You are on page 1of 28

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK


DENGAN GANGGUAN PSIKOSOSIAL-DEPRESI
D
I
S
U
S
U
N
Oleh:
Kelompok X
1. Ordineri E. S. Zega (03.51)
2. Pebriani Manurung (03.52)
3. Realita Waruwu (03.55)

4. Robintang Pardede (03.56)


5. Rosarina Zebua (03.57)
6. Yosi Ariga Silalahi (03.71)

7.
8. Dosen Pembimbing : Agustaria Ginting, S. KM
9.

10.
11.
12. PROGRAM STUDI NERS TAHAP AKADEMIK
13. SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SANTA ELISABETH
MEDAN
14. 2015-2016

15. KATA PENGANTAR


16.
17.

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha

Kuasa atas rahmat dan pertolongan-Nya, penulis mampu menyelesaikan makalah


dengan judul Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Gangguan Psikososial :
Depresi, dengan baik dan tepat waktu.
18.

Dalam penulisan dan penyususnan makalah ini, penulis

mengucapkan banyak terimakasih kepada dosen pembimbing yang telah


mengarahkan dan membimbing penulis sehingga makalah in dapat terselesaikan.
19.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan dan penyusunan makalh

ini, masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu kritikan dan saran yang membangun
sangat kami harapkan sebagai perbaikan dimasa yang akan datang
20. Akhirkata penulis ucapkan terimakasih.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27. Medan, Desember 2015
28. Penulis,
29.
30. Kelompok X
31.

32. BAB 1
33. PENDAHULUAN
34. 1.1 Latar Belakang
35. Lansia adalah keadaan yang ditandai oleh kegagalan seseorangg untuk
mempertahankan

keseimbangan

terhadap

kondisi

stres

fisiologis.

Kegagalan ini berkaitan dengan penurunan daya kemampuan untuk hidup


serta peningkatan kepekaan secara individual. Lansia bukan suatu
penyakit, namun merupakan tahap lanjut dari suatu proses kehidupan yang
ditandaai dengan penurunan kemampuan tubuh untuk beradaptasi dengn
stress lingkungan (Efendi & Makhudli,2013).
36. Peningkatan populasi lansia tentunya akan diikuti dengan peningkatan
risiko untuk menderita penyakit kronis seperti diabetes melitus, penyakit
serebrovaskuler,

penyakit

jantung

koroner,

osteoartritis,

penyakit

musculoskeletal, dan penyakit paru (Wu SY, Green A, 2000). Untuk itu
pelayanan lansia dimasyarakat bertujuan untuk meningkatkan kepedulian
dan pengetahuan masyarakat tentang lansia. Pelayanan kesehatan meliputi
upaya promotif preventif, kuratif, rehabilitatif dan mendorong aktifitas
(Huda, dkk,2011)
37.

Depresi menurut WHO (World Health Organization) merupakan

suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan, kehilangan
kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri rendah, gangguan makan
atau tidur, kurang energi, dan konsentrasi yang rendah.

Depresi menyerang

hampir 10 juta orang Amerika dari semua kelompok usia, kelas sosial ekonomi,
ras dan budaya. Diantara lansia, depresi terus menjadi masalah kesehatan mental
yang serius meskipun pemahaman

kita tentang tentang penyebab dan

perkembangan pengobatan farmakologis dan psikoterapeutik sudah sedemikian


maju. Studi epidemiologis tentang depresi diantara lansia yang ada dikomunitas
melaporkan tingkat yang sangat bervariasi, dari 2 sampai 44% bergantung pada
kriteria yang digunakan untuk mendefenisikan depresi (mis Kriteria DSM-IV

yang ketat versus rasa putus asa dan alam perasaan rendah) dan metode yang
digunakan untuk mengevaluasi hal tersebut (mis.,keluhan sendiri atau skala dasar
singkat versus evaluasi psikiatrik klinis mendalam) (Irawan, 2013).
38.

Studi yang paling tepat menyatakan bahwa gejala-gejala penting

dari depresi yang menyerang kira-kira 10 sampai 15% dari semua orang yang
berusia lebih dari 65 tahun yang tidak diinstitusionalisasi. Gejala-gejala depresif
ini sering berhubungan dengan penyesuaian yang terlambat terhadap kehilangan
dalam hidup dan stresor-stresor (mis pensiun yang terpaksa kematian pasangan)
dan penyakit-penyakit fisik. Angka depresi meningkat secara drastis diantara
lansia yang berada diinstitusi, dengan sekitar 50% sampai 75% penghuni
perawatan jangka panjang memiliki gejala depresi ringan sampai sedang. Dari
jumlah itu, angka yang signifikan dari orang dewasa yang tidak terganggu secara
kognitif (10 sampai 20%) mengalami gejala-gejala yang cukup parahuntuk
memenuhi kriteria diagnostik depresi klinis. Oleh karena itu depresi merupakan
masalah kesehatan masyarakat yang signifikan; merupakan gangguan pskiatrik
yang paling banyak tejadi pada lansia tetapi untungnya paling dapat diobati.
Hampir 80% penderita depresi berhasil diobati dan kembali sehat.
39.

Meskipun depresi banyak terjadi dikalangan lansia, depresi ini

sering salah didiagnosis atau diabaikan. Sejumlah faktor yang menyebabkan


keadaan ini, mencakup fakta bahwa pada lansia, depresi dapat disamarkan atau
tersamarkan oleh gangguan fisik lainnya. Selain itu isolasi sosial, sikap orang tua,
penyangkalan, pengabaian terhadap proses penuaan normal menyebabkan tidak
terdeteksi dan tidak tertanganinya gangguan ini. Sayangnya, beberap profesional
kesehatan dan banyak lansia masih salah memandang depresi sebagai bagian
alami dari pertumbuhan lansia dan oleh karena itu gagal membedakan antara
perilaku yang diharapkan dan penyakit yang dapat diobati.
40.

