You are on page 1of 8

ENDOMETRITIS

Endometritis adalah keradangan pada dinding uterus yang umumnya disebabkan oleh
partus. Dengan kata lain endometritis didefinisikan sebagai inflamasi dari endometrium
Derajat efeknya terhadap fertilitas bervariasi dalam hal keparahan radang, waktu yang
diperlukan intuk penyembuhan lesi endometrium, dan tingkat perubahan permanen yang
merusak fungsi dari glandula endometrium dan/atau merubah lingkungan uterus dan/atau
oviduk. Organisme nonspesifik primer yang dikaitkan dengan patologi endometrial adalah
Corynebacterium pyogenes dan gram negatif anaerob. Kebanyakan sapi perah post partum
mengalami beberapa derajat enometritis kecuali dapt sembuh antara 40-59 hari post partum
(Bretzlaff,1987).
Biasanya karakter klinisnya adalah adanya mukopurulen yang dikeluarkan vagina, 21
hari atau lebih setelah calving atau dihubungkan dengan ditundanya involusi uterus. Kejadian
endometritis kira- kira 10 % pada ternak, meski kejadian pada kawanan sapi kurang jelas.
Tetapi ada variasi yang besar pada kejadian endometritis antara yang digembalakan, dari
beberapa kasus lebih dari 40% pada ternak yang dipelihara. Endometritis dianggap
menyebabkan subfertil dan infertilitas. Adanya kontaminasi bakteri pada uterus akan
melemahkan mileu hormonal dari hypothalamus-pituitary-poros ovarium dan menghambat
pertumbuhan folikel dan perkembangannya. Infeksi uterus telah dilaporkan berhubungan
dengan kenaikan kejadian penyakit cystic ovari. Lebih jauh lagi adanya dan menetapnya
organisme pathologic menyebabkan endometritis. Endometritis telah mengganggu efek
fertilitas ,memperpanjang calving interval, menurunkan jumlah service per conception (S/C)
dan kegagalan perkawinan.
Secara ekonomi endometritis tergantung dari efek gangguan pada fertilitas, peningkatan
pengafkiran, biaya treatmen. Pertimbangan biaya langsung pada kasus keluarnya vulva
adalah untuk treatmen dan 300 ltr penurunan hasil susu juga peningkatan calving interval 18

hari dan peningkatan S/C 0,3. Menurut Hardjopranjoto(1995), infertilitas yang terjadi dapat
berupa matinya embrio yang masih muda karena pengaru mikroorganisme sendiri atau
terganggunya perlekatan embrio pada dinding uterus (kegagalan implantasi)

Etiologi
Diduga uterus dan isinya steril selama kebuntingan normal dan lebih dulu melahirkan.
Kemudian waktu kelahiran atau setelah itu lumen uterus terkontaminasi mikroorganisme dari
lingkungan, hewan, kulit dan feses melalui relaksasi peritoneum, vulva dan dilatasi cervik.
Ada berbagai macam faktor predisposisi dari endometritis. Sapi dengan infeksi uterus
dihubungkan dengan A.pyogenes lebih dari 21 postpartus berkembang menjadi endometritis
berat dan hampir dapat tetap subfertil pada service pertama. Sebagai tambahan, ada
sinergisme

antara

A.pyogenes,

F.necrophorum,

dan

Prevotella

melaninogenicus,

menyebabkan lebih beratnya kasus endometritis. Gangguan mekanisme pertahanan uterus


seperti involusi uterus atau fungsi neutrofil akan menunda fungsi eleminasi kontaminasi
bakteri. Distokia, kelahiran kembar atau kematian ternak dan kawin buatan meningkatkan
kesempatan untuk kontaminasi pada traktus genital. Retensi membrane fetus adalah faktor
predisposisi endometritis dan berhubungan dengan peningkatan endometritis berat.
Infeksi uterus adalah alasan kejadian, menjadi paling tinggi selama waktu dikandangkan,
diduga karena kontaminasi lingkungan. Lingkungan ternak yang kotor mungkin
meningkatkan resiko endometritis. Noakes (1991) mendiskripsikan 2 perbedaan higienisme
yang nyata pada peternakan, satu dengan lingkungan yang relatif bersih kejadian endometritis
adalah 2- 3 %, dibandingkan dengan kejadian 15 % dari lingkungan yang kotor. Tetapi tidak
ada perbedaan pada kualitas dan kuantitas flora bakteri uterus pada ternak sapi pada masingmasing peternakan.

