jumlah daun
dan berat segar tanaman. Pengamatan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun
dilakukan seminggu sekali selama 3 minggu, sedangkan pengamatan terhadap
berat segar tanaman dilakukan satu kali pada minggu terakhir kegiatan
pengamatan.
Tahap terakhir dalam percobaan ini adalah tahap analisa data. Data yang
telah diperoleh kemudian dianalisis ragamnya dengan taraf 5%. Hal ini
dilakukan untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing perlakuan terhadap
tinggi tanaman, jumlah daun dan berat segar tanaman.

3.3.3 Parameter Pengamatan


Parameter yang diamati dalam percobaan ini adalah tinggi tanaman,
jumlah daun dan berat segar tanaman. Pengamatan tinggi tanaman dilakukan
menggunakan mistar. Pengukuran dilakukan mulai dari pangkal batang sampai
ujung daun tertinggi.
Jumlah daun dihitung mulai dari daun pertama sampai daun terakhir yang
terbuka sempurna. Daun yang terbuka sempurna adalah daun yang sudah jelas
terlihat seluruh daun mulai pangkal sampai ujung daun. Sedangkan pengamatan
berat segar tanaman dilakukan dengan cara memotong tanaman jagung mulai
dari pangkalnya. Kemudian tanaman tersebut ditimbang agar diketahui berat
segar dari masing-masing tanaman tersebut.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Perhitungan Dosis Pupuk per Perlakuan


Rumus yang digunakan untuk menghitung dosis pupuk per perlakuan
adalah:

Keterangan:
M

= Bahan kimia yang digunakan (dosis pupuk per perlakuan / kg)


= Dosis pupuk yang digunakan (kg/ha)
= Berat tanah per ha (kg)
= Kandungan unsur x pada bahan tersebut (%)
= Tingkat kemurnian bahan (%)
= Berat tanah yang digunakan (kg/polybag)
Adapun perhitungan dosis pupuk per perlakuan adalah sebagai berikut:
1. Perlakuan A

= 0 x 2,17 x 1 x 3
= 0 kg urea/polybag
= 0 g urea/polybag
2. Perlakuan B

= 0,00001 x 2,17 x 1 x 3
= 0,0000651 kg urea/polybag
= 0,0651 g urea/polybag
3. Perlakuan C

= 0,00002 x 2,17 x 1 x 3
= 0,0001302 kg urea/ polybag

= 0,1302 g urea/polybag

4. Perlakuan D

= 0,00003 x 2,17 x 1 x 3
= 0,0001953 kg urea/ polybag
= 0,1953 g urea/polybag
5. Perlakuan E

= 0,000045 x 2,17 x 1 x 3
= 0,0002929 kg urea/ polybag
= 0,2929 g urea/polybag
6. Perlakuan F

= 0,00006 x 2,17 x 1 x 3
= 0,0003906 kg urea/ polybag

= 0,3906 g urea/polybag
7. Perlakuan G

= 0,0001 x 2,17 x 1 x 3
= 0,000651 kg urea/ polybag
= 0,6510 g urea/polybag

4.2 Pertumbuhan Tanaman


4. 2. 1 Tinggi Tanaman
12.00
10.00
8.00
minggu 1

6.00

minggu 2
4.00

minggu 3

2.00
0.00
A

Gambar 1. Grafik rata-rata tinggi tanaman jagung pada minggu 1, 2 dan 3


Berdasarkan grafik di atas dapat diketahui bahwa perlakuan G (200 kg
N/ha) menunjukkan rata-rata pertumbuhan tinggi tanaman yang paling baik pada
minggu 1, 2 dan 3 jika dibandingkan perlakuan lainnya. Pemberian N yang
semakin tinggi berpengaruh terhadap tinggi tanaman pada fase V9 (42 hst) dan
bobot kering tanaman. Semakin besar pemberian N , tinggi tanaman dan bobot
kering tanaman semakin besar (Saragih et al., 2013).
Pertumbuhan tinggi tanaman tersebut berhubungan dengan kecukupan
hara yang diserap oleh tanaman. Pada awal pertumbuhan, tanaman jagung
membutuhkan unsur nitrogen dalam jumlah yang banyak untuk ditujukan ke
pertumbuhan vegetatif awal, salah satunya adalah pertumbuhan batang. Oleh
karena itu, perlakuan G memberikan pertumbuhan tinggi tanaman yang paling
baik karena dosis N yang digunakan pada perlakuan ini paling besar jika
dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
Tabel 1. Respons Tinggi Tanaman terhadap Pupuk Urea pada 3 MST
Perlakuan
A
B
C
D
E
F
G