Hal ini tidak menguntungkan karena berbagai alasan. Depresi

dapat memperpendek harapan hidup dengan mencetuskan atau memperburuk


kemunduran fisik. Dampak terbesarnya sering terjadi diare-area tempat kepuasaan
dan kualitas hidup menurun, menghambat pemenuhan tugas-tugas perkembangan

lansia. Lebih lanjut lagi, depresi dapat menguras habis emosi dan finansial orang
yang terkena juga pada keluarga dan sistem pendukung sosial informal dan formal
yang dimilikinya. Akhirnya, angka bunuh diri yang tinggi menjadi konsekuensi
yang serius dari depresi yang tidak ditangani. (Stanley Mickey.2006).
41. 1.2 Tujuan
42. 1.2.1 Tujuan Umum
43.

Agar Mahasiswa/i Mampu Memberikan Asuhan Keperawatan

Gerontik dengan gangguan Psikososial dengan Depresi


44. 1.2.2 Tujuan Khusus
1

Mampu melakukan pengkajian Asuhan keperawatan Gerontik dengan


Depresi

Mampu diagnosa dalam Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Depresi

Mampu melakukan intervensi dalam Asuhan Keperawatan Gerontik


dengan Depresi

45.

46.

47. BAB 2
48. TINJAUAN TEORITIS
49. 2.1 Konsep Medis
50. 2.1.1 Pengertian Depresi
51.

Depresi menurut WHO (World Health Organization) merupakan


suatu gangguan mental umum yang ditandai dengan mood tertekan,
kehilangan kesenangan atau minat, perasaan bersalah atau harga diri
rendah, gangguan makan atau tidur, kurang energi, dan konsentrasi yang
rendah. Masalah ini dapat akut atau kronik dan menyebabkan gangguan
kemampuan individu untuk beraktivitas sehari-hari. Pada kasus parah,
depresi dapat menyebabkan bunuh diri (Irawan, 2013).
52.

Menurut Kapan dan Sadock ( 1998) dalam buku Aspiani (2014),

depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan
alam perasaan sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pada pola
tidurdan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, kelelahan, rasa putus asa dan tak
berdaya, serta gagasan bunuh diri. Depresi adalah suatu perasaan sedih dan
pesimis yang berhubungan dengan suatu penderitaan. Dapat berupa serangan yang
ditunjukan pada diri sendiri atau perasaan marah yang dalam (Aspiani (2014).
53.

Depresi adalah gangguan alam perasaan yang ditandai oleh

kesedihan, harga diri rendah, rasa bersalah, putus asa, perasaan kosong (Keliat,
1996).
54.

Sedangakan menurut hawai (1996) depresi adalah bentuk

gangguan kejiwaan pada alam perasaan (mood), yang ditandai dengan


kemurungan, kelesuhan, ketidakgairahan hidup, perasaan tidak berguana dan
putus asa.
55. 2.1.2 Etiologi
56. Menurut Stuard dan Sudeen (1998), faktor penyebab depresi adalah:

1. Faktor Predisposisi
a. Faktor genetik, dianggap mempengaruhi transmisi gangguan afektif
melalui riwayat keluarga dan keturunan
b. Teori agresi menyerang kedalam, menunjukan bahwa depresi terjadi
karena perasaan marah yang ditunjukan kepada diri sendiri.
c. Teori kehilangan objek, menunjuk kepada perpisahan traumatika individu
dengan benda atau yang sangat berarti.
d. Teori organisasi kepribadian, menguraikan bagaimana konsep diri yang
negatif dan harga diri rendah mempengaruhi sistem keyakinan dan
penilaian seseorang terhadap stressor.
e. Model kognitif, menyatakan bahwadepresi merupakan masalh kognitif
yang didominasi olleh evaluasi negatif seseorang terhadap diri seseorang,
dunia seseorang dan masa depan seseorang.
f. Model ketidakberdayaan yang dipelajari

(learned

helplessness),

menunjukan bukan semata-mata trauma menyebabkan depresi tetapi


keyakinan bahwa seseorang tidak mempunyai kendali terhadap hasil yang
penting dalam kehidupannya, oleh karena itu ia mengulang respon yang
tidak adaptif.
g. Model perilaku, berkembang dari teori belajar sosial, yang mengasumsi
penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif dalam
berinteraksi dengan lingkungan.
h. Model biologik, menguraikan perubahan kimia dalam tubuh yang terjadi
selama depresi, termasuk defenisi katekolamin, disfungsi endokri,
hipersekresi kortisol, dan variasi periodik dalam irama biologis.
57.
(Aspiani (2014).
2. Stresor Pencetus
58.
Ada 4 sumber utamayang dapat mencetuskan gangguan alam
perasaan (depresi) menurut Stuart dan Sundeen (1998), yaitu:
a. Kehilangan keterikatan yang nyata atau dibayangkan, termasuk kehilangan
cinta seseorang, fungsi fisik, kedudukaan dan harga diri. Karena elemen
aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan, maka persepsi
seseorang merupakan hal sangat penting.
b. Peristiwa besar dalam kehidupan, hal ini sering dilaporkan sebagai
pendahulu episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalahmasalah yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah

c. Peran

dan

ketegangan

peran

telah

dilaporkan

mempengaruhi

perkembangan depresi, terutama wanita.


d. Perubahan fisiologik oleh obat-obatan atau berbagai penyakit fisik. Seperti
infeksi, neoplasma, dan gangguan keseimbangan metabolik, dapat
menetuskan gangguan alam perasaan. Diantara obat-obatan tersebut
terdapat obat anti hipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan
kecanduan. Kebanyakan penyakit kronik yang melemahkan tubuh juga
sering disertai depresi.
59.

