You are on page 1of 11

PERILAKU KONSUMEN

by: Herawati ( NPM : 10108959)

I. PENDAHULUAN

Teori perilaku konsumen , yang biasanya hanya disingkat teori konsumen mencoba
menerangkan perilaku konsumen dalam membelanjakan pendapatannya untuk
mempperoleh alat-alat pemuas kebutuhan , yang dapat berupa barang-barang konsumsi
ataupun jasa jasa konsumsi. Kesimpulan yang dapat dihasilkan oleh teori konsumen
antara lain adalah bagaimana reaksi konsumen dalam kesediaannya membeli sesuatu
barang terhadap berubahnya jumlah pendapatn yang ia peroleh , terhadap berubahnya
harga barang yang bersangkutan , terhadap berubahnya harga barang-barang yang
berhubungan dengan barang yang bersangkutan , terhadap berubahnya cita rasa yang
dimilikinya . Dengan demikian jelaslah kiranya bahwa teori konsumen tersebut
merupakan dasar teoritk kurva permintaan akan barang-barang dan jasa – jasa konsumsi.

2. Pendekatan Perilaku Konsumen

2.1 Pendekatan Cardinal / Marginal Utility


Pendekatan ini beranggapan bahwa kepuasan konsumen dapat diukur
dengan satu satuan , misalnya uang.

2.2 Pendekatan Ordinal /Gossen (ndefference Curve)


Pendekatan ini beranggapan bahwa kepuasan konsumen tidak dapat diukur
dengan satu satuan. Tingkat kepuasan konsumen hanya dapat dinyatakan
lebih tinggi atau lebih rendah. Dalam pendekatan ordinal ini digunakan
anggapan sebagai berikut :

1. Utility bisa diukur dengan uang.


2. Hukum Gossen (The Law of Diminishing Returns) berlaku yang
menyatakan bahwa “ Semakin banyak sesuatu barang dikonsumsi,
maka tambahan kepuasan yang diperoleh dari setiap satuan tambahan
yang dikonsumsikan akan menurun”.
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan .

Total Utility adalah kepuasan yang diperoleh dari mengkonsumsi sejumlah


barang tertentu . Marginal Utility adalah tambahan atau pengurangan kepuasan sebagai
akibat dari pertambahan atau pengurangan satu unit barang tertentu.
Tabel Total Utility (TU) dan Marginal Utility (MU)

Curve Total Utility (TU) dan Marginal Utility (MU)

Apabila yang dikonsumsi hanya 1 barang, maka tingkat kepuasan maksimum


dapat dicapai pada saat total utilitynya mencapai maksimum. Apabila yang dikonsumsi 2
macam barang atau lebih, maka kepuasan maksimum dapat dicapai pada saat total
utikitynya mencapai maksimum. Appabila yang dikonsumsi 2 macam barang atau lebig,
maka kepuasan maksimum dapat dicapai apabila marginal utility untuk sejumlah barang
yang dikonsumsi sama besarnya.

MUx MUy MUz


  ............ 
Px Py Pz

Jika seorang konsumen mempunyai harga Rp. 12,- harga nasi Rp. 1,- per piring
dan harga roti Rp. 2,- perbungkus.

Tabel 2. Marginal Utility Nasi dan Roti


Konsumen akan mencapai tingkat kepuasan maksimim dengan syarat sebagai berikut :

MUnasi MUroti 12 6
1.  atau 
Pnasi Pr oti 2 1
2. (PP Nasi x Q Nasi) + ( P Roti x Q Roti) = M
(1 x 6) + (2 x 3) = Rp 12,-

Anggapan dalam pendekatan Indeferrence Curve sebagai berikut :


1.Konsumen mempunyai pola preferensi akan barang-barang tertentu.
2. Konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu..
3. Konsumen berusaha memaksimumkan kepuasan.

