Вы находитесь на странице: 1из 34

ENDAPAN SKARN (SKARN DEPOSIT) DAN

ENDAPAN EPITHERMAL

1.

ENDAPAN SKARN (SKARN DEPOSIT)

1.1

Pendahuluan
Endapan skarn pertama kali dinyatakan sebagai batuan metamorf hasil

kontak antara batuan sedimen karbonatan dengan intrusi magma oleh ahli
petrologi metamorf, dengan terjadi perubahan kandungan batuan sedimen yang
kaya karbonat, besi, dan magnesium menjadi kaya akan kandungan Si, Al, Fe dan
Mg dimana proses yang bekerja berupa metasomatisme pada intrusi atau di dekat
intrusi batuan beku (Best 1982).
Endapan skarn terbentuk sebagai efek dari kontak antara larutan
hidrothermal yang kaya silika dengan batuan sedimen yang kaya kalsium. Proses
pembentukannya diawali pada keadaan temperatur 400C - 650C dengan
mineral-mineral yang terbentuk berupa mineral calc-silicate seperti diopsid,
andradit, dan wollastonit sebagai mineral-mineral utama pembawa mineral bijih
(Einaudi et al. 1981). Tapi terkadang dijumpai juga pembentukan endapan skarn
juga terbentuk pada temperatur yang lebih rendah, seperti endapan skarn yang
kaya akan kandungan Pb-Zn (Kwak 1986). Pengaruh tekanan yang bekerja selama
pembentukan endapan skarn bervariasi tergantung pada kedalaman formasi
batuan.
Jadi Skarn tipe deposit terbentuk dari kontak regional metamorphisme dan
proses dari metasomatisme yang mana fluidanya berasal dari magma,

metamorphic, meteoric dan air laut (marine origin). Disekitar kontak tersebut
terdapat sesar mayor dan zona shear yang besar sebagai media lewatnya fluida ,
pada sistem geothermal dangkal, yang berada di bawah samudera. Pada fase
tersebut, terjadilah metamorfisme yang membentuk ofcalc-silicate yang sangat
luas dan bermacam- macam, namun biasanya didominasi oleh mineral garnet dan
piroksin.

1.2

Klasifikasi Pembagian Skarn Tipe Deposit

1.2.1

Klasifikasi Bedasarkan Batuan Yang Terubahkan

Skarns dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu Exoskarn dan endoskarn.
Exoskarn dan endoskarn adalah terminologi umum yang digunakan untuk
menandai batuan sedimen dan batuan beku, kandungan magnesium dan kalsit
skarn komposisinya mendominasi pada protolith dan menghasilkan skarn mineral.
Hal Atersebut dapat dikombinasikan, seperti di exoskarn magnesian yang berisi
forsterite-diopside skarn membentuk dolostone.
Calc-Silicate hornfels adalah suatu istilah deskriptif yang sering digunakan
untuk batuan calc-silicate yang berbutir halus, yang diakibatkan oleh
metamorphism bukan dari batuan karbonat tidak murni seperti silt batu gamping
atau kalkarenit.
Reaksi skarns dapat terbentuk dari isochemical metamorphism, serpih dan
karbonat lapisan tipis, dimana perpindahan komponen metasomatic bersebelahan
dengan intrusi berskala kecil (seperseratus meter) ( e.g. Vidale, 1969; Zarayskiy et
al., 1987). Skarnoid adalah suatu istilah deskriptif untuk batuan calc-silicate yang

mana secara relatif berbutir halus, iron-poor, dan mencerminkan, sedikit bagian,
pengontrol komposisi dari protolith ( Korzkinskii, 1948; Zharikov, 1970). Secara
genetik, skarnoid adalah intermediate/antara suatu metamorphic hornfels dan
suatu skarn metasomatic, berbutir kasar.
Karena

semua

terminologi

dariprotolith cenderung

untuk

yang

terdahulu,

membentuk

tekstur
tekstur

dan
dan

komposisi
komposisi

sertamenghasilkan skarn. Di dalam kontrak, deposit skarn paling ekonomis


diakibatkan oleh perpindahan metasomatic besar-besaran,di mana komposisi
cairan/fluida menghasilkan skarn dan mineral bijih.
Ini menjadi model bagi kebanyakan orang tentang gambaran " klasik" skarn
deposit. Yang ironisnya, di dalam "klasik" skarn tempat yang diuraikan oleh
Tornebohm pada Persberg, skarn telah berkembang selama metamorphism
regional formasi Proterozoic yang mengandung kalkarenit.
Tidak semua skarns mempunyai mineralisasi ekonomi; skarns yang berisi
mineral bijih disebut skarn deposit. Di dalam skarn deposit yang paling besar,
skarn dan mineral bijih diakibatkan oleh hydrothermal sistem yang sama,
mungkin ada perbedaan penting di dalam time/space distribusi dari mineral ini
dalam skala lokal. Walaupun jarang, hal ini juga dapat menyebabkan terbentuk
skarn oleh metamorphism dalam pre-existing deposit bijih seperti telah diusulkan
untuk Aguilar, Argentina ( Gemmell et al., 1992), Franklin, AS ( Johnson et al.,
1990), dan ( Hodgson, 1975).
Tektonik setting berada di tepi benua karbonat sequent (Continental
margin), andean type pluton

Host rock dari tipe skarn ini berhubungan dengan intrusi stock porphiritic, dikes,
breksi pipes, qoartz diorit, granodiorit, monzogranit dan komposisi, batuan
karbonat, kalkarenit vulkanik dan tuff. Cu skarn yang berada di busur kepulauan
juga berasosiasi dengan intrusi dari batuan mafic (quartz diorit dan granodiorit).
Saat batuan tepi benua terbentuk kemudian berasosiasi dengan material batuan
felsik .
Bentuk dari skarn deposit, akan mengalami ubahan yang sangat kuat
berbentuk stratiform, tabular orebody, pipe, lensa, serta bentuknya yang berubah
ubah tergantung kepada kontak intrusinya. Teksturnya berbentuk Igneous textures
pada endoskarn. Massive granoblastik dengan ukuran kristal kasar sampai sedang,
massive granoblastic sampai berlapis pada exoskarn, sedikit hornfelsic textures.
Mineralisasi, sulfida sedang sampai kuat, kalkopirit, pyrit, magnetite, hadir
juga garnet pada piroksin zone. Bornit, kalkopirit, sphalerit, tennantite berada
pada wollastonite zone. Di daerah permukaan juga ditemui hematite, pyrhotite,
magnetite, predomynate,(zona oksidasi). Scheelite dan traces molybdenite,
bismuthinite, galena, cosalite, arsenopyrite, enargite, tennantite, loellingite,
cobaltite and tetrahedrite bisa juga hadir.
Alterasi, eksoskarn terjadi ubahan mineral garnet yang kuat ,kehadiran
piroksen, kandungan Fe yang tinggi, Al yang sedikit, Mn andradite granet, dan
diopsidik klinopiroksen. Mineral yang ada berasal dari intrusi stock dan batuan
ubahan marble, seperti diopside ,andradite (proximal); wollastonite, tremolite,
garnet, diopside, vesuvianite (distal). Alterasi yang kurang baik ditemukan pada
alterasi aktinolit, klorit,

Alterasi endoskarn terdiri dari alterasi potasik dengan mineral K-feldspar,


epidot, serisit, piroksen, garnet. Alterasi pilik tidak terlalu bagus hadir pada daerah
ini dengan kehadiran mineral aktinolit, klorit dan kumlulan mineral mineral
clay.
1.2.2

Klasifikasi Bedasarkan Batuan Yang Terubahkan

a.

