You are on page 1of 13

Survei follow-Up dua tahun dari pasien yang memiliki

alergi demartitis kontak dari sebuah kelompok Kerja:


Apakah prognosis tergantung pada kadar alergen?
K.K.B. Clemmensen,1 T.K. Care,1 S.F. Thomsen,1 N.E. Ebbehj2 and T. Agner1
1
2

Department of Dermatology, University of Copenhagen, Bispebjerg Hospital, 2400 Copenhagen, Denmark


Department of Occupational and Environmental Medicine, Bispebjerg University Hospital, Bispebjerg Bakke 23,
2400 Copenhagen NV, Denmark

Ringkasan
Latar belakang Penyakit kulit adalah golongan penyakit yang paling umum
ditemukan di Denmark. Prognosis untuk golongan dermatitis kontak tergolong
kecil.
Tujuan Untuk menyelidiki prognosis, pengukuran eczema, status pekerjaan dan
kualitas hidup terhatap kulit, di antara pasien alergi terhadap bahan kimia karet
dan lateks (memiliki tingkat alergen tinggi) dan epoxy (tingkat allergen rendah),
2 tahun setelah digolongkan sebagai alergi dermatitis kontak.
Metode Berdasarkan sebuah kelompok dengan semua pasien yang diakui
memiliki dermatitis occuppational Danish National Board of Industrial Injuries
pada tahun 2010, 199 pasien dengan alergi karet yang relevan (alergi kontak
dengan bahan kimia karet atau kontak urtikaria dari lateks) atau alergi epoxy
telah diidentifikasi. Tindak lanjut terdiri dari kuesioner meliputi tingkat keparahan
dari eczema, pekerjaan, eksposur dan kualitas hidup.
Hasil Tingkat respon adalah 75%. Kekosongan eczema dilaporkan oleh 11% dari
pasien dan 67% dilaporkan mengalami peningkatan. Secara keseluruhan 22%
dari pasien dengan alergi tingkat alergen rendah memiliki total kekosongan
eczema dibandingkan dengan 10% dari kasus alergi terhadap alergen tingkat
tinggi dan 0% dari mereka dengan kontak urticaria (P = 0- 116). Peningkatan
secara signifikan lebih sering pada mereka yang memiliki perubahan pekerjaan
dibandingkan dengan mereka yang tidak (P = 0- 01).
Kesimpulan Pada follow-up, pasien dengan urtikaria kontak memiliki prognosis
yang signifikan lelbih sedikit dibandingkan dengan alergi kontak, dan ada
kecenderungan kepada prognosis yang lebih buruk bagi mereka dengan alergi
kontak dengan bahan kimia karet daripada mereka dengan alergi terhadap
epoxy. Sebuah hubungan positif yang signifikan antara perubahan pekerjaan dan
kemajuan telah ditemukan.
Apa yang telah diketahui tentang topik ini?

Kondisi kulit merupakan hal paling sering ditemukan sebagai penyakit


occupational di Denmark, dan dermatitis kontak terhitung lebih dari
90% darinya.
Prognosis untuk dermatitis kontak akibat kerja tergolong rendah.

Apa penelitian ini tambahkan?

Kualitas hidup (QoL) kurang terganggu pada pasien dengan kerja alergi
kontak terhadap alergen tingkat rendah, dan ada kecenderungan
kekosongan eczema lebih banyak pada kelompok ini.
Pasien dengan urtikaria kontak memiliki kekosongan lebih kurang sering
secara signifikan, kurangnya peningkatan esczema dan penurunan QoL
yang paling tinggi pada saat follow-up.
Sebuah hubungan positif yang signifikan antara perubahan pekerjaan
dan kemajuan telah ditemukan.

