You are on page 1of 6

BAB II

GEOLOGI REGIONAL

2.1. Fisiografi

Lokasi Penelitian

Gambar 3. Letak cekungan Asam-asam (Rotinsulu dkk., 2006)


Pulau Kalimantan umumnya merupakan daerah rawa-rawa dan fluvial.
Selain itu juga terdapat daerah dataran dan pegunungan yang tersebar di pulau ini.
Dataran yang ada tersebar di bagian tepi-tepi pulau dan sebagian besar daerah
pegunungan berada di tengah pulau.

Pada bagian utara Pulau Kalimantan merupakan zona Pegunungan


Kinibalu dan pada bagian baratlaut terdapat jajaran Pegunungan Muller dan
Pegunungan Schwanner. Pada bagian selatan terdapat Pegunungan Meratus.
Van Bemmelen (1949) membagi bagian barat Pulau Kalimantan menjadi
dua bagian, yaitu:
Pegunungan Kapuas Atas, berada di antara Lembah Rejang di bagian
utara, Cekungan Kapuas Atas, dan Lembah Batang Lupar di bagian
selatan.
Madi Plateu, berada di antara Cekungan Kapuas Atas dan Sungai
Melawi.
Sedangkan pada bagian timur Kalimantan, van Bemmelen (1949) juga
membagi daerah ini menjadi dua bagian, yaitu:
Rangkaian pegunungan di Kalimantan bagian utara, berakhir di
Semenanjung Teluk Darvel.
Rangkaian

pegunungan

lainnya,

berakhir

di

Semenanjung

Mangkalihat.
Di Pulau Kalimantan Selatan sendiri memiliki beberapa sungai besar, di
antaranya Sungai Kapuas, Sungai Barito, Sungai Negara, dan Sungai Kahayan.
Sungai Barito merupakan sungai terbesar kedua di Pulau Kalimantan. Sungai
Barito ini berhulu di Pegunungan Muller dan menghasilkan Cekungan Barito
(Gambar 3) yang dibatasi oleh Pegunungan Meratus pada bagian timur. Sungaisungai di daerah Kalimantan Selatan ini berhulu di bagian tengah Pulau
Kalimantan yaitu pada Pegunungan Schwaner dan juga Pegunungan Muller.
Pegunungan Schwaner dan Muller ini memiliki ketinggian antara 200-2000 meter
di atas permukaan laut. Sedangkan arah aliran sungai-sungai ini relatif berarah
utara-selatan dan bermuara di Laut Jawa. Sungai-sungai ini mengalir pada
ketinggian antara 0-200 meter di atas permukaan laut. Daerah aliran sungai-sungai
besar ini menempati sebagian besar dari bagian selatan Pulau Kalimantan. Di
bagian timur Provinsi Kalimantan Selatan terdapat Pegunungan Kompleks
Meratus yang merupakan jejak adanya kegiatan subduksi pada umur Kapur
(Rotinsulu dkk., 2006).

2.2. Stratigrafi Regional


Cekungan yang terdapat di Kalimantan Selatan yaitu Cekungan Barito dan
Cekungan Asam-asam. Cekungan Barito dan Cekungan Asam-asam ini
dipisahkan oleh Pegunungan Meratus. Pada bagian utara berbatasan dengan
Cekungan Kutai, yang dipisahkan oleh Sesar Andang. Sedangkan pada bagian
barat dibatasi oleh Paparan Sunda. Pada mulanya Cekungan Barito dan Cekungan
Asam-asam merupakan satu cekungan yang sama, hingga pada Miosen Awal
terjadi pengangkatan Pegunungan Meratus yang menyebabkan terpisahnya kedua
cekungan tersebut (Satyana, 1995).
Stratigrafi daerah Kalimantan Selatan meliputi beberapa formasi, yaitu
Formasi Tanjung, Formasi Berai, Formasi Warukin, dan Formasi Dahor. Formasiformasi ini berumur Eosen sampai Pliosen (Gambar 4).
Formasi Tanjung, memiliki ciri litologi berupa batulempung karbonan dan
terdapat lapisan batubara dan diendapkan di atas basement Pre-Tersier. Formasi
Tanjung ini berumur pertengahan Miosen Awal sampai Miosen Akhir. Pada
bagian atas formasi ini terdapat endapan karbonat yang merupakan awal dari
terbentuknya Formasi Berai.
Formasi Berai, memiliki ciri litologi berupa endapan karbonat. Formasi ini
diendapkan secara selaras di atas Formasi Tanjung, tetapi pada beberapa bagian
terdapat hubungan yang menunjukkan adanya ketidakselarasan. Tetapi secara
umum formasi ini diendapkan selaras di atas Formasi Tanjung dan berumur
Oligosen Awal sampa Miosen Tengah.
Formasi Warukin, terdiri dari litologi batulempung karbonan, batupasir
karbonan, dan batubara. Formasi ini diendapakan secara selaras di atas Formasi
Berai. Formasi ini diendapkan pada Miosen Tengah hingga awal Miosen Akhir.
Formasi Dahor, memiliki litologi berupa batulempung pasiran, berumur
Miosen Akhir hingga Pliosen. Formasi ini diendapkan secara selaras di atas
Formasi Warukin (Final Report PT Arutmin Indonesia, 2010).