Menurut Towsend (1998), penyebab depresi adalah gangguan dari

faktor predisposisi (teori biologis terdiri dari genetik dan biokimia), dan
faktor pencetus (teori psikososial terdiri dari psikoanalisis, kognitif, teori
pembelajaran, teori kehilangan objek). (Aspriani, 2014)
3. Kondisi medis yang dapat menyebabkan depresi
a. Infeksi virus
b. Endokrinopati hipotiroid, hipertiroid, hipoparatiroid, hiperparatiroid,
hipoadrenokortikoid, hiperadrenokortikoid
Penyakit maligna leukemia, limfoma, kanker pankreas
Penyakit serebrovaskular infark lakunar, stroke, demensia vaskular
Infark miokard
Penyakit metabolik defi siensi B12, malnutrisi
60.
4. Ada lima (5) pendekatan penyebab depresi pada lansia menurut Samium
(2006) yakni:
a. Pendekatan Psikodinamik
61. Salah satu kebutuhan manusia adalhkebutuhan dicintai dan
c.
d.
e.
f.

mencintai, rasa aman dan terlindungi, keinginan untuk dihargai,


dihormati, dll.
b. Pendekatan Perilaku Belajar
62. Salah satu hipotesis untuk menjelaskan depresi pada lansia adalah
individu yang kurang menerima hadiah (reward) atau penghargaan dan
hukuman (punishement) yang lebih banyak dibandingkan individu yang
tidak depresi.
c. Pendekatan kognitif
63. Negative cognitive sets digunakan individu secara otomatis dan
tidak

menyadari

adanya

distorsi

pemikiran

dan

adanya

interpretasialternatif yang lebih positif, sehingga menyebabkan tingkt


aktifitas berkurang krena merasa tidak ada alasan berusaha.
d. Pendekatan humanistik-Eksitensial
64. Teori humanistik dan eksistensial berpendapat bahwa depresi
terjadi karena adanya ketidakcocokan antara reality self dan ideal selff.
Individu yang menyadari jurang yang dalam antara reality self dan ideal
self dan tidak dapat dijangkau sehingga menyerah dalam kesedihan dan
tidak berusaha mencapai aktualisasi diri.
e. Pendekatan Fisiologis
65. Teori fisiologis menerangkan bahwa depresi terjadi karena aktifitas
neurologis yang rendah pada sinaps-sinaps otak yang berfungsi
mengatur kesenangan.
5. Faktor-faktor yang mmenyebabkan terjadinya depresi pada lanjut usia
yang tinggal dalam institusional seperti tinggal di panti Wreda:
a. Faktor psikologis
66.Motivasi masuk panti Wreda sangat penting bagi lanjut usia untuk
menentukan tujuan hidup dan apa yang ingin dicapai dalam kehidupn
dipnti. Tempat dan situasi yang baru, orang-orang yang belum dikenal,
aturan dan nilai-nilai yang berbeda, dan keterasingan merupakan
stressor bagi lansia yang membutuhkan penyesuaian dirinya. Adanya
keinginan dan motivasi lansia untuk tinggal di pantai akan
membuatnya bersemangat meningkatkan toleransi dan kemampuan.
67.
b. Faktor Psikososial
68.Kunjungan keluarga yang kurang, berkurangnya interaksi sosial
dan dukungan sosial mengakibatkan penyesuaian diri yang negatif
pada lansia. Menurunya kapasitas hubungan keakraban dengan
keluarga dan berkuranya interaksi dengan keluarga yang dicintai dapat
menimbulkan perasaan tidak berguna, merasa disingkirkan, tidak
dibutuhkan lagi dan kondisi ini dapat berperan terjadinya depresi.
c. Faktor Budaya
69.Perubahan sosil ekonomi dan nilai sosial masyarakat,
mengakibatkan kecenderungan lansia tersisihkan dan terbengkalai
tidak mendapatkan perawatan dan banyak memilih untuk menaruhnya
di panti lansia.

70. (Aspiani (2014).


5.1.3 Manifestasi Klinis
1. Afektif
71. Kemarahan, ansietass, apatis, kekesalan, penyangkalan perasaan,
kemurungan, rasa bersalah, ketidakberdayan, keputusasaan, kesepian,
harga diri rendah, kesedihan.
2. Fisiologis
72. Nyeri abdomen, anoreksia, sakit punggung, konstipasi, pusing,
keletihan, gangguan pencernaan, gngguan tidur, dan perubahan berat
badan.
3. Kognitif
73. Ambivalensi,

kebingungan,

ketidakmampuan

berkonsentrasi,

kehilanagan minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri, mencela diri


sendiri, pikiran yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis,
ketidakpastian.
4. Perilaku
74. Agresif, agitasi, alkoholisme, perubahan aktifitas, kecanduan obat,
intoleransi, mudah tersinggung, krang spontanitas, sangat tergantung,
kebersamaan diri yang kurang, isolasi sosial, mudah menagis, dan
5.1.4

menarik diri. (Aspiani,2014).


Tingkatan Depresi

75.

Menurut PPDGJ-III (Maslim,1997) tingkatan depresi ada 3 berdasarkan

gejala-gejalanya yaitu:
1. Depresi ringan :
a. Kehilangan minaat dan kegembiraan
b. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
dan menurunnnya aktifitas
c. Konsentrasi dan perhatian yang kurang
d. Harga diri dan keprcayaan diri yang kurang
2. Depresi sedang
a. Kehilanagan minat dan kegembiraan
b. Berkurangnya energi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
dan menurunnya aktifitas.
c. Konsentrasi dan perhatian yang kurang
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimis
3. Depresi berat
a. Mood depresif

b. Kehilangan minat dan kegembiraan


c. Berkurangnya enerrgi yang menuju meningkatnya keadaan mudah lelah
(rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja) da menurunnya
aktifitas.
Konsentrasi da perhatian yang kurang
Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna
Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
Perbuatan yang membahaykan dirinya sendiiri atau bunuh diri
Tidur tergaanggu
Diserti waham, halusinasi
Lamanya gejala tersebut berlangsung selama 2 minggu

d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
76.
5.1.5

(Aspiani,2014).

