Вы находитесь на странице: 1из 4

PERATURAN MENDAGRI, MENHUT,

MENPU, DAN KEPALA BPN NO.79/2014


TENTANG PENYELESAIAN
PENGUASAAN TANAH DI HUTAN

halaman 3

BIMTEK PENYUSUNAN RZWP3K


halaman 4

RESENSI BUKU:
WARISAN GEOLOGI SUMATRA
halaman 4

MUSRENBANGNAS 2015 DIHARAPKAN DAPAT MEMPERCEPAT


PEMBANGUNAN NASIONAL.... HAL 2

NEWSLETTER

TATA RUANG PERTANAHAN


MEDIA INFORMASI BIDANG TATA RUANG DAN PERTANAHAN

EDISI 4/ APRIL 2015

KILAS BALIK: DINAMIKA ISU TATA RUANG DAN PERTANAHAN

Berlomba Demi Pangripta Nusantara


yaitu Tim Penilai Utama (TPU) yang diketuai
oleh Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Bappenas, Oswar Mungkasa; Tim Penilai
Independen (TPI) yang diketuai oleh Prof.
Herman Haeruman, serta Tim Penilai Teknis
yang terdiri atas PNS Perencana Pertama
dan Perencana Muda Bappenas.
Kepala Bappenas Andrinof Chaniago memberikan piala
APN kepada para pemenang. Sumber: Dokumentasi
TRP

Salah satu langkah untuk meningkatkan


mutu rencana pembangunan adalah
dengan
memberikan
penghargaan
kepada daerah yang berhasil menyusun
dokumen rencana pembangunan yang
baik. Implementasi dari visi peningkatan
itu melalui pemberian penghargaan
Anugerah Pangripta Nusantara (APN).
Penghargaan ini dimulai sejak 2012
dan diselenggarakan setahun sekali.
Penyerahan piala APN tahun ini
dilakukan saat pembukaan Musyawarah
Perencanaan Pembangunan Nasional
(Musrenbangnas) 2015 yang dibuka oleh
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo,
pada Rabu (29/4).
Dampak penghargaan APN bagi provinsi
dan kabupaten/kota adalah mendorong
setiap daerah untuk menyiapkan dokumen
rencana pembangunan yang lebih baik
dan bermutu.
Panitia penyelenggara APN Tahun 2015
ini adalah Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan Bappenas, yang mempunyai
tugas mengoordinasikan kegiatan, mulai
dari pembentukan panitia sampai proses
penilaian serta pengumuman para
pemenang APN.
Penjurian dilakukan oleh tim penilai
pusat yang terdiri atas tiga tim penilai,

Mekanisme penilaian:
Tahap I: penilaian dokumen tingkat provinsi
oleh tim penilai pusat. Sementara itu
penilaian dokumen tingkat kabupaten/kota
dilakukan oleh tim penilai provinsi.
Tahap II: proses verifikasi provinsi ke
kabupaten/kota. Setelah ada kabupaten/
kota yang menjadi pemenang, tiap provinsi
mengirimkan satu wakil (kabupaten/kota
pemenang) untuk dinilai oleh tim penilai
pusat. Berbeda dengan tahun sebelumnya,
pada APN 2015 ini khusus untuk penilaian
kabupaten/kota dilakukan ulang oleh
Tim Penilai Teknis di tingkat pusat (bobot
penilaian dimulai dari 0%).
Tahap III: proses wawancara dan presentasi
bagi provinsi, sedangkan bagi kabupaten/
kota dilakukan proses ulang penilaian
dokumen perencanaan daerah oleh tim
penilai pusat. Di tingkat provinsi, hanya
melalui tiga tahap saja.
Tahap IV: proses wawancara dan presentasi
bagi kabupaten/kota yang dilakukan oleh
tim penilai pusat yang diwakilkan Tim
Penilai Independen (TPI).
Kriteria penilaian provinsi dan kabupaten/
kota pada tahap I meliputi keterkaitan,
konsistensi, kelengkapan, keterukuran dan
kedalaman dokumen perencanaan daerah.
Kriteria penilaian tahap II, yang dinilai
adalah proses perencanaan dari atas ke
bawah, teknokratik, politik dan inovasi
daerah tersebut. Sedangkan pada tahap
terakhir, penilaiannya adalah wawancara
dan presentasi yang disajikan oleh para

