You are on page 1of 9

BAB I

PENDAHULUAN
Dengan meningkatnya perkembangan dunia kedokteran saat ini, semakin banyak pula
jenis penyakit yang telah ditemukan, berserta berbagai macam cara penanganan dan obat yang
diperlukan. Keadaan ini semakin mempersulit seorang dokter hewan untuk menganalisis
penyakit yang diderita pasiennya. Penyakit kulit pada hewan tidak memiliki musim tertentu
dalam penyebarannya, namun memiliki gejala-gejala yang dapat dianalisa secara fisik. Ada
banyak jumlah penyakit kulit yang dapat diderita hewan. Belum termasuk jenis komplikasi dari
beberapa penyakit yang terjadi karena tidak adanya penanganan pada penyakit, maupun
penanganan yang terlambat. (Setiawan, 2010)
Penyakit kulit pada hewan kesayang sangat merugikan bagi pemiliknya maupun hewan
itu sendiri. Kondisi kulit dan rambut seekor hewan dapat menjadi indikator dari status kesehatan
hewan. Gangguan pada kulit juga dapat menurunkan nilai estetika pada hewan kesayangan (Scott
et all, 2001). Akibatnya secara ekonomi nilai hewan menjadi turun dan hewan tersiksa karena
penyakit yang dideritanya.
Salah satu jenis gangguan yang dapat terjadi adalah penyakit feline eosinophilic
granuloma complex adalah sinonim dari penyakit kulit eosinofilik feline. Plaque eosinofilik,
granuloma eosinofilik, and ulser eosinofilik dapat dikelompokkan bersama menjadi eosinophilic
granuloma complex. Penyakit ini dapat diderita oleh hewan dan manusia. Penyakit ini dianggap
sebagai pola reaksi kulit yang dapat menjadi manifestasi dari sejumlah infeksi yang mendasari,
alergi atau infestasi ektoparasit. Hal ini juga dapat idiopatik, yang tidak memiliki pemicu yang
tidak diketahui. Reaksi eosinophilic merupakan hal yang umum pada penyakit inflamantori pada
kucing. Granuloma eosinofilik bisa menjadi pola reaksi turun-temurun di beberapa ras kucing
domestik. (Goljan, 2011)
Eosinofil adalah jenis sel darah putih yang umumnya terkait dengan respon alergi atau
dengan parasitisme. Jumlah eosinofil akan naik pada tes darah ketika hewan peliharaan memiliki
kutu atau cacing atau ketika mengalami alergi . Eosinofil dapat bersirkulasi dalam darah atau
mereka dapat menyusup jaringan. Mereka adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh dan
menyebar untuk sinyal biokimia dari jaringan untuk invasi parasit. Eosinofil menerima sinyal
dan merilis bahan kimia untuk menyerang parasit. Namun, sinyal tersebut dapat disalah artikan

dengan benda-benda asing lain (serbuk sari, debu, dll). Dalam hal ini (alergi), eosinofil
melepaskan zat kimia inflamasi yang tidak tepat, menyebabkan sensasi gatal, bengkak,
kemerahan dan gejala lain dari alergi. (Brooks, 2013)
Eosinofil memiliki tampilan yang khas di bawah mikroskop karena granul yang berwarna
merah muda. granul yang berwarna merah muda ini mengandung berbagai macam racun dan
responbiokimia yang dirancang untuk melawan parasit. Granul ini dapat dianggap sebagai bom
kecil yang ditujukan terhadap invasi organisme yang besar seperti cacing. (Brooks, 2013)
Berdasarkan hal tersebut, granuloma eosinofilik akan menjadi granuloma yang dibentuk
eosinofil dengan mekanisme yang lebih kompleks. Granuloma eosinofilik terbagi atas tiga kelas
yang memiliki kondisi berbeda, tidak semua berbentuk granuloma dan tidak semua mempunyai
eosinofil. Selain itu, munculnya lesi granuloma eosinophilic tidak menyiratkan penyebab
spesifik; granuloma eosinofilik bisa muncul dari sejumlah kondisi kulit primer, meskipun alergi
adalah penyebab yang paling umum. (Brooks, 2013)

