You are on page 1of 3

KLORAMFENIKOL

Kloramfenikol diisolasi pertama kali dari Streptomyces venezuelae. Karena daya anti
mikrobanya yang kuat, maka penggunaannya meluas hingga tahun 1950, dan diketahui obat
ini dapt menimbulkan anemia aplastik yang fatal. Karena toksisitasnya, penggunaan obat ini
dibatasi hanya untuk mengobati infeksi yang mengancam kehidupan dan tidak ada alternatif
lain.
a. Mekanisme kerja
Kloramfenikol bekerja dengan mengikat sub unit 50S ribosom bakteri dan menghambat
sintesis protein kuman. Yang dihambat ialah enzim peptidil trasferase yang merupakan
katalisator untuk pembentukan ikatan-ikatan peptida pada proses sintesis protein kuman.
Karena kemiripan ribosom mitokondria mamalia dengan bakteri, sintesis protein pada
organela ini dihambat dengan kadar klorafenikol tinggi yang dapat menimbulkan toksisitas
sumsum tulang. Efek toksiknya pada sel mamalia terutama terlihat pada sistem hemopoetik
dan diduga berhubungan dengan mekanisme kerja obat ini.
b. Spektrum antibakteri
Spektrum
antibakterinya
meliputi
D.pneumoniae,
Streptomyces
pyogenes,
Streptomycesviridans, Neiserria, Haemophilus, Bacillus sp, Listeria, Bartonella, Brucella,
P.multocida, C.diphtheriae, Chlamydia, Mycoplasma, Rickettsia, Treponema, dan
kebanyakan kuman anaerob. Beberapa strain D.pneumoniae, H.influenzae dan N.meningitidis
brsifat resisten; S.aureus umunya sensitif, sedang Enterobactericeae banyak yang telah
resisten. Obat ini juga efektif terhadap kebanyakan strain E.coli, K.pneumoniae dan
Pr.mirabilis . Kebanyakan strain Serratia, Providencia, dan Proteus rettgerii resisten, juga
kebanyakan strain Pseudomonas aeruginosa danstrain tertentu Salmonella typhi.
c. Farmakokinetik
Setelah pemberiaan oral, kloramfenikol diserap dengan cepat. Kadar punck dalam darah
tercapai dalam 2 jam. Untuk anak diberikan ester kloramfenikol palmitat atau stearat yang
tidak pahit. Bentuk ester ini akan terhidrolisis di usus dan membebaskan kloramfenikol. Masa
paruh eliminasi pada orang dewasa kurang lebih 3 jam, pada bayi umur kurang 2 minggu
sekitar 24 jam. Kira-kira 50% kloramfenikol dalam darah terikat dengan albumin. Obat ini
diditribusikan secara baik ke berbagai jaringan tubuh, termasuk otak, cairan cerebrospinal

dan mata. Dalam hati kloramfenikol mengalami konyugasi dengan asam glukoronat oleh
enzim glukuronil transferase. Dalam waktu 24 jam, 80-90% kloramfenikol yang diberikan
per oral telah diekskresi melalui urin, hany 5-10% dalam bentuk aktif. Sisanya terdapat dalam
bentuk glukuronat atau hidrolisat lain yang tidak aktif. Bentuk aktif kloramfenikol diekskresi
terutam melalui filtrat glomerulus sedangkan metabolitnya dengan sekresi tubulus.

d. Efek samping
Reaksi hematologik. Terdapat dalam 2 bentuk. Pertama yaitu reaksi toksik dengan
manifestasi depresi sumsum tulang. Kelainan darah yng terlihat yaitu anemia,
retikulositopenia, peningkatan serum ion dan iron binding capacity serta vakuolisasi seri
eritrosit bentuk muda. Bentuk kedua prognosinya sangat buruk karena anemia yang timbul
bersifat irreversibel. Bentuk yang hebat bermanifestasi sebagai anemia aplastik dengan
pansitopenia.

e. Penggunaan klinik
Demam tifoid.
Walaupun akhir-akhir ini sering dilaporkan adanya resistensi S.typhi terhadap kloramfenikol,
tapi masih tetap sebagai pilhan utama untuk penyakit ini. Untuk pengobatannya,
kloramfenikol diberikan 4 kali sehari 500 mg selama 2-3 minggu. Untuk anak 50-100
mg/kgBB sehari selama 10 hari. Dapat pula digunakan tiamfenikol dengan dosis 50 mg/kgBB
sehari pada minggu pertama dan diteruskan 1-2 minggu lagi dengan dosis separuhya.
Meningitis purulenta.
Kloramfenikol efektif untuk penyakit yang disebabkan H.influenzae ini. Untuk terapi awal
pada anak, kloramfenikol diberikan bersama dengan suntikan penisilin G.
Riketsiosis.
Tetrasiklin merupakan obat pilihan pertama untuk penyakit ini. Namun apabila tetrasiklin
tidak dapat diberikan, maka digunakan kloramfenikol dengan dosis awal 50 mg/kgBB
dilanjutkan dengan pemberian 1 g tiap 8 jam. Untuk anak kloramfenikol palmitat 100
mg/kgBB sehari. Dilanjutkan sampai 8 jam bebas demam.
Infeksi lain
Klorafenikol memliki efktivitas yang sama dengan tetrasiklin dalam pengobatan
lymphogranuloma venerum, psittcosis, infeksi mycoplasma pneumoniae dan
P.pestis. namun untuk kasus ini sebaiknya digunakan tetrasiklin yang toksisitasnya relatif
rendah. Kloramfenikol dapat digunakan untuk bruselosis dengan dosis 0,75-1 gram tiap 6 jam
bila tetrasiklin tidak dapat diberikan. Kloramfenikol dapat pula digunakan untuk mengatasi
infeksi kuman anaerobik yang berasal dari lumen usus.

f. Interaksi obat
Kloramfenikol mampu menghambat fungsi penggabungan oksidase hepatik sehingga dapat
menghambat metabolisme obat seperti warfarin, fenitoin, tolbutamid dan klopropamid,
sehingga meningkatkan konsentrasi dan efeknya.