You are on page 1of 17

The EFFECT of BLACK SOYBEAN MILK on LIVER to RECOVERY

HISTOPATHOLOGY in RAT (Rattus norvegicus) WITH HIGH FAT DIET


Noer Laili 1), Epy Muhammad Luqman 2), Bambang Sektiari Lukismanto 3)
1)
Mahasiswa, 2)Departeman Embriologi, 3)Departemen Kliik
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
ABSTRACT
The aims of this study was to find out the potency of black soybean to decrease liver
damaged in rat with fat diet. This experiment used 16 samples of rat with high fat diet in
a month, as the same condition with some people who cant stopped to eat high fat diet.
And then, the samples was classification in two group, each 8 samples. P0 as control of
the sample hypercholesterolemia was treated by aquadest and high fat diet, P1 as second
group treated with black soybean milk and high fat diet. This held in 21 days. Liver was
taken in the end of this session and held section all samples. After that, result showed P0
not significan difference with P1. Its a causes by high cholesterol condition not to held
for long time. And while there are tendency happened because by cholin which found on
lesitin function to assist the hepar by countinue take the network fat consisted by the
phospolipid, so that there are no neutral fat which piled up in cell liver.
Key word : soybean, liver, histopathology, high fat, diet.
Surabaya, 07 Oktober 2009
Mahasiswa:

(Noer Laili)
NIM.060513473
Menyetujui
Dosen Terkait I

Menyetujui
Dosen Pembimbing I

Menyetujui
Dosen Pembimbing II

(Epy M.L., M.Si.,Drh.)


NIP.132 062 698
Menyetujui
Dosen Terkait II

(Setiawati Sigit, drh, M.S.) (Arimbi, drh, M.Kes.)


NIP.130 808 955
NIP.131 623 056

vi

(Prof. Dr. Bambang S.L., Drh, DEA)


NIP.131 837 004
Menyetujui
Dosen Terkait III

(Dr. Ngakan Made R.W., drh, M.S.)


NIP. 130 687 557

The EFFECT of BLACK SOYBEAN MILK on LIVER to RECOVERY


HISTOPATHOLOGY in RAT (Rattus norvegicus) WITH HIGH FAT DIET
Noer Laili 1), Epy Muhammad Luqman 2), Bambang Sektiari Lukismanto 3)
1)
Mahasiswa, 2)Departeman Embriologi, 3)Departemen Kliik
Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga
ABSTRACT
The aims of this study was to find out the potency of black soybean to decrease
liver damaged in rat with fat diet. This experiment used 16 samples of rat with high fat
diet in a month, as the same condition with some people who cant stopped to eat high fat
diet. And then, the samples was classification in two group, each 8 samples. P0 as control
of the sample hypercholesterolemia was treated by aquadest and high fat diet, P1 as
second group treated with black soybean milk and high fat diet. This held in 21 days.
Liver was taken in the end of this session and held section all samples. After that, result
showed P0 not significan difference with P1. Its a couses by high cholesterol condition
not to held for long time. And while there are tendency happened because by cholin
which found on lesitin function to assist the hepar by countinue take the network fat
consisted by the phospolipid, so that there are no neutral fat which piled up in cell liver.
Key word : soybean, liver, histopathology, high fat, diet.
---------------------------------------PENDAHULUAN
Pakan dan nutrisi merupakan hal yang penting bagi kesehatan. Rekomendasi zat
nutrisi pada pakan biasanya dibuat indeks berdasarkan produktivitas, seperti pertumbuhan
badan, produksi susu, dan telur. Suplementasi lemak merupakan suatu metode yang
paling sesuai untuk memenuhi kebutuhan energi yang tinggi pada pakan unggas
(Saerang, 2003). Setiap produk pangan pasti memiliki kandungan lemak, baik itu berasal
dari bahan baku itu sendiri (misal. daging olahan) maupun berasal dari bahan tambahan
lainnya seperti minyak goreng, margarin dan bahan lainnya yang ditambahkan ketika
proses pemasakan (Mayes, 2000 dalam Anggarini, 2009). Umumnya dengan
mengkonsumsi makanan dengan kandungan lemak yang tinggi dapat mengakibatkan
berbagai penyakit misalnya kegemukan, jantung koroner, dan stroke (Saerang, 2003).

