You are on page 1of 20

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang
sering dijumpai, merupakan 60-70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan
appendicitis akut. Penyebab yang paling sering dari obstruksi ileus adalah adhesi/
streng, sedangkan diketahui bahwa operasi abdominalis dan operasi obstetriginekologik makin sering dilaksanakan yang terutama didukung oleh kemajuan di
bidang diagnostik kelainan abdominalis.
Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus,
(Sabara, 2007). Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa
ileus, (Davidson, 2006). Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita
ileus setiap tahunnya, (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus
paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan
pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen Kesehatan Indonesia.
Ada 3 hal yang tetap menarik untuk diketahui/diselidiki tentang obstruksi ileus,
ialah :
o

Makin meningkatnya keterdapatan obstruksi ileus.

Diagnosa obstruksi ileus sebenarnya mudah dan bersifat universil, tetapi untuk
mengetahui proses patologik yang sebenarnya di dalam rongga abdomen tetap
merupakan hal yang sulit.

Bahaya strangulasi yang amat ditakuti sering tidak disertai gambaran klinik khas
yang dapat mendukungnya.
Untuk dapat melaksanakan penanggulangan penderita obstruksi ileus dengan

cara yang sebaik-baiknya, diperlukan konsultasi antara disiplin yang bekerja dalam
satu tim dengan tujuan untuk mencapai 4 keuntungan :

Bila penderita harus dioperasi, maka operasi dijalankan pada saat keadaan umum
penderita optimal.

Dapat mencegah strangulasi yang terlambat.

Mencegah laparotomi negatif.

Penderita mendapat tindakan operatif yang sesuai dengan penyebab


obstruksinya.
Terapi ileus obstruksi biasanya melibatkan intervensi bedah. Penentuan waktu

kritis serta tergantung atas jenis dan lama proses ileus obstruktif. Operasi dilakukan
secepat yang layak dilakukan dengan memperhatikan keadaan keseluruhan pasien,
(Sabiston, 1995).
1.2

Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk :
Mengetahui konsep dasar ileus.
Memiliki intelektual dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan
pada klien dengan ileus.

BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
2.1 Definisi
Ileus adalah suatu kondisi hipomotilitas (kelumpuhan) saluran gastrointestinal
tanpa disertai adanya obstruksi mekanik pada intestinal. Pada kondisi klinik sering
disebut dengan ileus paralitik. Obstruksi Ileus adalah gangguan aliran normal isi usus
sepanjang saluran usus, (Selvia A. Price).
Dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal
atau suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan
dapat secara mekanis atau fungsional yang segera memerlukan pertolongan atau
tindakan.
Perawat sangat perlu melakukan pemantauan pada pasien pascabedah
abdominal dari kondisi ileus. Setelah 2-3 hari pasca-pembedahan abdomen, ileus
merupakan suatu kondisi fisiologis yang normal sekunder dari anastesia dan efek
intervensi bedah, namun istilah ileus kondisi kelumpuhan intestinal dapat bertahan
lebih dari 3 hari pascabedah.
Sebagian besar kasus ileus terjadi setelah operasi intra-abdomen. Kembali
normalnya aktivitas usus setelah pembedahan abdominal mengikuti pola yang dapat
diprediksi. Usus kecil biasanya mendapatkan kembali fungsi dalam beberapa jam.
Aktivitas regains lambung dalam 1-2 hari dan usus besar aktivitas regains 3-5 hari,
(Person, 2006).

