Вы находитесь на странице: 1из 16

LAPORAN PREFORMULASI OBAT TETES

MATA LIDOKAIN HCL

Sri Rahmi
Megawati
Tiwik Pertiwi
Yola Septiansari
Yossi Indriani
Vica Prabowo

12613135/B7
12613136/B7
12613137/B7
12613139/B7
12613140/B7

LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMI PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2015

1. TUJUAN
1. Mampu melakukan kajian literatur berkaitan dengan formulasi
2. Mampu melakukan percobaan sediaan tetes secara aseptis dan
evaluasinya
3. Mampu membuat penandaan dan kemasan sekunder lengkap berserta
brosur dan etiket
2. TINJAUAN PUSTAKA
Obat mata (opthalmica) terdiri dari tetes mata, salep mata (oculenta),
pencucimata (collyria) dan beberapa bentuk pemakaian khusus. Pemakaian
yang khusus dapat berupa penyemprot mata sebagai bentuk depo, yang
digunakan pada mata utuh atauterluka [1].Sediaan tetes mata adalah cairan
atau suspensi steril yang mengandung satu ataulebih zat aktif, tanpa atau
dengan penambahan zat tambahan yang sesuai. Sediaan inidigunakan pada
mata dengan cara meneteskan obat tersebut pada selaput lendir di
sekitarkelopak dan bola mata.Sediaan tetes mata merupakan larutan steril,
yang dalam pembuatannya memerlukan pertimbangan yang tepat terhadap
pemilihan formulasi sediaan, sepertipenggunaan bahan aktif, pengawet,
isotonisitas, dapar, viskositas, dan pengemasan yangcocok [2].Sediaan tetes
mata biasanya mengandung satu atau lebih bahan aktif, danmerupakan
elemen terpenting yang memberikan efek terapeutik dari sediaan tetes mata
itu.
Tetes mata menurut FI edisi III adalah sediaan steril berupa larutan
atau suspensi digunakan untuk mata dengan cara meneteskan obat pada
selaput lendirmata disekitar kelopak mata dan bola mata. Pada dasamya
komponen tetes matasteril adalah[3]:
- Zat aktif
- Cairan pembawa berair
- Zat pengawet seperti : fenilraksa (II) nitrat atau fenilraksa (II) asetat
0,002% b/v, benzalkonium klorida 0,01 % b/v atau klorheksidina asetat
0,01 %b/v yang pilihannya didasarkan atas ketercampuran zat
pengawetterhadap obat yang terkandung di dalamnya selama waktu
tetes

mata

itudimungkinkan

untuk

digunakan,

sebagai

contoh

benzalkonium tidak cocokdigunakan sebagai pengawet untuk tetes


mata yang mengandunganestetik local.

Tetes mata steril harus memenuhi syarat sterilitas, berupa larutan


jernih, bebas partikel asing serat dan benang, isotonis dan isohidris.
Kelebihan dari sediaan tetes mata adalah dapat berefek lokal sehingga
tidak mempengaruhi sistemik sebab penggunaannya yang diteteskan pada
mata langsung, dismaping itu kerugian penggunaan tetes mata ini adalah
beberapa

orang

sulit

mengaplikasikan

tetes

mata

sendiri

sehingga

membutuhkan bantuan dan juga pada beberapa tetes mata sering


menibulkan rasa tidak nyaman seperti perih [4].
Tetes mata (obat tetes mata) adalah larutan steril atau minyak,
suspensi, atau emulsi ditujukan untuk penggunaan ke dalam kantung
konjungtiva. Tetes tetes mata harus jernih dan bebas dari partikel ketika
diperiksa di bawah kondisivisibilitas yang sesuai.Water for Injection harus
digunakan dalam pembuatan tetes mata berair [5].
Proses pembuatanlarutan tetes mata memerlukan pertimbangan yang
cermat mengenai kebutuhan isotonisitas, kapasitas buffer, pH yang
diinginkan, penambahan agen antimikroba dan/atau antioksidan, penggunaan
agen peningkat viskositas, dan pilihan kemasan yang sesuai.
Tetes tetes mata dianggap isotonik saat tonisitas sama dengan larutan
0,9% natrium klorida. Mata biasanya dapat mentolerir larutan yang setara
dengan 0,5-1,8% natrium klorida[5].
Idealnya, pH tetes mata harus setara dengan cairan air mata 7,4.
Namun, keputusan untuk menambahkan agen penyangga harus didasarkan
pada pertimbangan stabilitas. pH yang dipilih harus optimal untuk stabilitas
bahan aktif dan toleransi fisiologis. Jika sistem penyangga ditambahkan,
makajangan sampai menyebabkan pengendapan atau kerusakan bahan aktif.
Pengaruh pada aliran air mata juga harus diperhitungkan [5].

