You are on page 1of 14

TEORI TEKTONIK LEMPENG

Teori tektonika Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori


dalam bidang geologi yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap
adanya bukti - bukti pergerakan skala besar yang dilakukan oleh litosfer bumi.
Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori Pergeseran Benua yang
lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep seafloor
spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an.

Gambar 1. Hipotesis Apungan Benua

Sepanjang tahun 1960-an, banyak penemuan teknologi yang kemudian


mendorong revisi Hipotesis Apungan Benua ini menjadi Teori Tektonik Lempeng
(Plate Tectonic Theory). Pada teori ini, dijelaskan bahwa permukaan bumi
dibentuk oleh kepingan-kepingan litosfer, yaitu lapisan padat dari kerak bumi dan
mantel bumi bagian atas, yang mengapung di atas astenosfer. Astenosfer adalah
lapisan plastis di bawah litosfer yang memiliki sifat seperti fluid yang dapat
mengalir.
Pergerakan benua dan dasar laut menurut para ahli disebabkan adanya
lempeng dalam kerak bumi. Lempeng-lempeng ini terapung - apung di atas
mantel bumi. Arus konveksi yang kuat di dalam astenosfer menggerakkan

lempeng-lempeng ini di permukaan bumi. Teori inilah yang dinamakan teori


lempeng tektonik

Gambar 2. Batas Utama Lempeng

Masing-masing kepingan litosfer ini disebut lempeng. Gambar di atas ini


menunjukkan batas-batas utama lempeng tektonik dan bagaimana mereka saling
berinteraksi satu sama lain. Gambar di samping menunjukkan pergerakan relatif
dan kenampakan yang berasosiasi dengan tiga tipe batas lempeng.
Menurut teori lempeng tektonik tersebut, permukaan bumi terpecah
menjadi beberapa lempeng tektonik besar. Lempeng tektonik adalah segmen keras
kerak bumi yang mengapung diatas astenosfer yang cair dan panas. Lapisan
terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan tipis dan keras. Oleh karena itu,
maka lempeng tektonik ini bebas untuk bergerak dan saling berinteraksi satu sama
lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus sejak bumi ini tercipta hingga
sekarang.Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga kini
teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa
bumi, tsunami, dan meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana
terbentuknya gunung, benua, dan samudra.

Secara garis besar lempeng di dunia dibagi menjadi dua, yaitu lempeng
samudera yang merupakan dasar laut, dan lempeng benua yang merupakan
daratan. Lempeng samudera memiliki berat jenis yang lebih berat dibandingkan
lempeng benua. Lempeng samudera sering kita disebut dengan lapisan sima dan
lempeng benua disebut lapisan sial.
Lempeng tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun
kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan batuan teratas dari mantel bumi
(earths mantle). Kerak benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas mantel
ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi
dibanding kepadatan pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada
kerak samudra (mafik) lebih berat dibanding elemen-elemen pada kerak benua
(felsik).
Daerah perbatasan lempeng-lempeng tektonik, merupakan tempat-tempat
yang memiliki kondisi tektonik yang aktif, yang menyebabkan gempa bumi,
gunung berapi dan pembentukan dataran tinggi. Teori lempeng tektonik
merupakan kombinasi dari teori sebelumnya yaitu: Teori Pergerakan Benua
(Continental Drift) dan Pemekaran Dasar Samudra (Sea Floor Spreading).
Lempeng tektonik yang merupakan bagian dari litosfer padat dan terapung di atas
mantel ikut bergerak satu sama lainnya. Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan
cair yang dinamakan astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini
sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini bergerak mengalir seperti cairan (fluid).
Litosfer terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling bersinggungan
satu dengan lainnya.
Lempengan yang menyusun bumi terdiri atas lempeng tektonik yang besar
dan kecil. Lempeng tektonik yang besar, antara lain:
1. Lempeng Fasifik, meliputi wilayah lautan Fasifik
2. Lempeng Amerika Utara, meliputi wilayah Amerika Utara
3. Lempeng Amerika Selatan, meliputi wilayah Amerika Selatan
4. Lempeng Afrika, meliputi wilayah Afrika, lautan Atlantik bagian timur,
dan lautan Hindia bagian barat
5. Lempeng Eurasia, meliputi Eropa, Asia termasuk Indonesia

