You are on page 1of 38

2

SUSUNAN KEANGGOTAAN TIM AKREDITASI


DIRUMAH SAKIT UMUM DAERAH GUNUNG JATI KOTA CIREBON
Penanggung Jawab

Ketua Tim Akreditasi

: 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Direktur RSUD Gunung Jati Kota Cirebon


Wakil Direktur Pelayanan Medis Dan Keperawatan
Wakil Direktur Penunjang Medis Dan Pendidikan
Wakil Direktur Umum Dan Keuangan
Ketua Satuan Pengawas Interen
Ketua Komite Medik
Ketua Komite Keperawatan

: dr. Nurhayati , Sp.a

Wakil Ketua Tim Akreditasi : dr. Michael tetan Ei, Sp.B


Sekretaris Tim Akreditasi

: 1. Kepala Seksi Asuhan dan pelayanan keperawatan


2. Kepala Seksipengembangan Mutu Dan Pemasaran
3. Linda Rafliyani, SKM
Bendahara Tim Akreditasi : Kepala Instalasi Diklat Dan Perpustakaan
Widyawati, SE
KELOMPOK MANAGEMEN
Ketua

: Kepala Bidang Umum

Sekretaris

: Kepala Bidang Pendidikan dan Pengembangan

Anggota

I.

: 1. Kepala Sub Bagian tata usaha


2. Emillia El khubbilah, A.Md
3. Yayat Supriatna
4. Brian Erlanda
5. Warja
6. Wasiah
MANAGEMEN PENGGUNAAN OBAT
Ketua
: kepala instalasi parmasi
Sekretaris
: 1. Dra. Retno Indiyati, apt
2. H. Mastani

Anggota

: 1. Ade Irawan, S.Farm, apt


2. Rinto Susilo s.farm,apt M.Sc
3. Kustini, S.Si
4. Supentin, S.Farm, Apt
5. Ani Aminah, S.Farm,Apt
6. Ami Widyastuti, S.farm, Apt
PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN
Ketua

: Kepala Instalasi Rawat Inap B Bedah

Sekretaris

: dr. Syah Ayu Puspita, M.Kes, Sp.OG

Anggota

: 1. Erin Rika Herwina, M.Kep


2. dr. Rosni Faika, M.Kes,Sp.PK
3. dr. Yogi, Sp.J
4. Tim Peningkatan Mutu Dan Keselamatan Pasien

3
3. TATA KELOLA KEPEMIMPINAN DAN PENGARAHAN
Ketua

: Kepala bagian perencanaan dan rakam medis

Sekretaris

: Kepala Sub Bagian Program dan evaluasi pelayanan

Anggota

: 1. Kepala Sub Bagian Anggaran


2. Kepala Sub Bagian Perbendaharaan
3. Dwi Sulistiyo, SE
4. Jaenudin, SKM, M.Kes
5. Esa Yusaf, S.Kom
5. Siti Tabariyah, S.AP
4. MANAGEMEN FASILITAS DAN KESELAMATAN PASIEN
Ketua
: Kepala Buidang Peninjang Medik
Sekretaris
: Kepala Instalasi Sanitasi Lingkungan Dan
Anggota
: 1. Kepala Seksi Penunjang Diagnostik
2. Kepala Seksi Penunjang Non Diagnostik
3. Kepala Instalasi Pemeliharraan Sarana
4. Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan Perlengkapan
5. TIM K3 RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON
6. Moh. Arifin, SKM
7. Tim Disaster
8. Petugas Keamanan
5. KUALIFIKASI DAN PENDIDIKAN STAF
Ketua
: Kepala Sub Bagian Keperawatan
Sekretaris
: 1. Kepala Seksi Pendidikan dan Penelitian
2. Uni Wahyuni, S.Kep, Ners
3. Alit Dwirianni, S.IP
Anggota
: 1. Tati Mulyati
2. Yuhelmi Amrida , S.Sos. MM
6. MANAGEMEN KOMUNIKASI DAN INFORMASI
Ketua
: Kepala Sub Bagian SIM RS dan Humas
Sekretaris
: 1. Kepala Instalasi SIM RS
2. Eka Wahyun Pujiharto, ST
Anggota
: 1. Ibnu khaldun, S.Sos
2. Dwinta Ananda, A.Md
3. Tyas Subekti, A.Md
4. Titi Cartini, S.ST
5. Ike Rohmiyati, M.Si
KELOMPOK MEDIS
Ketua
: Kepala Bidan Pelayanan Medis
Sekretaris
: dr. Ika Komala
Komite Medik
: Ketua Komite Medik
Anggota
: 1. Sub Komite Kredensial
2. Sub Komite Mutu dan Profesi
3. Sub Komite Etika dan Profesi
1. AKSES KE PELAYANAN DAN KONTINUITAS PELAYANAN
Ketua
: Wakil Ketua Instalasi IGD
Sekretaris
: Haerul Gumilar, S.ST
Anggota
: 1. Kepala Instalasi Rawat inap
2. Kepala instalasi Rawat Jalan
3.
4.
5. Engkos Kosasih, AMK
6. Kepala Instalasi Forensik
7. Mudjijat, AMK
8. Supriyadi

4
2. ASESMEN PASIEN
Ketua
Sekretaris
Anggota

: Keopala Instalasi Laboratorium Klinik dan PA


: Kepala Instalasi Pelayanan Darah
: 1. Kepala Instalasi Radiologi
2. Wakil Kepala Instalasi Laboratprium
3. Nuriya, M.Kep
4. Laela Isnaeni, S.ST
5. Angka Wijaya, AMR
6. Dr. Andra
7. Wahyu Dwi Rochmiati, A.Md
8. Neneng Nuri, A.Md . AK
9. Dr. Susianti Leman
10. Dr.Gayuh Tunggal
11. Sofyan Irawan, S.Kep,Ners

3. PELAYANAN PASIEN
Ketua
: Kepala Instalasi Irna A
Sekretaris
: Hj. Tati Herawati, S.Kep.Ners
Anggota
: 1. Dudy Gumelar, S.Kep,Ners
2. Mulyati, AMKep
3. Euis Isnaniaah, SKM
4. Nur Sri Rejeki, S.Kep,Ners
5. Sudana
6. Ominingsih, S.Kep, Ners
7. dr. Fernando
4. PELAYANAN ANASTESI DAN BEDAH
Ketua
: Kepala IRNA insentif
Sekretaris
: Tatang Koswara, AMK
Anggota
: 1. Dr. Agung H, Sp,An
2. H. Warma, AMK
3. Endri Risnawan, S.Kep,Ners
KELOMPOK KEPERAWATAN
: Kepala Bagian Keperawatan
: 1. Kepala Seksi Sarana dan Prasarana
2. Na Anas, S.AP
Komite Keperawatan
:1. Ketua komite Keperawatan
2. Sekretaris Komite Keperawatan
3. Sub Komite Mutu Praktik dan
4. Sub Komite Litbang Profesi
5. Sub Komite Etik dan Disiplin
1. HAK PASIEN DAN KELUARGA
Ketua
: KepalaSeksi Pelayanan Medis
Sekretaris
: Andyn Krisnanto, SH
Anggota
: 1. Ina Rohlina Rochman, SH
2. dr. Rengganis Purbasari
3. Tuti alawiyah, M.PD.I
4. Supprapti
Ketua
Sekretaris