2.2 Etiologi
Walaupun predisposisi ileus biasanya terjadi akibat pascabedah abdomen, tetapi
ada faktor predisposisi lain yang mendukung peningkatan resiko terjadinya ileus,
diantaranya (Behm, 2003) sebagai berikut :
1. Sepsis
2. Obat-obatan (misalnya : opioid, antasid, coumarin, amitriptyline, chlorpromazine)
3. Gangguan elektrolit dan metabolik (misalnya hipokalemia, hipomagnesemia,
hipernatremia, anemia, atau hiposmolalitas)
4. Infark miokard
5. Pneumonia
6. Trauma (misalnya : patah tulang iga, cedera spina)
7. Bilier dan ginjal kolik
8. Cedera kepala dan prosedur bedah saraf
9. Inflamasi intra abdomen dan peritonitis
10. Hematoma retroperitoneal.
2.3

Manifestasi Klinis
Gejala-gejala penting dari obstruksi Ileus adalah :

2.4

Nyeri daerah umbilicus

Muntah, sering terjadi bila obstruksi pada usus halus bagian atas

Konstipasi absolut dan peregangan abdomen

Klasifikasi

a) Ileus Obstruktif
Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana
merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi
usus (Sabara, 2007). Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi
oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau
kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan
neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan
abses.
b) Ileus Paralitik
Ileus paralitik adalah ileus yang disebabkan gerakan (peristaltik) usus yang
menghilang, disini tidak ada sumbatan. Ileus paralitik adalah istilah gawat abdomen
atau gawat perut yang biasanya timbul mendadak dengan nyeri sebagai keluhan
utama karena usus tidak dapat bergerak (mengalami motilitas) dan menyebabkan
pasien tidak dapat buang air besar. Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf
ototnom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu
mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan
endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit
parkinson.
2.5 Patofisiologi
Menurut beberapa hipotesis, ileus pascabedah dimediasi melalui penghambatan
aktivasi refleks spinal. Secara anatomis, refleks yang terlibat pada ileus adalah pada
pleksus ganglia prevertebral, (Mattei, 2006).
Respons dari stres bedah mengarah pada generasi sistemik dari endokrin dan
mediator inflamasi yang juga mempromosikan perkembangan ileus. Model tikus telah
menunjukkan bahwa laparotomi, penetrasi, dan kompresi usus menyebabkan
peningkatan jumlah makrofag, monosit, sel dendritik, sel T, sel-sel pembunuh alami,
dan sel mast, seperti yang ditunjukkan oleh imonohistokimia. Kalsitonin-peptida, nitrit
oksid, peptida vasoaktif intestina, dan substansi P berfungsi sebagai inhibitor
neurotransmiter pada sistem saraf usus, (Bauer, 2004).

Pathway :

Predisposisi pasca
operatif bedah
abdominal

Predisposisi sistemik, meliputi : sepsis, obatobatan, gangguan elektrolit & metabolik, infark
miokard, pneumonia, trauma, bilier & ginjal kolik,
cedera kepala & prosedur bedah saraf, inflamasi
intra-abdomen & peritonitis, hematoma
retroperitoneal.

ILEUS

Hipomotilitas
(kelumpuhan)
intestinal

Ketidak
mampua
n
absorpsi
air
Penuruna
n intake
cairan

Resiko
ketidak
seimbang
an cairan

Penuruna
n volume
cairan

Respons
psikologis
mis
interpretasi
perawatan
&

Hilangnya
kemampuan
intestinal dalam
pasase material
feses
Konstipasi

Kecemasa
n
pemenuh
an

Respons lokal
saraf terhadap
inflamasi
Distensi
abdome
n
Nyeri

Gangguan
gastrointestinal

Mual,
muntah,
kembung,
anoreksia
Asupan nutrisi
tidak adekuat

Kehilangan cairan
& elektrolit

Resiko tinggi
syok
hipovolemik

Resiko
ketidak
seimbangan
cairan

Ketidakseimban
gan nutrisi
kurang dari
kebutuhan

Diferensiasi yang umum untuk ileus adalah pseudo-obstruksi dan obstruksi usus
mekanik. Seperti ileus pada pseudo-obstruksi, terjadi dengan tidak adanya patologi
mekanis. Beberapa teks dan artikel cendrung menggunakan ileus disamaartikan
dengan pseudo-obstruksi atau merujuk pada ileus kolon. Namun, kondisi ini jelas