penyakit
kulit
adalah
penyakit
occupational
yang
paling
sering
i
ditemukan di Denmark, dermatitis
kontak merupakan lebih dari 90%
diantaranya.ii
Meskipun
iritasi
dermatitis kontak merupakan yang
paling
sering
gangguan
kulit
occupation, alergi dermatitis kontak
terlibat dalam 25% dan kontak
urtikaria dalam 4% kasus yang diakui. ii
Prognosis untuk occupation dermatitis
kontak tergolong rendah, dan lebih dari
70% pasien dilaporkan masih memiliki
eczema setelah 12 tahun.iii
Dalam Penelitian sebelumnya pasien
dengan Occupational tangan eczema,
25% memiliki presisten parah atau
penyakit berat, 41% sudah membaik
dan 34% tidak merubah penyakit
tingkat ringan/sedang di follow-up
setelah 1 tahun, terbebas dari allergy
kontak.iv Pada alergi dermatitis kontak,
pencegahan alergen secara alami itu
penting,
dan
prognosis
mungkin
tergantung pada kemampuan untuk
menghindari paparan lebih lanjut.
Kesan klinik tradisional menunjukkan
bahwa alergi kontak alergen tingkat
tinggi (Omnipresent) dapat memparah
dan memperpanjang infeksi kulit.
Sebuah
prognosis
yang
buruk
dilaporkan sebelumnya untuk pasien
dengan
allergy
kontak
kromat.v
Namun, temuan ini tidak konsisten
untuk semua penelitian,vi.vii dan dalam

kebanyakan
penelitian
sensitisasi
kontak terhadap alergen tertentu
belum
terkait
dengan
prognosis.
Sebuah prognosis yang lebih buruk
telah dilaporkan untuk pasien dengan
kontak urtikaria jika dibandingkan
dengan pasien dengan allergi kontak.iv
Di Denmark, bahan kimia karet adalah
alergen
yang
paling
sering
menyebabkan
occupational
alergi
kontak dermatitis dan resin epoxy
berada pada urutan ke-dua.ii bahan
kimia karet adalah contoh dari alergen
tingkat itnggi yang mungkin sulit untuk
dihindari bahkan di luar tempat kerja,
sementara resin epoxy yang digunakan
terutama pada bidang industryviii dan
tidak tersebar luas di lingkungan.
Secara keseluruhan kontak alergi
dengan karet dan epoxy merupakan
hampir 40% dari kasus alergi kontak
kerja dermatitis.ii
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
menyelidiki eczema, status pekerjaan
dan
yang
berhubungan
dengan
kualitas kulit hidup (QoL) antara pasien
dengan alergi kontak yang relevan
dengan bahan kimia karet dan epoxy,
serta pasien dengan kontak urtikaria
disebabkan oleh alergi lateks karet
alam, 2 tahun setelah diketahui
sebagai dermatitis alergi kontak kerja.
Fokusnya
adalah
pada
membandingkan data follow-up untuk

pasien dengan alergi kontak terhadap


alergen tingkat tinggi dan rendah.
Material dan Cara
Dari 1 Januari 2010 hingga 31
Desember 2010, 1504 pasien telah
diakui sebagai kasus dermatitis kontak
kerja oleh Danish National Board of
Industrial Injuries (DNBII). Pasien diuji
secara terpisah oleh baseline series
Eropa tentang allergen, dilengkapi
dengan seri khusus alergen saat
berhubungan dengan pekerjaan.ii Dari
kelompok ini, 199 pasien diidentifikasi
dan termasuk dalam penelitian saat
ini: 121 pasien dengan alergi kontak
relevan dengan bahan kimia karet, 44
untuk epoxy, 27 untuk lateks karet
alam dan tujuh untuk kedua bahan
kimia karet dan lateks karet alam
(Tabel 1). data dasar jenis kelamin,
usia,
diagnosis
spesifik
(iritasi
dermatitis
kontak,
alergi
kontak
dermatitis atau kontak urtikaria), hasil
uji tempel, atopik dermatitis (AD) dan
tes tusuk kulit sebelumnya telah
dijelaskan.ii Klasifikasi diagnosis dan
AD diserahkan dari file pasien ke
DNBII,
dan
didasarkan
pada
pemeriksaan klinis setiap pasien oleh
dokter kulit. AD didefinisikan sebagai
kelenturan eczema masa lalu atau AD
saat didiagnosis oleh dermatologist.ii
Kuesioner dikirim melalui surat kepada
semua peserta pada bulan Januari
2013 (Data S1 dan S2; lihat Informasi
Pendukung).
Kuesioner
tersebut
termasuk
pertanyaan
tentang
kerusakan eczema saat ini dieksplorasi
berdasarkan pertanyaan, 'Bagaimana
eczema anda sekarang dibandingkan
dengan
2010?
'dengan
kategori
jawaban, 'membaik',tidak berubah,
atau memburuk'.iv Karena tidak ada
nilai-nilai dasar tentang kerusakan,
kerusakan saat dinilai berdasarkan