3. IDENTITAS ZAT AKTIF


a. Pemerian bahan : Serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit [1].
b. Struktur molekul :

Sumber:
:
https://gp2u.com.au/static/pdf/L/LIGNOCAINE_4_FLUORESCEIN_0.25_EYE
_DROPS_MINIMS-PI.pdf
c. Sifat fisiko kimia obat
- Kelarutan
: Sangat mudah larut dalam air, etanol, larut dalam
kloroform dantidak larut dalam eter[1].
- nilai log P
: 2.44[2]
- pKa
: 8.01[2]
- titik lebur
: 68.5 C [2]
- stabilitas
: Lidokain harus disimpan dalam suhu lebih kecil dari
40C, lebih baik antara 15 - 30C, hindari penyimpanan pada
pendinginan. Larutan lidokain aman terhadap asam dan hidrolisis alkali
dapat dipanaskan pada autoklaf, Larutan untuk anestesi spinal harus
diautoklaf pada 15 psi dan pada suhu 121C selama 15 menit. Larutan
yang mengandung lidokain 1,5 % harus disterilisasikan lebih dari satu
kali dan untuk lidokain yang mengandung lidokain 5 % disterilisasikan
lebih dari satu sampai dua kali[3].
4. DATA FARMAKODINAMIK
a. Indikasi
Anestesi lokal dan pengobatan aritmia ventrikel akut [6].
b. Mekanisme
Secara otomatis menekan jaringan konduksi dengan meningkatkan
ambang stimulasi listrik dari ventrikel, sistem His - Purkinje dan
depolarisasi spontan ventrikel selama diastole oleh aksi langsung pada
jaringan; blok inisiasi dan konduksi impuls saraf dengan mengurangi
permeabilitas membran neuron untuk ion natrium yang menghasilkan
penghambatan depolarisasi dengan blokade resultan dari konduksi [6].
c. Efek samping
Efek bervariasi sesuai rute pemberian dan terkait dosis. Efek samping
yang timbul seperti : aritmia, bradikardi, arterial spasm, cardiovascular
collaps, ansietas, angioedema, rah, urtikaria, mual muntah, iritasi,
conjunctival hyperemia, petechiae[6].
d. Kontra indikasi
Hipersensitivitas terhadap lidokain atau komponen dari formulasi;
hipersensitivitas terhadap anestesi lokal lain dari jenis amida; Sindrom

Adam - Stokes; derajat parah SA, AV, atau blok jantung intraventrikular
(kecuali pada pasien dengan alat pacu jantung buatan yang berfungsi)
[6]
.
e. Interaksi
Amiodarone, Beta-blocker dapat menurunkan metabolisme lidokain.
Darunavir, Disopyramid dapat meningkatkan konsentrasi serum
lidokain[6].
5. PRODUK KOMPETITOR
a. Brand name
: Akten
Generic name
: lidocaine hdrochloride ophthalmic gel
Indikasi
: Akten (gel mata lidokain hidroklorida)
merupakan anestesi lokal yang diindikasikan untuk anestesi pada
permukaan mata selama proses ophthalmologic.
Akten berisi 35 mg lidokain hidroklorida per mL sebagai bahan aktif.
Komposisi
: juga mengandung Hypromellose, Natrium
Klorida, dan purified water sebagai bahan yang tidak aktif. pH dapat
disesuaikan dengan Asam klorida dan/atau Sodium Hidroksida dengan
range 5,5-7,5[7].
b. Brand Name
: Xylocaine Viscous
Generic Name
: Lidocaine Hydrochloride Solution
Indikasi
:Xylocaine (lidokain HCl) 2% Larutankental
diindikasikan untuk produk anestesi topikal pada membran mukosa
yang teriritasi atau meradang untuk mulut dan faring. Juga digunakan
untuk mengurangi muntah saat pengambilan gambar X-ray dan
tayangan gigi.
Kompisisi
: Lignocaine HCl, Methyparaben, propylparaben[7].
c. Brand Name
: Xylocaine MPF Sterile Solution
Generic Name
: Lidocaine HCl Sterile Solution
Indikasi
: Produk anestesi topikal membran mukosa
saluran pernapasan atau saluran genito-urin. Ini mungkin disuntikkan
transtracheal untuk menganestesi laring dan trakea, dan dapat
diberikan melalui suntikan retrobulbar untuk memberikan anestesi
untuk operasi mata.
Komposisi
: Setiap mL mengandung lidokain HCl 40 mg, dan
natrium hidroksida dan/atau asam klorida untuk menyesuaikan pH
untuk 5,0-7,0[7].

