You are on page 1of 33

LAPORAN PENDAHULUAN

STRIKTUR URETHRA
DEFINISI
Striktur urethra adalah berkurangnya diameter dan atau elastisitas urethra yang disebabkan
oleh jaringan urethra diganti jaringan ikat yang kemudian mengkerut menyebabkan lumen
urethra mengecil. (3,4) Penyempitan lumen urethra disebabkan oleh dinding urethra
mengalami fibrosis dan pada tingkat yang parah terjadi fibrosis korpus spongiosium.
ANATOMI URETHRA
Urethra adalah suatu tabung yang berfungsi untuk mengalirkan urine dari kandung kemih ke
dunia luar. Uretra pada laki-laki lebih panjang dari wanita.
Urethra dibagi menjadi 2 bagian, yaitu anterior dan posterior. Urethra anterior dibagi lagi
menjadi meatus urethra, pendulans urethra dan bulbus urethra. Urethra anterior ini berupa
tabung yang lurus, terletak bebas di luar tubuh, sehingga kalau memerlukan operasi atau
reparasi relatif mudah. Urethra posterior dibagi menjadi prostat urethra dan membranancea
urethra. Urethra posterior terletak di posterior tulang pubis di anterior rektum, terdapat
spinkter internus dan eksternus sehingga kalau memerlukan operasi atau reparasi sulit.

ETIOLOGI
Striktur urethra disebabkan oleh berbagai hal, antara lain:
1. Infeksi.
Infeksi dari urethra adalah penyebab tersering dari striktur urethra, misalnya infeksi akibat
transmisi seksual seperti uretritis gonorrhoika atau non gonorrhoika. Dapat juga disebabkan
oleh infeksi sebagai komplikasi pemasangan dan penggunaan kateter dalam jangka waktu
lama.

2. Trauma.

Cedera pada urethra dapat menyebabkan ruptur urethra anterior atau posterior, cedera yang
telah menyembuh dapat meninggalkan jaringan skar yang akan menyebabkan striktur.
Trauma yang menyebabkan striktur urethra adalah trauma tumpul pada selangkangan
(straddle injury), fraktur tulang pelvis, dan instrumentasi atau tindakan transuretra uretra yang
kurang berhati-hati.
3. Kongenital.
Beberapa bayi lahir dengan striktur urethra, misalnya meatus stenosis congenital, klep urethra
posterior. (3,4,5,6,7)
PATOFISIOLOGI
Proses radang akibat trauma atau infeksi pada urethra akan menyebabkan terbentuknya
jaringan sikatriks pada urethra. Jaringan sikatriks pada lumen urethra menimbulkan hambatan
aliran urine hingga retensi urine. Aliran urine yang terhambat akan mecari jalan keluar di
tempat lain (di sebelah proksimal striktur) dan akhirnya akan mengumpul di rongga
periurethra. Jika terinfeksi menimbulkan abses periurethra yang kemudian pecah membentuk
fistula uretrokutan. Pada keadaan tertentu dijumpai banyak sekali fistula sehingga disebut
sebagai fistula seruling.
GEJALA KLINIS
1.

Berkurangnya aliran urine. Ini merupakan gejala umum pertama yang sering ditemukan.
Ketegangan saat berkemih adalah hal yang biasa ditemukan, tetapi kemacetan total atau

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

lengkap jarang terjadi.


Pancaran air kencing kecil dan bercabang.
Perasaan tidak puas setelah berkemih.
Frekuensi (buang air kecil lebih sering dari normal).
Urgensi (tidak dapat menahan keinginan untuk berkemih).
Sakit atau nyeri saat buang air kecil kadang-kadang dijumpai.
Kadang-kadang dijumpai infiltrat, abses dan fistel.
Gejala lanjut adalah retensio urine.
DERAJAT PENYEMPITAN URETHRA
Sesuai dengan derajat penyempitan lumennya, striktur urethra dibagi menjadi 3 tingkatan,
yaitu:

1.
2.
3.
4.

Ringan, jika oklusi yang terjadi kurang dari 1/3 diameter lumen urethra.
Sedang, jika terdapat oklusi 1/3 sampai dengan diameter lumen urethra.
Berat, jika terdapat oklusi lebih besar dari diameter lumen urethra.
Pada penyempitan derajat berat, kadang kala teraba jaringan keras di korpus spongiosum
yang dikenal dengan spongiofibrosis.

PENATALAKSANAAN
Pengobatan pada umumnya bertujuan untuk meningkatkan laju aliran air kemih, meredakan
gejala, dan mencegah komplikasi yang mungkin dapat terjadi.
1.

Dilatasi (pelebaran) dari striktur urethra adalah cara perawatan yang sederhana. Ini biasanya
dilakukan dengan memasukkan suatu tangkai plastik yang tipis ke dalam urethra. Secara
perlahan-lahan tangkai tersebut dimasukkan dan secara berangsur-angsur akan melebarkan
striktur tersebut. Perawatan ini pada hakekatnya dapat menyebabkan kerusakan pada mukosa
dan jaringan skar pada urethra. Oleh karena itu, cara perawatan ini harus diulang kembali

2.

ketika gejala dan tanda striktur urethra muncul kembali.


Suatu prosedur yang dikenal dengan nama urethrotomi adalah merupakan perawatan pilihan
lain. Cara yang dilakukan adalah dengan memasukkan suatau telescope ke dalam urethra
untuk melihat lokasi striktur secara terinci. Setelah itu dengan memasukkan suatu pisau yang
tipis untuk memotong striktur dan lumen menjadi lebih lebar. Sekitar separuh dari pasien
akan sembuh dengan baik dengan perawatan ini. Walau bagaimanapun, cara ini tetapi akan
meninggalkan jaringan parut dan mungkin harus diulangi perawatan pada waktu yang akan

datang.
3. Operasi adalah perawatan pilihan jika kedua cara diatas tidak memberikan hasil yang baik.
Suatu striktur yang pendek dapat dipotong kemudian kedua ujungnya disatukan kembali. Jika
striktur panjang, maka dipasang skingraf pada uretra tersebut. Antibiotik dapat diberikan dan
bertujuan untuk mencegah infeksi atau peradangan saluran kemih dan komplikasi sampai
setelah striktur tersebut berhasil dilebarkan.
KOMPLIKASI
Obstruksi urethra yang lama akan menimbulkan stasis urine dan menimbulkan berbagai
komplikasi anatar laian:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Infeksi. (saluran kemih, prostat, ginjal)


Divcertikel urethra atau buli-buli.
Abses periurethra.
Batu urethra.
Fistel uretro-kutan.
Karsinoma urethra.
PROGNOSIS
Striktur urethra sering kali kambuh, sehingga pasien harus sering menjalani pemeriksaan
secara teratur ke dokter. Penyakit ini dinyatakan sembuh bila setelah dilakukan observasi
selama 1 tahun tidak menunjukkan tanda-tanda kekambuhan.

RENCANA KEPERAWATAN
Nyeri b/d insisi bedah sitostomisuprapubik
Tujuan : nyeri berkurang/ hilang
Intervensi
1.
2.
3.
4.

Kaji sifat intensitas, lokasi dan lama factor pencetus dan hilangnya nyeri
Kaji tanda non verbal nyeri
Berikan pilihan tindakan rasa nyaman
Dokumentasi dan observasi efek dari obat yang di inginkan dan efeksampingnya.
Perubahan pola eliminasi berkemih b/d sitostomi suprapubik
Intervensi:

1.
2.
3.
4.

Kaji ureter dan atau kateter supra pubis terhadap kepatenan


Kaji warna keter dan aliran urin serta adanya bekuan melalui kateter tiap 2 jam
Pertahankan iriggasi kandung kemih continue sesuai intruksi
Gunakan salin normal steril untuk irigasi
Resiko terhadap inveksi b/d adanya kateter suprapubik, insisi bedahsitostomi suprapubik.
Tujuan: Klien menunjukkan perbaikan dan tidak ada infeksi
Intervensi :
1. Pantau adanya infeksi, demam mengigil, dan diaforesis, batuk, napas pendek, nyeri
oral atau nyeri menelan, bercak berwarna krim di dalam rongga oral, sering berkemih,
dorongan (urgensi) atau disuria, kemerahan, bengkak, atau drainase dari luka, lesi
vasikuler di wajah, bibir, atau daerah perianal.
2. Ajarkan pasien atau pemberi perawatan tentang perlunya melaporkan kemungkinan
infeksi.
3. Pantau jumlah sel darah putih dan diferensial.
4. Dapatkan kultur drainase luka, lesi kulit, urine, feses, sputum, mulut dan darah sesuai
ketentuan. Berikan terapi antimikrobial sesuai ketentuan.
Takut/Cemas b/d penyakitnya
tujuannya : Mengungkapkan perasaan dan pikirannya secara terbuka, melaporkan
berkurangnya ansietas dan takut, mengungkapkan mengerti tentang penyakitnya, secara
verbal menyadari terhadap apa yang diinginkan yaitu menyesuaikan diri terhadap perubahan
fisiknya.

Intervensi
1.

Izinkan pasien untuk mengetahui keadaan/status penyakitnya


Rasionalnya : Pengetahuan tentang apa yang diharapkan dari interaksi membantu

menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien untuk memikirkan tujuan yang realistic
2.
Jelaskan metode komunikasi yang dapat digunakan secara baik dan efektif.
Rasionalnya : Kemauan berkomunikasi membantu mengembangkan rasa aman penting untuk
fungsi andiron.
3.
Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan keadaannya tentang hasil
pemeriksaannya.
Rasionalnya : Ekspresi perasaan secara verbal membantu meningkatkan kesadaran akan
realitas (kenyataan).

DAFTAR PUSTAKA
Brunner & Suddarth 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Vol. 3, ed. 8, EGC, Jakarta
Doenges, et all 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, ed. 3, EGC, Jakarta
Mansjoer, A et all 2000, Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2, ed. 3, Media Aesculapius, Jakarta
Tambajong, J 2000, Patofisiologi Untuk Keperawatan, EGC, Jakarta
Tarwoto, et all 2007, Keperawatan Medikal Bedah : Gangguan Sisten Persarafan, Sagung Seto, Jakarta.

