You are on page 1of 6

PENENTUAN KADAR BESI (Fe) DALAM AIR MINUM

AQUA GALON DENGAN METODE KOLORIMETRI


DAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VISIBLE
Oleh : Puspagita Wardhani (260110120087)
Fakultas Farmasi, Universitas Padjajaran
e-mail : pusgit@gmail.com

PENDAHULUAN
Dewasa ini masalah utama sumber
air meliputi kuantitas dan kualitas air yang
semakin menurun. Sumber air terganggu
karena hutan di hulu gundul dan daerah
tangkapan air menjadi lahan pertanian
padat hunian, sedangkan penurunan
kualitas air disebabkan karena kegiatan
masyarakat, indusri dan kegiatan lain yang
berdampak negatif terhadap sumber air
(Setyorini,2006).
Faktor lingkungan alami berupa
keadaan geologis dan geografis merupakan
penyebab penurunan kualitas air. Salah
satu kondisi geologis yang mempengaruhi
kualitas air adalah adanya unsur besi.
Unsur besi umumnya ditemukan dalam
perairan dengan kondisi anaerob. Air tanah
dalam
memiliki
kandungan
karbondioksida yang lebih besar disertai
dengan oksigen yang terlarut rendah
bahkan terbentuk suasana anaerob.
Kondisi ini akan melarutkan besi karbonat
sehingga terjadi peningkatan kandungan
besi dalam air. Pada perairan dengan
kondisi aerob,kadar besi tidak lebih dari
0,3mg/liter,pada perairan alami kadar besi
sekitar 0,05-0,2 mg/liter. Kadar besi yang

berlebih dalam air dapat menimbulkan bau


dan rasa yang tidak enak pada
minuman,kekeruhan, warna kekuningan,
dan pengendapan pada dinding pipa
sehingga
pipa
tersumbat
serta
pertumbuhan bakteri besi (Setyorini,2006).
Besi secara farmakologi digunakan
sebagai zat penambah darah bagi penderita
anemia. Salah satu bentuk garam besi yang
digunakan sebagai komponen zat aktif
dalam sediaan penambah darah adalah besi
(II) sulfat, yaitu besi bervalensi dua atau
fero. Hal ini berkaitan dengan kondisi
tubuh manusia yang lebih mudah
menyerap besi dua daripada besi
bervalensi tiga. Sifat kimia besi yang
sangat dikenal adalah mudah teroksidasi
oleh oksigen dari udara dan oksidator
lainnya, sehingga besi umumnya dijumpai
sebagai besi bervalensi tiga. Pada kondisi
tertentu dimana kurang kontak dengan
udara, besi berada sebagai besi bervalensi
dua (Watulingas,2008).
Spektrofotometer UV-Vis (Ultra
Violet-Visible) adalah salah satu dari
sekian banyak instrumen yang biasa

digunakan dalam menganalisa suatu


senyawa kimia. Spektrofotometer umum
digunakan karena kemampuannya dalam
menganalisa
begitu banyak senyawa
kimia serta kepraktisannya dalam hal
preparasi sampel apabila dibandingkan
dengan
beberapa
metode analisa
(Herliani, 2008).
Jika suatu molekul bergerak dari
suatu tingkat energy tinggi ke tingkat
energy rendah maka beberapa energy
akan dilepaskan. Energi ini dapat hilang
sebagai radiasi yang dapat dikatakan
telah terjadi emisi radiasi. Jika satu
molekul
dikenai
suatu
radiasi
elektromagnetik pada frekuensi yang
sesuai sehingga molekul energi tersebut
ditingkatkan ke level yang lebih tinggi,
maka terjadi peristiwa penyerapan
(absorbsi) energi oleh molekul. Supaya
terjadi absorbsi, perbedaan energi antara
dua tingkat energi harus setara dengan
energi
foton
yang
diserap
(Sastrohamidjojo, 1991).
Persyaratan yang harus dipenuhi
untuk absorbsi sinar tampak adalah
larutan harus berwarna.Spektroskopi UVVis digunakan untuk cairan berwarna
(Sastrohamidjojo,1991).
Tujuan dari percobaan ini adalah
menentukan serapan maksimum suatu
larutan
pada
panjang
gelombang
tertentu, membuktikan Hukum Beer
Lambert yang di tuangkan dalam bentuk
kurva, serta menentukan kadar Fe dalam
berbagai jenis sampel air. Prinsip yang
diterapkan,
antara lain
penentuan
panjang gelombang yang menunjukkan
serapan maksimum, hubungan serapan
dengan kadar zat dalam larutan (Hukum
Beer Lambert), dan penentuan kadar
suatu zat dalam larutan.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini bersifat penelitian
laboratorium, sampel yang dianalisa
adalah air minum galon bermerek Aqua.
Analisis dilakukan menggunakan metode
kolorimetri kemudian dilanjutkan dengan
pengukuran absorbansi menggunakan
spektrofotometer
visible
untuk
mengetahui serapan maksimum.
Alat yang digunakan yaitu kuvet,
beaker glass, gelas ukur, labu ukur 20ml,
pipet, dan spektrofotometer UV-Visible.
Bahan-bahan yang
digunakan
adalah aquadest, ferro amonium Sulfat,
hidroksilamonium sulfat, natrium asetat,
phenanthrolin, dan sampel air galon aqua.
Pembuatan larutan standar Fe(III) 10
ppm
Sebanyak 0,0702
g
Ferri
ammonium sulfat dilarutkan dengan
sedikit aquades di dalam labu ukur 1 L,
kemudian ditambahkansebanyak 2.5 mL
H2SO4 pekat. Aquades ditambahkan
hingga batas pada labu ukur, kocok
hingga homogen.
Pembuatan larutan Fenantrolin
Sebanyak
100
mg
1,10phenanthroline monohydrate dilarutkan
dalam 100 mL aquades. Larutan disimpan
pada botol coklat.
Pembuatan larutan Hydroxylamin
Sebanyak
2
gram
padatan
Hydroxylamin dilarutkan dalam 100 mL
aquades dalam beaker glass.