pada
saat
penunjukan
sebagai
penyakit akibat kerja. Pertanyaan
tentang pekerjaan dan perubahan
pekerjaan (termasuk semua perubahan
pekerjaan dari awal hingga Follow-up)
dimasukkan,ix
serta
pertanyaan
tentang eksposur saat ini.
Kuesioner juga termasuk dermatologis
Kualitas Index Hidup (DLQI). DLQI
adalah kuesioner dermatology specific
divalidasi tentang kualitas hidup (QoL).
Hal ini didasarkan pada 10 item pada
gejala dan perasaan, kegiatan seharihari, rekreasi, bekerja atau sekolah,
hubungan pribadi dan efek samping
pengobatan. Sebuah versi standar dan
divalidasi
dari
DLQI
yang
diterjemahkan oleh Denmark telah
digunakan.x Data yang hilang pada
pertanyaan perbaikan diklasifikasikan
sebagai tidak adanya peningkatan
(Tabel 2);
Data yang hilang pada
pertanyaan paparan menyebabkan
pengecualian pasien dari analisis
spesifik (Tabel 3). Data yang hilang
pada DLQI yang ditangani sesuai
dengan pedoman penggunaan DLQI.
Penelitian tersebut disetujui oleh
Badan Perlindungan Data Denmark
(Nomor trial BBH-2012-034).
Statistik
Tes Kruskal-Wallis digunakan untuk
menguji perbedaan antara kelompok
variabel kontinyu. X2-test digunakan
untuk kategori variabel, dan apabila
asumsi untuk test X2 tidak dipenuhi, uji
Fisher digunakan. Timbal balik P-value
<0-05
dianggap
signifikan.
perhitungan yang dilakukan dengan
menggunakan
SPSS
20.0
(IBM,
Armonk, NY, AS).
Sebagai tujuan dari penelitian ini
adalah
untuk
membandingkan
prognosis untuk pasien dengan alergi

tingkat tinggi dengan mereka yang


rendah,
telah
diputuskan
untuk
mengecualikan pasien dengan alergi
tumpang tindih (epoxy / bahan kimia
karet, epoxy / lateks karet alam, karet
bahan kimia / lateks karet alam) dari
statistik analisis.
Hasil
Tingkat respon kuesioner dikirim 2
tahun setelah tahap awal untuk 199
pasien alergi terhadap karet bahan
kimia, epoxy dan/atau lateks karet

alam adalah 75%; 65% untuk laki-laki


dan 82% untuk pasien perempuan (P =
0-008), dan data Follow-up dengan
demikian tersedia untuk 149 pasien.
Usia rata-rata responden diawal adalah
42-2
tahun
(kisaran
16-65)
dibandingkan dengan 33-7 tahun
untuk nonrespondents (P <0-001).
data dasar untuk jenis kelamin, umur
dan prevalensi AD diberikan dalam
Tabel 1.