Skarn Prograde
Mineral skarn pada tipe ini terbentuk pada suhu yang tinggi, dan terjadi

pada fase awal. Beberapa jenis mineral pencirinya adalah; garnet, klinopiroksen,
biotit, humit,dan montiselit.

Gambar 1.1
Skarn Prograde

b.

Skarn Retrograde
Minineral skarn pada tipe ini terbentuk pada suhu yang rendah. Beberapa

contoh mineral pencirinya adalah; serpentin, amfibol, tremolit, epidot, klorit dan
kalsit.

Gambar 1.1
Skarn Retrograde

1.3

Tektonik Setting
Klasifikasi tektonik yang sangat berguna dari deposit skarn seharusnya

mengelompokkan tipe skarn yang pada umumnya berada bersama dan


membedakannya yang secara khusus terdapat dalam tektonik setting yang khusus.
Sebagai contohnya, deposit skarn calcic Fe-Cu sebenarnya hanyalah tipe skarn
yang ditemukan dalam wilayah busur kepulauan samudra. Banyak dari skarn ini
juga diperkaya oleh Co, Ni, Cr, dan Au. Sebagai tambahan, beberapa skarn yang
mengandung emas yang bernilai ekonomis muncul dan telah terbentuk pada back
arc basin yang berasosiasi dengan busur volkanik samudra (Ray et al., 1988).
Beberapa kenampakan kunci yang menyusun skarn tersebut terpisah dari
asosiasinya dengan magma dan kerak yang lebih berkembang adalah yang
berasosiasi dengan pluton yang bersifat gabbro dan diorit, endoskarn yang
melimpah, metasomatisme yang tersebar luas dan ketidakhadiran Sn dan Pb.
Kebanyakan deposit skarn berasosiasi dengan busur magmatik yang
berkaitan dengan subduksi dalam kerak benua. Komposisi pluton berkisar dari

diorit sampai granit walaupun pada dasarnya memiliki perbedaan diantara tipe
skarn logam yang muncul untuk mencerminkan lingkungan geologi setempat
(kedalaman formasi, pola struktural dan fluida) lebih pada perbedaan pokok dari
petrogenesis (Nakano,et al., 1990). Sebaliknya, skarn yang mengandung emas
pada lingkungan ini berasosiasi dengan pluton yang tereduksi secara khusus yang
mungkin mewakili sejarah geologi yang khusus. Beberapa Skarn, tidak
berasosiasi dengan subduksi yang berkaitan dengan magmatisme. Pluton yang
berkomposisi granit, pada umumnya mengandung muskovit dan biotit primer,
megakristal kuarsa berwarna abu-abu gelap, lubang-lubang miarolitik, alterasi tipe
greisen, dan anomali radioaktif. Skarn yang terasosiasi, kaya akan timah dan
fluor walaupun induk dari elemen lain biasanya hadir dan mungkin penting secara
ekonomis. Perkembangan rangkaian ini termasuk W, Be, B, Li, Bi, Zn, Pb, U, F,
dan REE.

1.4

Macam Macam Endapan Skarn


Skarn merupakan endapan hidrotermal yang berasosiasi dengan batuan

karbonatan sepertilimestone atau dolostone. Larutan hidrotermal bergerak ke atas


dan mengintrusi area dengan dominasi batuan ini dan membentuk mineralisasi
yang dikenal dengan endapan skarn. Skarn bisa terbentuk sebagai deposit sendiri
atau berasosiasi dengan deposit lain seperti dengan porfiri. Endapan Skarn terdiri
dari beberapa macam, yaitu Au, Cu, Fe, Mo, Sn, W, dan Zn-Pb skarn deposits.
Pembagian tipe skarn didasarkan pada kenampakan megaskopisnya, seperti
komposisi protolith, tipe batuan, dan mineral ekonomis dominannya, serta genesa

pembentukannya, seperti mekanisme pergerakn dluida, suhu pembentukan dan


pengaruh aktivitas magma lainnya. Selain itu, endapan skarn juga dapat
menghasilkan endapan F, C, Ba Pt, U dan REE. Endapan skarn juga ekonomis
untuk ditambang sebagai mineral industri, seperti garnet dan wolframite.
1.4.1

Endapan skarn Tembaga (Cu)


Kebanyakan endapan skarn tembaga berhubungan dengan granodiorit

Calc-alkaline yang mengubah monzogranite di busur kepulauan pada tepi benua.


Intrusi ini merupakan tubuh bijih tembaga yang penting dalam pembentukan
porfiri tembaga yang terbentuk pada busur tepi benua sisi barat Amerika yang
berumur Mesozoikum dan Tersier, dan serupa dengan busur tepi benua Rusia yang
berumur Karbon. Sejumlah endapan skarn tembaga juga terbentuk pada busur
kepulauan kerak samudera yang berasosiasi dengan diorit kuarsa hingga
monzogranit plutonik, seperti pada Tambang Meme, Haiti.
Porfiri tembaga yang berasosiasi dengan endapan skarn dapat terbentuk
dengan dimensi yang sangat besar, hingga 500 juta ton pada tambang terbuka
penambangan bijih. Kebanyakan skarn Cu berasosiasi dengan tipe-I, pluton seri
magnetit pada lingkungan dangkal yang berbentuk stockwork, tersebar luas, dan
secara intensif terjadi alterasi hidrothermal (Meinert, 2005). Skarn tipe ini
didominasi oleh garnet andradit, diopside, vesuvianite, wallastonite, actinolite,
dan spidote. Hematit dan magnetit kemungkinan terbentuk dan secara lokal
membentuk lapisan yang padat. Skarn tembaga dizonakan oleh garnierit padat di
dekat pusat plutonik, diikuti peningkatan kandungan clinopiroksin dan vasuvianite
dan/atau wollastonite di daerah sekitar kontak dengan marmer. Pirit, kalkopirit

dan bornit merupakan sulfida yang paling melimpah, dan terbentuk jauh dari pusat
plutonik (Meinert 1992).
1.4.2

Endapan skarn Besi (Fe)


Endapan skarn telah lama menjadi sumber yang penting pada tambang

bijih besi dan magnetit di Cornwall, Pennsylvania, yang memasok kebutuhan akan
besi selama revolusi industri di Amerika Serikat. Ini adalah tambang tertua di
Amerika Utara. Pertambangan dimulai pada tahun 1737 dan pada tahun 1964, 93
juta ton bijih telah diproduksi dengan pasokan rata-rata ke pabrik 39,4% Fe dan
0,29% Cu, dengan hasil sampingan sejumlah kecil kobalt, emas dan perak
(Lapham 1968). Konsentrat pirit digunakan untuk menghasilkan asam sulfat, dan
sampai tahun 1953, ketika operasi tambang terbuka dihentikan, overburden
batugamping dihancurkan dan dijual sebagai agregat. Hasil yang tanggung dari
tambang di Cornwall adalah skarn besi yg mengandung kapur dan endapan skarn
tersebut berasosiasi dengan intrusives mulai dari gabro hingga diorit ke syenite,
sementara skarn besi magnesium biasanya berasosiasi dengan granit atau
granodiorites.
1.4.3

Endapan skarn tungsten (W) dan timah (Sn)


Endapan skarn tungsten, vein dan endapan stratiform memasok sebagian

besar produksi tahunan tungsten di dunia, dengan dominasi endapan skarn.