6. DESAIN FORMULASI
NO
1.
2.
3.
4.
5.

BAHAN
Lidokain HCL 1 %
Benzalkonium Klorida 0,01 %
EDTA 0,1 %
NaCL
Water for Injection

BOBOT
0,22 g
0,0018 g
0,024
0,638
add 100 ml

Perhitungan Tonisitas
1. Lidokain HCL : 1 % x 0,22 = 0,22 g/ 100 ml
E 1 % = 0,22
2. Benzalkonium Klorida : 0,01 % x 0,18 = 0,0018 g/ 100 ml
ditimbang lidokain HCL, Nacl, dan EDTA di grey area
E 0,05 % = 0,18
3. EDTA : 0,1 % X 0,24 = 0,024 g/ 100 ml
E 0,5 % = 0,24
ditimbang
Klorida
dengan
cawan
4. NaCL : 0,9
( 0,22 Benzalkonium
+ 0,0018 + 0,024)
= 0,638
9/ 100
ml porselin
Alat dan Bahan

diambil Water For Injection sebesar 100 ml


A. Alat
1. Batang pengaduk
2. Cawan porselin
Di UV bahan- bahan tersebut selama 10 menit
3. Gelas beaker
4. Gelas ukur
5. Kaca arloji
Dilarutkan Lidokain HCL dengan WFI sebanyak 20 ml
6. Kertas saring
7. Labu ukur 100 ml
8. Sendok tanduk
Dicampur benzalkonium Klorida dengan EDTA
9. Spatula
B. Bahan
1. Benzalkonium Klorida
Dilarutkan Nacl dengan WFI sebanyak 20 ml
2. EDTA
3. Lidokain HCL
4. NaCL
Dicampur
bahan( WFI)
tersebut dan dimasukkan kedalam labu ukur 100 ml
5. Waterbahanfor injection
Cara Pembuatan Sediaan
White Area
Disaring larutan dan WFI
Di Add larutan hingga 100 ml
Digojok larutan pada labu ukur 100 ml
Dicheck PH larutan menggunakan kertas pH
Dimasukkan larutan tetes mata kedalam wadah, lalu dilakukan uji kebocoran
dan uji kejernihan

Evaluasi Sediaan
1. Uji Ph
Pada sediaan tetes mata, pengukuran PH lebih mudah dilakukan karena
banyaknya

kandungan air membuat pengukuran dengan PH meter memberikan

hasil yang konstan. Untuk itu, dilakukan pula pengukuran PH dengan menggunakan
indikator universal. Uji pH sediaan tetes mata yang diperoleh yaitu pH 11. Hasil pada
pengukuran PH dikatakan belum baik karena pH yang baik itu berada pada pH 7,4 9 sesuai dengan kondisi pH air mata.
2. Uji kejernihan
Uji kejernihan terhadap sediaan dilakukan dengan meletakkan wadah sediaan
yang berisi cairan tetes mata di dalam kontak dengan latar hitam yang didalamnya

terdapat lampu yang menyinari wadah dari arah samping. Pertama wadah
didekatkan lampu pada sisi latar amati kejernihan dengan melihat ada atau tidak
kotoran bewarna gelap. Pernyataan kejernihan suatu cairan dinyatakan jernih jika
kejernihannya sama dengan air atau pelarut yang digunakan. Diperoleh hasil berupa
larutan tetes mata yang jernih.
3. Uji kebocoran
Uji kebocoran dilakukan dengan membalikkan botol sediaan tetes mata
dengan mulut botol menghadap kebawah. Diamati ada tidaknya cairan yang keluar
menetes dari botol. Hasilnya, tidak terdapat kebocoran berupa tetes larutan pada
wadah tetes mata.