Rata-Rata Tinggi Tanaman


3 Minggu Setelah Tanam (MST)
9,75 tn
9,83 tn
7,93 tn
8,58 tn
8,42 tn
8,75 tn
9,98 tn

Keterangan: tn = tidak nyata pada 0,05

Berdasarkan uji F dengan taraf 5% yang telah dilakukan dapat diketahui


bahwa rata-rata tinggi tanaman tidak berbeda nyata pada seluruh perlakuan.
Artinya perbedaan dosis pupuk urea yang diaplikasikan pada tanaman jagung
tidak menyebabkan perbedaan pada rata-rata tinggi tanaman pada setiap
perlakuan. Hal ini dapat disebabkan jumlah plot pengamatan yang sedikit
sehingga hasil yang didapatkan kurang beragam.

4. 2. 2 Jumlah Daun
4.00
3.00
Minggu 1
2.00

Minggu 2
Minggu 3

1.00
0.00
A

Gambar 2. Grafik rata-rata jumlah daun tanaman jagung pada minggu 1, 2


dan 3
Berdasarkan grafik diatas dapat diketahui bahwa seluruh perlakuan
menunjukkan adanya pertambahan jumlah daun pada minggu kedua, akan tetapi
pada minggu ketiga jumlah daun cenderung menurun. Pada percobaan ini, selain
faktor ketersediaan hara yang mempengaruhi jumlah daun tanaman diduga
jumlah daun ini juga dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh tanaman jagung
misalnya hujan dan angin.
Pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman ditentukan oleh
dua faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan (Kuyik et al., 2012).
Tanaman jagung memiliki perakaran yang cukup dangkal, oleh karena itu
dengan adanya terpaan angin yang besar dan intensitas hujan yang besar dapat
menyebabkan daun tanaman jagung mudah rebah. Daun yang rebah tersebut
tidak dapat lagi digunakan untuk kegiatan fotosintesis sehingga fotosintat yang
dihasilkan oleh tanaman dapat berkurang. Jika fotosintat yang dihasilkan oleh
suatu tanaman berkurang maka ketersediaan energi untuk perkembangan dan
pertumbuhan tanaman dapat berkurang. Salah satu pengaruhnya adalah dalam

hal pembentukan organ vegetatif tanaman, misalnya adalah batang dan daun.
Dengan demikian dengan adanya hujan dan angin yang besar maka
pembentukan daun pada tanaman jagung dapat berkurang.
Tabel 2. Respons Jumlah Daun terhadap Pupuk Urea pada 3 MST
Rata-Rata Jumlah Daun
3 Minggu Setelah Tanam (MST)
A
7,00 tn
B
9,00 tn
C
8,00 tn
D
7,50 tn
E
9,00 tn
F
8,00 tn
G
8,50 tn
Keterangan: tn = tidak nyata pada 0,05

Perlakuan

Berdasarkan uji F dengan taraf 5% yang telah dilakukan dapat diketahui


bahwa rata-rata jumlah daun tidak berbeda nyata pada seluruh perlakuan. Artinya
perbedaan dosis pupuk urea yang diaplikasikan pada tanaman jagung tidak
menyebabkan perbedaan pada rata-rata jumlah daun pada setiap perlakuan.

4. 2. 3 Berat Segar Tanaman


Nitrogen merupakan salah satu unsur hara utama yang diperlukan tanaman
jagung dalam jumlah relatif besar. Apabila unsur N yang tersedia tinggi, klorofil
yang terbentuk akan meningkat. Klorofil mempunyai fungsi esensial dalam
proses fotosintesis yaitu berfungsi menyerap energi sinar matahari dan kemudian
mentranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. Peningkatan tinggi tanaman dan
jumlah daun dapat menyebabkan pembentukan biomassa tanaman meningkat
sehingga menghasilkan berat kering tanaman jagung yang tinggi (Handayunik,

Berat segar tanaman


(g/tan)

