You are on page 1of 22

FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA

(UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA)


Jl.Terusan Arujuna no.6 Kebon Jeruk Jakarta Barat
STATUS ILMU PENYAKIT DALAM
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF PENYAKIT DALAM
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOJA

Nama Mahasiswa

: Kevin Dyonghar
NIM

Dokter Pembimbing

Tanda Tangan :
: 11.2015.090

: dr. Suzanna Ndraha,SpPD KEGH Tanda Tangan :

IDENTITAS PASIEN
Nama : An. DA
Tempat /tanggal lahir :

Jenis Kelamin : Perempuan


Jakarta,20 Oktober Suku Bangsa : Betawi

1997
Status Perkawinan : Menikah
Umur : 18 tahun
Pekerjaan : Pelajar

Agama : Muslim
Pendidikan : Tamat SMK
Tanggal masuk RS: 16 Maret 2016

Alamat : jl.Cipeulang 2/31. Jakarta utara

Cara masuk RS : diantar keluarga

ANAMNESIS
Diambil dari: Autoanamnesis. Tanggal: Maret 2016. Jam: 14.00 WIB.
Keluhan Utama:
Perasaan nyesek di dada 1 hari SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang :


1

Satu hari SMRS OS mengeluhkan adanya perasaan nyesek di sertai rasa pahit dan asam di
mulutnya. OS mengeluhkan adanya rasa pedas di tenggorokan. Keluhan juga disertai adanya
mual tetapi tidak sampai muntah, Pasien mengeluhkan sakit pada daerah ulu hati.
Keluhan pernah dirasakan sebelumnya pada 6 bulan yang lalu. Sudah di bawa berobat
namun tidak ada perbaikan.
Penyakit Dahulu (Tahun)
( - ) Cacar

( - ) Malaria

( - ) Batu ginjal/sal.kemih

( +) Cacar air

( - ) Disentri

( - ) Burut ( Hernia )

( - ) Difteri

( - ) Hepatitis

( - ) Penyakit prostat

( - ) Batuk rejan

( - ) Tifus abdominalis

( - ) Wasir

( + ) Campak

( - ) Skrofula

( - ) Diabetes

( - ) Influenza

( - ) Sifilis

( - ) Alergi

( - ) Tonsilitis

( - ) Gonore

( - ) Tumor

( - ) Khorea

( - ) Hipertensi

( - ) Penyakit pembuluh

( - ) Demam rematik akut

( - ) Ulkus ventrikuli

( - ) Perdarahan otak

( - ) Pneumonia

( - ) Ulkus duodeni

( - ) Psikosis

( - ) Pleuritis

( + ) Gastritis

( - ) Neurosis

( - ) Tuberkulosis

( - ) Batu empedu

Lain-lain:

( - ) Operasi

( - ) Kecelakaan

Riwayat Keluarga
Hubungan

Umur

Jenis Kelamin

(tahun)

Keadaan

Penyebab Meninggal

Kesehatan

Kakek dari ibu

67 Tahun

Laki-laki

Parkinson

Nenek dari ibu

59 tahun

Perempuan

Sehat

Kakek dari ayah

Laki-laki

Meninggal

Umur tua

Nenek dari ayah

Perempuan

Meninggal

Umur tua

Ayah

47 tahun

Laki-laki

Sehat

Ibu

45 tahun

Perempuan

Sehat

Adik

12 tahun

Perempuan

Sehat

Adakah Kerabat Yang Menderita:


Penyakit
Alergi
Asma
Tuberkulosis
Arthritis
Rematisme
Hipertensi
Jantung
Ginjal
Lambung

Ya

Tidak

Hubungan

ANAMNESIS SISTEM
Kulit
( - ) Bisul

( - ) Rambut

( - ) Keringat malam

( - ) Kuku

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Sianosis

( - ) Lain-lain
Kepala
( - ) Trauma

( - ) Sakit kepala

( - ) Sinkop

( - ) Nyeri pada sinus

Mata
( - ) Nyeri

( - ) Radang

( - ) Sekret

( - ) Gangguan penglihatan

( - ) Kuning / Ikterus

( - ) Ketajaman penglihatan

Telinga
( - ) Nyeri

( - ) Gangguan pendengaran

( - ) Sekret

( - ) Kehilangan pendengaran

( - ) Tinitus
Hidung
( - ) Trauma

( - ) Gejala penyumbatan

( - ) Nyeri

( - ) Gangguan penciuman

( + ) Sekret

( + ) Pilek

( - ) Epistaksis
Mulut
( - ) Bibir

( - ) Lidah kotor

( - ) Gusi

( - ) Gangguan pengecap

( - ) Selaput

( - ) Stomatitis

Tenggorokan
( - ) Nyeri tenggorokan

( - ) Perubahan suara

Leher
( - ) Benjolan

( - ) Nyeri leher

Dada (Jantung / Paru)


