You are on page 1of 10

1

ANALISIS PEMANFAATAN MINYAK ATSIRI TANAMAN LIAR


ADAS ( Foeniculum vulgare Mil )
Anastasia Perwita Anggara
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Email : Anastasia_peaxz@yahoo.co.id

Abstrak

Indonesia memiliki ragam jenis tanaman yang memiliki banyak fungsi.


Jenis tanaman yang memiliki fungsi penting adalah jenis tanaman obat. Terdapat
ratusan tanaman obat yang sangat melimpah. Salah satu jenisnya adalah tanaman
adas ( Foeniculum vulgare ). Tanaman ini adalah tanaman herba tahunan yang
awalnya hidup sebagai tanaman liar. Namun setelah diteliti tanaman ini memiliki
kandungan minyak atsiri yang tinggi. Minyak atsiri memiliki fungsi sebagai bahan
baku minyak wangi, kosmetik, dan obat-obatan. Metode yang digunakan untuk
dapat menghasilkan minyak adas salah satunya dengan penyulingan uap dan air.
Metode ini akan menghasillkan anetol yang merupakan komponen utama pada
minyak atsiri untuk kemudian dapat diolah menjadi bahan baku produk industri.
Peranannya yang vital menjadikan tanaman adas ini sangat dibutuhkan dalam
jumlah besar. Usaha yang sudah dilakukan oleh beberapa orang untuk
membudidayakan tanaman ini adalah dengan pemberian air irigasi yang
dikombinasikan dengan pemberian nitrogen. Pemberian air irigasi terbukti mampu
membuat kualitas produksi minyak atsiri pada adas meningkat. Namun di sisi lain
mendapatkan fakta bahwa jika pada proses ini kandungan nitrogen yang
digunakan berlebih maka akan mempengaruhi jumlah produktivitas minyak atsiri
pada adas tersebut,
Kata kunci : Adas, irigasi, minyak atsiri

2
PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai suku bangsa, memiliki
keanekaragaman obat tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami bumi
Indonesia dengan jumlah lebih dari 30.000 spesies tanaman dan 940 spesies
diantaranya diketahui sebagai bahan obat (Maheswari, 2002). Salah satu jenis
tanaman obat tradisional yang kini digunakan oleh masyarakat luas dan
dibudidayakan menjadi salah satu komoditas pertanian adalah tanaman adas
(Foeniculum vulgare Mill.).
Tanaman Adas (Foeniculum vul-gare Mill.) adalah tanaman herba tahunan
dari familii Umbelliferae dan genus Foeniculum. Tanaman ini berasal dari Eropa
Selatan dan daerah Mediterania, yang ke-mudian menyebar cukup luas di berbagai
negara seperti Cina, Meksiko, India, Itali, Indian, dan termasuk negara Indonesia.
Genus Foeniculum mempunyai tiga spesies yaitu F. vulgare (adas), F. azoricum
(adas bunga di-gunakan sebagai sayuran) dan F. dulce (adas manis digunakan juga
sebagai sayuran). F. vulgare mempunyai sub spesies yaitu F. fulgare var. dulce dan
F. vulgare var. vulgare. Adas ketinggiannya dapat mencapai antara 1-2 meter
dengan percabangan yang banyak serta batang beralur. Buah adas di pasaran
berbentuk buah kering yang berwarna coklat kehitaman dan memiliki banyak
khasiat maka digolongkan sebagai tanaman obat (Siswanto, 1997). Kegunaannya
sebagai tanaman obat berkaitan erat dengan kandungan kimiawinya yang terdiri
atas minyak atsiri, flavonoid, saponin, glikosidastilben funikulosida I, II, III, IV,
stigmasterin, minyak lemak, protein, asam-asam organik, pentosan, pectin,
trigonelin, kolin, dan iodine. (Sudarsono dkk., 2002 dan Amelio, 1999).
Selain sebagai tanaman obat, adas juga dibutuhkan dalam berbagai aspek
ekonomi lainnya, seperti pada bidang industri dan bidang pangan. Di bidang
industri, adas banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku farmasi, kosmetik, jamu,
dan bumbu masak serta untuk menanggulangi masalah susah tidur (Katzer, 1998).
Di bidang pangan daun adas banyak dimanfaatkan sebagai sayuran, sedangkan

