You are on page 1of 4

ANALISIS KASUS

Seorang bayi perempuan berusia 22 hari, bertempat tinggal Desa Tegal Rejo Dusun 4
Tugu Mulyo , agama Islam, bangsa Indonesia, MRS 1 April 2012 .
Datang dengan keluhan utama perut kembung sejak satu minggu SMRS, BAB satu
kali dalam seminggu, sebanyak satu sendok makan, lendir(-), darah(-), muntah ada, + 5 kali,
sebanyak satu sendok , tidak menyemprot, warna kehijauan, demam ada tapi

tidak

terlalu tinggi, dan terdapat riwayat mekoneum keluar saat usia penderita 2 hari.
Pada pemeriksaan fisik status generalis dalam batas normal. Pada status lokalis di
regio abdomen, inspeksi tampak cembung, pada palpasi tegang, perkusi tympani, auskultasi
bising usus (+) normal. Pada rektal toucher didapatkan TSA baik, ampula rektum kosong,
feses menyemprot (-), pada sarung tangan feses (+).
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien ini didiagnosa menderita
penyakit Hirschsprung.

Penatalaksanaan pada penderita di bangsal yaitu IVFD D5% x

gtt/menit, Cefotaxim 2x150 mg, gentamisin 2x 7,5 mg, pemasangan NGT, pemasangan
Scorstein dengan kateter.
Pada kasus ini, untuk menegakkan diagnosis diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu:
1.

Foto polos abdomen (BNO)


Foto polos abdomen dapat memperlihatkan loop distensi usus dengan
penumpukan udara di daerah rektum. Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan
yang penting pada penyakit Hirschsprung. Pada foto polos abdomen dapat dijumpai
gambaran obstruksi usus letak rendah, meski pada bayi sulit untuk membedakan usus
halus dan usus besar.
2. Barium enema
o

Tampak daerah penyempitan di bagian rektum ke proksimal yang panjangnya


bervariasi;

Terdapat daerah transisi, terlihat di proksimal daerah penyempitan ke arah


daerah dilatasi;

Terdapat daerah pelebaran lumen di proksimal daerah transisi

3. Anal manometri (balon ditiupkan dalam rektum untuk mengukur


tekanan dalam rektum)
Sebuah balon kecil ditiupkan pada rektum. Ano-rektal manometri mengukur
tekanan dari otot sfingter anal dan seberapa baik seorang dapat merasakan perbedaan
sensasi dari rektum yang penuh. Pada anak-anak yang memiliki penyakit Hirschsprung
otot pada rektum tidak relaksasi secara normal. Selama tes, pasien diminta untuk
memeras, santai, dan mendorong. Tekanan otot spinkter anal diukur selama aktivitas. Saat
memeras, seseorang mengencangkan otot spinkter seperti mencegah sesuatu keluar.
Mendorong, seseorang seolah mencoba seperti pergerakan usus. Tes ini biasanya berhasil
pada anak-anak yang kooperatif dan dewasa.
4.

Biopsi rektum
Ini merupakan tes paling akurat untuk penyakit Hirschsprung. Dokter

mengambil bagian sangat kecil dari rektum untuk dilihat di bawah mikroskop. Anak-anak
dengan penyakit Hirschsprung akan tidak memiliki sel-sel ganglion pada sampel yang
diambil. Pada biopsi hisap, jaringan dikeluarkan dari kolon dengan menggunakan alat
penghisap. Karena tidak melibatkan pemotongan jaringan kolon maka tidak diperlukan
anestesi. Jika biopsi menunjukkan adanya ganglion, penyakit Hirschsprung tidak terbukti.
Jika tidak terdapat sel-sel ganglion pada jaringan contoh, biopsi full-thickness biopsi

diperlukan untuk mengkonfirmasi penyakit Hirschsprung. Pada biopsi full-thickness lebih


banyak jaringan dari lapisan yang lebih dalam dikeluarkan secara bedah untuk kemudian
diperiksai di bawah mikroskop. Tidak adanya sel-sel ganglion menunjukkan
penyakit Hirschsprung.
Penatalaksanaan yang diberikan pada pasien ini dibangsal belum tepat.
Berdasarkan Principles Of Surgery Edisi 8,penatalaksanaan pada pasien Hirschsprungadalah sebagai berikut:
-

Resusitasi dengan cairan intravena

Antibiotik spektrum luas diberikan

Pemasangan NGT

Decompresi kolon dengan rectal tube, diikuti dengan washout serial menggunakan
Nacl 0,9% hangat

Direncanakan untuk kolostomi.

Setelah dilakukan kolostomi direncanakan untuk anastomosis dan abdominal definitif


(Pulltrough) setelah berat badan anak >5 kg (10 pon).
Kolostomi dilakukan pada:
1.

Pasien neonatus. Tindakan bedah definitif langsung tanpa kolostomi banyak


menimbulkan komplikasi dan kematian. Kematian dapat mencapai 28,6%
sedangkan pad bayi 1,7%. Kematian ini disebabkan oleh kebocoran anastomosis
dan abses dalam rongga pelvis.

2. Pasien anak dan dewasa yang terlambat terdiagnosis. Kelompok pasien ini
mempunyai

kolon

yang

sangat

terdilatasi,

yang

terlalu

besar

untuk

dianastomosiskan dengan rektum dalam bedah definitif. Dengan tindakan


kolostomi, kolon dilatasi akan mengecil kembali setelah 3 sampai 6 bulan pasca
bedah, sehingga anastomosis lebih mudah dikerjakan dengan hasil yang lebih
baik.
3. Pasien dengan enterokolitis berat dan dengan keadaan umum yang buruk.
Tindakan ini dilakukan untuk mencegah komplikasi pasca bedah, dengan
kolostomi pasien akan cepat mencapai perbaikan keadaan umum.

b. Tindakan Bedah Definitif ada 3 metode:


1. Metode Swenson: pembuangan daerah aganglion hingga batas sphincter ani internadan
dilakukan anastomosis coloanal pada perineum.
2. Metode Duhamel: daerah ujung aganglionik ditinggalkan dan bagian yangganglionik ditarik ke bagian
belakang ujung daerah aganglioner. stapler GIAkemudian dimasukkan melalui anus.
3.Teknik Soave: pemotongan mukosa endorectal dengan bagian distal aganglioner
Prognosis pasien ini quo ad vitam adalah bonam, dan quo ad functionam adalah dubia
ad bonam. Setelah operasi pasien-pasien dengan penyakit hirschprung biasanya berhasil baik,
walaupun terkadang ada gangguan buang air besar.