Etiologi
Plaque eosinofilik, granuloma eosinofilik dan ulser indolent sering dikelompokkan ke
dalam eosinophilic granuloma kompleks. Istilah ini tidak sepenuhnya akurat, karena satu-satunya
syarat histologis konsisten dari lesi granulomatosa adalah granuloma eosinofilik dan etiologi
penyakit memiliki kondisi berbeda, tidak semua berbentuk granuloma dan tidak semua
mempunyai eosinofil. Eosinophilic granuloma kompleks dapat menjadi penyakit genetik yang
diturunkan seperti pada kasus Feline Atrophy Dermatitis (FAD). FAD dikaitkan dengan beberapa
pola reaksi kulit termasuk penyakit kulit eosinofilik kucing. Hal ini juga dapat muncul karena
interaksi faktor genetika dan lingkungan termasuk interaksi fetoplasenta, alergen ruangan dan
polusi udara serta nutrisi.
Patofisiologis
FAD dikaitkan dengan beberapa pola reaksi kulit termasuk penyakit kulit eosinofilik
kucing. Patofisiologi dari penyakit ini adalah adanya disfungsi imun yang menyebabkan
terbentuknya IgE, dan gangguan barrier epitel kulit. Pada tubuh yang sehat, terdapat
keseimbangan antara dua subpopulasi sel T yang utama yaitu Th1 dan Th2. Tetapi pada keadaan
patologis terdapat ketidakseimbangan dimana terdapat dominansi Th2, yang mengakibatkan
diproduksinya sitokin yaitu interleukin (IL) 4, IL-5, IL-13 dan granulocyte macrophage colonystimulating factor (GM CSF), yang menyebabkan peningkatan jumlah IgE dan menurunkan
kadar interferon gamma. Namun demikian pada kondisi kronis, jenis sel Th1 yang dominan.
Selain kedua sub populasi sel T tersebut, sel lain yang juga terlibat dalam proses ini adalah sel
Langerhans, keratinosit, dan sel B (Krafchik, 2008).
Hipotesis yang kedua melibatkan defek fungsi barier dari stratum korneum epitel kulit
pada pasien yang memudahkan masuknya antigen yang berakibat pada terbentuknya sitokin
inflamasi. Bukti-bukti menunjukkan bahwa terdapat kehilangan fungsi yang kompleks akibat
mutasi dari gen filaggrin (FLG) pada pasien dermatitis atopik di Eropa dan mutasi filaggrin tipe
yang lain di Jepang. Gen ini bermutasi pada pasien dengan ichthyosis vulgaris yang berhubungan
dengan dermatitis atopik dengan onset pada masa awal kehidupan dan penyakit pada saluran
nafas pada pasien dermatitis atopik. Perubahan ini hanya terlihat pada 30 % pasien di Eropa,
sehingga memunculkan 17 dugaan bahwa faktor genetik berperan pada patogenesis penyakit
dermatitis atopik (Krafchik, 2008). Penderita penyakit eosinophilic ini memiliki kadar eosinofil
darah tepi dan kadar IgE serum yang tinggi. Salah satu faktor penting pada memberatnya
penyakit ini adalah siklus gatal dan menggaruk. Trauma yang berulang pada keratinosit berakibat
pada dilepaskannya beberapa sitokin. Sitokinsitokin penting yang dilepaskan termasuk IL-1 dan
TNF- . IL-1 dan TNF- dan sitokin yang sejenis diperlukan untuk menginduksi adesi molekul
yang menarik eosinofil dan sel-sel inflamasi yang lain menuju kulit. Baik sel lokal maupun sel
yang menginfiltrasi, sama-sama menghasilkan inflamasi (Won-Oh dkk., 2007).
Gejala Klinis

Plaque eosinofilik
Plaque eosinofilik disertai pruritus parah biasanya terlokalisasi pada abdomen ventral,
medial paha, dan daerah peri-anal. Mereka keras, raised, sering kali ulserasi, dan dapat ditandai
dengan peradangan. Trauma kronis akibat terus-menerut mennjuilat daerah luka berkontribusi
untuk pengembangan plak tersebut. Secara histologis, sering terjadi epidermal yang parah dan
folikel canthosis, eosinophilic eksositosis, spongiosis, dan epidermis dan folikel mucinosis.
Dermis mengalami infiltrasi densely dengan eosinofil berhubungan dengan sel mast dan
sebagian kecil limfosit radang plasmasitik. Reaksi alergi (contoh untuk ektoparasit, alergen
makanan atau alergen udara) adalah penyebab sebagian besar lesi yang muncul.