5
2. PENDIDIKAN PASIEN DAN KELUARGA
Ketua
: dr. H. Suhendiwijaya, Sp.JP-FIHA
Sekretaris
: 1. Dr. Pradith Wijanarko
2. Kepala Instalasi Pemasaran RS dan Promkes
Anggota
: 1. H. Hasanudin, S.Kep,Ners
2. Yayan Fathian,S.Si,Apt
3. Erna Kustiana,A.Md
4. Dian Widawati, A.Md,TW
5. Fajar Aryani, A.Md.TW
6. Aan Sunarya, M.Mkes
3. PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI
Ketua
: dr. Angghea Rachmiawaty
Sekretaris
: 1. Dian Setiawati,S.Kep,Ners
2. Yogi Yana Rahman,S.Kep, Ners
Anggota
: 1. Yogi Sumedi, S.Kep Ners
2. Nana Herdiana, SKM
3. Panitia Pencegahan Penanggulangan Infeksi
4. SASARAN KESELAMATAN PASIEN
Ketua
: H. Yayan Mulyana, S.Kep,Ners
Sekretaris
: Ahmad Hidayat, AMK
Sasaran 1 : Ketepatan Identifikasi Pasien
Ketua
: Iyan Cahya, S.Kep,Ners
Sekretaris
: Aminah, S.Kep,Ners
Sasaran 2 : Peningkatan Komunikasi Efektif
Ketua
: Iis Afiat, S.Kp
Sekretaris
: Yati Rukhiyati, S.Kep, Ners
Sasaran 3 : Peningkatan Keamanan Obat Yang Perlu Diwaspadai
Ketua
:Idah Saidah,Amd Far
Sekretaris
:Iid Nurdiansyah, S.Farm,Apt
Sasaran 4 : Kepastian Tingkat Lokasi, Tempat Prosedur, Tempat Pasien
Ketua
: Warma, AMK
Sekretaris
: Moh.Affandi, AMK
Anggota
: 1. Resmi iriani,AMK
2. Sepphy robyanti, A.Md, Keb
Sasaran 5 : Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Ketua
: Kepala Instalasi Sentra Strelisasi
Sekretaris
: Indahyati S.Kep,Ners
Anggota
: 1. Dian Setiawam, S.Kep,Ners
2. Yogi Yana, S.kep,Ners
Sasaran 6 : Pengurangan Resiko Jatuh
Ketua
: Kepala Instalasi Rehabilitasi Medik
Sekretaris
: 1. Siti Daenaroh, S.Kep,Ners
2. Srini Piyanti,Psi
5. PENURUNAN ANGKA KEMATIAN BAYI DAN PENINGKATAN KESEHATAN IBU
Ketua
: Kepala SMF Obesetri dan Ginek
Sekretaris
: 1. Titiek Pudjiastuti, S.ST
2. Rina Rohayati, S,Kep.Ners
Anggota
: 1. Dwi Astusi MartiNingrum
2. Eti Hartati, AM.Keb
3. Yoyoh Sofiah, S.ST
4. Chaerunnisa suhaemin
5. Nuraenah ,S.Kep,Ners
6. Yeti Mudiarti, AMK
7. Aprisia Eka Jayana

6
NO

KEPUTUSAN WALIKOTA CIREBON


:
KEP. RSUD.GJ/2015

TENTANG
PENETAPAN KEMBALI TIM AKREDITASI RUMAHSAKIT UMUM DAERAH GUNUNG JATI KOTA
CIREBON
WALIKOTA CIREBON,
Menimbang

: a.
b.

Mengingat

bahwa dalam rangka akan dilaksanakan penilaian akreditasi versi 2012 oleh
tim KARS di RSUD gunung Jati Kota Cirebon, maka di pandang perllu
untuk membentuk Tim Akreditasi di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon
bahwa untuk melaksanakan sebagaimana dimaksud pada huruf (a) diatas,
perlu di tetapkan dengan Keputusan Walikota a,n Direktur Rumnah Sakit
Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon;

:
1. Undang Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
(Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor tahun 2009 Nomor 112,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5038);
2. Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit (Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 153, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5072);
3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan
Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89.
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor4741);
5. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Badan Layanan Umum (Lembaran Negara republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4502);
6. Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 1027/Menkes/SK/V/2002 Tentang
Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital By Laws);
7. Peraturan Daerah Nomor 14 Tahun 2011 Perubahan Atas Peraturan Daerah
Nomor 15 Tahun 2008 Tentang Lembaga Teknis Daerah, Satuan Polisi Pamong
Praja Dan Kantor Pelayanan Perijinan Terpadu Pada Pemerintah Kota Cirebon;
8. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 46 Tahun 2016 Tentang Pedoman Tata
Kelola (Hospital By Laws) Rumahsakit Umum Daerah Gunung Jati Kota
Cirebon Sebagai Darah Badan Layanan Umum Daerah;
9. Peraturan Walokota Cirebon Nomor 48 Tahun.................................... tentang
standar pelayanan minimal
10. .............................

9
KEPUTUSAN WALIKOTA CIREBON

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH GUNUNG JATI KOTA CIREBON


NOMOR :
/ KEP..... RSUD.GJ/2015
TENTANG
PEDOMAN PELAYANAN INSTALASI GAWAT DARURAT RUMAHSAKIT UMUM
DAERAH GUNUNG JATI KOTA CIREBON
Menimbang

WALIKOTA CIREBON
bahwa dalam rangka melakukan tertib administrasi dan penetapan regulasi
instalasi gawat darurat RSUD gunung jati kota cirebon, maka di perlukan
penetapan pedoman pelayanan di RSUD Gunung jati kota cirebon;
bahwa untuk dapat melaksanakan sebagaimana dimaksud pada huruf (a)
diatas, perlu di tetapkan dengan Keputusan Walikota a,n Direktur Rumnah
Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon;

: a.
b.

Mengingat

:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen


Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan;
Peraturan Pemerintah Nomor 53tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai;
Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumah Sakit Jabatan
Fungsional;
7. Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2001 Tentang Kelembagaan Dan
Pengelolaan Rumah Sakit Daerah;
8. Peraturan Mentri Kesehatan Ri Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 Tentang
Standar Pelayanan Minimalnbidang Kesehatan Di Kabupaten Atau Kota
9. Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Lembaga
Teknis Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja Di Kantor Pelayanan Perijinan
Terpadu Pada Pemerintahan Kota Cirebon
10. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Organisasi Dan
Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon;
11. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 46 Tahun 2009 Pedoman Tatakelola
(Hospital By Laws) Rsud Gunung Jati Kota Cirebon Sebagai Badan
Layanan Umum Daerah;

10

12. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Teknis
Pelaksanaan Pengelola Keuangan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon
Sebagai Penyelenggaraan Pola Pengelolan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah (PPK-BLUD
13. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 23 Tahun 2014 Tentang Standar
Pelaynan Minimal RSUD Gunung Jati Kota Cirebon;
14. Keputusan Walikota Cirebon Nomor 445/Kep.359-DPPKD/2009 Tentang
Penetapan Penyelenggaraan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah (PPK-Bludpada Rumahbsakit Umum Daerah Gunung Jati
Kota Cirebon;
15. Keputusan Walikota Cirebon Nomor 820/ KEP.033-BK.DIKLAT/2013
Tanggal 15 Januari 2013 Tentang Perpanjangan Batas Usia Pensiun PNS
Di Lingkungan Pemerintah Kota Cirebon A.N Drg-H HERU PURWANTO,
Mars Sebagai Direktur Rumahsakit Umum Daerah Gunung Jati Kota
Cirebon;
MEMUTUSKAN :
Menetapkan
SATU

Penetapan Pedoman Pelayanan Instalali Gawat Darurat Rumahsakit Umun


Daerah Gunung Jati Kota Cirebon Sebagai Mana Tercantum Dalam
Lampiran Yang Merupakan Bagian Tidak Terpisah Dari Keputusan Ini

DUA

TIGA

Biaya Yang Di Timbulkan Akibat Di Terbitkannya Keputusann Ini Di


Bebankan Kepada Anggaran BLUD RSU Gunung Jati Kota Cirebon.
Keputusan Ini Mulai Berlaku Sejak Tanggal Di Tetapkan.

Ditetapkan di Cirebon
Pada tanggal april 2015
a.n WALIKOTA CIREBON
DIREKTUR RSUD GUNUNG JATI
KOTA CIROBON

Drg. H. HERU PURWANTO


Pembina utama mu
Nip,.................

11

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan kesehatan adalah upaya yang di selenggarakan oleh organisasi untuk
memelihara dan meningkatkan kesehatan, memelihara atau menyembuhkan penyakit serta
memulihkan kesehatan individualisme kelompok, dan masyarakat
Pelayanan kesehatan yang bermutu adalah pelayanankerja yang dapat memuaskan
setiap pemakai jasa pelayanan kesehatan dan mendapat tingkat kepuasan rata-rata penduduk, serta
yang penyelenggaraan dengan kode etik dan standar pelayanan profesi yang telah di terapkan
Pelayanan gawat darurat merupakan pelayanan untuk memberikan tindakan yang cepat
dan tepat pada seorang atau semua orang agar dapat meminimalkan angka kematian dan mencegah
kecacatan yang tidak perlu. Upaya peningkatan gawat darurat untuk menunjang pelayanan dasar,
sehingga dapat menangani gawat darurat baik dalam keadaan sehari-hari mauput ketika ada
bencana.
Dengan semakin meningkatkan jumlah penderita gawat darurat di perlukan peningkatan
pelayanan gawat darurat baik yang di jalan maupun di tempat kejadian, selama perjalanan ke rumah
sakit.
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka di Instalasi Gawat Darurat di buat standar
pelayanan yang merupakan pedoman bagi setiap tata cara pelaksanaan pelayanan yang di berikan
ke pasien puskesmas dan pasien IGD RSUD Gunung jati Khusus nya.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka, pelayanan gawat darurat di IGD RSUD
Gunung jati kota cirebon harus standar Pelayanan Gawat Darurat RSUD Gunung Jati.

