Вы находитесь на странице: 1из 40

BAB I

PENDAHULUAN
Kelenjar prostate adalah suatu kelenjar fibro muscular yang melingkar Bledder neck
dan bagian proksimal uretra. Berat kelenjar prostat pada orang dewasa kira-kira 20
gram dengan ukuran rata-rata : panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm, tebal 2,6 cm. Secara
embriologis terdiri dari 5 lobus yaitu lobus medius 1 buah, lobus anterior 1 buah,
lobus posterior 1 buah, lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus medius,
lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi satu disebut lobus medius. Pada
penampang lobus medius kadang-kadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus
ini tampak homogen berwarna abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu,
kista ini disebut kelenjar prostat. Kelenjar Prostat merupakan organ urogenital pria
yang sering berkembang menjadi tumor jinak ataupun tumor ganas. Kelenjar prostat
terletak disebelah inferior vesika urinaria dan membungkus uretra pars posterior.
Kelenjar prostat dapat mengalami pembesaran, bila kelenjar prostat mengalami
pembesaran maka akan menyumbat uretra pars prostatika dan menyebabkan
terhambatnya aliran urin untuk keluar dari vesika urinaria. Kelenjar prostat berbentuk
seperti buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram.
McNeal (1976) membagi kelenjar prostat menjadi beberapa zona, yaitu : (1). Zona
perifer, merupakan 70 % bagian dari kelenjar prostat dewasa, (2). Zona sentral,
merupakan 25 % bagian dari kelenjar rostat dewasa, (3). Zona transisional, (4). Zona
fibromuskuler anterior dan, (5). Zona periuretra. Sebagian besar hiperplasia prostat
berasal dari zona transisional, 60 70 % pertumbuhan karsinoma prostat (CaP)
berasal dari zona perifer, 10 20 % berasal dari zona transisional dan 5 10 % dari
zona sentral (McNeal et al, 1988).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Embriologi
Prostat berkembang sebagai multipel padat yang tumbuh dari epitelhium uretra atas
dan bawah dari pintu masuk saluran duktus mesonephric. Bagian yang simpel dari
tubulus ini mulai berkembang dari menjadi 5 bagian pada saat terakhir minggu ke 11
dan selesai pada minggu ke 16. Mereka bercabang-cabang hingga berakhir dengan
suatu sistem pembuangan kompleks yang terdiri dari differensiansi sel mesenchymal
disekitar segmen dari sinus urogenital. Sel mesenchymal ini mulai berkembang lagi
disekitar tubulus mulai dari 16 minggu dan menjadi lebih ke perifer untuk membentuk
kapsul prostatik. Pada umur 22 minggu sel stroma muskular berkembang secara
bertahap dan proses ini berlanjut terus meningkat hingga kelahiran.
Dari 5 bagian kumpulan sel-sel epitel, terbentuk 5 lobus; anterior, posterior, median
dan 2 lobus lateral. Awalnya, lobus-lobus ini terpisah satu sama lain, namun nanti
mereka akan bertemu tanpa ada septum pembatas diantara mereka. Tubulus dari
masing-masing lobus tidak berikatan dengan yang lainnya tapi berdampingan satu
sama lain. Tubulus lobus anterior mulai berkembang secara simultan dibandingkan
dengan lobus yang lain. Meskipun di tahap awal tubulus lobus anterior besar dan
menunjukkan banyak percabangan, nantinya banyak dari percabangan itu akan
menghilang. Mereka berlanjut untuk mengecil, jadi pada saat kelahiran mereka
menunjukkan tidak mempunyai lumen dan terlihat sebagai epitelial embrionik solid
yang kecil. Dengan kontras, tubulus dari lobus posterior terdapat beberapa yang
berkembang jadi besar dengan percabangan yang ekstensive. Tubulus-tubulus ini,
sebagaimana mereka tumbuh, lobus posterior berekstensi berkembang ke lobus
median dan lobus lateral dan membentuk bagian posterior dari kelenjar prostat, yang
dapat dirasakan melalui rektal.
Fungsi reproduksi prostat menjadi aktif saat pubertas di mana sekresi prostat
memberikan

kontribusi

mayoritas

dengan

volume

ejakulasi

mengandung

spermatozoa. Kelenjar prostat umumnya diinformasikan sebagai awal perkembangan

pertumbuhan dewasa, pembesarannya bisa menyebabkan hyperplasia nodular jinak,


dan berpengaruh terhadap kesehatan pria bahkan bisa menyebabkan kanker prostat.
Kanker prostat merupakan tumor ganas kedua yang paling banyak pada pria barat dan
paling sering mengenai prostat zona perifer. Tahapan pembentukan prostat :
a.

b.

c.

d.

Testosteron janin merangsang mesenkim sinus urogenital melalui reseptor


androgen
Mesenkim sinus urogenital beraksi pada epitel diatasnya untuk merangsang
proliferasi sel
Epitel sinus urogenital kemudian membentuk sumber duktus prostat, tunas
(bakal) epitel prostat.
Tunas prostat kemudian tumbuh menjadi mesenkim sinus urogenital5

2.2.Anatomi
2.2.1. Lokasi dan Deskripsi
Prostat merupakan organ kelenjar fibromuskular yang mengelilingi urethra pars
prostatica. Prostat mempunyai panjang kurang lebih 3 cm dan terletak di antara
collum vesicae di atas dan diaphragm urogenitale di bawah.
Prostat dikelilingi oleh capsula fibrosa. Di luar capsula terdapat selubung fibrosa yang
merupakan bagian lapisan visceral fascia pelvis. Prostat yang berbentuk kerucut
mempunyai basis prostatae yang terletak di superior dan berhadapan dengan collum
vesicae dan apex prostatae yang terletak di inferior dan berhadapan dengan diaphragm
urogenitale. Kedua ductus ejaculatorius menembus bagian atas facies posterior
prostatae untuk bermuara ke urethra pars prostatica pada pinggir lateral utriculus
prostaticus.

Hubungan:

Ke superior : Basis prostatae berhubungan dengan collum vesicae. Otot polos


prostate terus melanjut tanpa terputus dengan otot polos collum vesicae.

Urethra masuk pada bagian tengah basis prostatae


Ke inferior : Apex prostatae terletak pada fascies superior diaphragm
urogenitale. Urethra meninggalkan prostate tepat di atas apex pada fascies

anterior
Ke anterior : Facies anterior prostatae berbatasan dengan symphysis pubica,
dipisahkan oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat di dalam spatium
retropubicum (cavum retzius). Selubung fibrosa prostate dihubungkan dengan
aspek posterior os pubis oleh ligament puboprostatica. Ligamenta ini terletak
di samping kanan dan kiri linea mediana dan merupakan penebalam fascia

pelvis
Ke posterior: Facies posterior prostatae berhubungan erat dengan facies
anterior ampulla recti dan dipisahkan dari rectum oleh septum retrovesicale
(fascia Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding
ujung bawah excavation retrovesicalis peritonealis, yang semula meluas ke

bawah sampai ke corpus perineale.


Ke lateral : fascies lateralis prostatae difiksasi oleh serabut anterior musculus
levator ani pada saat serabut ini berjalan ke posterior dari pubis.

1. Proses Filtrasi ,di glomerulus


Terjadi penyerapan darah, yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali
protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowman yang terdiri
dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke
tubulus ginjal. cairan yang di saring disebut filtratsi gromerulus.
2. Proses Reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glikosa,
sodium, klorida, fospat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi
secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. sedangkan pada
tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila
diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan
sisanya dialirkan pada papilla renalis.

3. Proses sekresi
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke
papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar.

Ureter

Terdiri dari dua saluran pipa masing-masing bersambung dari hilum ginjal
hingga ke vesika urinaria . Panjangnya 20-30 cm, dengan penampang 0,5 cm.
Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada
rongga pelvis.
Vesica Urinaria
Vesica urinaria merupakan organ otot berongga yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan urin. Kandung kemih orang dewasa biasanya memiliki kapasitas
400-500 ml. Sphincter internal atau leher kandung kemih dibentuk oleh
penebalan serat otot detrusor dan memotong bagian otot polos distal uretra.
Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria
dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet.

Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesica urinaria yang
berfungsi menyalurkan air kemih ke luar.
Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm,
terdiri dari:
1. Urethra pars Prostatica
2. Urethra pars membranosa ( terdapat spinchter
urethra externa)
3. Urethra pars spongiosa.

Urethra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm (Taylor), 3-5 cm (Lewis).


Sphincter urethra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina).
2.2.2. Struktur Prostat
Kelenjar prostat yang jumlahnya banyak tertanam di dalam campuran otot polos
dan jaringan ikat, dan ductusnya bermuara ke urethra pars prostatica.
Prostat secara tidak sempuran terbagi menjadi lima lobus. Lobus anterior terletak
di depan urethra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. Lobus medius atau lobus
medianus adalah kelenjar berbentuk baji yang terletak di antara urethra dan ductus

ejaculatorius. Permukaan atas lobus medius berhubungan dengan trigonum


vesicae, bagian ini mengandung banyak kelenjar. Lobus posterior terletak di
belakang urethra dan di bawah ductus ejaculatorius, juga mengandung kelenjar.
Lobi prostatae dexter dan sinister terletak di samping urethra dan dipisahkan satu
dengan yang lain oleh alur vertical dangkal yang terdapat pada fascies posterior
prostatae. Lobi laterals mengandung banyak kelenjar.

