Вы находитесь на странице: 1из 12

2.

1 Definisi

Sendi temporo mandibula merupakan salah satu komponen dari sistem


pengunyahan yang terdiri dari sepasang sendi kiri dan kanan yang masing
masing dapat bergerak bebas dalam batas tertentu. Berbeda dengan
persendian lain selalu berada pada tempatnya dan tiap penyimpangan gerak
keluar dari tempatnya menyebabkan dislokasi, tidak lah demikian dengan
sendi rahang. Temporomandibular joint merupakan persendian dari kondilaris
mandibula dengan fossa glenoidales/ fossa articularis dari tulang temporal.
TMJ terletak di depan bawah telinga. TMJ bertanggung jawab dalam
membuka dan menutup rahang, mengunyah, berbicara.1

Oklusi dapat didefinisikan sebagai hubungan kontak statikantara tonjol-tonjol


gigi atau permukaan kunyah dari gigi geligi atas dan bawah. Kebiasaan
mengunyah satu sisi merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya
disharmoni oklusi seperti mengunyah pada sisi kiri tidak nyaman, maka
pasien akan memindahkan rahang bawah ke kanan, dan melakukan
pengunyahan sebelah kanan.1

Kebiasaan mengunyah unilateral adalah tindakan yang sering kali dilakukan


setiap kali menggunakan gigi-gigi molar untuk menghancurkan dan gigi
insisif untuk memotong yang dilakukan hanya pada satu sisi.2

2.2 Jenis

Jenis dari pengunyahan pada satu sisi rahang adalah pengunyahan yang
menggunakan satu sisi rahang sebelah kanan, dan satu sisi rahang sebelah
kiri. Yang masing masing dalam setiap sisi nya memiliki sepasang sendi
rahang baik di sisi sebelah kanan dan sisi sebelah kiri.

Dan dilihat dari struktur dan fungsinya persendian yang terdapat dalam tiap
rahang yaitu pada bagian atas, antara fossa glenoid dan eminensia
artikularis, dengan permukaan atas diskus artikularis. Pada bagian bawah,
yang merupakan bagian kedua antara permukaan bawah diskus artikularis
dengan kepala kondil. Dan apabila terjadi penyimpangan seperti mengunyah
pada salah satu sisi rahang saja dan berjalan lama maka posisi akhir kondilus

kanan dan kiri akan menjadi asimetri yang diikuti oleh diskus artikularnya.7

2.3 Mekanisme

Mekanisme dalam pengunyahan secara normal dan yang mengalami kelainan


sendi temporomandibula pada pasien yang mengunyah satu sisi berbeda.
Terlihat perbedaan aktivitas otot-otot pengunyahan pada yang normal dan
yang abnormal. Pada dasarnya dapat dilihat dari 3 fase,yaitu fase membuka
saat gigi meninggalkan kontak dengan lawannya dan mandibula turun, kedua
fase menutup, saat mandibula bergerak kembali ke atas sampai terjadinya
kontak pertama antara gigi geligi bawah dan gigi geligi atas, dan fase
ketiga fase oklusi ,yaitu saat mandibula kembali ke posisi interkupasi
maksimal dengan dipandu oleh bergesernya kontak gigi- geligi bawah dan
gigi geligi atas.1

Pada keadaan normal pergerakan sendi yaitu gerakan rotasi terjadi pada
kondilus dengan permukaan bawah discus disebut struktur kondilus
disckomplek (sendi bawah). Gerakan menggelincir terjadi pada sendi bagian
atas antara kondilus disckomplek dengan fosa glenoidalis.3

