You are on page 1of 3

Jurnal Kimia dan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

Pengolahan Jerami Padi Melalui Amoniasi Urea dan Kotoran Ayam Sebagai Bahan Pakan Ternak
Ruminansia

Abstrak
Salah satu usaha yang sangat strategis di pedesaan untuk meningkatkan pendapatan penduduk adalah berternak.
Namun ada beberapa kendala yang sering terjadi, umumnya yaitu masalah pakan. Ketika musim kemarau tiba,
peternak sangat kesulitan mencari bahan pakan hijauan untuk ternak mereka. Salah satu alternative bijaksana
sebagai pengganti bahan pakan hijauan adalah menggunakan limbah pertanian yaitu jerami padi, karena
memenuhi aspek kuantitas dan kontinuitas. Untuk memenuhi aspek kualitas, jerami padi perlu diolah terlebih
dahulu agar dapat dimanfaatkan secara luas oleh ternak ruminansia. Salah satu solusi untuk meningkatkan
kualitas jerami padi adalah melakukan pengolahan jerami melalui amoniasi urea dan kotoran ayam. Pemilihan
kotoran ayam sebagai tambahan dalam proses ini karena memiliki keuntungan-keuntungan sebagai berikut:
sebagai enzim urease untuk mempercepat waktu pemeraman jerami amoniasi menjadi empat kali lipat lebih
cepat, dapat mengurangi pencemaran lingkungan, mudah diperoleh, dan mengandung protein kasar yang relatif
tinggi
sehingga
dapat
meningkatkan
kadar
nitrogen
jerami.

1.

PENDAHULUAN

Mata pencaharian penduduk pedesaan sebagian besar adalah bertani, terutama menanam padi serta usaha
lainnya seperti pertambakan dan peternakan. Meskipun peternakan sebagai usaha sampingan, namun peranan
ternak Nampaknya cukup penting bagi penduduk di daerah tersebut. Hampir setiap petani umumnya memiliki
ternak. Namun secara umum, baik usaha pertanian maupun peternakan di daerah pedesaan masih dilaksanakan
secara tradisional, sehingga tidak mengherankan hasil yang di peroleh relatif rendah.
Belum ada upaya untuk memelihara ternak secara intensif dengan cara mengandangkan dan
memberikan pakan secara cukup dan teratur, peternak biasanya membiarkan ternak kambing atau sapi mencari
makan sendiri di padang rumput atau dilahan tidur sekitar desa siang harinya, sedangkan malam harinya mereka
mengandangkan atau menambatkan ternak mereka. Rendahnya produksi ternak selain disebabkan oleh
kurangnya pengetahuan peternak mengenai cara pemeliharaan ternak yang benar, juga di sebabkan oleh
mahalnya harga konsentrat dan sulitnya hijauan pada saat-saat tertentu.
Dengan meningkatnya populasi ternak tentu membutuhkan hijauan yang lebih banyak dan berkualitas
tinggi. Namun penyediaan hijauan tersebut mengalami hambatan yang cukup serius. Bukan saja karena semakin
menyempitnya lahan yang digunakan untuk menanam rumput akibat terus meluasnya pemukiman penduduk,
tetapi juga karena adanya musim kemarau yang menyebabkan turunnya produksi hijauan. Oleh sebab itu
pengembangan ternak khususnya ruminansia dimasa mendatang akan lebih menguntungkan apabila dapat
mencari alternatif pengganti hijauan konvensional. Pemanfaatan limbah pertanian (jerami padi) sebagai pakan
ternak di harapkan dapat menjawab permasalahan di atas, karena di daerah pedesaan jumlah jerami padi sangat
melimpah. Dan tentunya jerami padi di daerah tersebut akan tersedia sepanjang tahun.

FakultasTeknik, Jurusan Teknik Industri (Renny Setyawati - 41614110104)

Jurnal Kimia dan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana

2.

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Jenis Limbah Usaha Peternakan


Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak,
rumah potong hewan, pengolahan produk ternak, dan sebagainya.Limbah tersebut meliputi limbah padat dan
limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan,embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk,
isi rumen, dan lain-lain(Sihombing, 2000). Semakin berkembangnya usaha peternakan, limbah yang
dihasilkansemakin meningkat.Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari species ternak, besar
usaha,tipe usaha dan lantai kandang. Kotoran sapi yang terdiri dari feces dan urine merupakanlimbah ternak
yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau
kambing, dan domba. Umumnya setiap kilogram susu yangdihasilkan ternak perah menghasilkan 2 kg
limbah padat (feses), dan setiap kilogram dagingsapi menghasilkan 25 kg feses (Sihombing, 2000).Menurut
Soehadji (1992), limbah peternakan meliputi semua kotoran yang dihasilkandari suatu kegiatan usaha
peternakan baik berupa limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat merupakan semua
limbah yang berbentuk padatan atau dalam fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari
pemotongan ternak). Limbah cair adalah semua limbah yang berbentuk cairan atau dalam fase cairan (air
seni atau urine, air dari pencucian alat-alat). Sedangkan limbah gas adalah semua limbah berbentuk gas
ataudalam fase gas.Pencemaran karena gas metan menyebabkan bau yang tidak enak bagi lingkungansekitar.
Gas metan (CH4) berasal dari proses pencernaan ternak ruminansia. Gas metan iniadalah salah satu gas
yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakanozon, dengan laju 1 % per tahun dan
terus meningkat. Apalagi di Indonesia, emisi metan per unit pakan atau laju konversi metan lebih besar
karena kualitas hijauan pakan yang diberikanrendah. Semakin tinggi jumlah pemberian pakan kualitas
rendah, semakin tinggi
2. Dampak Limbah Peternakan
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad
renik yang dapat menimbulkan pencemaran. Suatu studimengenai pencemaran air oleh limbah peternakan
melaporkan bahwa total sapi dengan berat badannya 5.000 kg selama satu hari, produksi manurenya dapat
mencemari 9.084 x 10 7 m3
air. Selain melalui air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara biologis yaitusebagai media
untuk berkembang biaknya lalat. Kandungan air manure antara 27-86 %merupakan media yang paling baik
untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat,sementara kandungan air manure 65-85 % merupakan
media yang optimal untuk bertelur lalat.Kehadiran limbah ternak dalam keadaan keringpun dapat
menimbulkan pencemaranyaitu dengan menimbulkan debu. Pencemaran udara di lingkungan penggemukan
sapi yang paling hebat ialah sekitar pukul 18.00, kandungan debu pada saat tersebut lebih dari 6000mg/m3,
jadi sudah melewati ambang batas yang dapat ditolelir untuk kesegaran udara dilingkungan (3000 mg/m3).
Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak ruminansia ialah meningkatnya kadar nitrogen.
Senyawa nitrogen sebagai polutanmempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya dapat
menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses
eutrofikasi, penurunankonsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi yang terjadi di dalam air
yangdapat mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air (Farida, 1978).Hasil penelitian dari limbah cair
Rumah Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta yangdialirkan ke sungai Buaran mengakibatkan kualitas air
menurun, yang disebabkan olehkandungan sulfida dan amoniak bebas di atas kadar maksimum kriteria
kualitas air. Selain ituadanya

FakultasTeknik, Jurusan Teknik Industri (Renny Setyawati - 41614110104)

Jurnal Kimia dan Industri, Jurnal 2014 Universitas Mercubuana


3. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Limbah pertanian jerami ternyata sangat potensial bila dimanfaatkan sebagai pakan ternak ruminansia
karena jumlahnya melimpah sepanjang tahun di daerah pedesaan.
2. Sebelum digunakan sebagai pakan ternak, jerami padi perlu di olah dengan cara amoniasi untuk
meningkatkan gizi dan daya cerna.
3. Amoniasi dengan campuran urea dan kotoran ayam memiliki beberapa keuntungan diantaranya adalah
waktu pemeramannya lebih cepat, bahan-bahan tersebut mudah didapat dan relatif murah, dapat
mengurangi pencemaran lingkungan akibat bau busuk kotoran ayam, mengandung protein lebih besar.

4. SARAN
Diharapkan kepada masyarakat agar menghargai limbah dan miningkatkan kualitasnya, karena limbah
khususnya limbah pertanian masih dapat dijadikan alternatif pengganti hijauan sebagai bahan pakan ternak
ruminansia.

5.

DAFTAR PUSTAKA
1. Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran Limbah Organik LainSebagai
Pakan atau Media Produksi Kokon dan Biomassa Cacing Tanah
Eisenia foetida savigry. Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. IPB, Bogor.
2. Nurtjahya, Eddy. Dkk. 2003. Pemanfaatan limbah ternak ruminansia untuk
mengurangi pencemaran lingkungan. Makalah Pengantar Falsafah Sains. Institut Pertanian
Bogor.Bogor.
3. Sofyadi Cahyan, 2003. Konsep Pembangunan Pertanian dan Peternakan Masa
Depan. BadanLitbang Departemen Pertanian. Bogor.
4. Sihombing D T H. 2000. Teknik Pengelolaan Limbah Kegiatan/Usaha
Peternakan. PusatPenelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian, Institut
Pertanian Bogor.
5. Soehadji, 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan dan Penanganan
Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.
6. Soeharsono, 2002. Anthrax Sporadik, Tak Perlu Panik . Dalam kompas, 12 September
2002,http://www.kompas.com/kompas-cetak/0209/12/iptek/anth29.htm
7. Widodo, Asari, dan Unadi, 2005. Pemanfaatan Energi Biogas Untuk Mendukung Agribisnis Di
Pedesaan.Publikasi Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian Serpong.

6.

SUMBER
1. http://www.academia.edu/3856593/Limbah_Peternakan
2. http://lensapac.blogspot.com/2011/02/contoh-karya-ilmiah.html

FakultasTeknik, Jurusan Teknik Industri (Renny Setyawati - 41614110104)