You are on page 1of 7

PERPAJAKAN INTERNASIONAL

KASUS TAX TREATY

Cahyaning Satyka
Dina Amalia
Fildzah Dessyana
Margareth Sophia

Kasus Tax Treaty:


PT. Cantika Indah (Perusahaan) bergerak di bidang produksi alat-alat kosmetik dengan
memegang lisensi dari Swedia. Perusahaan berdiri sejak tahun 2004, di awal pendiriannya,
Perusahaan mendapatkan bantuan pendanaan dari pinjaman kepada Beauty Ltd. yang didirikan
dan berkedudukan di Singapura sebesar USD5.000.000 dengan tingkat bunga 18% dengan
jangka waktu 10 tahun. Beauty Ltd. merupakan sister company dari Perusahaan. Tingkat suku
bunga pasar adalah 12%.
Atas pinjaman tersebut, pada bulan Juni 2011, Perusahaan membayar bunga pinjaman ke Beauty
Ltd. sebesar USD450.000 (kurs tengah BI: Rp9.320, Kurs KMK: Rp9.400). Beauty Ltd.
memberikan CoD tertanggal 2 November 2010. Selanjutnya, pada bulan September 2011,
Perusahaan membayarkan royalti ke Ofilame Corp. sebesar USD20.000 (kurs tengah BI:
Rp9.200, Kurs KMK: Rp9.100). Perusahaan sudah meminta CoD dari Ofilame Corp namun
sampai pada saat pembayaran Ofilame Corp belum memberikan dokumen yang diminta.
Pada awal tahun 2012, Perusahaan memiliki rencana untuk melakukan ekspansi bisnis. Untuk
mendukung rencana tersebut, Perusahaan menggunakan jasa konsultasi bisnis United States
Consulting, perusahaan yang didirikan dan berkedudukan di Amerika Serikat. Berkaitan dengan
hal tersebut, United States Consulting mengirimkan 1 (satu) orang konsultannya ke Indonesia.
Konsultan tersebut berada di Indonesia pada bulan Februari 2012 sampai dengan April 2012 (1
bulan = 30 hari). Selama di Indonesia, gaji konsultan tersebut dibayarkan langsung oleh
Perusahaan sebesar Rp 20 juta/bulan. Selain itu, atas pelaksanaan jasa konsultasi tersebut
Perusahaan juga membayar fee sesuai dengan kontrak yang telah disepakati yaitu sebesar USD
50,000.
Selain ekspansi bisnis, di tahun 2012 ini Perusahaan juga berencana untuk membangun gedung
kantor yang baru dengan menggunakan jasa seorang arsitek (individu yang bekerja atas namanya
sendiri) yang khusus didatangkan dari Perancis. Arsitek tersebut dikontrak selama 6 bulan (1
bulan = 30 hari) di Indonesia yang dimulai pada bulan April 2010 dengan fee sebesar USD
10,000.
Pada akhir tahun 2012, Perusahaan membagikan dividen kepada pemegang saham tunggalnya
yaitu Coco Pte.Ltd. yang berkedudukan dan didirikan di Australia. Besarnya dividen tersebut
adalah USD400.000 pada saat kurs tengah BI: Rp9.100, Kurs KMK: Rp9.150. CoD telah
diberikan oleh Coco Pte.Ltd. yang tertanggal 3 Februari 2011.
Berdasarkan informasi tersebut di atas, bagaimanakah implikasi perpajakannya? Gunakanlah tax
treaty terkait untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Membayar interest kepada Beauty Ltd. (sister company) yang berkedudukan di Singapura:
Pembayaran interest oleh Perusahaan di Indonesia kepada Beauty Ltd. di Singapura sebagai yang
menikmati hasil pembayaran, maka sumber penghasilan adalah negara tempat kedudukan
Perusahaan, yaitu Indonesia (buying source). Oleh karena itu, Indonesia berhak mengenakan
pajak penghasilan atas pembayaran bunga pinjaman.
Beauty Ltd. sebagai subjek pajak luar negeri telah menyerahkan Certificate of Domicile (CoD)
sebagai bukti tempat kedudukan perusahaan di Singapura sebelum terjadinya pembayaran bunga
pinjaman dan pemotongan PPh, maka P3B antara Indonesia-Singapura (tax treaty) dapat
diterapkan dan diaplikasikan.
Berdasarkan persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik
Singapura tentang P3B Pasal 11 ayat 10:
Jika karena alasan adanya hubungan istimewa antara pembayar bunga dengan pemilik yang
menikmati bunga ....., jumlah bunga yang dibayarkan melebihi jumlah yang seharusnya disetujui
antara pembayar dan pemilik yang menikmati bunga seandainya hubungan istimewa itu tidak
ada, maka ketentuan-ketentuan Pasal ini akan berlaku hanya atas jumlah yang telah disetujui
tersebut. Dalam hal demikian, jumlah kelebihan pembayaran tersebut akan tetap dikenakan
pajak sesuai dengan perundang- undangan masing-masing Negara pihak pada Persetujuan.
Oleh karena itu, dalam kasus ini pajak dikenakan atas bunga per tahun sebesar 18% (coupon
rate).
Berdasarkan P3B Pasal 11 ayat 2, tarif pajak yang dikenakan atas pembayaran bunga adalah
10%. PPh yang harus dipotong oleh Perusahaan: 10% x 18% x 1/2 x $5,000,000 x Rp 9,400 =
Rp 423,000,000. Setelah memotong, Perusahaan juga harus menyetorkan dan melaporkan PPh
tersebut dalam SPT PPh Perusahaan.
Market rate untuk bunga dan royalti hanya dikenakan sebatas nilai wajar (pasar).
Interest = $5.000.000 x 12% x 12 = $300.000
PPh bunga (tax treaty) = 10% x $300.000 = $30.000