asuhan keperawatan pada klien dengan Striktur Uretra


BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG

Kegawatdaruratan urologi merupakan kegawatan di bidang urologi yang bisa disebabkan oleh
karena trauma maupun bukan trauma. Pada trauma urogenitalia, biasanya dokter cepat
memberikan pertolongan dan jika fasilitas yang tersedia tidak memadai, biasanya langsung
merujuk ke tempat yang lebih lengkap. Berbeda halnya dengan kedaruratan urogenitalia non
trauma, yang sering kali tidak terdiagnosis dengan benar, menyebabkan kesalahan
penanganan maupun keterlambatan dalam melakukan rujukan ke tempat yang lebih lengkap,
sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan organ dan bahkan ancaman terhadap jiwa
pasien.
Berdasarkan data yang diperoleh dari medical record Rumah Sakit Kepolisian Pusat Raden
Said Sukanto sejak bulan Oktober 2009 sampai dengan bulan Desember 2009 yaitu dari 236
pasien yang dirawat di ruang Mahoni 2, Striktur uretra berjumlah 59 orang ( 0,25% ) dengan
58 orang pulang ke rumah dan 1 orang meninggal dunia, Fraktur berjumlah 177 orang ( 0,
68% ).
Dari data yang telah diperoleh di atas, perawat juga mempunyai peranan penting untuk
mengatasi klien dengan striktur uretra di lihat dari upaya promotif perawat dapat memberikan
pendidikan kesehatan tentang sriktur uretra yang meliputi : pengertian striktur uretra,
penyebab striktur uretra, tanda dan gejala striktur uretra, serta bagaimana cara pencegahan
dari striktur uretra.
Upaya pencegahan atau preventif yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan diri
dalam menjaga kebersihan diri dan lingkungan, banyak beristirahat. Upaya kuratif yaitu
dengan memberikan pengobatan dengan cara menganjurkan klien banyak minum air putih 2
2,5 ltr/hari dan makan - makanan yang bergizi, therapy cairan dan pengobatan. Sedangkan
upaya rehabilitative untuk perawatan dirumah yaitu dengan cara memberikan klien makanan
yang bergizi, minum banyak air putih serta menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan.
makanan yang bergizi, therapy cairan dan pengobatan. Sedangkan upaya rehabilitative untuk
perawatan dirumah yaitu dengan cara memberikan klien makanan yang bergizi, minum
banyak air putih serta menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan.
Berdasarkan kompleks masalah yang terjadi dan pentingnya peran perawat maka penulis
tertarik untuk membahas tentang bagaimana memberikan Asuhan Keperawatan Pada Tn. S
dengan striktur uretra di Ruang Mahoni 2 Rumah Sakit Pusat Kepolisian Raden Said Sukanto
Jakarta, untuk mengulas lebih dalam.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Tujuan pada penulisan ini adalah memperoleh gambaran secara nyata tentang asuhan
keperawatan pada klien dengan striktur uretra.
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan striktur uretra.
b. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan striktur uretra.
c. Mampu merencanakan asuhan keperawatan pada klien dengan striktur uretra.
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan perencanaan asuhan
keperawatan pada klien dengan striktur uretra dengan baik dan benar.
e. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan striktur uretra.
f. Mampu mengidentifikasi kesenjangan antara teori dan praktik.
g. Mampu mengidentifikasi faktor pendukung, penghambat, serta mencari solusi atau
alternatif pemecahan masalah.

h. Mampu mendokumentasikan semua kegiatan keperawatan dalam narasi.


C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dari penulisan makalah ini membatasi masalah hanya pada asuhan
keperawatan pada klien Tn. S dengan Striktur Uretra di ruang Mahoni II Rumah Sakit Pusat
Kepolisian Raden Said Sukanto Jakarta yang dilaksanakan pada tanggal 16 Juni 2010 sampai
18 Juni 2010.
D. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode deskriptif yaitu dengan cara
mengumpulkan data, menganalisa data, dan menarik kesimpulan.
Adapun teknik penulisannya adalah sebagai berikut :
1. Studi kasus secara langsung dari pengkajian keperawatan sampai evaluasi keperawatan.
2. Studi kepustakaan yang berkaitan dengan asuhan keperawatan pada klien dengan striktur
uretra.
E. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari lima bab yang disusun secara sistematis dengan urutan yaitu Bab I
Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup, dan sistematika
penulisan. Bab II : Tinjauan teori yang terdiri dari konsep dasar yang meliputi pengertian,
anatomi uretra, etiologi, patofisiologi (proses perjalanan penyakit, manifestasi klinis,
komplikasi), penatalaksanaan medis, pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan,
perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan, dan evaluasi keperawatan. Bab III :
Tinjauan kasus yang terdiri dari pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi keperawatan. Bab IV : Pembahasan yang terdiri dari
pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan
keperawatan, dan evaluasi keperawatan. Bab V : Penutup yang terdiri dari kesimpulan dan
saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian
Striktur uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan kontraksi.
(C. Smeltzer, Suzanne;2002 hal 1468).
Striktur uretra lebih sering terjadi pada pria daripada wanita terutama karena perbedaan
panjangnya uretra. (C. Long , Barbara;2000 hal 338)
Striktur uretra adalah berkurangnya diameter atau elastisitas uretra yang disebabkan oleh
jaringan uretra diganti jaringan ikat yang kemudian mengerut menyebabkan jaringan lumen
uretra mengecil.
B. Anatomi Uretra
Uretra merupakan saluran yang urin dari vesika urinaria ke meatus uretra, untuk dikeluarkan
ke luar tubuh. Uretra pada pria memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai saluran urin & saluran
untuk semen dari organ reproduksi. Panjang uretra pria kira-kira 23 cm & melengkung dari
kandung kemih ke luar tubuh, melewati prostate dan penis. Sedangkan uretra pada wanita

lurus & pendek, berjalan secara langsung dari leher kandung kemih ke luar tubuh.
Uretra pria dibagi atas dua bagian, yaitu uretra anterior & uretra posterior. Uretra anterior
dibagi menjadi uretra bulbaris, penil, & glandular. Fosa navikularis ialah dilatasi distal kecil
dalam uretra glandular. Uretra anterior dikelilingi oleh badan erektil, korpus spongiosum.
Glandula bulbourethralis (glandula Cowper) terletak pada diafragma urogenitalis & bermuara
ke dalam uretra bulbaris. Uretra penil dilapisi oleh banyak kelenjar kecil, glandula Littre.
Uretra posterior terdiri dari uretra pars membranasea & prostatika. Uretra pars prostatika
terbentang dari vesika urinaria ke uretra pars membranasea, serta ada mengandung
verumontanum (daerah meninggi pada bagian distal basis uretra pars prostatika yang
dibentuk oleh masuknya duktus ejakulatorius dan utrikulus, yang merupakan sisa duktus
Muller).
Uretra posterior terdiri dari uretra pars membranasea & prostatika. Uretra pars prostatika
terbentang dari vesika urinaria ke uretra pars membranasea, serta ada mengandung
verumontanum (daerah meninggi pada bagian distal basis uretra pars prostatika yang
dibentuk oleh masuknya duktus ejakulatorius dan utrikulus, yang merupakan sisa duktus
Muller).
Uretra juga dapat dibagi atas tiga bagian, antara lain uretra prostatika, uretra membranasea,
dan uretra spongiosa. Uretra prostatika dimulai dari leher vesika urinaria dan termasuk juga
bagian yang melewati kelenjar prostat. Uretra prostatika merupakan bagian yang paling lebar
diantara bagian uretra lainnya. Uretra membranasea adalah uretra yang terpendek dan paling
sempit dengan panjang sekitar 12-19 mm. pada uretra membranasea terdapat spingter uretra
eksterna, yang berfungsi dalam pengaturan keluaran urin yang dikendalikan secara volunteer.
Uretra spongiosa adalah uretra yang terpanjang, kira-kira 150 mm yang dimulai dari porsio
membranasea melewati korpus spongiosum dan berakhir di gland penis.
Dalam keadaan normal lumen uretra laki-laki 24 cih dan wanita 30 cih, sedangkan anak-anak
1 cih. Apabila 1 cih 0,3 mm sehingga lumen uretra laki-laki sama dengan 7,1 mm dan wanita
9 mm. Biomekanik striktur uretra. Dalam ilmu fisika dikenal hukum Borke Bar Lussae : P
x V : C.R
Keterangan rumus : P : Tekanan V : Volume R : Tahanan C : Konstanta Juga dikenal tahanan
berbanding terbalik dengan diameter, pada striktur uretra lumen uretra mengecil sehingga
tekanan naik. Apabila tahanan naik, maka untuk mempertahankan volume sesuai dengan
hukum Borle Bar Lussae tekanan harus naik. Jadi pada striktur uretra pada waktu
kencing, kencing harus menaikkan tekanan. Dalam ilmu fisika dikenal 2 macam aliran cair
yaitu aliran streamline dan aliran turbulent. Aliran streamline dengan kecepatan yang sama
dan aliran turbulent dengan kecepatan berbeda-beda. Hal ini menyebabkan urine di samping
kecil karena lumen mengecil juga bercabang. Urine yang kecepatannya rendah. Uretra
berfungsi mengalirkan urine dari kandung kemih keluar tubuh.
C. Etiologi
Striktur uretra dapat disebabkan oleh setiap peradangan kronik atau cedera. Radang karena
gonore merupakan penyebab penting, tetapi radang lain yang kebanyakan disebabkan
penyakit kelamin lain, juga merupakan penyebab uretritis dan periuretritis. Kebanyakan
striktur ini terletak di uretra pars membranasea, walaupun juga bisa ditempat lain.
Trauma uretra dapat terjadi pada fraktur panggul dan karena cedera langsung, misalnya pada
anak yang naik sepeda dan kakinya terpeleset dari pedal sepeda sehingga jatuh dengan uretra
pada bingkai sepeda lelaki sehingga terjadi cedera kangkang. Yang juga tidak jarang terjadi

ialah cedera iatrogenik akibat kateterisasi atau instrumentasi.


Penyebab lain terjadinya striktur uretra ialah tindakan-tindakan bedah seperti bedah
rekonstruksi uretra terhadap hipospadia, epispadia, kordae, dan bedah urologi.
Striktur uretra paling sering terjadi pada pria karena uretra pria lebih panjang daripada uretra
wanita. Penyebab lainnya ialah tekanan dari luar uretra seperti tumor pada hipertrofi prostat
benigna, atau pun juga bisa diakibatkan oleh kelainan congenital, namun jarang terjadi.
Resiko striktur uretra meningkat pada orang yang memiliki riwayat penyakit menular seksual,
episode uretritis berulang, atau hipertrofi prostat benigna.
D. Patofisiologi
1. Proses Penyakit
Striktur Uretra Trabekulasi, sarkulasi dan vertikal : Pada striktur uretra kandung kencing
harus berkontraksi lebih kuat, sesuai dengan hukum starling, dan apabila otot diberi beban
akan berkontraksi lebih kuat sampai pada suatu saat kemudian akan melemah. Jadi pada
striktur uretra otot buli-buli mula-mula akan menebal dan akan terjadi trabekulasi pada fase
compensasi, setelah itu pada fase decompensasi timbul sirkulasi dan vertikel menonjol di luar
buli-buli. Dengan demikian divertikel buli-buli adalah tonjolan mukosa keluar buli-buli tanpa
dinding otot.
Residu urine Pada fase compensasi dimana otot buli-buli berkontraksi makin kuat timbul
residu. Pada fase dekompensasi akan timbul residu, residu adalah keadaan dimana setelah
kencing masih ada urine dalam kandung kencing dalam keadaan normal residu ini tidak ada.
Refluks vesiku uretra Dalam keadaan normal pada saat b.a.k urine dikeluarkan buli-buli
melalui uretra. Pada striktur uretra dimana terdapat tekanan intravesikel yang meninggi maka
akan terjadi refluks yaitu urine dari buli-buli akan masuk kembali ke ureter bahkan sampai ke
ginjal. Infeksi saluran kemih dan gagal ginjal Dalam keadaan normal buli-buli dalam keadaan
stent. Salah satu cor tubuh mempertahankan buli-buli dengan perlu setiap saat mengosongkan
buli-buli waktu buang air kecil.
Dalam keadaan dekompensasi maka akan timbul residu, akibatnya maka buli-buli gampang
terkena infeksi. Adanya kuman yang berkembang biak di buli-buli akan timbul refluks, maka
timbul pyelonefritis akut maupun kronik yang akhirnya timbul gagal ginjal dengan segala
akibatnya. Inflitrat urine, abces dan fistulla Adanya sumbatan pada uretra, tekanan intravesika
yang maka timbul inhibisi urine keluar buli-buli atau uretra proximal dari striktur urine yang
terinfeksi keluar dari buli-buli atau uretra menyebabkan timbulnya infiltrat urine, kalau tidak
diobati infiltrat urine akan timbul meninggi abces, abces pecah pistel disuprapubis atau uretra
proximal dari striktur.
2. Manifestasi Klinis
Gejala dan tanda striktur biasanya mulai dengan hambatan arus kemih dan kemudian timbul
sebagai sindrom lengkap obstruksi leher kandung kemih seperti digambarkan pada hipertrofi
prostat.
Gejala klinis yang sering ditimbulkan oleh striktur antara lain disuria, kesuliran berkemih,
pancaran kemih yang menurun, frekuensi kemih yang abnormal, rasa tidak nyaman,
hematuria, nyeri pelvis atau bagian bawah perut, pengosongan kantung kemih yang tidak
puas.