Kepala Bappeda.
Perbedaan mendasar proses penilaian APN
2015 dengan tahun-tahun sebelumnya
adalah pada tahun ini kabupaten/kota di
tahap ketiga akan dinilai ulang oleh tim
penilai pusat tanpa menyertakan bobot
penilaian dari tim penilai provinsi (bobot
penilaian dimulai dari 0%).
Menurut Oswar Mungkasa selaku ketua
Tim Penilai Utama, perbedaan ini dilakukan
agar penilaian bersifat lebih fair. Karena ada
kemungkinan timbul keberpihakan provinsi
terhadap kabupaten/kota yang dipilih sebagai
pemenang agar mendapatkan bobot nilai
yang besar dari tim penilai provinsi. Untuk
mencegah hal itu, maka dibuatlah modifikasi
sistem penilaian bagi kabupaten/kota.
Dalam kategori provinsi, APN 2015 kali
ini terdapat penghargaan khusus yaitu
penghargaan bagi provinsi yang memiliki
peningkatan
kualitas
Rencana
Kerja
Pemerintah Daerah (RKPD). [RA]

AFTAR NAMA PEMENANG ANUGERAH


PANGRIPTA NUSANTARA 2015:

Kategori Provinsi:
Terbaik I
Terbaik II
Terbaik III
Harapan I
Harapan II
Harapan III

: D.I Yogyakarta
: Kalimantan Timur
: Jawa Barat
: Jawa Timur
: Aceh
: Sulawesi Utara

Penghargaan Peningkatan Kualitas RKPD :


Kalimantan Selatan
Kategori Kabupaten/Kota:
Terbaik I
: Aceh Barat
Terbaik II
: Sleman
Terbaik III
: Muara Enim
Harapan I
: Lombok Utara
Harapan II
: Siak
Harapan III
: Banyuwangi

REDAKSI:
| Penanggung Jawab : Direktur Tata Ruang dan Pertanahan |
| Tim Redaksi : Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan | Editor : Rini Aditya Dewi, Santi Yulianti, Gina Puspitasari | Desain Tata Letak : Rini Aditya dan Indra Ade |

POTRET KEGIATAN:

Musrenbangnas 2015

Musrenbangnas 2015 Diharapkan Dapat Mempercepat Pembangunan Nasional

Penyediaan tanah menjadi faktor penting


dalam pembangunan infrastruktur di
Indonesia. Dengan kemunculan konflik
Bappenas
Andrinof Chaniago
memberikan penjelasaan saat membuka acara Musyawarah Perencanaan
lahanKepala
yang
menghambat
penyediaan
(Musrenbangnas) 2015 di Hotel Bidakara, Jakarta (29/4). Sumber: Dokumentasi Bappenas
tanah,Pembangunan
membuat Nasional
ide pembentukan
Bank
Tanah mencuat ke permukaan. Hal itulah
dinikmati oleh masyarakat luas dalam bentuk
Jakarta, (29/4). Menteri Perencanaan
Kalla melalui Nawacita dan Agenda Trisakti.
yang Pembangunan
kemudian dibahas
dalam Focus
Group
peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Nasional/Kepala
Bappenas
Forum
Musrenbangnas
tahun
2015
Andrinof
Chaniago
membuka
acara
Discussion
Urban
Land Policy,
yang diadakan
Ada tiga dimensi pembangunan yang akan
merupakan
ajang
perbaikan
dan
Perencanaan
oleh Musyawarah
Direktorat Perumahan
danPembangunan
Permukiman
difokuskan, yang pertama adalah dimensi
penyempurnaan perencanaan pembangunan
Nasional (Musrenbangnas) 2015 di Hotel
pembangunan manusia dan masyarakat
agar beragam program yang menjadi
Kementerian
PPN/Bappenas,
di Hotel
Bidakara, Jakarta,
pada Rabu (29/4).
yang di dalamnya mengurus soal pendidikan,
tanggung
jawab
kementerian/lembaga
kesehatan dan revolusi mental.
Musrenbangnas tahun ini mengangkat
dan pemerintah pusat dan daerah semakin
tema
Mempercepat
Pembangunan
sinkron dan sinergis.
Sementara dimensi prioritas kedua adalah
Infrastruktur untuk Meletakkan Fondasi
kedaulatan pangan, energi, maritim dan
Dalam rangka menyusun Rencana Kerja
Pembangunan yang Berkualitas.
pariwisata. Dan yang terakhir dimensi
Pemerintah (RKP) Tahun 2016, Bappenas
priorotas yang ketiga adalah pemerataan dan
Musrenbangnas hari ini adalah puncak
berkeinginan
untuk
menyelaraskan
kewilayahan.
dari proses yang panjang, melibatkan
perencananaan percepatan pembangunan
seluruh pemangku kepentingan dari
nasional dari berbagai aspek, baik jenjang
Acara ini dihadiri oleh Presiden Joko Widodo
desa, kecamatan, kabupaten/kota sampai
pemerintah maupun kelompok dalam
dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Selain itu hadir
provinsi. Selama tujuh hari penuh secara
masyarakat.
pula seluruh jajaran Menteri Kabinet Kerja,
dialogis dan konsentrasi kita mendukung
para Gubernur, Bupati dan Walikota, serta para
Target utama RKP 2016 ialah terwujudnya
sembilan agenda prioritas Nawacita dan
Kepala Badan di tingkat pusat, dan daerah. [RA]
pembangunan nasional yang berkualitas
tujuh misi pembangunan, kata Andrinof.
yang dicerminkan oleh sumber pertumbuhan
Sinergi antarsektor penting dalam
yang merata secara kewilayahan dengan
mendukung terwujudnya target prioritas
melibatkan pelaku ekonomi yang terdistribusi
demi mewujudkan visi dan misi yang
luas.
diusung pemerintahan Joko Widodo-Jusuf
Yang terpenting adalah hasilnya dapat