vii

Kolesterol merupakan salah satu komponen lemak, kolesterol dalam darah


terdapat bentuk kompleks dengan protein yang disebut lipoprotein. Peningkatan
lipoprotein (lipoproteinemia) dalam darah dapat meningkatkan kadar kolesterol atau
kolesterolemia (Mayes, 1995 dalam Utami, 1999). Kolesterol yang tinggi dapat merusak
hepar, berupa degenerasi, nekrosis (piknotis, karyolisis, karioreksis, nekrosis), kongesti,
dan pada keadaan melanjut dapat menyebabkan sirosis hepatik dan penyakit hepar
menahun, sebab di dalam tubuh kolesterol disintesis terutama didalam hepar dan usus
halus (Price dan Wilson, 1984 dalam Utami, 1999).
Protein nabati dapat menurunkan kadar kolesterol darah pada hewan yang diberi
diet tinggi lemak (Prabowo, 1994). Menurut Priyardiyanti (1999), produk-produk kedelai
dapat menurunkan kadar kolesterol total dan kolesterol Low Density Lipoprotein (LDL)
darah tikus putih penderita hiperkolesterolemia. Kedelai hitam mengandung isoflavon
dan anthocyanin yang berfungsi sebagai antioksidan bagi tubuh (Takahashi et al., 2005).
Kandungan isoflavon dari protein kedelai dapat juga menurunkan kolesterol (Setchell and
Cassidy, 1999). Kulit dari kedelai hitam merupakan sumber pigmen anthocyanin seperti
cyanidin-3-glucoside dan delphinidin-3-glucoside. Anthocyanin ini dipercaya dapat
menurunkan kadar kolesterol. Kandungan anthocyanin pada kedelai hitam jauh lebih
banyak dibanding kedelai kuning karena warna hitam pada kulitnya (Choung, 2001
dalam Marsi, 2009).
Kedelai juga mengandung asam lemak tak jenuh ganda yang berfungsi
menguraikan lemak (Astawan, 2009). Salah satu bahan penting dalam lemak kedelai
adalah lesitin. Lesitin adalah nutrisi alami yang terdapat pada bermacam macam
makanan dan suplemen. Lesitin berperan penting dalam biologi manusia. Lesitin yang

viii

diberikan secara peroral dapat meningkatkan kadar kolin dalam plasma, sehingga dapat
dikatakan lesitin adalah sumber penting bagi kolin (Jhonson and Mukler, 2001). Dalam
mengurangi kerusakan sel hepar, lesitin berfungsi sebagai antioksidan. Lesitin dapat
mencegah atau mengurangi terjadinya proses peroksidase lipid. Jika peroksidase lipid
dapat dicegah atau dikurangi, maka kerusakan dan kematian sel dapat dicegah atau
berkurang (Lestari, 2006).
Pada bulan April 1998, untuk pertamakalinya the US Food & Nutrition Board
(FNB) merekomendasikan bahwa kolin dipertimbangkan sebagai sebuah nutrisi esensial
dan ditentukan Dietary Reference Intake (DRI) levelnya. Hal ini berdasarkan bukti bahwa
kolin dibutuhkan untuk fungsi normal liver manusia. Lesitin (fosfatidilkolin) penyusun
utama kolin dalam bahan pangan, nampaknya berperan dalam menurunkan resiko
penyakit kardiovaskuler (Hartoyo, 2003). Penelitian serupa dengan menggunakan kedelai
hitam sebagai susu dan diberikan rentang waktu singkat belum dilakukan, namun telah
terdapat penelitian pendukung yang menggunakan bahan kedelai, baik kedelai kuning
maupun kedelia hitam. Berdasarkan uraian bahwa kedelai hitam mengandung bahanbahan bermanfaat lebih besar dibanding kedelai kuning, maka dirasa perlu untuk meneliti
mengenai efek perbaikan susu kedelai hitam dalam memperbaiki sel hepar dengan
pemberian diet tinggi lemak.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga, kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan histopatologi di
Departemen Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga,
Surabaya. Penelitian dilaksanakan dari bulan Mei sampai Juni 2009.

