You are on page 1of 13

Pendahuluan

Setiap makhluk hidup termasuk manusia perlu bernapas untuk kelanjutan hidupnya. Dengan
bernapas, manusia memperoleh oksigen yang berguna bagi tubunya dan membuang karbon
dioksida yang dihasilkan dari dalam tubuhnya. Sistem pernapasan sendiri terdiri dari hidung,
faring, laring, trachea, bronkus, bronkiolus, bronkiolus terminalis, bronkiolus respiratorius,
duktus alveolaris, dan alveoli. Secara sederana mekanisme pernapasan merupakan proses
perukaran dan transportasi O2 dan CO2. Gangguan sistem pernapasan pada manusia bisa terjadi
karena gangguan mekanisme pernapasan dan kelainan struktur pernapasan.

Pembahasan
Struktur Anatomi dan Histologi Saluran Pernapasan
Rongga Hidung (cavum nasi)
Udara dari luar akan masuk lewat rongga hidung (cavum nasalis). Rongga hidung berlapis
selaput lendir, di dalamnya terdapat kelenjar minyak (kelenjar sebasea) dan kelenjar keringat
(kelenjar sudorifera). Selaput lendir berfungsi menangkap benda asing yang masuk lewat saluran
pernapasan. Selain itu, terdapat juga rambut pendek dan tebal didalam cavumnasi yang disebut
vestibulum yang berfungsi menyaring partikel kotoran yang masuk bersama udara. Di dinding
lateralnya terdapat 3 tonjolan tulang yaitu chonca nasalis superior (epitelkhusus), choncha nasalis
medius dan chonca nasalis inferior (epitel bertingkat thorak bersilia bersel goblet). Dimana
chonca nasalis inferior terdapat banyak plexus venosus yang disebut sweet bodies, yang
berfungsi untuk menghangatkan udara pernapasan melalui hidung. Di sebelah posterior rongga
hidung terhubung dengan nasofaring melalui dua lubang yangdisebut choanae. Sedangkan yang
berhubungan dengan lubang hidung anterior atau kearah wajah disebut nares. Penyangga hidung
terdiri dari tulang dan tulang rawan hialin. Rangka bagian tulang terdiri dari os nasale, processus
frontalis os maxillaris dan bagian nasal osfrontalis. Rangka tulang rawan hialinnya terdiri dari
cartilago septum nasi, cartilago lateralis nasi dan cartilago ala nasi major at minor

.
Otot yang melapisi hidung merupakan bagian dari otot wajah. Otot hidung tersusundari musculus
nasalis dan musculus depressor septum nasi. Perdarahan hidung bagian luar disuplai oleh
cabang-cabang arteri facialis, arteridorsalis nasi cabang arteri opthalmika dan arteri infraorbitalis
cabang arteri maxillris interna.Pembuluh baliknya menuju vena facialis dan vena opthalmica.
Sedangkan perdarahan untuk rongga hidung terdiri dari arteri ethmoidalis anterior dan posterior,
arteri sphenopalatina cabang maxillaris interna, arteri palatina mayor dan arteri labialis superior.
Dan vena-vena pada rongga hidung akan membentuk plexus cavernosus yang terdiri dari vena
sphenopalatina, vena facialis dan vena ethmoidalis anterior dan berakhir di vena opthalmica.
Persarafan otot-otot hidung oleh nervus facialis pada bagian motoriknya. Kulit sisi medial
punggung hidung sampai ujung hidung dipersarafi oleh cabang-cabang infratrochlearis dan
nasalis externus nervus opthalmicus/ N. V.1; kulit sisi lateral hidung dipersarafi oleh cabang
infraorbitalis nervus maxillaris/ N. V. 2. Sedangkan untuk rongga hidung dipersarafi oleh nervus
1, nervus V, nervus ethmoidalis anterior, nervus infraorbitalis dan nervus canalis pterygoidei.
Kemoreseptor penghidu terletak di epitel olfaktorius/ N. 1 yaitu suatu daerah khusus dari
membran mukosa yang terdapat pada pertengahan kavum nasi dan pada permukaan chonca
nasalis superior. Epitel olfaktorius adalah epitel bertingkat torak bersilia yang terdiriatas 3 jenis
sel yaitu sel ofaktorius, sel penyokong dan sel basal. Dari nervus olfaktorius ini akan membentuk
bulbus olfaktorius dengan bersinaps pada dendrit-dendrit sel mitralmembentuk glomerulus
olfaktorius dan akson sel mitral membentuk traktus olfaktorius. Dari traktus olfaktorius impuls
penghidu dihantarkan kepusat penghidu dikorteks serebri yaitu uncus dan bagian anterior gyrus
hipokampus dan terakhir kehipotalamus dan sistem limbik. 1