merupakan dua entitas yang berbeda. Pseudo-obstruksi jelas terbatas pada usus besar,
sedangkan ileus melibatkan baik usus kecil dan usus besar. Usus besar yang terlibat
dalam pseudo-obstruksi klasik, yang biasanya terjadi pada lanjut usia dengan
gambaran penyakit ekstarintestinal serius atau trauma. Agen farmakologi, sepsis, dan
ketidakseimbangan elektrolit dapat juga berkontribusi terhadap kondisi ini. Obstruksi
usus mekanik dapat disebabkan oleh adhesi, velvulus, hernia, intususepsi, benda asing,
atau neoplasma. Klinis obstruksi hadir dengan kolik abdominal yang hebat atau tandatanda obstruksi perforasi yang jelas, (Loktus, 2012).

Ileus
Anamnesis

Pseudo-obstruksi

Obstruksi mekanik usus

Nyeri abdomen ringan, Nyeri kram abdominal, Nyeri kram abdominal, mual,
kembung, mual, muntah, mual, muntah, anoreksia, muntah, anoreksia, obstipasi,
obstipasi, konstipasi

Pemeriksaan Bising
fisik

usus

obstipasi, konstipasi

hilang, Borborygmi,

distensi, timpani

abdomen

gelombang

konstipasi

timpani, Borborygmi,
peristaltic, peristaltic,

gelombang
bising

usus

bising usus hiperaktif atau bernada tinggi, distensi, nyeri


hipoaktif, distensi, nyeri tekan local
tekan local

Foto polos

Dilatasi usus kecil & usus Dilatasi isolasi pada usus Berbentuk lesi gas kolon

abdomen

besar, elevasi diafragma

besar, elevasi diafragma

distal, diafragma agak tinggi,


air-fluid levels

Tabel : Perbedaan dari ileus, pseudo-obstruksi, dan obstruksi usus mekanik, (Mukherjee, S, 2008).

2.6

Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium, peningkatan kadar Haemoglobin (indikasi dari dehidrasi),
leukositosis, peningkatan PCO2 / asidosis metabolik.
Foto polos abdomen (BOF) dengan posisi tegak atau lateral dekubitus tampak
distensi usus proksimal dari hambatan dan fenomena anak tangga. Pada volvulus

sigmoid tampak sigmoid yang distensi berbentuk U yang terbalik dan dapat juga di
dapatkan :
- Gambaran usus melebar (Darm Courtur)
- Gambaran seperti duri ikan
- Gambaran seperti anak tangga (Air Fluid Level)
Pemeriksaan CT scan, dikerjakan secara klinis dan foto polos abdomen dicurigai
adanya strangulasi. CT scan akan mempertunjukkan secara lebih teliti adanya
kelainan pada dinding usus (obstruksi komplet, abses, keganasan), kelainan
mesenterikus, dan peritoneum. Pada pemeriksaan ini dapat diketahui derajat dan
lokasi dari obstruksi.
Pemeriksaan radiologi dengan barium enema. Pemeriksaan ini mempunyai suatu
peran terbatas pada klien dengan obstruksi usus halus. Pengujian enema barium
terutama sekali bermanfaat jika suatu obstruksi letak rendah yang tidak dapat pada
pemeriksaan foto polos abdomen.
Pemeriksaan USG. Pemeriksaan ini akan mempertunjukkan gambaran penyebab
dari obstruksi.
Pemeriksaan MRI. Teknik ini digunakan untuk mengevaluasi iskemia mesenteric
kronis.
Pemeriksaan angiografi. Angiografi mesenteric superior telah digunakan untuk
mendiagnosis adanya herniasi internal, intususepsi, volvulus, malrotation, dan
adhesi, (Suratun & Lusianah, 2010).

2.7

Penatalaksanaan
Dekompresi dengan pipa lambung.
Pemasangan infus untuk koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit juga
keseimbangan asam basa.
Koreksi bedah, tindakan bedah yang di lakukan sesuai dengan kelainan
patologinya.

Antibiotika profilaksis atau terapeutik tergantung proses patologi penyebabnya.


2.8

Komplikasi
o

Nekrosis usus.