ix

Alat yang digunakan adalah kandang tikus berupa kotak plastik dan tutup
kandang tikus yang terbuat dari anyaman kawat, botol tempat minum tikus, timbangan,
sonde, spuit 5ml, tabung penampung darah, gunting bedah, kapas, object glass dan cover
glass. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan 16 ekor tikus putih
(Rattus norvegicus) strain Wistar jantan berumur 3 bulan dengan berat badan 200 g,
diet tinggi lemak, air minum dari PDAM tanpa dimasak, susu kedelai hitam, alkohol
70%, dan eter. Penelitian ini menggunakan lemak yang beraal dari lemak babi sebagai
bahan campuran dalam diet tinggi lemak. Berdasarkan Widodo (1994), penggunaan
lemak babi 1,83 kg dalam 10 kg pakan dapat meningkatkan kolesterol dalam darah.
Hewan Percobaan tikus putih (Rattus norvegicus) strain Wistar jantan sebanyak
16 ekor dibagi dalam 2 kelompok perlakuan. Masing-masing kelompok diperoleh dengan
cara pengacakan menggunakan bilangan acak. Masing masing perlakuan terdiri dari 8
ulangan. Perlakuan yang dibuat adalah sebagai berikut :
P0

: Pakan tinggi lemak dan diberi aquadest.

P1

: Pakan tinggi lemak dan diberi sari kedelai hitam.


Dosis yang digunakan tersebut berlandaskan pada penelitian sebelumnya dengan

mengambil hasil yang terbaik dari hasil penelitian tersebut. Dosis sari kedelai yang
diberikan 1,5 ml (Nangoi, 1994) yang diberikan secara per oral dengan menggunakan
sonde. Susu kedelai yang diberikan sebagai perlakuan dibuat dengan perbandingan
kedelai hitam : air sebesar 1 : 3 (Aini, 2003). Dalam penelitian ini, terdapat empat tahap,
yaitu tahap adaptasi, tahap induksi, tahap perlakuan dengan susu kedelai hitam, dan tahap
pemeriksaan histopatologi hepar.

Tahap awal penelitian ini dilakukan tahap adaptasi. Pada tahap ini tikus di
adaptasikan dengan situasi lingkungan penelitian yang baru selama satu minggu dengan
diberi pakan standar. Tahap kedua dilakukan penginduksian. Pada tahap induksi ini,
diberikan pakan tinggi lemak, selama 28 hari secara ad libitum. Pakan tinggi lemak yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan minyak babi sebanyak 1,83 kg dalam 10 kg
bahan pakan. Pemberian pakan dilakukan selama 28 hari agar metabolisme dalam tubuh
hewan coba dapat sesuai dengan yang diadaptasikan. Selanjutnya dilakukan tahap
perlakuan selama 28 hari, kemudian pada kelompok P1 dilakukan pemberian susu kedelai
hitam, kelompok P0 tetap diberikan dengan pakan tinggi lemak dan ditambah aquadest
dengan menggunakan sonde sesuai dosis yang telah ditentukan. Tahap perlakuan ini
berlangsung selama 21 hari (Nangoi, 1994). Setelah mendapatkan perlakuan selama 21
hari, maka pada hari ke-51 tikus-tikus tersebut dianasthesi dengan eter dan diambil
heparnya untuk kemudian diperiksa secara histopatologi. Pemeriksaan histopatologi
dilakukan pada hari ke-52 di Departemen Patologi Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Airlangga Surabaya (lampiran 5). Pengamatan secara mikroskopis preparat
histopatologis hepar tikus putih jantan pada penelitian ini menggunakan mikroskop
cahaya dengan pembesaran 100x sampai 1000x. Pengamatan tersebut dilakukan melalui
5 lapang pandang yang berbeda, dari tiap preparat histopatologi hati tikus putih jantan
kemudian dilakukan penilaian berupa skoring berdasarkan tingkat kerusakan gambaran
histopatologi sel hepar tikus putih jantan (Hidayat, 2008).
Hasil pemeriksaan histopatologi hepar yang diperoleh akan diberikan penilaian
sesuai dengan tingkat kerusakannya. Analisis data dilakukan dengan Uji Mann Whitney
atau Uji U karena dalam penelitian ini terdapat dua perlakuan dengan menggunakan satu