Faring

Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya
dengan esofagus dan ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang hidung (nasofarinx), di belakang mulut (oro-farinx) dan di belakang larinx (faring-laringeal). Nares posterior
adalah muara rongga-rongga hidung ke naso-farinx. Faring adalah tabung muskular berukuran
12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai esofagus. Faring terbagi
menjadi nasofaring, orofaring, dan laringofaring.

1. Nasofaring
Nasofaring adalah bagian posterior rongga nasal yang membuka ke arah rongga nasal
melalui dua naris internal (koana). Dua tuba eustachius menghubungkan nasofaring dengan
telinga tengah. Tuba ini berfungsi untuk menyetarakan tekanan udara pada kedua sisi gedang
telinga. Amadel (adenoid) faring adalah penumpukan jaringan limfatik yang terletak di dekat
naris internal. Pembesaran adenoid dapat menghambat aliran udara. 2
Naosfaring terdiri dari epitel bertingkat torak bersilia bersel goblet. Dibawah membrana
basalis, pada lamina propia terdapat kelenjar campur. Pada bagian posterior terdapat jaringan
limfoid yang membentuk tonsila faringea. Terdapat muara dari saluran yang menghubungkan
rongga hidung dan telinga tengah disebut osteum faringeum tuba auditiva. Di sekelilingnya
banyak kelompok jaringan limfoid disebut tonsila tuba faringea.
2. Orofaring
Orofaring dipisahkan dari nasofaring oleh palatum lunak muskular, suatu perpanjangan
paatum keras tulang. Uvula adalah prossesus kerucut kecil yang menjulur ke bawah dari
bagian tengah tepi bawah palatum lunak. Amandel palatinum terletak pada kedua sisi
orofaring posterior.2
Epitel penyusun orofaring adalah epitel berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Osofaring
terletak di belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah. Orofaring akan dilanjutkan

ke bagian atas menjadi epitel mulut dan ke bawah ke epitel oesophagus. Disini terdapat
tonsila palatina yang sering meradang disebut tonsilitis.

3. Laringofaring
Laringofaring mengelilingi mulut esofagus dan laring, yang merupakan gerbang untuk
sistem respiratorik selanjutnya. 2 Epitel pada laringofaring bervariasi, sebagain besar epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk. Laringofaring terletak di belakang larings.

Laring
Laring (kotak suara) menghubungkan faring dengan trakea. Laring tersusun atas epitel
bertingkat torak bersilia bersel goblet kecuali ujung plika vokalis berlapis gepeng. Fungsi dari
laring adalah untuk membentuk suara (fonasi) dan mencegah benda asing memasuki jalan nafas
dengan adanya refleks batuk. Laring adalah tabung pendek berbentuk seperti kotak triangular
dan ditopang oleh sembilan katilago (tiga berpasangan dan tiga tidak berpasangan).
Kartilago tidak berpasangan terdiri dari kartolago tiroid, kartilago krikoid, dan epiglotis.
Kartilago tiroid (jakun) terletak di bagian proksimal kelenjar tiroid. Biasanya berukuran lebih
besar dan lebih menonjol pada laki-laki akibat hormon yang disekresi saat pubertas. Kartilago
krikoid adalah cincin anterior yang lebih kecil dan lebih tebal, terletak di bawah kartilago tiroid.
Sementara epiglotis adalah katup kartilago elastis yang melekat pada tepian anterior kartilago
tidorid. Saat menelan, eiglotis melekat pada tepian anterior menutupi laring untuk mencegah
masuknya makanan dan cairan.
Kartilago berpasangan terdiri dari kartilago aritenoid, kartilago kornikulata, dan kartilago
kuneiform. Kartilago aritenoid terletak di atas dan di kedua sisi kertilago krikoid. Kartilagi
aritenoid melekat pada pita suara sejari, yaitu lipatan berpasangan dari epitelium skuamosa
bertingkat. Kartilago kornikulata melekat pada bagian ujung kartilago aritenoid. Kartilago
kuneiform berupa batang-batang kecil yang membantu menopang jaringan lunak.