2008).
15.00
10.00
5.00
y = 10,84 + 0,0121x

0.00
A

Perlakuan

Gambar 3. Grafik regresi dosis pupuk N terhadap berat segar tanaman

Dari grafik regresi tersebut dapat diketahui bahwa peningkatan dosis


pupuk urea tidak memberikan pola yang linear terhadap peningkatan berat segar
tanaman. Dengan kata lain peningkatan dosis pupuk urea tidak disertai dengan
adanya peningkatan berat segar tanaman jagung.
Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian lebih banyak urea belum
tentu dapat meningkatkan berat segar tanaman jagung. Hal ini disebabkan karena
urea lebih cepat tersedia bagi tanaman dan juga dapat cepat hilang yang
disebabkan karena penguapan dan pencucian, sedangkan N sendiri bersifat
mobil. Banyaknya ketersediaan N mineral di dalam tanah mempengaruhi
produksi biomassa tanaman jagung. Pada ketersediaan N yang mencukupi
pertumbuhan jagung juga akan lebih baik.
Tabel 3. Respons Berat Segar Tanaman Jagung terhadap Pupuk Urea
Rata-Rata Berat Segar Tanaman
Jagung (g)
A
12,67 tn
B
10,33 tn
C
10,33 tn
D
11,33 tn
E
11,33 tn
F
12,67 tn
G
13,67 tn
Keterangan: tn = tidak nyata pada 0,05

Perlakuan

Berdasarkan uji F dengan taraf 5% yang telah dilakukan dapat diketahui


bahwa rata-rata berat segar tanaman jagung tidak berbeda nyata pada seluruh
perlakuan. Artinya perbedaan dosis pupuk urea yang diaplikasikan pada tanaman
jagung tidak menyebabkan perbedaan pada rata-rata jumlah daun pada setiap
perlakuan. Hal ini dapat disebabkan karena perbedaan dosis perlakuan yang relatif
rendah sehingga hasil yang diperoleh tidak berbeda nyata.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa
hal yaitu:
1. Perbedaan dosis pupuk urea yang diberikan pada tanaman jagung tidak
berpengaruh terhadap tinggi tanaman, jumlah daun dan berat segar tanaman
jagung.
2. Semua perlakuan yang diuji tidak menyebabkan perbedaan yang nyata
terhadap terhadap tinggi tanaman, jumlah daun dan berat segar tanaman
jagung sehingga tidak dapat diketahui dosis pupuk urea mana yang
memberikan respon terbaik terhadap pertumbuhan tanaman jagung.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat diketahui bahwa tidak ada
perbedaan nyata pada tinggi tanaman, jumlah daun dan berat segar tanaman
jagung. Hal ini dapat disebabkan oleh jumlah unit percobaan yang kurang dan
faktor lingkungan. Oleh karena itu perlu dilakukan percobaan kembali dengan
menggunakan unit percobaan yang lebih banyak dan lokasi penelitian yang
memiliki kondisi lingkungan yang cukup homogen sehingga benar-benar dapat
diketahui pengaruh perbedaan dosis pupuk urea terhadap tanaman jagung tanpa
adanya faktor lain yang mempengaruhi.

DAFTAR PUSTAKA

Handayunik, W. 2008. Pengaruh pemberian kompos limbah padat Tempe


terhadap sifat fisik, kimia tanah dan Pertumbuhan tanaman jagung (Zea
mays) serta Efisiensi terhadap pupuk urea pada entisol Wajakmalang.
Skripsi Universitas Brawijaya. Malang
Tjitrosoepomo, G.. 2000. Morfologi Tumbuhan. UGM Press. Yogyakarta
Handayanto, E dan S. R. Utami. 2013. Dasar Manajemen Kesuburan Tanah. UB
Press. Malang
Zakariya, M. A. 2012. Budidaya Hijauan Pakan Dan Pastura. Skripsi Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta
Saragih, D., Herawati, H. dan Niar H. 2013. Pengaruh Dosis dan Waktu Aplikasi
Pupuk Urea dalam Meningkatkan Pertambahan Hasil Tanaman Jagung (Zea
Mays) Pioner 27. http://ejournal.unsri.ac.id. Diakses tanggal 5 Januari 2014
Iriany, R. N., M. Yasin. H.G dan Andi T. M. 2007. Asal, Sejarah, Evolusi dan
Taksonomi Tanaman Jagung. http://www.researchgate.net. Diakses tanggal
5 Januari 2014
Kuyik, A. R., Pemmy T., D. M. F Sumampow dan Tulugen. 2012. Respon
Tanaman Jagung Manis (Zea mays L.) Terhadap Pemberian Pupuk Organik
Cair. http://ejournal.unsrat.ac.id. Diakses tanggal 5 Januari 2014

LAMPIRAN

Tabel 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Jagung dan Jumlah Daun pada
Berbagai Perlakuan dengan Interval Pengamatan 1 Minggu
Minggu