Bunga aktual = $5.000.000 x 18% x 12 = $450.000


Selisih (krn tidak wajar) = 450.000 300.000 = $150.000
PPh bunga (PPh 26) = $150.000 x 20% = $30.000
Total PPh bunga = $30.000 x $30.000 = $60.000 x 9,400 = Rp 564,000,000
Pembayaran royalti atas lisensi ke Ofilame Corp. yang berkedudukan di Swedia:
Pembayaran royalti oleh Perusahaan di Indonesia kepada Ofilame Corp. di Swedia sebagai yang
menikmati hasil bunga, maka berdasarkan asas sumber pembayaran (buying- source), sumber
penghasilan adalah negara tempat kedudukan Perusahaan yaitu Indonesia. Karena itu, negara
Indonesia berhak mengenakan pajak penghasilan atas pembayaran bunga pinjaman.
Ofilame Corp. sebagai subjek pajak luar negeri belum menyerahkan Certificate of Domicile
sebagai bukti tempat kedudukan perusahaan di Swedia sebelum terjadinya pembayaran bunga
pinjaman dan pemotongan PPh, maka P3B antara Indonesia-Swedia (tax treaty) tidak dapat
diterapkan dan diaplikasikan. Sehingga, pemotongan pajak di Indonesia yang dilakukan oleh
Perusahaan menggunakan tarif yang tertera dalam UU PPh Pasal 26 yakni sebesar 20%.
PPh yang harus dipotong oleh Perusahaan adalah sebesar 20% x $20,000 x Rp 9,100 = Rp
36,400,000. Setelah memotong, Perusahaan juga harus menyetorkan dan melaporkan PPh
tersebut dalam SPT PPh Perusahaan.
Pembayaran gaji konsultan dan pembayaran fee atas jasa konsultasi bisnis kepada United
States Consulting yang berkedudukan di Amerika Serikat:
Berdasarkan Persetujuan antara Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik
Amerika Serikat tentang Penghindaran Pajak Berganda dan Pencegahan Pengelakan Pajak atas
Penghasilan (P3B) Pasal 15 ayat 1: Penghasilan yang diperoleh penduduk suatu Negara Pihak
pada Perjanjian sehubungan dengan jasa-jasa profesional atau pekerjaan bebas lainnya hanya
akan dikenakan pajak di Negara tersebut kecuali dalam keadaan-keadaan berikut, yaitu ketika
penghasilan tersebut dapat juga dikenakan pajak di Negara Pihak lainnya pada Perjanjian:

(a) Jika penduduk tersebut mempunyai suatu tempat tetap di Negara Pihak lainnya pada
Perjanjian yang tersedia secara teratur baginya untuk menjalankan kegiatan-kegiatannya;
dalam hal demikian, hanya atas penghasilan yang berhubungan dengan tempat tetap tersebut
yang dapat dikenakan pajak di Negara Pihak lainnya pada Perjanjian tersebut; atau
(b) Jika penduduk tersebut berada di Negara Pihak lainnya pada Perjanjian untuk suatu masa
atau masa-masa yang keseluruhannya berjumlah 120 (seratus dua puluh) hari atau lebih dalam
suatu masa 12 (dua belas) bulan yang berurutan; dalam hal ini, hanya atas penghasilan yang
diperoleh dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan di Negara Pihak lainnya tersebut yang dapat
dikenakan pajak di Negara Pihak lainnya tersebut
Frasa tempat tetap di atas merupakan terjemahan dari frasa fixed base, yang menurut OECD
berarti a centre of activity of a fixed or permanent character from which such services can be
carried out such as a physician's consulting room.
Berdasarkan Pasal 15 ayat 1 (a) dan (b) dari tax treaty tersebut serta penjelasan dari frasa di atas,
negara sumber penghasilan (dalam kasus ini Indonesia) hanya berhak mengenakan pajak
penghasilan atas imbalan dari jasa konsultasi bisnis (gaji konsultan per bulan dan consulting fee)
hanya jika konsultan memiliki tempat tetap untuk menyediakan jasanya atau berada di Indonesia
selama 120 hari atau lebih secara berurutan. Dalam kasus ini, konsultan hanya berada di
Indonesia selama 3 bulan atau 90 hari.
Oleh karena itu, negara yang berhak mengenakan pajak adalah negara tempat kedudukan
konsultan bisnis tersebut, yaitu Amerika Serikat, berdasarkan tax treaty di atas dengan tarif
yang berlaku di Amerika Serikat. Artinya, Perusahaan tidak memiliki kewajiban memotong,
menyetorkan, dan melaporkan pajak penghasilan atas pembayaran imbalan dari jasa konsultasi.
Pembayaran fee atas jasa arsitek yang didatangkan dari Perancis:
Tax Treaty Indonesia dengan Perancis pada pasal 14 tentang Pekerja Bebas Pribadi menjelaskan:
1. Pendapatan yang diperoleh seorang penduduk salah satu Negara pihak pada Persetujuan
(dalam kasus ini Perancis) sehubungan dengan suatu pekerjaan bebas atau kegiatan- kegiatan
bebas lainnya yang serupa, hanya akan dikenakan pajak di Negara itu (Perancis), kecuali jika ia

di Negara pihak pada Persetujuan lainnya (Indonesia) mempunyai suatu basis tetap yang secara
teratur tersedia baginya untuk menjalankan kegiatan-kegiatannya. Jika ia mempunyai basis
tetap demikian, maka pendapatannya dapat dikenakan pajak di Negara lainnya pihak pada
Persetujuan (Indonesia) tetapi hanya sepanjang mengenai bagian pendapatan yang dapat
dianggap berasal dari basis tetap itu. Istilah pekerjaan bebas meliputi teristimewa pekerjaanpekerjaan bebas di bidang ilmu pengetahuan, kesusasteraan, kesenian, pendidikan atau
pengajaran, demikian pula pekerjaan pekerjaan bebas oleh para dokter, ahli hukum, ahli teknik,
arsitek, dokter gigi dan akuntan.
Pengertian basis tetap seperti yang tercantum dalam pasal di atas berarti tempat tetap yang
digunakan oleh arsitek tersebut untuk memberikan jasanya, sesuai dengan pengertian yang
dipakai oleh OECD. Dalam kasus ini, dengan asumsi bahwa arsitek tersebut tidak memberikan
jasanya melalui sebuah tempat tetap seperti ruangan atau kantor, sesuai dengan tax treaty di atas
negara yang berhak mengenakan pajak hanya negara tempat kedudukan subjek pajak yaitu
negara Perancis.
Perusahaan membagikan dividen kepada pemegang saham tunggalnya yaitu Coco Pte.Ltd.
yang berkedudukan dan didirikan di Australia:
Tax Treaty Indonesia dengan Australia dalam pasal 10 tentang Dividen, menjelaskan bahwa :
1. Dividends paid by a company which is a resident of one of the Contracting States under
the law of that State relating to its tax, being dividends to which a resident of the other
Contracting State is beneficially entitled, may be taxed in that other State.
2. Those dividends may be taxed in the first-mentioned Contracting State and according to the
law of that State, but the tax so charged shall not exceed 15% of the gross amount of the
dividends. The competent authorities of the Contracting States shall by mutual agreement settle
the mode of application of this limitation.
Coco Pte.Ltd yang berkedudukan dan didirikan di Australia dapat dikenai pajak di negara
asalnya (Australia) atau di negara sumber dividennya berasal yaitu Indonesia. Kami
mengasumsikan bahwa ada mutual agreement antara PT. Cantika Indah dengan Coco Pte. Ltd.

yang menyatakan bahwa dividen yang dibayarkan oleh PT. Cantika Indah kepada Coco Pte.Ltd
akan dikenakan pajak di Indonesia, dengan tarif yang dikenakan maksimum 15% sesuai dengan
yang tertulis dalam Tax Treaty Indonesia-Australia pasal 10 ayat 2.
PPh yang harus dipotong oleh Perusahaan: 15% x $400,000 x Rp 9,150 = Rp 549,000,000.
Setelah memotong, Perusahaan juga harus menyetorkan dan melaporkan PPh tersebut dalam SPT
PPh Perusahaan.