Trakea

Trakea adalah tuba dengan panjang 10-12cm dan diameter 2,5cm serta terletak di atas
pemukaan anterior esophagus. Tuba ini merentang dari laring pada area vertebra serviks keenam
sampai area vertebra toraks kelima tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama. Trachea
dapat tetap terbuka karena adanya 16-20 cincin kartilago berbentuk C. Ujung posterior mulut
cincin dihubungkan oleh jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi esophagus.
Trakea juga dilapisi oleh epithelium repiratorik yang mengandug banyak sel goblet. 3
Susunan demikian memberi trakea keleluasan gerak yang besar, sedangkan cincin-cincin
tulang rawabnnya memungkinkannya menahan tekanan dari luar yang dapat menutup jalan
napas. Di luar tulang wan terdapat lapis jaringan ikat padat dengan banyak serta elastin. Dinding
posterior trakea tidak dilengkapi tuang rawan terdapat lapis jaringan ikat padat dengan banyak
serat elastin. Dinding posterior trakea tidak dilengkapi tulang rawan. Sebagai gantinya terdapat
pita tebal dari otot poloss yang terorientasi melintang, yang ujung-ujungnya berbaur dengan lapis
jaringan ikat padat di luar ruang rawan tadi.
Dengan mikroskop elektron dapat dilihat 6 jenis sel. Yaitu sel bersilia, sel goblet, sel sikat,
sel basal, dan sel sekretorik/bergranula. Sel bersilia mempunyai silia yang panjang, aktif, motil
yang bergerak kearah faring. Sel goblet mensintesa dan mensekresi lendir, mempunyai apparatus
golgi dan retikulum endoplasma kasar di basal sel. Pada sel goblet ada mikrovili di apex dan
mengandung tetesan mukus yang kaya akan polisakarida.
Sel sikat mempunyai mikrovilli di apex yang berbentuk seperti sikat. Ada dua macam sel
sikat, yaitu sel sikat 1 (mempunyai mikrovili sangat panjang) dan sel sikat 2 (dapat berubah
menjadi sel pendek). Sel basal merupakan sel induk yang akan bermitosis dan beruba menjadi sel
lain. Sel sekretorik/bergranula memiliki diameter 100-300 milimikron.

Bronkus
Bronkus kanan dan kiri berjalan ke bawah dan ke luar dari bifurkasio trakea ke hilus masingmasing paru. Bronkus utama kanan lebih pendek, lebih lebar, dan lebih vintrikal letaknya
daripada yang kiri. Oleh karena itu benda asing yang terhirup lebih cenderung masuk ke bronki
kanan dan terus ke lobus kanan tengah dan lobus bawah bronki. Bronkus uatama kiri memasuki
hilus dan terbagi menjadi brokus lobus superior dan inferior. Bronkus utama kanan bercabang
menjadi bronkus ke lobus atas seelum memasuki hilus dan bergitu masuk hilus terbagi menjadi
bronki lobus medial dan inferior.

Bronkus primer atau ekstrapulmonal bercabang dan menghasilkan sederetan bronki


intrapulmonal yang lebih kecil. Bronki ini dilapisi oleh epitel bertingkat semu silindris bersilia,
lamina propia tipis jaringan ikat halus dengan banyak serat elastin dan sedikit limfosit. Duktus
dari kelenjar bronchial submukosa melalui lamina propria untuk bermuara ke dalam lumen
bronkus. Di antara lempeng tulang rawan, jaringan ikat submukosa menyatu dengan adventisia
yang tebal. Pembuluh bronchial yang tampak pada jaringan ikat bronkus mencakup sebuah
arteriol, sebuh venul, dan kapiler.