14
KEPUTUSAN WALIKOTA CIREBON
Nomor : ..../Kep......RSUD.GJ/2015
TENTANG
PANDUAN KOMUNIKASI EFEKTIF DI LINGKUNGAN RSUD GUNUNG JATI KOTA
CIREBON
WALIKOTA CIREBON,
Menimbang

: a.

bahwa dalam rangka peningkatan standar kwalitas pelayanan di RSUD


Gunung Jati Kota Cirebon, Maka Dipandang Perlu Untuk Menetapkan
Panduan Komunikasi efektif dengan lingkungan RSUD Gunung Jati Kota
Cirebon
bahwa untuk dapat melaksanakan sebagaimana dimaksud pada huruf (a)
diatas, perlu di tetapkan dengan Keputusan Walikota a,n Direktur Rumnah
Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon;

b.
Mengingat

:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen


Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2014 Tentang Keperawatan;
Peraturan Pemerintah Nomor 53tahun 2010 Tentang Disiplin Pegawai;
Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumah Sakit Jabatan
Fungsional;
7. Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2001 Tentang Kelembagaan Dan
Pengelolaan Rumah Sakit Daerah;
8. Peraturan Mentri Kesehatan Ri Nomor 741/Menkes/Per/VII/2008 Tentang
Standar Pelayanan Minimalnbidang Kesehatan Di Kabupaten Atau Kota
9. Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 3 Tahun 2014 Tentang Lembaga
Teknis Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja Di Kantor Pelayanan Perijinan
Terpadu Pada Pemerintahan Kota Cirebon
10. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 15 Tahun 2012 Tentang Organisasi Dan
Tata Kerja Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon;
11. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 46 Tahun 2009 Pedoman Tatakelola
(Hospital By Laws) Rsud Gunung Jati Kota Cirebon Sebagai Badan
Layanan Umum Daerah;
MEMUTUSKAN
Menetapkan
SATU

Penetapan Pedoman Pelayanan Instalali Gawat Darurat Rumahsakit Umun


Daerah Gunung Jati Kota Cirebon Sebagai Mana Tercantum Dalam
Lampiran Yang Merupakan Bagian Tidak Terpisah Dari Keputusan Ini

15

DUA

Biaya Yang DiTimbulkan Akibat Di Terbitkannya Keputusann Ini Di


Bebankan Kepada Anggaran BLUD RSU Gunung Jati Kota Cirebon.

TIGA

Keputusan Ini Mulai Berlaku Sejak Tanggal Di Tetapkan.

Ditetapkan di Cirebon
Pada tanggal april 2015
a.n WALIKOTA CIREBON
DIREKTUR RSUD GUNUNG JATI
KOTA CIROBON

Drg. H. HERU PURWANTO


Pembina utama mu
Nip,......................................

16

Lampiran

Kepuitusan Ealikota Cirebon

Nomor

...............................

Tanggal

30 april 2015

Tentang

PANDUANG KOMUNIKASI EFEKTIF DI LINGKUNGAN RSUD GUNUNGJATI


KOTA CIREBON

BAB I
DEFINISI
Komunikasi efektif, merupakan komunikasi yang di lakukan diantaranya kelompok
professional, kelompok profesional kesehatan dengan manajemen kelompok professional dengan
pasien dan keluarga, yang di lakukan secara tepat waktu,akurat, lengkat, jelas, sehingga dapat
dipahami, dan akan mengurangi kesalahan paham serta menghasilkan peningkatan keselamatan
pasien.
Koamunikasi tertulis adalah:suatu proses penyampaian pesan informasi dengan
menggunakan kata-kata dalam bentuk tulisan. Komunikasi tertentu merupakan metode komunikasi
yang lebik akurat daripada komunikasi versonal namun kesalahan masih mungkin terjadi. Penulisan
instruksi hartus di laksanakan secara lengkap dapat terbaca dengan jelas agar sumber intruksi dapat
di laksanakan dan di perlukan verifikasi.
Komunikasi verbal adalah komunikasi yang di sampaikan secara lisan yang dapat
di lakukan secara langsung dengan tatap muka dan tidak langsung menggunakan media telfon.
Komunikasi

elekronik,

yaitu

komunikasi

yang

di

lakukan

menggunakan

menggunakan

elektronik,diantaranya SMS, Telepon,BBM dan WA.

17

BAB II
RUANG LINGKUP
Ruang lingkup panduan ini meliputi tatacara komunikasi lisan, komunikasi tulisan
dan komunikasi elektronik yang harus digunakan oleh seluruh tenaga kerja kesehatan yang terlibat
dalam pemberuan asuhan meliputi dokter, perawat, petugas informasi, gizi, therapis, analis, dan
radiografi di RSUD Gunung Jati cirebon danlam interaksi untuk mendukung keselamatan pasien.

18

BAB III
TATALAKSANA
Komunikasi adalah keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
dimana kita lihankomunikasi dapat terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah
mahluk sosial yang tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain
dilingkungannya. Satu-satunya berkomunikasi baik secara verbal maupun non verbal ( bahasa tubuh
dan isyarat yang banyak di mengerti oleh suku bangsa).
Hal ini juga sering terjadi pada institusi pelayanan kesehatan, misalnya pasien
sering komplain karena tenaga kesehatan tidak mengerti maksud pesan yang di sampaikan pasien,
sehingga pasien tersebut menjadi marah dan tidak datang lagi mengunjungi pelayanan kesehatan
tersebut. Hal yang sering terdapat adalah salah faham atau pada antara tenaga kesalahan karena
tidak mempersiapkan informasi yang di terima yang berakibat terjadinya konflik antara pasien dan
tenaga kesehatan tersebut.
Masalah komunikasi juga sering berdampak dan menjadi penyebab insiden
keselamatan pasien. Masalah komunikasi terjadi baik komunikasi lisan maupun tulisan. Untuk hal
tersebut rumahsakit harus menyusun panduan komunikasi untuk para petugas kesehatan agar di
pahami oleh semua orang dan mengurangi kesalahan dan menghasilkanperbaikan keselamatan
pasien.
Komunikasi efektif dalam hubungan antar profesi di rumahsakit menggunakan
SBAR (Stituaation Backgraund asesment Recomendation), yang dipergunakan saat melakukan
terima laporan kondisi pasie kepada DPJP, dan TbaK ( Tulis Baca - Kembali), yang di pergunakan
pada saaat menerima intruksi dari pasien dan menerima tes kritis (critical test), dan saat menerima
nilai dari laboratorium / radiologi.

19

5. Memfasilitasi Format Monitoring/ Evaluasi Dan Laporan Pelaksanaan Komunikasi Efektif Oleh
Bidang Keperawatan RSUD Gunung Jatyi Cirebon.
Sosialisasi panduan komunikasi efektif pada kariawan RSUD Gunung Jati Cirebon
penanggungjawab Budang Keperawatan RSUD Gunung Jati Cirebon. Monitoring dan evaluasi
pelaksanaan komunikasi efektif di lakukan secara berjenjang oleh kepala ruangan, supervisor,
dan direksi dan manajemen pada saan ronde manajemen
6. Pelaporan

pelaksanaan

komunikasi

efektif

dilaporkan

secara

berjenjang
7. Sosoalisasi hasil dan rekomendasi direktur oleh Bidang Keperawatan
RSUD Gunung Jati Cirebon.
B. Pelaksanaan
A. Komunikasi lisan :
1. Pada saat dokter, perawat, petugas kesehatan lainya yang melakukan konsultasi
kepada dokter konsulen jaga atau kepada dokter penanggung jawab pasien (DpJp)
maka penerima intruksilisan verbal/ pada lisan berkewajiban menerapkan Teknik
TbaK ( Tulisa baca Konfirmasi Kembali). Perintah lisan damn melalui telfon, dari
hasil tes harus ditulis / (write down/ Tulis kemudian dengan di ulang / Read Backoleh
pemberi perintah atau penyampaian test. DpJp/ konsulen yang memberikan jaga
instrusi secara lisan melalui telepon maka keesokan harinya (hari keja) harus
memvberikan verifikasi terjhadap Instruksi yang di berikan dengan memberi
pandangan catatan terintegrasi.
2. Pada saan melaporkan pasien, serah terima pasien (............ baik dokter/perawat
jaga), transfer pasien antar RSUD menggunakan teknik SBAR (Stituaation
Backgraund asesment Recomendation)
3. Pendokumentasian berkomunikasi lisan didalam formulir kep[erawatan terintegrasi
dan membubuhi stenpel SBAR
4. Untuk permintaan onbat kemoterapo dan narkotika harus dilakukan dengan pertintah
lisan