Tidak ada pasien ditemukan memiliki


alergi epoxy dalam kombinasi dengan
bahan kimia karet atau karet alam
alergi lateks, tetapi tujuh pasien
dengan alergi kimia karet dan karet
alam lateks diidentifikasi. Tiga dari
mereka
tidak
bekerja,
satu
dipekerjakan dipekerjaan yang sama
seperti
pada
awal,
dan
tiga
dipekerjakan dalam pekerjaan yang
berbeda dari tahun 2010. Ke tujuh
pasien ini tidak termasuk dalam tabel
tersebut maupun analisis statistik,
sebagai tujuan dari penelitian ini
adalah
untuk
membandingkan
prognosis untuk pasien dengan alergi
yang berbeda (lihat di atas).
Tambahan alergi kontak tidak bekerja
ditemukan pada 18% dari pasien
dengan alergi epoxy, 57% dari pasien
dengan alergi terhadap bahan kimia
karet dan 63% dari pasien dengan
alergi terhadap lateks karet alam (P =
0-001).
Status Eczema pada saat FollowUp
Status
eczema
dikelompokkan
berdasarkan alergen diberikan dalam
Tabel 2. Secara total, 11% dari pasien
melaporkan kekosongan dari eczema
mereka saat follow-up: 15% laki-laki
dan 9% dari perempuan (P = 0-264).
Sebanyak 22% dari pasien dengan
alergi epoxy dilaporkan kekosongan
total eczema dibandingkan dengan
10% dari pasien dengan alergi karet

kimia (P = 0-116). Secara keseluruhan


67% dari pasien dilaporkan membaik.
Sehubungan dengan AD, 78% dari
pasien dengan sebelumnya atau saat
AD dilaporkan mengalami peningkatan
dibandingkan dengan 65% dari pasien
tanpa AD (P = 0-206). Total 26% dari
pasien dengan alergi epoxy dilaporkan
tidak
mengalami
peningkatan
dibandingkan dengan 30% penderita
alergi karet kimia (P = 0-666). Tidak
adanya alergy lateks karet alam yang
dilaporkan
pembersihan
kontak
urtikaria saat follow-up, dan 42%
dilaporkan
mengalami peningkatan,
yang secara statistik signifikan kurang
dari untuk mereka yang alergi kontak
dengan bahan kimia karet dan epoxy
(P = 0-033 dan P = 0-036, masingmasing).
Sebanyak 11 pasien, tiga laki-laki dan
delapan
perempuan,
dilaporkan
mengalami penurunan eczema saat
follow-up.
Usia
rata-rata
untuk
kelompok ini adalah 44 tahun; tiga
memiliki alergi epoxy, empat memiliki
alergi karet kimia dan empat memiliki
alergi karet alam lateks. Tak satu pun
memiliki AD, dan tujuh memiliki alergi
kontak nonoccupational tambahan.
Dua masih tidak terlindungi oleh
alergen pekerjaan yang relevan dalam
pekerjaan mereka.
Status Eksposure saat Follow-Up
Secara keseluruhan 31% dari pasien
yang bekerja saat Follow-up dilaporkan

saat ini memiliki paparan terhadap


alergen yang relevan; 21% dari pasien
dengan alergi epoxy, 32% pasien
dengan alergi karet kimia dan 41% dari
pasien dengan alergi lateks karet alam
(P = 0-463). Paparan saat di tempat
kerja
dibandingkan
dengan
peningkatan eczema saat follow-up
dijelaskan pada Tabel 3 untuk semua
pasien dalam pekerjaan saat follow-up.
Walaupun Tingkat peningkatan lebih
tinggi pada kelompok yang tidak lagi
terpapar, tidak ada perbedaan yang
signifikan secara statistik ditemukan
(P=0-111)