Bronkiolus
Ini adalah segmen intraloburalis dengan garis tengah 1 mm atau kuarang. Bronkiolus tidak
mempunyai rawan atau kelenjar pada mukosanya dan hanya menunjukkan sel-sel goblet yang
tersebar dalam epitel segmen permulaan. Pada bronkiolusyang lebih besar , epitelnya bertingkat
toraks tinggi bersilia dan kekomplekkannya berkurang dan menjadi epitel kubis bersilia pada
bronkiolus terminalis.selain sel-sel barsilia , bronkus terminalis juga mempunyai sel-sel cl;ara
yang permukaan apikalnya berbentuk kubah yang menonjol ke dalam lumen. Pemeriksaan pada
sel-sel Clara manusia berkesimpulan bahwa meraka adalah sel-sel sekretoris akan tetapi hingga
sekarang fungsinya tidak diketahui.
Sebagian besar lamina propia adalah oto polos dan serabut-serabut elastin. Otot bronkus dan
bronkiolus dibawah pengawasan nervus vagus dan sistem simpatis. Perangsangan nervus vagus
mengurangi garis tengah susunan tersebut, sedangkan perangsangan simpatis menimbulkan efek
yang berlawanan.

Bronkiolus Terminalis
Bronkiolus terminalis memiliki diameter kecil. Terdapat banyak lipatan mukosa yang
menyolok dan epitelnya bertingkat semua silindris rendah bersilia dan sedikit sel goblet. Pada
bronkiolus terminal, epitelnya silindris bersilia tanpa sel goblet. Lapisan otot polos yang
berkembang baik mengelilingi lamina propia tipis, yang pada gilirannya dikelilingi ole
adventisia. Di dekat bronkiolus terdapat sebuah cabang kecil yaitu arteri pulmonaris. Bronkiolus
ini dikelilingi ole alveoli paru.

Alveoli
Secara struktural, alveoli menyerupai kantong kecil yg terbuka pd salah satu sisinya, mirip
sarang tawon. Dalam struktur yg menyerupai mangkok ini, oksigen CO2 mengadakan pertukaran
antara udara dan darah.

Mekanisme Pernapasan
Pernapasan adalah suatu proses yang terjadi secara otomatis walau dalam keadaan tertidur
sekalipun karena sistem pernapasan dipengaruhi oleh susunan saraf otonomi. Menurut tempat
terjadinya pertukaran gas, maka pernapasan dapat dibedakan atas 2 jenis, yaitu pernapasan luar
dan pernapasan dalam. Pernapasan luar adalah pertukaran udara yang terjadi antara udara dalam
alveolus dengan darah dalam kapiler, sedangkan pernapasan dalam adalah pernapasan yang
terjadi antara darah dalam kapiler dengan sel-sel tubuh. Masuk keluarnya udara dalam paru-paru
dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada dengan tekanan udara di luar
tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara akan masuk. Sebaliknya apabila
tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar. 4

Inspirasi dan Ekspirasi


Inspirasi merupakan proses aktif. Kontraksi otot inspirasi akan meningkatkan volume
intratoraks. Tekanan intrapleura di bagian basis paru akan turun dari nilai normal sekitar -2,5
mmHg (relatif terhadap tekanan atmosfer) pada awal inspirasi, menjadi -6 mmHg. Jaringan paru
akan semakin teregang. Tekanan di dalam saluran udara menjadi sedikit lebih negatif, dan udara

mengalir ke dalam paru. Pada akhir inspirasi, daya recoil paru mulai menarik dinding dada
kembali ke kedudukan ekspirasi, sampai tercapai keseimbangan kembali antara daya recoil
jaringan paru dan dinding dada. Tekanan di saluran udara menjadi sedikit lebih positif, dan udara
mengalir meninggalkan paru. 4
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan proses pasif yang tidak memerlukan
kontraksi otot untuk menurunkan volume intratoraks. Namun pada awal ekspirasi, sedikit
kontraksi otot inspirasi masih terjadi. Kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya recoil paru
dan memperlambat ekspirasi. Pada inspirasi kuat, tekanan intrapleura turun mencapai -30 mmHg
sehingga pengembangan jaringan paru menjadi lebih besar. Bila ventilasi meningkat, derajat
pengempisan jaringan paru juga ditingkatkan oleh kontraksi aktif otot ekspirasi yang
menurunkan volume intratoraks.
Selama pernafasan tenang, ekspirasi merupakan proses pasif yang tidak memerlukan
kontraksi otot untuk menurunkan volume intratoraks. Namun pada awal ekspirasi, sedikit
kontraksi otot inspirasi masih terjadi. Kontraksi ini berfungsi sebagai peredam daya recoil paru
dan memperlambat ekspirasi. Pada ekspirasi kuat, tekanan intrapleura turun mencapai -30 mm
Hg sehingga pengembangan jaringan paru menjadi lebih besar. Bila ventilasi meningkat, derajat
pengempisan jaringan paru juga ditingkatkan oleh kontraksi aktif otot ekspirasi yang
menurunkan volume intratoraks.