Karakteristik Depresi pada Lanjut Usia

77. Samium mengambarkan gejala depresi pada lansia:


1. Kognitif
78.

Sekurang-kurangnya ada 6 proses kognitif pad lansi yang

menunjukan gejala depresi.


a. Mereka berpikir tidak adekuat, merasa diri tidak mampu merasa diri tidak
berarti, merasa rendah diri merasa bersalah
b. Lansia selalu pesimis dalam menghdapi masalah dan segala sesuatu yang
dijalaninya menjadi buruk dan kepercayaan terhadap dirinya yang tidak
adekuat
c. Memiliki motivasi yang kurang dalam menjalani hidupnya, selalu
meminta bantuan dan melihat semuanya gagal dan sia-sia sehingga
merasa tidak ada gunanya berusaha
d. Membesar-besarkan masalah dan selalu pesimistik menghadapi masalah.
e. Proses berpikir menjadi lambat, perfomance intelektualnya berkurang
f. Generalisasi dan gejala depresi , harga diri rendah, pesimisme, dan
kurangnya motivasi.
2. Afektif
79.
Lansia akan merasa tertekan, murung, sedih, putus asa, kehilangan
semangat dan muram. Sering merasa terisolasi, ditolak dan tidak dicintai
3. Somatik

80.

Pola tidur terganggu, gangguan pola makan dan dorongan seksual

yang berkurang, rentan terhadap penyakit karena kekebalan ttubuh lansia


lemah, dan sel darah putih berkurang karena aging proces.
4. Psikomotor
81.
Retardasi motor, sering duduk terkulai, tatapan kosong tanpa
ekspresi, berbicara sedikit dengan kaliamat datar dan sering menghentikan
pembicaran karena tidak memiliki tenaga atau minat yang cukup untuk
menyelesaikan kalimat itu.
82. 1.2.6 Depresi Lanjut Usia pasca Kuasa (Post Power Syndrom)
83.

Depresi pada masa ini adalah perasaan sedih yang mendalam yang
dialami seseorang setelah mengalami pensiun. Salah satu faktor penyebab
depresi pada pasca kuasa adalah karena adanya perubahan yang berkaitan
dengan pekerjaan atau kekuasaan setelah pensiun. Meskipun pada
kenyataannyaa pensiun tujuan idealnya adalah agar lansia dapat menikmati
hari tua dan jaminan hari tua, namaun seringkali lansia merasa kehilangan
pekerjaan, penghasilan, kedudukan, jabatan, peran, kegiatan, status dan
harga diri (Aspiani,2014).

84. 1.2.7 Skala Pengukuran Depresi pada Lansia


85. Gejala depresi pada lansia diukur menurut tingkatan sesuai dengan gejala
yang termanifestasi, jika dicurigai terjadi depresi harus dilakukan pengkajian
dengan alat pengkajian yang terstandarisasi dan dapat dipercaya serta valid dan
memang dirancang untuk diujikan pada lansia. Salah satu yang paling mudah
digunakan adalah untuk diinterpretasikan diberbagai tempat baik oleh peneliti
maupun praktis klinis adalah Geriatric Depression Scale (GDS). Alat ini terdiri
daari 30 poin pertanyaan dibuat sebagai alat penapisan depresi pada lansia. GDS
menggunakan format laporan sederhana yang diisi sendir dengan menjawab ya
atau tidak.
a. 0-10 menunjukan tidak ada depresi
b. 11-20 menunjukan depresi ringan

c. 21-30 termasuk depresi depresi sedang/berat yang membutuhkan rujukan


guna mendapatkan evaluasi psikiatrik terhadap depresi secara lebih rinci,
karena GDS hanya merupakan alat penapisan.
86. 2.1.8 Upaya Penanggulangan Depresi Pada Lansia
1. Pendekatan Psikodinamik
87. Pendekatan ini hanya untuk menghilangkan gejala, tetapi juga untuk
mendapatkan perubahan struktur dan karakteristik kepribadian yang
bertujuan untuk perbaikan kepercayaan pribadi, keintiman, mekanisme
mengatasi stresor, dan kemampuan untuk mengalami berbagai macam
1.
2.
3.
4.

emosi.
Pendekatan Perilaku Belajar
Pendekatan Kognitif
Pendekatan Humanistik Eksistensial
Pendekatan Farmakologis

88. 2.1.9 Penatalaksaan Medis


89.

Tata laksana depresi pada lansia dipengaruhi tingkat keparahan dan


kepribadian masingmasing. Pada depresi ringan dan sedang, psikoterapi
merupakan tata laksana yang sering dilakukan dan berhasil. Akan tetapi,
pada kasus tertentu atau pada depresi berat, psikoterapi saja tidak cukup,
diperlukan farmakoterapi.
90.