Pada kasus mengunyah dengan satu sisi pada fase membuka mulut terjadi
rotasi dimana discus bergerak sedikit ke posterior, kondilus ke anterior
m.pterygoideuslateral inferior dan m.pterygoideuslateral superior
berkontraksi. Dan terjadi translasi dimana discus beserta kondilus bergerak
ke anterior mengikuti guiding line sampai eminentia artikular. Semua ototnya
dalam keadaan kontraksi. Pada fase menutup mulut discus artikularis
bergerak ke anterior dan kondilus ke posterior untuk mempertahankan
kedudukan kondilus agar tetap berada pada zona intermediet, maka
m.pterygoideus lateral superior kontraksi dan m.pterygoideus lateral inferior
relaksasi.1

2.4 Perawatan Sebagai Dokter Gigi

Perawatan yang dilakukan sebagai dokter gigi dalam menangani kelainan

pada sendi temporomandibula dapat memilih perawatan secara konservatif


dan operatif. Pilihan perawatan secara konservatif meliputi mengistirahatkan
rahang, obat-obatan, latihan, terapi panas, splin oklusal, perawatan
psikososial, karies dan kelainan patologi yang lain, protesa, terapi oklusal,
perawatan faktor pendorong yang lain dan perawatan secara operasi bila
pasien gagal member respon terhadap terapi konservatif.1

2.5 Pencegahan Kasus

Pencegahan dalam kasus sendi temporo mandibula yang salah satunya


adalah mengunyah satu sisi dapat dicegah dengan memperbaiki kontak
oklusi, menghindari faktor stress terutama stress emosional dan menghindari
aktifitas parafungsional dari sendi temporomandibula.1

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Gangguan Sendi Rahang

Gangguan sendi rahang atau temporomandibular join disorders (TMJ


Disorders) merupakan hal yang paling rumit yang menyangkut sendi rahang.
Sendi rahang terdiri dari otot- otot, urat-urat, dan tulang-tulang. Dan setiap
komponen dari berkontribusi pada kelancaran kerja dan sendi rahang. Kita
dapat melokalisir sendi rahang (TMJ) dengan meletakkan sebuah jari pada
struktur segitiga didepan kuping. Kemudian jarinya digerakkan maju sedikit
kedepan dan ditekan dengan kuat ketika membuka rahang. Gerakan yang
dirasakan berasal dari sendi rahang. Kita juga dapat merasakan gerakan
sendi jika kita menaruh jari kecil pada sisi dalam bagian depan dari kanal
telinga. Manuver-manuver ini dapat menyebabkan cukup penderitaan untuk
pasien yang mengalami kesulitan sendi rahang, dan dokter menggunakan
mereka untuk membuat diagnosis.4

Adapun gejala- gejala yang ditimbulkan oleh gangguan TMJ ini biasanya lebih
dari satu, antara lain: nyeri di sekitar sendi rahang, nyeri di kepala, gangguan
pengunyahan, bunyi sendi ketika membuka/menutup mulut yang dapat
disertai dengan rasa nyeri, terbatasnya membuka mulut. Selain gejala ini,
mungkin juga terjadi gejala lain, yaitu : nyeri otot terutama otot leher dan
bahu, nyeri telinga, telinga berdengung, dan vertigo.5

Pada kasus yang terjadi dengan pasien yang mengunakan satu sisi dalam
mengunyah memiliki beberapa faktor resiko yang bukan hanya
mengakibatkan terganggunya sendi temporomandibula,tetapi juga akan jauh
lebih parah dari itu yang dapat menyebabkan penyakit periodontal.
Kebanyakan kasus yang ditemui dalam praktek kedokteran gigi, pasien yang
menggunakan satu sisi untuk mengunyah faktor resiko untuk timbul kalkulus
sangat besar, dan terjadinya atrisi pada sisi gigi yang dipakai dan rasa nyeri
pada otot-otot wajah. Secara alamiah gerakan pengunyahan mempunyai efek
membersihkan gigi. Karena itu, gigi-gigi yang tidak dipakai mengunyah akan
mudah ditumbuhi karang gigi. Selain itu, oto-otot pipi yang kurang bergerak
karena tidak mengunyah, lama kelamaan menjadi lisut dan wajah terlihat
kempot.6 Dan yang menyebabkan terjadinya atrisi pada gigi yang dipakai
karena terlalu seringnya gigi pada satu sisi yang digunakan untuk
mengunyah menyebabkan hilangnya struktur jaringan pada gigi, terutama
gigi molar.