xi

dosis saja serta subjek yang berbeda. Kedua perlakuan tersebut menggunakan dosis yang
sama.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah dilakukan pemeriksaan preparat histopatologi hati tikus putih yang
diberikan diet tinggi lemak dan diterapi dengan susu kedelai hitam, diperoleh data hasil
pengamatan yang berupa gambaran degenerasi, kongesti, dan nekrosis. Hasil pengamatan
secara mikroskopis pada preparat histopatologi hati tikus putih didapatkan dengan
pengamatan melalui lima lapangan pandang yang berbeda pada tiap preparat
histopatologi.
Setelah dilakukan analisis data dengan uji Mann-Whitney untuk mengetahui
perbedaan degenerasi antar kelompok perlakuan, diperoleh harga signifikansi sebesar
0,316 maka harga tersebut lebih besar dari harga dengan tingkat kepercayaan 5%
(p0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan
antara kontrol dan perlakuan (Tabel 4.1). Perubahan kerusakan histopatologi hati yang
mengalami degenerasi melemak dapat di lihat pada gambar 4.1.
Table 4.1 Rerata Rank dan Standart Deviasi Perubahan Degenerasi
Hepar Tikus Putih
Perlakuan
Rata-rata rank dan simpangan baku
(X SD)
P0
9,6 1,9
P1
7,3 1,2
Setelah dilakukan analisis data dengan uji Mann-Whitney untuk mengetahui
perbedaan kongesti antar kelompok perlakuan, diperoleh harga signifikansi sebesar 0,139
maka harga tersebut lebih besar dari harga dengan tingkat kepercayaan 5% (p0,05),
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
xii

kontrol dan perlakuan (Tabel 4.2). Perubahan kerusakan histopatologi hati yang
mengalami kongesti dapat di lihat pada gambar 4.2.
Table 4.2 Rerata Rank dan Standart Deviasi Perubahan Kongesti Hepar Tikus
Putih
Perlakuan
Rata-rata rank dan simpangan baku
(X SD)
P0
10,2 1,8
P1
6,7 1,3
Setelah dilakukan analisis data dengan uji Mann-Whitney untuk mengetahui
perbedaan nekrosis antar kelompok perlakuan, diperoleh harga signifikansi sebesar 0,525
maka harga tersebut lebih besar dari harga dengan tingkat kepercayaan 5% (p0,05),
sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
kontrol dan perlakuan (Tabel 4.3). Perubahan kerusakan histopatologi hati yang
mengalami nekrosis dapat di lihat pada gambar 4.3.
Table 4.3 Rerata Rank dan Standart Deviasi Perubahan Nekrosis Hepar Tikus
Putih
Perlakuan
Rata-rata rank dan simpangan baku
(X SD)
P0
9,2 1,7
P1
7,7 1,6

xiii

Gambar 4.1 Histopatologi Organ Hati yang Mengalami Degenerasi Melemak


dengan perbesaran 400x.
Keterangan : Gambar tersebut dengan pewarnaan HE. Terdapat gambaran perubahan sel
hepatosit dengan sitoplasma membengkak dan terdapat vakuola yang menunjukkan
degenerasi sel.

Gambar 4.2 Histopatologi Organ Hati yang Mengalami Kongesti vena dengan
pembesaran 400x.
Ketrangan : Gambar tersebut dengan pewarnaan HE. Terdapat gambaran perubahan vena
sentralis yang terisi oleh eritrosit.

xiv

Gambar 4.3 Histopatologi Organ Hati yang Mengalami Nekrosis dan pembesaran
1000x.
Keterangan : Gambar tersebut dengan pewarnaan HE. Terdapat gambaran perubahan inti
sel mengalami karyolisis.

Setelah dilakukan penelitian mengenai potensi susu kedelai hitam (Glicyne soja)
pada gambaran histopatologi hepar dapat diketahui susu kedelai hitam tidak memberikan
pengaruh terhadap perbaikan organ hepar yang mengalami kerusakan karena diet tinggi
lemak.
Ganong (2001) menyatakan bahwa kedelai mengandung fitosterol yang
mengurangi absorbsi kolesterol, mungkin melalui kompetisi dengan kolesterol untuk
esterifikasi dengan asam lemak. Protein yang terdapat pada kedelai dapat meningkatkan
sekresi dan sintesis asam empedu yang berasal dari kolesterol dan tidak diabsorbsi
kembali melalui sirkulasi enterohepatik akan keluar bersama feses yang merupakan satu
dari mekanisme utama yang bertanggung jawab terhadap pengaturan homeostasis
kolesterol (Supriyanto, 2004).
Hal itu didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahyu (2009), yang
menunjukkan adanya penurunan total kolesterol yang nyata pada kelompok perlakuan
yang diberi susu kedelai hitam bila dibandingkan dengan kontrol. Pernyataan ini