3. Komplikasi
Striktur uretra menyebabkan retensi urin di dalam kantung kemih. Penumpukan urin dalam
kantung kemih beresiko tinggi untuk terjadinya infeksi, yang dapat menyebab ke kantung
kemih, prostat, dan ginjal. Abses di atas lokasi striktur juga dapat terjadi, sehingga
menyebabkan kerusakan uretra dan jaringan di bawahnya.
Selain itu, resiko terjadinya batu kandung kemih juga meningkat, timbul gejala sulit
ejakulasi, fistula uretrokutaneus (hubungan abnormal antara uretra dengan kulit), dan gagal
ginjal (jarang).
E. Penatalaksanaan Medis
Pengobatan terhadap striktur uretra tergantung pada lokasi striktur, panjang/ pendeknya
striktur, dan kedaruratannya. Striktur uretra dapat diobati dengan melakukan dilatasi uretra
secara periodik. Dilatasi dilakukan dengan halus & hati-hati setiap 2-3 bulan. Namun teknik
seperti ini cenderung menimbulkan striktur uretra kembali.
Komplikasi striktur uretra yang ringan sangat rendah, sehingga pilihan terapi yang dapat
diberikan ialah dengan dilatasi uretra atau uretrotomi interna yang dilihat langsung. Pada
pasien tertentu dengan striktura pendek, maka uretrotomi interna yang dilakukan dengan
peralatan pemotong kecil, telah memberikan hasil yang memuaskan. Bila diperlukan dilatasi
secara sering, bila ada striktura panjang atau majemuk, bila dilatasi terlalu sulit atau bila
striktura terdapat pada anak, maka intervensi bedah terbuka dapat menjadi indikasi.
Beberapa pilihan terapi yang dapat dilakukan antara lain :
1. Dilatasi, balon kateter atau dialtor (plastik atau metal) dimasukkan ke dalam uretra untuk
membuka daerah yang menyempit.
2. Obturation, benda yang kecil, elastis, pipa plastik dimasukkan dan diposisikan pada daerah
striktur.
3. Uretrotomi (Endoscopic internal urethrotomy or incision), teknik bedah dengan derajat
invasif yang minim, dimana dilakukan tindakan insisi pada jaringan radang untuk membuka
striktur. Tindakan ini dikerjakan dengan menggunakan kamera fiberoptik dibawah pengaruh
anastesi.
4. Uretroplasti atau rekonstruksi uretra terbuka, ada dua jenis uretroplasti yaitu uretroplasti
anastomosis (daerah yang menyempit dibedah lalu uretra diperbaiki dengan mencangkok
jaringan atau flap dari jaringan di sekitarnya) & uretroplasti subsitusi (mencangkok jaringan
striktur yang dibedah dengan jaringan mukosa bibir/ Buccal Mucosa Graft, jaringan kelamin,
atau jaringan preputium/ Vascularized preputial or genital skin flaps).
5. Prosedur rekonstruksi multipel (perineal urethrostomy), tindakan bedah dengan membuat
saluran uretra di perineum (ruang antara anus dan skrotum).
Penggunaan antibiotik diindikasikan pada pasien yang memiliki infeksi saluran kemih.
Antibiotik yang diberikan disesuaikan dengan hasil tes kepekaan. Jika hasil tes kepekaan
steril, maka antibiotik dapat diindikasikan atas profilaksis seperti ampisilin atau sefalosporin
generasi ke I atau aminoglikosida (gentamisin, ibramisin).
Uretroplastik adalah perbaikan cara bedah terbuka dengan cara pendekatan melalui bawah
abdominal, perawatan pasien serupa dengan pasien setelah menjalani bedah urology. Striktura
uretra pada wanita Etiologi striktur pada wanita berbeda dengan laki-laki, etiologi striktur
uretra pada wanita kadang-kadang kronis biasanya diderita oleh wanita di atas 40 tahun
dengan syndroma cystitis berulang yaitu dysuria, frequency dan urgency. Diagnosa striktur
uretra dibuat dengan bougie aboule, tanda khas dari pemeriksaan bougie aboule adalah pada

waktu dilatasi terdapat flik/hambatan. Pengobatan dari striktur uretra pada wanita dapat
dilatasi kalau gagal dengan otisurethrotomie.
F. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian terhadap klien dengan gangguan urologi meliputi pengumpulan data dan analisa
data. Dalam pengumpulan data, sumber data klien diperoleh dari diri klien sendiri, keluarga,
perawat, dokter ataupun dari catatan medis. Pengumpulan data meliputi :
1. Biodata klien dan penanggung jawab klien. Biodata klien terdiri dari nama, umur, jenis
kelamin, pendidikan, pekerjaan, status, agama, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor
register, dan diagnosa medik.
2. Biodata penanggung jawab meliputi : umur, pendidikan, pekerjaan, alamat, dan hubungan
keluarga.
3. Keluhan utama Merupakan keluhan klien pada saat dikaji, klien yang mengatakan tidak
dapat BAK seperti biasa dan merasakan nyeri pada daerah post op striktur uretra
(cystostomi).
4. Riwayat kesehatan masa lalu/lampau akan memberikan informasi-informasi tentang
kesehatan atau penyakit masa lalu yang pernah diderita pada masa lalu.
5. Pemeriksaan fisik, dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi terhadap
bagian sistem tubuh, makan akan ditemukan hal-hal sebagai berikut : Keadaan umum Pada
klien post op striktur uretra perlu dilihat dalam hal : keadaan umumnya meliputi penampilan,
kesadaran, gaya bicara. Pada post op striktur uretra mengalami gangguan pola eliminasi BAK
sehingga dilakukan pemasangan kateter tetap.
6. Sistem pernafasan, perlu dikaji mulai dari bentuk hidung, ada tidaknya sakit pada lubang
hidung, pergerakan cuping hidung pada waktu bernafas, kesimetrisan gerakan dada pada saat
bernafas, auskultasi bunyi nafas dan gangguan pernafasan yang timbul. Apakah bersih atau
ada ronchi, serta frekuensi nafas. hal ini penting karena imobilisasi berpengaruh pada
pengembangan paru dan mobilisasi secret pada jalan nafas.
7. Sistem kardiovaskuler, mulai dikaji warna konjungtiva, warna bibir, ada tidaknya
peninggian vena jugularis dengan auskultasi dapat dikaji bunyi jantung pada dada dan
pengukuran tekanan darah dengan palpasi dapat dihitung frekuensi denyut nadi.
8. Sistem pencernaan, yang dikaji meliputi keadaan gigi, bibir, lidah, nafsu makan, peristaltik
usus, dan BAB. Tujuan pengkajian ini untuk mengetahui secara dini penyimpangan pada
sistem ini.
9. Sistem genitourinaria, dapat dikaji dari ada tidaknya pembengkakan dan nyeri pada daerah
pinggang, observasi dan palpasi pada daerah abdomen bawah untuk mengetahui adanya
retensi urine dan kaji tentang keadaan alat-alat genitourinaria bagian luar mengenai
bentuknya ada tidaknya nyeri tekan dan benjolan serta bagaimana pengeluaran urinenya,
lancar atau ada nyeri waktu miksi, serta bagaimana warna urine.
10. Sistem musculoskeletal, yang perlu dikaji pada sistem ini adalah derajat Range of Motion
dari pergerakan sendi mulai dari kepala sampai anggota gerak bawah, ketidaknyamanan atau
nyeri yang dilaporkan klien waktu bergerak, toleransi klien waktu bergerak dan observasi
adanya luka pada otot harus dikaji juga, karena klien imobilitas biasanya tonus dan kekuatan
ototnya menurun.
11. Sistem integument, yang perlu dikaji adalah keadaan kulitnya, rambut dan kuku,
pemeriksaan kulit meliputi : tekstur, kelembaban, turgor, warna dan fungsi perabaan.
12. Sistem neurosensori, yang dikaji adalah fungsi serebral, fungsi saraf cranial, fungsi
sensori serta fungsi refleks.
13. Pola aktivitas sehari-hari, pola aktivitas sehari-hari pada klien yang mengalami post op
striktur uretra meliputi frekuensi makan, jenis makanan, porsi makan, jenis dan kuantitas
minum dan eliminasi yang meliputi BAB (Frekuensi, warna, konsistensi) serta BAK

(frekuensi, banyaknya urine yang keluar setiap hari dan warna urine). Personal hygiene
(frekuensi mandi, mencuci rambut, gosok gigi, ganti pakaian, menyisir rambut dan
menggunting kuku). Olahraga (frekuensi dan jenis) serta rekreasi (frekuensi dan tempat
rekreasi).
14. Data psikososial, pengkajian yang dilakukan pada klien imobilisasi pada dasarnya sama
dengan pengkajian psikososial pada gangguan sistem lain yaitu mengenai konsep diri
(gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran diri, dan identitas diri) dan hubungan interaksi
klien baik dengan anggota keluarganya maupun dengan lingkungan dimana ia berada. Pada
klien dengan post op striktur uretra dan imobilisasi adanya perubahan pada konsep diri secara
perlahan-lahan yang mana dapat dikenali melalui observasi terhadap adanya perubahan yang
kurang wajar dan status emosional perubahan tingkah laku, menurunnya kemampuan dalam
pemecahan masalah dan perubahan status tidur. Data spiritual Klien dengan post op striktur
uretra perlu dikaji tentang agama dan kepribadiannya, keyakinan : harapan serta semangat
yang terkandung dalam diri klien yang merupakan aspek penting untuk kesembuhan
penyakitnya.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium Ureum, kreatinin, untuk melihat faal ginjal. Radiologi Diagnosa pasti dapat
dibuat dengan uretrografi. Retrograde uretrografi untuk melihat uretra anterior. Antegrade
uretrografi untuk melihat uretra posterior. Bipoler uretrografi adalah kombinasi dari
pemeriksaan antegrade dan retrograde uretrografi. Dengan pemeriksaan ini diharapkan di
samping dapat dibuat diagnosis striktur uretra dapat juga ditentukan panjang striktur uretra
yang penting untuk perencanaan terapi/operasi.
Uretroskopi, Pemeriksaan dengan endoskopi untuk melihat secara adanya striktura.
Uroflometri adalah pemeriksaan untuk menentukan jumlah yang dipancarkan perdetik normal
flow maksimum laki-laki 15 ml/detik dan wanita 25 ml/detik. Terapi Kalau penderita datang
dengan retensio urine atau inflitrat urine maka pertolongan pertama dengan cystostomi
kemudian baru dibuat pemeriksaan uretrografi untuk memastikan adanya striktur uretra.
Kalau penderita datang dengan infiltrat urine atau abses dilakukan insisi infiltrat pada abses
dilakukan cystostomi baru kemudian dibuat uretrografi. Trukar cystostomie Kalau penderita
datang dengan retensio urine atau infiltrat urine dilakukan cystostomi. Tindakan cystostomi
dilakukan dengan trukar, dilakukan dengan anastesi, 1 jari di atas pubis dan di atas garis
tengah tusukan membuat sudut setelah triktur masuk, dimasukkan kateter dan triktur dilepas,
kateter difiksasi dengan benang sutera ke kulit. Uretroplasty Indikasi untuk uretroplasty
adalah penderita dengan striktur uretra dengan panjang lebih 2 cm atau dengan fistel uretrokutan atau penderita striktur uretra pasca uretromi sachse. Bedah endoskopi Setelah dibuat
diagnosis striktur uretra ditentukan lokasi dan panjang striktura. Indikasi untuk melakukan
bedah endoskopi dengan alat sachse adalah striktura uretra anterior atau posterior masih ada
lumen walaupun kecil dan panjang tidak lebih 2 cm serta tidak ada fistel, kateter dipasang
selama 2 3 hari pasca tindakan Setelah penderita dipulangkan penderita masih harus kontrol
tiap minggu sampai satu bulan kemudian tiap bulan sampai 6 bulan dan tiap 6 bulan seumur
hidup. Pada waktu kontrol dilakukan pemeriksaan uroflowmetri kalau Q maksimal 10
dilakukan bouginasi. Otis uretrotomie Tindakan otis uretrotomie dikerjakan pada striktur
uretra anterior terutama bagian distal dari pendulans uretra dan fossa manikularis. Striktur
uretra bisa juga diperbaiki dengan uretromie visual trans uretra atau dengan uretroplastik
dengan anastomosis dari ujung ke ujung atau dengan grap ke dalam perawatan orang pasca
oretrotomie visual trans uretral serupa dengan perawatan reseksi trans uretral prostatektomi
(TURP).

G. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan pada pasien striktur uretra post op menurut Marilynn E. Doengoes
(2000) adalah sebagai berikut :
1. Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan dengan post op cystostomi.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan post op cystostomi.
3. Resiko volume cairan berlebih berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih
diabsorbsi.
4. Resiko infeksi, hemoragi berhubungan dengan pembedahan.
5. Inkontinen, stress atau mendesak berhubungan dengan pengangkatan kateter setelah bedah.
6. Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan penyakitnya (striktur).
7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi.
H. Perencanaan Keperawatan
1. Gangguan pola eliminasi BAK berhubungan dengan post op cystostomi.
Tujuan : Gangguan pola eliminasi BAK teratasi.
Kritera Hasil : Klien dapat BAK secara spontan, tidak ada retensi, urgency, dan disuria.
Rencana Tindakan
a. Pemantauan output urine dan karateristik.
Rasional : Mendeteksi gangguan pola eliminasi BAK secara dini.
b. Mempertahankan irigasi kemih yang konstan selama 24 jam.
Rasional : Mencegah bekuan darah menyumbat aliran urine.
c. Mempertahankan kepatenan dauer kateter dengan irigasi.
Rasional : Mencegah bekuan darah menyumbat kateter.
d. Mengusahakan intake cairan (2500 3000).
Rasional : Melancarkan aliran urine.
e. Setelah kateter diangkat, terus memantau gejala-gejala gangguan pola eliminasi BAK
Rasional : Mendeteksi dini gangguan pola eliminasi BAK.
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan post op cystostomi.
Tujuan : Gangguan rasa nyaman nyeri teratasi
Kriteria Hasi : Tidak ada keluhan nyeri, tanda-tanda vital dalam batas normal, ekspresi wajah
rileks.
Rencana Tindakan
a. Penyuluhan kepada pasien agar tidak berkemih ke seputar kateter.
Rasional : Mengurangi kemungkinan spasmus.
b. Pemantauan pasien pada interval yang teratur selama 24 jam, untuk mengenal gejala-gejala
dini spasmus kandung kemih.
Rasional : Menentukan terdapatnya spasmus kandung kemih sehingga obat-obatan bisa
diberikan.
c. Memberikan obat-obatan yang dipesankan (analgetik, antispasmodik).
Rasional : Gejala menghilang.
d. Katakan pada pasien bahwa intensitas dan frekuensi akan berkurang dalam 24 jam sampai
28 jam.
Rasional : Memberitahu pasien bahwa ketidaknyamanan hanya temporer.
3. Resiko volume cairan berlebih berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih
diabsorbsi.
Tujuan : Resiko kelebihan volume cairan teratasi.
Kriteria Hasil : Tidak ada kelebihan volume cairan, balance cairan seimbang.

Rencana Tindakan
a. Pantau intake dan output dalam 24 jam.
b. Kaji tanda-tanda kelebihan volume cairan.
4. Resiko infeksi, hemoragi berhubungan dengan pembedahan.
Tujuan : Resiko infeksi teratasi
Kriteria Hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi, tanda-tanda vital dalam batas normal, hasil lab
dalam batas normal.
Rencana Tindakan
a. Pemantauan tanda-tanda vital, melaporkan gejala-gejala shock dan demam.
Rasional : Mencegah sebelum terjadi shock.
b. Pemantauan warna urine darah merah segar bukan merah tua beberapa jam setelah bedah
baru.
Rasional : Warna urine berubah dari merah segar menjadi merah tua pada hari ke 2 dan ke 3
setelah operasi.
c. Penyuluhan kepada pasien agar mencegah manuver valsava.
Rasional : Dapat mengiritasi, perdarahan prostat pada periode dini pasca bedah akibat
tekanan.
d. Mencegah pemakaian termometer rectal, pemeriksaan rectal atau huknah sekurangkurangnya 1 minggu.
Rasional : Dapat menimbulkan perdarahan.
e. Mempertahankan teknik aseptik dari sistem drainase urine, irigasi bila perlu saja.
Rasional : Meminimalkan resiko masuknya kuman yang bisa menyebabkan infeksi.
f. Mengusahakan intake yang banyak.
Rasional : Dapat menurunkan resiko infeksi.
5. Inkontinen, stress atau mendesak berhubungan dengan pengangkatan kateter setelah bedah.
Tujuan : Inkontinensia, stress teratasi.
Kriteria Hasil : Tidak ada inkontinensia, tidak ada stress.
Rencana Tindakan
a. Pengkajian terjadi tetesan urine setelah kateter diangkat.
b. Rasional : Mendeteksi kontinen.
c. Katakan kepada pasien bahwa itu biasa dan kontinen akan pulih.
Rasional : Pasien harus dibesarkan harapannya bahwa ia itu normal.
d. Penyuluhan latihan-latihan perineal.
Rasional : Bantuan untuk mengendalikan kandung kemih.
6. Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan penyakitnya (striktur).
Tujuan : Resiko disfungsi seksual teratasi.
Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda disfungsi seksual.
Rencana Tindakan
a. Beri intervensi kepada pasien bahwa dalam berhubungan seksual, pengeluaran sperma
akan melalui lumen buatan..
Rasional : Klien mengatakan perubahan fungsi seksual.
b. Berikan informasi menurut kebutuhan. Kemungkinan kembali tingkat fungsi seperti
semula. Kejadian ejakulasi retrograde (air kemih seperti susu). Mencegah hubungan seksual 3
sampai 4 minggu setelah operasi.
Rasional : Kurang pengetahuan dapat membangkitkan cemas, dan berdampak disfungsi
seksual.

7. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, salah interpretasi informasi.


Tujuan : Kurang pengetahuan teratasi.
Kriteria Hasil : Klien mengerti tentang penyakitnya dan perawatan di rumah.
Rencana Tindakan
a. Penyuluhan kepada pasien. Mencegah aktivitas berat 3 sampai 4 minggu setelah operasi.
Rasional : Dapat menimbulkan perdarahan.
b. Mencegah mengedan waktu BAB selama 4 sampai 6 minggu, memakai pelunak tinja
laksatif sesuai kebutuhan.
Rasional : Mengedan bisa menimbulkan perdarahan, pelunak tinja bisa mengurangi
kebutuhan untuk mengedan waktu BAB.
c. Anjurkan minum sekurang-kurangnya 2500 sampai 3000 ml/hari.
Rasional : Dengan pemberian minum yang banyak maka klien akan BAK dan tidak terjadi
penyumbatan.
I. Pelaksanaan Keperawatan
Pelaksanaan adalah perwujudan dari rencana keperawatan yang meliputi tindakan-tindakan
yang direncanakan oleh perawat. Dalam melaksanakan proses keperawatan harus kerjasama
dengan tim kesehatan-kesehatan yang lain keluarga klien dan dengan klien sendiri, yang
meliputi 3 hal : Melaksanakan tindakan keperawatan dengan memperhatikan kode etik
dengan standar praktek dan sumber-sumber yang ada. Mengidentifikasi respon klien.
Mendokumentasikan/mengevaluasi pelaksanaan tindakan keperawatan dan respon pasien.
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan : Kebutuhan klien. Dasar dari tindakan. Kemampuan
perseorangan dan keahlian/keterampilan dari perawat. Sumber-sumber dari keluarga dan
klien sendiri. Sumber-sumber dari instansi.
Pendekatan yang digunakan adalah independent, dependen dan interdependen.
1. Secara mandiri (independen)
Adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu pasien dalam
mengatasi masalahnya atau menanggapi rekasi karena adanya stressor (penyakit), misalnya :
a. Membantu klien dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
b. Melakukan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus.
c. Memberikan dorongan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya secara wajar.
d. Menciptakan lingkungan terapeutik.
2. Saling ketergantungan /kolaborasi (interdependen)
Adalah tindakan keperawatan atas dasar kerjasama sesame tim perawatan atau kesehatan
lainnya seperti dokter, fisioterapi, analisis kesehatan, dll.
3. Rujukan / ketergantungan
Adalah tindakan keperawatan atas dasar rujukan dari profesi lain diantaranya dokter,
psikologis, psikiater, ahli gizi, fisioterapi, dsb. Pada penatalaksanaannya tindakan
keperawatan dilakukan secara :
a. Langsung : ditangani sendiri oleh perawat
b. Delegasi : diserahkan kepada orang lain/perawat lain yang dapat dipercaya.
4. Fase dokumentasi
Merupakan terminasi antara perawat dan klien. Setelah implementasi dilakukan dokumentasi
terhadap implementasi yang dilakukan.
Apabila tujuan, hasil dan intervensi telah diidentifikasi, perawat siap untuk melakukan
aktivitas pencatatan pada rencana perawatan klien. Dalam mengaplikasikan rencana kedalam
tindakan dan penggunaan biaya secara efektif serta pemberian perawatan tersebut. Dalam
menentukan prioritas saat ini, perawat meninjau ulang sumber sumber sambil berkonsultasi
dan mempertimbangkan keinginan klien. ( Doengoes E. Marillyn, Rencana Askep, hal. 21 )