Perforasi usus dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi terlalu lama pada organ
intra abdomen.

Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehingga terjadi


peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen.

Sepsis infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan
cepat.

Syok dehidrasi terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.

Abses sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi.

Pneumonia aspirasi dari proses muntah.

Gangguan elektrolit, refluk muntah dapat terjadi akibat distensi abdomen.


Muntah mengakibatkan kehilangan ion hidrogen dan kalium dari lambung, serta
menimbulkan penurunan klorida dan kalium dalam darah, (Dermawan, 2010).

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian

10

Pengkajian ileus terdiri atas pengkajian, anamnesis, pemeriksaan fisik, dan


evaluasi diagnostik. Pada anamnesis keluhan utama yang lazim didapatkan adalah
keluhan kembung dan tidak bisa kentut (flatus). Keluhan adanya kembung dan tidak
bisa flatus bersifat akut disertai mual, muntah, anoreksia, dan nyeri ringan pada
abdomen.
Pada pengkajian riwayat penyakit sekarang, perawat mengkaji riwayat
pembedahan abdominal, jenis pembedahan, penyebab adanya intervensi bedah,
kondisi klinik preoperatif, pengetahuan mobilisasi dini pasien praoperatif, dan adanya
penyakit sistemik yang memperberat, seperti adanya sepsis, gangguan metabolik,
penyakit jantung, pneumonia pasca bedah, prosedur bedah saraf, dan trauma
abdominal berat.
Pengkajian psikososial akan didapatkan peningkatan kecemasan karena perut
kembung dan belum bisa melakukan flatus, serta perlunya pemenuhan informasi.
Pemeriksaan fisik yang didapatkan sesuai dengan manifestasi klinis. Pada
survei umum pasien terlihat lemah. TTV biasa didapatkan adanya perubahan. Pada
pemeriksaan fisik fokus akan didapatkan :
- Inspeksi : Secara umum akan terlihat kembung dan didapatkan adanya distensi
abdominal.
- Auskultasi : Bising usus atau tidak ada.
- Palpasi : Nyeri tekan lokal pada abdominal.
- Perkusi : Timpani akibat abdominal mengalami kembung.
Pengkajian

diagnostik

yang

dapat

membantu,

meliputi

pemeriksaan

laboratorium untuk mendeteksi adanya gangguan elektrolit atau metabolik, foto polos
abdominal untuk mendeteksi adanya dilatasi gas berlebihan dari usus kecil dan usus
besar.
Pola Kesehatan Gordon
a) Aktivitas atau istirahat
Gejala : Kelelahan dan ngantuk.

11

Tanda : Kesulitan ambulasi


b) Sirkulasi
Gejala : Takikardia, pucat, hipotensi (tanda syok)
c) Eliminasi
Gejala : Distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus
Tanda : Perubahan warna urine dan feces
d) Makanan atau cairan
Gejala : anoreksia, mual atau muntah dan haus terus menerus
Tanda : muntah berwarna hitam dan fekal, membran mukosa pecah-pecah, kulit
buruk.
e) Nyeri atau Kenyamanan
Gejala : Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik
Tanda : Distensi abdomen dan nyeri tekan
f) Pernapasan
Gejala : Peningkatan frekuensi pernafasan
Tanda

: Napas pendek dan dangkal

Pengkajian Penatalaksanaan Medis


1. Konservatif

12

Sebagian besar kasus ileus pasca bedah mendapat intervensi konservatif.