2.2.3. Fungsi Prostat


Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan tipis seperti susu yang mengandung
asam sitrat dan fosfatase asam. Cairan ini ditambahkan pada semen pada waktu
ejakulasi. Bila otot polos pada capsula dan stroma berkontraksi , secret yang
berasal dari banyak kelenjar diperas masuk ke urethra pars prostatica. Sekret
prostat bersifat alkalis dan membantu menetralkan suasana asam di dalam vagina.
2.2.4. Perdarahan
Arteriae
Cabang arteria vesicalis inferior dan arteria rectalis media.
Vena

Vena membentuk plexus venosus prostaticus, yang terletak di antara capsula


prostatica dan selubung fibrosa. Plexus venosus prostaticus menampung darah
dari vena dorsalis profunda penis dan sejumlah venae vesicales, selanjutnya
bermuara ke vena iliaca interna.
Aliran Limfe
Pembuluh limf dari prostate mengalirkan cairan limf ke nodi iliaci interni.
Persarafan
Persarafan prostat berasal dari plexus hypogastricus inferior. Saraf simpatis
merangsang otot polos prostat saat ejakulasi.
2.3. Histologi
Menurut konsep terbaru, kelenjar prostat merupakan suatu organ campuran yang
terdiri atas berbagai unsure glandular dan non glandular. Setiap zona glandular
memiliki fitur arsitektur dan stroma yang spesifik. Telah ditemukan lima daerah/zona
tertentu yang berbeda secara histology maupun biologi, yaitu :

a. Zona Anterior
Sesuai dengan lobus anterior, tidak punya kelenjar, terdiri atas stroma
fibromuskular. Zona ini meliputi sepertiga kelenjar prostat.
b. Zona Perifer

Sesuai dengan lobus lateral dan posterior, meliputi 70% massa kelenjar
prostat. Zona ini rentan terhadap inflamasi dan merupakan tempat asal
karsinoma prostat terbanyak.
c. Zona Sentralis
Lokasi terletak antara kedua duktus ejakulotarius, sesuai dengan lobus tengah
meliputi 25% massa glandular prostat. Zona ini resisten terhadap inflamasi.
Zona pusat relative tahan terhadap kanker dan penyakit lainnya.
d. Zona transisional
Zona ini bersama-sama dengan kelenjar periuretra disebut juga sebagai
kelenjar preprostatik. Merupakan bagian terkecil dari prostat, yaitu kurang
lebih 5% tetapi dapat melebar bersama jaringan stroma fibromuskular anterior
menjadi benign prostat hyperplasia (BPH)
e. Kelenjar-kelenjar Periuretra
Bagian ini terdiri dari duktus-duktus kecil dan susunan sel-sel asinar abortif
tersebar sepanjang segmen uretra proksimal
Dalam semua zona, baik saluran dan asinus , dipisahkan oleh epitel sekresi.
Dalam setiap zona, terdapat lapisan sel basal di bawah lapisan sekretori, serta
diselingi sel-sel endokrin-parakrin.
2.4. Definisi
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior
buli-buli dan membungkus uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini
membuntu uretra pars prostatica dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar
dari vesika urinaria.
BPH terutama terjadi di zona transisi kelenjar prostat.
2.5. Epidemiologi dan Insiden
BPH (Benign Prostate Hyperplasia) adalah tumor jinak yang biasa terjadi pada pria,
dan insidennya bergantung pada usia. Prevalensi yang berasal dari sediaan histologi
pada autopsy menunjukkan peningkatan sekitar 20% pada pria yang berusia 41-50
tahun, peningkatan 50% pada pria usia 51-60 tahun, dan lebih dari 90% pada pria
diatas 80 tahun (Berry, dkk, 1984). Meskipun bukti ilmiah dari penyakit umumnya

sedikit yang terjadi, gejala dari obstruksi prostat juga bergantung pada usia. Pada usia
55 tahun, sekitar 25% dari pria dilaporkan mengalami gejala obstruksi berkemih. Pada
usia 75 tahun, 50% dari pria mengeluhkan penurunan kemampuan dan tenaga dari
aliran kemih mereka.
Faktor risiko dari perkembangan BPH sangatlah susah untuk dimengerti. Beberapa
penelitian telah mengemukakan predisposisi genetic, dan beberapa menggarisbawahi
tentang perbedaan ras. Sekitar 50% dari pria dibawah usia 60 tahun telah menjalani
operasi BPH yang memiliki riwayat keturunan dari penyakit tersebut. Bentuk yang
paling banyak dijumpai adalah sifat dominan autosomal, dan saudara kandung lakilaki pasien tersebut membawa peningkatan risiko relative sekitar 4 kali lipat (Sanda,
dkk, 1994).
2.6 Etiologi
Etiologi dari BPH tidaklah sangat dimengerti secara menyeluruh, akan tetapi
etiologinya menyangkut banyak faktor dan kontrol sistem endokrin. Prostat tersusun
dari bagian stroma dan elemen epitel, dan masing-masing, baik sendiri atau
kombinasi, dapat memberi peningkatan kepada nodul hiperplaastik dan gejala yang
berhubungan dengan BPH. Masing-masing elemen mungkin ditargetkan dalam skema
penatalaksanaan medis.
Penelitian secara medis dan laboratorium telah mengidentifikasi 2 faktor yang
berkaitan untuk perkembangan dari BPH: dihydrotestosterone (DHT) dan penuaan
(McConnell, 1995). Penelitian terhadap anjing yang telah menunjukkan bahwa
dengan penuaan, prostat menjadi lebih sensitif kepada androgen. Kepentingannya
adalah bahwa pertumbuhan prostat pada anjing yang mengalami penuaan lebih terkait
dengan penurunan kematian sel daripada peningkatan proliferasi sel. Penelitian
laboratorium telah mengemukakan beberapa teori didalam pembahasan ini, meliputi
(1) interaksi epitel-stroma (sel stroma mungkin mengatur pertumbuhan dari sel epitel
atau antara sel stroma melalui mekanisme parakrin atau autokrin oleh yang
mensekresi factor pertumbuhan seperti factor pertumbuhan fibroblast atau pengubah
factor pertumbuhan-beta); (2) penuaan dapat mengakibatkan stem sel mengalami
penghambatan proses pematangan yang melindungi mereka dari kematian sel yang
terencana (apoptosis) (Cunha, dkk, 1983); (Tenniswood, 1986). Dampak dari penuaan

pada penelitian binatang tampaknya dihubungkan melalui sinergi estrogen. Pada


anjing, estrogen telah terbukti dapat menginduksi reseptor androgen, mengubah
metabolisme steroid yang mengakibatkan peningkatan yang lebih tinggi dari DHT
dalam prostat, menghambat kematian sel jika diberikan dengan androgen, dan
menstimulasi produksi kolagen stroma (Berry and Isaacs, 1984; Berry, dkk, 1986;
Barrack and Berry, 1987).
Penelitian observasi dan klinis pada pria telah jelas menunjukkan bahwa BPH berada
di bawah kontrol endokrin. Hasil pengebirian dalam regresi didirikan BPH dan
perbaikan gejala berkemih. Administrasi dari analog luteinizing hormone-releasing
hormone (LHRH) pada pria dapat menyusut reversibel didirikan BPH, menghasilkan
perbaikan obyektif dalam laju aliran dan perbaikan subyektif dalam gejala (Peters dan
Walsh, 1987). Pemeriksaan tambahan telah menunjukkan korelasi positif antara kadar
testosteron bebas dan estrogen dan volume BPH (Partin, dkk, 1991). Terakhir
mungkin menunjukkan bahwa hubungan antara penuaan dan BPH mungkin timbul
dari tingkat estrogen yang meningkat pada penuaan yang menyebabkan induksi
reseptor androgen, yang sedemikian peka terhadap prostat untuk testosteron bebas.
Namun, tidak ada penelitian sampai saat ini yang sudah mampu menunjukkan kadar
reseptor estrogen meningkat pada BPH di manusia.
2.7 Patologi
Sebagaimana dibahas di atas, BPH berkembang di zona transisi (McNeal, 1978). Ini
benar-benar sebuah proses hiperplastik akibat peningkatan jumlah sel. Evaluasi
mikroskopis mengungkapkan pola pertumbuhan nodular yang terdiri dari berbagai
jumlah stroma dan epitel. Stroma terdiri dari berbagai kolagen dan otot polos.
Representasi diferensial dari komponen histologis BPH menjelaskan, sebagian,
potensi tanggap terhadap terapi medis. Sehingga terapi alpha-blocker dapat
mengakibatkan respon yang sangat baik pada pasien dengan BPH yang memiliki
komponen penting dari otot polos, sementara mereka dengan BPH sebagian besar
terdiri dari epitel mungkin merespon lebih baik untuk 5-reduktase inhibitor. Pasien
dengan komponen signifikan kolagen dalam stroma mungkin tidak merespon baik
dalam bentuk terapi medis. Sayangnya, salah satu tidak bisa dipercaya memprediksi
respon terhadap terapi tertentu.