3.1.1 Gejala Gangguan Sendi Rahang

Gejala kelainan STM dapat dikelompokkan menjadi rasa nyeri, bunyi, dan
disfungsi. Rasa nyeri adalah gejala yang bersifat subjektif dan sulit
dievaluasi. Dan setiap orang memiliki ambang batas yang berbeda dan
penerimaan yang berbeda terhadap rasa nyeri, dan mungkin juga terdapat
faktor psikogenik. Beberapa istilah yang digunakan untuk menunjukkan sifat
rasa nyeri, berdenyut-denyut, terbakar, dan samar-samar. Daerah
penyebaran rasa nyeri yang paling sering dari sendi adalah telinga, pipi, dan
daerah temporal. Bunyi keletuk sendi terdengar sewaktu pasien membuka
dan menutup mulut.1 Ketidakmampuan untuk mengoklusikan gigi gigi
dengan normal. Kekakuan sendi merupakan keluhan yang paling sering
terjadi. Kadangkala terdpat keterbatasan membuka dan gerakan mandibula
yang terbatas, saat mengunyah tidak terdapat koordinasi rahang sehingga
dirasakan tidak nyaman waktu mengunyah. Dan keluhan lain adalah sakit
kepala.

Pada kasus dengan pasien yang menggunakan satu sisi untuk mengunyah
gejala yang jelas terlihat bila dilakukan pemeriksaan rongga mulut. Dengan
terbentuknya kalkulus, adanya karies pada satu sisi yang tidak digunakan
untuk mengunyah karena aliran saliva yang berkurang pada sisi tersebut,
dan adanya bunyi yang timbul dari pasien selama pergerakan mandibula.
Bunyi tersebut dapat berupa :2

Bunyi click : bunyi yang keras dan singkat terdengar klik, seperti saat
mengunci pintu.
Bunyi pop : bunyi yang terdengar pop, seperti letupan singkat saat membuka
tutup botol.
Bunyi krepitasi : suara gesekan (kresek-kresek) yang terdengar saat
membuka mulut, dihasilkan oleh gerakan diskus artikularis melewati
permukaan yang tidak rata.
3.1.2 Penyebab Kelainan TMJ

Kelainan STM dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yaitu : gangguan fungsi


akibat adanya kelainan structural dan gangguan akibat adanya
penyimpangan dalam aktifitas salah satu komponen fungsi sistem mastikasi
(disfungsi). Kelainan sistem STM akibat kelainan structural jarang dijumpai
dan terbanyak dijumpai adalah disfungsi seperti kebiasaan mengunyah pada
satu sisi.1

3.1.2.1 Kelainan Struktural

Kelainan structural adalah kelainan yang disebabkan oleh perubahan struktur


persendian akibat gangguan pertumbuhan, trauma eksternal, penyakit
infeksi, atau neoplasma, dan umumnya jarang dijumpai. Kelainan structural
pada STM dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan, kondilus, ataupun
keduanya. Konsekuensi yang mungkin terjadi adalah dislokasi, hemarthrosis,
atau fraktur kondilus. Pasien yang mengalami dislokasi tidak dapat menutup
mulut dan terdapat kelainan open bite anterior, serta dapat tekanan pada
satu atau kedua saluran pendengaran. Kelainan structural akibat traumapada
STM dapat menyebabkan suatu edema, atau hemorrhage didalam sendi.
Kelainan structural akibat penyakit infeksi dapat mempengaruhi sistem

musculoskeletal yang banyak melibatkan STM, penyakit penyakit tersebut


antara lain osteoarthtritis / osteoarthrosis dan rheumatoid arthritis.1

3.1.2.2 Gangguan Fungsional

Gangguan fungsional adalah masalah masalah STM yang timbul akibat


fungsi yang menyimpang karena adanya kelainan pada posisi dan atau fungsi
gigi geligi , atau otot- otot kunyah. Dan pada keadaan menggunakan satu
sisi dalam mengunyah termasuk gangguan fungsional dari kelainan STM.1