Pasien harus menerima hidrasi intravena. Untuk pasien dengan muntah dan
distensi, penggunann selang nasogastrik diberikan untuk menurunkan gejala,
namun belum ada penelitian untuk literature yang mendukung penggunaan
selang nasogastrik untuk memfasilitasi resolusi ileus. Panjang selang ke
saluran gastrointestinal tidak memiliki manfaat atas perbaikan ileus. Untuk
pasien dengan ileus berlarut-larut, obstruksi mekanis harus diperiksa dengan
studi kontras. Sepsis dan gangguan elektrolit yang mendasari, terutama
hipokalemia, hiponatremia, dan hipomagnesemia, dapat memperburuk ileus.
Kondisi ini didiagnosis dan diperbaiki, (Mukherjee, 2008).
Cara lainnya adalah menghentikan obat yang memproduksi ileus
(misalnya : opiate). Dalam suatu studi, jumlah morfin yang diberikan secara
langsung akan berhubungan dengan terjadinya ileus, (Cali, 2000).
Penggunaan narkotika pasca operasi dapat dikurangi dengan suplemen
dengan obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS). OAINS dapat menurunkan
ileus dengan menurunkan peradangan local dan dengan mengurangi jumlah
narkotika yang digunakan. Studi mioelektrik dari elektroda ditempatkan pada
usus besar, dimana studi ini telah mengungkapkan resolusi lebih cepat dari
yang diberikan pada pasien ileus versus yang diberikan ketorolac morfin,
namun kelemahan OAINS digunakan mencakup disfungsi trombosit dan
ulserasi mukosa lambung. Kondisi ini dapat dipertimbangkan dengan
penggunaan agen cyclooxygenase-2, untuk menurunkan efek samping ini,
(Ferraz, 1995).
Sampai saat ini belum ada suatu variabel yang secara akurat
memprediksi resolusi ileus. Pemeriksaan kondisi klinis masih menjadi
parameter penting untuk mengevaluasi asupan oral dan fungsi usus yang baik.
Laporan dari pasien bahwa sudah terjadi flatus, harus dinilai ulang dengan
seksama secara pemeriksaan fisik dan diagnostic yang akurat, serta tidak boleh
hanya mengandalkan dari laporan pasien (Mukherjee, 2008).
2. Terapi Diet

13

Umumnya, menunda intake makan oral sampai tanda klinis ileus


berakhir. Namun, kondisi ileus tidak menghalangi pemberian nutrisi enteral.
Pemberian enteral secara hati-hati dan dilakukan secara bertahap, (Ng WQ,
2003). Pada suatu studi pemberian permen karet menunjukkan bahwa
mengunyah permen karet sebagai bentuk pemberian makanan palsu pada fase
pemulihan awal dari ileus pasca bedah setelah laparoskopi colectomy. 19
pasien yang menjalani elektif laparoskopi colectomy secara acak. 10 pasien
yang ditetapkan ke grup permen karet dan 9 untuk kelompok control.
Kelompok permen karet yang digunakan 3x sehari dari pasca operasi pertama
pagi sampai intake oral. Terjadinya flatus lebih cepat dalam kelompok permen
karet daripada di kelompok control buang air besar pertama tercatat pada 3,1
hari dalam kelompok permen karet versus 5,8 hari pada kelompok control,
(Asao, 2002).
3. Terapi Aktivitas
Kebijakan konvensional pada praktek klinik memberikan pemahaman
bahwa ambulasi dini merangsang fungsi usus dan meningkatkan ileus pasca
bedah, meskipun hal ini belum ditunjukkan dalam literature.
Dalam sebuah studi nonrandomized mengevaluasi 34 pasien, elektroda
bipolar seromuscular ditempatkan di segmen saluran gastrointestinal setelah
laparotomi. 10 pasien ditugaskan untuk ambulasi pada pasca operasi hari
pertama, dan yang lainnya 24 pasien ditugaskan untuk ambulasi pada pasca
bedah hari keempat. Hasil yang didapat, ternyata tidak ada perbedaan yang
signifikan dari hasil mioelektrik dalam pemulihan di lambung, jejunum, atau
usus antara 2 kelompok tersebut, (Waldhausen, 1990). Walaupun begitu,
ambulasi tetap bermanfaat dalam mencegah pembentukan atelektasis, obstruksi
vena profunda, dan pneumonia tetapi tidak memiliki peran dalam mengobati
ileus.
4. Terapi Farmakologi
Sampai saat ini belum terdapat studi yang menilai manfaat supositoria
dan enema untuk pengobatan ileus. Eritromisin, suatu agonis resptor motilin,
telah digunakan untuk paresis pasca operasi lambung namun belum terbukti