PERLAKUAN
A
B
C
D
E
F
G
A
B
C
D
E
F
G
A
B
C
D
E
F
G

II

II

1
TT
7
7,1
6,5
5,2
6,3
6,5
7,8
7,75
6,5
5,25
3
6,25
5,75
8,5
10,75
10,25
8,55
7
8,5
7,5
10,2

Keterangan :
Minggu I = Tanggal 4 Desember 2013
Minggu II = Tanggal 11 Desember 2013
Minggu III = Tanggal 18 Desember 2013
TT

= Tinggi Tanaman (cm)

JD

= Jumlah Daun (helai)

ULANGAN/KELOMPOK
2
JD
TT
JD
2
4,5
2
2
3,75
2
2
4,85
2
2
6
2
2
4,4
2
2
5,65
2
2
5,75
2
3
6,85
2
4
7
3
3
5,75
2,5
2,5
7
2
6
6,75
3
2,5
7,5
3
3
6,75
3
3
9,25
2
3,5
10,75
3
3
7
2,5
2,5
9
2
3,5
9,25
3
2
11,25
3
3,5
10,5
3

3
TT
7,25
7
6,75
7,75
6
6,5
8
8,75
7,5
7,25
8,25
7
7
8,25
9,25
8,5
8,25
9,75
7,5
7,5
9,25

JD
1
1
1,5
1
1,5
1,5
1,5
3
3
3
3
2
2,5
4
2
2,5
2,5
3
2,5
3
2

Tabel 2. Analisis Ragam Tinggi Tanaman Minggu 1


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db
6
2
3
11

JK
4,42
16,49
6,60
27,51

KT
0,74
8,25
2,20

F Hitung
0,09tn
3,75 tn

F Tabel
8,94
9,55

Tabel 3. Analisis Ragam Tinggi Tanaman Minggu 2


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db
6
2
3
11

JK
9,21
8,72
14,50
32,44

KT
1,54
4,36
4,83

F Hitung
0,32 tn
0,90 tn

F Tabel
8,94
9,55

Tabel 4. Analisis Ragam Tinggi Tanaman Minggu 3


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db JK
KT
F Hitung F Tabel
6
11,79
1,96
0,33 tn
8,94
tn
2
3,55
1,78
0,30
9,55
3
17,90
5,97
11
33,24

Tabel 5. Analisis Ragam Jumlah Daun Minggu 1


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db
6
2
3
11

JK
0,14
2,38
0,29
2,81

KT
0,02
1,19
0,10

F Hitung
0,20 tn
11,90*

F Tabel
8,94
9,55

Tabel 6. Analisis Ragam Jumlah Daun Minggu 2


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db
6
2
3
11

JK
3,50
2,21
9,29
15,00

KT
0,58
1,11
3,10

F Hitung
0,19 tn
0,36 tn

F Tabel
8,94
9,55

Tabel 7. Analisis Ragam Jumlah Daun Minggu 3


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db
6
2
3
11

JK
1,12
0,93
3,24
5,29

KT
0,19
0,46
1,08

F Hitung
0,40 tn
0,43 tn

F Tabel
8,94
9,55

Tabel 8. Analisis Ragam Berat Segar Tanaman Jagung


SK
Perlakuan
Kelompok
Galat
Total

Db
6
2
3
11

JK
29,14
14,38
226,29
269,81

KT
F Hitung
4,86
0,06 tn
7,19
0,10 tn
75,43

F Tabel
8,94
9,55

Keterangan :
tn = Tidak ada perbedaan nyata
*= Berbeda nyata taraf 5%

Tabel 9. Data untuk Perhitungan Regresi Linear Sederhana antara Berat Segar
Tanaman Jagung dan Dosis Nitrogen
Perlakuan
X
Y
X2
A
0
12,67
0
B
20
10,33
400
C
40
10,33
1600
D
60
11,33
3600
E
90
11,33
8100
F
120
12,67
14400
G
200
13,67
40000
530,00
82,33 68100,00
Total
Rata-Rata 75,71429 11,7619
Garis regresi y = 10,84 + 0,0121x

XY
0,00
206,67
413,33
680,00
1020,00
1520,00
2733,33
6573,33

Y2
160,44
106,78
106,78
128,44
128,44
160,44
186,78
978,11

1. Tata Letak percobaan


U
Ulangan 1

Ulangan 2

Ulangan 3

2.Dokumentasi Pengamatan

Gambar 1. Tata letak percobaan

Gambar 2.Pengambilan Tanaman

Gambar 3.Panjang tanaman

Gambar 4. Berat segar tanaman

Gambar 5. Tata letak percobaan

Gambar 6.Penjarangan Tanaman