3.2 Etiologi Gangguan Sendi Temporo Mandiula

Ditinjau dari segi penyebabnya kelainan STM multifactor, dapat bersumber


pada komponennya sendiri atau diluar STM seperti anatomi STM termasuk
oklusi dan neuromuscular dan latar belakang psikologis. Namun kelainan
oklusal dan tekanan psikologis paling erat hubungannya.1

3.2.1 Faktor-faktor Etiologi TMJ

Faktor faktor etiologi dari TMJ dapat berupa dari rasa nyeri yang
merupakan gangguan sendi yang dapat berasal dari struktur jaringan lunak
intrakapsular sendi atau struktur jaringan tulang itu sendiri. Rasa nyeri
berasal dari struktur tulang biasanya hanya muncul setelah hilangnya
jaringan fibrosa permukaan artikularis sendi. Bilamana hal ini terjadi kondisi
yang diakibatkan disebut arthritis. 1

Trauma pada TMJ dapat tejadi karena faktor internal (seperti otot kunyah)
ataupun karena faktor eksternal (seperti pukulan) menyebabkan kerusakan
pada jaringan dan kondilus sehingga terjadi dislokasi, hemarthrosis, atau
fraktur kondilus.1

Myofacial pain dysfunction syndrome merupakan kelainan TMJ yang dapat


mengakibatkan kegoyangan gigi yang hebat (hypermobility), keausan

permukaan oklusal dan rasa nyeri pada otot-otot wajah. Pemicu dari
sindroma tersebut adalah spasme otot kunyah sebagai dampak gangguan
psikologis.1

Nyeri pada otot adalah suatu bentuk penyakit yang ada didalam tubuh dapat
terjadi karena stimulus seperti panas, tekanan, atau bahan kimia. Penyakit ini
mempunyai efek yang berhubungan dengan sensoris,motoris, atau autonom.
Nyeri yang berasal dari otot adalah penyebab nyeri yang sering terjadi pada
kepala dan leher. Rasa nyeri pada otot adalah suatu penyakit yang dirasakan
menyebar seperti adanya tekanan yang bervariasi, dapat dirasa sebagai
berbagai perubahan intensitas tekanan. Rasa nyeri tersebut tidak mudah
dilokalisir, dan sulit diidentifikasi oleh pasien. Dengan kata lain, sumber dan
lokasi dari nyeri dapat berbeda. Nyeri pada otot di daerah orofasial
dipengaruhi oleh kerja fungsional otot selama pengunyahan.1

Dari faktor oklusi yang mana bila terjadi ketidakseimbangan oklusi dapat
terjadi disfungsi pada sendi temporomandibula. Pada hal ini gigi-geligi
memegang peranan penting untuk menjaga agar oklusi dapat berkontak
dengan baik antara gigi-gigi antagonisnya. Gigi gigi tetangga yang hilang
secara betahap akan mengalami perubahan posisi, dimana perubahan
tersebut menyebabkan gerakan artikulasi tidak lancar, dan pada gigi
lawannya akan mengalami ekstrusi. Kebiasaan mengunyah satu sisi atau
unilateral juga mengakibatkan disfungsi oklusal. Sehingga tidak jarang
dijumpai pasien yang mengunyah satu sisi mengalami gangguan sendi dan
penyakit rongga mulut yang komplit. Dari gangguan sendi rahang yang
mengakibatkan bunyi ketika membuka dan menutup mulut, sampai kejadian
penyakit periodontal yang mengakibatkan mobilisasi gigi karena timbulnya
kalkulus pada sisi rahang yang digunakan untuk mengunyah sehingga timbul
kalkulus yang dapat membuat jaringan periodontal dibawahnya menjadi tidak
kuat dan pada akhirnya akan goyah.