20
BAB IV
DOKUMENTASI
Dokumentasi, adalah sesuatu yang tertulis, tercetak atau terekam dapat dipakai sebagai bukti
atau keterangan, dan mempunyai nilai hukum kuat, sehingga dapat di pergunakan sebagai sumber
keterangan, sumber penyelidikan penelitian ilmiah, dan sebagai alat bukti keabsahan suatu
keterangan.
Dekomentasian komunikasi efektif adah suatu kegiatan pemberianpengumpulan bukti-bukti dan
keterangan pengelolaan kegiatan komunikasi sebagai suatu bahan untuk refleksi kegiatan yang
berfungsi sebagai alat atau refleksi sari operencanaan sampai implementasi suatu model kondisi
efektif. Informasi teknik komunikasi efektif,srategi komunikasi efektif diterapkan, dan interaksi antar
pembeli pelayanan professional terkait proses dokumentasi.
1. Serah terima pasien menggunakan teknik SBAR pendokumentasian pada formulir rencana
perawatan pasien terimntegrasi
2. Pelaporan kondisi pasien ke dokter DPJP menggunakan tentang pendokumentasian di formulir
rencana perawatan terintegritasi.
3. Konsultasi pasien antar dokter, pendokumentasian di formulir keperawatan
4. Penerima laporan pertelpon menggunakan teknik TbaK pendokumentyasi formulir rencana
Perawatan pasien Terintegrasi
5. Penerimaan hasil konsul pertelfon menggunakan pendokumentasian di formulir konsultasi.
6. Pelaporan nilai kritis/ hasil kritis dan tes kritis pendokumentasian di buku pelaporan nilai kritis
pemeriksaan
7. Pelaporan nilai krisis / hasil kritis dan tes kritis radiologi, pembukan dan pelaporan nilai krisis
pemeriksan radiologi.
8. Pendokumentasian 7 benar dalam pemberiann obat memberikan catatan pemberian dan
pemantauan obat pasien.

KEPUTUSAN WALIKOTA CIREBON


RUMAHSAKIT UMUM DAERAH GUNUNG JATI KOTA CIREBON
Nomor : ....../Kep.......RSUD.GJ./2015
TENTANG
PEDOMAN ORGANISASI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT UMUM
DAERAH GUNUNG JATI KOTA CIREBON
WALIKOTA CIREBON
Menimbang

: a.

bahwa dalam rangka melakukan tertib administrasi dan panduan regulasi


untuk melaksanakan pekerjaan instalasi Radiologi RSUD Gunung Jati Kota
Cirebon. Maka perlu dibuat pedoman organisasi di RSUD Gunung Jati Kota
cirebon;
bahwa untuk dapat melaksanakan sebagaimana dimaksud pada huruf (a)
diatas, perlu di tetapkan dengan Keputusan Walikota a,n Direktur Rumnah
Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota Cirebon;

b.
Mengingat

:
1.
2.
3.
4.
5.

Undang Undang Nomor 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen


Undang Undang Nomor 44 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Rumah Sakit;
Perraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 Tentang Organisasi;
Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 2007 Tentang Oraganisasi
Perangkat Daerah;
6. Keputusan Presiden Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Rumah Sakit Jabatan
Disiplin Pegawail;
7. Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 Tentang Rumpun Jabatan
Fuingsional ;
8. Keputusan Presiden Nomor 40 Tahun 2001 Tentang Kelembagaan Dan
Opengelolaan Rumah Sakit Daerah
9. Peraturan Mentri Kesehatan RI Nomor 741//Menkes/Per/VII/2008 Tentang
Standar Pelaksanaan Minimal Bidang Kesehatan Di Kabupaten Atau Kota;
10. Peraturan Peraturan Daerah Kota Cirebon Nomor 9 Tahun 2001 Tentang
Lembaga Teknis Daerah, Satuan Polisi Pamong Praja Dan Kantor
Peklayanan Perijinan Terhadap Pemerintah Kota Cirebon;
11. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 46 Tahun 2009 Pedoman Tatakelola
(Hospital By Laws) Rsud Gunung Jati Kota Cirebon Sebagai Badan
Layanan Umum Daerah;
12.

23
13. Peraturan waliKota Cirebon Nomor 49 Tahun 2009 Tentang Petunjuk Teknis
Pelaksaan Pengelolaan Keuangan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon
Sebagai Penyelenggara Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah (PPK-BLUD);
14. Peraturan Walikota Cirebon Nomor 23 Tahun 2014 tentang Standar
Pelayanan Minimal RSUD Gunung Jadi Kota Cirebon;
15. Keputusan Walikota Cirebon Nomor 445/Kep.359-DPPKD/2009 Tentang
penerapan Penyelenggaraan Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan
Umum Daerah (PPK-BLUD) pada Rumah Sakit Umum daerah Gunung Jati
Kota Cirebon;
16. Keputusan Walikota Nomor 820/Kep.033- BK.DIKLAT/2013 Tanggal 15
januari 2013 tentang perpanjanggan Batas Usia Pensiun PNS di
Lingkungan Pemerintah Kota dcirebon a.n drg. H. HERU PURWANTO,
MARS sebagai Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Gunung Jati Kota
Cirebon;

MEMUTUSKAN :
Menetapkan
SATU

Penetapan Pedoman Pelayanan Instalali Gawat Darurat Rumahsakit Umun


Daerah Gunung Jati Kota Cirebon Sebagai Mana Tercantum Dalam
Lampiran Yang Merupakan Bagian Tidak Terpisah Dari Keputusan Ini

DUA

Biaya Yang Di Timbulkan Akibat Di Terbitkannya Keputusann Ini Di


Bebankan Kepada Anggaran BLUD RSU Gunung Jati Kota Cirebon.

TIGA

Keputusan Ini Mulai Berlaku Sejak Tanggal Di Tetapkan.


Ditetapkan di Cirebon
Pada tanggal april 2015
a.n WALIKOTA CIREBON
DIREKTUR RSUD GUNUNG JATI
KOTA CIROBON

Drg. H. HERU PURWANTO


Pembina utama mu
Nip,......................................

24
Lampiran

: Keputusan Walikota Cirebon

Nomor

:-

Tanggal

: 11 april 2015

Tentang

: PEDOMAN ORGANISASI INSTALASI RADIOLOGI RSUD GUNUNG JATI KOTA


CIREBON

BAB 1
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yan optimal bagi masyarat.
Dalam pembangunan kesehatan perlu dilakukan peningkatan pelayanan kesehatan termasuk
peningkatan pelayanan di Rumah Sakit Umum sebagai salah satu jenis sarana kesehatan yang di
selenggarakan oleh pemerintah mengingat kita sedang menghadapi era globalisasi serta perubahan
pola pikir masyarakat yang semakin kritis dan makin tingkat tuntutanya yang memungkinkan
persaingan yang sangat kompetitif.
Pelayanan Radiologi merupakan salah satu pelayanan penunjang medik rumah sakit yang perlu
mendapat perhatian khusus, karena pelayanan radiologi selain disarankan besar manfaatnya tapi
karena di dalam pengoprasian peralata radiologi menggunakan zat radioaktif dan atau suatu radiasi
pengion lainya sehingga ada resiko bahaya radiasi baik terkait pekerja, pasiean maupun
lingkungannya, dengan demikian pelayanan rumahsakit harus di kolola oleh mereka yang benarbenar profesional dalam radiologi demi keselamatan kerja terhadap radiasi.
Instalasi radiologi RSUD Gunung Jati Cirebon Merupakan salah satu instalasi berada di bawah
bagian pelayanan penunjang medis dan pendidikan dalam organisasi Rumah Sakit Umum Daerah
Gunung Jati Kota Cirebon. Dalam Organisasi Instalasi Radiologi Di pimpin Oleh Kepala Instalasi yang
di kordinator dalam melakukan koordinasi pelayanan sehingga dapat dilakukan dengan baik. Adapun
koordinator yang berperan dalam instalasi RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Dibagi menjadio
:koordinator-Kordinator Administarsi dan Pelapuran Koordinator sarana dalam koorninator keuangan.

25
AUDIT MEDIS
No. Dokumen
RSUD GUNUNG JATI
KOTA CIREBON

STANDAR
PROSEDUR
OPERASIONAL
(SPO)

Tanggal terbit

No. revisi

Halaman

26

27

28

Pengertian
Pelayanan publik adalah segalakegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
pelayanan sesuai dengan peraturan sesuai dengan peraturan perundang undangan
sertiap warga negara dan penduduk atas barang, jasa, dam/atau pelayanan administratif
yang di sediakan oleh penyelenggara pelayanan publik.
Standar pelayanan tolak ukur yang di pergunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan pelayanan dan acuan penilaian kualitas pelayanan sebagai kewajiban
dan janji penyelenggara kepada masyarakat dalam rangka pelayanan yang berkualitas,
cepat, mudah, terjakau, dan terukur.
Prinsip
Dalam menyusun, menertapkan dan menerapkan standar pelayanan dilakukan
dengan memperhatikan prinsip:
1. Sederhana
Standar pelayanan yang mudah dimengerti, mudah diikuti, m,udah di laksanakan,
mudah di ukur dengan prosedur yang jelas dan terjangkau bagi masyarakart
maupun penyelenggara.
2. Konsistensi
Dalam Penyusunan dan penerapan Standar pelayanan memperhatikan ketetapan
dalam mentyaati waktu, prosedur, persyaratan, dan penetapan biaya pelayanan
yang terjangkau.
3. Partisipatif
Penyusunan Standar Pelayanan dengan melibatkan masyarakat dengan terkait
untuk membahas bersama dengan mendapatkan kesederhanaan antaralain
komitmen atau hasil kesepakatan.
4. Akuntabel
Hal-hal yang di atur dalam Standar Pelayanan harus dilaksanakan
Dipertanggungjaabkan secara konsisten kepada pihak berkepentingan.
5. Berkesenambungan
Standar pelayanan harus dapat berlaku sesuai perkenbangan dan kebutuhan
peningkatan kualitas pelayanan
6. Transparasi
Standar pelayanan harus dapat dengan mudah diakses dan seluruh pasien
7. Keadilan
Standar pelayanan harus menjamin bahwa pelayanan yang menjangkau semua
masyarakan yang berbeda status ekonomi geografis,dan perbedaan kapabilitas
fisik dan mental.