( - ) Nyeri dada

( - ) Sesak napas

( + ) Berdebar

( - ) Batuk darah

( - ) Ortopnoe

( - ) Batuk berdahak warna putih keruh

Abdomen (Lambung / Usus)


( + ) Rasa kembung

( - ) Wasir

( + ) Mual

( - ) Mencret

( - ) Perut membesar

( - ) Muntah

( - ) Tinja darah

( - ) Muntah darah

( - ) Tinja berwarna dempul

( - ) Sukar menelan

( - ) Tinja berwarna ter

( + ) Nyeri perut epigastrium

( - ) Benjolan

Saluran Kemih / Alat kelamin


( - ) Disuria

( - ) Kencing nanah

( - ) Stranguria

( - ) Kolik

( - ) Polliuria

( - ) Oliguria

( - ) Polakisuria

( - ) Anuria

( - ) Hematuria

( - ) Retensi urin

( - ) Kencing batu

( - ) Kencing menetes

( - ) Ngompol (tidak disadari)

( - ) Penyakit Prostat

Haid :
(+) Haid terakhir 29 Feb

(+) Jumlah 3-4x ganti dan lamanya 5 hari

(+) Menarche 1 SMP

(+) Teratur

(+) Nyeri hari pertama saja

(-) Gangguan haid

(-) Gejala Klimakterium

(-) Pasca menopause

Saraf dan Otot


( - ) Anestesi

( - ) Sukar mengingat

( - ) Parestesi

( - ) Ataksia

( - ) Otot lemah

( - ) Hipo / hiper esthesi

( - ) Kejang

( - ) Pingsan

( - ) Afasia

( - ) Kedutan (Tick)

( - ) Amnesia

( - ) Pusing (vertigo)

( - ) Lain-lain

( - ) Gangguan bicara (Disartri)

Ekstremitas
( - ) Bengkak

( - ) Deformitas

( - ) Nyeri sendi

( - ) Sianosis
5

BERAT BADAN
Berat badan rata-rata (Kg)

: 50 kg

Berat tertinggi kapan (Kg)

: 52 kg

Berat badan sekarang (Kg)

: 52 kg

Tetap ( - )

Naik ( + )

Turun ( - )

RIWAYAT HIDUP
Riwayat kelahiran:
Tempat lahir

: (-) di rumah

( + ) Rumah bersalin

Ditolong oleh

: ( - ) dokter

( + ) bidan

( - ) RS
( - ) Dukun

( - ) lain-lain

Riwayat imunisasi: Imunisasi Dasar lengkap


( + ) Hepatitis

( + ) BCG

( + ) Campak ( + ) DPT ( + ) Polio

( + ) Tetanus

Riwayat Makanan
Frekuensi / Hari : 3 kali/hari
Jumlah / Hari : 1 piring/hari
Variasi / Hari : bervariasi
Nafsu makan : kurang
Pendidikan
( - ) SD

( - ) SLTP

( - ) Universitas

( - ) SLTA
( - ) Kursus

( + ) Sekolah kejuruan ( - ) Akademi


(- ) Tidak sekolah

Kesulitan
Keuangan

: Tidak ada

Pekerjaan

: Tidak ada

Keluarga

: Tidak ada

Lain lain

: Tidak ada

PEMERIKSAAN JASMANI
Pemeriksaan Umum
Dilakukan tanggal 16 Maret 2016
Keadaan umum

: tampak sakit ringan

Tinggi badan

: -

Berat Badan

: 52 kg

Indeks Massa Tubuh

: -

Tekanan darah

: 110/70 mmHg

Nadi

: 78 kali/ menit, reguler

Suhu

: 37,1 oC

Pernapasan (Frekuensi dan tipe)