xv

didukung pula oleh hasil penelitian yang dilakukan Marsi (2009) yang menyatakan
bahwa susu kedelai hitam menurunkan kadar LDL, dan Enggar (2009) menyatakan
bahwa susu kedelai hitam menurunkan kadar TG.
Penurunan yang terjadi dikarenakan kandungan PUFA dalam lemak kedelai
mempunyai kemampuan menurunkan kadar LDL karena dapat meningkatkan jumlah
reseptor LDL dan menurunkan sekresi VLDL dari hepar. Penurunan kadar LDL dan
VLDL juga akan menurunkan TG (Stipanuk, 2000).
Susu kedelai hitam berkhasiat dalam mencegah dan memperbaiki kerusakan selsel hepar. Keadaan tinggi kolesterol dalam darah terjadi ketika LDL meningkat dalam
darah, disebabkan karena pembentukan VLDL yang meningkat secara total didalam
hepar karena konsumsi diet tinggi lemak (Riyanto, 2002 dalam Enggar, 2009).
Perubahan yang tampak pada preparat hepar yang menonjol adalah kongesti dan
degenerasi. Berlebihannya kolesterol yang masuk kedalam tubuh berpengaruh toksik
pada aliran darah dan menimbulkan gejala anoksia. Secara mikroskopis terjadi kongesti
vena sentralis. Hal tersebut mangakibatkan penghambatan aliran darah yang
menyebabkan zat-zat makanan dan oksigen yang masuk kedalam jaringan menjadi
berkurang dan sel akan kekurangan makanan dan mengalami berbagai perubahan seluler.
Perubahan sel mulai dari sitoplasma hingga inti sel hepar (Clark dan Clark, 1975 dalam
Utami 1999).
Degenerasi melemak merupakan penimbunan abnormal lemak dalam sel
parenkim hepar. Secara histopatologi terdapat penampakan vakuola lemak (degenerasi
melemak) atau air (hidrofik) dalam sel, baik kecil maupun besar. Dalam beberapa sel, inti
dipertahankan walaupun ada yang tergeser ke pinggir sitoplasma vakuola lemak (Robbins

xvi

dan Kumar, 1992). Lemak yang diangkut ke hepar berasal dari dua sumber yaitu dari
jaringan lemak yang dilepas dalam bentuk FFA dan dari makanan yang dilepas dalam
bentuk kilomikron (terdiri dari TG dan fosfolipid protein). Lemak tersebut dalam hati
mengalami esterifikasi. Pada tahap selanjutnya berubah menjadi trigliserida dan
mengakibatkan penimbunan pada sel-sel hepar (Mc Gavin, 2007). Kerusakan sel atau
jaringan yang merupakan kelanjutan dari degenerasi sel adalah nekrosis sel yang sifatnya
irreversible sebab nekrosis pada sel hati adalah rusaknya susunan enzim dari sel
(Darmawan dan Hermawan, 1998).
Kerusakan hepar yang terjadi disebabkan karena pemberian diet tinggi lemak
yang berasal dari lemak babi. Lemak babi merupakan salah satu sumber asam lemak
jenuh (Sugito, 2003 dalam Anggarini, 2009). Asam lemak jenuh seperti yang dapat
ditemukan dalam minyak babi, akan meningkatkan kadar total kolesterol dan kadar
kolesterol LDL, akan tetapi secara individual memiliki luas efek yang berbeda (Mikkila,
2008 dalam Anggarini, 2009). Peningkatan LDL akibat diet tinggi lemak tersebut diikuti
oleh penurunan jumlah reseptor LDL (Woolet et al., 1983 dalam Priyardiyanti, 1999).
Dalam penelitian ini ada kecenderungan susu kedelai hitam memperbaiki
sel-sel hepar, namun secara statistik dengan uji Mann-Whitney belum menunjukkan data
yang signifikan. Pada penelitian yang dilakukan Indahwati (2000), pemberian produk
kedelai selama 16 minggu mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Efek
hipokolesterolemik pada kedelai bekerja menurunkan konversi FFA dengan cara
menghambat lipolisis dari jaringan adiposa melalui regulasi HMG KoA reduktase dan
menghambat sintesis VLDL (Linder, 1992). Kecenderungan penurunan kerusakan yang
terjadi pada hewan percobaan dengan perlakuan susu kedelai hitam menunjukkan bahwa