3.3 Kebiasaan Mengunyah dengan Unilateral

Kebiasaan mengunyah dengan satu sisi merupakan kebiasaan pengunyahan


yang buruk. Dimana tanpa disadari sistem pengunyahan yang dilakukan itu
dapat mengakibatkan pengaruh yang buruk pada kesehatan rongga mulut.
Pada kasus dengan mengunyah satu sisi, pasien sering tidak memperhatikan
bahwa pada di sisi lain timbul beberapa gejala yang memang terkadang tidak

menimbulkan rasa sakit. Kebiasaan mengunyah satu sisi pada pasien yang
sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari ini memiliki beberapa faktor
pendukung yang menjadikan kebiasaan mengunyah satu sisi.

3.3.1 Faktor Pendukung Kebiasaan Mengunyah Unilateral

Faktor kehilangan gigi


Pasien yang telah hilang satu atau lebih gigi memiliki kecenderungan untuk
mengunyah unilateral. Pada gigi yang hilang secara otomatis gigi yang
berperan sebagai gigi antagonisnya tidak begitu berfungsi secara normal.
Pada pasien dengan kehilangan gigi lebih dari satu, dapat menimbulkan
resiko untuk terjadi nya karies bahkan lebih parah lagi adalah kalkulus.
Dikarenakan pada sisi yang tidak ada gigi pada salah satu sisi biasanya tidak
enak digunakan untuk mengunyah sehingga memunculkan kebiasaan untuk
mengunyah satu sisi yang masih lengkap. Secara alamiah, gerakan
pengunyahan mempunyai efek untuk timbulnya karang gigi atau kalkulus.
Karena itu, gigi-gigi yang tidak dipakai untuk mengunyah akan mudah terjadi
kalkulus yang merupakan faktor etiologi dari penyakit periodontal. Selain itu,
otot otot pipi yang kurang bergerak karena tidak mengunyah, lama
kelamaan akan menjadi lisut dan wajah terlihat kempot.

Faktor Trauma
Kebiasaan mengunyah satu sisi juga dapat disebabkan oleh trauma. Trauma
dibagi menjadi 2 yaitu :5

Macrotrauma : trauma besar yang tiba-tiba dan mengakibatkan perubahan


struktural, seperti pukulan pada wajah atau kecelakaan.
Microtrauma : Trauma ringan tapi berulang dalam jangka waktu yang lama,
seperti bruxism dan clenching. Kedua hal tersebut dapat menyebabkan
microtrauma pada jaringan yang terlibat seperti gigi, sendi rahang, atau otot.
Faktor Otot Kunyah
Kelainan otot dari STM menjadi keluhan yang paling umu terjadi pada pasien.
Kelainan otot dapat disebabkan karena infeksi/peradangan,dnan trauma yang
menyebabkan terbentuknya fibrosis pada otot sehingga otot tidak bebas
bergerak dan menyebabkan rasa sakit.1

Faktor Psikologis
Adanya faktor psikologis yang berupa tingkah laku,emosi, dan kepribadian
dapat menjadi faktor pendukung dalam gangguan sendi rahang dan menjadi
penyebab utama dari sindrom rasa sakit disfungsi. Psikolog Freud klasik
menunjukkan bahwa kelainan sendi mungkin merupakan reaksi perubahan
mulut dan otot, karena sifatnya yang ekspresif, bekerja sebagai focus
tegangan emosi. Jadi, konflik ini dikeluarkan dalam bentuk parafungsional
seperti bruxizm dan aktivitas otot lain yang tidak normal.1

Emosi sering terlihat dari wajah dimana ekspresi wajah tersebut berhubungan
erat dengan otot kunyah. Hal ini dapat berupa ketegangan otot yang besar
atau aktivitas parafungsional oromuskular.