Sosialisasi Knowledge Management di Bappeda se-Sumatera Selatan

Oswar Mungkasa, Direktur TRP, menjelaskan


manfaat Knowledge Management kepada
kepala Bappeda se-Sumatera Selatan.
Sumber: Dokumentasi TRP

Palembang, (8/4). Pada tanggal 8 April


2015 Direktur Tata Ruang dan Pertanahan,
Oswar Mungkasa, menghadiri Rapat
Kerja Reguler yang diadakan oleh
Bappeda Provinsi se-Sumatera Selatan.

2 Dalam acara tersebut Oswar Mungkasa

menyampaikan
paparan
tentang
penggunaan Knowledge Management (KM)
di Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan.
Bappenas. Dalam
paparannya
Oswar
menjelaskan tentang pengertian data,
informasi dan pengetahuan. Oswar juga
menambahkan betapa besarnya kerugian
yang disebabkan hilangnya pengetahuan.

keniscayaan dalam upaya mengembangan KM.

Selama ini kita telah mengeluarkan investasi


yang cukup besar terhadap peningkatan
kapasitas Sumber Daya Manusia (SDM) baik
lewat pelatihan, sekolah ataupun lainnya.
Namun jika tidak di kelola dengan baik,
maka ketika orang tersebut pindah maka
pengetahuan yang dimiliki akan ikut pergi
bersama orang tersebut, demikian ungkapnya.

KM TRP mulai dikenali oleh berbagai


pihak. Untuk itu, menjadi tugas kita
bersama agar tetap dapat memelihara
dan memanfaatkan KM TRP sebagai salah
satu contoh pemanfaatan KM di Indonesia.

Pada kesempatan tersebut dijelaskan


beberapa hal mendasar terkait KM (i)
knowledge management bukan sekedar
sistem informasi tetapi merupakan upaya
meningkatkan kebiasaan saling berbagi; (ii)
tidak selalu dibutuhkan sistem on-line tetapi
bisa juga memanfaatkan jaringan internal
(dalam satu kantor); (iii) proses menjadi suatu

Keterlibatan aktif para pelaku menjadi


kunci. Disamping tentunya komitmen dan
dukungan
pimpinan, dibutuhkan
juga
adanya champion yang mengawal dan
menjadi pendukung utama proses KM; (iv)
KM tidak membutuhkan biaya yang besar.