29
Standar hukum adalah peratutan perundang-undangan yang menjadi
penyelengaraan, perumusan mentri komponen dasar hukum dibuat yang mengacu pada
hasil identifikasi, analisis dan pertimbangan yang ada pertimbangan itu, perlu
memperhatikan apabila terdapat perkembangan, dalam atau ketentuan peraturan
perundang-undangan yang baru, yang menunjuk dasar hukum dari jenis atau
produkpelayanan yang di hasilkan oleh hukum pemungutan biaya pelayanan.
Sebagai penuntun dalam perumusan dapat dibantu dengan mengamati
data/informasi pada lembar-lerbar kerja yang mengandung informasi mengenai dasar
hukum
Persyaratan
Persyaratan adalah syarat yang harus di penuhu dalam pengurusan suatu jenis
pelayanan, baik persyaratan teknis maupun administrasi persyaratan pelayanan
merupakan suatu tuntunan yang di perlukan (harus dipenuhu/dilakukan) dalam proses
penyelenggaraan pelayanan dapat berlangsung dokumen, barang, dan jasa tergantung
kebutuhan masing-masing jasa pelayanan.
Perumusan
persyaratan
pelayanan
perludi
bantu
dengan
mengidentifikasi/ketentuan dari tiap aktifitas jenis pelayanan, sehingga kembali dalam
proses pelayanan dapat ditentukan keseluruhan persyaratan harus dipenihi oleh
masyarakat.
Sistem, Mekanisme, dan Prosedur
Sistem, Mekanisme, dan prosedur adalah tatacara pelayanan yang dilakukan bagi
pemberi dan penerimapelayanan,termasuk pengaduan mengandung tahapan kegiatan
yang harus dilakukan atau dilalui oeleh sistem dan proses penyelenggaraan pelayanan.
Analisis proses dan harus dilakukan terhadap setiap jenis pelayanan yang
diselenggarakan oleh unit penyelenggara pelayanan tersebut.
Untuk menunjang kepastian dan tertib dalam pelaksanaan mekanisme/ tatakerja
dan prosedur, harus didukung dengan standar prosedur oprasional (SPO)
Untukmemberikan kejelasan alur mekanisme urutan kegiatan dalam proses
pelayanan tersebut, agar dibuat atau di dalam suatu diagram/bagan alir (flowchart)
Jangka waktu penyelesuian
Jangka waktu penyelesaian adalah jangka waktu yang harus menyelesaikan
seluruh proses pelayanan dari setiap jembatan yang menyusun komponen waktu,
lamngkah pertama perlu menganalisi waktu yang digunakn dalam melayanan setiap
je................ dengan menghitung waktu ril yang di gunakan(bukan............)

30
Dalam setiap pekerjaan layanan, kemudiankeseluruhan proses tahapan yang
menjadi prosedur tersebut dijumlahkan.
Selanjutnya perlu mempertimbangkan adanya kemampuan internal,diantaranya:
sarana, peralatan, fasilitas, dan teknologi yang di gunakan beban atau volume pekerjaan
rata-rata, dukungan tenaga tingkat kompetensinya atau keterampilan kerjanya,
kedisiplinan,tanggung jawab serta pemngalaman dalam pemberian pelayanan selama
ini, dan harapan masyarat.
Biaya/tarif
Biaya/tarif adalah ongkos yang dikenakan kepadapenerima layana dalam
mengurus dan/atau memperoleh pelayanan nari penyelenggara yang besarnya di
tetapkan berdasarkan kesepakatan antara penyelenggara dan masyarakat. Proses
perumusan komponen biaya/tarif, langkah pertama pelayanan memperhatikan apabila
biaya pelayanan tersebut sudah diatur dalam perundang-undangan daerah atas jenis
pelayanan tersebut,maka ketentuan biaya tersebut tetap berlaku.
Produk Pelayanan
Produk pelayanan adalah hasil pelayanan yang di berikan dan ditulis sesuai
dengan ketentuan yang telah di tetapkan. Dalam menyusun kommunikasi pelayanan,
menyebutkan kepada masyarakat, selanjutnya menyelengarakan bagaiman standar
kualitas, ukuran, atau spesifikasi dari produk yang di berikan.
Produk pelayanan harus dapat menjamin kualitas, yang menjamin
a. Kepastian hukum, di proses sesuai dengan ketentuan dan proses yang berlaku;
b. Keamanan, layanan barang jasa administrasi yang di berikan kesalahan
pembuatan data,salah tulis;
c. Keselamatan, layanan barang/jasa/administrasi yang di butuhkan penggunaan nya
di jamin bahan/ material yang baik dan tidak rusak
Rumusan yang dituangkan dalam Standar pelayanan ialah bahwa Produk
Pelayanan telah memenuhi Standar Kualitas ditentukan.
Sarana, Prasarana, dan/atau Fasilitas
Sarana, Prasarana, dan/atau Fasilitas adalah peralatan yang di perlukan dalam
penyelenggaraan pelayanan, termasuk fasilitas pelayanan bagi kelompok retan.
Sarana pelayanan dapat berbentuk berbagai fasilitas,yang di gunakan dalam
ponpes memprodiksi, menyediakan pelayanan, antara lain: meja, Kursi, filling cabinet,
lemari.mesin ketik, mesin hitung, alat tulis kantor, formulir,papan tulis, komputer,
fasilitas telekomunikasi; pesawat telefon, faximin.

31
Sistem kontrol, gudang, gudang, ruang tunggu tamu dan lain-lainnya yang menggunakan
langsung atau menunjang dalan proses penyelenggaran pelayanan.
Kompetensi Pelaksana
Kompetensi Pelaksana adalah kemampuan yang harus dimiliki oleh peksana
meliputi pengetahuan, keahlian,keterampilan dan pengalaman.penyusunan komponen
kopetensi pelaksana untuk memberikan gambaran mengenai dukungan kemampuan
petugas pelayanan meliputi pengetahuan,keahlian,keteramopilan, dan pengalaman yang
harus di miliki oleh setiappelaksana atau petugas dalam menjalankan tugas
penyelenggaranpelayanan. Penyusunan disesuaikan dengan kebutuhan dalam
beban/volume, sifat pekerja, mekanisme dan prosedur yang di jalankan serta
penggunaan teknologi dalam proses penyelenggaraan pelayanan.
Dalam uraian komponen ini pada standar pelayanan perlu di berikan gambaran
mengenai kapasitas berapa jumlah dukungan pelaksana/petugas yang di tempatkan
sesuai budang tugasnya, dan uraian kualifikasi pendidikan dan kompetensinya.
Perlu di lakukan analisi yang cermat terhadap kebutuhn kompetensi dan elaksana
pegawai yang ada untuk diatur penempatannya pada tugas yangsesuai dalam
penyelenggaraan pelayanan.
Pengawasan Internal
Pengawasan Internal adalah sistem pengendaliaan intern dan pengawasan
langsung yang di lakukan oleh Direktur RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan atasn
langsung Pelaksana. Pengawasan Internal Merupakan Pengawasn yang di fokuskan
sebagaii manajemen pengendalian internal yang berperan untuk menjamin aktifitas
penyelenggaraan pelayanan agar dapat berjalan optimal dan konsisten sesuai dengan
Standar Pelayanan yang telah di tetapkan.
Pengawasan ini perlu di akukan secara terus menerus, mencegah dan meluruskan bila
terjadi kesalahan/penyimpangan,membantu dan membangun iklim dan budaya kerja
yang tertib, taat dan mengembangan etos kerja, disiplin dan produktif.