J. Evaluasi Keperawatan
Menurut Ziegler, Voughan Wrobel, & Erlen (1986, dalam Craven & Hirnle, 2000), evaluasi
terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
1. Evaluasi proses. Evaluasi proses berfokus pada penampilan kerja perawat dan apakah
perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan merasa cocok, tanpa tekanan, dan sesuai
wewenang. Area yang menjadi perhatian pada evaluasi proses mencakup jenis informasi yang
didapat pada saat wawancara dan pemeriksaan fisik, validasi dari perumusan diagnosa
keperawatan, dan kemampuan tehnikal perawat.
2. Evaluasi hasil. Evaluasi hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku
klien merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat pada pencapaian
tujuan dan kriteria hasil.
Untuk penentuan masalah teratasi, teratasi sebahagian, atau tidak teratasi adalah dengan cara
membandingkan antara SOAP dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
Subjective adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari klien setelah tindakan
diberikan. Objective adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan, penilaian,
pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan dilakukan. Analisis adalah
membandingkan antara informasi subjective dan objective dengan tujuan dan kriteria hasil,
kemudian diambil kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebahagian, atau tidak teratasi.
Planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan berdasarkan hasil analisa.
BAB III
TINJAUAN KASUS

Di dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang laporn kasus asuhan keperawatan pada
klien Tn. S dengan diagnosa medis Striktur Uretra di ruang Mahoni 2 Rumkit Polpus R.S
Sukanto Jakarta. Asuhan keperawatan tersebut dilaksanakan selama 3 hari mulai dari tanggal
16 Juni 2010 sampai dengan 18 Juni 2010 melalui perdekatan proses keperawatan yaitu
meliputi tahap pengkajian, diagnosa keperawatan, perencaaan keperawatan, implementasi,
dan evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang bertujuan untuk
mengumpulkan data klien. Dalam pengkajian penulis mendapatkan data dari klien, perawat
ruangan, catatan medis, dan tim medis lainnya dengan melakukan wawancara dan observasi
kesehatan. Adapun hal dari pengkajian adalah sebagai berikut :
1. Identitas Klien
Klien adalah seorang laki-laki berinisial Tn. S berusia 56 tahun, status perkawinan adalah
menikah, berasal dari suku Sunda dengan alamat Asrama Polres Sigaramen Sukabumi. Klien
beragama islam. Klien bekerja sebagai polisi. Klien di rawat di Rumah Sakit Kepolisian
Pusat Raden Said Sukanto Jakarta di Ruang Mahoni 2 pada tanggal 28 Mei 2010 dengan
nomor register 52 52 84 dan diagnose medis Striktur Uretra.
2. Resume
Klien tiba di ruang Mahoni 2 Rumah Sakit Kepolisisan Pusat Raden Said Sukanto Jakarta
pada tanggal 20 Mei 2010. Klien merupakan seorang laki-laki berinisial Tn. S berusia 56
tahun dengan diagnose medis striktur uretra. mengatakan susah untuk BAK sejak 10 hari
yang lalu. Klien mengatakan kalau BAK hanya menetes. Keadaan umum baik, kesadaran
composmentis. Observasi tanda-tanda vital tekanan darah 120/80 mmHg nadi 80 x/menit
pernafasan 22 x/menit suhu 37C.
Observasi tanda-tanda vital tekanan darah 120/80 mmHg nadi 80 x/menit pernafasan 22
x/menit suhu 37C.

Pada tanggal 04 Juni 2010, klien dilakukan tindakan uretroskopi. Persiapan yang dilakukan
sebelum operasi adalah : melakukan pemeriksaan laboratorium hematologi dan pemeriksaan
rongent foto thorax, mencukur bulu kemaluan/pubis, inform concent, mengajarkan teknik
distraksi dan relaksasi.
Klien selesai di operasi pada pukul 09.30 WIB dan tiba di ruangan Mahoni 2. Keadaan umum
sedang, kesadaran masih dalam pengaruh obat anestesi. Observasi tanda-tanda vital tekanan
darah 100/70 mmHg nadi 80 x/menit pernafasan 20 x/menit suhu 36C. tampak terpasang
dower kateter, keluar urine berwarna merah.
Masalah keperawatan yang timbul pada saat pre uretroskopy adalah gangguan pola eliminasi
urine, cemas, dan kurang pengetahuan. Masalah keperawatan pada post uretroskopy adalah
gangguan rasa nyaman nyeri, perubahan pola eliminasi urin, resiko terjadinya infeksi, cemas.
Tindakan keperawatan yang telah dilakukan adalah melakukan observasi tanda-tanda vital,
mengajarkan teknik distraksi dan relaksasi, melakukan pemeriksaan laboratorium, dan
melakukan kolaborasi dalam pemberian obat-obatan dan penatalaksanaan tindakan operatif.
Evaluasi secara umum dilakukan adalah masalah keperawatan pada post uretroskopy belum
teratasi. Rencana selanjutnya adalah tindakan keperawatan di lanjutkan di ruangan Mahoni 2.
3. Riwayat Keperawatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Keluhan utama : Klien mengeluh tidak dapat BAK. Klien mengatakan kalau BAK hanya
menetes saja.
b. Riwayat kesehatan masa lalu
Klien mengatakan 20 tahun yang lalu pernah menjalani terapi laser dan sebelum berobat ke
RS. Polri sebelumnya pernah di rawat di rumah sakit Syamsudin Sukabumi, klien
mengatakan tidak mempunyai riwayat alergi obat, makanan, binatang, maupun lingkungan.
Klien menderita penyakit diabetes mellitus sejak 10 tahun yang lalu. Klien mengkonsumsi
obat Glukopag 2 - - 2.
c. Riwayat kesehatan keluarga

Keterangan :
= meninggal
= perempuan
= laki-laki
----------- = tinggal dalam satu rumah
= klien
= hubungan pernikahan
= hubungan persaudaraan

d. Riwayat psikososial dan spiritual


Klien mengatakan orang paling dekat dengan dirinya selama di rumah sakit adalah istrinya,
interaksi dalam keluarga baik, pola komunikasi klien dalam keluarga baik, pembuat
keputusan adalah saudaranya, kegiatan kemasyarakatan yang diikuti adalah mengaji.
Dampak penyakit klien terhadap keluarga adalah keluarga menjadi khawatir terhadap kondisi
klien, masalah yang mempengaruhi klien saat ini adalah aktivitas klien terbatas. Hal yang
sangat dipikirkan saat ini adalah klien ingin cepat sembuh dari sakitnya. Harapan setelah
menjalani perawatan adalah klien dapat melakukan aktivitas seperti semula. Perubahan yang
dirasakan setelah jatuh sakit adalah klien mengalami keterbatasan dalam beraktivitas. Klien
tidak mempunyai nilai-nilai yang bertentangan dengan kesehatan, saat ini aktivitas
keagamaan yang dilakukan adalah berdoa. Kondisi lingkungan rumah baik dan tidak
mempengaruhi kesehatan saat ini.
e. Pola kebiasaan sehari-hari sebelum sakit
1) Pola nutrisi
Klien tidak ada masalah dengan pola makan. Frekunsi makan 3x/hari, nafsu makan baik,
jumlah yang dihabiskan adalah 1 porsi, tidak ada makanan yang membuat alergi atau
makanan yang tidak di sukai serta tidak ada makanan pantangan, diit makan di rumah yaitu
makan biasa. Tidak ada penggunaan obat-obatan sebelum makan, dan tidak ada penggunaan
alat bantu NGT.
2) Pola eliminasi
Klien buang air kecil (BAK) sebanyak 6-7 x/hari, warna kuning jernih, tidak ada keluhan saat
BAK, tidak ada penggunaan alat bantu kateter. Klien buang air besar (BAB) 1 x/hari dengan
waktu yg tidak tentu, berwarna kuning kecokelatan, bau khas feces, konsistensi setengah
padat, tidak ada keluhan saat BAB, dan klien tidak pernah menggunaan obat-obatan laksatif.
3) Pola personal hygiene
Klien mandi 2 x/hari dengan menggunakan sabun mandi pada waktu pagi dan sore hari, oral
hygiene (sikat gigi) 2x/hari dengan menggunakan pasta gigi pada waktu pagi dan sore hari,
mencuci rambut 3x/minggu dengan menggunakan shampoo.
4) Pola istirahat dan tidur
Klien tidur + 7 jam / hari, klien tidak pernah tidur siang karena klien bekerja, tidur malam + 7
jam / hari, klien biasa berdoa sebelum tidur.
5) Pola aktivitas dan latihan
Klien bekerja dari pagi sampai sore, klien tidak pernah berolahraga dan tidak ada keluhan
dalam beraktivitas.
6) Kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan
Klien mengatakan tidak mempunyai kebiasaan merokok dan minum - minuman keras /
NAPZA.
f. Pola kebiasaan di rumah sakit
1) Pola nutrisi
Klien tidak ada masalah dengan pola makan. Frekunsi makan 3x/hari, nafsu makan baik,
jumlah yang dihabiskan adalah 1 porsi, tidak ada makanan yang membuat alergi atau
makanan yang tidak di sukai serta tidak ada makanan pantangan, diit makan di rumah yaitu

makan biasa. Tidak ada penggunaan obat-obatan sebelum makan, dan tidak ada penggunaan
alat bantu NGT.
2) Pola eliminasi
Klien buang air kecil (BAK) sebanyak 400cc/4 jam, terdapat keluhan yaitu tidak dapat BAK
secara spontan, ada penggunaan alat bantu kateter. Klien BAB 1 x/hari, konsistensi feces
setengah padat, bau khas feces, tidak ada penggunaan obat laksatif.
3) Pola personal hygiene
Klien mandi 2 x/hari dengan menggunakan sabun mandi pada waktu pagi dan sore hari, oral
hygiene (sikat gigi) 2x/hari dengan menggunakan pasta gigi pada waktu pagi dan sore hari,
mencuci rambut 3x/minggu dengan menggunakan shampoo.
4) Pola istirahat dan tidur
Klien tidur + 10 jam /hari, tidur siang 3 jam /hari, tidur malam 7 jam /hari, klien mempunyai
kebiasaan berdoa sebelum tidur.
5) Pola aktivitas dan latihan
Klien dapat beraktivitas secara mandiri. Tidak ada keluhan dalam beraktivitas.
4. Pengkajian Fisik
a. Pemeriksaan fisik umum
Berat badan sebelum sakit 57 kg, berat badan setelah sakit 56 kg, tinggi badan 169 cm,
tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 80x /menit, frekuensi nafas 20x /menit, suhu tubuh 36,8
0C
b. System penglihatan
Sisi mata tampak simetris baik kiri maupun kanan, kelopak mata normal, pergerakan bola
mata normal, konjungtiva merah muda, kornea normal tidak keruh/berkabut dan tidak
terdapat perdarahan, sklera anikterik, pupil isokor, otot-otot mata tidak ada kelainan, fungsi
penglihatan baik, tidak terdapat tanda-tanda radang, klien tidak menggunakan kacamata,
tidak memakai lensa kontak, reaksi terhadap cahaya baik.
c. Sistem pendengaran
Daun telinga normal, kondisi telinga tengah normal, tidak terlihat adanya cairan yang keluar
dari telinga dan tidak ada perasaan penuh pada telinga, klien tidak mengalami tinnitus, fungsi
pendengaran baik, klien tidak menggunakan alat bantu pendengaran.
d. Sistem Wicara
Klien tidak mengalami gangguan wicara, klien dapat mengucapkan kata-kata dengan jelas.
e. Sistem Pernapasan
Pada jalan napas bersih, tidak ada sesak dan klien tidak menggunakan alat bantu pernapasan,
frekuensi nafas 20x /menit, irama nafas teratur, jenis pernafasan spontan, klien tidak batuk
dan tidak terdapat sputum, suara nafas normal/vesikuler, dan tidak ada nyeri saat bernafas.
f. Sistem Kardiovaskuler
Nadi 70x /menit, irama teratur dengan denyut kuat, tekanan darah 120/90 mmHg, tidak
terjadi distensi vena jugularis baik kanan maupun kiri, temperatur kulit hangat, warna kulit
kemerahan, pengisian kapiler 2 detik, tidak terdapat edema, kecepatan denyut apical 74