Endapan skarn tungsten berasal dari endapan yang relatif besar, antara lain di
Pulau Raja, Tasmania; Sangdong, Korea; MacMillan Pass (Yukon), Kanada; dan
Pine Creek, California, Amerika Serikat. China adalah produsen utama dunia dan

pada tahun 1989 menghasilkan sekitar 18.000 ton. Uni Soviet peringkat
berikutnya dengan 7.000 ton.
Meinert (2005) memisahkan skarn Tungsten dari skarn Timah. Skarn
tungsten umumnya terdapat pada plunonik calc-alkanine, dan Meinert telah
membuat daftar sebanyak 203 endapan jenis ini. Karakteristik plutonik pembentuk
endapan

skarn tungsten berupa zona kontak berbentuk cincin

akibat

metamorfisme temperatur tinggi dan kahadiran pegmatit.


Mineral utama pada timah berupa cassiterite dan stannites, dan mineral
utama pada tungsten berupa wolframite dan scheelite, di mana scheelite menjadi
begitu dominan pada tahapan akhir dari paragenesa. Terdapat dua varietas dari
scheelite, yaitu yang kaya akan kandungan molybdenum (powellite) dan yang
miskin akan kandungan molybdenum. Powellite ditemukan proses reduksi pada
lingkungan skarn, sedangkan scheelite yang miskin kandungan molybdenum
terjadi pada proses oksidasi. Proses reduksi skarn tungsten didominasi oleh
hedenbergite-grandite, spessartine dan garnet almandine. Mineral sulfida termasuk
pirrhotite, molybdenite, kalkopirit, sphalerite, dan arsenopirit. Mineral retrograde
skarn berupa epidote, biotit, dan hornblende. Skarn tungsten yang teroksidasi
mengandung lebih banyak andradite ketimbang piroksin.
Skarn timah umumnya terbatas pada granit yang kaya akan silika dan
umumnya berasosiasi dengan alterasi tipe greisen dak aktifitas kaya kandungan
flourine, yang tidak terdapat pada skarn tipe lain. Perlu dicatat bahwa skarn timah
cenderung berkaitan dengan pluton granitik yang terbentuk oleh proses partial
melting pada kerak benua. Skarn timah umumnya memiliki asosiasi elemen F-B-

Be-Li-W-Mo. Skarn timah dikategorikan dari yang bersifat calcic hingga


magnesian, dari yang kaya akan oksida hingga yang kaya akan sulfida. Kwak
(1987) menyatakan bahwa skarn yang kaya akan kandungan timah biasanya yang
jauh dari pusat plutonik.
1.4.4

Endapan Skarn Talk


Endapan skarns yang mengandung talk dan alterasi karbonat serta batuan

metasedimen lainnya memasok sekitar 70% dari produksi talk di dunia. Contoh
yang baik dan penting dari endapan ini terdapat di Perancis dan Austria (Moine et
al. 1989). Sebuah Tambang terbuka di Trimouns, terletak di ujung timur Pyrenees
Perancis pada ketinggian 1.800 m. Produksi Talk lebih dari 300.000 ton dan
cadangan minimal 20 juta ton. Bijih-bijih terbentuk di sepanjang batas antara
basement batuan metamorf tingkat tinggi dan migmatit dari St Barthlemy Massif
dan tertutup oleh batuan hasil sesar naik berupa batuan metamorf yang
tingkatannya lebih rendah berumur Ordovisium atas hingga Devon. Bagian bawah
dari hanging wall terdapat lensa-lensa dolomit yang menerus dengan ketebalan 5
80 meter, juga terdapat sisipan sekis mika pada leucogranit, aplit, pegmatit, dan
juga terdapat vein kuarsa.
Selama proses sesar yang memotong dolomit terjadi, sekis dan batuan
lainnya mengalami sirkulasi hidrotermal yang luas yang menghasilkan bijih yang
kaya akan talk (80-97% talk) pada dolomites dan bijih yang kaya akan klorit (1030% talk) pada batuan silikat. Badan bijih utama setebal 10-80 meter dengan
kemiringan 40-800. Volume batuan nampaknya tetap konstan selama prose
metasomatisme tersebut. Dari studi tentang kumpulan dan komposisi mineral,

Moine et al. (1989) menunjukkan bahwa metasomatisme berlangsung di sekitar


400C di bawah tekanan dari sekitar 0,1 GPa. Larutan dengan kandungan garam
yang tinggi, minim kandungan CO2, namun kandungan Ca dan Mg yang tinggi,
memegang peranan penting dalam proses metasomatisme ini, namun sumbernya
belum dapat dipastikan.
1.4.5

Endapan Skarn Grafit


Produksi sejumlah kecil grafit berasal dari endapan skarn, misalnya

Tambang Skaland Norwegia, jauh di dalam Lingkaran Arktik tepat di sebelah


selatan Tromso, di mana lensa skarn yang panjangnya hingga 200 meter dengan 56 meter (maksimum 24 m), mengandung 20-30% grafit dan terdapat pada skis
mika dikelilingi oleh metagabbro dan granit. Terdapat gangue mineral berupa
diopside, hornblende, labradorite, sphene, garnet, scapolite dan wollastonite.
Diperkirakan endapan telah dihasilkan dari konsentrasi karbon yang sudah ada
dalam sedimen (Bugge 1978) dan ini kemungkinan terjadi akibat proses kalksilikat hornfelses atau reaksi skarn.
1.4.6

Endapan Skarn Emas (Au)


Dalam 20 tahun terakhir ini terdapat beberapa endapan skarn emas yang

telah ditemukan, misalnya Red Dome, Queensland dan Navachab, Namibia.