32
Penanganan Panduan, Saran, Dan Masukan
Penanganan panduan, saran, dan masukan adalah tatacara pelaksanaan
penanganan pengaduan dan tindak lanjut. Merupakan mekanisme pengelolaan
pengaduan, masukan berupa kritikan, saran/ usulan dari masyarakat sebagai rialisasi
terhadap permasalahan yang terjadi dalam diri masyarakat penting untuk dikelola secara
proporsional sebagai bahan untuk koreksi dan upaya perbaikan kebijakan pelayanan
kedepan.
Perlu dikenali faktor penyebab timbulnya pengaduan/keluhan masyarakat, arara
lain : lemahnya komunikasi pelayanan informasi, lemahnya sistem percatatan dan
dokumentasi, pelayanan yang kurang memberikan kemudahan bagi kepentingan atau
kebutuhan pekerjaan pelayanan dengan penerapan Styandar Pelayanan, dan Lainya
Dalam pengelolaan pengaduan perlu disiapkan tatacara penanganan nya,
disiap[kan sarana pengaduan dan lainya. Tatacara pengelolaan pengaduan tersebut di
cantumkan dalam format Standar playanan.
Jumlah Pelaksanan
Jumlah pelaksana adalah tersedianya pelaksana sesuaio dengan bagian kerja.
Informasi mengenai komposisi atau jumlah petugas melaksanakan tugas sesuai
pembagian dan urauan petugasnya.
Menggambarkan berapa besar jumlah petugas yang berfungsi sebagai pelaksana
dan bertanggung jawab dalam menangani pekerjaan pekasana dan bertanggung jawab
dalam menangani pekerjaan sesui struktu, jabatan, tgas, dan kewenangan yang di
tentukan, jadi pelaksana terkait dengan informasi komponen kompetensi pelaksanaan
tersebut, yang di lengkapi dengan dukungan kualifikasi dan kompetensi memadai sesuai
dengan bidang tugas dan beban kerja di bidang pelaksanayang bersangkutan
Jaminan Pelayanan
Jaminan pelayanan adalah memberikan kepasyian terhadap dilaksanakan sesuai
standar pelayanan, jaminandilaksanakan sesuai Dtandar pelayanan, jaminan
menunjukan kesanggupan unit dan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon. Kapasitas
manajemen yang ada untuk memberikan kepastian bahwa penyelenggaraan pelayanan
harus sesuai dengan Standar pelayanan
Untuk menunjukan dan memberikan jaminan pelayanan maka perlu upaya kreatif
menciptakan suatu kebijakan atau(aturan main) yang berorientasi untuk Melaksanakan
Srtandar Pelayanan Secara Konsisten, Misal membuat tata tertib, kode etik atau
semacam janji dalam penyelengaraan pelayanan berbasis Standar Pelayanan di
cantimkan nama/judul tata tertib, kode etik, atau slogan sebagai format Standar
Pelayanan dan ecara nyata juga harus dilaksanakan
Jaminan Keadaan dan Keselamatan Pelayanan
Jaminan Keadaan dan Keselamatan Pelayanan adalah pelayanan dari komnitmen
untuk memberikan rasa aman, bebas dari bahan keragu-raguan, Untuk

mengimplementasi kominmen tersebut dengan komitmen jaminan pelayanan, yaitu


perlu ,mempertimbakan kebijakan atau ketentuan (aturan main) yang berorientasi.

33
Evakuasi Kinerja Pelaksana
Evakuasi Kinerja Pelaksana adalah penilaian untuk mengetahui seberapa jauh
pelaksanaan kegiatan sesuai dengan Stadar Pelayanan .lainnya adalah untuk melihat
kembali tingkat keakuratan dan ketepatan pelayanan Standar Pelayanan yang sudah
disusun dengan proses penyelenggaraan tugas dan fungsi, sehingga penyelenggaraan
pelayanan dapat dilaksanakan secara evisien dan efektif. Upaya evakuasi dilakukan
harus secara medikdan berkesinambungan untuk mengetahui kondisi perkembangan
dan mengukur keberhasilan dan / atau mengetahui hambatan/ kendala yang
memerlukan dalam rangka pelaksanaan Standar Pelayanan.
Selanjutnya dilakukan tindakan perbaikan terutama untuk menjaga dari
meningkatkan kinerja pelayanan. Untuk mempermudah penilaian kinerja sebagai bagian
dari proses pengawasan internal, dapat digunakan alat bantu Lembar Kerja -9 sebagai
mana terlampir
Menyusun Standar Pelayanan
Agar penyusunan Standar Pelayanan dapat terlaksana dengan baik dan dapat di
pertanggungjwabkan, maka dalam penyusunan Standar Pelayanan perlu melakukan
idenf=tifikasi kondisi penyelenggaraan pelayanan saat ini. Tujuan nya adalah untuk
mengenali, mendata, dan mengetahui sejauh mana kondisi manajemen yang terkait
dengan komponen Standar pelayanan yang akan disususn dalam penyelenggaraan
pelayanan.
Untuk memudahkan proses dalam identifikasi, perlu dilakukan pendataan dan
pencatatan informasi dengan menggunakan alan bantu lembar kerja sebagai berikut:
1. Identifikasi Tugas, Fungsi, Kewenangan, dan Dasar Hukum Kelembagaan
Proses identifikasi ini dilakukan dengan dipandu melalui beberapa
pertanyaan,antaralain:
a. Kewenangan menyelenggarakan jenis pelayanan;
b. Apa saja yang di miliki/dilaksanakan oleh RSUD Gunung Jati Kota Cirebon;
c. Bagai mana bentuk/stuktur, tugas,fungsi, dan kewenangan RSUD Gunung Jati
Kota Citebon
d. Satuan Kerja Perangkat Daerah Mana saja yang terkait dengan program
penyelenggaraan pelayanan dari jenis pelauyanan yang akan disesuaikan
standar Pelayanannya;
e. Peraturan/kertentuan apa saja yang terkait dan mendasari dengan kewenangan
penyelengagraan pada jenis pelayanan yang akan disesuailamn Standar
Pelayanannya.

34
Mendeskrisi Jenis Pelayanan, Produk Pelayanan, Masyarakat dan Pihak terkait
Untuk menudahkan Proses identifikasi aspek jenis pelayanan dan masyarakat,
dapat dipandu dengan menjawab pertanyaan, antara lain:
a. Apa produk pelayanan yang di selenggarakan atau dihasilkan, dan yang di berikan
kepada masyarakat sesuai dan fungsi;
b. Apa dasar huku, dalam penyelenggaraan pada setiap jenis pelayanan tersebut;
c. Siapa pengguna produk layanan baik yang langsung maupun tidaklangsung
menggunakan dari hasil penyelenggaraan pelayanan tersebut;
d. Apa atau siapa pengguna layanan, masyarakat umun, SKPD lain atau internal
e. Siapa pemangku kepentuingan yang terkait dengan produk pelayanan yang di
berikan.
Identifikasi Mekasnisme dan Prosedur, Persyaratan Biaya dan Waktu
Untuk engidentifikasi mekanisme dan prosedur, persyaratan, biaya dan waktu
penyelenggaraan pelayanan pada saat ini, dapat dilakukan dengan mempelajari,
mencermati, meneliti kondisi prosedur persyaratan, biaya dan waktu pelayanan yang
telah di berlakukan saat ini.
Setiap jenis pelayanan diidentifikasi seluruh di aktivitasnya, dan urutan/langkagh
kegiatan pelayanan, di mulai sejak kegiatan awalmelayani ketika masyarakat datang,
diproses menurut urutan prosedur layanan sampai selesai menerima pelayanan, pada
proses ini perlu di catat seapa saya pelaksana/petugas yang terlibat menyelesaikan
setiap tahapan pekerjaan tersebut. Juga di catat bagaimana peran masing-masing
pelaksana/petugas melakukan pekerjaan aoa dalam proses penyelesaian dan pelayanan
tersebut memerlukan waktu beberapa menit/jam
Alur mekanisme, urutan prosedur keguiatan dalam proses pelayanan tersebut
agar di buat atau di gambarkan dalam suatu diagram/ bagan atau (flowchart) sehingga
dapat jelas dan mudah di kenali pekerjaan