BPH nodul di zona transisi membesar, mereka menekan zona luar prostat,
mengakibatkan pembentukan kapsul bedah. Batas ini memisahkan zona transisi dari
zona perifer dan berfungsi sebagai pembelahan untuk enukleasi terbuka prostat
selama prostatektomi sederhana terbuka yang dilakukan untuk BPH.
2.8 Patofisiologi
Seseorang dapat berhubungan dengan gejala BPH baik untuk komponen obstruktif
prostat atau respon sekunder kandung kemih ke resistensi jalan keluar urin.
Komponen obstruktif dapat dibagi lagi menjadi mekanik dan obstruksi dinamis.
Seperti pada pembesaran prostat, obstruksi mekanik dapat mengakibatkan intrusi ke
dalam lumen uretra atau leher kandung kemih, yang mengarah ke kandung kemih
resistensi jalan keluar urin. Sebelum klasifikasi zonal prostat, urolog sering membagi
menjadi "3 lobus" prostat, yaitu, median dan dua lobus lateral. Sebuah penelitian
autopsi BPH dari tahun 1930 diklasifikasikan perubahan BPH ke dalam 5 kategori:
(1) pembesaran median lobus terisolasi (30%), (2) pembesaran lobus lateralis
terisolasi (15%), (3) pembesaran lobus lateral dan median (trilobular) (23%), (4)
komisura posterior (bibir posterior vesikalis atau peningkatan leher kandung kemih)
hiperplasia (15%), (5) hyperplasia komisura lateral dan posterior (17%) (Randall,
1931). Ukuran prostat pada pemeriksaan colok dubur (DRE) berkorelasi buruk
dengan gejala, sebagian karena lobus median dan komisura posterior tidak mudah
teraba.
Komponen dinamis obstruksi prostat menjelaskan sifat gejala yang dialami oleh
pasien. Stroma prostat, terdiri dari otot polos dan kolagen, yang kaya akan pasokan
saraf adrenergik. Tingkat stimulasi otonom menetapkan sifat untuk uretra prostat.
Penggunaan

terapi

alpha

blocker

menurunkan

sifat

uretra

prostat,

yang

mengakibatkan penurunan resistensi jalan keluar urin.


Keluhan iritasi saat berkemih pada BPH hasil dari respon sekunder kandung kemih
terhadap peningkatan resistensi jalan keluar urin. Obstruksi kandung kemih
menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia otot detrusor serta deposisi kolagen.
Meskipun yang terakhir ini paling mungkin bertanggung jawab untuk penurunan
dalam kandung kemih, ketidakstabilan detrusor juga sebagai faktor. pada pemeriksaan
inspeksi, penebalan otot detrusor dianggap sebagai trabekulasi pada pemeriksaan

sitoskopis. Jika dibiarkan, herniasi mukosa antara gabungan otot detrusor akan terjadi
kemudian, menyebabkan pembentukan divertikula (disebut diverticula palsu yang
terdiri dari mukosa dan serosa).
2.9. Gambaran Klinis
2.9.1 Gejala
Gejala hiperplasia prostat menurut Boyarsky dkk pada tahun 1977 dibagi atas gejala
obstruktif dan gejala iritatif.
Gejala obstruktif disebabkan oleh karena penyempitan uretara pars prostatika karena
didesak oleh prostat yang membesar dan kegagalan otot detrusor untuk berkontraksi
cukup kuat dan atau cukup lama saehingga kontraksi terputus-putus.
Gejalanya adalah :
1.

Harus menunggu pada permulaan miksi (Hesistency)

2.

Pancaran miksi yang lemah (Poor stream)

3.

Miksi terputus (Intermittency)

4.

Menetes pada akhir miksi (Terminal dribbling)

5.

Rasa belum puas sehabis miksi (Sensation of incomplete bladder emptying).

Manifestasi klinis berupa obstruksi pada penderita hipeplasia prostat masih tergantung
tiga faktor yaitu :
1. Volume kelenjar periuretral
2. Elastisitas leher vesika, otot polos prostat dan kapsul prostat
3. Kekuatan kontraksi otot detrusor
Tidak semua prostat yang membesar akan menimbulkan gejala obstruksi, sehingga
meskipun volume kelenjar periuretal sudah membesar dan elastisitas leher vesika, otot

polos prostat dan kapsul prostat menurun, tetapi apabila masih dikompensasi dengan
kenaikan daya kontraksi otot detrusor maka gejala obstruksi belum dirasakan.
Pemeriksaan derajat beratnya obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara
mengukur :
a.

Residual urine yaitu jumlah sisa urin setelah penderita miksi spontan. Sisa urin

ini dapat dihitung dengan pengukuran langsung yaitu dengan cara melakukan
kateterisasi setelah miksi spontan atau ditentukan dengan pemeriksaan ultrasonografi
setelah miksi, dapat pula dilakukan dengan membuat foto post voiding pada waktu
membuat IVP. Pada orang normal sisa urin biasanya kosong, sedang pada retensi urin
total sisa urin dapat melebihi kapasitas normal vesika. Sisa urin lebih dari 100 cc
biasanya dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada penderita
prostat hipertrofi.
b.

Pancaran urin atau flow rate dapat dihitung secara sederhana yaitu dengan

menghitung jumlah urin dibagi dengan lamanya miksi berlangsung (ml/detik) atau
dengan alat uroflowmetri yang menyajikan gambaran grafik pancaran urin. Untuk
dapat melakukan pemeriksaan uroflow dengan baik diperlukan jumlah urin minimal
di dalam vesika 125 sampai 150 ml. Angka normal untuk flow rata-rata (average flow
rate) 10 sampai 12 ml/detik dan flow maksimal sampai sekitar 20 ml/detik. Pada
obstruksi ringan flow rate dapat menurun sampai average flow antara 6-8 ml/detik,
sedang maksimal flow menjadi 15 mm/detik atau kurang. Dengan pengukuran flow
rate tidak dapat dibedakan antara kelemahan detrusor dengan obstruksi infravesikal.
Obstruksi uretra menyebabkan bendungan saluran kemih sehingga mengganggu faal
ginjal karena hidronefrosis, menyebabkan infeksi dan urolithiasis. Tindakan untuk
menentukan diagnosis penyebab obstruksi maupun menentukan kemungkinan
penyulit harus dilakukan secara teratur.
Gejala iritatif disebabkan oleh karena pengosongan vesica urinaris yang tidak
sempurna pada saat miksi atau disebabkan oleh karena hipersensitifitas otot detrusor
karena pembesaran prostat menyebabkan rangsangan pada vesica, sehingga vesica
sering berkontraksi meskipun belum penuh., gejalanya ialah :

1.Bertambahnya frekuensi miksi (Frequency)


2.Nokturia
3.Miksi sulit ditahan (Urgency)
4.Disuria (Nyeri pada waktu miksi) (P/UI)
Gejala-gejala tersebut diatas sering disebut sindroma prostatismus. Secara klinis
derajat berat gejala prostatismus itu dibagi menjadi :
Grade I

: Gejala prostatismus + sisa kencing < 50 ml

Grade II : Gejala prostatismus + sisa kencing > 50 ml


Grade III : Retensi urin dengan sudah ada gangguan saluran kemih bagian atas + sisa
urin > 150 ml.
Derajat berat gejala klinik prostat hiperplasia ini dipakai untuk menentukan derajat
berat keluhan subyektif, yang ternyata tidak selalu sesuai dengan besarnya volume
prostat. Gejala iritatif yang sering dijumpai ialah bertambahnya frekuensi miksi yang
biasanya lebih dirasakan pada malam hari. Sering miksi pada malam hari disebut
nocturia, hal ini disebabkan oleh menurunnya hambatan kortikal selama tidur dan juga
menurunnya tonus spingter dan uretra. Simptom obstruksi biasanya lebih disebabkan
oleh karena prostat dengan volume besar. Apabila vesica menjadi dekompensasi maka
akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urin didalam
vesica, hal ini menyebabkan rasa tidak bebas pada akhir miksi. Jika keadaan ini
berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderita tidak
mampu lagi miksi. Oleh karena produksi urin akan terus terjadi maka pada suatu saat
vesica tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan intravesica akan naik
terus dan apabila tekanan vesica menjadi lebih tinggi daripada tekanan spingter akan
terjadi inkontinensia paradoks (over flow incontinence). Retensi kronik dapat
menyebabkan terjadinya refluk vesico uretra dan meyebabkan dilatasi ureter dan
sistem pelviokalises ginjal dan akibat tekanan intravesical yang diteruskam ke ureter
dari ginjal maka ginjal akan rusak dan terjadi gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal
dapat dipercepat bila ada infeksi. Disamping kerusakan tractus urinarius bagian atas

akibat dari obstruksi kronik penderita harus selalu mengedan pada waktu miksi, maka
tekanan intra abdomen dapat menjadi meningkat dan lama kelamaan akan
menyebabkan terjadinya hernia, hemoroid. Oleh karena selalu terdapat sisa urin dalam
vesica maka dapat terbentuk batu endapan didalam vesica dan batu ini dapat
menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuri. Disamping pembentukan batu,
retensi kronik dapat pula menyebabkan terjadinya infeksi sehingga terjadi systitis dan
apabila terjadi refluk dapat terjadi juga pielonefritis.
Pada Tabel 1, derajat berat gejala klinik dibagi menjadi 4 gradasi berdasarkan
penemuan pada colok dubur dan sisa volume urin. Dalam praktek, pembagian besar
prostat derajat I-IV digunakan untuk menentukan cara penanganan.
Tabel 1. Derajat Berat BPH Berdasarkan Gambaran Klinik