xvii

kedelai hitam bersifat hipokolesterolemik. Apabila keadaan tinggi kolesterol dalam darah
dihilangkan, maka kadar kolesterol dalam hepar akan berkurang. Kolin yang merupakan
bahan aktif yang terkandung dalam kedelai termasuk dalam bahan litotrop. Kolin tersebut
berfungsi membantu hepar secara kontinyu mengambil lemak jaringan yang terdiri dari
phospolipid, sehingga tidak ada lemak netral yang tertimbun dalam sel hepar (infiltrasi
lemak). Selain itu juga membantu hepar dalam mensintesis enzim Lecithin Cholesterol
Acil Transferase (LCAT) yang berfungsi untuk esterifikasi kolesterol (Utami, 1999).
Susu kedelai hitam tidak memberikan efek yang signifikan antara kontrol dan
perlakuan dikarenakan pemberian perlakuan susu kedelai hitam yang belum berlangsung
cukup lama, sehingga kejadian kerusakan yang terjadi pada hepar belum mampu
dihilangkan meskipun kadar kolesterol dalam darah turun. Penyebab yang lain dapat
terjadi karena bahan aktif dalam susu kedelai hitam yang digunakan sebagai perlakuan
relatif belum mencukupi kebutuhan dalam memperbaiki kerusakan yang terjadi pada
hepar.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan setelah dilakukan analisis data dengan uji MannWhitney, didapatkan hasil bahwa gambaran histopatologi hepar tikus putih yang diberi
perlakuan susu kedelai hitam tidak memberikan pengaruh yang signifikan bila
dibandingkan dengan gambaran histopatologi hepar tikus putih yang tidak diberi
perlakuan susu kedelai hitam. Saran yang dapat penulis uraikan adalah :
1. Dilakukan penelitian lanjutan mengenai kadar lesitin pada susu kedelai hitam
(analisis proksimat).

xviii

2. Diperlukan penelitian dengan tenggang waktu yang lebih lama untuk mengetahui
seberapa besar bahan aktif yang ada dalam susu kedelai hitam mampu mengurangi
kerusakan-kerusakan yang terjadi.
DAFTAR PUSTAKA
Aini, YN., Suranto., Ratna, S. 2003. Pembuatan Kefir Susu Kedelai (Glycine max (L.)
Merr) denagn Variasi Kadar Susu Skim dan Inokulum. Biosmart vol.5, no. 2: 89
93.
Amrin, T. 2007. Susu Kedelai. Penebar Swadaya. Jakarta. 1-5.
Anggarini, G. 2009. Pengaruh Extra Virgin Olive Oil Terhadap Gambaran Histopatologi
Hepar Tikus Putih Jantan (Rattus norvegicus) Hiperkolesterolemia. Skripsi. FKH,
UA.
Astawan, M. 2009. Sehat dengan Hidangan Kacang dan Biji bijian. Penebar Swadaya.
Jakarta.
Baum, J.A., Teng. H., Edrman, J.W. Jr., Weigel, R.M., Klein B.P., Persky, V.W., Freels,
S. Surya, P., Bakhit, R.M., Ramos, E., Shay, N.F., Potter, S.M. 1998. Long-term
Intake of Soy Protein Improves Blood Lipid Profiles and Increase Mononuclear
Cell
Low-Density
Lipoprotein
Reseptor
Messenger
RNA
in
Hypercholesterolemic, Postmonopousal Women. Am. J. Clin. Nutr. 68, 545-551.
Brody, P.K. 1994. Metabolic Control and Disease. W.B. Saunders Company.
Phyladelphia. Lndon, Toronto. 394-441.
Brown, M.S. and J.L. Goldstein. 1991. Drugs Used in the Treatment of
Hiperlipoproteinemia; Pharmacological Basis of Therapeutics. 8th edition. New
York: Mc.Graw Hill Book.
Corwin, E.J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Alih Bahasa Brahma Pandit. EGC. Penerbit
Buku Kedokteran Jakarta.
Darmawan, S. 1994. Patologi. Fakultas Kedokteran Bagian Patologi Anatomi Universitas
Indonesia. Jakarta.
Darmawan, S dan Hermawan, S. 1998. Patologi. Fakultas Kedokteran Bagian Patologi
Anatomi Universitas Indonesia. Jakarta. 229-254.
Dellman, H. D. dan E. M. Brown. 1992. Histologi Veterinar. Diterjemahkan oleh Hartono
R. Edisi 2. Penerbit Universitas Indonesia. 413-428.