x/menit, irama teratur, tidak terdengar adanya kelainan pada bunyi jantung dan tidak sakit
dada.
g. Sistem Hematologi
Klien tidak terlihat pucat dan tidak ada perdarahan.
h. Sistem Saraf Pusat
Klien mengatakan tidak pusing, tingkat kesadaran composmentis, GCS E4 M6 V5, tidak
terjadi tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (seperti muntah proyektil, nyeri kepala
hebat, papil edema), klien tidak mengalami gangguan sistem persarafan.
i. Sistem Pencernaan
Klien tidak menggunakan gigi palsu, tidak terdapat carries, tidak tampak stomatitis, lidah
tidak kotor, salifa normal, klien mengatakan tidak nyeri perut, bising usus 8x /menit, klien
tidak megalami diare, klien mengalami konstipasi lamanya 4 hari, tidak teraba pembesaran
hepar, dan abdomen tidak kembung.
j. Sistem Endokrin
Tidak terdapat pembesaran kelenjar tiroid, nafas tidak berbau keton, tidak terdapat luka
ganggren.
k. Sistem Urogenital
Intake 3580 cc, output 2990 cc dan balance cairan 590 cc, ada perubahan pola kemih, BAK
warna kuning jernih, tidak terdapat distensi kandung kemih, dan tidak ada keluhan sakit
pinggang.
l. Sistem Integument
Turgor kulit baik, temperatur kulit hangat, warna kulit kemerahan, keadaan kulit baik,
keadaan rambut : tekstur rambut baik dan bersih.
m. Sistem Musculoskeletal
Klien tidak mengalami kesulitan dalam pergerakan, tidak terdapat fraktur, tidak ada kelainan
struktur tulang belakang. Kekuatan otot baik.
55555555
55555555
5. Data tambahan (pemahaman tentang penyakit)
Klien ketika di tanya tentang penyakitnya mengatakan bahwa dirinya tidak mengerti tentang
penyakitnya.
6. Data penunjang
Data penunjang yang terdapat pada klien yaitu hasil pemeriksaan laboratorium pada tanggal
10 Juni 2010 :
Protein total 7,3 g/dl (6,0-8,7 g/dl), Albumin 4,3 g/dl (3,5-5,2 g/dl), Globulin 3,0 g/dl (2,5-3,1
g/dl), Bilirubun total 0,56 mg/dl (1,5 mg/dl), Bilirubin direk 0,17 mg/dl (0,5 mg/dl), bilirubin
indirek 0,39 mg/dl (1,0 mg/dl), SGOT/AST 39,8 u/l (<37 u/l), SGPT/ALT 28,8 u/l (<40u/l),
Ureum 39 mg/dl (10-50 mg/dl), Creatinine 1,1 mg/dl (0,5-1,5 mg/dl), GDS 105 mg/dl (<200
mg/dl)

7. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan yang terdapat pada klien yaitu : Asam Folat 2 x 1 tab, Ciprofloxacin 2 x
500mg/oral, diit makan biasa.
8. Data Fokus
Data fokus terdiri dari data subyektif dan data obyektif. Data fokus yang terdapat pada klien
adalah sebagai berikut :
a. Data Subyektif
Klien mengeluh tidak dapat BAK, klien mengatakan jika BAK hanya menetes, klien
mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya, klien bertanya tentang pantangan yg tidak
boleh dilakukan.
b. Data Obyektif
Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis, hasil observasi tanda-tanda vital Td :
120/90 mmHg, Nd : 70 x/menit, Rr : 20 x/menit, Sh : 36,8 0C. Tampak terpasang dower
kateter, urine keluar lancar sebanyak 2400cc/24 jam berwarna kuning jernih, tidak ada
distensi kandung kemih, tidak ada tanda-tanda infeksi pada pemasangan kateter, intake 3580
cc out put 2990cc balance cairan 590cc. tampak klien cemas, tampak klien gelisah.
9. Analisa Data
Berdasarkan data yang terkumpul pada tanggal 15 Juni 2010 maka penulis mengelompokkan
analisa data sebagai berikut :
No Data Masalah Etiologi
1. Data Subyektif
Klien mengeluh tidak dapat BAK sejak 10 hari yang lalu
Klien mengeluh jika BAK hanya menetes saja sebelum terpasang kateter
Data Obyektif
keadaan umum sakit sedang
kes composmentis
observasi tanda-tanda vital Td : 120/90 mmHg, Nd : 70 x/menit, Rr : 20 x/menit, Sh : 36,8
0C
tampak terpasang kateter, urine keluar lancar sebanyak 200cc berwarna kuning jernih.
Klien dilakukan tindakan uretroskopy tanggal 04 Juni 2010 Gangguan pola eliminasi urine
Post op uretroskopy
2. Data Subyektif
Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya.
klien bertanya tentang penyakitnya.
klien bertanya tentang pantangan yang tidak boleh dilakukan.
Data Obyektif
Klien tampak cemas
Klien tampak gelisah Kurang pengetahuan Kurang informasi tentang penyakitnya, perawatan
di rumah.
3. Data Subyektif : -Data Obyektif
observasi tanda-tanda vital Td : 120/90 mmHg, Nd : 70 x/menit, Rr : 20 x/menit, Sh : 36,8
0C
Tampak terpasang kateter, urine keluar lancer sebanyak 2400cc/24 jam berwarna kuning

jernih.
Tampak penis bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, tumor, rubor, fungsiolesa)
Klien post uretroskopy hari ke 12. Resiko terjadinya infeksi Kurang informasi tentang
penyakitnya, perawatan di rumah.
Masuknya mikroorganisme pathogen karena tindakan invasive (pemasangan kateter)
B. Diagnosa Keperawatan
Setelah data terkumpul dan di analisa, maka dapat dirumuskan beberapa diagnose
keperawatan, adapun diagnosa keperawatan tersebut disusun berdasarkan hirarki maslows
adalah sebagai berikut :
1. Gangguan pola eliminasi urine berhubungan dengan post uretroskopy.
2. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakit, dan
perawatan di rumah.
3. Resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme pathogen karena
tindakan invasive (pemasangan kateter)
C. Perencanaan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Keperawatan
Diagnosa 1
Gangguan pola eliminasi urin berhubungan denan post uretroskopy di tandai dengan
Data Subyektif : Klien mengatakan sejak 10 hari yang lalu tidak dapat BAK, BAK hanya
menetes,
Data Obyektif : Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis, hasil observasi
tanda-tanda vital Td : 100/70 mmHg, Nd : 80 x/menit, Rr : 20 x/menit, Sh : 37 0C, tampak
terpasang kateter, urine keluar lancar sebanyak 200cc berwarna kuning jernih, Klien
dilakukan tindakan uretroskopy tanggal 04 Juni 2010
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan gangguan
pola eliminasi urine teratasi
Kriteria hasil : Tidak ada retensi urine, urine da[pat keluar dengan baik (spontan).
Rencana tindakan
1. Pantau intake dan output dalam 24 jam.
2. Pertahankan irigasi kemih yang konstan selama 24 jam.
3. Pertahanan kepatenan terpasangnya dower kateter.
4. Usahakan intake 2500cc-3000cc/hari.
5. Pantau gejala gangguan eliminasi BAK.
Pelaksanaan Keperawatan
Tanggal 16 Juni 2010
Pukul 09.00 WIB melakukan observasi tanda-tanda vital, hasil : tekanan darah 100/70
mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 37C. pukul 10.00 WIB mengkaji
intake dan output, hasil : intake 3580cc output 2990cc balance cairan 590cc.
Tanggal 17 Juni 2010
Pukul 07.00 WIB melakukan observasi tanda-tanda vital, hasil : tekanan darah 130/90
mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36C. Pukul 14.00 WIB mengkaji
intake output dalam 24 jam, hasil intake 3600cc output 3000cc balance cairan 600cc.
Tanggal 18 Juni 2010
Pukul 11.00 melakukan observasi tanda-tanda vital, hasil tekanan darah 120/80 mmHg, nadi
74 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36C. Pukul 13.00 WIB mempertahankan kepatenan
terpasangnya dower kateter, hasil : dower kateter terpasang dengan baik, urine lancar
berwarna kuning jernih. Pukul 14.00 WIB mengkaji intake dan output dalam 24 jam, hasil
intake 3550cc output 2980cc.
Evaluasi Keperawatan

Tanggal 18 Juni 2010 Pukul 15.00 WIB


S : Klien mengatakan tidak bisa BAK.
O : Tampak terpasang kateter urine keluar lancar berwarna kuning jernih. Intake 3550 cc,
output 2980cc balance cairan 570cc.
A : Masalah keperawatan belum teratasi, tujuan telah belum tercapai.
P : Tindakan keperawatan dilanjutkan.
Rencana Tindakan
1. Pantau intake dan output dalam 24 jam.
2. Pertahankan irigasi kemih yang konstan selama 24 jam.
3. Pertahanan kepatenan terpasangnya dower kateter.
4. Usahakan intake 2500cc-3000cc/hari.
5. Pantau gejala gangguan eliminasi BAK.
Diagnosa 2
Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya,
perawatan di rumah.ditandai dengan
Data Subyektif : Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya, klien bertanya
tentang penyakitnya, klien bertanya tentang pantangan yang tidak boleh dilakukan.
Data Obyektif : Klien tampak cemas, klien tampak gelisah.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x 30 menit diharapkan kurang
pengetahuan teratasi.
Kriteria hasil : Klien mengerti tentang penyakitnya, klien dapat menyebutkan tentang
pengertian, penyebab, tanda dan gejala dari striktur uretra. Klien dapat mengerti tentang apa
saja yang tidak boleh dilakukan oleh klien.
Rencana tindakan
1. Beri penyuluhan kesehatan kepada klien tentang penyakitnya seperti penyebab, tanda dan
gejala.
2. Informasikan tentang perawatan klien di rumah.
Pelaksanaan Keperawatan
Tanggal 16 Juni 2010
Pukul 10.30 WIB memberikan penyuluhan kesehatan tentang penyakitnya, penyebab, tanda
dan gejala serta perawatan di rumah.
Evaluasi Keperawatan
Tanggal 16 Juni 2010 Pukul 11.00 WIB
S : Klien mengatakan mengerti tentang penyakitnya. Klien mampu menjawab kembali
pertanyaan yang diajukan oleh penulis tentang penyakitnya.
O : Klien tidak tampak cemas, klien tidak tampak gelisah, klien tampak tenang.
A : Masalah keperawatan teratasi, tujuan telah tercapai.
P : Tindakan keperawatan dihentikan.
Diagnosa 3
Resiko terjadinya infeksi berhubungan dngan masuknya mikroorganisme pathogen karena
tindakan invasive (pemasangan kateter) di tandai dengan
Data Subyektif : --Data Obyektif : Keadaan umum sakit sedang, kesadaran composmentis, Tampak terpasang
kateter, urine keluar lancar sebanyak 2400cc/24 jam berwarna kuning jernih, observasi tandatanda vital, hasil : tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu
37C, tampak penis bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, tumor, rubor, dan
fungsiolesa), Klien post uretroskopy hari ke 12.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan resiko infeksi