6. Lempeng Hindia Australia, meliputi wilayah Lautan Hindia, subkontinen


India, dan Australia bagian barat.
7. Lempeng Antartika, meliputi benua dan lautan Antartika
Selain lempeng tektonik yang besar, bumi juga tersusun atas lempenglempeng taktonik yang berukuran kecil, antara lain:
1. Lempeng Nazca

6. Lempeng Juan de fuca

2. Lempeng Cocos

7. Lempeng Rivera

3. Lempeng Filipina

8. Lempeng Gorda

4. Lempeng Karibia

9. Lempeng Scotia

5. Lempeng Arab
Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara lempeng tektonik yang
satu dengan lainnya (plate boundaries) terbagi dalam 3 jenis, yaitu divergen,
konvergen, dan transform. Selain itu ada jenis lain yang cukup kompleks namun
jarang, yaitu pertemuan simpang tiga (triple junction) dimana tiga lempeng kerak
bertemu.
1. Batas Divergen

Gambar 3. Batas Divergen

Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling


memberai/menjauh (break apart). Ketika sebuah lempeng tektonik pecah,
lapisan litosfer menipis dan terbelah, membentuk batas divergen. Pada
lempeng samudra, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor
spreading). Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan

terbentuknya lembah retakan (rift valley) akibat adanya celah antara kedua
lempeng yang saling menjauh tersebut.
Daerah yang banyak memiliki batas divergen adalah Afrika bagian
timur dan Laut Merah. Pematang Tengah-Atlantik (Mid-Atlantic Ridge)
adalah salah satu contoh divergensi yang paling terkenal, membujur dari
utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa
dan Afrika dengan Benua Amerika.
2. Batas Konvergen

Gambar 4. Batas Konvergen

Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan (consumed) ke arah


kerak bumi, yang mengakibatkan keduanya bergerak saling menumpu satu
sama lain (one slip beneath another). Wilayah dimana suatu lempeng
samudra terdorong ke bawah lempeng benua atau lempeng samudra lain
disebut dengan zona tunjaman (subduction zones). Di zona tunjaman inilah
sering terjadi gempa.Pematang gunung-api (volcanic ridges) dan parit
samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
a. Konvergen lempeng benua samudra (Oceanic Continental)

Gambar 5. Konvergen Lempeng Benua Samudra

b. Konvergen lempeng samudra samudra (Oceanic Oceanic)

Gambar 6. Konvergen Lempeng Samudra Samudra

c. Konvergen lempeng benua benua (Continental Continental)

Gambar 7. Konvergen Lempeng Benua Benua

3. Batas Transform

Gambar 7. Batas Transform

Terjadi

bila

dua

lempeng

tektonik

bergerak

saling

menggelangsar/bergerak pada garis yang sama, tidak saling menjauh dan


bertumpukan (slide each other), yaitu bergerak sejajar namun berlawanan
arah. Keduanya tidak saling memberai maupun saling menumpu. Batas
transform ini juga dikenal sebagai sesar ubahan-bentuk (transform fault).
Jika dua lempeng bertemu pada suatu sesar, keduanya dapat
bergerak saling menjauhi, saling mendekati atau saling bergeser.
Umumnya, gerakan ini berlangsung lambat dan tidak dapat dirasakan oleh
manusia namun terukur sebesar 0-15cm pertahun.

Kadang-kadang, gerakan lempeng ini macet dan saling mengunci,


sehingga terjadi pengumpulan energi yang berlangsung terus sampai pada
suatu saat batuan pada lempeng tektonik tersebut tidak lagi kuat menahan
gerakan tersebut sehingga terjadi pelepasan mendadak yang kita kenal
sebagai gempa bumi.
Menguji Model
Pada tahun 1950-an, diketahui bahwa ketika mineral kaya Fe pada lava
membeku, mereka akan termagnetisasi dengan arah yang paralel dengan medan
magnet yang ada saat itu.
Plotting posisi semu dari kutub utara magnetik sejak 500 juta tahun
menunjukkan bahwa kutub magnetik bergerak sepanjang waktu, atau dapat
dikatakan bahwa lava tersebut bergerak dan begitu juga lempeng benua. Lihat
gambar di bawah ini.