Banyak orang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekat

terutama keluarga dan teman, keikutsertaan dalam kegiatan kelompok, atau


berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk mengatasi depresi. Selain itu,
mengatasi masalah terisolasi ketika memasuki usia lanjut merupakan salah satu
bagian penting dalam penyembuhan dan dapat mencegah episode kekambuhan
penyakit. Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktif dalam kegiatan kelompok
di lingkungan merupakan bagian penting dalam kesehatan dan dapat
meningkatkan kualitas hidup. Pada umumnya, tata laksana terapi hanya
menggunakan obat antidepresan, tanpa merujuk pasien untuk psikoterapi, tetapi
obat hanya mengurangi gejala, dan tidak menyembuhkan. Antidepresan bekerja

dengan cara menormalkan neurotransmiter di otak yang memengaruhi mood,


seperti serotonin, norepinefrin, dan dopamin. Antidepresan harus digunakan pada
lansia dengan depresi mayor dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs)
merupakan obat pilihan pertama. Beberapa obat antidepresan yang dapat
digunakan pada lansia dengan kelebihan dan kekurangan tiap golongan. Pemilihan
obat tersebut per individu dengan pertimbangan efek samping dari tiap golongan.
Pengobatan monoterapi dengan dosis minimal digunakan pada awal terapi,
dievaluasi apabila tidak ada perubahan bermakna dalam 6-12 minggu.
91.

Lansia yang tidak berespons pada pengobatan awal perlu

mendapatkan obat antidepresan golongan lain dan dapat dipertimbangkan


penggunaan dua golongan antidepresan. Pada lansia yang responsif dengan obat
antidepresan, obat harus digunakan dengan dosis penuh (full dose maintenance
therapy) selama 6-9 bulan sejak pertama kali hilangnya gejala depresi. Apabila
kambuh, pengobatan dilanjutkan sampai satu tahun. Strategi pengobatan tersebut
telah berhasil menurunkan risiko kekambuhan hingga 80%. Penghentian
antidepresan harus dilakukan secara bertahap agar tidak menimbulkan gejala
withdrawal seperti ansietas, nyeri kepala, mialgia, dan gejala mirip fl u (fl u-like
symptoms). Lansia yang sering kambuh memerlukan terapi perawatan dosis
penuh terapi selama hidupnya.
92.

Selain farmakoterapi dengan obat antidepresan, psikoterapi (talk

therapy) memiliki peranan penting dalam mengobati berbagai jenis depresi.


Psikoterapi dilakukan oleh psikiater, psikolog terlatih, pekerja sosial, atau
konselor. Pendekatan psikoterapi dibagi dua, yaitu cognitive-behavioral therapy
(CBT) dan interpersonal therapy. CBT terfokus pada cara baru berpikir untuk
mengubah perilaku, terapis membantu penderita mengubah pola negatif atau pola
tidak produktif yang mungkin berperan dalam terjadinya depresi. Interpersonal
therapy membantu penderita mengerti dan dapat menghadapi keadaan dan
hubungan sulit yang mungkin berperan menyebabkan depresi.4,8 Banyak
penderita mendapat manfaat psikoterapi untuk membantu mengerti dan
memahami cara menangani faktor penyebab depresi, terutama pada depresi

ringan; jika depresi berat, psikoterapi saja tidak cukup, karena akan menimbulkan
depresi berulang.
93. 2.2 Asuhan Keperawatan Klien Depresi
94. 2.2.1 Pengkajian
1. Identitas Klien
95. Identitas klien yang biasa dikaji pada klien dengan depresi adalah usia
karena banyak klien lansia yang mengalami depresi.
2. Keluhan Utama
96. Keluhan utama yang sering ditemukan pada klien dengan masalah
psikososial : Depresi adalah klien kehilangan minat dan kegembiraan,
kehilangan mood.
3. Riwayat Kesehatan Sekarang
97. Riwayat kesehatan sekarang saat ini berupa uraian mengenai keadaan klien
saat ini mulai timbulnya keluhan yang dirasakan sampai saat dilakukan
pengkajian.
4. Riwayat Kesehatan Dahulu
98. Riwayat kesehatan yang lalu seperti riwayat adanya masalah psikososial
sebelumnya dan bagaimana penanganannya.
5. Riwayat Kesehatan Keluarga
99. Yang perlu dikaji apakah dalam keluarga ada yang mengalami gangguan
psikologi seperti yang dialami oleh klien, atau adanya penyakit genetik
yang mempengaruhi psikososial.
6. Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan Umum
100.
Keadaan umum klien lansia yang mengalami masalah
psikososial : Depresi biasanya lemah.
b) Kesadaran
101.
Kesadaran klien biasanya Composmentis.
c) Tanda-Tanda Vital
a. Suhu dalam batas normal (37oC).
b. Nadi meningkat atau normal (N : 70-82 x/menit)
c. Tekanan darah kadang meningkat atau menurun.
d. pernafasan biasanya mengalami normal atau meningkat.
102.

d) Pemeriksaan Review Of System (ROS)


1. Sistem Pernafasan (B1 : Breathing)

103.

Dapat ditemukan peningakatan frekuensi napas atau masih

dalam batas normal.


2. Sistem Sirkulasi (B2 : Bleeding)
104. Dapat ditemukan adanya

perubahan

(meningkat) atau masih dalam batas normal.


3. Sistem Persyarafan (B3 : Brain)
105. Klien apatis, agitasi, gangguan

frekuensi

kosentrasi,

nadi

kurang

perhatian, gangguan persepsi sensori, isnomnia.


4. Sistem Perkemihan (B4 : Bleder)
106. Perubahan pola berkemih, seperti poliuria atau disuria.
5. Sistem Pencernaan (B5 : Bowel)
107. Klien dapat mengeluh nyeri abdomen, gangguan
pencernaan, makan berlebihan atau kurang, konstipasi, perubahan
berat badan.
6. Sistem Muskuluskeletal (B6 : Bone)
108. Klien mengeluh nyeri otot, nyeri punggung.
7. Pola Fungsi Kesehatan
109. Yang perlu dikaji adalah aktifitas apa saja yang biasa
dilakukan sehubungan dengan adanya masalah psikososial
depresi :
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
110.
Klien mengalami gangguan

persepsi,

klien

mengalami gangguan dalam memelihara dan menangani


masalah kesehatannya.
b. Pola Nutrisi
111.
Klien dapat mengalami makan berlebih / kurang,
kadang tidak nafsu makan dan nyeri abdomen.
c. Pola Eliminasi
112.
Klien mengalami poliuria atau disuria, klien juga
kadang mengalami konstipasi.
d. Pola tidur dan istirahat
113.
Klien mengalami konstipasi
e. Pola aktifitas dan istirahat
114.
Klien mengalami gangguan dalam pemenuhan
aktifitas sehari-hari karena penurunan minat. Pengkajian
kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan aktivitas seharihari dapat menggunakan indeks KATZ.
f. Pola hubungan dan peran

115.