7. PEMBAHASAN
Tujuan dari praktikum sediaan tetes mata Lidokain HCl ini yaitu mampu
melakukan kajian literatur berkaitan dengan formulasi, mampu melakukan
percobaan sediaan tetes secara aseptis dan evaluasinya dan mampu membuat
penandaan dan kemasan sekunder lengkap berserta brosur dan etiket
Tetes mata adalah sediaan steril yang berupa larutan atau suspensi yang
digunakan dengan cara meneteskan obat pada selaput lendir mata disekitar kelopak
mata dari bola mata (8). Indikasi dari lidokain HCl yaitu anestesi lokal dan
pengobatan aritmia ventrikel akut. Lidokain ialah obat anestesi lokal yang banyak
digunakan dalam bidang kedokteran oleh karena mempunyai awitan kerja yang lebih
cepat dan bekerja lebih stabil dibandingkan dengan obat-obat anestesi lokal lainnya.
Obat ini mempunyai kemampuan untuk menghambat konduksi di sepanjang serabut
saraf secara reversibel, baik serabut saraf sensorik, motorik, maupun otonom. Kerja
obat tersebut dapat dipakai secara klinis untuk menyekat rasa sakit atau impuls
vasokonstriktor menuju daerah tubuh tertentu. (9)
Berikut bahan-bahan yang digunakan pada formulasi sediaan tetes mata
Lidokain HCl. Lidokain HCl yaitu sebagai zat aktif sediaan tetes mata. Benzalkonium
klorida yang di kombinasikan dengan EDTA yaitu sebagai bahan zat pengawet dan
NaCl sebagai zat pengisotonis.

Tetes mata adalah larutan berair atau larutan berminyak yang idealnya harus
memiliki sifat-sifat sebagai berikut :
-

Ia seharusnya steril ketika dihasilkan

Ia seharusnya bebas dari partikel-partikel asing

Ia seharusnya bebas dari efek mengiritasi

Ia seharusnya mengandung pengawet yang cocok untuk mencegah


pertumbuhan dari mikroorganisme yang dapat berbahaya yang dihasilkan
selama penggunaan.

Jika dimungkinkan larutan berair seharusnya isotonis dengan sekresi lakrimal


konsentrasi ion hidrogen sebaliknya cocok untuk obat khusus, dan idealnya
tidak terlalu jauh dari netral

Ia seharusnya stabil secara kimia

Dan syarat-syarat bahan pengawet yang dapat digunakan untuk sediaan tetes mata
yaitu harus kompatibel dengan bahan dan juga tidak mengiritasi (10)
Tonisitas mengacu pada tekanan osmotik yang diberikan oleh larutan atau
padatan terlarut ini. Cairan/ air mata dan cairan tubuh lainnya mengerahkan tekanan
osmotik sama dengan normal saline atau 0,9% larutan natrium klorida. Larutan
dengan sejumlah besar zat terlarut dari cairan mata memiliki tekanan osmotik yang
lebih besar dan disebut hipertonik, sebaliknya, larutan dengan zat terlarut kurang
memiliki tekanan osmotik yang lebih rendah hipotonik. Mata dapat mentoleransi
larutan yang memiliki nilai tonisitas mulai dari setara 0,5% menjadi natrium klorida
1,6% tanpa ketidaknyamanan besar. Isotonis adalah suatu keadaan pada saat
tekanan osmosis larutan obat sama dengan tekanan osmosis cairan tubuh kita
(darah, air mata), sedangkan isohidris adalah kondisi suatu larutan zat yang pHnya
sesuai dengan pH fisiologis tubuh sekitar 7,4. Beberapa larutan obat mata perlu
hipertonis untuk meningkatkan daya serap dan menyediakan kadar bahan aktif yang
cukup tinggi untuk menghasilkan efek obat yang cepat dan efektif (11).
Hipertonis adalah tekanan osmosis laruitan obat lebih besar daripada tekanan
osmosis iran tubuh. Jika larutan injeksi hipertonis disuntikkan, air dalam sel akan
ditarik luar dari sel sehingga sel akan mengerut, tetapi keadaan ini bersifat
sementara dan idak akan menyebabkan kerusakan sel tersebut sedangkan
Hipotonis adalah tekanan osmosis larutan obat lebih kecil daripada tekanan osmosis
cairan tubuh, jika larutan injeksi yang hipotonis disuntikkan, air dari larutan injeksi
akan diserap dan masuk kedalam sel, akibatnya sel akan mengembang dan peeah,
dan keadaan ini bersifat tetap, Jika yang peeah itu sel darah merah, disebut
"haemolisis". Pecah sel ini akan dibawa aliran darah dan dapat menyumbat
pembuluh darah yang Kecil (12).