3
bijinya banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku bumbu dapur (Syukur, 2002).
Produk utama adas adalah minyak atsiri (Katzer, 1998). Hampir seluruh bagian
tanaman adas menghasilkan minyak atsiri. Namun, daun tanaman adas dari daerah
Sumowono dan Salatiga banyak dimanfaatkan sebagai sayuran. Minyak atsiri
yang terdapat dalam tanaman adas merupakan salah satu senyawa aktif yang dapat
dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan obat, disamping itu minyak atsiri
adas juga dapat dijadikan sebagai bahan baku industri minyak telon. ). Kandungan
minyak atsiri pada adas lebih tinggi bila dibandingkan dengan jahe merah
(Zingiber officinale Rosc.) yang mempunyai kandungan minyak atsiri sebesar
2.58-2.72 persen (Tim Lentera, 2002).
Adas pada mulanya adalah tanaman liar, tetapi kemudian banyak
dibudidayakan oleh petani di Jawa Tengah karena harga jualnya cukup menarik
dan pemasarannya relative. Budidaya tanaman adas sangat ditentukan oleh
kondisi topografi wilayah budidaya dan cara budidaya. Faktor yang perlu
diperhatikan saat membudidayakan adas adalah lokasi berupa curah hujan,
kelembaban, ketinggian, suhu, kondisi tanah dan unsur hara. Unsur hara yang
paling mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman yaitu hara makro.
Beberapa unsur hara makro diantaranya Nitrogen (N), Phospor (P) dan Kalium
(K). Tanaman adas sangat responsif terhadap pemupukan N, P dan K. Pemupukan
Nitrogen memberikan hasil yang lebih tinggi dalam produksi bunga dan
meningkatkan persentase minyak, hasil panen biji dan hasil minyak sesuai dengan
peningkatan dosis (Abdallah, et al., 1978). Cara budidaya dan habitat tanaman
adas berpengaruh pada proses metabolisme minyak atsiri serta tingkat mutu adas.

GAMBARAN KHUSUS

a. Metode dalam Pemanfaatan Adas


Kerajaan :

Plantae

Divisi

Magnoliophyta

Kelas

Magnoliopsida

Ordo

Apiales

Famili

Apiaceae

Genus

Foeniculum

Spesies

Foeniculum vulgare

Metode folin Ciocalteu Phenol merupakan metode yang digunakan untuk


skrining fitokimia kadar total fenol ekstrak bubuk adas. Dari metode ini
memberikan hasil yaitu positif terhadap 2 jenis pelarut yaitu etil asetat dan etanol.
Ditemukan bahwa total fenol yang didapat dengan etil asetat lebih besar
dibandingkan dengan pelarut etanol. Penelitian terhadap kandungan dari minyak
biji adas menurut Inneke (1995), dari kromatogram kromatografi gas (GC) telah
diidentifikasi 14 macam komponen penyusun minyak biji adas, yaitu golongan
monoterpen, phenol, dan golongan keton. Yang termasuk golongan phenol adalah
anetol dan iso anetol 58.52%; golongan monoterpen terdiri dari -pinen 3%,
camphene 0.33%, -limonene 3.5%; sedangkan golongan keton adalah dcamphore 0.39%, fenchone 26.7%.
Komponen yang terkandung dalam adas berperan juga sebagai antioksidan
dimana komponen tersebut berupa senyawa yang memiliki kemampuan
menangkap radikal bebas. Metode yang digunakan untuk pengujian penghasil
antioksidan ini yaitu dengan metode DPPH (1,1-difenil-2-pikrilhidrazil). Metode
pengujian ini merupakan metode yang konvensial dan telah lama digunakan untuk
penetapan aktivitas senyawa antioksidan. Menurut Widyastuti (2010), metode
DPPH mudah digunakan, cepat, cukup teliti dan baik digunakan dalam pelarut