Granuloma eosinofilik
Granuloma eosinofilik adalah entitas klinis yang sangat sering terjadi pada kucing. Penampakan
histologist dari lesi ini adalah patognomonik untuk kondisi tersebut. Pada kucing, lesi cenderung
terjadi pada cutaneous, muco-cutaneous, atau daerah oral. Mereka biasanya tampak dalam salah
satu cara gejala berikut:

1. Sebagai plak atau papula yang keras, eritematosa dan kadang kekuningan, mempunyai
batas yang baik dandistribusi linear. Kelainan berada pada daerah kaudal dari paha, atau
jarang di leher, dada, atau kaki depan.
2. Sebagai plak atau nodul di telinga
3. Sebagai pododermatitis dengan ulserasi bantalan kaki, eritema interdigital , edema pada
bantalan kaki.
4. Edema bibir bawah atau dagu
5. Nodule keras yang mempengaruhi lidah dan / atau langit-langit, kadang-kadang ulserasi.
Lesi buccal kadang-kadang disertai dengan tanda-tanda lain termasuk napas berbau
busuk, anoreksia, disfagia, atau hipersalivasi.

Lesi ini tidak awalnya tampak pruritus. Degranulasi eosinofilik dapat menyebabkan
pembentukkan spot kecil, pinpoint, bintik-bintik putih atau merah muda yang menyebabkan
pruritus dan erosi sekunder atau ulserasi karena terus-menerus dijilat. Beragamnya gambaran
klinis dari granuloma eosinofilik membuat penyakit ini sulit untuk didiagnosa, dan biopsi kulit
diperlukan untuk membedakan bentuk nodular dari granuloma eosinophilic dari neoplasia,
mikosis, atau abses.

Pewarnaan H & E secara histiologis tampak fiber kolagen yang tidak teratur dan granular yang
menunjukkan proses degeneratif. Namun, studi yang menggunakan pewarnaan khusus seperti
Gallego'trichrome dan Masson'trichrome dan mikroskop elektron menunjukkan bahwa fiber
kolagen pada granuloma eosinofilik tidak mengalami degenerasi, tetapi ditutupi oleh granul dan
produk dilepaskan selama degranulasi eosinofil yang menggumpalkan disekitarnya (=flame
figure). Protein terlarut yang buruk dirilis oleh granul eosinofilik yang menyebabkan reaksi
granulomatosa muncul dalam bentuk kronis yaitu zona yang dikelilingi oleh makrofag dan giant
cell, seringkali membentuk paralisade.
Histopatologi

Eosinofil dari darah kucing. Perhatikan karakteristik bentukan batang atau batu bata dari granul
(Pewarnaan Wright-Leishman)

Bagian histologis dari granuloma eosinofilik kulit dengan eosinofil, makrofag, dan flame figure
(hematoxylin & pewarna Eosin)

Bagian histologis dari granuloma eosinofilik kulit dengan hiperplasia sel mast. Sel mast
mengandung banyak butiran sitoplasma ungu (Giemsa stain)

DAFTAR PUSTAKA
Brooks, Wendy. 2013. Eosinophilic Granuloma Complex. Veterinary Information
Network.
Goljan, Edward F. 2011. Rapid Review Pathology. Philadelphia, PA: Elsevier. p. 246.
Setiawan, Alexander. dkk. 2010. Implementasi Fuzzy Expert System Untuk Analisis
Penyakit Kulit Pada Hewan. Seminar Nasional Teknologi Informasi 2010