Namun, kenyataannya mineralisasi emas ini sebagai tipe skarn tidak disadari
sejak awal. Pada skarn emas, kandungan emas berkisar 5 hingga 15 gram per ton.
Skarn emas lainnya lebih merupakan hasil oksidasi, memiliki kandungan emas
yang lebih rendah (1 hingga 5 gram perton), dan mengandung logam lain seperti
Cu, Pb dan Zn. Beberapa tipe skarn lainnya, khususnya skarn Cu, mengandung

cukup emas (antara 0,01 hingga 1 gram perton) sebagai hasil sampingannya.
Sebagian besar endapan skarn emas dengan kandungan tinggi berasosiasi dengan
dengan proses reduksi dari pluton diorit-granodiorit kompleks dike atau sill.
Skarn jenis ini didominasi oleh besi yang kaya akan piroksin; zona yang
dekat pusat plutonik dapat mengandung garnet grandit intermediate yang
melimpah. Mineral umum lainnya termasuk K-feldspar, scapolite, idocrase,
apatite, dan amphibole aluminous dengan kandungan klorit yang tinggi. Daerah
yang jauh dari pusat plutonik dan zona yang terbentuk lebih awal mengandung
biotit dan K-feldspar hornfles yang dapat meluas hingga ratusan meter.
Arsenopirit dan dan pyrrhotite dapat menjadi mineral sulfida yang dominan.
Umumnya emas hadir sebagai elektrum dan berasosiasi kuat dengan bermacam
bismuth dan mineral-mineral telluride termasik bismuth, hedleyite, wittichenite
dan maldonite (misalnya di Navachab, Namibia).

1.5

Litologi Endapan Skarn


Skarn merupakan endapan hidrotermal yang berasosiasi dengan batuan

karbonatan seperti limestone atau dolostone. Endapan ini terbagi atas eksoskarn
dan endoskarn. Eksoskarn terbentuk pada batuan sedimen yang berada di sekitar
sumber panasnya, seperti magma atau fluida hydrothermal. Endoskarn terbentuk
dalam intrusi batuan beku.
Deposit ekonomi terbesar dari endapan skarn berasal dari calciceksoskarn.

Komposisi

magnesium

dan calcic skarn

digunakan

untuk

menggambarkan komposisi dominan dari protolith dan menghasilkan mineral

skarn. Kombinasi ini menunjukkan komposisi dominan yang ada, magnesian


eksoskarn

yang

terdiri

daridolostone. Calc-silicate
silicate yang

relatif

dari forsterite-diopside skarn

hornfels menggambarkan

fine-grained

adalah

hasil

terbentuk

komposisi
dari

batu calc-

metamorfisme

dari carbonate tidak murni, silty limestone ataucalcareous shale. Calcic skarn yang
terbentuk dari replacement pada batugamping, yang mengandung mineral mineral seperti garnet (seri andradite-grossularite), klinopiroksin (diopsidehedenbergite), wollastone, scapolite, epidot dan magnetit. Skarn magnesium
terbentuk dari replacement batuan dolomitik dan dicirikan oleh mineral-mineral
seperti diopside, forsterit, serpentine, magnetite, talk pada lingkungan yang
miskin silika; dan talk, tremolite-actinolit pada lingkungan yang kaya akan silikat.
Skarn silika-pirit merupakan tipe ketiga yang berhubungan dengan tahapan dari
alterasi-mineralisasi dan senantiasa berasosiasi dengan endapan porfiri.
Endoskarn juga menampilkan zonasi mineral yang dihasilkan dari
tambahan progresif kalsium ke protolith batuan beku (biasanya dari granit ke
gabro). Sebuah zonasi yang dihasilkan oleh marmer sebagai host rock berupa
biotit - amphibole - piroksen - garnet. K-feldspar menghilang namun plagioklas
dapat bertahan dan akan terjadi semacam konvergensi metamorfisme antara
kumpulan mineral endoskarn dan eksoskarn yang berdekatan sehingga kontak
awal dengan intrusi batuan beku tidak dapat diketahui lagi batasnya. Menurut
Einaudi & Burt (1982), dengan skarn yang terjadi dekat atau di atas puncak kubah
plutonik, seperti halnya untuk skarn yang paling berhubungan dengan pluton
tembaga porfiri dan skarns timah, endoskarn biasanya tidak ada. Oleh karena itu,

pembentukan endoskarn terjadi di daerah - daerah dimana aliran fluida magma


yang dominan ke dalam pluton atau ke atas bersama kontaknya dengan marmer,
dibandingkan fluida yang mengakibatkan metasomatisme dan keluar sebagai
aliran plutonik seperti dalam pembentukan endapan tembaga porfiri.

Gambar 1.3
Skarn Deposit Model

Reaksi skarn dapat terbentuk dari isochemical metamorfisme dengan


interlayer shale dan karbonat yang tipis. Transfer metasomatik dari komponen
antara tiap litologi dapat terjadi dalam skala kecil. Skarnoid adalah term yang
menggambarkan batuan calc-silicate yang relatif fine-grained, besi kurang, dan
mencerminkan

kontrol

komposisi

protolith.

Skarnoid

adalah

peralihan

intermediate antara metamorfik hornfles murni dan metasomatik, skarn coarsegrained.

Gambar 1.4
Vein Granet (Merah) Memotong Pyroxene

Dalam endapan skarn, juga tampak kehadiran urat, terutama pada endapan
dangkal. Pada lingkungan seperti ini, kontrol patahan dan retakan jelas terhadap
aktivitas hidrotermal bersamaan dengan pembentukan skarn dan mineral
bijih. Hydrofracturing yang kuat berasosiasi dengan intrusi dangkal besar dapat
meningkatkan permeabilitas host rock, baik batuan beku yang berhubungan
dengan fluida metasomatisme, juga saat pendinginan, yaitu dengan fluida
meteorik. Keberadaan urat ini harus dicatat saat eksplorasi untuk dip dan arahnya.

1.6

Cara Sederhana Identifikasi Endapan Skarn di Lapangan


Bagaimana cara memetakan endapan skarn? Beberapa hal yang harus

dilakukan di lapangan dalam identifikasi endapan skarn:


1.6.1

Identifikasi mineral penciri skarn


Di antara banyaknya mineral-mineral skarn, bukan hanya garnet dan

piroksen sekunder saja yang menjadi perhatian penting, tetapi mineral-mineral


lain seperti grup amfibol dan epidot juga harus mendapat perhatian lebih dalam

rangka mengidentifikasi endapan skarn. Identifikasi mineral-mineral tersebut


dapat memberikan gambaran; suhu pembentukan, tekanan, oksigen, dan jarak dari
tubuh endapan skarn/zona kontak dengan intrusi. Asosiasi mineral garnet dan
piroksen sekunder memberikan informasi bahwa endapan terbentuk pada suhu
>400 C, sedangkan asosiasi mineral-mineral amfibol dengan epidot menunjukkan
bahwa endapan terbentuk pada suhu <400 C.
1.6.2

Tekstur dan mode pembentukan endapan skarn


tekstur dan mode pembentukan endapan skarn sangat terkait dengan

kedalaman endapan tersebut. Jika kedalaman endapan skarn dapat ditentukan,


persebaran dari endapan tersebut akan dapat ditentukan. Tekstur endapan skarn
misalnya, jika batuan induk memiliki banyak lubang-lubang (porous) tetapi tidak
terisi oleh mineral-mineral skarn, artinya endapan tersebut tidak terlalu banyak
memiliki volume untuk mengisi lubang-lubang tersebut, sebaliknya jika lubanglubang terebut terisi oleh mineral-mineral endapan skarn, itu memberikan
informasi bahwa endapan tersebut memiliki tubuh yang cukup besar.
1.6.3

warna mineral endapan skarn


Warna mineral endapan skarn dapat memberikan informasi seberapa jauh

mineral dari zona kontak. Garnet yang berwarna coklat (lebih gelap) berarti dekat
dengan zona intrusi, sedangkan yang berwarna lebih terang (coklat terang dll)
berarti berjarak lebih jauh dari zona intrusi.