Pembuatan larutan Sodium Asetat

HASIL DAN PEMBAHASAN

Sebanyak 10 gram sodium asetat


dilarutkan dalam 100 mL aquades di dalam
beaker glass.

Kurva Standard Baku Fe(II)


1.2
0.943767
1
0.7287
0.8
0.399567
0.6
0.40.080066
y = 0.1537x + 0.0635
0.2 667
R = 0.9814
0.240433
0
0
2
4
6
8
Konsentrasi (ppm)

Lima buah labu ukur 20 ml


disisapkan dan kedalamnya dimasukan
masing-masing 12ml, 8ml, 4ml, 2ml, dan 1
ml larutan Fe. Pada masing masing labu
juga ditambahkan 0,2ml hidroksilamin,
1ml fenantrolin, 1,6 ml sodium asetat lalu
di ad dengan aquades hingga volume 20
ml dan dikocok hingga homogen. Larutan
blanko juga dibuat dengan komposisi yang
sama namun tidak diberi larutan Fe.
Larutan
standar
tersebut
memiliki
konsentrasi 6ppm, 4ppm, 2ppm, 1ppm,
0,5ppm. Masing-masing larutan diukur
absorbansinya dengan spektrofotometer
Uv-Vis pada panjang gelombang 511nm.
Kurva
kalibrasi
dibuat
dengan
membandingkan konsentrasi
terhadap
absorbansi maksimum.
Pembuatan
sampel

dan

pengujian

Absorbansi

Pembuatan kurva kalibrasi

KONSENTRASI
LARUTAN
STANDAR (ppm)

0,5

Absorbansi 1

0,0798

0,2405

0,3996

0,7286

0,9436

Absorbansi 2

0,0803

0,2404

0,3995

0,7287

0,9437

Absorbansi 3

0,0801

0,2404

0,3996

0,7288

0,944

Rata-rata

0,080067

0,240433

0,399567

0,7287

0,943767

Volume Sampel

larutan

Sebanyak 10ml sampel dimasukan


ke dalam labu ukur 20 ml. Kemudian ke
dalam labu juga ditambahkan
0,2ml
hidroksilamin, 1ml fenantrolin, 1,6 ml
sodium asetat dan di ad aquades hingga
volume 20 ml. Persamaan regresi linear
didapatkan dari kurva kalibrasi. Larutan
sampel
diukur absorbansinya. Nilai
absorbansi
sampel
diukur dengan
menggunakan
spektrofotometer
UVVisible. Nilai absorbansi
maksimum
sampel disubstitusi terhadap persamaan
regresi linear sehingga didapatkan nilai
konsentrasi Fe pada sampel.