Menggambarkan dan mengetahui hubungan dan

peran klien terhadap anggota keluarga dan masyarakat tempat


tinggal, pekerjaan, tidak punya rumah, dan masalah keuangan.
116.

Pengkajian APGAR Keluarga (Tabel Apgar Keluarga).

1. Pola sensori dan kognitif


117.
Klien mengalami ambivalensi, kebingungan, ketidakmampuan
berkonsentrasi, kehilangan minat dan motivasi, menyalahkan diri sendiri,
pikiran yang destruktif tentang diri sendiri, pesimis dan ketidakpastian,
mudah tersinggung, emosi labi dan disorientasi.Untuk mengetahui status
mental klien dapat dilakukan pengkajian menggunakan Tabel Short
118.
Portable Mental Status Quesionare(SPMSQ)
2. Pola persepsi dan konsep diri
119.
Klien mengalami gangguan konsep diri, perasaan murung, rasa
bersalah, ketidakberdayaan, keputusasaan, kesedihan, harga diri rendah,
klien menarik diri dan isolasi sosial. Untuk mengkaji tingkat depresi klien
dapat menggunakan Tabel Inventaris Depresi Beck (IDB) Atau Geriatric
Depresion Scale (GDS).
3. Pola seksual dan reproduksi
120.
Klien mengalami penurunan minat terhadap pemenuhan kebutuhan
sosial.
4. Pola mekanisme / penanggulangan stress dan kopin
121.
Klien menggunakan mekanisme koping yang tidak efektif dalam
menangani stress.
5. Pola tata nilai dan kepercayaan
122.
Klien tidak mengalami gangguan dalam spiritual.
123.
124.
125.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

1. Harga Diri Rendah Situsional berhubungan dengan gangguan gambaran


diri, proses kehilangan, perubahan peran sosial, kurangnya pengakuan /

penghargaan ditandai dengan klien menunjukkan perilaku tidak asertif,


klien menganggap diri tidak berdaya, tidak berguna.
2. Kurang tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik dan psikologis
yang lama ditandai dengan klien tampak mengantuk sepanjang hari,
penurunan kemampuan fungsi, klien tampak lelah, latergi, gelisah,
sensitifitas tinggi, tidak bergairah, reaksi lambat, sulit berkonsentrasi,
gangguan persepsi, kebingungan.
3. Resiko bunuh diri berhubungan dengan hidup sendiri, pensiun,
ketidakstabilan ekonomi, kehilangna kemandirian, penyakit kronis,
kehilangan relasi penting, kehidupan keluarga yang kacau, kesedihan,
kehilangan, support sistem yang kurang, kesepian, putua asa, tidak
berdaya, isolasi sosial.
4. Sedih kronis berhubungan ketidakmampuan, ketergantungan pada
pelayanan kesehatan ditandai dengan klien secara berulang-ulang
mengespresikan kesedihan, klien menunjukkan perasaan sedih yang sangat
hebat, berulang, semakin lama makin hebat dan dapat mempengaruhi
kemampuan untuk menjangkau level personal tertinggi dan keadaan sehat
secara sosial, klien menunjukkan satu atau lebih perasaan tambahan :
Marah, kesalahpahaman, bingung, depresi, kekecewaan, merasa sedih,
harga diri rendah, kehilangan yang berulang, gembira yang berlebihan.
5. Isolasi sosial berhubungan dengan status mental, ketidakmampuan
menciptakan hubungan pribadi, tidak adekuat sumber pribadi, minat yang
tidak sesuai, penampilan fisik tidak sesuai ditandai dengan klien
menunjukkan tidak ada dukungan dari orang yang penting, perilaku
bermusuhan / pertengkaran, menarik diri, tidak komunikatif,tidak ada
aktivitas baru, asyik dengan pikirannya, tidak ada kontak mata, aktivitas
tidak sesuai dengan usia, kerusakan fisik / mental, sedih, klien
mengespresikan perasaan menyendiri, penolakan.
6. Defisit perawatan diri : Mandi / kebersihan berhubungan dengan
menurunnya

atau

berkurangnya

motivasi

ditandai

dengan

klien

mengatakan adanya ketidakmampuan dalam membersihkan sebagian atau


seluruh badan , menyediakan sumber air mandi,mengatur suhu air mandi

reguler, mendapatkan peralatan mandi, mengeringkan badan, masuk dan


keluar dari kamar mandi.
7. Defisit perawatan diri : Berpakaian / berhias berhubungan dengan
menurunnya atau berkurangnnya motivasi ditandai dengan klien
mengatakan adanya ketidakmampuan dalam mengenakan atau melepaskan
pakaian yang perlu, mengenakan pakaian atas dan bawah, memilih pakaian
dan dan mengambil pakaian.
8. Defisit perawatan diri : Makan berhubungan dengan menurunnya atau
berkurangnya motivasi ditandai dengan klien mengatakan adanya
ketidakmampuan dalam menelan makanan, menyuap makanan, memegang
alat makan, mengunyah makan, menggunakan alat bantu untuk makan.
9. Defisit perawatan diri : Toileting berhubungan dengan menurunnya atau
berkurangnya motivasi ditandai dengan klien mengatakan adanya
ketidakmampuan dalam menggunakan pispot, pergi ke toilet, duduk atau
bangun dari toilet atau pispot, memenuhi kebersihan toileting, menyiram
toilet atau pispot
126.
127. 128.
N
p