Status Pekerjaan saat Follow-up

status
pekerjaan
saat
ini
dikelompokkan
berdasarkan
jenis
alergi diberikan pada Tabel 4. Secara
total, 27% dari pasien telah berubah
pekerjaan; 41% yang bekerja di
pekerjaan yang sama dan 32% tidak
dipekerjakan saat
follow-up. Lima
puluh dua persen dari mereka dengan
alergi
epoxy
telah
mengalami
perubahan pekerjaan dibandingkan
dengan 25% dari mereka dengan alergi
karet kimia dan 5% dengan alergi
terhadap alam lateks karet. Dari 32%
(n = 45) yang tidak dipekerjakan
ditindak lanjuti, 58% menunjukkan
eczema sebagai alasan untuk ketidak
bekerjanya mereka, 33% menunjukkan
bahwa itu bukan karena eczema, dan
9% tidak menjawab pertanyaan itu.

berganti
pekerjaan
dibandingkan
dengan mereka yang tidak berganti
pekerjaan (P = 0-010); ini secara
statistik signifikan untuk pasien alergi
terhadap karet (bahan kimia karet dan
lateks karet alam) sendiri (P = 0- 020),
tetapi tidak untuk epoxy sendiri (P = 0262).
Data untuk perbaikan eczema dalam
kaitannya
dengan
perubahan
pekerjaan, untuk pasien yang bekerja
saat follow-up, diberikan dalam Tabel
5. Peningkatan secara signifikan lebih
sering pada mereka yang telah

Dermatologi Indeks Kualitas Hidup


Data untuk DLQI diberikan dalam
Gambar 1. Maksudnya skor DLQI untuk
semua pasien adalah 5. Sebanyak 67%
memiliki skor <6, tidak berpengaruh
atau hanya berpengaruh kecil pada

QoL pasien. Sebuah efek negatif yang


parah pada kualitas hidup, dengan
skor> 10, ditemukan di 7% pasien
dengan alergi epoxy, 17% dengan
alergi karet kimia dan 27% dengan
alergi lateks karet alam. Skor garis
tengah terendah DLQI untuk pasien
dengan alergi epoxy (median skor = 1)
dan tertinggi bagi mereka dengan
alergi karet alam lateks (median skor =
5) (P = 0-016), menggambarkan
perbedaan yang signifikan dalam
penurunan QoL, tergantung pada
alergi pemicu tertentu.
Diskusi
Ketika menyelidiki pasien dengan
dermatitis alergi kontak kerja 2 tahun
setelah pengakuan penyakit akibat
kerja, kami menemukan bahwa 89%
masih memiliki eczema aktif, dan 33%
tidak mengalami perbaikan kondisi
kulit mereka. Pasien dengan urtikaria
kontak
dari
lateks
karet
alam
menunjukkan
peningkatan
secara
signifikan kurang dari yang lain, dan
ada kecenderungan untuk pasien
dengan

alergi kontak ke karet bahan kimia


dibandingkan dengan mereka yang
alergi epoxy untuk memiliki frekuensi
yang lebih rendah dari kekosongan,
meskipun
secara
statistik
tidak
dikonfirmasi.
Secara
signifikan,
hubungan positif antara perubahan
pekerjaan dan peningkatan telah
ditemukan.

Umur dan jenis kelamin dari kelompok


yang sama dengan yang lain studi
pasien dengan dermatitis kontak
kerja.v.xi Lebih tingginya jumlah laki-laki
dengan alergi epoxy dan wanita
dengan alergi karet mencerminkan
fakta bahwa laki-laki lebih sering
pekerjaannya bersentuhan dengan
epoxy dan perempuan dengan karet.
Dalam
penelitian
ini,
AD
yang
berkurang sering pada pasien dengan
epoxy dari alergi karet kimia / lateks,
meskipun tidak secara statistik secara
signifikan.
Dalam
penelitian
sebelumnya,
AD
telah
dikaitkan
dengan hasil yang lebih buruk pada
dermatitis kerja;xii Namun demikian,
dalam penilitian ini tidak dikonfirmasi.
Sebuah penjelasan yang mungkin
untuk penelitian ini adalah bahwa
pasien dalam penelitian ini memiliki
keterkaitan alergi kontak sebagai
diagnosis utama mereka. Rendahnya
jumlah pasien dengan alergi epoxy
memiliki AD mungkin mencerminkan
kemungkinan bahwa pasien dengan
masalah kulit tidak berlaku untuk
pekerjaan pada industri epoxy.
Sebagai tambahan, alergi kontak tidak
bekerja lebih rendah pada pasien
dengan epoxy pekerjaan terkait alergi
dibandingkan dua kelompok lainnya.
Tambahan alergi kontak mungkin
harusnya dilihat sebagai hal kedua
untuk kerja eczema dan nomor alergi
kontak
tambahan
mungkin
berhubungan dengan keparahan dan
durasi eczema, yang menjelaskan
mengapa jumlah ini lebih tinggi di
antara pasien dengan alergi karet.
Tentu, peningkatan jumlah alergi
kontak dapat mempengaruhi prognosis
dalam arah negatif.