10 ml

Absorbansi 1

0,0028

Absorbansi 2

0,0028

Absorbansi 3

0,0028

Dari kurva kalibrasi di atas,


didapatkan persamaan garis, yaitu y =
0,153x + 0,063 dengan x adalah
konsentrasi Fe dan y adalah respon
instrumen
atau absorbansi. Sampel
menunjukan absorbansi sebesar 0,0028
dan dapat dihitung konsentrasi Fe dalam
sampel sebesar :
y

= 0,153 x + 0,063

0,0028 = 0,153 x + 0,063


x

= - 0,393ppm

Analisis kadar Fe dalam sampel ini


menggunakan metode kolorimetri dan

spektrofotometri
UV-Vis.
Pada
spektrofotometri Visible yang digunakan
sebagai sumber sinar/energi adalah cahaya
tampak (visible). Cahaya
visible
termasuk spektrum elektromagnetik yang
dapat ditangkap oleh mata manusia.
Panjang gelombang sinar tampak adalah
380
sampai
750
nm. Digunakan
spektrofotometri visible karena logam
besi mempunyai panjang gelombang
lebih dari 400 nm, sehingga jika
menggunakan spektrofotometri
UV,
logam
sampel
dalam besi
tidak
terdeteksi. Prinsip kerja spektrofotometri
adalah menggunakan instrumen obat atau
molekul dengan radiasi elektromagnetik,
yang energinya sesuai. Interaksi tersebut
akan meningkatkan energi potensi
elektron pada tingkat eksitasi. Apabila
pada molekul yang sederhana tadi hanya
terjadi transisi elektronik pada suatu
macam gugus maka akan terjadi suatu
absorbsi yang merupakan garis spektrum.
Dalam penetuan kadar Fe dalam
sampel menggunakan spektrofotometri
visibel perlu dibuat larutan standar
terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk
membuat kurva kalibrasi yang nantinya
akan digunakan untuk menghitung kadar
besi dalam sampel air. Pertama-tama
ditambahkan ke dalam labu ukur 20 ml
masing-masing yaitu 12ml, 8ml, 4ml,
2ml, 1ml larutan standar ferri amonium
sulfat.
Setelah
itu
hydroxylamin
ditambahkan pada setiap labu sebanyak
0,2ml. Syarat analisis menggunakan
visibel adalah sampel yang di analisis
bersifat stabil membentuk kompleks dan
larutan berwarna. Oleh karena itu,
dalam penentuan kadar besi dalam air,
perlu ditambahkan hydroxylamin untuk
mereduksi Fe3+ menjadi Fe 2+. Besi
dalam keadaan Fe2+ akan lebih stabil

dibandingkan besi Fe3+. Setelah itu


pada masing-masing tabung ditambahkan
1,1-phenanthroline sebanyak 1ml. Dalam
keadaan dasar, larutan besi tidak
berwarna sehingga perlu ditambahkan
larutan
1,1-phenanthroline
agar
membentuk
kompleks larutan warna.
Sampel
yang dapat dianalisa dengan
metode ini hanya sample yang memiliki
warna. Hal ini menjadi kelemahan
tersendiri dari metode spektrofotometri
visible. Oleh karena itu, untuk sample
yang tidak memiliki warna harus
terlebih dulu dibuat berwarna dengan
menggunakan reagent spesifik yang akan
menghasilkan senyawa berwarna. Reagent
yang digunakan harus betul-betul spesifik
hanya bereaksi dengan analit yang akan
dianalisa. Selain itu juga produk senyawa
berwarna yang dihasilkan harus benarbenar stabil. Kemudian ditambahkan
natrium asetat sebanyak 1,6ml dan
aquades hingga 20 ml. Fungsi dari
penambahan dari natrium asetat adalah
untuk meenjaga pH agar tetap berada
dalam skala 6-8, karena reaksi antara besi
dan
fenantrolin
merupakan
reaksi
kesetimbangan yang berlangsung pada
rentang pH 6-8. Penambahan larutan
natrium asetat seharusnya dilakukan
sebelum
penambahan
larutan
fenantrolin,namun pada prakteknya terjadi
kesalahan karena penambahan natrium
asetat dilakukan setelah penambahan
fenantrolin.
Hal
tersebut
akan
menyebabkan terbentuknya endapan fosfat
,cahaya yang diterima akan dihamburkan
dan menyebabkan nilai absorbansinya
rendah. Langkah selanjutnya adalah
penentuan panjang gelombang maksimum.
Rentang panjang gelombang yang diuji
adalah 400-600 nm. Dari
data
percobaan, pada panjang gelombang yang
berbeda zat sampel menyerap cahaya

dengan absorbansi yang berbeda pula.