ENDAPAN EPITHERMAL

2.1

Pendahuluan

2.1.1

Fase Hidrothermal (Hydrothermal Phase)


Hidrothermal adalah larutan sisa magma yang bersifat "aqueous" sebagai

hasil differensiasi magma. Hidrothermal ini kaya akan logam-logam yang relatif
ringan, dan merupakan sumber terbesar (90%) dari proses pembentukan endapan.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal dua macam endapan
hidrothermal, yaitu :

cavity filing, mengisi lubang-lubang (opening-opening) yang sudah ada di

dalam batuan.
metasomatisme, mengganti unsur-unsur yang telah ada dalam batuan
dengan unsur-unsur baru dari larutan hidrothermal.
Berdasarkan cara pembentukan endapan, dikenal beberapa jenis endapan

hidrothermal, antara lain Ephithermal (T 00C-2000C), Mesothermal (T 1500C3500C), dan Hipothermal (T 3000C-5000C)
Setiap tipe endapan hidrothermal diatas selalu membawa mineral-mineral
yang tertentu (spesifik), berikut altersi yang ditimbulkan barbagai macam batuan
dinding. Tetapi minera-mineral seperti pirit (FeS2), kuarsa (SiO2), kalkopirit
(CuFeS2), florida-florida hampir selalu terdapat dalam ke tiga tipe endapan
hidrothermal. Sedangkan alterasi yang ditimbulkan untuk setiap tipe endapan pada
berbagai batuan dinding dapat dilihat pada Tabel 2.1

Tabel 2.1
Alterasi-alterasi yang terjadi pada fase hidrothermal

Keadaan
Epithermal

Batuan dinding
batuan gamping
lava
batuan beku intrusi

Mesothermal

batuan gamping
serpih, lava
batuan beku asam

Hypothermal

Hasil alterasi
silisifikasi
alunit, clorit, pirit, beberapa sericit, mineralmineral lempung
klorit, epidot, kalsit, kwarsa, serisit, mineralmineral lempung
silisifikasi
selisifikasi, mineral-mineral lempung
sebagian besar serisit, kwarsa, beberapa
mineral lempung
serpentin, epidot dan klorit

batuan beku basa


batuan granit, sekis greissen, topaz, mika putih, tourmalin,
lava
piroksen, amphibole.

Paragenesis endapan hipothermal dan mineral gangue adalah : emas (Au),


magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O3), kalkopirit (CuFeS2), arsenopirit (FeAsS),
pirrotit (FeS), galena (PbS), pentlandit (NiS), wolframit : Fe (Mn)WO4, Scheelit
(CaWO4), kasiterit (SnO2), Mo-sulfida (MoS2), Ni-Co sulfida, nikkelit (NiAs),
spalerit (ZnS), dengan mineral-mineral gangue antara lain : topaz, feldsparfeldspar, kuarsa, tourmalin, silikat-silikat, karbonat-karbonat
Sedangkan paragenesis endapan mesothermal dan mineral gangue adalah :
stanite (Sn, Cu) sulfida, sulfida-sulfida : spalerit, enargit (Cu3AsS4), Cu sulfida,
Sb sulfida, stibnit (Sb2S3), tetrahedrit (Cu,Fe)12Sb4S13, bornit (Cu2S), galena
(PbS), dan kalkopirit (CuFeS2), dengan mineral-mineral ganguenya : kabonatkarbonat, kuarsa, dan pirit.

Paragenesis endapan ephitermal dan mineral ganguenya adalah : native


cooper (Cu), argentit (AgS), golongan Ag-Pb kompleks sulfida, markasit (FeS2),
pirit (FeS2), cinabar (HgS), realgar (AsS), antimonit (Sb2S3), stannit (CuFeSn),
dengan mineral-mineral ganguenya : kalsedon (SiO2), Mg karbonat-karbonat,
rhodokrosit (MnCO3), barit (BaSO4), zeolit (Al-silikat)

Gambar 2.1
Endapan bijih perak berupa endapan hidrothermal tipe epithermal dengan
pengkayaan bijih di sepanjang rekahan-rekahan dan urat-urat di Pachuca Meksiko
(Dari Park, 1975 p 349).

2.1.2

Proses Epithermal
Endapan epitermal didefinisikan sebagai salah satu endapan dari sistem

hidrotermal yang terbentuk pada kedalaman dangkal yang umumnya pada busur
vulkanik yang dekat dengan permukaan (Simmons et al, 2005 dalam Sibarani,
2008). Penggolongan tersebut berdasarkan temperatur (T), tekanan (P) dan
kondisi geologi yang dicirikan oleh kandungan mineralnya. Secara lebih detailnya
endapan epitermal terbentuk pada kedalaman dangkal hingga 1000 meter dibawah

permukaan dengan temperatur relatif rendah (50-200)0C dengan tekanan tidak


lebih dari 100 atm dari cairan meteorik dominan yang agak asin (Pirajno, 1992).
Tekstur penggantian (replacement) pada mineral tidak menjadi ciri khas
karena jarang terjadi. Tekstur yang banyak dijumpai adalah berlapis (banded) atau
berupa fissure vein. Sedangkan struktur khasnya adalah berupa struktur
pembungkusan (cockade structure). Asosiasi pada endapan ini berupa mineral
emas (Au) dan perak (Ag) dengan mineral penyertanya berupa mineral kalsit,
mineral zeolit dan mineral kwarsa. Dua tipe utama dari endapan ini adalah low
sulphidation dan high sulphidation yang dibedakan terutama berdasarkan pada
sifat kimia fluidanya dan berdasarkan pada alterasi dan mineraloginya.
Endapan epithermal umumnya ditemukan sebagai sebuah pipe-seperti
zona dimana batuan mengalami breksiasi dan teralterasi atau terubah tingkat
tinggi. Veins juga ditemukan, khususnya sepanjang zona patahan., namun
mineralisasi vein mempunyai tipe tidak menerus (discontinuous).
Pada daerah volcanic, sistem epithermal sangat umum ditemui dan
seringkali mencapai permukaan, terutama ketika fluida hydrothermal muncul
(erupt) sebagai geyser dan fumaroles. Banyak endapan mineral epithermal tua
menampilkan fossil roots dari sistem fumaroles kuno. Karena mineral-mineral
tersebut berada dekat permukaan, proses erosi sering mencabutnya secara cepat,
hal inilah mengapa endapan mineral epithermal tua relatif tidak umum secara
global. Kebanyakan dari endapan mineral epithemal berumur Mesozoic atau lebih
muda.