Colok dubur
Penonjolan prostat, batas atas mudah diraba

Sisa Volume Urin


< 50 ml

II

Penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai

50-100 ml

III

Batas atas prostat tidak dapat diraba

> 100 ml

IV

Retensi urin total

Seperti dibahas di atas, gejala BPH dapat dibagi menjadi keluhan obstruktif dan
iritasi. Gejala obstruktif meliputi keraguan, penurunan kekuatan dan kemampuan
aliran urin, sensasi pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap, double voiding
(berkemih kedua kalinya dalam waktu 2 jam dari berkemih sebelumnya), berusaha
untuk kencing, dan post-void dribbling. Gejala iritasi termasuk urgensi, frekuensi, dan
nokturia.
Kuesioner self-administered dikembangkan oleh the American Urological Association
(AUA) adalah valid dan dapat diandalkan dalam mengidentifikasi kebutuhan untuk
mengobati pasien dan memantau respon mereka terhadap terapi (Barry, dkk, 1992).
Gejala dari skor kuesioner AUA adalah mungkin satu-satunya alat yang paling
penting yang digunakan dalam evaluasi pasien dengan BPH dan direkomendasikan
untuk semua pasien sebelum memulai terapi. Assesment ini berfokus pada 7 item

yang meminta pasien untuk mengukur tingkat keparahan obstruktif atau keluhan
iritasi pada skala 0-5. Dengan demikian, skor dapat berkisar 0-35. Sebuah skor gejala
0-7 dianggap ringan, 8-19 dianggap sedang, dan 20-35 dianggap berat. Distribusi
relatif skor untuk pasien BPH dan subyek kontrol, masing-masing, 20% dan 83%
pada mereka dengan skor ringan, 57% dan 15% pada mereka dengan skor sedang, dan
23% dan 2% pada mereka dengan skor yang berat (McConnell, dkk, 1994).
Sebuah sejarah terperinci berfokus pada saluran kemih termasuk kemungkinan
penyebab lain dari gejala yang mungkin tidak menghasilkan dari prostat, seperti
infeksi saluran kencing, kandung kemih neurogenik, striktur uretra, atau kanker
prostat.
2.9.2 Tanda
1.

Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Eamination (DRE) sangat penting.
Pemeriksaan colok dubur dapat memberikan gambaran tentang keadaan tonus
spingter ani, reflek bulbo cavernosus, mukosa rektum, adanya kelainan lain seperti
benjolan pada di dalam rektum dan tentu saja teraba prostat. Pada perabaan prostat
harus diperhatikan :
a.

Konsistensi prostat (pada hiperplasia prostat konsistensinya kenyal)

b.

Adakah asimetris

c.

Adakah nodul pada prostate

d.

Apakah batas atas dapat diraba

e.

Sulcus medianus prostate

f.

Adakah krepitasi

Colok dubur pada hiperplasia prostat menunjukkan konsistensi prostat kenyal seperti
meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul.
Sedangkan pada carcinoma prostat, konsistensi prostat keras dan atau teraba nodul

dan diantara lobus prostat tidak simetris. Sedangkan pada batu prostat akan teraba
krepitasi.
Pemeriksaan Rectal Touche (Colok Dubur)
Pada pemeriksaan ini, kita dapat memilih posisi pasien sbb:
a. Left lateral prone position, letak miring memudahkan pemeriksaan inspeksi dan
palpasi anal kanal dan rektum. Tetapi posisi ini kurang sesuai untuk pemeriksaan
peritoneum.
b. Litothomy position, posisi litotomi biasanya dilakukan pada pemeriksaan rutin yang
tidak memerlukan pemeriksaan anus secara detail. Dianjurkan dalam pemeriksaan
prostate dan vesika seminalis karena memudahkan akses pada cavum peritoneal.
c. Knee-chest position Posisi ini biasanya tidak/kurang menyenangkan bagi pasien.
d. Standing elbow-knee position Posisi ini jarang digunakan.
Pemeriksaan fisik apabila sudah terjadi kelainan pada traktus urinaria bagian atas
kadang-kadang ginjal dapat teraba dan apabila sudah terjadi pnielonefritis akan
disertai sakit pinggang dan nyeri ketok pada pinggang. Vesica urinaria dapat teraba
apabila sudah terjadi retensi total, daerah inguinal harus mulai diperhatikan untuk
mengetahui adanya hernia. Genitalia eksterna harus pula diperiksa untuk melihat
adanya kemungkinan sebab yang lain yang dapat menyebabkan gangguan miksi
seperti batu di fossa navikularis atau uretra anterior, fibrosis daerah uretra, fimosis,
condiloma di daerah meatus.
Pada pemeriksaan abdomen ditemukan kandung kencing yang terisi penuh dan teraba
masa kistus di daerah supra simfisis akibat retensio urin dan kadang terdapat nyeri
tekan supra simfisis.

2. Pemeriksaan laboratorium
a.

Darah : - Ureum dan Kreatinin

Elektrolit

Blood urea nitrogen

Prostate Specific Antigen (PSA)

Gula darah

b.

Urin :

- Kultur urin + sensitifitas test


- Urinalisis dan pemeriksaan mikroskopik
-

Sedimen

PEMERIKSAAN URINE

Nilai Normal

Glucose

Negatif

Billirubin

Negatif

Keton

Negatif mg/dl

Berat Jenis

1,013-1,030

pH

4,5 8,0

Protein

Negatif mg/dl

Urobilinogen

Negatif EU/dl

Nitrit

Negatif

Blood

Negatif

Leukosit

Negatif

Sedimen
Sel epitel

Negatif

Leukosit

1-4 /LPB

Eritrosit

0-1 /LPB

Silinder, Kristal dan Bakteri

Negatif

1. Volume Urin
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urin pasien untuk tujuan diagnosis
infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit
ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah
tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Sistem ekskresi merupakan sistem pembuangan zat-zat sisa pada makhluk hidup
seperti karbon dioksida, urea, racun dan lainnya.Ginjal merupakan alat pengeluaran
sisa metabolisme dalam bentuk urine yang di dalamnya mengandung air, amoniak
(NH3), ureum, asam urat dan garam mineral tertentu. Penderita diabetes miletus
urinenyaakan mengandung glukosa.
Proses eksresi merupakan suatu proses pengeluaran zat-zat sisa yang tidak
dipergunakan lagi. Zat ini berbentuk cairan contohnya urin, keringat dan air. Fungsi
utama organ eksresi adalah menjaga konsentrasi ion (Na+, K+, Cl-, Ca++ dan H+),
menjaga volume cairan tubuh (kandungan air), menjga konsentrasi kandungan
osmotik, membuang hasil akhir metabolism (urea, asam urat) dan mengeluarkan
substansi asing atau produk metabolismnya (Dahelmi, 1991).
Sistem ekskresi membantu memelihara homeostasis dengan tiga cara, yaitu
melakukan osmoregulasi, mengeluarkan sisa metabolisme, dan mengatur konsentrasi
sebagian besar penyusun cairan tubuh.Zat sisa metabolisme adalah hasil
pembongkaran zat makanan yang bermolekul kompleks. Zat sisa ini sudah tidak
berguna lagi bagi tubuh. Sisa metabolisme antara lain, CO2, H20, NHS, zat warna
empedu, dan asam urat (Kimball, 1991).
Sistem urin terdiri dari ginjal, ureter, kantong kemih dan uretra dengan menghasilkan
urin yang membawa serta berbagai produk sisa metabolisme untuk dibuang. Ginjal
juga berfungsi dalam pengaturan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh dan
merupakan tempat pembuangan hormon renin dan eritropitin. Renin ikut berperan
dalam pengaturan tekanan darah dan eritropitin berperan dalam merangsang produksi
sel darah merah. Urin juga dihasilkan oleh ginjal berjalan melalui ureter ke kantung
kemih melalui uretra (Juncquiera, 1997).Urin merupakan hasil metabolisme tubuh
yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli per

menit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami
reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk satu mili
liter urin per menit.
Pemeriksaan urin lengkap di laboratorium akan melihat warna urin, kepekatannya,
pH, berat jenis, sel darah putih, sel darah merah, sedimen, sel epitelial, bakteri, kristal,
glukosa, protein, keton, bilirubin, darah samar, nitrit, dan urobilinogen. Pada dasarnya
Diabetes Mellitus disebabkan oleh hormon insulin penderita yang tidak mencukupi
atau tidak efektif sehingga tidak dapat bekerja secara normal. Padahal, insulin
mempunyai peran utama mengatur kadar glukosa dalam darah, yaitu sekitar 6- = 120
mg/dl waktu puasa, dan di bawah 140 mg/dl pada dua jam sesudah makan (pada
orang normal). Sejak ditemukan insulin pada tahun 1921 oleh Banting dan Best di
Canada, angka kematian dan keguguran ibu-ibu yang hamil semakin berkurang. Sejak
penemuan itu penanganan Diabetes jauh lebih efektif diabnding sebelumnya. Dewasa
ini, dengan perawatan yang intensif, hampir semua pasien Diabetes bisa kembali ke
kehidupannya yang normal dan produktif (Wilson, 1979).
Faktor yang mempengaruhi urin adalah: 1) jumlah air yang diminum, 2) sistem saraf,
3) hormon ADH, 4)banyak garam yang harus dikeluarkan dari darah agar tekanan
osmosis tetap, 5)pada penderita diabetes mellitus, pengeluaran glukosa diikuti oleh
kenaikan volume urin (Thenawijaya, 1995).
Volume urine normal adalah 750-2.000 ml/24hr. Pengukuran volume ini pada
pengambilan acak (random) tidak relevan. Karena itu pengukuran volume harus
dilakukan secara berjangka selama 24 jam untuk memperoleh hasil yang akurat.
2.