14

bermanfaat bagi ileus. Metoklopramid, sebuah antagonis dopaminergik,


sebagai obat anti muntah dan prokinetik. Data telah menunjukkan bahwa
pemberian obat ini dapat benar-benar memperburuk ileus, (Mukherjee, 2008).
Terapi farmakologis yang dianjurkan adalah golongan opioid antagonis
selektif, misalnya alvimopan. Alvimopan ini ditunjukkan untuk membantu
mencegah ileus post operative reseksi usus, (Maron, 2008).
3.2 Diagnosa Keperawatan
1. Konstipasi b.d. hipomotilitas/kelumpuhan intestinal.
2. Resiko ketidakseimbangan cairan tubuh b.d. keluar cairan tubuh dari muntah,
ketidakmampuan absorpsi air oleh intestinal.
3. Resiko ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kurangnya intake makanan yang adekuat.
4. Actual/resiko tinggi syok hipovolemik b.d. penurunan volume darah, sekunder dari
penurunan hidrasi, ketikmampuan absorpsi cairan oleh kolon.
5. Kecemasan b.d. prognosis penyakit.
6. Pemenuhan

informasi

b.d.

adanya

intervensi

medic

dan

keperawatan,

misinterpretasi informasi.
7. Nyeri b.d. iritasi intestinal, distensi abdominal.

3.3 Intervensi Keperawatan


Rencana intervensi disususn sesuai dengan tingkat toleransi individu. Pada
pasien ileus, intervensi pada masalah keperawatan actual/resiko tinggi syok
hipovolemik dapat disesuaikan dengan masalah yang sama pada asuhan keperawatan

15

pasien gastroenteritis. Untuk intervensi masalah nyeri, kecemasan dan pemenuhan


informasi dapat disesuaikan pada intervensi masalah pasien diverticulitis.
1. Konstipasi b.d. hipomotilitas/kelumpuhan intestinal.
Tujuan : Dalam waktu 5x24 jam terjadi perbaikan konstipasi.
Kriteria evaluasi :
- Laporan pasien sudah mampu flatus dan keinginan untuk melakukan BAB.
- Bising usus terdengar normal, frekuensi 5-25 x / menit.
- Gambaran foto polos abdomen tidak terdapat adanya akumulasi gas di dalam intestinal.
INTERVENSI
Kaji

factor

RASIONAL

predisposisi Walaupun predisposisi ileus biasanya terjadi akibat pasca bedah abdomen,

terjadinya ileus.

tetapi ada factor predisposisi lain yang mendukung peningkatan resiko


terjadinya ileus. Hal ini harus segera dikolaborasikan untuk mendapat
intervensi medis, misalnya adanya sepsis harus diatasi, kondisi gangguan
elektrolit harus dikoreksi.

Monitoring status cairan.

Penurunan volume cairan akan meningkatkan resiko ileus semakin parah


karena

terjadi

gangguan

elektrolit.

Peran

perawat

harus

mendokumentasikan kondisi status cairan dan harus melaporkan apabila


didapatkan adanya perubahan yang signifikan.
Evaluasi

secara

berkala Pemantauan secara rutin dapat memberikan data dasar pada perawat atau

laporan

pasien

tentang sebagai pera untuk kolaborasi dengan medis tentang kondisi perbaikan

flatus dan periksa kondisi ileus. Hasil evaluasi harus didokumentasikan secara hati-hati pada status
bising usus.

medis.

Pasang selang nasogastrik.

Pemasangan selang nasogastrik dilakukan untuk menurunkan keluhan


kembung dan distensi abdomen. Perawat melakukan pemantauan setiap 4
jam dari pengeluaran pada selang nasogastrik.

Lakukan teknik ambulasi.