Semakin besar panjang gelombang yang
diberikan
semakin
besar
pula
absorbansinya, namun pada keadaan
tertentu nilai absorbansi kembali menurun
dengan bertambahnya panjang gelombang.
Dari data percobaan didapatkan bahwa
pada panjang gelombang 511nm diperoleh
nilai absorbansi yang maksimal . Setelah
diukur
absorbansinya
menggunakan
spektrofotometri
Uv-vis
didapatkan
persamaan garis dari kurva kalibrasi yaitu
y = 0,153x + 0,063.
Kemudian dilakukan pembuatan
larutan sampel, dimana sampel sebanyak
10 ml dimasukan ke dalam labu ukur 20ml
dan ditambahkan 0,2 ml hidroksil
amonium klorida, 1 ml fenantrolin dan 1,6
ml natrium asetat. Selanjutnya dilakukan
pengukuran absorbansi sampel dan
didapatkan data absorbansi sampel sebesar
0,0028. Konsentrasi Fe dalam sampel air
aqua galon pun dapat ditentukan dengan
mengggunakan persamaan garis dari kurva
kalibrasi. Setelah dilakukan perhitungan
didapatkan konsentrasi Fe pada sampel
sebesar 0,393 ppm. Konsentrasi Fe pada
sampel bernilai negatif dimungkinkan
karena variasi konsentrasi standar yang
digunakan terlalu besar sedangkan kadar
Fe yang terdapat dalam sampel sangat
rendah. Variasi konsentrasi standar dibuat
besar karena pada konsentrasi larutan
standar besi (II) 0,1 ppm alat
spektrofotometer UV-Vis tidak dapat
mengukur absorbansi nya.
Dari hasil analisis kada Fe dalam
sampel dapat disimpulkan bahwa air aqua
galon merupakan air yang layak
dikonsumsi. Menurut Keputusan Menteri
Kesehatan
Republik
Indonesia Nomor 1405/menkes/sk/xi/2002

tentang
Persyaratan
Kesehatan
Lingkungan Kerja Perkantoran dan
industri terdapat pengertian mengenai Air
Bersih yaitu air yang dipergunakan untuk
keperluan sehari-hari dan kualitasnya
memenuhi persyaratan kesehatan air bersih
sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dan dapat diminum
apabila dimasak. Parameter kualitas air
bersih
yang
ditetapkan
dalam
PERMENKES 416/1990 terdiri atas
persyaratan fisik, persyaratan kimiawi,
persyaratan mikrobiologis. Persyaratan
fisik yang harus dipenuhi pada air minum
yaitu harus jernih, tidak berbau, tidak
berasa dan tidak berwarna. Sementara
suhunya sebaiknya sejuk dan tidak panas.
Selain itu, air minum tidak menimbulkan
endapan. Jika air yang dikonsumsi
menyimpang dari persyaratan ini, maka
sangat mungkin air telah tercemar. Dari
aspek kimiawi, bahan air minum tidak
boleh mengandung partikel terlarut dalam
jumlah tinggi serta logam berat (misalnya
Hg, Ni, Pb, Zn,dan Ag) ataupun zat
beracun seperti senyawa hidrokarbon dan
detergen. Ion logam berat dapat
mendenaturasi protein, disamping itu
logam berat dapat bereaksi dengan gugus
fungsi lainnya dalam biomolekul dan
sebagian akan tertimbun di berbagai organ
terutama saluran cerna,hati dan ginjal.
Persyaratan biologis yang harus dipenuhi
adalah air yang terbebas dari Bakteri
patogen yang tercantum dalam Kepmenkes
yaitu Escherichia Colli, Clostridium
Perfringens, Salmonella.
KESIMPULAN
Dari analisis kadar Fe pada sampel
didapatkan konsentrasi Fe sebesar
0,393ppm. Hal tersebut menunjukan

bahawa air
dikonsumsi.

sampel

layak

untuk

DAFTAR PUSTAKA
Herliani, An an. 2008.Spektrofotometri.
Pengendalian Mutu Agroindustri.
Program D4-PJJ.
Sastroamidjojo H. 1991. Spektroskopi.
Yogyakarta: Liberty. Hlm 11.
Setyorini.H.A.,
Kurniyati.
2006.
Gambaran Kadar Besi dalam Sumber
Air Rumah Tangga di Jakarta, Bogor,
Depok, Tangerang dan Bekasi. Media
Litbang kesehatan XVI Nomor 2.
Watulingas, Maasje Catherine. Aplikasi
Teknik Adisi Standar pada Penetapan
Kadar Besi (III) dalam Air Sungai
Karang Mumus dengan Spektronic 21D. Jurnal Kimia Mulawarman, Vol.6
No.1 Nopember 2008, ISSN 16935616. Jurusan Pendidikan Kimia
Universitas Mulawarman.