Gambar 4. Stratigrafi regional daerah PKP2B Asam-asam PT Arutmin Indonesia


(Final Report PT Arutmin Indonesia, 2010)
2.3. Struktur Geologi dan Tektonik Regional
Struktur geologi yang terdapat di Kalimantan Selatan adalah antiklin,
sinklin, sesar naik, sesar mendatar, dan sesar turun. Sumbu lipatan umumnya
berarah timurlaut-baratdaya dan umumnya sejajar dengan arah sesar normal.
Kegiatan tektonik daerah ini diduga telah berlangsung sejak Zaman Jura,
yang menyebabkan bercampurnya batuan ultramafik dan batuan malihan. Pada
Zaman Kapur Awal atau sebelumnya terjadi penerobosan granit dan diorit yang
10

menerobos batuan ultramafik dan batuan malihan. Pada akhir Kapur Awal
terbentuk Kelompok Alino yang sebagian merupakan olistostrom, diselingi
dengan kegiatan gunungapi Kelompok Pitanak. Pada awal Kapur kegiatan
tektonik menyebabkan tersesarkannya batuan ultramafik dan malihan ke atas
Kelompok Alino. Pada Kala Paleosen kegiatan tektonik menyebabkan
terangkatnya batuan Mesozoikum, disertai penerobosan batuan andesit porfiri.
Pada awal Eosen terendapkan Formasi Tanjung dalam lingkungan paralas
(Sikumbang dan Heryanto, 2009). Pada saat bersamaan Kompleks Meratus telah
ada, namun hanya berupa daerah yang sedikit lebih tinggi di bagian cekungan dan
diendapkan berupa lapisan sedimen yang lebih tipis dari daerah sekitarnya
(Hamilton, 1979). Pada Kala Oligosen terjadi genang laut yang membentuk
Formasi Berai. Kemudian pada Kala Miosen terjadi susut laut yang membentuk
Formasi Warukin (Sikumbang dan Heryanto, 2009).
Gerakan tektonik yang terakhir terjadi pada Kala Miosen yang
menyebabkan batuan yang tua terangkat membentuk Tinggian Meratus dan
melipat kuat batuan Tersier dan Pre-Tersier. Sejalan dengan itu terjadilah
pensesaran naik dan geser yang diikuti sesar turun dan pembentukan Formasi
Dahor pada Kala Pliosen. (Sikumbang dan Heryanto, 2009).

Gambar 5. Tektonik regional Kalimantan Selatan (Mudjiono dan Pireno, 2006)


Di Kalimantan Selatan terdapat dua cekungan besar, yaitu Cekungan
Barito dan Cekungan Asam-asam (Gambar 5). Dua cekungan ini dibatasi oleh
Pegunungan Meratus yang melintang dari utara ke baratdaya. Cekungan Barito
11

dan Cekungan Kutai ini dipisahkan oleh sebuah sesar yang berarah timur-barat di
bagian utara dari Provinsi Kalimantan Selatan, sesar ini dikenal dengan nama
Sesar Adang (Mudjiono dan Pireno, 2006).
Regim struktur yang terjadi di Cekungan Barito adalah regim
transpression dan

transtension.

Struktur yang didapati adalah lipatan yang

berarah utara timurlaut - selatan baratdaya (NNE-SSW) pada bagian utara


cekungan. Sedangkan pada Pegunungan Meratus terdapat sesar-sesar yang
membawa basement. Sesarsesar ini ditandai dengan adanya drag atau fault bend
fold dan sesar naik.
Sedangkan lipatan-lipatan yang terdapat di Pegunungan Meratus yaitu di
bagian utara pegunungan ini berarah utara timurlaut - selatan baratdaya (NNESSW) dan yang berada di bagian selatan berarah utara-selatan. Lipatan yang
banyak ditemui berupa antiklin dan beberapa sinklin. Sesar-sesar naik banyak
terdapat pada daerah Pegunungan Meratus dengan arah umum utara timurlaut
selatan baratdaya (NNE-SSW). Sesar-sesar mendatar juga banyak ditemui di
Pegunungan Meratus ini, umunya tidak terlalu panjang, berbeda dengan sesar naik
yang memiliki kemenerusan yang pajang. Sesar-sesar mendatar umumnya berupa
sesar mengiri dan berarah baratlaut-tenggara (Satyana, 2000).

12