Walaupun terdapat studi yang tidak berhubungan dengan peningkatan


resolusi ileus. Dalam sebuah studi non-randomized mengevaluasi pasien,
elektroda

bipolar

seromuskular

ditempatkan

di

segmen

saluran

gastrointestinal setelah laparotomi. 10 pasien ditugaskan untuk ambulasi


pada pasca operasi hari pertama, dan yang lainnya 24 pasien ditugaskan

16

untuk ambulasi pada pasca bedah hari ke 4. Hasil yang didapat, ternyata
tidak ada perbedaan yang signifikan dari hasil mioelektrik dalam
pemulihan di lambung, jejunum atau usus antara 2 kelompok tersebut,
(Waldhausen, 1990). Akan tetapi pelaksanaan ambulasi tetap bermanfaat
dalam mencegah pembentukan atelektasis, obstruksi vena profunda, dan
pneumonia.
Kolaborasi :
Opioid antagonis selektif.

Alvimopan ini ditunjukkan untuk membantu mencegah ileus post operatif


reseksi usus, (Maron, 2008).

2. Resiko ketidakseimbangan cairan tubuh b.d. keluar cairan tubuh dari muntah, ketidakmampuan
absorpsi air oleh intestinal.
Tujuan : Dalam waktu 5x24 jam tidak terjadi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Kriteria evaluasi :
-

Pasien tidak mengeluh pusing, membrane mukosa lembap, turgor kulit normal.

TTV dalam batas normal.

CRT < 3 detik, urin > 600 ml/hari.

Laboratorium : Nilai elektrolit normal.


INTERVENSI

Monitoring
(turgor

status

kulit,

RASIONAL
cairan Jumlah dan tipe cairan pengganti ditentukan dari keadaan status cairan.

membrane Penurunan volume cairan mengakibatkan menurunnya produksi urin,

mukosa, urine output).

monitoring yang ketat pada produksi urin < 600 ml/hari merupakan
tanda-tanda terjadinya syok hipovolemik.

Kaji sumber kehilangan cairan.

Kehilangan cairan darimuntah dapat disertai dengan keluarnya natrium


via oral yang juga akan meningkatkan resiko gangguan elektrolit.

Dokumentasikan intake dan Sebagai data dasar dalam pemberian terapi cairan dan pemenuhan
output cairan.

hidrasi tubuh secara umum.

Monitor TTV secara berkala.

Hipotensi dapat terjadi pada hipovolemi yang memberikan manifestasi


sudah terlibatnya system kardiovaskular untuk melakukan kompensasi

17

mempertahankan tekanan darah.


Kaji

warna

sianosis,

kulit,

nadi

suhu, Mengetahui adanya pengaruh adanya peningkatan tahanan perifer.

perifer

dan

diaphoresis secara teratur.


Kolaborasi :
-

Pertahankan

pemberian - Jalur yang paten penting untuk pemberian cairan cepat dan

cairan secara intravena.


-

Evaluasi kadar elektrolit.

memudahkan perawat dalam melakukan control intake dan output


cairan.
- Sebagai deteksi awal menghindari gangguan elektrolit sekunder dari
muntah pada pasien peritonitis.

3. Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d. kurangnya intake makanan yang
adekuat.
Tujuan : Setelah 7x24 jam asupan nutrisi dapat optimal dilaksanakan.
Kriteria evaluasi :
- Bising usus kembali normal dengan frekuensi 5-25x/menit.
- Pasien dapat menunjukkan metode menelan makanan yang tepat.
- Terjadi penurunan gejala kembung dan distensi abdomen.
- Berat badan pada hari ke 7 pasca bedah meningkat minimal 0,5 kg.
INTERVENSI

RASIONAL

Evaluasi secara berkala kondisi Sebagai data dasar teknik pemberian asupan nutrisi.
motilitas usus.

18

Hindari intake apapun secara Umumnya, menunda intake makanan oral sampai tanda klinis ileus
oral.

berakhir. Namun kondisi ileus tidak menghalangi pemberian nutrisi


enteral.

Berikan nutrisi parenteral.

Pemberian enteral diberikan secara hati-hati dan lakukan secara


bertahap sesuai tingkat toleransi dari pasien.