Idealnya, sediaan mata sebaiknya pada pH yang ekuivalen dengan cairan


mata yaitu 7,4. Dalam prakteknya, ini jarang dicapai. mayoritas bahan aktif dalam
optalmologi adalah garam basa lemah dan paling stabil pada pH asam. Larutan
lakrimal normalnya pH 7,4 dengan rentang 5,2-8,3. Ini masih bisa ditoleransi oleh
larutan mata dengan range pH ini, disebabkan oleh (1) volume kecil larutan, (2)
buffer cairan mata, dan (3) peningkatan produksi air mata (5).
Untuk mendapatkan sediaan tetes mata yang benar-benar steril pelu di
lakukan sterilisasi akhir. Sterilisasi disini merupakan sesuatu yang penting. Larutan
mata yang dibuat dapat membawa banyak organisme, yang paling berbahaya
adalah Pseudomonas aeruginosa. Infeksi mata dari organisme ini yang dapat
menyebabkan kebutaan. Ini khususnya berbahaya untuk penggunaan produk
nonsteril di dalam mata ketika kornea dibuka. bahan-bahan partikulat dapat
mengiritasi mata, ketidaknyamanan pada pasien dan metode ini tersedia untuk
pengeluarannya. Sehingga, setelah dilakukan sterilisasi akhir diharapkan sediaan
tetes mata sudah dipastikan terhindar dari berbagai macam organism yang dapat
mengiritasi mata (13).
Sterilisasi dalam praktikum ini menggunakan autoclave, oven dan LAF.
Proses sterilisasi termal menggunakan uap jenuh di bawah tekanan dilakukan dalam
ruang atau wadah disebut autoclave, menggunakan temperatur 121C selama 15
menit. Dengan prinsip dasar cara kerjanya ialah udara di dalam ruang sterilisasi
digantikan oleh uap jenuh, dicapai dengan menggunakan ventilasi atau perangkap (7).
Laminar Air Flow meniupkan udara steril secara kontinu melewati tempat kerja
sehingga tempat kerja bebas dari debu dan spora spora yang mungkin jatuh ke
dalam media, waktu pelaksanaan penanaman. Aliran udara berasal dari udara
ruangan yang ditarik ke dalam alat melalui filter pertama (pre-filter), yang kemudian
ditiupkan keluar melalui filter yang halus yang disebut HEPA (High Efficiency
Particulate Air Filter), dengan menggunakan blower. Alat LAF dilengkapi dengan
lampu ultraviolet dan blower untuk mengurangi tingkat kontaminasi (14).
Bangunan dan fasilitas untuk pembuatan obat harus memiliki desain,
konstruksi dan letak yang memadai, serta disesuaikan kondisinya dan dirawat
dengan baik untuk memudahkan pelaksanaan operasi yang benar. Tata letak dan
desain ruangan harus dibuat sedemikian rupa untuk memperkecil risiko terjadi
kekeliruan, pencemaran silang dan kesalahan lain, serta memudahkan
pembersihan, sanitasi dan perawatan yang efektif untuk menghindarkan
pencemaran silang, penumpukan debu atau kotoran, dan dampak lain yang dapat
menurunkan mutu obat.
Tingkat kebersihan ruang/area untuk pembuatan obat hendaklah
diklasifikasikan sesuai dengan jumlah maksimum partikulat udara yang
diperbolehkan untuk tiap kelas kebersihan sesuai tabel di bawah ini (15) :

Catatan:
Kelas A, B, C dan D adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk
steril.
Kelas E adalah kelas kebersihan ruang untuk pembuatan produk nonsteril.
Persyaratan lain untuk pembuatan produk steril dirangkum pada Aneks 1
Pembuatan Produk Steril

Kelas A (dibawah aliran udara laminer) : dilakukan kegiatan seperti


pengolahan dan pengisian aseptis; pengisian salep mata steril; pengisian bubuk
steril; dan pengisian suspensi steril
Kelas B (ruang steril) : lingkungan latar belakang zona kelas A untuk
pengolahan dan pengisian steril
Kelas C (ruang steril): Pembuatan larutan bila ada risiko di luar kebiasaan;
Pengisian produk yang akan mengalami sterilisasi akhir; Pembuatan larutan yang
akan disaring kemudian pengisian secara aseptis dilakukan di kelas A dengan latar
belakang kelas B
Kelas D (bersih) : Pembuatan obat steril dengan sterilisasi akhir
Kelas E (umum) : Ruang pengolahan dan pengemasan primer obat nonsteril,
pembuatan salep kecuali salep mata; (khusus) : pengolahan bahan higroskopis (16).
Hasil dari praktikum ini yaitu dilakukan 3 evaluasi. Uji pH, uji kebocoran dan
uji kejernihan. Pada uji pH dilakukan 3 x replikasi dan menghasilkan nilai pH yang
sama yaitu 11. Hasilnya tidak baik karena sediaan tetes mata yang baik yaitu yang
pH-nya mendekati pH cairan mata yaitu 7,4. Uji selanjutnya yaitu uji kejernihan,
sebelum dimasukkan ke dalam wadah larutan tetes mata dicek dahulu apakah

