You are on page 1of 3

Artikel lotion

Lotion adalah sediaan kosmetika golongan emolien (pelembut) yang


mengandung air lebih banyak. Sediaan ini memiliki beberapa sifat, yaitu sebagai
sumber lembab bagi kulit, memberi lapisan minyak yang hampir sama dengan sebum,
membuat tangan dan badan menjadi lembut, tetapi tidak berasa berminyak dan mudah
dioleskan. Hand and body lotion (losio tangan dan badan) merupakan sebutan umum
bagi sediaan ini di pasaran (Sularto, et al, 1995).
Sediaan lotion tersusun atas komponen zat berlemak, air, zat pengemulsi dan
humektan. Komponen zat berlemak diperoleh dari lemak maupun minyak dari
tanaman, hewan maupun minyak mineral seperti minyak zaitun, minyak jojoba,
minyak parafin, lilin lebah dan sebagainya. Zat pengemulsi umumnya berupa
surfaktan anionik, kationik maupun nonionik. Humektan bahan pengikat air dari
udara, antara lain gliserin, sorbitol, propilen glikol dan polialkohol (Jellineck, 1970).
Adapun bahan penyusun lotion antara lain campuran dari air, emolien,
humektan, bahan pengental, pengawet, dan pewangi (Mitsui 1997). Air merupakan
komponen yang paling besar persentasenya dalam pembuatan skin lotion. Air yang
digunakan dalam pembuatan lotion adalah air murni yang berfungsi sebagai pelarut
(Departemen Kesehatan 1993).
Hasil analisa lemak biji kakao diperoleh bahwa biji kakao mengandung 11
macam

asam

lemak

yaitu

miristat,

pentadekanoat,

palmitat,

palmitoleat,

heptadekanoat, stearat, oleat, linoleat, linolenat, arakhidat, dan behenat. Di dalam


lemak alam terdapat kira-kira 20 macam asam lemak yang dapat bergabung dengan
gliserol. Asamasam lemak ini masing-masing berbeda dalam panjang rantai karbon
dan jumlah atom H pada ikatan karbon.
Secara umum lemak kakao terdiri dari beberapa asam lemak yaitu asam
palmitat 24,3%, asam stearat 35,4%, asam oleat 38,2% dan asam linoleat 2,1%.
Lemak kakao sebagian besar tersusun dari lemak jenuh tetapi lemak kakao adalah
lemak nabati yang sama sekali tidak mengandung kolesterol. Lemak kakao juga

mengandung vitamin E dimana dapat berfungsi sebagai emolien dan dapat mencegah
pengerutan dan penuaan pada kulit (Ikrawan, 2005).
Emollient (pelunak, zat yang mampu melunakkan kulit) didefinisikan sebagai
sebuah media yang jika digunakan pada lapisan kulit kering akan mempengaruhi
kelembutan kulit. Bahan ini mengisi ruang antar sel kulit, membantu menggantikan
lemak sehingga dapat melembutkan dan melumasi (Mariani 2007). Lotion dengan
emollient dapat membuat kulit terasa nyaman, kering, dan tidak berminyak. Rasa
nyaman setelah pemakaian skin lotion disebabkan emollient memiliki titik cair yang
lebih tinggi dari suhu kulit. Bahan-bahan yang berfungsi sebagai emollient adalah
minyak mineral, ester isopropil, turunan lanolin, trigliserida, dan asam lemak
(Schmitt 1996). Humektan merupakan salah satu bagian terpenting pada skin lotion
karena

merupakan

mempertahankan

zat

yang

kandungan

melindungi
air

produk

emulsi
saat

dari

pemakaian

kekeringan
pada

dengan

permukaan

kulit.Humektan yang dapat digunakan dalam skin lotion yaitu gliserin, propilen
glikol, dan sorbitol dengan kisaran penggunaan 0,5-15%. Bahan pengental (thickener)
digunakan untuk mengatur kekentalan dan mempertahankan kestabilan produk
dengan mencegah terpisahnya partikel dari emulsi. Penggunaan thickener dalam
pembuatan skin lotion biasa digunakan dalam proporsi yang kecil yaitu di bawah
2,5%. Emulsifier atau pengemulsi merupakan bahan yang penting dalam pembuatan
skin lotion karena memiliki gugus polar maupun non polar dalam satu molekulnya,
sehingga pada satu sisi akan mengikat minyak yang non polar dan di sisi lain juga
akan mengikat air yang polar. Pengawet dapat ditambahkan pada produk sebesar 0,10,2%. Pengawet juga harus ditambahkan pada suhu yang tepat pada saat proses
pembuatan, yaitu antara

35-45 oC agar tidak merusak bahan aktif yang terdapat

dalam pengawet tersebut. Pengawet yang baik memiliki persyaratan, yaitu efektif
mencegah tumbuhnya berbagai macam organisme yang dapat menyebabkan
penguraian bahan, dapat larut dalam berbagai konsentrasi yang digunakan, dan tidak
menimbulkan bahaya pada kulit. Pewangi ditambahkan pada lotion sebagai upaya
meningkatkan nilai produk. Jumlah pewangi yang ditambahkan harus serendah

mungkin, yaitu berkisar antara 0,1-0,5%. Pada proses pembuatan skin lotion, pewangi
dicampurkan pada suhu 35 oC agar tidak merusak emulsi yang sudah terbentuk
(Schmitt 1996).
Daftar Pustaka

Departemen Kesehatan. 1993. Kodeks Kosmetik Indonesia. Ed. II VoL.I. Jakarta:


Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Ikrawan, Y. (2005). Rahasia di Balik Enaknya Cokelat. Hikmah, Minggu 13
Nopember 2005.
Jellineck, S. (1970). Formulation and Function of Cosmetics. Wiley Interscience,
New York
Mariani
R.
2007.
Alginat
dibutuhkan
kalangan
http://www.pikiranrakyat.com/cetak/1204/09/cakrawala/lain05.htm.

industri.

Mitsui. 1997. New Cosmetic Science. New York: Elsevier.


Schmitt WH. 1996. Skin Care Products. Di dalam Williams DF and Schmitt WH,
editor. Chemistry and Technology of The Cosmetics and Toiletries Industry. 2nd
Ed. London: Blackie Academe and Profesional.
Sularto, S. A. dkk. (1995). Pengaruh Pemakaian Madu sebagai Penstubtitusi
Gliserin dalam Beberapa Jenis Krim Terhadap Kestabilan Fisiknya. Laporan
Penelitian, LP Unpad.