teratasi.
Kriteria hasil : Tidak terjadi tanda-tanda infeksi, tanda-tanda vital dalam batas normal, hasil
lab dalam batas normal.
Rencana tindakan
1. Observasi tanda-tanda vital.
2. Kaji tanda-tanda infeksi.
3. Lakukan perawatan kateter.
4. Anjurkan untuk minum banyak.
5. Pantau hasil laboratorium (leukosit).
Pelaksanaan Keperawatan
Tanggal 16 Juni 2010
Pukul 09.00 WIB melakukan observasi tanda-tanda vital, hasil : tekanan darah 100/70
mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 37C. pukul 10.00 WIB mengkaji
tanda-tanda infeksi, hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi. Pukul 10.30 WIB menganjurkan
klien untuk banyak minum, hasil : klien mengerti dan mau melakukannya.
Tanggal 17 Juni 2010
Pukul 07.00 WIB melakukan observasi tanda-tanda vital, hasil : tekanan darah 130/90
mmHg, nadi 80 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36C. Pukul 10.00 WIB, melakukan
perawatan kateter, hasil kateter tampak bersih, tidak ada tanda-tanda infeksi.
Tanggal 18 Juni 2010
Pukul 11.00 melakukan observasi tanda-tanda vital, hasil tekanan darah 120/80 mmHg, nadi
74 x/menit, pernafasan 20 x/menit, suhu 36C.
Evaluasi Keperawatan
Tanggal 18 Juni 2010 Pukul 15.00 WIB
S : --O : Observasi tanda-tanda vital, hasil tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 74 x/menit,
pernafasan 20 x/menit, suhu 36C, tidak ada tanda-tanda infeksi, kateter tampak bersih urine
keluar lancar berwarna kuning jernih.
A : Masalah keperawatan belum teratasi, tujuan belum tercapai.
P : Tindakan keperawatan dilanjutkan.
Rencana Tindakan
1. Observasi tanda-tanda vital.
2. Kaji tanda-tanda infeksi.
3. Lakukan perawatan kateter.
4. Anjurkan untuk minum banyak.
5. Pantau hasil laboratorium
BAB IV
PEMBAHASAN
Setelah melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Tn. S dengan striktur uretra di ruang
Mahoni 2 Rumah Sakit Pusat Kepolisian Raden Said Sukanto Jakarta yang dilaksanakan pada
tanggal 16 Juni 2010 sampai dengan 18 Juni 2010. Maka pada bab ini penulis akan
menguraikan kesenjangan atau perbedaan antara teori dan kasus yang dimulai dari pengkajian
keperawatan, diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan,
dan evaluasi keperawatan.
A. Pengkajian Keperawatan
Pengkajian pertama kali dilakukan pada tanggal 16 Juni 2010, data yang didapat dari klien
dan keluarga melalui wawancara, observasi, pengamatan langsung, pemeriksaan fisik, catatan

medic, catatan keperawatan serta menggunakan pemeriksaan diagnostic. adapun data yang di
dapat dari Tn. S yaitu klien mengeluh tidak dapat BAK sejak 10 hari yang lalu.
Didalam teori disebutkan bahwa etiologi dari striktur uretra adalah peradangan kronik atau
cedera namun pada saat dilakukan pengkajian, penulis tidak menemukan adanya penyebab
yang pasti dari striktur uretra.
Semua pengkajian yang ada di teori dilakukan juga pada kasus dengan demikian tidak
terdapat kesenjangan antara teori dan kasus. Faktor pendukung yang dialami selama
pengkajian adalah keluarga dan klien mampu untuk diajak bekerjasama sedangkan faktor
penghambatnya adalah pendokumentasian catatan keperawatan klien kurang lengkap dan
alternatif pemecahan masalahnya adalah bertanya langsung kepada klien, keluarga dan
perawat yang bertugas di ruangan tersebut.
B. Diagnosa Keperawatan
Setelah data terkumpul melalui pengkajian, selanjutnya data di analisa untuk mengetahui
adanya masalah keperawatan pada Tn.S, pada kesempatan ini penulis akan membahas tentang
diagnosa keperawatan, yaitu :
Adapun diagnosa yang ada pada teori tetapi tidak ada pada kasus adalah :
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan post op cystostomi.
Diagnosa ini tidak muncul karena klien menjalani uretroskopi pada tanggal 4 juni 2010. Dan
nyeri sudah tidak di rasakan lagi.
2. Resiko volume cairan berlebih berhubungan dengan larutan irigasi kandung kemih
diabsorbsi.
Diagnosa ini tidak muncul karena pada penghitungan intake dan output balance cairan masih
dalam batas normal dan tidak ada tanda-tanda kelebihan cairan.
3. Inkontinen, stress atau mendesak berhubungan dengan pengangkatan kateter setelah bedah.
Diagnosa ini tidak muncul karena pada saat pengkajian kateter belum di lepas atau masih
terpasang.
4. Resiko disfungsi seksual berhubungan dengan penyakitnya (striktur).
Diagnosa ini tidak muncul karena pada saat pengkajian klien tidak mengalami gejala-gejala
disfungsi seksual.
C. Perencanaan Keperawatan
Pada perencanaan, penempatan prioritas masalah yang utama adalah gangguan pola eliminasi
BAK berhubungan dengan post uretroskopy. Prioritas masalah yang terdapat pada teori dan
yang terdapat pada kasus sama.
Dalam perencanaan terjadi kesenjangan antara teori dan kasus, yaitu pada tujuan. pada teori,
perencanaan tujuan tidak menggunakan waktu sedangkan pada kasus menggunakan waktu.
penetapan tujuan dan criteria hasil yang penulis tetapkan pada kasus di sesuaikan dengan
teori SMART, dengan maksud agar tujuan dan hasil yang di inginkan dapat tercapai. Pada
kasus, tujuan dan criteria hasil dapat di capai sesuai dengan masalah, sehingga tindakan yang
di lakukan tidak menyimpang, efekif, efisien dan tertuju pada pemecahan masalah.
Diagnose keperawatan kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang
penyakitnya, perawatan dirumah menjadi diagnose kedua setelah diagnose perubahan pola
kemih berhubungan dengan post uretroskopy. Hal ini dikarenakan mengingat penyakit

striktur uretra ini dapat berulang (kambuh) kembali.


Diagnose keperawatan resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya
mikroorganisme pathogen karena tindakan invasive (pemasangan kateter) menjadi diagnose
ketiga karena berdasarkan teori tentang penyusunan diagnose keperawatan, diagnose
keperawatan disusun berdasarkan sifat dari diagnose keperawatan tersebut.
Faktor pendukung dalam membuat perencanaan keperawatan adalah pada kasus untuk
rencana tindakan yang diagnosanya sama dengan yang terdapat pada teori di sesuaikan
dengan keadaan klien dan lingkungan. Dalam perencanaan keperawatan klien tidak
mengalami hambatan hal ini dikarenakan adanya buku-buku yang menunjang dalam
pembuatan rencana keperawatan.
D. Pelaksanaan Keperawatan
Dalam tahap pelaksanaan, tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana yang telah
dibuat dan semua tindakan yang dilakukan pada klien didokumentasikan ke dalam catatan
keperawatan.
Pada diagnosa gangguan pola eliminasi urine berhubungan dengan post uretroskopy terdapat
rencana tindakan yang tidak dapat direalisasikan yaitu, mempertahankan irigasi kemih dalam
24 jam. Karena keterbatasan waktu yang dimiliki oleh penulis untuk melakukan asuhan
keperawatan.
Pada diagnosa resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme
pathogen karena tindakan invasive (pemasangan kateter) terdapat rencana yang tidak dapat
dilaksanakan yaitu melakaukan pemantauan hasil laboratorium darah. Hal ini tidak dilakukan
karena tidak ada instruksi dari dokter untuk melakukan pemeriksaan laboratorium akan tetapi
penulis melakukan pemantauan terhadap tanda-tanda infeksi yaitu kalor, dolor, tumor, rubor,
dan fungsiolesa.
Faktor pendukung yang penulis dapatkan adalah keluarga yang sangat kooperatif dan mau
bekerja sama saat dilakukan tindakan keperawatan. Tidak banyak mengalami kesulitan
karena sikap kooperatif klien dan keluarga serta bimbingan dari perawat ruangan sehingga
tindakan keperawatan dapat terlaksana dengan baik.
E. Evaluasi Keperawatan
Dari tiga diagnosa keperawatan yang muncul masalah yang teratasi adalah diagnosa
keperawatan kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang
penyakitnya, dan perawatan dirumah. Sedangkan diagnose keperawatan yang belum teratasi
adalah diagnose pola eliminasi urin berhubungan dengan post uretroskopy dan resiko
terjadinya infeksi behubungan dengan masuknya mikroorganisme pathogen karena tindakan
invasive (pemasangan kateter).
Faktor pendukung keberhasilan asuhan keperawatan adalah adanya kerjasama yang baik
antara penulis dan perawat ruangan serta di dukung pula keluarga pasien yang kooperatif
selama tindakan keperawatan di lakukan dan tentunya kerjasama dengan pasien itu sendiri.
Penulis mendapatkan hambatan dalam melakukan evaluasi keperawatan yaitu adanya
keterbatasan waktu yang diberikan dalam pemberian asuhan keperawatan. Alternative
pemecahan masalah yang penulis lakukan adalah dengan
mengkonfirmasikan/mendelegasikan perencanaan keperawatan yang belum dapat dilakukan
oleh penulis kepada perawat di ruangan untuk melanjutkan sehingga evaluasi dapat dilakukan

secara tuntas.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengkajian pada Tn. S dengan diagnosa striktur uretra, diperoleh data
bahwa klien mengeluh tidak dapat BAK sejak 10 hari dan jika BAK hanya menetes saja.
Tidak didapatkan keluhan nyeri pada klien, hal ini dikarenakan pada saat pengkajian klien
hari ke-12 post uretroskopy. Pada saat pengkajian tidak ditemukan penyebab yang pasti
seperti adanya perdangan kelamin (penyakit kelamin) maupun kecelakaan. Penyakit striktur
uretra ini mnungkin disebabkan oleh adanya riwayat bekerja terlalu keras.
Diagnosa keperawatan yang ada pada kasus adalah, gangguan pola eliminasi urine
berhubungan dengan post uretroskopy, resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan
masuknya mikroorganisme sekunder melalui tindakan invasive pemasangan kateter, dan
kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya dan
perawatan di rumah.
Intervensi di tetapkan berdasarkan prioritas masalah sedangkan tujuan, criteria hasil, dan
rencana tindakan di tetapkan berdasarkan masalah yang ada.
Pada implementasi penulis tidak dapat melakukan semua tindakan keperawatan sesuai
dengan rencana yang telah di buat. Adapun tindakan keperawatan yang belum dapat
dilaksanakan adalah mempertahankan irigasi kemih dalam 24 jamdan melakukan
pemeriksaan laboratorium. Hal ini dikarenakan keterbatasan waktu yang diberikan kepada
penulis untuk melakukan asuhan keperawatan. Oleh karena itu penulis mendelegasikan
dengan perawat ruangan dan semua tindakan di dokumentasikan dalam rencana keperawatan.
Pada tahap evaluasi yang di lakukan pada tanggal 18 Juni 2010 dari empat diagnose
keperawatan yang ada tujuan belum tercapai dan masalah keperawatan belum teratasi semua.
Adapun diagnose yang belum teratasi adalah diagnosa gangguan pola eliminasi urine
berhubungan dengan post uretroskopy dan resiko terjadinya infeksi berhubungan dengan
masuknya mikroorganisme pathogen karena tindakan invasive (pemasangan kateter).
Diagnosa kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang penyakitnya
dan perawatan dirumah dapat dievaluasi secara tuntas
B. Saran
Untuk perawat di ruangan Mahoni 2
Saran yang perlu disampaikan kepada perawat hendaknya Kepada perawat ruangan agar
setiap rencana tindakan yang dilakukan hendaknya didokumentasikan secara lengkap dan
tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E,(2000), Rencana Asuhan Keperawatan, penerbit EGC. Jakarta.
Gallo,(2000) . Keperawatan Kritis, edisi VI, volume II, penerbit buku kedokteran, Jakarta.
Long Barbara C,(2001),Perawatan Medikal Bedah Volume 3, Yayasan Alumni Pendidikan

Keperawatan Padjajaran Bandung.