Ditunda kembalinya aktivitas siklus uterus setelah kelahiran memperlihatkan


predisposisi endometritis. Jika interval dari kelahiran ke ovulasi pertama sangat pendek, itu
diduga piometra dapat terjadi karena A.pyogenes dan bakteri anaerob Gram negatif yang
akan tetap tinggal dalam uterus setelah ovulasi, yang membiarkan pertumbuhan bakteri yang
melanjut mengikuti pembentukan corpus luteum.
Endometritis dapat juga terjadi karena kelanjutan dari kelahiran yang tidak normal,
seperti abortus, retensi sekundinarum, kelahiran premature, kelahiran kembar, keahiran yang
sukar (distokia), perlukaan yang disebabkan oleh alat-alat yang dipergunakan untuk
pertolongan

pada

kelahiran

yang

sukar.

Endometritis dapat terjadi juga pada induk sapi setelah perkawinan alami dengan pejantan
yang menderita penyakit menular kelamin seperti bruselosis, trichomoniasis, vibriosis, dll.
Pada pelaksanaan inseminasi buatan yang dilakukan intra uterine pada sapi betina,
mempunyai resiko untuk terjadinya endometritis, karena mungkin saja bakteri yang terbawa
oleh alat insaminasi (insemination gun) atau dalam semen masih tercemar oleh kuman
kemudian dapat menulari uterus. Streptococcus, Staphylococcus, E.coli, P.aeruginosa, dan
C.pyogenes adalah bakteri nonspesifik yang terdapat secara non pathogen di mana-mana dan
sering menginfeksi uterus. Berat tidaknya endometritis yang diserita tergantung pada
keganasan bakteri yang menularinya, banyaknya bakteri, dan ketahanan tubuh penderita.
(Hardjopranjoto,1995)
Dalam sumber lain dikatakan bahwa etiologi adalah polimikrobial: campuran organisme
aerobik dan anaerobik biasa dijumpai. Gram positif coccus diantaranya: Streptococcus
agalactiae, Strep.viridans, Strept.faecalis, Staphylococcus aureus, dan Staph.epidermidis
Beberapa kasus berat disebabkan oleh Streptococcus Group ABakteri gram negatif yaitu
E.coli, Klebsiella pneumoniae, Proteus mirabilis, Enterobacter aerogenes, Gardnerella
vaginalis

(Chandran,2006)

Gejala

Klinis

Berupa adanya leleran vaginal berwarna putih/putih kekuningan yang akan meningkat pada
saat estrus yaitu saat cerviks berdilatasi dan ada mucus vagina yang berlebihan. Leleran
tersebut biasa disebut leucorrhoea yang berarti secret yang putih dan kental dari vagina dan
rongga

uterus.

Terdapat tanda-tanda penyakit sistemik yang pada beberapa kasus menyebabkan penurunan
produksi

susu

dan

nafsu

makan.

Pada palpasi per rectal ditemukan adanya involusi uterus yang terasa seperti adonan
(doughy

feel)

Dalam jangka pendek akan mengurangi fertilitas dan akan memperpanjang calving interval
serta

menurunkan

angka

service

per

conception

(S/C).

Sedangkan dalam jangka panjang akan menyebabkan sterilitas yang dapat menimbulkan
perubahan

pada

traktus

genitalis

yang

bersifat

irreversible.