35
Sarana Perasarana Dan Anggaran
Selanjutnya adalah melakukan identifikasi terhadap sarana dan prasarana serta
dukungan anggaran yang di gunakan dalam tugas penyelenggaraan pelayanan. Dalam
tahap ini perlu mengenali dan mendata siapa apa saja dan berapa jumlah/ kapasitas
sarana dan prasarana yang bisa untuk aktivitas penyelenggaraan pelayanan. Berapa
jumlah anggaran belanja/biaya dalam rangka penyelenggaraan pelayanan pada suatu
produk pelayanan dalam tahun anggaran yang lalu dan tahun yang bersangkurtan.
Identifikasi Jumlah dan Kompetensi SDM
Kegiatan identifikasi SDM aparatur pelayanan, meliputi kegiatan untuk mendata
baik dari sisi kuantitas maupun kualitas, juga mendata jumlah pelaksana, jenjang
pendidikan, perangkat, pelatihan atau keterampilan yang dimiliki atau yang pernah
diikuti, serta jabatan dan uraian tugas masing-masing
Identifikasi Pengawasan Internal
Pengawasan internal merupakan salah satu komponen Standar pelayanan dalam
penyelenggaraan pelayanan. Oleh karena itu perlu diidentifikasi guna di ketahui
bagaimana kondisi pengawasaan pada unit penyelenggara pelayanan. Apakah sudah ada
dan
telah
berfungsi
sertya
bagaimana
status
dan
bentuk
organisasi
( struktural/fungsional).
Identifikasi Penanganan Pengaduan,Saran Dan Masukan
Identifikasi Penanganan Pengaduan,Saran Dan Masukan merupakan salah satu
komponen Standar pelayanan dalam penyelenggaraan pelayanan. Oleh karena itu perlu
diteliti bagaimana kondisi pengelolaan pengaduaan,saran,dan masukan pada unit
penyelenggara pelayanan untuk jenis pelayanan tertentu. Jika sudah ada sistem dan
fungsinya, lalu di jabarkan pula bagaimana status dan bentuk organisasi, tugas dan
fungsi, prosedur, tindak lanjut dan dukungan SDM.
Identifikasi Sistem Jaminan Pelayanan Dan Jaminan Keamanan
Sistem jaminan pelayanan dan keamanan merupakan bentuk komitmen
mengenai kesanggupan dari pihak unit penyelenggara untuk memberikan kepastian
mengenai kualitas pengelenggaraan dan prasarana layanan.

Perlu di cermati dan diteliti apakah ada upaya atau kebijakan yang di
buat,diciptakan, yang terkait dengan usaha untuk menjaga pelaksanaan pelayanan
dapat berjalan lancar, cepat,mudah,pasti, aman dengan menimbulkan resiko bahaya,
misalnya menciptakan rambu-rambu dengan menyiapkan sarana/fasilitas untuk
keselamatan dan keamanan pasien pengguna layanan.
Bentuk penciptaan sarana fasilitas tersebut perlu di tetapkan diindentifikasi,
termasuk apakah sudah di dukung standar teknis dan menjamin keamanan maupun
keselamatan pengguna layanan.

36
Identifikasi aspek-aspek lain yang terkait dengan komponen Standar Pelayanan
Apabila masih terdapat aspek-aspek lain yang belum teridentifikasi alam
komponen di atas, namun pada kenyataan nya ditemukan fakta bahwa ada unsur-unsur
baik dalam bentuk fasilitas sarana, sisten, maupun simbol-simbol yang dapat
memberikan komposisi menunjang dalam penyelenggaraan pelayanan maka dapat
menambahkan komponen flain yang di butuhkan.
Informasi yang di muat dalam format Stabdar Pelayanan adalah instansi yang
terkait langsing dengan penyelenggaraan pelayanan dan yang dapat diukur.
Standar pelayanan yang telah di sususn menjadi rancangan dan opelayanan akan di
bahas bersama perwakilan masyarakat. Metode yang di gunakan dapat berupa: Rapat
Bersama,
Rancangan Standar Pelayanan Yang telah dihasilkan melalui pembahasan dengan
masyarakat kemudian disiapkan untuk dilakukan Standar Pelayanan yang telah di
tetapkan selanjutnya dapat dilakukan pengesahan kebijakan. Bentuk penguatan Standar
Pelayanan dapat di lihat dari keputusan Direktur RSUD Gunung jati Kota Cirebon.
E. Maklumat Pelayanan
Sebelum menerapkan Standat pelayanan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon akan
menyusun dan menetapkan maklumat pelayanan dari pelayanan perupakan persyaratan
kesanggupan dan kewajibnan di muat dalam maklumat Pelayanan adalah:
1. Pernyataan Janti dan Kesanggupan Untuk Melaksanakan Pelayanan Dengan
Standar Pelayanan Secara Konsisten
2. Pernyataan kesediaan Untuk Menerima Sangksi Apabila Pelayanan Tidak Sesuai
Standar Pelayanan.
Maklumat Pelayanan yang telah di sususn di Publikasikan Serta Terbuka Kepada
masyarakat, Melalui Berbagai Media yang Mudah dari masyarakat

37
BAB IV
PENYUSUNAN NASKAH RSUD GUNUNG JATI KOTA CIREBON
Penyusunan naskah regulasi di lingkungan RSUD Gunung jati Kota cirebin Memperhatikan
babarapa hal, yaitu sebagai barikut
1. Keputusan

atas

nama

Walikota

Cirebon

yang

ditandatangani

Direktur

pengertian Keputusan Walikota Cirebon Dengan Ketentuan Sebagai Berikut:


a. kepurusan Direktur RSUD Gunung jati Kota Cirebion dibuat menggunakan
kertas HVS ukuran f4-70 gram berkos RSUD Gunung Jati Kota Cirebon.
b. Besar batas atas-bawah-kiri-kanan yang di pakai ialah1;2;2;2; cm.
c. Jenis huruf yang digunakan adalah Bookman Old Style dengan ukuran dan
lebar spasi sebesar 1,5 spasi.
d. Bentuk yang di pakai adalah bentuk surat lurus (block Style) dan penulisan
judul dokumen maka yang digunakan adalah posisi sejajar di tengah.
2. Surat dinas
Pengertian Surat Dinas dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Surat dinas RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dibuat Menggunakan kertas HVS
Ukuran F4-70 gram berkop RSUD Gunung jati Kota Cirebon.
b. Besar batas atas-bawah-kiri-kanan yang di pakai ialah1;2;2;2; cm
c. Jenis huruf yang digunakan adalah Bookman Old Style dengan ukuran dan
lebar spasi sebesar 1,5 spasi.
d. Bentuk yang di pakai adalah bentuk surat lurus (block Style) dan penulisan
judul dokumen maka yang digunakan adalah posisi sejajar di tengah.
3. Pedoman
Pengertian pedoman dengan ketentuan sebagai berikut:

a. Pedoman merupakan bagian lampiran dari keputusan Direktur RSUD Gunung


Jati Kota Cirebon dengan dibuat menggunakan kertas ukuran F4-70 gram
berkop RSUD Gunung jati Kota Cirebon.
b. Besar batas atas-bawah-kiri-kanan yang di pakai ialah1;2;2;2; cm
c. Jenis huruf yang digunakan adalah Bookman Old Style dengan ukuran dan
lebar spasi sebesar 1,5 spasi.
d. Bentuk yang di pakai adalah bentuk surat lurus (block Style) dan penulisan
judul dokumen maka yang digunakan adalah posisi sejajar di tengah.

38
4. Panduan
Pengertian panduan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. Panduan merupakan bagian lampiran dari Keputusan Direktur RSUD Gunung
Jati Kota Cirebon dengan dibuat menggunakan kertas ukuran F4-70 gram
berkop RSUD Gunung jati Kota Cirebon.
b. Besar batas atas-bawah-kiri-kanan yang di pakai ialah1;2;2;2; cm
c. Jenis huruf yang digunakan adalah Bookman Old Style dengan ukuran dan
lebar spasi sebesar 1,5 spasi.
d. Bentuk yang di pakai adalah bentuk surat lurus (block Style) dan penulisan
judul dokumen maka yang digunakan adalah posisi sejajar di tengah.
5. Standar Prosedur Operasional
Pengertian standar prosedur operasional dengan ketentuan sebagai berikut;
a. menggunakan kertas ukuran A4-70 gram berkop RSUD Gunung jati Kota
Cirebon.
b. Besar batas atas-bawah-kiri-kanan yang di pakai ialah1;1;2;1 cm
c. Jenis huruf yang digunakan adalah arial dengan ukuran 12 dan spasi 1,5
spasi dan untuk penulisan SPO agar menggunakan Huruf kapital(BOLD).