Berat Jenis Urin

Berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urin yang mengukur
konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai
kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urin.
Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika
fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 1,025, sedangkan
dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam
bisa mencapai 1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah
kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine. BJ urine yang rendah persisten

menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia dengan ekskresi urine


malam > 500 ml dan BJ kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat tinggi, atau mungkin
pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi secara intravena
untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi
0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut nonglukosa.
3. Derajat Keasaman Urin
Filtrat glomerular plasma darah biasanya diasamkan oleh tubulus ginjal dan saluran
pengumpul dari pH 7,4 menjadi sekitar 6 di final urin. Namun, tergantung pada status
asam-basa, pH kemih dapat berkisar dari 4,5 8,0. pH bervariasi sepanjang hari,
dipengaruhi oleh konsumsi makanan; bersifat basa setelah makan, lalu menurun dan
menjadi kurang basa menjelang makan berikutnya. Urine pagi hari (bangun tidur)
adalah yang lebih asam. Obat-obatan tertentu dan penyakit gangguan keseimbangan
asam-basa jug adapt mempengaruhi pH urine (library.med.utah.edu)Berikut ini adalah
keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
- pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran
kemih (Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan
-

ammonia), terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.


pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak),
asidosis sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis
respiratorik atau metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan
ekskresi NH4+), terapi pengasaman.

4.

Bau, warna dan kejernihan urin

Cairan ekstrasel mengakibatkan perubahan cairan dalam sel dan dengan demikian
juga perubahan fungsi sel, maka penting untuk fungsi normal sel-sel agar susunan
cairan ini relatif konstan.
Ginjal yang mempertahankan susunan optimal kimia cairan tubuh. Ginjal adalah suatu
organ yang tidak hanya membuang sampah metabolisme tetapi sebenarnya melakukan
fungsi homeostatik yang sangat penting. Ginjal juga memiliki kapasitas metabolik
yang besar.

Analisis urin secara fisik meliputi pengamatan warna urin, berat jenis cairan urin dan
pH serta suhu urin itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis
glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan
protein ada banyak sekali metode yang ditawarkan , mulai dari metode uji millon
sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik,
sampel urin secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zatzat apa saja yang terkandung di dalam urin tersebut, misalnya kalsium phospat, serat
tanaman, bahkan bakteri.
Urin atau air seni atau air kencing adalah cairan sisa yang diekskresikan oleh ginjal
yang kemudian akan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui proses urinasi. Eksreksi
urin diperlukan untuk membuang molekul-molekul sisa dalam darah yang disaring
oleh ginjal dan untuk menjaga homeostasis cairan tubuh. Dalam mempertahankan
homeostasis tubuh peranan urin sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan
oleh tubuh adalah melalui sekresi urin. Selain urin juga terdapat mekanisme
berkeringat

dan

juga

rasa

haus

yang

kesemuanya

bekerja

sama

dalam

mempertahankan homeostasis ini.


Fungsi utama urin adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari
dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urin sebagai zat yang kotor. Hal ini
berkaitan dengan kemungkinan urin tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing
yang terinfeksi, sehingga urinnyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urin
berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urin sebenarnya
cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa
saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urin dan mengubah
zat-zat di dalam urin dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang
dihasilkan dari urea. Disebutkan bahwa pada proses urinalisis terdapat banyak cara
metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di
dalam urin. Analisis urin dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara
mikroskopik.
Urin yang terlalu keruh menandakan tingginya kadar unsur-unsur yang terlarut di
dalamnya. Hal ini bisa terjadi karena faktor makanan, karena adanya infeksi yang
mengeluarkan bakteri atau karena konsumsi air yang kurang. Bau urin dapat

bervariasi karena kandungan asam organik yang mudah menguap. Diantara bau yang
berlainan dari normal seperti: bau oleh makanan yang mengandung zat-zat atsiri
seperti jengkol, petai, durian, asperse dll. Bau obat-obatan seperti terpentin, menthol
dsb, Bau amoniak biasanya terjadi kalau urin dibiarkan tanpa pengawet atau karena
reaksi oleh bakteri yang mengubah ureum di dalam kantong kemih.Bau keton sering
pada penderita kencing manis, dan bau busuk sering terjadi pada penderita keganasan
(tumor) di saluran kemih.
5.

Uji protein

Penetapan kadar protein dalam urin biasanya dinyatakan berdasarkan timbulnya


kekeruhan pada urin. Karena padatnya atau kasarnya kekeruhan itu menjadi satu
ukuran untuk jumlah protein yang ada, maka menggunakan urin yang jernih menjadi
syarat yang penting.
Salah satu uji protein urin yang cukup peka adalah dengan melalui pemanasan urin
dengan asam asetat. Pemberian asam asetat dilakukan untuk mencapai atau mendekati
titik iso-elektrik protein, sedangkan pemanasan bertujuan untuk denaturasi sehingga
terjadilah presipitasi. Proses presipitasi dibantu oleh adanya garam garam yang telah
ada dalam urin atau yang sengaja ditambahkan kedalam urin. Asam asetat yang
dipakai tidak penting konsentrasinya, konsentrasi antara 3 6 % boleh dipakai, yang
penting ialah pH yang dicapai melalui pemberian asam asetat. Urin encer yang
mempunyai berat jenis rendah tidak baik digunakan untuk percobaan ini. Hasil terbaik
pada percobaan ini diperoleh dengan penggunaan urin asam.
Untuk menguji adanya kekeruhan, periksalah tabung dengan cahaya berpantul dan
dengan latar belakang yang hitam. Cara penilaian uji protein urin adalah sebagai
berikut :

NILAI
Negatif
Positif +

SIMBOL
-

DESKRIPSI
Tidak
ada

1+

sedikitpun
Kekeruhan

kekeruhan
ringan

tanpa

butir butir, kadar protein


Positif ++

2+

kira-kira 0,01 0,05 %


Kekeruhan mudah terlihat
dan Nampak butir butir
dalam kekeruhan tersebut;
kadar protein kira kira 0,05

Positif +++

3+

-0,2 %.
Jelas

keruh

kepingan

dengan

kepingan

kadar protein kira kira


Positif ++++

4+

0,02 0,05 %
Sangat
keruh

dengan

kepingan kepingan besar


atau

bergumpal

atau

memadat

gumpal
:

kadar

protein kira kira lebih dari


0,05%. Jika terdapat lebih
dari 3 % protein akan
membeku.
Sebagian kecil protein plasma disaring diglomerulus yang diserap oleh tubulus ginjal
dan diekskresikan kedalam urin. Normal ekskresi protein biasanya tidak melebihi 150
mg/24 jam atau 10 mg/dl urin. Lebih dari 10 mg/dl didefinisikan sebagai proteinuria.
Protein terdiri atas fraksi albumin dan globulin. Peningkatan ekskresi albumin
merupakan petanda yang sensitif untuk penyakit ginjal kronik yang disebabkan karena
penyakit glomeruler, diabetesmellitus, dan hipertensi. Sedangkan peningkatan
ekskresi globulin dengan berat molekul rendah merupakan petanda yang
sensitif untuk beberapa tipe penyakit tubulointerstitiel.
Albumin merupakan suatu protein yang memiliki ukuran molekulnya cukup besar.
Pada Urine yang mengandung Albumin menandakan bahwa filtrasi yang dilakukan
oleh ginjal tidak sempurna. Indikator adanya Albumin dalam urine ditandai dengan
terdapatnya cincin putih diantara Asam nitrit pekat dan Urine. Albumin merupakan
salah satu protein utama dalam plasma manusia dan menyusun sekitar 60% dari total
protein plasma. Kadar albumin normal dalam urine berkisar antara 0-0,04 gr/L/hari.

Keberadaan albumin dalam urin dengan jumlah yang melebihi batas normal, dapat
mengindikasikan terjadinya gangguan dalam proses metabolisme tubuh. (Anonim,
2011).
6.

Uji glukosa

Dengan menggunakan sifat glukosa sebagai zat pereduksi, adanya glukosa dalam urin
dapat ditentukan. Pada tes ini, pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan reagens
tertentu yang mengandung suatu zat yang berubah sifat dan warnanya jika direduksi
oleh glukosa. Jenis reagen yang mengandung garam cupri adalah jenis yang paling
banyak digunakan untuk menyatakan adanya reduksi dan diantara jenis reagen yang
mengandung garam cupri, reagen benedict adalah jenis terbaik. Hasil pemeriksaan
reduksi disebut cara semikuantitatif dengan cara :
NILAI
Negatif