Ciri-ciri Indeferrence Curve sebagai berikut :


1.Turun dari kiri atas ke kanan bawah.
2. Cembung ke arah origin.
3. Indefference Curve yang satu dengan yang lainnya tidak pernah saling memotong.
4. Indefference Curve yang terletak di sebelah kanan atas menunjukkan tingkat kepuasan
yang lebih tinggi dan sebaliknya.

Tabel 3 Kombinasi Nasi dan Roti yang memberikan Kepuasan Sama


Indefference Curve

Semua titik-titik tersebut menggambarkan bahwa kombinasi berapapun akan memberikan


kepuasan yang sama. Jika konsumenmengkonsumsi 15 nasi dan 3 roti kepuasannya akan
sama dengan mengkonsumsi 3 nasi dan 11 roti . Tingkat penggantian menggambarkan
bahwa kenaikan tingkat konsumsi roti dan 3 menjadi 4 harus mengurangi konsumsi nasi
dari 15 menjadi 10.
Jika seorang konsumen mempunyai sejumlah uang tertentu dan membelanjakan seluruh
untuk nasi , maka nasi yang diperoleh sebanyak M / Pn atau membelanjakan utnuk roti
seluruhnya M /Pr atau membelanjakn berbagai kemungkinan kombinasi nasi dan roti
yang ditunjukkan oleh garis lurusyang menghubungkan M /Pn dan M /Pr. Garis tersebut
dinamakan Budget Line atau Garis Anggaran Pengeluaran. Contoh Budget Line sebagai
berikut:

Tabel 4. Kombinasi Berbagai Kemungkinan yang dapat dibeli

Budget Line
Konsumen mempunyai uang Rp 60,- , dimana harga nasi Rp 5 per satuan dan roti Rp 10
per satuan , jika uang tersebut dibelanjakan untuk nasi , konsumen harus membayar Rp 5
x 10 = Rp 60 dan jika dibelikan roti semua Rp 10 x 6 satuan = Rp 60.

Faktor yang adpat merubah Budget Line sebagai berikut ;


1.Perubahan harga
Jika harga naik, maka Budget Line akan mengarah ke titik origin dan sebaliknya.

Pengaruh Perubahan Harga terhadap Budget Line

Seorang konsume akan mencapai tingkat kepuasan maksimun dengan syarat bahwa dia
mencapai tiitk dimana Budget Line menyinggung Indefference Curve.
Perubahan-perubahan harga yang terjadi yang mempengaruhi keseimbangan
pemaksimuman kepuasan. Jika titik-tiitk dari perubahan harga tersebut dihubungkan ,
maka akan terjadi suatu kurva yang disebut Garis Harga Konsumsi . Suatu kurva yang
diperoleh apabila kita menghubungka titik-titik ekuilibrium yang diwujudkan oleh
perubahan pendapatan disebut Garis Pendapatan Konsumsi.

Harga Konsumsi dan Garus pendapatan Konsumsi

Perubahan harga yang mempengaruhi terhadap jumlah barang yang diminta dapat
diterangkan dengan menganalisa 2 faktor :
1. Substitution Effect.
2. Income Effect.

Substitution effect dan Incoming Effect

Dari gambar di atas Substitusi Effectnya = X1X2 yaitu kenaikan konsumsi Roti
denga adanya substitusi nasi dengan roti, karena harga roti menjadi lebih murah .
Income Effect = X2X3 yaitu kenaikan jumlah roti, karena penurunan harga roti
berarti kenaikan riil konsumen. Dengan menggunakan analisis Indefference Curve
dibuat suatu Kurva Permintaan sebagai berikut :

Kurva Permintaan barang dengan bantuan Indefference curve


Dengan seteris paribus , maka penurunan harga roti berakibat naiknya permintaan
roti. Ganbar di atas , misalnya pendapatan konsumen trtap dan harga roti turun dari
ab, ac maka keseimbangan kepuasan maksimum masing-masing terletak pada
titik A1, A2, A3.

Jika titik A1,A2, dan A3 dihubungkan maka terbentuk kurva permintaan ke atas roti.