Oswar juga menambahkan bahwa knowledge


management bukanlah masalah IT, melainkan
bagaimana merubah perilaku seseorang
agar menjadi mau berbagi pengetahuan
yang dimilikinya dengan orang lain.
Dan di akhir acara tampak para kepala Bappeda
yang berminat mengembangkan KM, tiga
diantaranya yaitu Bappeda Sumsel, Bappeda
Muara Enim, dan Bappeda Banyu Asin. [OM, IAS]

WAWASAN

Tata Cara Penyelesaian Penguasaan Tanah yang Berada di


Dalam Kawasan Hutan

Ilustrasi Masyarakat Adat Papua saat Berkunjung ke DPR RI dan Hutan Adat Papua. Sumber: istimewa

Sengketa konflik antara masyarakat


adat dan pengusaha atau pemerintah
masih terus berlangsung seiring dengan
pembangunan dan alih fungsi hutan adat
ke industri.
Menurut Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia (Komnas HAM) ada sejumlah
akar permasalahan yang mengakibatkan
belum terpenuhinya hak warga negara
masyarakat adat. Pertama, terkait dengan
teritorialisasi hutan oleh negara. Negara
masih berpandangan hutan merupakan
warisan kolonial. Sehingga wilayah yang
tidak bersertifikat dianggap sebagai milik
negara. Padahal hampir 33 ribu desa
di Indonesia sebanyak 40% berada di
kawasan hutan.
Kedua, adanya persepsi komodifikasi
alam. Maksudnya alam dalam hal ini
hutan diposisikan hanya sebagai barang
komoditi yang diperjualbelikan untuk
memenuhi kebutuhan pasar global.
Komodifikasi ini secara tidak langsung
menafikkan keberadaan masyarakat adat
yang hidup di dalam kawasan hutan.
Padahal, penguasaan hutan oleh negara
harus memperhatikan dan menghormati
hak-hak atas tanah masyarakat.
Maka dari itu pengukuhan Kawasan
Hutan harus segera dituntaskan untuk
menghasilkan Kawasan Hutan yang
berkepastian hukum dan berkeadilan.
Pada 11 Maret 2013 telah ditandatangani
Nota Kesepakatan Bersama (NKB) tentang
Percepatan Pengukuhan Kawasan Hutan
Indonesia oleh 12 Kementerian/Lembaga
Negara.
Di dalam NKB ini belum tercantum
ketentuan yang mengatur tata cara
penyelesaian penguasaan/hak-hak atas
tanah yang berada di dalam kawasan
hutan, sehingga lahirlah Peraturan
Bersama Mendagri, Menhut, MenPU, dan
Kepala BPN No. 79 Tahun 2014.
Kawasan hutan adalah wilayah tertentu
yang ditetapkan pemerintah untuk
dipertahankan keberadaannya sebagai
hutan tetap. Di dalam hutan, pasti ada

pemiliknya dan pemilik dari isi hutan


tersebut harus melewati proses IP4T.
Inventarisasi
Penguasaan, Pemilikan,
Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah (IP4T)
adalah kegiatan pendataan penguasaan,
pemilikan, penggunaan, dan pemanfatan
tanah, yang diolah dengan sistem informasi
geografis sehingga menghasilkan peta dan
informasi mengenai penguasaan tanah
oleh pemohon.
Pemohon yang dimaksud bisa orang
perorangan, pemerintah, badan sosial/
keagamaan, dan masyarakat hukum adat
yang memiliki bukti hak/penguasaan atas
tanah.
Pemerintah mempunyai dua kategori
pemberian hak tanah, yaitu penegasan
hak dan pengakuan hak. Penegasan
hak adalah proses pemberian hak atas
tanah yang alat bukti tertulisnya lengkap
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60
ayat (2) Peraturan Menteri Negara Agraria/
Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997; dan
yang alat buktinya tidak lengkap tetapi
ada keterangan saksi maupun pernyataan
yang bersangkutan yang tercantum dalam
Pasal 60 ayat (3) Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997.
Sementara itu, pengakuan hak adalah
proses pemberian hak atas tanah yang
alat bukti kepemilikannya tidak ada tapi
telah dibuktikan kenyataan penguasaan
fisiknya selama 20 (dua puluh) tahun
yang termaktub dalam Pasal 61 Peraturan
Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor
3 Tahun 1997.
TATA CARA PENYELESAIAN HAK ULAYAT
DAN PENGUASAAN TANAH DALAM
KAWASAN HUTAN
Dalam rangka penyelesaian hak ulayat dan
penguasaan tanah yang berada di dalam
kawasan hutan yang terletak di lintas
kabupaten/kota, Gubernur membentuk Tim
IP4T.
Tim IP4T terdiri atas:
1. Kepala Kantor Wilayah Badan
Pertanahan Nasional sebagai ketua