xix

Enggar, P. 2009. Potensi Sari Kedelai Hitam terhadap Kadar Trigliserida Tikus (Rattus
norvegicus) dengan Diet Tinggi Lemak. Skripsi. FKH,UA.
Eschleman, M.M. 1991. Introductory Nutrition and Diet Therapy 2nd ed. J.b. Lippincott
Company, pp 111-114.
Ganong, W.F. 2001. Review of Medical Physiology 11th ed. New York. McGraw-Hill pp.
290 172.
Guyton, A.T. 1994. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran (Terjemahan). Bagian III, edisi 7.
Hartoyo, A. 2003. Lesitin Tidak Hanya Penting Untuk Proses Pangan Tapi Juga Untuk
Kesehatan. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor.
Hidajat, O.O. 1985. Morfologi tanaman Kedelai. Dalam : Kedelai. S. Somaatmadja,
Ismanudji, M. Sumarno, S.M. Manurung, S.O. Yuswadi (Ed.). Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian. Pusat Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. 73.
Hidayat, N. 2008. Gambaran Histopatologi Hati Mencit Jnatan Akibat Lama Pemberian
Ekstrak Rimpang Temu Ireng (Curcuma aeruginosa). Skripsi. FKH. UA.
Johnson, D.W. and D.J. Mukler. 2001. Lechitins Therapeutic Effects. Countinuing
Education Module. Centra Soya Lecithin Group, 2-6.
Junqueira, L.C dan Carneiro, J. 1998. Histologi Dasar. Terjemahan: Adji Dharma.
Penerbit BukuKedokteran EGC. Jakarta. oleh Hartono R. Edisi 2. Penerbit
Universitas Indonesia. 413-428
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Ed I. Penerbit UI Press. Jakarta. 6,84.
Koswara, S. 1992. Teknologi Pengembangan Kedelai Menjadikan Makanan Bermutu.
Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.
Krisno, Agus. 2002. Dasar-dasar Ilmu Gizi. Universitas Muhammadiyah Malang.
Malang.
Kusumawati, D. 2004. bersahabat dengan Hewan Coba. Gajahmada University Press.
Yogyakarta.
Lehninger, L.L. 1993. Dasar dasar Biokimia. Edisi I. Alih Bahasa : Meggy
Thenawidjaja. Erlangga. Jakarta. 283-367.
Linder, M. C. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Penerjemah Parakhasi, A dan
Amwila, A. Y. Universitas Indonesia. Jakarta.
Lestari, D. 2004. Efek Protektif Lesitin Terhadap Hepatotoksisitas Akibat Induksi
Karbon Tetraklorida Pada Tikus Putih (Rattus noevegicus). Thesis. Program
Pasca Sarjana. Universitas Airlangga. Surabaya.

xx

Marsi, T.A. 2009. Perbandingan Potensi Sari Kedelai Kuning dan Hitam terhadap
Penurunan kadar LDL Tikus Putih. Skripsi. FKH, UA.
Mayes, P.A. 1995. Lipid In: R.K. Murray, D.K. Garner, P.A. Mayyes dan V.W.Rodwell
(Ed.). Harpers Biochemistry. 22th ed. Printice Hall International Inc. New Jersey.
USA. 316,555.
Mc Gavin, M. D, and James F. Z. 2007. Pathologic Basic of Veterinary Disease. 4th
edition. Mosby, Inc. St Louis, Missouri. 3-22, 38-43, 393-407.
Montgomery, R., R.L. Dryer., T.W. Conway., dan A.A. Spector. 1993. Biokimia Suatu
Pendekatan Berorientasi Kasus (Terjemahan). Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta. 687-776, 890-950.
Murray, R.K., Daryl K.G., Peter A.M., and Victor W.R. 2003. Harpers Biochemistry,
25th ed. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.
Nangoi, L. 1994. Pengaruh Suplementasi Susu Kedelai Terhadap Profil Lipid Serum
Tikus Putih dengan Pakan Tinggi Lemak. Thesis. Program Pasca Sarjana.
Universitas Airlangga.
Prabowo, G. I. 1994. Pengaruh Substitusi Tempe Kedelai dalam Diet Terhadap Profil
Lipid Serum Tikus dengan Keadaan Hiperkolesterolemia. Thesis. Program Pasca
Sarjana. Universitas Airlangga.
Priyardiyanti. 1999. Studi Perbandingan Efek pemberian Beberapa Produk Olahan
Kedelai Terhadap Kadar Kolesterol Total dan Kolesterol LDL Darah Tikus
Putih (Rattus norvegicus) dengan Keadaan Hiperkolesterolemia. Skripsi. Fakultas
Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga.
Rusdiana. 2004. Metabolisme Asam Lemak. Digitized by USU digital library.
Robbins, S. L. dan Kumar, V.1992. Buku Ajar Patologi 1. Edisi 4. Alih bahasa : Staf
pengajar Laboratorium Patologi Anatomik Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga. Surabaya. Penerbit buku Kedokteran EGC, Jakarta.1-66.
Russet, J. C. 2002. Lecithin and Equine Ulcers. Specially Products Research Notes.
Saerang, J.L.P. 2003. Efek pakan dengan penambahan berbagai minyak terhadap
produksi dan kualitas telur. Pengantar Falsafah Sains (PPS702). Program
Pascasarjana/S3. Institut Pertanian Bogor.
Sardi, B. 2003. Choosing Natural Agents for Cholesterol Control. pp 9.
Setchell K.D.R. and Cassidy, A. 1999. Dietary Isoflavones : Boilogical Effects and
Relevans to Human health. J. Nutr. 129: 758S-767S.