3. SURPLUS KONSUMEN

Surplus Konsumen adalah kelebihan antara kepuasan yang diperoleh dari


mengkonsumsi barang dengan pembayaran untuk memperoleh barang tersebut .
Syrplus konsumen ini dapat diterangkan sebagai berikut :

Tabel 5 Surplus Konsumen

Dari tabel 5, jika harga roti Rp 150,- dan konsumen bersedia membayar Rp 500,-
maka dia memperoleh surplus 350. Demikian seterusnya sampai roti ke 4. Jika digambar
dalam grafik sebagai berikut :

Surplus Konsumen
Permintaan pasar suatu barang erupakan penjumlahan kurva permintaan konsumen yang
ada dalam pasar.

Permintaan Pasar

4. KONSEP ELASTISITAS
Dari uraian sebelumnya , perubahan harga suatu barang bertendensi
menimbulkan reaksi para pembeli barang tersebut berupa berubahnya jumlah yang
diminta. Pada umumnya meningkatny harga mengakibatkan berkurangnya jumlah
barang yang diminta dan sebaliknya menurunnya harga mengakibatkan berkurangnya
jumlah barang yang diminta . Kalau kita bandingkan antara barang yang satu dengan
barang yang lain , kita akan menemukan bahwa internsitas reaksi pembeli terhadap
perubahan harga dalam bentuk peningkatan atau penurunan jumlah yang diminta
berbeda-beda.Dengan perubahan harga yang sama perubahan dalam jumlah yang
diminta untuk barang satu bisa lebih banyak dari pada untuk barang yang lainnya .
Untuk mengukur intrensitas reaksi pembeli terhadap perubahan harga yang
bersangkutan para pemikir ekonomi telah menciptkan suatu alat analisis yang disebut
elastisitas.
Elastisitas adalah ukuran derajad kepekaan jumlah permintaan terhadap perubahan
salah satu faktor yang mempengaruhi.

Elastisitas dibagi menjadi :


1. Price elasticity ( Elastisitas harga ) adlah % perubahan kwantitas barang uyang
diminta sebagai akibat dari perubahan harga barang tersebut .

% perubahan kwantitas yang dim int a


EP=
% perubahan h arg a barang tersebut

E>1 Elastis
E<1 Enelastis
E=1 Elastisitas tunggal

3. Cross elasticity (Elastisitas Silang) adalah % perubahan jumlah yang diminta


terhadap sesuatu barang sebagai akibat dari perubahan harga barang yang lain.

% perubahan jumlah roti yang di min ta


Ec=
% perubahan h arg a roti

Ec positif untuk barang substitusi dan negatif untuk barang komplementer.

4. Income Elasticity (Elastisitas Pendapatan ) adalah % perubahan kwantitas barang


Yang diminta sebagai akibat dari perubahan pendapatan riil.

% perubahan jumlah barang yang dim int a


Ei =
% perubahanpendapa tan riil
Dalam menghitung koefisien Price Elasticity sebagai berikut :
1. Arc Elasticity (Elastisitas Busur).

Q/ 1 / 2 (Q1  Q 2)
Arc Elasticity (Ep) =
P / 1 / 2 ( P1  P 2)

Dimana :
Q=Q1Q2 dan
P=P1P2

Gambar Arc Elasticity


2. Point Elasticity (Elastisitas Titik).

dQ / Q dQ.P
Point Elasticity (Eh) = 
dP / P dP.Q

Gambar Point Elasticity

Elastisitas Kurva Permintaan dapat digambarkan sebagai berikut :

Elastisitas harga ini penting bagi penjual, sebab ada hubungan antara perubahan harga
dengan tingkat penjualan.
Hubungan penurunan harga dengan tingkat penjualan

1. Eh > 1, harga turun 1% permintaan naik lebih dari 1%.


2. Eh < 1, harga turun 1% permintaan naik kurang dari 1%.
3. Eh = 1, harga turun 1% permintaan naik 1%.
Demikian juga apabila harga naik.

Sumber bacaan:
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pengantar_ekonomi/Bab_2.pdf