LINK TERKAIT
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan,
Bappenas
Portal Tata Ruang dan Pertanahan
Sekretariat BKPRN

tim;
2. Unsur Dinas Provinsi yang menangani
urusan di bidang Kehutanan sebagai
sekretaris tim;
3. Unsur Balai Pemantapan Kawasan
Hutan sebagai anggota;
4. Unsur Dinas/Badan Provinsi yang
menangani urusan di bidang tata
ruang sebagai anggota;
5. Kepala
Kantor
Pertanahan
Kabupaten/Kota terkait sebagai
anggota;
6. Camat setempat atau pejabat sebagai
anggota;
7. Lurah/Kepala Desa setempat sebagai
anggota.
Tugas pokok Tim IP4T adalah
(i) menganalisa data yuridis dan data
fisik bidang-bidang tanah yang berada di
dalam Kawasan Hutan; (ii) menerbitkan
rekomendasi dengan melampirkan Peta
IP4T Non Kadastral dan Surat Pernyataan
Penguasaan Fisik Bidang Tanah (SP2FBT)
yang ditandatangani oleh masing-masing
pemohon.
Dari hasil pengolahan data yuridis dan
data fisik bidang-bidang tanah akan
diputuskan bagi pemohon yang sudah
menguasai dan menggunakan bidang
tanah tersebut selama 20 (dua puluh)
tahun atau lebih secara berturut-turut,
dapat diteruskan permohonannya melalui
penegasan hak.
Tanah yang dikuasai kurang dari 20 (dua
puluh) tahun dapat diberikan hak atas
tanah dalam rangka reforma agraria
sesuai dengan ketentuan perundangundangan.
Pelaksanaan IP4T dalam satu kawasan
dilaksanakan sesuai dengan standar
prosedur operasional dalam waktu
paling lama 6 (enam) bulan dan hasilnya
disampaikan ke Kepala Kantor Wilayah
Badan
Pertanahan
Nasional/Kepala
Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota. [RA]
Sumber: Peraturan Bersama Mendagri, Menhut,
Menteri PU, Kepala BPN No.79 Tahun 2014

Potret Kegiatan TRP

Musrenbangnas 2015
Sosialisasi Knowledge Management di Bappeda
Sumsel
3
Bimtek Penyusunan RZWP3K

Bimbingan Teknis Rencana Zonasi Wilayah Pesisir


The
and Advanced
Indonesia
danAwesome
Pulau-Pulau
Kecil
(RZWP3K)
RZWP3K merupakan arahan pemanfaatan
sumber daya di wilayah pesisir dan pulaupulau.

Oswar Mungkasa menjadi salah satu pembicara dalam


Bimtek Penyusunan RZWP3K di Hotel Aston
Cengkareng (27/4). Sumber: Dokumentasi TRP

Jakarta, (27/4). Direktur Tata Ruang


dan Pertanahan, Oswar Mungkasa,
menjadi salah satu pembicara dalam
acara Bimbingan Teknis Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(RZWP3K) di Hotel Aston Cengkareng,
Jakarta, pada Senin (27/4).
Bimtek ini bertujuan untuk meningkatkan
pemahaman pemerintah pusat maupun
daerah terkait penyusunan RZWP3K
sebagai instrumen pengelolaan laut
berkelanjutan.