terlihat jernih atau keruh, dan didapatkan hasil yang jernih yang berarti larutan
tersebut baik. Dan uji yang terakhir yaitu uji kebocoran sediaan tetes mata di uji
apakah mengalami kebocoran atau tumpah jika dibalikkan wadahnya, dan hasilnya
tidak bocor dan tidak tumpah yang artinya wadah yang digunakan sudah baik.

8. KESIMPULAN
Pada praktikum ini dilakukan sterilisasi menggunakan autoklaf dan sinar UV
yang terdapat pada LAF. Tetes mata lidokain HCl yang dihasilkan belum bias
dikatakan baik karena dari uji pH yang dilakukan (pH = 11) pH larutan tersebut tidak
mendekati pH cairan mata 7,4. Tetapi untuk uji kebocoran dan kejernihan sudah baik
karena wadah tidak bocor dan larutan berwarna jernih.

9. DAFTAR PUSTAKA
1. Voigt, R. 1994. BukuPelajaranTeknologiFarmasi. GadjahMada University
Press. Yogyakarta
2. Ansel H, 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Edisi keempat.
UniversitasIndonesia Press. Jakarta
3. Anonim,
1979,
Farmakope
Indonesia
EdisiKe
III,
Jakarta
:
DepartemenKesehatanRepublikIndonesia
4. http://www.ct.gov/dds/lib/dds/edsupp/medadmin_recert_part_ii.pdf,
diakses
tanggal 30 april 2015
5. Anonim, 2014,
the international pharmacopoeia fourth edition,
http://apps.who.int/phint/en/p/docf/, diakses tanggal 30 april 2015.
6. Charles, F., Lora, L., Marton, P., and Leonard, L., 2009, Drug Information
Handbook, 18th edition, Lexi-Comp, American.
7. http://www.rxlist.com/script/main/srchcont_rxlist.asp?
src=lidocaine+hydrochloride&cat=rx-desc, diakses tanggal 30 april 2015.
8. Ditjen POM, (1979), Farmakope Indonesia, Edisi III, Depkes RI, Jakarta.
9. Charles, F., Lora, L., Marton, P., and Leonard, L., 2009, Drug Information
Handbook, 18th edition, Lexi-Comp, American.
10. Gennaro,
A.R.,
(1998), Remingtons
Pharmaceutical
Science,
18th Edition, Marck Publishing Co, Easton

11. Ganiswarna. S. A. 2005.


Farmakologi dan Terapi. Edisi IV. Bagian
Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Hal.332Parrot, L.E., (1971), Pharmaceutical Technology Fundamental
Pharmaceutics, Burgess Publishing Co, USA.
12. AMA Drug Evaluation, (1995), Drug Evaluation Annual, 1995, American
Medical Association, American
13. Anonim, 2013, How to Use Eye Ointments and Gels Properly,
http://www.safemedication.com/safemed/MedicationTipsTools/Howto
Administer/HowtoUseEyeOintmentsandGelsProperly, diakses tanggal
19 januari 2015.
14. Fardiaz, S., 1992, Mikrobiologi Pangan 1. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
15. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia,
Nomor Hk.03.1.33.12.12.8195 Tahun 2012, Penerapan Pedoman Cara
Pembuatan Obat Yang Baik, Jakarta.
16. Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia, 2013, Petunjuk
Operasional Penerapan Pedoman Cara Pembuatan Obat Yang Baik 2012
Jilid I, Badan POM RI, Jakarta. Hal. 78.

LAMPIRAN

APOTEK FAMILY CARE NARAFARM


JL. Bhakti Manunggal No.5 Yogyakarta
Tlp (0274)120596
Apoteker : Muhammad Zulmi
S.Farm.Apt
SIP.1331/113/311/2012
No
:1
2015

Tgl : 20-04-

Nama : Tn. Hendra


MATTAIN
Teteskan 2 atau 3 tetes pada setiap
mata,
3 atau 4 kali sehari
Simpan di tempat yang sejuk dan
terhindar dari cahaya matahari