2.2.3 Rencana Tindakan Keperawatan


Dx.Ke

129.
Nursing
Outcome
Classification(
NOC) / Tujuan
131. 132.
Harga
133.
Setelah
1
Diri Rendah
dilakukan
Situsional
tindakan
berhubungan
keperawatan
dengan
selama...x
gangguan
pertemuan
gambaran diri,
diharapkan
proses
klien
kehilangan,
menunjukkan
perubahan
Harga Diri
peran sosial,
yang adekuat
kurangnya
dengan
pengakuan /
kriteria :
penghargaan 1. Klien

130.
Nursing
Intervention Classification
(NIC)
/
Rencana
Keperawatan
134.
Peningkatan Harga
Diri
135.
(Self Esteem
Enhancement)
1. Dorong klien untuk
mengidentifikasi
kekuatannya
2. Dorong klien untuk
mempertahankan kontak
mata saat berkomunikasi
dengan orang lain
3. Berikan pengalaman yang
dpat meningkatkan
otonomi klien

ditandai
mengungkakpkan
dengan klien
kepercayaan diri
menunjukkan
secara verbal
2.
Klien
perilaku tidak
mempertahankan
asertif, klien
postur tubuh yang
menganggap
tegak
diri tidak
berdaya, tidak 3. Klien
memperthankan
berguna.
kontak mata
4. Klien menceritakan
keberhasilan dalam
pekerjaan dan
kelompok sosial
5. Klien memahami
kekuatan diri
6. Klien melakukan
perilaku yang dapat
meningkatkan rasa
percaya diri

136. 137.
Kuran
2
g tidur
berhubungan
dengan

138.
Setelah
dilakukan
tindakan
keperwatan

4. Bantu klien untuk


mengidentifikasi respon
positif dari orang lain
5. Jangan memberikan
kritikan negatif
6. Jangan menyindir klien
7. Berikan kepercayaan pada
kemampuan klien
mengendalikan situasi
8. Bantu klien untuk
membuat tujuan yang
realistis yang dapat
meningkatkan harga diri
9. Bantu klien untuk
menerima pertahanan dari
orang lain
10. Bantu klien untuk
mengeluarkan persepsi
negatif terhadap dirinya
sendiri
11. Dorong klien untuk
meningkatkan kemampuan
diri sesuai kebutuhan
12. Eksplorasi alasan
mengkritik diri sendiri
13. Dorong klien untuk
mengevaluasi perilakunya
14. Fasilitasi lingkungan dan
aktivitas yang dapat
meningkatkan harga diri
klien
15. Pantau frekuensi ungkapan
diri negatif klien
16. Pantau tingkat harga diri
klien setiap waktu sesuai
kebutuhan
17. Buatlah pernyataan yang
positif tentang klien
1. Peningkatan Tidur
2. (Sleep Enhancement)
3. Tentukan aktivitas dan pola
tidur klien

ketidaknyama
nan fisik dan
psikologis
yang lama
ditandai
dengan klien
tampak
mengantuk
sepanjang
hari,
penurunan
kemampuan
fungsi, klien
tampak lelah,
latergi,
gelisah,
sensitifitas
tinggi, tidak
bergairah,
reaksi lambat,
sulit
berkonsentrasi
, gangguan
persepsi,
kebingungan.

139. 140.
Isolasi
3
sosial
berhubungan
dengan status
mental,
ketidakmamp
uan
menciptakan
hubungan
pribadi, tidak
adekuat

1.

2.

3.

4.

5.

selama..... x
pertemuan
diharapkan
kebutuhan tidur
klien adekuat
dengan
kriteria :
Klien
mengungkapkan
perasaan segar
setelah tidur
Klien
mengungkapkan
tidak ada gangguan
pada pola, kualitas
dan rutinitas tidur
Klien tidak ada
gangguan pada
jumlah jam tidur
Klien bangun pada
waktu jam yang
sesuai
Klien
mengidentifikasi
dan menggunakan
tindakan yang dapt
meningkatkan
tidur / istirahat

141.
Setelah
dilakukan
tindakan
keperwatan
selama..... x
pertemuan
diharapkan
klien
menunjukkan
keterlibatan
sosial dengan

4. Jelaskan pentingnya tidur yang


adekuat selama sakit, stress
psikososial
5. Tentukan efek dari pengobatan
terhadap pola tidur klien
6. Pantau pola tidur dan catat
adanya gangguan fisik
7. Ajarkan klien untuk memonitor
pola tidurnya
8. Pantau pengaruh kelelahan
akibat aktivitas selama bangun
unuk mencegah kelelahan
9. Atur lingkungan yang dapat
meningkatkan tidur
10. Ajarkan klien untuk
menghindari makan diantara
waktu tidur
11. Bantu klien untuk mengurangi
waktu tidur di siang hari
dengan meningkatkan aktivitas
sesuai kebutuhan
12. Tingkatkan kenyamanan klien
dengan masase, mengatur
posisi dan sentuhan
13. Anjurkan klien untuk
meningkatkan jam tidur sesuai
kebutuhan
14. Bantu klien untuk
menghilangkan situasi stress
yang dapat mengganggu jadwal
tidur
142.
Peningkatan
Sosialisasi
143.
(Socialization
Enhancement)
1. Dorong klien untuk
meningkatkan keterlibatan dan
mempertahankan hubungan
2. Dorong klien untuk
mengembangkan hubungan
3. Dorong klien untuk membina
hubungan dengan orang yang