Gambar 8. Plotting Posisi Semu

Diketahui pula bahwa polaritas magnetik bumi selalu berarah bolak-balik


sepanjang periode magnetisasinya. Hal ini merupakan bukti yang sangat penting
bagi Teori Tektonik Lempeng.

Gambar 9. Polaritas Magnetik

Ketika kita memperhatikan polaritas magnetik batuan di lantai samudera.


Polaritasnya akan terlihat berarah bolak-balik pada lapisan batuan secara
bergantian, membentuk image seperti cermin pada kedua sisi pematang tengah
samudera.
Bukti lainnya adalah penyebaran titik pusat gempa dangkal, menengah dan dalam.
Kalau diperhatikan lebih teliti, akan dijumpai titik pusat gempa dalam hanya
berasosiasi dengan zona penunjaman. Lihat gambar penyebaran titik pusat gempa
di bawah ini.

Gambar 10. Penyebaran Pusat Titik Gempa

Terakhir, bukti lainnya yang mendukung teori ini adalah informasi yang
didapatkan oleh para ilmuwan dari hot spot. Sebagai contoh, Kepulauan Hawaii
dan gunungapi tengah laut yang merupakan kepanjangan dari Hawaii menuju
Palung Aleutia, menunjukkan pergerakan Lempeng Pasifik searah deretan hot
spot. Lihat gambar di bawah ini.

Gambar 11. Pergerakan Lempeng Pasifik

Penarikan radiometrik menunjukkan aktivitas vulkanik semakin muda


menuju Kepulauan Hawaii, yang sekarang berada tepat di atas hot spot.

10

Pangaea
Gambar di bawah menunjukkan bagaimana Pangaea terpecah dan benua
hasil pecahannya bergerak ke posisi mereka saat ini.

Gambar 12. Terpecahnya Pangea

Mekanisme Penggerak

11

Satu hal yang mengganjal hipotesis Wegener tentang Apungan Benua


adalah dia tidak dapat menjelaskan mekanisme seperti apa yang menyebabkan
pergerakan lempeng. Saat ini, ada tiga ide yang dikemukakan oleh para ilmuwan
terkait mekanisme penggerak tersebut.

Gambar 13. Mekanisme Penggerak

Pertama, ide tentang adanya arus konveksi yang besar di dalam mantel
bumi yang menggerakkan lempeng seperti sabuk konveyor.
Kedua, ide yang menjelaskan bahwa lempeng yang menunjam lebih berat
daripada lempeng di atasnya, karenanya akan menarik lempeng ini ke bawah. Hal
ini disebut slab-pull. Juga karena gravitasi, bagian atas dari lempeng di lokasi
pematang terdorong ke atas. Ini disebut slab-push.

12

Ketiga, ide tentang adanya plume (aliran magma yang membumbung)


yang bergerak ke atas. Ide ini memjelaskan bahwa hanya ada beberapa plume
yang sangat besar yang menggerakkan arus konveksi ke arah atas di dalam mantel
bumi, sedangkan lempeng yang menunjam menggerakkan arus konveksi ke arah
bawah dan menyempurnakan perputaran arus konveksi tersebut.
Kesimpulannya, Teori Tektonik Lempeng adalah teori terbaru dan hingga kini
sangat bagus digunakan oleh para ilmuwan dalam menjelaskan berbagai proses
tektonik yang terjadi dalam sejarah bumi.

13

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2014.

Hipotesis

Apungan

Benua.

Available

at

http://www.scribd.com/Hipotesis-Apungan-Benua. Diakses 15 April 2015.


Anonim.

2014.

Tektonika

Lempeng.

Available

at

http://id.wikipedia.org/wiki/Tektonika_lempeng. Diakses 10 Maret 2015.


Anonim.

2012.

Teori

Lempeng

Tektonik.

Available

at

http://teorilempengtektonik.blogspot.com/. Diakses 10 Maret 2015.


Fifi.

2014.

Lempeng

Tektonik.

Available

at

https://fiflowers.wordpress.com/geofisika/lempeng-tektonik/. Diakses 10
Maret 2015.

14