3.3.2. Hubungan Kebiasaan Mengunyah Unilateral Terhadap Penyakit


Periodontal

Penyakit periodontal yang sering terjadi pada beberapa pasien yang ditemui
di klinik dokter gigi memiliki berbagai macam keluhan yang pada akhirnya
akan berujung dengan penyakit periodontal padahal keluhan tersebut
didahului dengan karies yang masih dapat ditanggulangi sedini mungkin.
Akan tetapi, dengan sikap dan kurang pedulinya masyarakat akan kesehatan
rongga mulut, maka penyakit periodontal pun seakan telah menjadi
pemandangan yang sering didapati di klinik dokter gigi.

Pada penyakit periodontal kasus yang sangat sering dijumpai terkadang telah
sampai pada tahap lanjut bahkan sampai pada tahap yang mengindikasikan
untuk dilakukan pencabutan. Maka dari itu, sudah selayaknya para dokter
gigi terus mengadakan edukasi baik di luar praktek maupun pada saat
kunjungan pasien ke tempat praktek. Penyakit periodontal pada dasarnya
dapat dicegah dengan pencegahan atau perawatan yang sedini mungkin bila
telah tampak suatu hal yang tidak normal pada keadaan rongga mulut.

Dalam kasus ini,pasien yang memiliki kebiasaan mengunyah pada satu sisi
atau lebih dikenal mengunyah unilateral, pasien memiliki banyak gejala yang
tidak normal yang dapat langsung terlihat ketika dilakukan pemeriksaan

meskipun terkadang pasien tidak mengakui bahwa kebiasaan mengunyah


yang tidak benar itu sering bahkan sudah menjadi keseharian dari proses
pengunyahan pasien tersebut. Kebiasaan mengunyah satu sisi merupakan
proses pengunyahan yang tidak normal, yang dapat mengakibatkan kondisi
periodonsium yang buruk.

Dalam penjelasan yang telah dikemukakan diatas bahwa kebiasaan


mengunyah satu sisi memiliki banyak faktor etiologi serta faktor pendukung
yang membuat pasien memiliki kebiasaan mengunyah satu sisi. Kebiasaan
mengunyah satu sisi dapat berakibat timbulnya kalkulus dikarenakan pada
sisi yang tidak digunakan untuk mengunyah tidak digunakan semestinya.
Secara alamiah, kalkulus terjadi dikarenakan salah satu faktor berkurangnya
aliran saliva. Pada sisi yang tidak digunakan untuk mengunyah aliran saliva
berkurang dimana salah satu fungsi saliva mampu membersihkan gigi dan
antimikroba. Dan pada keadaan gigi yang tidak digunakan untuk
mengunyah,aliran saliva berkurang,timbulnya karang gigi atau kalkulus yang
pada tahap lanjutnya akan menyebabkan mobility karena bakteri yang ada
dalam kalkulus masuk ke dalam jaringan periodontium. Sehingga pada tahap
akhir terjadi mobility yang mengakibatkan adanya tindakan pencabutan.

Pada pasien yang memiliki kebiasaan mengunyah satu sisi ditambah dengan
beberapa faktor pendukung seperti faktor psikis, hal ini mempercepat proses
penyakit periodontal berkembang. Karena, selain kalkulus yang terbentuk
pada pasien yang menggunakan satu sisi untuk mengunyah didukung
dengan psikis yang tidak baik maka dilihat dengan jelas gingival pada pasien
itu terlihat lebih bengkak sehingga mengakibatkan gingivitis dan keadaan
gigi yang digunakan untuk mengunyah terlihat lebih aus atau lebih dikenal
dengan atrisi. Sehingga keadaan ini mengakibatkan perkembangan penyakit
periodontal telah menjadi tahap lanjut yang butuh perawatan khusus.