Mineralisasi epitermal memiliki sejumlah fitur umum seperti hadirnya


kalsedonik quartz, kalsit, dan breksi hidrotermal. Selain itu, asosiasi elemen juga
merupakan salah satu ciri dari endapan epitermal, yaitu dengan elemen bijih
seperti Au, Ag, As, Sb, Hg, Tl, Te, Pb, Zn, dan Cu. Tekstur bijih yang dihasilkan
oleh endapan epitermal termasuk tipe pengisian ruang terbuka (karakteristik dari
lingkungan yang bertekanan rendah), krustifikasi, colloform banding dan struktur
sisir. Endapan yang terbentuk dekat permukaan sekitar 1,5 km dibawah
permukaan ini juga memiliki tipe berupa tipevein, stockwork dan diseminasi.
Dua tipe utama dari endapan ini adalah low sulphidation dan high
sulphidation yang dibedakan terutama berdasarkan pada sifat kimia fluidanya dan
berdasarkan pada alterasi dan mineraloginya (Hedenquist et al., 1996:2000 dalam
Chandra,2009).
Dibawah ini digambarkan ciri-ciri umum endapan epitermal (Lingren,
1933 dalam Sibarani,2008)):

Suhu relatif rendah (50-250C) dengan salinitas bervariasi antara 0-5 wt.%
Terbentuk pada kedalaman dangkal (~1 km)
Pembentukan endapan epitermal terjadi pada batuan sedimen atau batuan
beku, terutama yang berasosiasi dengan batuan intrusiv dekat permukaan

atau ekstrusif, biasanya disertai oleh sesar turun dan kekar.


Zona bijih berupa urat-urat yang simpel, beberapa tidak beraturan dengan
pembentukan kantong-kantong bijih, seringkali terdapat pada pipa dan
stockwork. Jarang terbentuk sepanjang permukaan lapisan, dan sedikit

kenampakan replacement (penggantian).


Logam mulia terdiri dari Pb, Zn, Au, Ag, Hg, Sb, Cu, Se, Bi, U

Mineral bijih berupa Native Au, Ag, elektrum, Cu, Bi, Pirit, markasit,
sfalerit, galena, kalkopirit, Cinnabar, jamesonite, stibnite, realgar,

orpiment, ruby silvers, argentite, selenides, tellurides.


Mineral penyerta adalah kuarsa, chert, kalsedon, ametis, serisit, klorit
rendah-Fe, epidot, karbonat, fluorit, barite, adularia, alunit, dickite,

rhodochrosite, zeolit
Ubahan batuan samping terdiri dari chertification (silisifikasi), kaolinisasi,

piritisasi, dolomitisasi, kloritisasi


Tekstur dan struktur yang terbentuk adalah Crustification (banding) yang
sangat umum, sering sebagai fine banding, vugs, urat terbreksikan.
Karakteristik umum dari endapan epitermal (Simmons et al, 2005 dalam

Sibarani, 2008) adalah:

Jenis air berupa air meteorik dengan sedikit air magmatik


Endapan epitermal mengandung mineral bijih epigenetic yang pada

umumnya memiliki batuan induk berupa batuan vulkanik.


Tubuh bijih memiliki bentuk yang bervariasi yang disebabkan oleh kontrol
dan

litologi

dimana

biasanya

merefleksikan

kondisi paleo-

permeability pada kedalaman yang dangkal dari sistem hidrotermal.


Sebagian besar tubuh bijih terdapat berupa sistem urat dengan dip yang
terjal yang terbentuk sepanjang zona regangan. Beberapa diantaranya

terdapat bidang sesar utama, tetapi biasanya pada sesar-sesar minor.


Pada suatu jaringan sesar dan kekar akan terbentuk bijih pada urat.
Mineral gangue yang utama adalah kuarsa sehingga menyebabkan bijih

keras dan realtif tahan terhadap pelapukan.


Kandungan sulfida pada urat relatif sedikit (<1 s/d 20%).

2.2

Klasifikasi Endapan Epithermal

Pada lingkungan epitermal terdapat 2 (dua) kondisi sistem hidrotermal


yang dapat dibedakan berdasarkan reaksi yang terjadi dan keterdapatan mineralmineral alterasi dan mineral bijihnya yaitu epitermal low sulfidasi dan high
sulfidasi (Hedenquist et al .,1996; 2000 dalam Sibarani, 2008). Pengklasifikasian
endapan epitermal masih merupakan perdebatan hingga saat ini, akan tetapi
sebagian besar mengacu kepada aspek mineralogi dan gangue mineral, dimana
aspek tersebut merefleksikan aspek kimia fluida maupun aspek perbandingan
karakteristik mineralogi, alterasi (ubahan) dan bentuk endapan pada lingkungan
epitermal. Aspek kimia dari fluida yang termineralisasi adalah salah satu faktor
yang terpenting dalam penentuan kapan mineralisasi tersebut terjadi dalam sistem
hidrotermal.
2.2.1

Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida Rendah / Tipe AdulariaSerisit (Epithermal Low Sulfidation )

a.

Tinjauan Umum
Endapan epitermal sulfidasi rendah dicirikan oleh larutan hidrotermal yang

bersifat netral dan mengisi celah-celah batuan. Tipe ini berasosiasi dengan alterasi
kuarsa-adularia, karbonat, serisit pada lingkungan sulfur rendah dan biasanya
perbandingan perak dan emas relatif tinggi. Mineral bijih dicirikan oleh
terbentuknya elektrum, perak sulfida, garam sulfat, dan logam dasar sulfida.
Batuan induk pada deposit logam mulia sulfidasi rendah adalah andesit alkali,
dasit, riodasit atau riolit. Secara genesa sistem epitermal sulfidasi rendah
berasosiasi dengan vulkanisme riolitik. Tipe ini dikontrol oleh struktur-struktur
pergeseran (dilatational jog).

b.

Genesa dan Karakteristik


Endapan ini terbentuk jauh dari tubuh intrusi dan terbentuk melalui larutan

sisa magma yang berpindah jauh dari sumbernya kemudian bercampur dengan air
meteorik di dekat permukaan dan membentuk jebakan tipe sulfidasi rendah,
dipengaruhi oleh sistem boiling sebagai mekanisme pengendapan mineral-mineral
bijih. Proses boiling disertai pelepasan unsur gas merupakan proses utama untuk
pengendapan

emas

sebagai

respon

atas

turunnya

tekanan.