5
organik. Reaksi oksidasi terjadi setiap saat, ketika manusia bernapas terjadi reaksi
oksidasi yang pada saat itu juga mencetuskan terbentuknya radikal bebas yang
sangat aktif, yang dapat merusak struktur serta fungsi sel. Namun, reaktivitas
radikal bebas itu dapat dihambat oleh sistem antioksidan yang melengkapi sistem
kekebalan tubuh (Winarsi, 2007).
Penyulingan uap dan air merupakan salah satu metode penyulingan
dengan air sebagai sebagai sumber uap berada dalam ketel suling. Dengan metode
ini peralatan yang digunakan sederhana dan mutu minyak atsiri yang dihasilkan
juga lebih baik dibandingkan metode penyulingan dengan air dan metode
penyulingan uap langsung. Melalui penyulingan ini dapat diketahui bahwa
komponen utama dari penyusun minyak adas yaitu senyawa kimia anetol. Anetol
dapat diisolasi dari minyak adas kemudian dikonversi menjadi derivat derivatnya.
Salah satu khasiat anetol adalah sebagai karminatif.
Adas akan tumbuh baik pada tanah berlempung, tanah yang cukup baik
dan berdrainase baik. Berdasarkan penelitian yang ada viabilitas benih dari family
Umbellliferae ( Apiaceae ) sangat rendah. Namun, peneliti lain menanggapi
bahwa panen benih dengan memperhatikan tingkat kemasakan fisiologis dapat
meningkatkan daya berkecambah. Buah yang berwarna hijau terang menunjukkan
kualitas yang terbaik. Rendahnya viabilitas bahan tanaman adas dijumpai pula
pada perbanyakan dengan metode kultur jaringan. Untuk memecahkan masalah
rendahnya viabilitas pada adas diungkapkan Setyaningsih (2002) menggunakan
tiga tingkat kemasakan benih dengan perlakuan invigorasi. Invigorasi adalah salah
satu alternatif untuk mengatasi mutu benih yang rendah dengan cara
menyeimbangkan potensial air benih untuk merangsang metabolisme dalam benih
sehingga benih siap berkecambah tetapi radikula sebagai struktur penting dari
embrio belum muncul. Matriconditioning adalah invigorasi yang dilakukan
dengan menggunakan media padat yang dilembabkan seperti vermikulit.
Osmoconditioning merupakan cara perbaikan fisiologis dan biokimia benih

6
selama penundaan perkecambahan oleh potensial osmotik rendah dan potensial
matrik yangdapat diabaikan dari media imbibisi.
Osmoconditioning dengan PEG menghasilkan viabilitas yang paling baik,
namun pengaruhnya makin menurun seiring dengan makin masaknya benih,
diikuti dengan matriconditioning dengan vermikulit dan osmoconditioning dengan
KNO3. Perbaikan varietas benh terjadi melalui imbibisi yang secara lambat
mampu memulihkan membran sel. Perbaikan integrasi membran juga diikuti
dengan perbaikan metabolisme dalam benih yang memungkinkan berlangsungnya
proses sintesis senyawa untuk perkecambahan. Namun, nilai daya berkecambah
yang diperoleh masih belum maksimal, sehingga usaha untuk meningkatkan
viabilitas benih masih perlu dilakukan dengan memperhatikan posisi benih pada
payung tanaman di samping aspek budaya. Benih yang telah diinvigorasi dengan
osmoconditioning-PEG dan disimpan pada ruangan berpendingin menghasilkan
bobot kering kecambah yang normal dan laju pertumbuhan kecambah tertinggi
serta waktu yang diperlukan benih untuk mencapai 50% total perkecambahan.
b. Cara Budidaya Adas
Adas dapat tumbuh pada daerah dengan ketinggian 10-2500 m dpl. Adas
memerlukan cuaca sejuk dan cerah untuk menunjang pertumbuhannya dengan
curah huja sekitar 2500 mm/tahun. Adas banyak ditemukan di tepi sungai, tepi
danau, atau tanggul daerah pembuangan. Adas merupakan tanaman khas di palung
sungai. Tanaman tumbuh baik pada tanah berlempung, tanah yang cukup subur,
berdrainase baik, tanah berpasir dan liat berpasir yang berkapur dengan pH 4.80
8,50.
Pemupukan tanaman adas perlu mempertimbangkan jumlah hara makro
yang terangkut lewat panen. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa tanaman adas
responsif terhadap perlakuan irigasi. Percobaan dilakukan dengan dua tahap
pemberian air irigasi yang dikombinasikan dengan perlakuan pemberian nitrogen.