Pasien yang mengunyah dengan satu sisi terutama dikarenakan giginya


hilang, sebaiknya cepat dilakukan perawatan baik secara preventif maupun
operatif. Dikarenakan kehilangan gigi yang lebih dari satu dan ditambah
dengan kebiasaan mengunyah satu sisi yang bagi pasien merupakan
kenyamanan baginya membuat gigi-giginya cepat aus, dan terjadinya
mobility sehingga mengindikasikan untuk terjadinya pencabutan.

3.4 Perawatan yang Dilakukan

Perawatan yang dilakukan pada gangguan sendi rahang ini diantaranya dapat
dilakukan perawatan secara konservatif dan operatif. Perawatan dari setiap
keadaan harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien, serta waktu dan
fasilitas juga perlu dipertimbangkan.1

Perawatan Secara Konservatif


Adapun perawatan secara konservatif adalah : mengistirahatkan rahang,
obat-obatan, latihan, terapi fisik, splin oklusal, perawatan psikososial,karies
dan kelainan patologi yang lain, protesa terapi oklusal, dan faktor pendukung
yang lain.

Perawatan Secara Operatif


Perawatan secara operatif dilakukan bila pasien gagal member respon
terhadap terapi konservatif. Pembedahan STM merupakan tindakan
perawatan efektif untuk kelainan-kelainan artikular kondilus atau
memperbaiki meniscus atau ligament yang rusak. Dan pada kasus kebiasaan
mengunyah pada satu sisi bila telah sampai pada tahap lanjut yang
berkembang dan berhubungan dengan jaringan periodontium yang
mengakibatkan pencabutan, maka perawatan operatif lah yang dilakukan
sebagai perawatan bagi pasien tersebut.

BAB IV

4.1 KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat di jelaskan dalam kasus kebiasaan mengunyah satu


sisi yaitu bahwa sistem pengunyahan yang menggunakan satu sisi
merupakan sistem pengunyahan yang tidak normal atau bisa dikatakan
pengunyahan yang buruk. Pada pasien yang memiliki kebiasaan tidak normal
dalam pengunyahan tersebut hendaknya dapat lebih memperhatikan bila
terjadi keadaan yang tidak normal dalam keadaan rongga mulutnya sehingga
perawatan dini pun dapat dilakukan dan juga efektif.

Pasien yang mempunyai kebiasaan mengunyah pada satu sisi biasanya


memiliki gejala dan tanda serta ciri yang khas ketika datang ke praktek
dokter gigi. Sehingga ketika mengadakan pemeriksaan tampak beberapa
gejala dan tanda klinis yang menunjukkan bahwa pasien menggunakan satu
sisi untuk mengunyah. Pada pemeriksaan biasanya dapat terlihat gigi-geligi
yang sering digunakan untuk mengunyah biasanya terlihat aus pada satu sisi
yang sering digunakan, kemudian terlihat adanya karang gigi atau kalkulus
pada sisi yang tidak digunakan untuk mengunyah dan pada tahap lanjut
terlihat adanya mobility pada gigi-geligi tersebut.

Kebanyakan faktor yang sering terjadi pada pasien yang memiliki kebiasaan
mengunyah dengan satu sisi ini yaitu pasien yang memiliki faktor psikis atau
stress emosional yang tinggi, kemudian pasien dengan kehilangan gigi yang
lebih dari satu serta pasien yang pernah mengalami trauma yang besar
(macrotrauma).

Ketika terjadi kasus seperti ini selayaknya pasien memiliki kepekaan untuk
memeriksakan diri kedokter gigi untuk dapat diberikan perawatan yang
efektif dan efisien. Perawatan pada gangguan sendi rahang memiliki dua
jenis perawatan yaitu perawatan secara konservatif dan perawatan secara
operatif. Perawatan secara konservatif lebih didahulukan hendaknya, dimana
dengan perawatan ini pasien dapat diobati dan dirawat dari faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kebiasaan pengunyahan yang buruk serta
faktor pendukungnya dapat diobati. Dan perawatan operatif dilakukan hanya
untuk pasien yang gagal dalam perawatan