SIMBOL
-

DESKRIPSI
Warna tetap

1+

kehijauan dan agak keruh


Hijau kekuning-kuningan dan keruh; kadar

Positif ++

2+

glukosa antara 0,5 1 %


Kuning keruh; kadar glukosa antara 1 1,5

Positif +++

3+

%
Jingga atau warna lumpur keruh; kadar

Positif ++++

4+

glukosa antara 2 3,5 %


Merah keruh; kadar glukosa lebih dari 3,5 %

Positif +

biru

jernih

atau

sedikit

3. Urinalisis
Pemeriksaan urinalisis dapat mengungkap- kan adanya leukosituria dan hematuria.
BPH yang sudah menimbulkan komplikasi infeksi saluran kemih, batu buli-buli atau
penyakit lain yang menimbulkan keluhan miksi, di antara-nya: karsinoma buli-buli in
situ atau striktura uretra, pada pemeriksaan urinalisis menunjuk-kan adanya kelainan.
Untuk itu pada kecuri-gaan adanya infeksi saluran kemih perlu dilakukan
pemeriksaan kultur urine, dan kalau terdapat kecurigaan adanya karsinoma buli-buli

perlu dilakukan pemeriksaan sitologi urine. Pada pasien BPH yang sudah mengalami
retensi urine dan telah memakai kateter, peme-riksaan urinalisis tidak banyak
manfaatnya karena seringkali telah ada leukosituria maupun eritostiruria akibat
pemasangan kateter.
4. Pemeriksaan fungsi ginjal
Obstruksi intravesika akibat BPH menyebabkan gangguan pada traktus urinarius
bawah ataupun bagian atas. Dikatakan bahwa gagal ginjal akibat BPH terjadi
sebanyak 0,3-30% dengan rata-rata 13,6%. Gagal ginjal menyebabkan resiko
terjadinya komplikasi pasca bedah (25%) lebih sering dibandingkan dengan tanpa
disertai gagal ginjal (17%), dan mortalitas menjadi enam kali lebih banyak9. Pasien
LUTS yang diperiksa ultrasonografi didapatkan dilatasi sistem pelvikalises 0,8% jika
kadar kreatinin serum normal dan sebanyak 18,9% jika terdapat kelainan kadar
kreatinin serum. Oleh karena itu pemeriksaan faal ginjal ini berguna sebagai petunjuk
perlu tidaknya melakukan pemeriksaan pencitraan pada saluran kemih bagian atas.
5. Pemeriksaan PSA (Prostate Specific Antigen)
PSA disintesis oleh sel epitel prostat dan bersifat organ specific tetapi bukan cancer
specific. Serum PSA dapat dipakai untuk meramalkan perjalanan penyakit dari BPH;
dalam hal ini jika kadar PSA tinggi berarti: (a) pertumbuhan volume prostat lebih
cepat, (b) keluhan akibat BPH/laju pancaran urine lebih jelek, dan (c) lebih mudah
terjadinya retensi urine akut. Pertumbuhan volume kelenjar prostat dapat
diprediksikan berdasarkan kadar PSA. Dikatakan oleh Roehrborn et al (2000) bahwa
makin tinggi kadar PSA makin cepat laju pertumbuhan prostat. Laju pertumbuhan
volume prostat rata-rata setiap tahun pada kadar PSA 0,2- 1,3 ng/dl laju adalah 0,7
mL/tahun, sedangkan pada kadar PSA 1,4-3,2 ng/dl sebesar 2,1 mL/tahun, dan kadar
PSA 3,3-9,9 ng/dl adalah 3,3 mL/tahun. Kadar PSA di dalam serum dapat mengalami
peningkatan pada keradangan, setelah manipulasi pada prostat (biopsi prostat atau
TURP), pada retensi urine akut, kateterisasi, keganasan prostat, dan usia yang makin
tua. Sesuai yang dikemukakan oleh Wijanarko et al (2003) bahwa serum PSA
meningkat pada saat terjadi retensi urine akut dan kadarnya perlahan- lahan menurun
terutama setelah 72 jam dilakukan kateterisasi. Rentang kadar PSA yang dianggap
normal berdasarkan usia adalah: 40-49 tahun: 0-2,5 ng/ml, 50-59 tahun:0-3,5 ng/ml,

60-69 tahun:0-4,5 ng/ml, 70-79 tahun: 0-6,5 ng/ml. Meskipun BPH bukan merupakan
penyebab timbulnya karsinoma prostat, tetapi kelompok usia BPH mempunyai resiko
terjangkit karsinoma prostat. Pemeriksaan PSA bersamaan dengan colok dubur lebih
superior daripada pemeriksaan colok dubur saja dalam mendeteksi adanya karsinoma
prostat. Oleh karena itu pada usia ini pemeriksaan PSA menjadi sangat penting guna
mendeteksi kemungkinan adanya karsinoma prostat. Sebagian besar guidelines yang
disusun di berbagai negara merekomendasikan pemeriksaan PSA sebagai salah satu
pemeriksaan awal pada BPH, meskipun dengan sarat yang berhu-bungan dengan usia
pasien atau usia harapan hidup pasien. Usia sebaiknya tidak melebihi 70-75 tahun
atau usia harapan hidup lebih dari 10 tahun, sehingga jika memang terdiagnosis
karsinoma prostat tindakan radikal masih ada manfaatnya
6. Pemeriksaan pencitraan
a.

Foto polos abdomen (BNO)

Dari sini dapat diperoleh keterangan mengenai penyakit ikutan misalnya batu saluran
kemih, hidronefrosis, atau divertikel kandung kemih juga dapat untuk menghetahui
adanya metastasis ke tulang dari carsinoma prostat.
b.
-

Pielografi Intravena (IVP)


Pembesaran prostat dapat dilihat sebagai lesi defek isian kontras (filling

defect/indentasi prostat) pada dasar kandung kemih atau ujung distal ureter membelok
keatas berbentuk seperti mata kail (hooked fish).
-

Mengetahui adanya kelainan pada ginjal maupun ureter berupa hidroureter

ataupun hidronefrosis serta penyulit yang terjadi pada buli buli yaitu adanya
trabekulasi, divertikel atau sakulasi buli buli.
c.

Foto setelah miksi dapat dilihat adanya residu urin


Sistogram retrograd

Apabila penderita sudah dipasang kateter oleh karena retensi urin, maka sistogram
retrograd dapat pula memberi gambaran indentasi.

d.

Transrektal Ultrasonografi (TRUS)

deteksi pembesaran prostat

mengukur volume residu urin

e. MRI atau CT jarang dilakukan


Digunakan untuk melihat pembesaran prostat dan dengan bermacam macam
potongan.
6. Pemeriksaan lain
a. Uroflowmetri
b. Pemeriksaan Tekanan Pancaran (Pressure Flow Studies)
c. Pemeriksaan Volume Residu Urin
2.9.3 Diagnosis
Diagnosis hiperplasia prostat dapat ditegakkan melalui :
1. Anamnesis : gejala obstruktif dan gejala iritatif
2. Pemeriksaan fisik : terutama colok dubur ; hiperplasia prostat teraba sebagai prostat
yang membesar, konsistensi kenyal, permukaan rata, asimetri dan menonjol ke dalam
rektum. Semakin berat derajat hiperplasia prostat batas atas semakin sulit untuk
diraba.
3. Pemeriksaan laboratorium : Berperan dalam menentukan ada tidaknya komplikasi.
Analisa urin untuk menyingkirkan infeksi atau hematuria dan pengukuran kreatinin
serum untuk menilai fungsi ginjal diperlukan. Insufisiensi ginjal dapat diamati pada
10% pasien dengan prostatism dan waran pencitraan saluran atas. Pasien dengan
insufisiensi ginjal berada pada peningkatan risiko terkena komplikasi pasca operasi
setelah intervensi bedah untuk BPH. Serum PSA dianggap opsional, tetapi
kebanyakan dokter akan memasukkannya dalam evaluasi awal. PSA, dibandingkan
dengan DRE, tentu saja meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi CAP, tetapi
karena mereka banyak tumpang tindih antara tingkat yang terlihat pada BPH dan

CAP, penggunaannya tetap kontroversial. Pemeriksaan Prostat Specific Antigen


(PSA) dilakukan sebagai dasar penentuan perlunya biopsi atau sebagai deteksi dini
keganasan. Bila nilai SPA < 4mg / ml tidak perlu biopsy. Sedangkan bila nilai SPA 4
10 mg / ml, hitunglah Prostat Spesific Antigen Density (PSAD) yaitu PSA serum
dibagi dengan volume prostat. Bila PSAD > 0,15 maka sebaiknya dilakukan biopsi
prostat, demikian pula bila nilai PSA > 10 mg/ml.
4. Pemeriksaan pencitraan :
Pada pielografi intravena terlihat adanya lesi defek isian kontras pada dasar kandung
kemih atau ujung distal ureter membelok ke atas berbentuk seperti mata kail. Dengan
trans rectal ultra sonography (TRUS), dapat terlihat prostat yang membesar.
5. Uroflowmetri : tampak laju pancaran urin berkurang.
6. Mengukur volume residu urin : Pada hiperplasi prostat terdapat volume residu urin
yang meningkat sesuai dengan beratnya obstruksi (lebih dari 150 ml dianggap sebagai
batas indikasi untuk melakukan intervensi).
2.9.4 Sistoskopi
Sistoskopi tidak dianjurkan untuk menentukan kebutuhan pengobatan tetapi dapat
membantu dalam memilih pendekatan bedah pada pasien yang memilih terapi invasif.
2.9.5 Tes Tambahan
Cystometrograms dan profil fungsi ginjal yang disediakan untuk pasien dengan
dugaan penyakit neurologis atau mereka yang telah gagal operasi prostat. Pengukuran
laju alur, penentuan sisa urin setelah berkemih, dan studi tekanan aliran dianggap
opsional.
2.10. Diagnosis Banding
Kondisi obstruktif lain dari saluran kemih bagian bawah, seperti striktur urethtral,
kontraktur leher kandung kemih, batu kandung kemih, atau CAP, harus tedeteksi
ketika mengevaluasi pria dengan dugaan BPH. Riwayat penyakit urethtral, urethtritis,
atau trauma harus dijelaskan untuk menyingkirkan striktur urethtral atau kontraktur