Transport dan difusi gas


Difusi Gas
Difusi dalam respirasi merupakan proses pertukaran gas antara alveoli dengan darah pada
kapiler paru. Proses difusi terjadi karena perbedaan tekanan, gas berdifusi dari tekanan tinggi ke
tekanan rendah.Salah satu ukuran difusi adalah tekanan parsial.
Difusi terjadi melalui membran respirasi yang merupakan dinding alveolus yang sangat tipis
dengan ketebalan rata-rata 0,5 mikron. Di dalamnya terdapat jalinan kapiler yang sangat banyak
dengan diameter 8 angstrom. Dalam paru2 terdapat sekitar 300 juta alveoli dan bila dibentangkan
dindingnya maka luasnya mencapai 70 m2 pada orang dewasa normal.

Saat difusi terjadi pertukaran gas antara oksigen dan karbondioksida secara simultan. Saat
inspirasi maka oksigen akan masuk ke dalam kapiler paru dan saat ekspirasi karbondioksida akan
dilepaskan kapiler paru ke alveoli untuk dibuang ke atmosfer. Proses pertukaran gas tersebut
terjadi karena perbedaan tekanan parsial oksigen dan karbondioksida antara alveoli dan kapiler
paru. Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk setiap perbedaan
tekanan sebesar 1 mmHg disebut dengan kapasitas difusi. Kapasitas difusi oksigen dalam
keadaan istirahat sekitar 230 ml/menit. Saat aktivitas meningkat maka kapasitas difusi ini juga
meningkat karena jumlah kapiler aktif meningkat disertai dilatasi kapiler yang menyebabkan luas
permukaan membran difusi meningkat. Kapasitas difusi karbondioksida saat istirahat adalah
400-450 ml/menit. Saat bekerja meningkat menjadi 1200-1500 ml/menit.
Difusi dipengaruhi oleh :
1. Ketebalan membran respirasi
2. Koefisien difusi
3. Luas permukaan membran respirasi
4. Perbedaan tekanan parsial

Tranport Gas
Gas pernapasan mengalami pertukaran di alveoli dan kapiler jaringan tubuh. Oksigen
ditransfer dari paru- paru alveoli dan kapiler jaringan tubuh. Oksigen ditransfer dari paru- paru
ke darah dan karbon dioksida ditransfer dari darah ke alveoli untuk dikeluarkan sebagai produk
sampah. Pada tingkat jaringan, oksigen ditransfer dari darah ke jaringan, dan karbon dioksida
ditransfer dari jaringan ke darah untuk kembali ke alveoli dan dikeluarkan.Transfer ini
bergantung pada proses difusi.

Transport O2
Sistem transportasi oksigen terdiri dari system paru dan sitem kardiovaskular.Proses
pengantaran ini tergantung pada jumlah oksigen yang masuk ke paru-paru (ventilasi), aliran
darah ke paru-paru dan jaringan (perfusi), kecepatan difusi dan kapasitas membawa oksigen.
Kapasitas darah untuk membawa oksigen dipengaruhi oleh jumlah oksigen yang larut dalam
plasma, jumlah hemoglobin dan kecenderungan hemoglobin untuk berikatan dengan oksigen.
Jumlah oksigen yang larut dalam plasma relatif kecil, yakni hanya sekitar 3%. Sebagian besar

oksigen ditransportasi oleh hemoglobin. Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen dan
karbon dioksida. Molekul hemoglobin dicampur dengan oksigen untuk membentuk oksi
hemoglobin. Pembentukan oksi hemoglobin dengan mudah berbalik (revesibel), sehingga
memungkinkan hemoglobin dan oksigen berpisah, membuat oksigen menjadi bebas.Sehingga
oksigen ini bias masuk ke dalam jaringan.