Berikan

stimulant

permen Pada suatu studi pemberian permen karet menunjukkan bahwa

karet.

mengunyah permen karet sebagai bentuk pemberian makanan palsu


pada fase pemulihan awal dari ileus pasca bedah setelah laparoskopi
colectomy. 19 pasien yang menjalani elektif laparoskopi colectomy
secara acak. 10 pasien yang ditetapkan ke grup permen karet dan 9
untuk kelompok control. Pada kelompok yang mendapat makanan
palsu berupa permen karet dengan durasi 3x sehari pada hari pertama
pasca operasi. Terjadi flatus lebih cepat pada kelompok yang mendapat
makanan palsu permen karet daripada di kelompok control.

Pantau

intake

dan

output, Berguna untuk mengukur keefektifan nutrisi dan dukungan cairan.

anjurkan untuk timbang berat


badan secara periodic (sekali
seminggu).
Lakukan perawatan mulut.

Intervensi ini untuk menurunkan resiko infeksi oral.

Kolaborasi dengan ahli gizi Ahli gizi harus terlibat dalam penentuan komposisi dan jenis makanan
mengenai jenis nitrisi yang yang akan diberikan sesuai dengan kebutuhan individu.
akan digunakan pasien.

3.4

Implementasi
Pelaksanaan asuhan kerawatan merupakan realisasi dari pada rencana
tindakan keperawatan yang telah di terapkan meliputi tindakan idependent, dependetn,
interdependent. Pada pelaksanaan terdiri dari bebrapa kegiatan, validasi, rencana
keperawatan,

mendokumentasikan

rencana

keperawatan

keperawatan dan pengumpulan data, (Susan Martin, 1998).

3.5

Evaluasi

memberikan

asuhan

19

Hasil yang diharapkan setelah dilakukan tindakan keperawatan adalah sebagai


berikut :
1) Kemampuan motilitas pasien meningkat dan konstipasi dapat teratasi
2) Tidak terjadi ketidakseimbangan cairan tubuh
3) Asupan nutrisi tubuh optimal
4) Pasien tidak mengalami syok hipovolemik
5) Terjadi penurunan respons kecemasan
6) Terpenuhinya informasi kesehatan
7) Nyeri terkontrol atau teradaptasi

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Ileus adalah suatu kondisi hipomotilitas (kelumpuhan) saluran gastrointestinal
tanpa disertai adanya obstruksi mekanik pada intestinal. Pada kondisi klinik sering
disebut dengan ileus paralitik. Obstruksi Ileus adalah gangguan aliran normal isi usus
sepanjang saluran usus, (Selvia A. Price).
Dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal
atau suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan
dapat secara mekanis atau fungsional yang segera memerlukan pertolongan atau
tindakan.
Perawat sangat perlu melakukan pemantauan pada pasien pascabedah
abdominal dari kondisi ileus. Setelah 2-3 hari pasca-pembedahan abdomen, ileus
merupakan suatu kondisi fisiologis yang normal sekunder dari anastesia dan efek
intervensi bedah, namun istilah ileus kondisi kelumpuhan intestinal dapat bertahan
lebih dari 3 hari pascabedah.

20

4.2 Saran
Setelah membaca makalah tentang asuhan keperawatan ileus, diharapkan
mahasiswa dapat memahami serta mampu menjelaskan tentang landasan teori serta
mampu mengaplikasikan asuhan keperawatannya.

DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, dkk. 2010. Keperawatan Medikal Bedah Sistem Pencernaan. Yogyakarta :


Gosyen Publishing.
Inayah, Iin. 2004. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan.
Jakarta : Salemba Medika.
Muttaqin, Arif & Kumala Sari. 2011. Gangguan Gastrointestinal. Jakarta : Salemba Medika.
Riyanto, Ahmad. 2012. Konsep Dasar Penyakit Ileus. http://www.google.co.id/. (22
Desember 2012).
Sweeta, Chintya. 2011. Asuhan Keperawatan pada Ileus. http://www.google.co.id/. (22
Desember 2012).