Tingkat kekosongan keseluruhan 11%,


serta ditemukan bahwa 67% pasien
melaporkan peningkatan saat followup, ini sejalan dengan penelitian
sebelumnya
dari
kontak
kerja
iii,iv,xii
dermatitis.
Frekuensi tinggi ini kronisitas sangat
menggaris
bawahi
pentingnya
pencegahan primer dan pengobatan
yang efektif pada awal dari kontak
dermatitis kerja.xiii
Meskipun
tidak
signifikan
secara
statistik, ada tren yang mengatakan

kekosongan lebih sering ditemukan


lebih sering pada pasien dengan alergi
epoxy dibandingkan dengan alergi
karet kimia (22% vs 10%). Ini sudah
bisa diduga, sebagai alergen tingkat
rendah, secara teoritis dapat dihindari
setelah
diagnosis.
Namun,
penghindaran mungkin lebih sulit
dalam prakteknya. Hampir 20% dari
orang-orang dengan alergi epoxy
masih di pekerjaan yang sama (Tabel
4), dan mungkin masih terkena
beberapa derajatnya. Faktanya bahwa
ada eczema dalam 89% dari seluruh

kelompok pasien setelah 2 tahun


menunjukkan bahwa setelah eczema
yang pertama dimulai dankemudian
menyebar sehingga menjadi kronis.
Sebuah prognosis lebih buruk pada
pasien
dengan
urtikaria
kontak
dibandingkan dengan pasien dengan
alergi
kontak
sebelumnya
telah
iv
dilaporkan.
Hal ini sesuai dengan
temuan kami (Tabel 2). Ini menarik
bahwa 41% dari pasien dengan alergi
lateks karet alam dalam kelompok
kami melaporkan paparan kerja saat
ini, menunjukkan bahwa alergen ini
sulit untuk dihindari, dan mungkin juga
bembutuhkan
kewaspadaan
yang
tinggi terhadap alergen yang spesifik,
karena
dapat memperparah reaksi
alergen. Untuk kelompok kecil (11
pasien) yang telah memburuknya
eczema selama periode Follow-Up,
tidak ada fitur khusus yang ditemukan
yang bisa mengklasifikasikan kelompok
ini.
Penemuan
yang
menarik
dalam
penelitian ini adalah hubungan positif
antara peningkatan saat follow-up
dengan perubahan pekerjaan, an juga
bahwa temuan ini secara statistik
signifikan untuk seluruh kelompok,
serta bagi mereka yang memiliki alergi
dengan karet kimia atau karet alam
lateks. Data dari pengaruh perubahan
pekerjaan
untuk
pasien
dengan
dermatitis
kontak
kerja
jarang.
Beberapa penelitian melaporkan hasil
positif .vii,xiv sementara hal yang lain
belum dikonfirmasi.iv,xv,xvi Hal yang
paling menarik dalam penelitian ini
adalah efek positif dari perubahan
pekerjaan bahkan pada pasien alergi
terhadap alergen tingkat tinggi (Karet
kimia dan lateks karet alami), di mana
temuan ini belum terlalu diharapkan.