Transport CO2
Karbon dioksida berdifusi ke dalam sel-sel darah merah dan dengan cepat di hidrasi menjadi
asam karbonat (H2CO3) akibat adanya anhidrasi karbonat. Asam karbonat kemudian berpisah
menjadi ion hydrogen (H+ ) dan ion bikarbonat (HCO3-) berdifusi dalam plasma. Selain itu
beberapa karbon dioksida yang ada dalam sel darah merah bereaksi dengan kelompok asam
amino membentuk senyawa karbamino. Reaksi ini dapat bereaksi dengan cepat tanpa adanya
enzim. Hemoglobin yang berkurang (deoksihemoglobin) dapat bersenyawa dengan karbon
dioksida dengan lebih midah daripada oksi hemoglobin. Dengan demikian darah vena
mentrasportasi sebagian besar karbon doiksida.

Keseimbangan Asam Basa dalam Darah


Adanya kelainan pada satu atau lebih mekanisme pengendalian ph tersebut, bisa menyebabkan
salah satu dari 2 kelainan utama dalam keseimbangan asam basa, yaitu asidosis atau alkalosis.
Asidosis adalah suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung asam (atau terlalu
sedikit mengandung basa) dan sering menyebabkan menurunnya pH darah. Alkalosis adalah
suatu keadaan pada saat darah terlalu banyak mengandung basa (atau terlalu sedikit mengandung
asam) dan kadang menyebabkan meningkatnya pH darah.
Asidosis dan alkalosis bukan merupakan suatu penyakit tetapi lebih merupakan suatu akibat dari
sejumlah penyakit. Terjadinya asidosis dan alkalosis merupakan petunjuk penting dari adanya
masalah metabolisme yang serius. Asidosis dan alkalosis dikelompokkan menjadi metabolik
atau respiratorik, tergantung kepada penyebab utamanya. Asidosis metabolik dan alkalosis
metabolik disebabkan oleh ketidakseimbangan dalam pembentukan dan pembuangan asam atau

basa oleh ginjal. Asidosis respiratorik atau alkalosis respiratorik terutama disebabkan oleh
penyakit paru-paru atau kelainan pernafasan.
Asidosis Respiratorik
Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan
karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan
yang lambat.
Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah.
Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi
asam. Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan,
sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam. Asidosis respiratorik terjadi jika paruparu tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada
penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti:
- Emfisema
- Bronkitis kronis
- Pneumonia berat
- Edema pulmoner
- Asma.
Asidosis Metabolik
Asidosis Metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya
kadar bikarbonat dalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH,
darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan
menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam
dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga
berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam
dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus
menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan
koma. Penyebab utama dari asidois metabolik:

Gagal ginjal
Ketoasidosis diabetikum
Asidosis laktat (bertambahnya asam laktat)
Alkalosis Respiratorik
Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang
cepat dan dalam, sehingga menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah.
Penyebab terjadinya alkalosis respiratorik karena Pernafasan yang cepat dan dalam. Pernafasan
ini disebut hiperventilasi, yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah karbondioksida yang
dikeluarkan dari aliran darah. Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah
kecemasan. Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah:
- rasa nyeri
- kadar oksigen darah yang rendah
- demam
- overdosis aspirin.
Alkalosis Metabolik
Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya
kadar bikarbonat. Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam.
Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang
berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadangkadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut).
Penyebab utama akalosis metabolik:
1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat)
2. Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung
3. Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid).

Kesimpulan
Manusia bernapas untuk mengambil oksigen (O2) dari atmosfer ke dalam sel-sel tubuh dan untuk
mentranspor karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan sel-sel tubuh kembali ke atmosfer. Masuk
keluarnya udara dalam paru-paru dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara dalam rongga dada
dengan tekanan udara di luar tubuh. Jika tekanan di luar rongga dada lebih besar maka udara
akan masuk. Sebaliknya apabila tekanan dalam rongga dada lebih besar maka udara akan keluar.

Daftar Pustaka
1. Pearce EC. Anatomi & fisiologi u.ps. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; 2005.
2. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC;
2004.
3. Santoso G. Anatomi sistem pernapasan. Edisi I. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007.
4. Gibson J. Fisiologi & anatomi modern untuk perawat. Jakarta: Penerbit Buku Keodkteran
EGC; 2003.
5. Ganong WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC; 2008.