: 19 kali/menit

Keadaan gizi

: gizi normal

Kesadaran

: Compos mentis

Sianosis

: Tidak ada

Udema umum

: Tidak ada

Habitus

: Atletikus

Cara berjalan

: Normal

Mobilitas (Aktif / Pasif)

: Aktif

Aspek Kejiwaan
Tingkah laku

: wajar

Alam perasaan

: biasa

Proses pikir

: wajar
7

Kulit
Warna

: sawo matang

Effloresensi

: (-)

Jaringan parut

: (-)

Pigmentasi

: merata

Pertumbuhan rambut : ( - )

Pembuluh darah

: tidak menonjol

Suhu raba

: hangat

Lembab / kering

: lembab

Keringat

: biasa

Turgor

: baik

Ikterus

: (-)

Lapisan lemak

: merata

Edema

: (-)

Lain-lain

:(-)

Kelenjar Getah Bening


Submandibula

: tidak teraba membesar

Leher

: tidak teraba membesar

Supraklavikula

: tidak teraba membesar

Ketiak

: tidak teraba membesar

Lipat paha

: tidak teraba membesar

Kepala
Ekspresi wajah : Tenang

Simetri muka

: simetris

Rambut

Pembuluh darah temporal

: teraba pulsasi

: distribusi merata

Mata
Exophthalmus : ( - )

Enopthalmus

:(-)

Kelopak

: (-)

Lensa

: Jernih

Konjungtiva

: anemis ( - )

Visus

: Tidak ada gangguan visus

Sklera

: ikterik ( - )

Gerakan mata

: normal

Lapangan penglihatan : normal

Tekanan bola mata

: normal

Deviatio konjungae

Nystagmus

:(-)

: (-)

Telinga
Tuli

: (-)

Selaput pendengaran : utuh

Lubang

: liang telinga lapang

Penyumbatan

:(-)

Perdarahan

:(-)

Serumen : ( + )
Cairan

:(-)

Mulut
Bibir

: normal,tidak kering

Tonsil

: normal T1-T1 tenang

Langit-langit : normal

Bau pernapasan

: tidak berbau

Gigi geligi

: tidak ada caries

Trismus

:(-)

Faring

: hiperemis

Selaput lendir

: normal

Lidah

: normal

Leher
Tekanan vena jugularis (JVP) : 5-2 cmH2O
9

Kelenjar tiroid : tidak teraba membesar


Kelenjar limfe : tidak teraba membesar
Deviasi trachea : ( - )

Dada
Bentuk

: simetris

Pembuluh darah

:(-)

Buah dada

: simetris

Paru-paru
Depan
Inspeksi

Palpasi

Kiri

- simetris statis dan dinamis

- simetris statis dan dinamis

Kanan

- simetris statis dan dinamis

- simetris statis dan dinamis

Kiri

Kanan

Perkusi

Auskultasi

Belakang

- sela iga normal, nyeri (-)

- sela iga normal, nyeri (-)

- Fremitus taktil simetris

- Fremitus taktil simetris

- sela iga normal, nyeri (-)

- sela iga normal, nyeri (-)

- Fremitus taktil simetris

- Fremitus taktil simetris

Kiri

- sonor, normal

- sonor, normal

Kanan

- sonor, normal

- sonor, normal

Kiri

- vesikuler,tidak terdengar
Ronki dan wheezing

Kanan

- vesikuler,tidak terdengar

- vesikuler,tidak terdengar
ronki dan wheezing
- vesikuler,tidak terdengar
10

Ronki dan wheezing

ronki dan wheezing

Jantung
Inspeksi

: ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: tidak ada nyeri tekan, ictus cordis teraba lemah.

Perkusi

:
Batas Jantung Kanan

: Sela iga ke 4 linea sternalis kanan.

Batas Jantung Atas

: Sela iga ke 2 linea sternalis kiri.

Batas Pinggang Jantung

: Sela iga ke 4 linea parasternalis kiri.

Batas Jantung Kiri

: Sela iga ke 5 linea midclavicularis kiri.