Sekitar sepertiga dari kelompok kami


tidak saat ini dipekerjakan saat followup dan hampir 60% dari mereka
melaporkan bahwa hal ini disebabkan
oleh eczema mereka, yang selanjutnya
menggarisbawahi beban sosial dan
ekonomi dari penyakit kulit kerja untuk
pasien serta untuk masyarakat.
Tidak ada perbedaan yang signifikan
berdasarkan
laporan
perorangan
berhubungan dengan paparan antara
kelompok
alergi dan tidak
ada
hubungan yang signifikan antara
paparan dan peningkatan eczema.
Paparan
tersebut
dilaporkan
perorangan,
dan
ini
dapat
menyebabkan prasangka. Mungkin
pertanyaan tentang paparan di daerah
kerja tidak cukup rinci ataupun detail,
sehingga
dapat
menyebabkan
kejanggalan laporan paparan. Nilai
paparan biasa sulit dinilai oleh peserta,
karena
memerlukan
pengetahuan
tentang
alergi
penderita
dan
kandungan
dari
bahan
yang
disentuhnya. Paparan udara mungkin
tidak terlihat dan karena itu mungkin
berlangsung tanpa sepengetahuan
individu. Ini mungkin menjelaskan
mengapa kita tidak melihat adanya
hubungan
antara
perbaikan
dan
paparan di tempat kerja. Mungkin
kunjungan
kerja
oleh
seorang
profesional
dengan
pengetahuan
spesifik
terhadap
paparan
bisa
menyebabkan hasil yang berbeda.
Skor DLQI sejalan dengan temuan lain
dalam
penelitian, skor DLQI signifikan lebih
tinggi untuk pasien dengan alergi
lateks
karet
alami
dibandingkan
dengan pasien dengan epoxy dan
alergi karet kimia. Skor DLQI terendah
diamati pada pasien dengan alergi
epoxy
dan
berkontribusi
pada

gambaran
keseluruhan
bahwa
kelompok ini kurang terpengaruh oleh
ekczema mereka daripada kelompok
lain.
Tingkat respon yang tinggi adalah
kekuatan dari penelitian ini, dan
sejalan dengan penelitian sebelumnya
dengan populasi yang sama.xi,xvii Fakta
bahwa paparan saat ini dilaporkan
perorangan
adalah
pembatasan,
ukuran sampel relatif lebih kecil dan
terbatas pada kelompok 1 tahun dari
pasien yang telah terdeteksi kerja
eczema. Jumlah pasien dengan alergi
kontak
terhadap
alergen
tingkat
rendah sangat dibatasi, yang juga
merupakan keterbatasan penelitian.
Sayangnya, bahan ini tidak termasuk
data pada tingkat keparahan saat
onset, atau informasi tentang durasi
eczema
sebelum
diakui
sebagai
penyakit akibat kerja, yang bisa
menjadi
faktor
lain
yang
mempengaruhi
peningkatan
saat
follow-up. fakta bahwa tidak adanya
obyektif
klinis
untuk
mengukur
keparahan penyakit saat follow-up
adalah batasan lebih lanjut. Namun,
data follow-up pada dermatitis kontak
kerja terbilang
jarang, seperti
perbandingan antara kelompok dengan
dermatitis
dengan
alergen
yang
berbeda. Maksdunya, usia rata-rata

responden secara signifikan lebih


tinggi daripada yang bukan responden.
Hal ini mungkin secara teoritis
menyebabkan bias. Namun, tidak ada
alasan yang jelas untuk mengharapkan
bahwa perubahan pekerjaan akan
mempengaruhi
prognosis
berbeda
berdasarkan dengan usia.
Kesimpulannya,
penelitian
kami
menegaskan prognosis buruk yang
dilaporkan
dalam
penelitian
sebelumnya untuk pasien dengan
dermatitis
kontak
kerja.
Temuan
utamanya adalah prognosis yang lebih
buruk bagi mereka dengan kontak
urtikaria dan untuk pasien dengan
hubungi alergi terhadap bahan kimia
karet dibandingkan dengan epoxy,
meskipun yang terakhir tidak signifikan
secara
statistik.
Kemungkinan
penjelasan untuk ini adalah bahwa
bahan kimia karet dan epoxy mewakili
tingkat alergen tinggi dan rendah,
secara
masing-masing.
Namun,
temuan ini perlu dikonfirmasi dalam
penelitian masa depan. Menariknya,
hubungan
positif
yang signifikan
ditemukan
antara
perubahan
pekerjaan selama periode observasi
dan
juga
terhadap
peningkatan
eczema.
Daftar Pustaka