Perulangan

proses boilingakan tercermin dari tekstur crusstiform banding dari silika dalam
urat kuarsa. Pembentukan jebakan urat kuarsa berkadar tinggi mensyaratkan
pelepasan tekanan secara tiba-tiba dari cairan hidrotermal untuk memungkinkan
proses boiling. Sistem ini terbentuk pada tektonik lempeng subduksi, kolisi dan
pemekaran (Hedenquist dkk., 1996 dalam Pirajno, 1992).
Kontrol utama terhadap pH cairan adalah konsentrasi CO2 dalam larutan
dan salinitas. Proses boiling dan terlepasnya CO2 ke fase uap mengakibatkan
kenaikan pH, sehingga terjadi perubahan stabilitas mineral contohnya dari illit ke
adularia. Terlepasnya CO2 menyebabkan terbentuknya kalsit, sehingga umumnya
dijumpai adularia dan bladed calcite sebagai mineral pengotor (gangue minerals)
pada urat bijih sistem sulfidasi rendah
Endapan epitermal sulfidasi rendah akan berasosiasi dengan alterasi
kuarsaadularia, karbonat dan serisit pada lingkungan sulfur rendah. Larutan bijih
dari sistem sulfidasi rendah variasinya bersifat alkali hingga netral (pH 7) dengan
kadar garam rendah (0-6 wt)% NaCl, mengandung CO2 dan CH4 yang bervariasi.

Mineral-mineral sulfur biasanya dalam bentuk H2S dan sulfida kompleks dengan
temperatur sedang (150-300 C) dan didominasi oleh air permukaan
Batuan samping (wallrock) pada endapan epitermal sulfidasi rendah
adalah andesit alkali, riodasit, dasit, riolit ataupun batuan batuan alkali. Riolit
sering hadir pada sistem sulfidasi rendah dengan variasi jenis silika rendah sampai
tinggi. Bentuk endapan didominasi oleh urat-urat kuarsa yang mengisi ruang
terbuka (open space), tersebar (disseminated), dan umumnya terdiri dari urat-urat
breksi (Hedenquist dkk., 1996). Struktur yang berkembang pada sistem sulfidasi
rendah berupa urat, cavity filling, urat breksi, tekstur colloform, dan
sedikit vuggy (Corbett dan Leach, 1996), lihat Tabel 2.2
Tabel 2.2
Karakteristik endapan epitermal sulfidasi rendah
(Corbett dan Leach, 1996).

Tipe endapan
Posisi tektonik
Tekstur
Asosiasi mineral

c.

Sinter breccia, stockwork


Subduction, collision, dan rift
Colloform atau crusstiform
Stibnit, sinnabar, adularia,
metal sulfida

Mineral bijih

Pirit, elektrum, emas, sfalerit,


arsenopirit

Contoh endapan

Pongkor,
Hishikari
Golden Cross

dan

Interaksi Fluida
Epithermal Low Sulphidation terbentuk dalam suatu sistem geotermal

yang didominasi oleh air klorit dengan pH netral dan terdapat kontribusi dominan
dari sirkulasi air meteorik yang dalam dan mengandung CO2, NaCl, and H2S
d.

Model Konseptual Endapan Emas Epitermal Sulfidasi Rendah

Gambar.2.2
Model endapan emas epitermal sulfidasi rendah
(Hedenquist dkk., 1996 dalam Nagel, 2008).

Gambar diatas (Gambar.2.2) merupakan model konseptual dari endapan


emas sulfidasi rendah. Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa endapan
ephitermal sulfidasi rendah berasosiasi dengan lingkungan volkanik, tempat
pembentukan yang relatif dekat permukaan serta larutan yang berperan dalam
proses pembentukannya berasal dari campuran air magmatik dengan air meteorit

2.2.2

Karakteristik Endapan Epitermal Sulfida Tinggi (Epithermal High


Sulfidation) atau Acid Sulfate

a.

Tinjauan Umum
Endapan epitermal high sulfidation dicirikan dengan host rock berupa

batuan vulkanik bersifat asam hingga intermediet dengan kontrol struktur berupa
sesar secara regional atau intrusi subvulkanik, kedalaman formasi batuan sekitar

500-2000 meter dan temperatur 1000C-3200C. Endapan Epitermal High


Sulfidation terbentuk oleh sistem dari fluida hidrotermal yang berasal dari intrusi
magmatik yang cukup dalam, fluida ini bergerak secara vertikal dan horizontal
menembus rekahan-rekahan pada batuan dengan suhu yang relatif tinggi (2003000C),

fluida

ini

didominasi

oleh

fluida

magmatik

dengan

kandungan acidic yang tinggi yaitu berupa HCl, SO2, H2S (Pirajno, 1992).

Gambar 2.3
Keberadaan sistem sulfidasi tinggi

Gambar 2.4
Penampang Ideal Endapan Epitermal Menurut Buchanan (1981)

b.

Genesa dan Karakteristik


Endapan epitermal high sulfidation terbentuk dari reaksi batuan induk

dengan fluida magma asam yang panas, yang menghasilkan suatu karakteristik
zona alterasi (ubahan) yang akhirnya membentuk endapan Au+Cu+Ag. Sistem
bijih menunjukkan kontrol permeabilitas yang tergantung oleh faktor litologi,
struktur, alterasi di batuan samping, mineralogi bijih dan kedalaman formasi. High
sulphidation berhubungan dengan pH asam, timbul dari bercampurnya fluida yang
mendekati pH asam dengan larutan sisa magma yang bersifat encer sebagai hasil
dari diferensiasi magma, di kedalaman yang dekat dengan tipe endapan porfiri dan
dicirikan oleh jenis sulfur yang dioksidasi menjadi SO.
c.

Interaksi Fluida
Epithermal High Sulphidation terbentuk dalam suatu sistem magmatic-

hydrothermal yang didominasi oleh fluida hidrothermal yang asam, dimana


terdapat fluks larutan magmatik dan vapor yang mengandung H2O, CO2, HCl,
H2S, and SO2, dengan variabel input dari air meteorik lokal.
2.3

Potensi Dan Keberadaan Endapan Epithermal


Jenis endapan epitermal yang terletak 500 m bagian atas dari suatu sistem

hidrotermal ini merupakan zone yang menarik dan terpenting. Disini terjadi
perubahan-perubahan suhu dan tekanan yang maksimum serta mengalami
fluktuasi-fluktuasi

yang

paling

cepat.

Fluktuasi-fluktuasi

tekanan

ini

menyebabkan perekahan hidraulik (hydraulic fracturing), pendidihan (boiling),


dan perubahan-perubahan hidrologi sistem yang mendadak. Proses-proses fisika

ini

secara

langsung

berhubungan

dengan

proses-proses

kimiawi

yang

menyebabkan mineralisasi (www.terrasia.tripod.com)