Auskultasi

: BJ I-II jelas regular, murmur (-), Gallop (-)

Pembuluh darah
Arteri Temporalis

: teraba pulsasi

Arteri Karotis

: teraba pulsasi

Arteri Brakhialis

: teraba pulsasi

Arteri Radialis

: teraba pulsasi

Arteri Femoralis

: teraba pulsasi

Arteri Poplitea

: teraba pulsasi

Arteri Tibialis Posterior

: teraba pulsasi

Arteri Dorsalis Pedis

: teraba pulsasi

Perut
Inspeksi

: simetris, datar, tidak ada lesi

Palpasi

: Dinding perut

: supel, benjolan (-) , nyeri tekan ( + ) epigastrium


11

Hati

: tidak teraba adanya pembesaran

Limpa

: tidak teraba adanya pembesaran

Ginjal

: Ballotement (-), nyeri ketok CVA (-)

Perkusi

: timpani, shifting dullness (-)

Auskultasi

: bising usus normal

Refleks dinding perut : ada


Alat kelamin: tidak ada indikasi

Anggota gerak
Lengan

Otot (tonus dan massa)


Gerakan
Kekuatan
Edema
Luka

Kanan
Normal
Aktif
+5
Tidak ada
Tidak ada

Kiri
Normal
Aktif
+5
Tidak ada
Tidak ada

Kanan
Tidak ada
Tidak ada
Normal
Tidak ada kelainan
Aktif
+5
Tidak ada

Kiri
Tidak ada
Tidak ada
Normal
Tidak ada kelainan
Aktif
+5
Tidak ada

Tungkai dan kaki

Luka
Varises
Otot (tonus dan massa)
Sendi
Gerakan
Kekuatan
Edema

12

Refleks
Kanan

Kiri

Tendon

(+)

(+)

Bisep

(+)

(+)

Trisep

(+)

(+)

Patella

(+)

(+)

Achiles

(+)

(+)

Refleks patologis

(-)

(-)

Colok dubur (atas indikasi)


Tidak diperiksa

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
Dilakukan pada tanggal 16 Maret 2016 pkl 23.45

Darah Rutin

Elektrolit
Glukosa sewaktu

Pemeriksaan
Jumlah Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Jumlah Trombosit
Natrium
Kalium
Klorida
Glukosa sewaktu

Hasil
10.51
12.9
39.5
251
133
2.62
96
225

Nilai rujukan
4.00-10.50
12.5-16.0
37.0-47.0
182-369
135-147.00
3.5-5.0
96.00-108.00
<200

Hasil
138
3.81
104
95

Nilai rujukan
135-147.00
3.5-5.0
96.00-108.00

POCT
POCT
Dilakukan pada tanggal 18 Maret 2016 pkl 23.45

Elektrolit
Glukosa sewaktu

Pemeriksaan
Natrium
Kalium
Klorida
Glukosa 2 jam PP

13

POCT

Glukosa sewaktu

87

<200

POCT

RINGKASAN (RESUME)
Seorang wanita 31 tahun dating dengan keluhan demam sejak 5 hari sebelum masuk
rumah sakit. Demam naik turun, terutama pada sore hari menjelang malam. Demam disertai
dengan batuk pilek. Batuk dengan dahak warna putih keruh. Pasien merasa sakit kepala, mual
dan muntah. Muntah berisi makanan sebanyak kira-kira gelas aqua, sehari 2 kali. Badan pasien
terasa lemas hingga mengganggu aktifitas. Nafsu makan pasien berkurang semenjak sakit. Sejak
3 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien merasa nyeri pada ulu hatinya. Nyeri tidak menjalar.
Pasien sudah 3 hari belum BAB semenjak mulai sakit. Pada pemeriksaan fisik didapatkan TD :
120/70 mmHg, nadi : 94x/menit, reguler, isi cukup, suhu : 36.8C, frekuensi pernapasan :
22x/menit thorakoabdominal, ada sekret pada hidung yang tersumbat, lidah tampak kotor di
bagian tengah, faring hiperemis, dan nyeri tekan di epigastrium. Pada pemeriksaan penunjang
didapatkan Hb : 15.5 g/dl, Ht : 44%, eritrosit : 5.66 juta/ul, trombosit : 153 ribu/ul, lekosit : 4200
u/l, IgM anti Salmonella POSITIF.

MASALAH
1. Demam tifoid
Dipikirkan karena demam sejak 5 hari yang timbul hanya pada sore-malam hari, lemas,
menggigil, nyeri seluruh badan, nyeri kepala, sulit buang air besar, kembung, mual dan lidah
berwarna putih.
Adapun penyakit lain yang mirip yaitu malaria, hepatitis dan DBD karena sama- sama demam,
lemas, menggigil, nyeri seluruh badan, nyeri kepala, mual dan nafsu makan menurun.
Rencana diagnosik :
-

Usg untuk melihat apakah ada kelainan seperti hepatomegali, splenomegali

Lab darah H2TL untuk melihat tanda-tanda infeksi.