Mansjoer Arief., dkk, (2000), Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3, Penerbit Media
Aeusculapius FKUI.
Media Aesculaipius, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,(2000) Kapita Selekta
Kedokteran, edisi ke 3, jilid 2, Jakarta.
Nedia Sylvia, dan Wilson, Lorraine M,(2002) Patofisiologi, buku 2, edisi 4, penerbit EGC,
Jakarta.
R. Syamsuidajat, Wim de Jong,(2002) Buku Ajar Ilmu Bedah, edisi revisi, penerbit EGC,
Jakarta.
Suddarth & Brunner,(2002) Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8, volume 2, penerbit EGC.
Susanto H. Fitri, (2000),Keperawatan Medikal Bedah, Widya Medika, Jakarta.

TRIKTUR URETRA
I. Pengertian
Striktur Uretra adalah penyempitan lumen uretra akibat adanya jaringan parut dan kontraksi.
(Brunner & Suddarth, 2002: 1468)
II. Etiologi
Faktor penyebab hemoroid adalah :
o Cidera uretra (akibat insersi peralatan bedah selama operasi transuretral, kateter indwelling,
atau prosedur sitoskopi)
o Cidera akibat peregangan
o Cidera yang berhubungan dengan kecelakaan mobil, uretritis gonorheal yang tidak
ditangani
o Abnormalitas kongenital
III. Tanda dan gejala pendukung adanya Striktur Uretra
Kekuatan pancaran dan jumlah urin berkurang
Infeksi dan retensi urinarius
Urin menglir balik dan mencetuskan sistisis, prostatitis dan pielonefritis
Timbulnya nyeri
IV. Penatalaksanaan
Penanganan dapat mencakup didilatasi secara bertahap area yang menyempit (menggunakan
logam yang kuat atau bougies) atau secara bedah. Jika striktur menghambat pasase kateter,
ahli urology menggunakan beberapa filiform bougies untuk membuka jalan. Ketika salah satu
bougie mampu mencapai kandung kemih, maka dilakukan fiksasi, dan urin akan didrainase
dari kandung kemih. Jalan yang terbuka tersebut kemudian didilatasi, rendam duduk
menggunakan air panas dan analgesik non-narkotik diberikan untuk mengendalikan nyeri.
Medikasi antimikrobial diresepkan untuk beberapa hari setelah dilatasi untuk mencecah
infeksi.

Eksisi bedah atau uretroplasti mungkin diperlukan untuk kasus yang parah. Sistostomi
suprapubis mungkin diperlukan untuk beberapa pasien.
IV. Diagnosa keperawatan
1. Cemas / takut b/ d lingkungan baru, jauh dari orang yang disayangi, kurang pengetahuan
terhadap tindakan yang akan dilakukan.
2. Gangguan rasa nyaman b/ d adanya pemasangan kateter
3. Resiko injuri (jatuh dari bed) b/ d kesadaran menurun akibat anastesi.
4. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d perdarahan intra operasi.
V. Pathways
Konstipasi, diare, sering mengejan, kongesti pelvis pada kehamilan, fibroma uteri,
pembesaran prostat, tumor rectum.
VII. Intervensi
Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
PRE OP
Cemas b/d penurunan fungsi kognitif dan kurangnya pengetahuan terhadap penyakitnya.
POST OP
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan terputusnya jaringan saraf perifer
POST OP
Resiko injuri (jatuh dari bed) b/ d kesadaran menurun akibat anastesi
INTRA OP
Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d perdarahan intra operasi
Setelah diberi penjelasan tentang prosedur operasi dan suport mentral dengan KH :
- Pasien mengungkapkan kondisinya
- Ekspresi wajah pasien tidak tampak gelisah.
- Klien mau bertanya tentang tindakan yang akan dilakukan.
Rasa nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 15 menit dengan
KH
- pasien mengatakan nyeri berkurang.
- Pasien menunjukan skala nyeri pada angka 3.
- Ekspresi wajah klien rileks.
Meminimalkan penyebab injuri dengan melakukan tindakan 1x 15 menit, KH :
- Klien tidak jatuh dari bed
- Klien dalam posisi yang nyaman
Volume cairan dalam tubuh seimbang setelah dilakukan 1 x 10 menit dengan KH :
- TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 mmHg
N : 80x/ menit
S : 35,4 0 C
R : 20 x/ menit
- Integritas kulit baik

- Seimbang antara input dan out put - beri penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan
pada klien
- Orientasikan klien pada lingkungan yang baru
- Anjurkan klien untuk berdoa
- Beri waktu klien untuk bertanya
- Beri motivasi klien tentang prosedur tindakan
- Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya
- Kaji TTV
- Teliti keluhan nyeri, catat intensitasnya, lokasinya dan lamanya
- Atur posisi senyaman mungkin
- Ajarkan managemen relaksasi
- Monitor TTV
- Kolaborasi pemberian obat analgetik
- Memberi bed tambahan dikanan dan kiri klien
- Pantau posisi klien
- Memantau TTV
- Memantau intake dan output cairan
- Memantau integritas cairan Agar pasien jelas dengan prosedur apa yang dilakukan
Mengurangi rasa cemas pada pasien
Agar dapat diketahui skala nyerinya pada derajat I-IV, supaya pasien tidak tegang dan
timbul cemas
Untuk kenyamanan pasien
Mengetahui cairan intek maupun output apakah seimbang atau tidak.
DAFTAR PUSTAKA
Long, Barabara C. (1996). Perawatan Medikal Bedah 2. Jakarta: EGC
Priharjo, Robert. (1996). Pengkajian fisik Keperawatan. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzane. C dan Brenda G. Bare. (2002). Buku Ajaran Keperawatan Medikal Bedah
Bruner & Suddarth
Carpenito, Lynda Juall. (2001). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC

A. Pengertian
Striktur uretra adalah kondisi dimana suatu bagian dari uretra menyempit (Smeltzer & Bare,
2001).
Striktur uretra adalah penyempitan atau penyumbatan dari lumen uretra sebagai akibat dari
pembentukan jaringan fibrotik (jaringan parut pada uretra dan/atau pada daerah periuretra)
(Nursalam, 2006).
B. Penyebab
1. Kongenital
2. Jaringan parut sepanjang uretra
Karena adanya infeksi gonore oleh diplokokus Neisseria gonorrhoeae yang dapat
mengakibatkan striktur fibrosa diuretra posterior
3. Cedera traumatik (instrumentasi atau infeksi)
a. Striktur uretra dapat disebabkan oleh radang kronik oleh gonore.
b. Trauma uretra dapat terjadi pada fraktur panggul dan cedera langsung.
c. Cedera iatrogenik akibat kateterisasi (instrumentasi)
Letak striktur uretra dan penyebabnya :
Pars membranasea : trauma panggul, kateterisasi salah jalan
Pars bulbosa : trauma/cedera kangkang, uretritis
Meatus : balanitis, instrumentasi kasar
C. Patofisiologi
Lesi pada epitel uretra atau putusnya kontinuitas, baik oleh proses infeksi maupun akibat
trauma, akan menimbulkan terjadinya reaksi peradangan dan fibroblastik. Iritasi dari urine
pada uretra akan mengundang reaksi fibroblastic yang berkelanjutan dan proses fibrosis
makin menghebat sehingga terjadilah penyempitan bahkan penyumbatan dari lumen uretra
serta aliran urine mengalami hambatan dengan segala akibatnya. Ekstravasasi urine pada
uretra yang mengalami lesi akan mengundang terjadinya peradangan periuretra yang
berkembang menjadi abses periuretra dan terbentuk fistula uretrokutan (lokalisasi pada penis,
perineum dan/atau skrotum).
D. Gambaran Klinik
Biasanya mulai dengan hambatan arus kemih. Kemudian timbul sindrom lengkap obstruksi
leher kandung kemih. Striktur akibat radang uretra sering agak luas dan mungkin multiple.
Keluhan kesulitan dalam berkemih, harus mengejan, pancaran mengecil, pancaran bercabang
dan menetes sampai retensi urine. Pembengkakan dan getah/nanah di daerah perineum,
skrotum dan terkadang timbul bercak darah di celana dalam. Bila terjadi infeksi sistemik,
penderita febris, warna urine bisa keruh.
E. Pemeriksaan dan Diagnosis
1. Anamnesa secara lengkap (uretritis, trauma dengan kerusakan pada panggul, straddle
injury, instrumentasi pada uretra, pemakaian tetap dan kelainan sejak lahir)
2. Inspeksi : meatus eksternus yang sempit, pembengkakan serta fistula di daerah penis,
skrotum, perineum, dan supra pubik
3. Palpasi : teraba jaringan parut sepanjang perjalanan uretra anterior pada bagian ventral dari
penis : muara fistula, bila dipijat, mengeluarkan getah/nanah
4. Colok dubur
5. Kalibrasi dengan tetap lunak (lateks) akan ditemukan hambatan
6. Kepastian diagnosis : uretrografi dan uretroskopi, kemudian lakukan sitostomi : bipolar

uretro-sistografi (dapat pula ditunjang dengan uroflowmetri)


7. Pada kasus-kasus individual tertentu : IVP dan USG (pada striktura yang sudah
berlangsung lama, dapat terjadi perubahan sekunder pada kelenjar prostat:
batu/perkapuran/abses prostate, epididimitis/fibrosis di epididimis)
F. Pengobatan
1. Keadaan darurat :
a. Retensi urine: sistostomi (trokar dan terbuka)
b. Infiltrate urine: insisi multipel dan drain
2. Dilatasi (pelonggaran dengan dilator)
3. Urethrotomi (pengangkatan striktur melalui tindakan bedah atau menyayat striktur secara
endoskopik dengan uretrotom) pada kasus yang berat
a. Visual: sachse
b. Blind: otis

G. Pencegahan
Striktur yang akan mengganggu penderita seumur hidup dapat dicegah dengan mencegah
infeksi penyakit uretra kelamin dan kateterisasi atau instrumentasi uretra dengan hati-hati.
Indikasi kateterisasi harus jelas dan dilakukan dengan halus.
H. Diagnosis Banding
1. Setelah trauma (tajam maupun tumpul) kateterisasi dan uretritis (antara lain gonoroika)
2. Batu uretra dengan atau tanpa infiltrate urine
3. Kelainan-kelainan dari kelenjar prostat