xxi

Silalahi, J., Tampobolon, S.D.R. 2002. Asam Lemak Trans dalam Makanan dan
Pengaruhnya terhadap Kesehatan. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan,
Vol.XIII, No.2.
Sitopoe, M. 1993. Kolesterol Fobia. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Smaolin. A and M.B., Grosvenor. 1997. Nutrition : Science and Application, 2nd edition.
Sounders College Publishing.
Stipanuk, M.H. 2000. Biochemical and Physiological Aspects of Human Nutrition.
Sounders Company. 306, 315, 333, 918.
Supriyanto. 2004. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kedelai terhadap Kadar Kolesterol Total,
LDL, HDL dan Rasio LDL/HDl Darah Tikus Putih Jantan yang Mengalami
Hiperkolesterolemia. Thesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Airlangga.
Surabaya.
Takahashi, R.; Kiyose, C.; Momiyama, Y.; Ohsuzu, F.; Kondo, K. 2005. Antioxidant
Activities of Black and Yellow Soybeans Againts Low Density Lipoprotein
Oxidation. J. Agric Foof Chem. 53, 4578-82.
Utami, W.S. 1999. Gambaran Histopatologi Hepar Tikus Putih (Rattus norvegicus galur
wistar) Penderita Hiperkolesterolemia Setelah Pemberian Diet Produk-Produk
Kedelai. Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan., Universitas Airlangga.
Van Steenis, H.B. and P.A. Flecknel. 1992. Experimental and Surgical Technique in The
Rat. Academic Press. Harcout Brace Jovanovich Publisher. London., San Diego.,
New York., Boston., Sidney., Toronto., Tokyo.
Wahyu, Y. 2009. Pengaruh Kedelai Hitam dan Kedelai Kuning terhadap Kadar
Kolesterol Total Tikus Putih (Rattus norvegicus). Skripsi. FKH, UA.
Wahyuni, S.R. 2002. Buku Ajar Ptologi Klinik. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas
Airlangga. Surabaya.
Widjaja, E dan Utomo, B.N. 2007. Pengaruh Pemberian Solid terhadap Kandungan
Kolesterol, Asam Lemak dan Vitamin A pada Ayam Broiler. Balai Penelitian
dan Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Tengah, Jl. G. Obos Km 5,
Palangkaraya, Kalimantan Tengah. JITV Vol. 12 No. 1 Th. 2007.
Widodo, F.Y. 1994. Studi Perbandingan antara Pengaruh Diet Minyak Kedelai dan
Minyak Kelapa Sawit terhadap Profil Lipid Darah Tikus dengan Diet Tinggi
Lemak. Thesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Airlangga. Surabaya.
Wiyatna, M.F.; Warsono I.U.; dan Parakkasi A. 2009. Pengaruh tepung cangkang
rajungan (portunus pelagicus) sebagai sumber kitin dalam ransum terhadap
kandungan lemak feses dan efisiensi pakan tikus putih (rattus norvegiccus)
strain wistar. Pascasarjana IPB. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.

xxii