14

Test widal untuk diagnosa demam tifoid

Test fungsi hati untuk menyingkirkan diagnosa hepatitis

Rencana pengobatan :
-

IVFD RA 20 tetes/menit pengganti elektrolit

Tirah baring

Diet mengandung kalori dan protein yang cukup

ondansentron injection untuk mengurangi mual

PCT tab 500mg 3x1 untuk menurunkan demam

kloramfenikol tab 4 x 500 mg hingga 7 hari bebas demam untuk infeksi Salmonella
typhi

Observasi TTV tiap 4 jam sekali. Tanda-tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien.

Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum kurang lebih 2,5 liter / 24 jam.
Peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh meningkat sehingga perlu
diimbangi dengan asupan cairan yang banyak.

Periksa darah untuk meninjau trombosit

Rencana edukasi :
-

Memberikan pemahaman kepada penderita untuk mengenali gejala dan faktor-faktor


pencetus kekambuhan penyakit tifoid

Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang peningkatan suhu tubuh.

Anjurkan kepada pasien untuk menggunakan pakaian tipis dan menyerap


kringat.Untuk menjaga agar pasien merasa nyaman, pakaian tipis akan membantu
mengurangi penguapan tubuh

Meminta pasien agar segera melapor jika demam naik.

KESIMPULAN DAN PROGNOSIS


Seorang wanita berusia 31 tahun mengeluh demam yang naik saat sore-malam hari sejak 5 hari
yang lalu, disertai dengan konstipasi sejak 3 hari yang lalu, nyeri kepala, badan dan nyeri tekan

15

perut, lemas, menggigil, kembung dan mual, nafsu makan menurun, lidah kotor menderita
demam tifoid.
Prognosis
a. Ad vitam

: bonam

b. Ad functionam

: bonam

c. Ad sanationam

: bonam

FOLLOW UP
15 november 2015 jam 09.15
S: Os masih demam pada malam hari (14 agustus malam), merasa lemas dan sedikit
pusing (membaik)
O: Keadaan umum lemah, compos mentis
TD: 120/70
T: 35,80C
N: 80x/menit
RR: 24x/menit
A: Demam Tifoid hari ke 7 belum teratasi
P: Lanjutkan terapi, tidak perlu periksa lab darah lagi, jika keadaan membaik boleh pulang
Hasil laboratorium
Pemeriksaan
Jumlah Leukosit
Hemoglobin
Hematokrit
Jumlah Trombosit

Hasil
3.800
14.5
43
183.000

Nilai rujukan
5.000-10.000
12.0-16.0
36-46
140.000-440.000

16 november 2015 jam 08.00


16

S: Os sudah membaik
O: Keadaan umum baik, compos mentis
TD: 120/70
T: 35,80C
N: 80x/menit
RR: 24x/menit
A: Masalah teratasi
P: Os diperbolehkan pulang

BAB I
A.

Latar Belakang
GERD (Gastroesofageal Reflux Disease) adalah suatu penyakit yang jarang terdiagnosis
oleh dokter di Indonesia karena bila belum menimbulkan keluhan yang berat seperti refluks
esofagitis dokter belum bisa mendiagnosa. Refluks gastroesofagus adalah masuknya isi lambung
ke dalam esofagus yang terjadi secara intermiten pada orang, terutama setelah makan
GERD adalah penyakit organ esofagus yang banyak ditemukan di negara Barat. Berbagai
survei menunjukkan bahwa 20-40% populasi dewasa menderita heartburn (rasa panas membakar
di daerah retrosternal), suatu keluhan klasik GERD. Di Indonesia, penyakit ini sepintas tidak
banyak ditemukan. Hanya sebagaian kecil pasien GERD datang berobat pada dokter karena pada
umumnya keluhannya ringan dan menghilang setelah diobati sendiri dengan antasida. Dengan
demikian hanya kasus yang berat dan disertai kelainan endoskopi dan berbagai macam
komplikasinya yang datang berobat ke dokter 4
Prevalensi PRG bervariasi tergantung letak geografis, tetapi angka tertinggi terjadi di
Negara Barat. Trend prevalensi GERD di Asia meningkat. Di Hongkong meningkat dari 29,8%
(2002) menjadi 35% (2003). Sedangkan berdasarkan data salah satu rumah sakit di Indonesi,
RSCM menunjukkan peningkatan signifikan dari 6% menjadi 26% dalam kurun waktu 5 tahun.
Asian Burning Desire Survey (2006) membuktikan bahwa pemahaman tentang GERD pada
populasi di Indonesia adalah yang terendah di Asia Pasifik, hanya sekitar 1%, sedangkan di
Taiwan mencapai 81% dan Hongkong 66%.
Antara laki-laki dan perempuan tidak terdapat perbedaan insidensi yang begitu jelas,
kecuali jika dihubungkan dengan kehamilan dan kemungkinan non-erosive reflux disease lebih
terlihat pada wanita. Walaupun perbedaan jenis kelamin bukan menjadi faktor utama dalam
perkembangan PRG, namun Barretts esophagus lebih sering terjadi pada laki-laki.
Gastroesophageal reflux disease (GERD) terdiri dari spektrum gangguan yang terkait,
termasuk hernia hiatus, reflux disease dengan gejala yang terkait, esofagitis erosif, striktur
17