Arbejdsskadestyrelsen
(2012)
Arbejdsskadestatistik.
at:http://www.ask.dk/da/Statistik/Arbejdsskadestatistik/~/media/ASK/pdf/statistik/Statistik
%202011/Arbejdsskadestatistik2011endelig2011beskpdf.ashx (last accessed 4 February 2014.

Available

ii Caroe T, Ebbehoej N, Agner T. Exposures relating to occupational contact dermatitis. A survey of


exposures relating to recognizedoccupational contact dermatitis in Denmark in 2010. Contact Dermatitis
2014; 70:5662.

iii Meding B, Lantto R, Lindahl G et al. Occupational skin disease in Sweden a 12-year follow-up. Contact
Dermatitis 2005; 53:30813.

iv Cvetkovski R. Prognosis of occupational hand eczema: a follow-up study. Arch Dermatol 2006; 142:305
11.

v Hald M, Agner T, Blands J et al. Allergens associated with severesymptoms of hand eczema and a poor
prognosis. Contact Dermatitis 2009; 61:1018.

vi Agner T, Andersen KE, Brandao FM et al. Contact sensitisation in hand eczema patients relation to
subdiagnosis, severity and quality of life: a multi-centre study. Contact Dermatitis 2009; 61:2916.

vii Rosen RH, Freeman S. Prognosis of occupational contact dermatitis in New South Wales, Australia.
Contact Dermatitis 1993; 29:8893.

viii Johansen JD, Frosch PJ, Lepoittevin J. Contact Dermatitis, 5th edn. Berlin Heidelberg: Springer-Verlag,
2011.

ix Ibler KS, Jemec GB, Agner T. Exposures related to hand eczema: a study of healthcare workers. Contact
Dermatitis 2012; 66:24753.

x Basra MKA, Fenech R, Gatt RM et al. The Dermatology Life Quality Index 19942007: a comprehensive
review of validation data and clinical results. Br J Dermatol 2008; 159:9971035.

xi Skoet R, Olsen J, Mathiesen B et al. A survey of occupational hand eczema in Denmark. Contact
Dermatitis 2004; 51:15966.

xii Cahill J, Keegel T, Nixon R. The prognosis of occupational contact dermatitis in 2004. Contact
Dermatitis 2004; 51:21926.

xiii Hald M, Agner T, Blands J et al. Delay in medical attention to hand eczema: a follow-up study. Br J
Dermatol 2009; 161:1294300.

xiv Susitaival P, Hannuksela M. The 12-year prognosis of hand dermatosis in 896 Finnish farmers. Contact
Dermatitis 1995; 32:2337.

xv Fregert S. Occupational dermatitis in a 10-year material. Contact Dermatitis 1975; 1:96107.

xvi Hellier FF. The prognosis in industrial dermatitis. Br Med J 1958;1:1968.


xvii Fisker MH, Ebbehoej NE, Jungersted JM, Agner T. What dopatients with occupational hand eczema
know about skin care?
Contact Dermatitis 2013; 69:938.

Informasi Pendukung
Informasi Pendukung tambahan dapat ditemukan di versi online artikel ini di website
penerbit:
Data S1. Kuesioner tentang kerja eczema: alergi epoxy.
Data S2. Kuesioner tentang kerja eczema: alergi bahan kimia karet dan alergi lateks.