7
Pada awal perlakuan irigasi , semua plot diairi sampai mencapai kapasitas lapang.
Pada percobaan I, perlakuan N yang diberikan adalah kontrol ( tanpa N ), 50 kg
N/ha diberikan pada awal pertumbuhan dan 50 kg/ha pada awal antesis payung
primer. Pada irigasi penuh 50 kg N/ha diberikan pada awal pertumbuhan dan 50
kg N/ha pada awal antesis payung primer. Semua perlakuan diberi 50 kg N/ha
pada awal perpanjangan batang dan pada saat antesis payung primer. Perlakuan
irigasi adalah kontrol, 180 mm irigasi pada awal pembungaan, antesis payung
primer sampai awal antesis payung sekunder, dan pada akhir pembungaan irigasi
200 mm diberikan mulai dari antesis payung sekunder sampai masak.
Produksi minyak tertinggi dicapai pada perlakuan irigasi penuh, yaitu
meningkat 115% dibandingkan dengan tanpa irigasi. Kontribusi irigasi terbanyak
pada produksi minyak adalah pada stadium akhir pembungaan, dimana lebih dari
80% produksi disebabkan oleh pemberian irigasi. Pertumbuhan adas tidak
terpengaruh oleh pemberian N, yang berarti kandungan N di dalam tanah telah
mencukupi. Tidak terdapat interaksi Antara N dengan irigasi sedangkan perlakuan
irigasi tidak berpengaruh pada kadar anethol minyak. Hasil penelitian lain
menunjukkan bahwa jika terlalu banyak kandungan N maka akan mengurangi
kadar anethol yang akan dihasilkan.
c. Kandungan Minyak Atsiri
Minyak

atsiri

memiliki

khasiat

lain

yaitu

sebagai

penghambat

pertumbuhan mikroba dan mampu menghasilkan aroma harum (Aryati, 1997).


Flavonoid telah lama diakui memiliki aktivitas antiinflamasi, antioksidan,
antialergi, hepatoprotektif, antitrombotik, antiviral, dan antikarsinogenik (Nijveldt
dkk., 2001). Saponin memiliki fungsi sebagai antiinflamasi, antibakteri, dan
antikarsinogenik (Andajani dan Maharddika, 2003). Komponen saponin menurut
Froschle dkk (2004) terbukti mampu menstimulasi sintesis fibroblast oleh
fibronektin. Kanzaki dkk (1998) menyebutkan bahwa fungsi saponin berkaitan

8
erat dengan aktivasi TGF-. Kemampuan ekstrak buah adas konsentrasi 100%
dalam menurunkan tingkat radang pada mukosa mulut tikus wistar telah
dibuktikan oleh Andajani dan Maharddika (2003).
Selain itu, penelitian Setyaningsih (2006) menunjukkan bahwa pemberian
ekstrak buah adas dengan konsentrasi 50% pada perlukaan gingiva tikus Spraque
dawley mampu meningkatkan jumlah fibroblast. Dilaporkan juga oleh Mandala
(2006) bahwa adas dengan konsentrasi yang sama mampu menginduksi reepitelisasi sehingga mempercepat penyembuhan luka. Selanjutnya, El dan
Karakaya (2004) menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas flavonoid sebagai agen
antiinflamasi pada adas meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi, yaitu
pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20%. Penelitian tentang ekstrak buah adas dalam
hal ini sangat diperlukan untuk mengetahui efek pemberian konsentrasi ekstrak
buah adas secara topikal pada kepadatan fibroblast dalam proses penyembuhan
luka. Tanaman ini yang pada awalnya dianggap sebagai tanaman liar namun
dibalik pandangan itu semua tersimpan khasiat yang sangat berguna untuk
kehidupan manusia.
Adas dapat menghasilkan minyak adas, yang merupakan hasil sulingan
dari serbuk buah adas yang masak dan kering. Untuk pemanfaatan daunnya,
kebanyakan dipergunakan untuk dimasak sebagai sayuran. Minyak atsiri yang
terkandung dalam biji adas merupakan salah satu senyawa aktif bahan dasar
pembuatan obat. Minyak yang dihasilkan juga dapat dijadikan sebagai bahan baku
industry salah satunya yaitu pembuatan minyak telon. Aroma wangi yang
dihasilkan digunakan sebagai bahan yang memperbaiki rasa, mengharumkan
ramuan obat dan makanan (Kridati, et al., 2012).
Kandungan atsiri adas bervariasi antara 0,6 %-6%. Buah yang terletak
ditengah tengah payung umumnya mengandung minyak atsiri yang lebih tinggi
dan baunya lebih tajam dibandingkan dengan buah pada bagian lain. Iklim dan
waktu panen juga menentukan kandungan minyak atsiri.