leher kandung kemih. Hematuria dan nyeri yang umumnya terkait dengan batu
kandung kemih. CAP dapat dideteksi oleh kelainan pada DRE atau PSA yang tinggi.
Infeksi saluran kemih, yang dapat meniru gejala iritasi BPH, dapat dengan mudah
diidentifikasi dengan urine dan kebiasaan, namun, infeksi saluran kemih juga bisa
menjadi komplikasi BPH. Meskipun keluhan iritasi berkemih juga terkait dengan
karsinoma kandung kemih, terutama karsinoma in situ, urin biasanya menunjukkan
buktinya dengan hematuri. Demikian pula, pasien dengan gangguan kandung kemih
neurogenik mungkin memiliki banyak tanda dan gejala BPH, tetapi riwayat penyakit
neurologis, stroke, diabetes mellitus, atau cedera punggung mungkin didapatkan.
Selain itu, pemeriksaan mungkin menunjukkan berkurangnya sensasi perineal atau
ekstremitas bawah atau perubahan dalam tonus sfingter rektal atau bulbokavernosus
refleks. Perubahan simultan dalam fungsi usus (konstipasi) mungkin juga sebagai
tanda kemungkinan asal neurologis.
2.11. Penatalaksanaan
Setelah pasien telah dievaluasi, mereka harus diberitahu tentang pilihan berbagai
terapi untuk BPH. Dianjurkan bagi pasien untuk berkonsultasi dengan dokter mereka
untuk membuat keputusan yang berdasarkan atas dasar efektivitas dan efek samping
dari pilihan pengobatan.
Rekomendasi pengobatan khusus dapat ditawarkan untuk kelompok pasien tertentu.
Bagi mereka dengan gejala ringan (gejala skor 0-7), disarankan menunggu dengan
waspada. Di akhir yang lain dari spektrum terapi, indikasi bedah mutlak disarankan
meliputi retensi urin refrakter (kegagalan setidaknya salah satu upaya pengangkatan
kateter), infeksi saluran kemih berulang dari BPH, gross hematuria berulang dari
BPH, batu kandung kemih dari BPH, insufisiensi ginjal dari BPH, atau divertikula
kandung kemih (McConnell, dkk, 1994).

2.11.1. Menunggu dengan Waspada


Sangat sedikit penelitian tentang sejarah BPH yang telah dilaporkan. Risiko
pengembangan atau komplikasi tidak pasti. Namun, pada pria dengan gejala BPH,
jelas bahwa perkembangan tidak terelakkan dan bahwa beberapa orang mengalami
perbaikan spontan atau rosolusi gejala yang dirasakan pasien.

Penelitian retrospektif tentang sejarah BPH secara inheren dipengaruhi dampak bias,
berhubungan dengan pemilihan pasien dan jenis dan tingkat tindak lanjut. Sangat
sedikit studi prospektif menyikapi sejarah dari BPH telah dilaporkan. (Barry, dkk,
1997).

2.11.2. Terapi Medis


Medikamentosa
Pasien BPH bergejala biasanya memerlukan pengobatan bila telah mencapai tahap
tertentu. Pada saat BPH mulai menyebabkan perasaan yang mengganggu, apalagi
membahayakan kesehatan, direkomendasikan pemberian medikamentosa. Dalam
menentukan pengobatan perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu dasar pertimbangan
terapi medikamentosa, jenis obat yang digunakan, pemilihan obat, dan evaluasi
selama pemberian obat. Perlu dijelaskan pada pasien bahwa harga obat-obatan yang
akan dikonsumsi tidak murah dan akan dikonsumsi dalam jangka waktu lama.
Dengan memakai skoring IPSS dapat ditentukan kapan seorang pasien memerlukan
terapi. Sebagai patokan jika skoring >7 berarti pasien perlu mendapatkan terapi medikamentosa atau terapi lain.
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk: (1). Mengurangi resistensi otot
polos prostat sebagai komponen dinamik atau (2). Mengurangi volume prostat sebagai
komponen statik. Jenis obat yang digunakan adalah : Antagonis adrenergik reseptor
yang dapat berupa:
a. Preparat non selektif: fenoksibenzamin
b. Preparat selektif masa kerja pendek : intoleransi dan takhipilaksis sampai
pemberian 6- 12 bulan.
Dibandingkan dengan inhibitor 5 reduktase, golongan antagonis adrenergik- lebih
efektif dalam memperbaiki gejala miksi yang ditunjukkan dalam peningkatan skor
IPSS, dan laju pancaran urine. Dibuktikan pula bahwa pemberian kombinasi

antagonis adrenergik- dengan finasteride tidak berbeda jika dibandingkan dengan


pemberian antagonis adrenergik- saja. Sebelum pemberian antagonis adrenergik-
tidak perlu memperhatikan ukuran prostat serta memperhatikan kadar PSA; lain
halnya dengan sebelum pemberian inhibitor 5- reduktase.
Berbagai jenis antagonis adrenergik menunjukkan efek yang hampir sama dalam
memperbaiki gejala BPH. Meskipun mempunyai efektifitas yang hampir sama,
namun

masing-masing

mempunyai

tolerabilitas

dan

efek

terhadap

sistem

kardiovaskuler yang berbeda. Efek terhadap sistem kardiovaskuler terlihat sebagai


hipotensi postural, dizzines, dan asthenia yang seringkali menyebabkan pasien
menghentikan pengobatan. Doksazosin dan terazosin yang pada mulanya adalah suatu
obat antihipertensi terbukti dapat memperbaiki gejala BPH dan menurunkan tekanan
darah pasien BPH dengan hipertensi. Sebanyak 5-20% pasien mengeluh dizziness
setelah pemberian doksazosin maupun terazosin, < 5% setelah pemberian tamsulosin,
dan 3-10% setelah pemberian plasebo. Hipotensi postural terjadi pada 2-8% setelah
pemberian doksazosin atau terazosin dan kurang lebih 1% setelah pemberian
tamsulosin atau plasebo. Dapat dipahami bahwa penyulit terhadap system
kardiovasuler tidak tampak nyata pada tamsulosin karena obat ini merupakan antagonis adrenergic yang superselektif, yaitu hanya bekerja pada reseptor adrenergik1A. Penyulit lain yang dapat timbul adalah ejakulasi retrograd yang dilaporkan
banyak terjadi setelah pemakaian tamsulosin, yaitu 4,5-10% dibandingkan dengan
placebo 0-1%.
Lepor menyebutkan bahwa efektifitas obat golongan antagonis adrenergik-
tergantung pada dosis yang diberikan, yaitu makin tinggi dosis, efek yang diinginkan
makin nyata, namun disamping itu komplikasi yang timbul pada sistem
kardiovaskuler semakin besar. Untuk itu sebelum dilakukan terapi jangka panjang,
dosis obat yang akan diberikan harus disesuaikan dahulu dengan cara meningkatkannya secara perlahan-lahan (titrasi) sehingga diperoleh dosis yang aman dan efektif.
Dikatakan bahwa salah satu kelebihan dari golongan antagonis adrenergik-1Ac.
Prazosin, afluzosin, dan indoramin preparat selektif dengan masa kerja lama:
doksazosin, terazosin, dan tamsulosin Inhibitor 5 redukstase, yaitu finasteride dan
dutasteride.

Antagonis reseptor adrenergik-.


Pengobatan dengan antagonis adrenergik bertujuan menghambat kontraksi otot
polos prostat sehingga mengurangi resistensi tonus leher buli-buli dan uretra.
Fenoksibenzamine adalah obat antagonis adrenergik- non selektif yang pertama kali
diketahui mampu memper-baiki laju pancaran miksi dan mengurangi keluhan miksi.
Namun obat ini tidak disenangi oleh pasien karena menyebab-kan komplikasi
sistemik yang tidak diharapkan, di antaranya adalah hipotensi postural dan
menyebabkan penyulit lain pada sistem kardiovaskuler.
Diketemukannya obat antagonis adrener-gik- 1 dapat mengurangi penyulit sistemik
yang diakibatkan oleh efek hambatan pada-2 dari fenoksibenzamin. Beberapa
golongan obat antagonis adrenergik 1 yang selektif mempu-nyai durasi obat yang
pendek (short acting) di antaranya adalah prazosin yang diberikan dua kali sehari, dan
long acting yaitu, terazosin, doksazosin, dan tamsulosin yang cukup diberikan sekali
sehari.
Dibandingkan dengan plasebo, antagonis adrenergik- terbukti dapat memperbaiki
gejala BPH, menurunkan keluhan BPH yang meng- ganggu, meningkatkan kualitas
hidup (QoL), dan meningkatkan pancaran urine. Rata-rata obat golongan ini mampu
memperbaiki skor gejala miksi hingga 30-45% atau 4-6 poin skor IPSS dan Qmax
hingga 15-30% dibandingkan dengan sebelum terapi. Perbaikan gejala meliputi
keluhan iritatif maupun keluhan obstruktif sudah dirasakan sejak 48 jam setelah
pemberian obat. Golongan obat ini dapat diberikan dalam jangka waktu lama dan
belum ada bukti-bukti terjadinya (tamsulosin) adalah tidak perlu melakukan titrasi
seperti golongan obat yang lain. Tamsulosin masih tetap aman dan efektif walaupun
diberikan hingga 6 tahun.
Inhibitor 5 -redukstase
Finasteride adalah obat inhibitor 5- reduktase pertama yang dipakai untuk mengobati
BPH. Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron
(DHT) dari testosteron, yang dikatalisis oleh enzim 5 - redukstase di dalam sel-sel
prostat. Beberapa uji klinik menunjukkan bahwa obat ini mampu menurunkan ukuran
prostat hingga 20-30%, meningkatkan skor gejala sampai 15% atau skor AUA hingga
3 poin, dan meningkatkan pancaan urine. Efek maksimum finasteride dapat terlihat

setelah 6 bulan. Pada penelitian yang dilakukan oleh McConnell et al (1998) tentang
efek finasteride terhadap pasien BPH bergejala, didapatkan bahwa pemberian
finasteride 5 mg per hari selama 4 tahun ternyata mampu menurunkan volume prostat,
meningkatkan pancaran urine, menurunkan kejadian retensi urine akut, dan menekan
kemungkinan tindakan pembedahan hingga 50%.
Finasteride digunakan bila volume prostat >40 cm3. Efek samping yang terjadi pada
pemberian finasteride ini minimal, di antaranya dapat terjadi impotensia, penurunan
libido, ginekomastia, atau timbul bercak-bercak kemerahan di kulit. Finasteride dapat
menurunkan kadar PSA sampai 50% dari harga yang semestinya sehingga perlu
diperhitungkan pada deteksi dini kanker prostat.