sumber
pribadi, minat
yang
tidak
sesuai,
penampilan
fisik
tidak
sesuai
ditandai
dengan klien
menunjukkan
tidak
ada
dukungan dari
orang
yang
penting,
perilaku
bermusuhan /
pertengkaran,
menarik diri,
tidak
komunikatif,ti
dak
ada
aktivitas baru,
asyik dengan
pikirannya,
tidak
ada
kontak mata,
aktivitas tidak
sesuai dengan
usia,
kerusakan
fisik / mental,
sedih,
klien
mengespresik
an perasaan
menyendiri,
penolakan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

kriteria :
Klien melaporkan
adanya interaksi
dengan teman
dekat, tetangga,
anggota keluarga
dan kelompok kerja
Klien melaporkan
adanya partisipasi
sebagai anggota
kelompok
Klien
mengidentifikasi
dan menerima
karakteristik pribadi
/ perilaku yang
berpengaruh
terhadap isolasi
sosial
Klien
mengidentifikasi
sumber-sumber
komunitas yang
membantu
mengurangi isolasi
sosial
Klien
mengungkapkan
perasaan lebih
dilibatkan
Klien
mengembangkan
keterampilan sosial
yang dapt
mengurangi isolasi
sosial
Klien
mengungkapkan
adanya peningkatan
dukungan sosial

memiliki minat dan tujuan


yang sama
4. Dorong klien dalam aktivitas
sosial dan komunitas
5. Dorong klien untuk sharing
dengan orang lain untuk
masalah yang sedang
dialaminya
6. Dorong klien untuk
mengungkapkan secara jujur
tentang peristiwa yang
dialaminya kepada orang lain
7. Dorong keterlibatan klien
secara total
8. Dorong klien untuk
memberikan penghargaan yang
baik terhadap orang lain
9. Rujuk klien ke program atau
kelompok untuk meningkatkan
keterampilan interpersonal
10. Berikan feedback tentang
perbaikan klien dalam
perawtan dan penampilan
dalam aktivitas
11. Bantu klien untuk
meningkatkan kewaspadaan
terhadap kekuatan dan
keterbatasan dalam
berkomunikasi dengan orabg
lain
12. Berikan contoh teknik dan
keterampilan komunikasi yang
baik
13. Berikan role mode tentang
bagaimana mengekspresikan
marah yang sesuai
14. Minta klien untuk melakukan
komunikasi secara verbal
15. Berikan umpan balik positif
jika klien dapat berkomunikasi
yang baik dengan klien
16. Fasilitasi klien untuk

melakukan aktivitas dan


rencana aktivitas di masa yang
akan datang
17. Eksplorasi kekuatan dan
kelemahan dalam jaringan
sosial dan hubungan.
144.
145.

146.

2.2.4 Implementasi

147.

Implementasi dilakukan sesuai dengan intervensi

148.

2.2.5 Evaluasi

149.

Evaluasi

merupakan

proses

terakhir

dari

proses

keperawatan.Evaluasi merupakan hasil dari intervensi dan implementasi


keperawatan.
150.

151.
152.

BAB 3
PENUTUP

153.
154.
155.
156.

3.1 Kesimpulan
Depresi merupakan salah satu gangguan mental yang banyak

dijumpai pada lansia akibat proses penuaan. Seiring bertambahnya usia, penuaan
tidak dapat dihindarkan dan terjadi perubahan keadaan fisik, selain itu para lansia
mulai kehilangan pekerjaan, kehilangan tujuan hidup, kehilangan teman, risiko
terkena penyakit, terisolasi dari lingkungan, dan kesepian. Hal tersebut dapat
memicu terjadinya gangguan mental. Saat ini telah diketahui beberapa faktor
penyebab depresi, seperti faktor genetik, biokimia, lingkungan, dan psikologis.
Pada beberapa kasus, depresi murni berasal dari faktor genetik, orang yang
memiliki keluarga depresi lebih cenderung menderita depresi; riwayat keluarga
gangguan bipolar, pengguna alkohol, skizofrenia, atau gangguan mental lainnya
juga meningkatkan risiko terjadinya depresi. Kasus trauma, kematian orang yang
dicintai, keadaan yang sulit, atau kondisi stres memicu terjadinya episode depresi,
tetapi terdapat pula kondisi tidak jelas yang dapat memicu depresi.
157.

Yang perlu dikaji dalam melakukan asuhan keperawatan kepada

klien gerontik dengan gangguan depresi meliputi: Identitas klien, keluhan utama,
riwayat kesehatan sekarang, riwayat kesehatan dahulu, riwayat kesehatan
keluarga, dan pemeriksaan fisik.
158.

Dalam menentukan diagnosa keperawatan gerontik khususnya

klien yang mengalami gangguan psikologis depresi harus melakukan pengkajian


yang baik untuk memudahkan dalam menentukan diagnosa, beberapa diagnosa
keperawatan terhadap gangguan depresi meliputi: harga diri rendah, ansietas,
kurang pengetahuan, isolasi sosial, insomnia, dll. Untuk menentukan intervensi
keperawatan dilihat berdasarkan NIC dan NOC.
159.

160.
161.

162.

DAFTAR PUSTAKA

163.
164. Aspiani, (2014). Buku Ajar Asuhan keperawatan Gerontik, Aplikasi
Nanda, NIC dan NOC jilid 2. Jakarta Timur: TIM
165.
166. Hawari, Dadang, prof. (2001). Manajemen Stres Cemas dan Depresi.
Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
167.
168. Irawan Hendri (2013). Gangguan Depresi pada Lanjut Usia. PDF: diakses
tanggal

14

Desember

2015

(13.00

WIB)

(http://www.kalbemed.com/portals/6/06.pdf).
169.
170. Widyanto,

Faisalado

(2014).

Keperawan

Komunitas

dengan

Pendekatan Praktis. Yogyakarta: Nuha Medika


171.
172. Mood Disorders Society of Canada. Depression in elderly. Consumer and
Family Support. 2010.
173.