peptikum, Barrett esofagus, dan adenokarsinoma esofagus. Selain beberapa patofisiologi dan
hubungan antara beberapa gangguan ini, GERD juga ditandai dengan terjadinya komorbiditas
pada pasien yang identik dan oleh epidemiologi perilaku yang serupa diantara mereka.

BAB II
A. DEFINISI
Penyakit refluks gastroesofageal (Gastroesophageal Reflux Disease/GERD) didefinisikan
sebagai suatu keadaan patologis sebagai akibat refluks kandungan lambung ke dalam esofagus
yang menimbulkan berbagai gejala yang mengganggu(troublesome) di esofagus maupun ekstra
esofagus dan atau komplikasi 6
Pada orang normal, refluks ini terjadi pada posisi tegak sewaktu habis makan. Karena sikap
posisi tegak tadi dibantu oleh adanya kontraksi peristaltik primer, isi lambung yang mengalir
masuk ke esofagus segera dikembalikan ke lambung. Refluks sejenak ini tidak merusak mukosa
esofagus dan tidak menimbulkan keluhan atau gejala. Oleh karena itu,
dinamakan refluks fisiologis. Keadaan ini baru dikatakan patologis, bila refluks terjadi berulangulang yang menyebabkan esofagus distal terkena pengaruh isi lambung untuk waktu yang lama.
Istilah esofagitis refluks berarti kerusakan esofagus akibat refluks cairan lambung, seperti erosi
dan ulserasi epitel skuamosa esofagus 6
B.

ETIOLOGI
Beberapa penyebab terjadinya GERD meliputi :
1. Menurunnya tonus LES (Lower Esophageal Sphincter)
2. Bersihan asam dari lumen esofagus menurun
3. Ketahanan epitel esofagus menurun
4. Bahan refluksat mengenai dinding esofagus yaitu Ph <2, adanya pepsin, garam empedu, HCL.
5. Kelainan pada lambung
6. Infeksi H. Pylori dengan corpus predominan gastritis
7. Non acid refluks (refluks gas) menyebabkan hipersensitivitas
8. Alergi makanan atau tidak bisa menerima makanan juga membuat refluks
9. Mengkonsumsi makanan berasam, coklat, minuman berkafein dan berkarbonat, alkohol,
merokok, dan obat-obatan yang bertentangan dengan fungsi esophageal sphincter bagian bawah
termasuk yang memiliki efek antikolinergik (seperti beberapa antihistamin), penghambat saluran
kalsium, progesteron, dan nitrat.
10. Kelaianan anatomi, seperti penyempitan kerongkongan 7

C. PATOFISIOLOGI
Esofagus dan gaster dipisahkan oleh suatu zona tekanan tinggi (high pressure zone) yang
dihasilkan oleh kontraksi Lower esophageal sphincter. Pada individu normal, pemisah ini akan
dipertahankan kecuali pada saat terjadinya aliran antegrad yang terjadi pada saat menelan, atau
aliran retrograd yang terjadi pada saat sendawa atau muntah. Aliran balik dari gaster ke
esophagus melalui LES hanya terjadi apabila tonus LES tidak ada atau sangat rendah (<3
mmHg) 1
18

a.

b.

c.