2.11.2.1. Penghambat Alpha (Alpha Blocker)


Prostat dan dasar buli-buli manusia mengandung adrenoreseptor-1 , dan prostat
memperlihatkan respon mengecil terhadap agonis. Komponen yang berperan dalam
mengecilnya prostat dan leher buli-buli secara primer diperantarai oleh reseptor 1a.
Penghambatan terhadap alfa telah memperlihatkan hasil berupa perbaikan subjektif
dan objektif terhadap tanda dan gejala BPH pada beberapa pasien. Penghambat alfa
dapat diklasifikasikan berdasarkan selektifitas reseptor dan waktu paruhnya.
2.11.2.2. Penghambat 5- Reduktase (5-Reductase inhibitors)
Finasteride adalah penghambat 5- Reduktase yang bekerja menghambat testosterone
menjadi dyhydratestosteron. Obat ini mempengaruhi komponan epitel prostat, yang
menghasilkan pengurangan kelenjar dan memperbaiki gejala. Dianjurkan pemberian
terapi ini selama 6 bulan, guna melihat efek maksimal terhadap ukuran prostat
(reduksi 20%) dan perbaikan gejala-gejala.
2.11.2.3. Terapi kombinasi
Terapi kombinasi antara penghambat alfa dan penghambat 5- Reduktase
memperlihatkan bahwa penurunan symptom score dan peningkatan aliran urin hanya
ditemukan pada pasien yang mendapatkan hanya Terazosin. Penelitian terapi
kombinasi sedang diteliti lebih lanjut.
2.11.2.4. Fitoterapi

Fitoterapi adalah penggunaan tumbuh-tumbuhan dan ekstrak tumbuh-tumbuhan untuk


tujuan medis. Fitoterapi paling umum untuk BPH adalah palmetto (Serenoa repens),
African plumb (pygeum africanum), dan South African Star Grass (Hypoxis rooperi).
Saw Palmetto adalah Phytotherapy paling sering digunakan untuk LUT. Permixon,
sebuah liposterolic ekstrak repens S. (diekstraksi dari kelapa muda di bagian tenggara
Amerika Serikat dan Hindia Barat) adalah persiapan yang paling banyak dipelajari.
Secara tepatnya mekanisme kerja repens S. masih belum jelas. Namun, penelitian
baru menunjukkan kontraksi epitel, terutama di zona transisi, menunjukkan
kemungkinan mekanisme aksi, namun perubahan volume prostat atau PSA belum
diamati.
Tersedia informasi tentang saw palmetto ekstrak terdiri sebagian besar dari dalam
percobaan in vitro dan penelitian di Eropa, yang banyak telah membatasi nilai seperti
dicatat oleh peneliti. Keterbatasan serupa telah diamati dalam beberapa studi menilai
bentuk lain terapi alternatif. Tidak ada data dari yang dirancang dengan baik, jangka
panjang, acak, penelitian plasebo-terkontrol untuk menunjukkan bahwa terapi
alternatif memiliki efek pada jangka panjang hasil atau perkembangan penyakit.
2.11.3. Operasi Konvensional
Indikasi absolut untuk terapi bedah yaitu retensi urin berulang, hematuri, tanda
penurunan fungsi ginjal, ISK berulang, tanda-tanda obstruksi berat dan ada batu
saluran kemih, atau jika skor Madsen Iversen 15, atau jika sudah termasuk BPH
derajat II, III, atau IV. Intervensi bedah yang dapat dilakukan meliputi Transurethral
Resection of the Prostate (TURP), Transurethral Insision of the Prostate (TUIP), open
prostatectomy dan prostatektomi dengan laser.
2.11.3.1. Transurethral resection of the prostate (TURP)
Sembilan puluh lima persen simple prostatectomy dapat dilakukan melalui endoscopy.
Umumnya dilakukan dengan anestesi spinal dan dirawat di rumah sakit selama 1-2
hari. Perbaikan symptom score dan aliran urin dengan TURP lebih tinggi dan bersifat
invasive minimal. Resiko TURP adalah antara lain ejakulasi retrograde (75%),
impoten (5-10%) dan inkontinensia urin (<1%).
2.11.3.2. Transurethral incision of the prostate

Pasien dengan gejala sedang dan berat, prostat yang kecil sering terjadi hyperplasia
komisura posterior (menaikan leher buli-buli). Pasien dengan keadaan ini lebih-lebih
mendapat keuntungan dengan insisi prostat. Prosedur ini lebih cepat dan kurang
menyakitkan dibandingkan TURP. Retrograde ejakulasi terjadi pada 25% pasien.

2.11.3.3. Open simple prostatectomy


Jika prostat terlalu besar untuk dikeluarkan dengan endoskopi, maka enukleasi
terbuka diperlukan. Kelenjar lebih dari 100 gram biasanya dipertimbangkan untuk
dilakukan enukleasi. Open prostatectomy juga dilakukan pada BPH dengan
divertikulum buli-buli, batu buli-buli dan pada posisi litotomi tidak memungkinkan.
Open prostatectomy dapat dilakukan dengan pendekatan suprapubik atau retropubik.
2.11.4. Terapi Minimal Invasive
2.11.4.1. Laser
Dua sumber energy utama yang digunakan pada operasi dengan sinar laser adalah
Nd :YAG dan Holomium : YAG
Keuntungan operasi dengan sinar laser :
Keuntungan operasi dengan sinar laser adalah :
a.
b.
c.
d.

Kehilangan darah minimal


Sindroma TUR jarang terjadi
Dapat mengobati pasien yang sedang menggunakan antikoagulan
Dapat dilakukan out patient procedure

Kerugian operasi laser


a.
b.
c.
d.

Sedikit jaringan untuk pemeriksaan patologi


Pemasangan kateter postoperasi lebih lama
Lebih iritatif
Biaya besar

2.11.4.2. Transurethral electrovaporization of the prostate


Transurethral electrovaporization of the prostate adalah terapi menggunakan
resekstoskop. Arus tegangan tinggi menyebabkan penguapan jaringan karena panas,
meghasilkan cekungan pada uretra pars prostatika. Prosedurnya lebih lama dari TUR.
2.11.4.3. Hyperthermia

Hipertermia

dihantarkan

melalui

kateter

transuretra.

Bagian

alat

lainnya

mendinginkan mukosa uretra. Namun jika suhu lebih rendah dari 45C, alat pendingin
tidak diperlukan.
2.11.4.4. Transuretral needle ablation of the prostate
Transuretral needle ablation of the prostate menggunakan kateter khusus yang
dimasukan melalui uretra.
2.11.4.5. High Intensity Focused Ultrasound
High Intensity Focused Ultrasound berarti melakukan ablasi jaringan dengan panas.
Ultrasound probe ditempatkan pada rectum.
2.11.4.6. Intrauteral stents
Intrauteral stents adalah alat yang ditempatkan pada fossa prostatika dengan
endoskopi dan dirancang untuk mempertahankan uretra pars prostatika tetap paten.
2.11.4.7. Transurethtral ballon dilatation of the prostate
Balon dilator prostat ditempatkan dengan kateter khusus yang dapat melebarkan fossa
prostatika dan leher buli-buli. Lebih efektif pada prostat yang ukurannya kecil. Tehnik
ini jarang digunakan sekarang ini.

DAFTAR PUSTAKA

1.

Potts, J.M. Essential Urology: A Guide to Clinical Practice. Humana Press

Inc., Totowa, NJ. Pg 191


2.
Schwartz. Manual of Surgery,in Urology, Benign Prostatic Hyperplasia.Mc
3.

Graw Hills Companies. 2006. Pg. 1061


Snell, Richard S. Clinical Anatomy For Medical Students 6th edition in cavitas

4.

Pelvis Part II.Lippincot William & Wilkins Inc. 2006. USA. Pg.350-352.
Joseph C. Presti, Jr., MD, Smiths General Urology, in Neoplasm of The
Prostate Gland. 15th edition. USA : Lange Medical Books/McGraw-Hill Company,

2000. Pg.399-406.
5.
WebMD, Mens Health, Human Anatomy section, topic of Prostate Gland,
Subject of Prostate Picture, Definition, Function, Condition, Test, and Treatment.
Last reviewed Reviewed on April 28, 2010 by WebMD, downloaded from
http://men.webmd.com/picture-of-the-prostate on May 14th 2013.
6.
UNSW Embriology, Categories of Genital, Prostate, Subject of Prostate
development Overview. This page was last modified on 16 September 2012, at
08:24

by

Dr

Mark

Hill,

downloaded

from

http://php.med.unsw.edu.au./embryology/index.php/title=prostate_development
on May 14th 2013.