39
Penyusunan naskah dalam bentuksurat di lingkungan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon
harus memperhatikan beberapa hal, yaitu sebagai berikurt:
1. Penyelenggaraan urusan kedinasan melalui surat-menyurat dinas harusm
dilaksanakan secara cermat agar tidak menimbulkan salah penafsiran.
2. Koordinasi antar pejabat terkait hendaknya dilakukan dengan mengutamakan
metode yang paling cepat dan tepat, misalnya diskusi, dinas diperlukan koordinasi,
pejabat yang bersangkutan melakukannya mulai tahap penyusunan draft,
sehuingga perbaikan pada konsep final dapat dihindari.
3. Urusan kedinasan yang dilakukan dengan menggunakan tatacara dan prosedur
surat menyurat harus menggunakan sarana komunikasi resmi.
4. Batas waktu jawaban surat disesuaikan dengan surat yang bersangkutan.
5. Waktu penandatanganan surat harus memperhatikan jadwal pengiriman surat
yang berlaki di RSUD Gunung Jati Kota Cirebon dan Segera Dikirimkan setelah
Ditandatangani.
6. Pengadaan / salinan surat hanya diberikan kepada yang berhak dan memerlukan,
dinyatakan dengan memberikan alamat yang di maksud dalam tembusan.
Salinan surat dibuat terbatas hanya untuk kebutuhan sebagai berikut:
a. Salinan Tembusan adalah Salinan surat yang disampaikan kepada pejabat yang
seara fungsional terkait.
b. Salinan laporan adalah salinan surat yang di sampaikan kepada pejabat yang
ber wenang
c. Salinan untuk arsip adalah salinan surat yang di simpan untuk kepentingan
pengelolaan arsip.
7. Tembusan surat di sampaikan kepada unit kerja terkait, sedangkan lampiran hanya
di sampaikan kepada unit yang bertanggung jawab.
8. Tingkat Keamanan.
a. Sangat rahasia (R), merupakan surat yang materi dan sifatnya memaksimalkan
tingkat keamanan tinggi yang tinggi , erat hubungannya dengan rahasia
negara, keamanan dan keselamatan negara.
b. Rahasia disingkat (R), meripakan surat yang materi dan sifatnya memiliki
tingkat keamanan tinggi yang berdampak kepada kerugian negara disintegrasi
bangsa.
c. Penting disingkat (P), merupakan surat yang tingkat keamanan isi surat perlu
mendapat perhatian penerima surat.
d. Kondensial disingkat (K), merupakan surat yang materi dan sifat memiliki
tingkat keamanan sedang yang berdampak kepada terhambatnya jalan nya
pemerintahan dam pembangunan.
e. Biasa siingkat (B) merupakan surat yang materi dan sifatnya namun tidak dapat
di sampaikan kepada yang tidak berhak.

40
.............................proses.
a. ..........segera/kilat, dengan batas waktu 24 jam setelah surat di terima;
b. ..................harus egera dengan batas waktu 2 x 24 jam setelah surat di
terima;
c. Hal penting, dengan batas waktu 3 x 24 jam setelah surat diterima; dan
d. ........., dengan batas waktu maksimum 5 hari kerja setelah surat diterima.
Penggunaan Kertas Surat.
Kertas yang di gunakan adalah HVS ukuran F4-70 gram dan berkop RSUD Gunung Jati
Kota Cirebon atau di sesuaikan dengan kebutuhan, antara lain untuk kegiatan suratmenyurat, pengadaan dan dokumen pelaporan;
..... Naskah Dinas dan Stempel RSUD Gunung Jati Kota Cirebon
Penggunaan Tinta untuk Naskah Dinas
1. Naskah yang digunkan untuk naskah dinas berwarna hitam
2. Tinta yangh di gunakan untuk pendaftaran dan paraf naskah dinas berwarna biru
tua
3. Tinta yang di pergunakan untuk keperluan keamanan naskah dinas berwarna
merah.
Stempel yang diakui sebagai stempet RSUD Gunung Jati Kota Cirebon terdiri dari 2
bentuk, yaitu :
1. Stempel Resmi Rumah Sakit
Bentuk : 1) Stempel RSUD Gunung Jati Kota Cirebon Yaitu bertbentuk linbgkaran
dengan ukuran dengan ukuran meliputi :
a. Ukuran garis teengah lingkaran luar stempel RSUD Gunung Jati
Kota cirebon adalah $ cm;
b. Ukuran garis tengah lingkaran dalam stempel RSUD Gunung Jati
Kota Cirebon adalah 3,8 cm;
c. Ukuran garis tengah lingkaran dalam stempel RSUD Gunung Jati
Kota Citebon adalah 2,7 cm;
d. Jarak antara 2 (dua) garis yang terdapat stempel lingkaran
maksimal 1 cm;
Warna

: warna tinta yang dgunakan dalam pemakaian stempel warna ungu di


bubuhkan pada bagian kiri tandatangan pejabat yang mendatangani naskah
dinas.

Penerbitan : Sub Bagian Tata USAHA


Kewenangan pemegang dan penyimpanan stempel RSUD Gunung Jati Kota Cirebon
dilakukan oleh Sub Bagian Tata Usaha
Contoh gambar

.......................................................................................

41
.......unit kerja
...................:
1) Kop RSUD Gunung Jati Kota Cirebon yaitu berbentuk palang dengan
ukuran 12 cm yang didalamnya terdapat simbol mengilustasikan motto
RSUD Gunung Jati Kota Cirebon yaitu melayani dengan Hati
2) Nama Unit Kerja ditulis dengan ukuran huruf 12 dengan jenis huruf
bookman old stle-bold; RSUD Gunung Jati Kota Cirebonditulis dengan
ukuran hurufn 12 dan jenis huruf bookman old stle-bold ; Kota Cirebon
di tulis Dengan Ukuran huruf 12 dan jenis huruf bookman old stlebold ;Motto RSUD Gunung Jati Kota Cirebon ditulis dengan ukuran Huruf
10 dan jenis Huruf bookman old stle-italic
3) Nama unit kerja di posisikan di samping kop dengan ukuran urutan
nama unit kerja di baris pertama, RSUD Gunung Jati di baris kedua,dan
Kota Cirebon di baris ketiga serta motto de baris keempat.
Warna

: warna tinta yang dgunakan dalam pemakaian stempel warna ungu di


bubuhkan pada bagian kiri tandatangan pejabat yang mendatangani naskah
dinas.

Penerbitan

: Masing-0masing Unit Kerja RSUD Gunung Jtai Kota Cirebon

Conto gambar

C. Sampul naskah RSUD Gunung Jati Kota Cirebon


Sampul Naskah RSUD Gunung Jati Kota Cirebon bertuliskan Kop RSUD Gunung Jati
Kota Cirebon berbentuk persegi panjang
Conto gambar

43
Perubahan paraf
........dilingkungan RSUD Gunung Jati Kota Cirebon sebelum di tandatangani pleh direktur
harus di paraf terlebih dahulu. Naskah dinas dalam bentuk dan ........produk hukum
sebelum di tandatangani terlebih dahulu di faraf pada rangkap lebar, paraf dilakukan
oleh pejabat terkait secara horizontal dan kapital.
Paraf merupakan tandatangan singkat sebagai bentuk pertanggungjawaban pada
muatan materi,substansi, redaksi, dan pengertian naskah dinas meliputi paraf heirarkhis
dan faraf koordinasi.
Membubuhan paraf heirarkhis
a. Naskah dinas sebelum di tandatangani oleh direktur harus di paraf terlebih dahulu
oleh maksimal 3 (tiga) orang perjabat secara berjenjang untuk bertanggung jawab
terhadap subtansi, redaksi dan pengetikan naskah dinas tersebut sesuai dengan
tugas pokok dan fungsinya, penempatan paraf tersebut pada lembar pertama
naskah dinas sesuai arah jarum jam dimulai dari sebelah kiri nama pejabat yang
akan mendatangani.
b. Paraf dibubuhkan pada lembar pertama
c. Untuk keamanan isi naskah dinas yang jumlahnya lebih dari 1(satu) halaman,
sebelum naskah dina tersebut ditandatangani oleh pejabat yang berwenang maka
harus dibubuhkan paraf pejabat pengolah pada sudut kanan bawah setiap
halaman.
d. Naskah dinas dalam bentuk dan susunan surat yang mempunyai lampiran, pada
lembar lampiran dipokok sebelah atas ditulis lampiran surat, nomor pejabat yang
berwenang
Pembubuhan paraf koorinasi
a. Naskah dinas di dalam bentuk dan dudunan produk hukum yang materinya
menyangkut kepentingan unit lain sebelum ditandatangani oleh pejabat yang
berwenang harus diparaf terlebih dahulu oleh unit pengolah, unit lain yang bagian
kanan bawah setiap yang terkait sub bagian rekam medis dan hukum pada setiap
lembar naskah bagian kanan bawah setiap haklaman
b. Naskah dinas dalam bentuk dan susunan yang materinya menyangkutkepentingan
unit lain sebelum ditandatangani oleh pejabat yang berwenang harus di paraf
koordinasi terlebih dahulu oleh unit pengolah, unit lain yang terkait pada lembar
terakhir naskah.
c. Paraf koordinasi dibuat dalam bentuk stempel persegi empat.
Contoh pembuatan paraf hierarkhis dam bentuk searah jarum jam sebagai berikut
a. Maskah

dinas

yang

konsepnya

Ditandatangani oleh walikota cirebon


WALIKOTA CIREBON
pembubuihan paraf hierarkhis
(a) Untuk Sekretaris Daerah
(b)Untuk Asisten

ibuat

RSUD

Gunung

Jati

Kota

Cirebon
(B)

(c) Untuk Direktur


i. NAMA JELAS