Terdapat suatu kelompok unsur-unsur yang umumnya berasosiasi dengan
mineralisasi epitermal, meskipun tidak selalu ada atau bersifat eksklusif dalam
sistem epitermal. Asosiasi klasik unsur-unsur ini adalah: emas (Au), perak (Ag),
arsen (As), antimon (Sb), mercury (Hg), thallium (Tl), dan belerang (S)
(www.terrasia.tripod.com) .
Dalam endapan yang batuan penerimanya karbonat (carbonat-hosted
deposits), arsen dan belerang merupakan unsur utama yang berasosiasi dengan
emas dan perak (Berger, 1983), beserta dengan sejumlah kecil tungsten/wolfram
(W), molybdenum (Mo), mercury (Hg), thallium (Tl), antimon (Sb), dan tellurium
(Te); serta juga fluor (F) dan barium (Ba) yang secara setempat terkayakan.
Dalam endapan yang batuan penerimanya volkanik (volcanic-hosted deposits)
akan terdapat pengayaan unsur-unsur arsen (As), antimon (Sb), mercury (Hg), dan
thallium (Tl); serta logam-logam mulia (precious metals) dalam daerah-daerah
saluran fluida utama, sebagaimana asosiasinya dengan zone-zone alterasi
lempung. Menurut Buchanan (1981), logam-logam dasar (base metals)
karakteristiknya rendah dalam asosiasinya dengan emas-perak, meskipun
demikian dapat tinggi pada level di bawah logam-logam berharga (precious
metals) atau dalam asosiasi-nya dengan endapan-endapan yang kaya perak dimana
unsur mangan juga terjadi. Cadmium (Cd), selenium (Se) dapat berasosiasi
dengan logam-logam dasar; sedangkan fluor (F), bismuth (Bi), tellurium (Te), dan
tungsten (W) dapat bervariasi tinggi kandungannya dari satu endapan ke endapan

yang lainnya; serta boron (B) dan barium (Ba) terkadang terkayakan.
(www.terrasia.tripod.com).
Mineral-mineral ekonomis yang dihasilkan dari epitermal antara lain Au,
Ag, Pb, Zn, Sb, Hg, arsenopirit, pirit, garnet, kalkopirit, wolframit, siderit,
tembaga, spalerite, timbal, stibnit, katmiun, galena, markasit, bornit, augit, dan
topaz. Berikut ini adalah beberapa contoh logam hasil dari endapan epitermal
yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi, antara lain: Emas (Au) dan Perak (Ag).
2.3.1

Emas
Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au

(bahasa Latin: 'aurum') dan nomor atom 79. Sebuah logam transisi (trivalen dan
univalen) yang lembek, mengkilap, kuning, berat, "malleable", dan "ductile".
Emas

tidak

bereaksi

dengan

zat

kimia

lainnya

tapi

terserang

oleh klorin, fluorin dan aqua regia. Logam ini banyak terdapat dinugget emas atau
serbuk di bebatuan dan di deposit alluvial dan salah satu logam coinage.Kode
ISOnya adalah XAU. Emas melebur dalam bentuk cair pada suhu sekitar 1000
derajat celcius.
Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa,
kekerasannya berkisar antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung
pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa
emas biasanya berasosiasi dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral
ikutan tersebut umumnyakuarsa, karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil
mineral non logam. Mineral pembawa emas juga berasosiasi dengan endapan
sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa emas terdiri dari emas nativ,

elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa emas dengan unsur-unsur
belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis lain dari emas nativ,
hanya kandungan perak di dalamnya >20% (Sutarto, 2004).
Sebagian besar endapan emas di Indonesia dihasilkan jenis endapan
epitermal. Endapan emas tipe ini umumnya didapatkan dalam bentuk urat, baik
dalam urat kuarsa maupun dlam urat bentuk karbonat yang terbentuk dalam suhu
150-3000C dengan pH sedikit asam atau mendekati netral Urat-urat tersebut
terbentuk oleh hasil aktifitas hidrotermal yang berada di sekitar endapan porfiri.
Dimana emas, perak, tembaga, wolfram, dan timah terdapat dalam endapan ini
(Sukandarrumidi, 2007).
Kebanyakan emas epitermal terdapat dalam vein-vein yang berasosiasi
dengan Alterasi Quartz-Illite yang menunjukkan pengendapan dari fluida-fluida
dengan pH mendekati netral (Fluida-fluida Khlorida Netral) Dalam alterasi dan
mineralisasi dengan jenis fluida ini, emas dijumpai dalam vein, veinlet, breksi
ekplosi atau breksi hidrotermal, dan stockwork atau stringer Pyrite+Quartz yang
berbentuk seperti rambut (hairline)
Emas epitermal juga terdapat dalam Alterasi Advanced-Argillic dan
alterasi-alterasi sehubungan yang terbentuk dari Fluida-fluida Asam Sulfat. Dalam
alterasi dan mineralisasi dengan jenis fluida ini, emas dijumpai dalam veinlet,
batuan-batuan silika masif, atau dalam rekahan-rekahan atau breksi-breksi dalam
batuan.
Proses terbentuknya emas endapan epitermal dapat diuraikan sebagai
berikut: emas diangkut oleh larutan hidrotermal yang kaya akan ligand HS- dan

OH-. Ligan ini mengangkut emas hingga ke tempat pengendapannya. Kehadiran


breksi hidrotermal merupakan salah satu cirri adanya proses pendidihan pada
larutan hidrotermal. Pendidihan terjadi karena ada pertemuan antara larutan yang
bersuhu tinggi (hidrotermal) dengan larutan yang bersuhu rendah (larutan
meteoric). Selama proses pendidihan ini tekanan menjadi semakin besar sehingga
mengancurkan dinding batuan yang dilalui larutan hidrotermal. Akibat proses
pendidihan tersebut, yaitu hilangnya gas H2S, terjadi peningkatan pH dan
penurunan suhu. Ketiga proses tersebut dapat mengantarkan emas pada batuan
sehingga kadar emas primer tinggi biasanya dijumpai di breksi hidrotermal
(Sukandarrumidi, 2007).
Dibawah

ini

contoh

endapan

emas

epitermal

dari

sulfidation dan high sulfidation.


Tabel 2.2
Contoh endapan emas epitermal (high sulfidation)

Tabel 2.3
Contoh endapan emas epitermal (Low Sulphidation)

sistem low

2.3.2

Perak
Dijumpai sebagai unsur (perak murni) atau sebagai senyawa. Sebagai

perak murni (Ag) mempunyai sifat; Kristal-kristal berkelompok tersusun sejajar,


menjarum, atau menjaring, kadang berupa sisik, kilap logam. Dalam bentuk
mineral

didapatkan

sebagai

argentite,

cerrargirit,

miagirit,

dan

proustit (Sukandarrumidi, 2007). Perak biasanya berasosiasi dengan pirit,


tembaga, emas, kalsit, dan nikel. Perak terbentuk dari reduksi sulfide pada bagian
bawah endapan Ag, Zn, dan Pb. Terkadang juga terbentuk sebagai endapan primer
urat epitermal berasosiasi dengan kalsit (temperature rendah) (Sutarto,
2004). Kandungan perak pada beberapa mineral dapat mencapai perak murni
(100%), argentite (87%), prousite (65%), miagrite (36%), dan dalam kandungan
emas (28%). Endapan perak yang dihasilkan dari endapan emas kurang lebih 75%
didapatkan sebagai hasil samping dari pengolahan bijih emas, nikel dan tembaga.
Endapan perak dapat berupa endapan pengisian dan endapan penggantian, serta
pengayaan sulfide. Kebanyakan endapan perak didunia dihasilkan dari dari
hidrotermal tipe fissure filling (Sukandarrumidi, 2007).