9
Minyak atsiri yang paling penting dai varietas dulce adalah anetol,
limonene, fenchone, estragol, safrol, alphapinene, camphene, beta-pinene, beta
myrcene, p-cycmen. Varietas vulgare yang tidak dibudidayakan kadang kadang
mengandung lebih banyak minyak atsiri, tetapi karena mengandung fenchone
yang pahit, harganya lebih murah dibandingkan dengan varietas dulce.
Risfaheri dan Makmun (1998) telah melakukan karakterisasi dua jenis
minyak adas dan minyak anis serta mempelajari potensi masing masing minyak
tersebut sebagai sumber anetol. Dijelaskan bahwa kadar anetol pada minyak adas
varietas dulce lebih tinggi daripada varietas vulgare. Buah adas varietas vulgare
yang banyak terdapat di Jawa Tengah memiliki kandungan minyak atsiri yang
lebih tinggi dan kualitasnya lebih baik dibandingkan dengan yang berasal dari
Jawa Barat.

DAFTAR PUSTAKA

.Agusta, A. dan M. Harapini. 1998. Perubahan komposisi komponen kimia


minyak adas ( Foeniculum vulgare ) karena penyimpanan. Warta Tumbuhan
Obat Indonesia 4(1) : 16-18
Agusta A. Minyak Atsiri Tumbuhan Tropika Indonesia. Bandung: Penerbit ITB.
2002
Agustina, L. 2004. Dasar Nutrisi Tanaman. Pt Rineka Cipta, Jakarta.

Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. 1972. Pedoman bercocok tanam adas
(Foeniculum vulgare) . Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah, Bogor.
Circular No 6. 16 hlm
Bantain, M. and B. Chung. 1994. Effects of irrigation and nitrogen on the yield
components of fennel (foeniculum vulgare). Aust. J. Exp. Argic. 34 : 845849

10
Bermawie N, Nur A dan Otih R. 2002. Karakterisasi Morfologi Dan Mutu Adas
(Foeniculum Vulgare Mill.), Buletin Tanaman Rempah dan Obat,Vol.
XIII,No.2.
Djajadi, A.S., Isdijoso. 1992. Pengaruh Sumber Pupuk N terhadap Produksi dan Mutu
Tembakau Temanggung di Pujon, Malang. Penelitian Tanaman Tembakau dan
Serat. 7(12) : 1 8.
Harborne, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis
Tumbuhan Edisi II. ITB, Bandung.
Hasanah, M. 2004. Jurnal Litbang Pertanian. Perkembangan Teknologi Budidaya
Adas (Foeniculum vulgare Mill.) 23(4): 139 - 144.
Keonsoemardiyah. 2010. Minyak Atsiri untuk Industri Makanan, Kosmetik dan
Aromaterapi. Penerbit Andi, Yogyakarta.
Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Minyak Atsiri. Balai Pustaka, Jakarta.
Prakosa, A.H., I. D. Pamungkas, dan D. Ikhsan. 2013. Pengaruh Waktu Pada Penyulingan
Minyak Adas (Fennel Oil) Dari Biji dan Daun Adas Dengan Metode Uap dan Air.
Jurnal Teknologi Kimia dan Industri. 2(2): 14-17.
Ridwana, G. 2008. Perbandingan Pengukuran Aktivitas Antioksidan Dari Ekstrak Etanol
Minyak Atsiri Lempuyang Gajah [Skripsi]. FMIPA IPB, Bogor.

Rusmin D. dan Melati, 2007. Adas Tanaman Yang Berpotensi Dikembangkan Sebagai
Bahan Obat Alami. Warta Puslitbangbun, Vol.13 No. 2.
Sastrohamidjojo, A. 2004. Kimia Minyak Atsiri. hal 203-238. Universitas Gadjah
Mada., Yogyakarta.
Suhendra, L., dan I. W. Arnata. 2009. Potensi Aktivitas Antioksidan Biji Adas Sebagai
Penangkap Radikal Bebas. Jurnal Agrotekno. 15(2): 66-71.