(Arthur,1992)
Dari Hardjopranjoto (1995) menyebutkan bahwa endometritis dapat berupa kasus akut
maupun kronis. Gejala klinis pada endometritis sering tidak begitu jelas. Demikian juga pada
pemeriksaan melalui rektal atau pemeriksaan vaginal hasilnya tidak jelas, khususnya bila
peradangan bersifat akut. Endometritis yang kronis disertai dengan penimbunan cairan
(hidrometra) atau nanah (piometra), gejala-gejalanya akan lebih jelas, terutama pada waktu
induk berbaring, akan ada cairan yang keluar dari alat kelamin luar berbentuk gumpalan
nanah. Ini disebabkan uterus yang mengandung nanah atau cairan tertekan antara lantai
kandang dan rumen. Kadang-kadang sukar menentukan apakah cairan tersebut berasal dari
uterus atau serviks, karena umumnya serviks dan vagina turut serta dalam proses peradangan.
Gejala lain yang mungkin dilihat khususnya endometritis yang akut pada sapi perah adalah

suhu yang meningkat disertai adanya demam, sering urinasi, nafsu makan menurun, produksi
susu juga menurun, denyut nadi lemah, pernafasan cepat, ada rasa sakit pada uterus, ditandai
sering

menengok

ke

belakang,

ekor

sering

diangkat

dan

sering

merejan.

Pada pemeriksaan rektal, uterus mungkin teraba agak membesar dan dan dindingnya agak
menebal. Endometritis yang berderajat ringan, melalui perabaan rektal mungkin tidak teraba
adanya kelainan pada uterus. Pada anjing, endometritis berat sering diikuti dengan muntahmuntah

(Hardjopranjoto,1995).

Diagnosa
Secara klinis karakteristik endometritis dengan adanya pengeluaran mucopurulen pada
vagina, dihubungkan dengan ditundanya involusi uterus. Diagnosa endometritis tidak
didasarkan pada pemeriksaan histologis dari biopsy endometrial. Tetapi pada kondisi
lapangan pemeriksaan vagina dan palpasi traktus genital per rectum adalah teknik yang
sangat bermanfaat untuk diagnosa endometritis. Pemeriksaan visual atau manual pada vagina
untuk abnormalitas pengeluaran uterus adalah penting untuk diagnosa endometritis, meski isi
vagina tidak selalu mencerminkan isi dari uterus. Flek dari pus pada vagina dapat berasal dari
uterus, cervik atau vagina dan mukus tipis berawan sering dianggap normal. Sejumlah sistem
penilaian telah digunakan untuk menilai tingkat involusi uterus dan cervik, pengeluaran dari
vagina alami. Sitem utama yang digunakan adalah kombinasi dari diameter uterus dan cervik,
penilaian

isi

dari

vagina.

Sangat penting untuk dilakukan diagnosa dan memberi perlakuan pada kasus endometritis di
awal periode post partus. Setiap sapi harus mengalami pemeriksaan postpartum dengan
segera pada saat laktasi sebagai bagian dari program kesehatan yang rutin. Kejadian
endometritis dapat didiagnosa dengan adanya purulen dari vagina yang diketahui lewat
palpasi rektal. Diagnosa lebih lanjut seperti pemeriksaan vaginal dan biopsi mungkin

diperlukan. Yang harus diperhatikan pada saat palpasi dan pemeriksaan vaginal meliputi
ukuran uterus, ketebalan dinding uterus dan keberadaan cairan beserta warna, bau dan
konsistensinya. Sejarah tentang trauma kelahiran, distokia, retensi plasenta atau vagina
purulenta saat periode postpartus dapat membantu diagnosa endometritis. Pengamatan oleh
inseminator untuk memastikan adanya pus, mengindikasikan keradangan pada uterus.
Sejumlah kecil pus yang terdapat pada pipet inseminasi dan berwarna keputihan bukanlah
suatu gejala yang mangarah pada endometritis. Keradangan pada cervix ( cervisitis) dan
vagina ( vaginitis) juga mempunyai abnormalitas seperti itu. Bila terdapat sedikit cairan pada
saat palpasi uterus, penting untuk melakukan pemeriksaan selanjutnya yaitu dengan
menggunakan

spekulum.

Untuk beberapa kasus endometritis klinis atau subklinis, diagnosa diperkuat dengan biopsy
uterin. Pemeriksaan mikroskopis dari jaringan biopsy akan tampak adanya peradangan akut
atau kronik pada dinding uterus. Pemeriksaan biopsi uterin dapat untuk memastikan
terjadinya

endometritis

dan

adanya

organisme

di

dalam

uterus.