Perlunya RZWP3K karena ada beberapa


permasalahan yang terjadi di wilayah laut,
yaitu:
1. Jumlah Penduduk Miskin 28,07 Juta,
25,14% bermukim di wilayah pesisir;
2. Kesenjangan antarwilayah Kawasan
Barat Indonesia dengan Kawasan Timur
Indonesia;
3. Ruang interaksi banyak sektor sensitif
terhadap interaksi, khususnya aspek
lingkungan
over
fhising;
Illegal,
Unreported, Unregulated (IUU) Fishing;
dan Perbatasan Laut;
4. Rendahnya produktifitas dan daya saing
produk kelautan;
5. Bencana alam dan perubahan iklim pada
kawasan laut.
Adanya penetapan UU No.23 Tahun 2014
tentang Pemerintah Daerah menyebabkan
urusan kelautan menjadi kewenangan Pemda
Provinsi, sehingga hal ini akan berimplikasi
pada proses perizinan pengelolaan kawasan
laut yang tadinya menjadi kewenangan
Pemda Kota/Kabupaten.

RZWP3K dilakukan dengan tujuan:


1)
Melindungi
sumber
daya
dan
lingkungan dengan berdasar pada daya
dukung lingkungan dan kearifan lokal;
2) Memanfaatkan potensi sumber daya
dan/atau kegiatan di wilayah laut yang
berskala nasional dan internasional; dan
3) Mengembangkan kawasan potensial
menjadi pusat kegiatan produksi, distribusi
dan jasa.
Kedudukan RZWP3K di dalam tata ruang
akan
diserasikan,
diselaraskan
dan
diseimbangkan dengan Rencana Tata Ruang
Wilayah (RTRW) provinsi atau kabupaten/
kota.
Integrasi dalam penataan ruang laut dan
penataan ruang darat dilakukan dengan
cara: (i) Wilayah daratan kecamatan pesisir
mengikuti RTRW; (ii) Wilayah perairan
wilayah kecamatan pesisir mengikuti
ketentuan RZWP3K; (iii) Wilayah pulaupulau kecil sebagai satu kesatuan ekosistem
dengan matra laut mengikuti RZWP3K.
Selain itu, proses integrasi juga dilakukan
dengan adanya proses tanggapan/saran
yang dimohonkan kepada Gubernur
dan Menteri Kementerian Kelautan dan
Perikanan (KKP). [EY, RA]

RESENSI BUKU:

KERAGAMAN GEOLOGI INDONESIA


Warisan Geologi Sumatra
Indonesia dikenal sebagai wilayah kepulauan yang mempunyai tatanan geologi dan
geomorfologi yang unik dan rumit. Kondisi ini sudah diuraikan oleh para peneliti terdahulu
dengan berbagai pendekatan konsep keilmuan geologi. Selama jutaan tahun sejarah
pembentukan bumi, kepulauan Indonesia sering mengalami perubahan bentuk.
Bentuk yang sekarang ini diakibatkan oleh
kejadian-kejadian sejak 86 juta tahun yang
lalu. Keragaman geologi yang bernilai
warisan geologi di Indonesia itu banyak
dan tersebar luas di tanah air.
Di Pulau Sumatera, kita dapat menyaksikan
riak biru Lut Tawar di Aceh, pelangi senja
Danau Kaldera Toba, lembayung Danau
Maninjau, dan kemilau emas Danau
Singkarak. Ada pula warisan berupa Fosil
Flora di Jambi dan Kompleks TektonoVulkano Kerinci.
Melalui Buku setebal 260 halaman ini
kita diperkenalkan cara memanfaatkan
keragaman dan warisan geologi tersebut

untuk
memberdayakan
masyarakat
sekitar melalui pengembangan Taman
Bumi Dunia (geopark) yang digagas
UNESCO.
Banyak negara di dunia berhasil
mengembangkan dan menikmati nilai
ekonomi dari penerapan taman bumi
terhadap sumber daya alamnya.
Buku ini memberikan inspirasi kepada
para pembaca untuk terus berupaya
mengungkap lebih banyak lagi khazanah
geologi Indonesia dan memanfaatkannya
untuk kemakmuran bangsa dan negara.
[RA]

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami:

DIREKTORAT TATA RUANG DAN


PERTANAHAN,
BAPPENAS
Jalan Taman Suropati No. 2A
Gedung Madiun Lt. 3

T : 021 392 7412


F : 021 392 6601
E : trp@bappenas.go.id
W: www.trp.or.id
Portal : www.tataruangpertanahan.com

Judul Buku :
Warisan Geologi Sumatra
Penyusun : Oki Oktariadi dan Rudy

Suhendar
Penerbit : Badan Geologi Kementerian

ESDM
Jumlah halaman: 260