You are on page 1of 3

Nama

: Rizki Kurnia R. H.
NIM
: 041113255
Kelas/ No. Absen : M/ 58

Green Accounting
Isu-isu lingkungan sudah menjadi perhatian masyarakat terutama di mata dunia. Hal
tersebut dibuktikan dengan adanya berbagai macam peraturan serta konferensi hingga tingkat
internasional yang membahas upaya untuk mengurangi ancaman terhadap lingkungan.
Bidang industri menjadi penyumbang ancaman terhadap lingkungan yang paling besar.
Limbah beserta emisi yang dihasilkan terkadang sering diabaikan sehingga menimbulkan
ancaman yang tidak hanya sementara tapi juga bisa dalam jangka waktu panjang. Oleh karena
itu, saat ini mulai banyak perusahaan terutama di bidang industri dan pertambangan yang
melakukan CSR (Corporate Social Responsibilities) sebagai salah satu upaya untuk
mengurangi ancaman limbah dan gas emisi yang dihasilkan terhadap lingkungan.
Istilah Green Accounting mungkin masih terasa asing di telinga masyarakat umum,
namun tidak halnya bagi para akuntan. Green Accounting itu sendiri merupakan jenis
akuntansi lingkungan yang menggambarkan upaya untuk menggabungkan manfaat
lingkungan dan biaya ke dalam pengambilan keputusan ekonomi atau suatu hasil keuangan
usaha. Saat ini, perusahaan di samping memburu laba, dituntut untuk melaksanakan tanggung
jawab sosial korporat dimana lingkungan termasuk didalamnya. Green Accounting secara
konsep sudah berkembang di kalangan masyrakat Eropa sekitar tahun 1970-an yang diikuti
penelitian-penelitian terkait hal tersebut pada tahun 1980-an.
Untuk negara-negara berkembang pengungkapan Green Accounting dalam bentuk
laporan masih sangat kurang. Meski aktivitas CSR telah dilakukan, namun tidak semua
perusahaan mengungkapkannya dalam bentuk laporan bak itu tercantum bersama laporan
keuangan tahunan atau terpisah. Jenis laporan itu termasuk laporan berkelanjutan dimana
untuk ketentuannya belum dinyatakan wajib untuk dilaksanakan di perundang-undangan.
Lain halnya dengan laporan keuangan yang memang diwajibkan bagi Perseroan Terbatas. Hal
tersebut menunjukkan bahwa perkembangan praktik laporan berkelanjutan di Indonesia
terbilang lambat bila dibandingkan negara lainnya.
Sumber :

JAAI VOLUME 12 NO. 2, DESEMBER 2008: 149 165

Nama
: Rizki Kurnia R. H.
NIM
: 041113255
Kelas/ No. Absen : M/ 58

Carbon Accounting
Kita seringkali merasakan cuaca yang tidak menentu seperti panas namun tiba-tiba
saja tiga hari kemudian hujan. Atau tidak sedikit yang terkena penyakit diare bahkan demam
berdarah. Kedua hal tersebut bisa dikatakan sebagai dampak dari pemanasan global atau
yang lebih dikenal dengan Global Warming. Global Warming sudah menjadi isu
internasional hingga diadakannya kerjasama antar negara yang menghasilkan Kyoto Protocol
pada tahun 1997 di Jepang. Kyoto Protocol berisikan tentang negara-negara industri yang
memegang presentase paling besar dalam mengeluarkan gas-gas rumah kaca untuk
memotong emisi mereka ke tingkat 5% di bawah emisi tahun 1990 dimana pengurangan
tersebut harus dapat dicapai paling lambat tahun 2012. Namun pada ahirnya
pengimplementasiannya tidak seperti yag diperkirakan, karena banyak negara yang menolak
karena merasa biaya yang dikeluarkan untuk pemotongan emisi sangat tinggi. Hal itu
dikemukan para pelaku industri batubara, minyak dan industri lain yang memerlukan bahan
bakar fossil dalam proses produksinya.
Carbon Accounting merupakan pengukuran, pencatatan, dan pelaporan karbon yang
dihasilkan perusahaan dimana gas emisi karbon yang diukur adalah CO2 . Carbon
Accounting sendiri merupakan implikasi dari Carbon Cost Management dimana Carbon Cost
Management merupakan pengelolaan emisi CO2 dalam aktivitas produksi. Dengan Carbon
Accounting, perusahaan dapat mengukur emisi karbon yang dihasilkan, menyiapkan strategi
untuk menguranginya, menctatat hingga melaporkan hasilnya pada stakeholder. Penerapan
Carbon Accounting menjadi bentuk pertanggung jawaban atas Kyoto Protokol dan telah
menjadi perhatian dunia.
Ada dua cara untuk mengurang Carbon Accounting yaitu (1) Mengurangi emisi
karbon itu sendiri (2) Membeli kredit karbon dari perusahaan lain. Kedua cara tersebut samasama mengeluarkan biaya, tetapi biaya tersebut dapat dilaporkan perusahaan berupa
pernyataan bahwa hal tersebut merupakan bentuk kontribusi dalam mengurangi emisi gas.
Pelaporan Carbon Accounting dapat digabungkan dengan environmental accounting
reporting. Di bawah ini merupakan contoh tabel pelaporan Carbon Accounting.

Nama
: Rizki Kurnia R. H.
NIM
: 041113255
Kelas/ No. Absen : M/ 58
Di Indonesia, penerapan Carbon Accounting hanya masih sebatas pada karbon yang
dihasilkan perhutanan. Banyaknya hutan yang dimiliki di Indonesia sebagai aset bisa dibilang
sangat menguntungkan terutama dalam kerjasama dengan negara maju seperti yang terjadi
antara Indonesia dengan Australia melalui program Indonesian National Carbon Accounting
System (INCAS). Indonesian-Australian Forest Carbon Partnership (IAFCP) menyediakan
baik pendanaan maupun dukungan teknis untuk membangun kapasitas Indonesia dalam
pengembangan dan pengoperasian sistem perhitungan karbon hutan yang berlaku di tingkat
nasional.
Sumber :
http://issuu.com/iafcp/docs/fact_sheet_incas_-_bahasa
JURNAL AKUNTANSI KONTEMPORER, VOl. 3 NO. I, JANUARI 2011
Hal 79-92
http://id.wikipedia.org/wiki/Protokol_Kyoto