Tampak daerah keradangan menunjukkan terutama naetrofil granulocyte dan dikelilingi


jaringan

1996

nekrosis

Johns

dengan

Hopkins

School

koloni

coccus.

of

Medicine,

http--oac_med_jhmi_edu-Pathology-Images-132B_gif.htm
Cara sederhana adalah melakukan pemeriksaan manual pada vagina dan mengambil mukus
untuk di inspeksi. Keuntungan teknik ini adalah murah, cepat, menyediakan informasi
sensory tambahan seperti deteksi laserasi vagina dan deteksi bau dari mukus pada vagina.
Satu prosedur adalah pembersihan vulva menggunakan paper towel kering dan bersih, sarung

tangan berlubrican melalui vulva ke dalam vagina. Pinggir, atas dan bawah dinding vagina
dan os cervik eksterna dipalpasi dan isi mukus vagina diambil untuk diperiksa.
Tanganbiasanya tetap di vagina untuk sekurangnya 30 detik. Pemeriksaan vagina manual
telah sah dan tidak menyebabkan kontaminasi bakteri uterus, menimbulkan phase respon
protein akut atau menunda involusi uterus. Tetapi operator sadar bahwa vaginitis dan
cervicitis mungkin memberikan hasil yang salah. Vaginoscopy dapat dilakukan dengan
menggunakan autoclavable plastik, metal atau disposable foil- lined cardboard vaginoscope,
yang diperoleh adalah inspeksi dari isi vagina. Tetapi mungkin ada beberapa resistensi
menggunakan vaginoscop karena dirasa tidak mudah, potensial untuk transmisi penyakit dan
harganya. Alat baru untuk pemeriksaan mukus vagina terdiri dari batang stainless steel
dengan

hemisphere

karet

yang

digunakan

untuk

mengeluarkan

isi

vagina

Treatmen
Tiga treatmen yang paling sering digunakan adalah PGF-2 parenteral atau analog, estrogen
dan

antibiotic

intrauterine.

PENCEGAHAN

Menyembuhkan

penyakit

metabolisme

ini sangat baik dengan memenuhi kebutuhan nutrisi sapi, salah satu caranya:

Meningkatkan

BCS

Memenuhi
Perbaiki
Menjaga

kebutuhan

kebersihan

alat

ke

kebutuhan
nutrisi,
yang

dan

digunakan

magnesium
lingkungan

dalam

pertolongan

kandang
kelahiran

Mengawinkan sapi betina hendaknya dilakukan sekurang-kurangnya 60 ari post partus


Dalam menangani retensi sekundinarum segera diadakan pertolongan dengan teknik yang

baik dan menyeluruh, jangan ada sisa sekundinae yang tertinggal di dalam uterus.

TERAPI

ENDOMETRITIS

Antibiotik

lokal

atau

sistemik

Oksitetrasiklin 500-1500 mg dengan pemakaian maksimal 3-6 gr (Intra Uterine)


Neomisin

500-1000

Prostaglandin

Dengan

Kelompok

terapi

microwave

sapi

diobati

mg
atau

dengan

estradiol

intensitas

dengan

yang

metode

rendah.
berikut:

Mengobati uterus dengan radiasi infra merah yang berintensitas rendah atau terapi laser
dengan jarak 5-10 cm dari kulit, waktu tiap penyinaran kurang lebih 30 detik, dengan total
waktu

penyinaran

menit.

Pengobatan dengan apparatus IMG-42.2, dengan jalan kontak langsung dengan horn cap,
menggunakan daerah antara sakral ke2 dan ke3. Area kontrol dari proses fisiologi ini berada
di uterus. Waktu terapi kurang lebih 10 menit. Alternatif lain daerah radiasi lainnya adalah
antara prosesus spinosus sakral 2 dan 3, kanan kirinya berjarak 4 jari. Waktunya 5 menit
untuk

tiap

area,

dengan

total

waktu

10

menit.

Dari pengobatan sampai kesembuhan 1 tahap perhari, namun perharinya tidak lebih dari 10
tahap yang dilakukan