1.
2.
3.
4.

Terjadinya aliran balik / refluks pada penyakit GERD diakibatkan oleh gangguan motilitas /
pergerakan esofagus bagian ujung bawah. Pada bagian ujung ini terdapat otot pengatur (sfingter)
disebut LES, yang fungsinya mengatur arah aliran pergerakan isi saluran cerna dalam satu arah
dari atas ke bawah menuju usus besar. Pada GERD akan terjadi relaksasi spontan otot tersebut
atau penurunan kekuatan otot tersebut, sehingga dapat terjadi arus balik atau refluks cairan atau
asam lambung, dari bawah ke atas ataupun sebaliknya 5
Patogenesis terjadinya GERD menyangkut keseimbangan antara faktor defensif dari
esophagus dan faktor efensif dari bahan reflukstat. Yang termasuk faktor defensif esophagus,
adalah pemisah antirefluks, bersihan asam dari lumen esophagus, dan ketahanan ephitelial
esophagus. Sedangkan yang termasuk faktor ofensif adalah sekresi gastrik dan daya pilorik.
Pemisah antirefluks
Pemeran terbesar pemisah antirefluks adalah tonus LES. Menurunnya tonus LES dapat
menyebabkan timbulnya refluks retrograde pada saat terjadinya peningkatan tekanan
intraabdomen. Sebagian besar pasien GERD ternyata mempunyai tonus LES yang normal.
Faktor-faktor yang dapat menurunkan tonus LES adalah adanya hiatus hernia, panjang LES
(makin pendek LES, makin rendah tonusnya), obat-obatan (misal antikolinergik, beta
adrenergik), dan faktor hormonal. Selama kehamilan, peningkatan kadar progesteron dapat
menurunkan tonus LES.
Bersihan asam dari lumen esophagus
Faktor-faktor yang berperan dalam bersihan asam dari esophagus adalah gravitasi, peristaltik,
eksrkresi air liur, dan bikarbonat. Setelah terjadi refluks sebagian besar bahan refluksat akan
kembali ke lambung dengan dorongan peristaltik yang dirangsang oleh proses menelan.
Ketahanan epithelial esophagus
Berbeda dengan lambung dan duodenum, esophagus tidak memiliki lapisan mukus yang
melindungi mukosa esophagus. Mekanisme ketahanan ephitelial esophagus terdiri dari :
Membran sel
Batas intraseluler (intracellular junction) yang membatasi difusi H+ ke jaringan esophagus
Aliran darah esophagus yang mensuplai nutrien, oksigen, dan bikarbonat, serta mengeluarkan
ion H+ dan CO2
Sel-sel esophagus memiliki kemampuan untuk mentransport ion H+ .
Episode refluks bervariasi tergantung kandungan isinya, volume, lamanya, dan hubungannya
dengan makan. Pada proses terjadinya refluks, sfingter esofagus bawah dalam keadaan relaksasi
atau melemah oleh peningkatan tekanan intra abdominal sehingga terbentuk rongga diantara
esofagus dan lambung. Isi lambung mengalir atau terdorong kuat ke dalam esofagus. Jika isi
lambung mencapai esofagus bagian proksimal dan sfingter esofagus atas berkontraksi, maka isi
lambung tersebut tetap berada di esofagus dan peristaltik akan mengembalikannya ke dalam
lambung. Jika sfingter esofagus atas relaksasi sebagai respon terhadap distensi esofagus maka isi
lambung akan masuk ke faring, laring, mulut atau nasofaring 5

D. TANDA DAN GEJALA


Manifestasi klinis GERD dapat berupa gejala yang tipikal (esofagus) dan gejala atipikal
(ekstraesofagus). Gejala GERD 70 % merupakan tipikal, yaitu :
19

1. Heart Burn, yaitu sensasi terbakar di daerah retrosternal. Gejala heartburn adalah gejala
tersering.
2. Regurgitasi, yaitu kondisi dimana material lambung terasa di faring. Kemudian mulut terasa
asam dan pahit.
3. Disfagia. Biasanya terjadi oleh karena komplikasi berupa striktur 7
Gejala Atipikal :
1. Batuk kronik dan kadang wheezing
2. Suara serak
3. Pneumonia
4. Fibrosis paru
5. Bronkiektasis
6. Nyeri dada nonkardiak (Yusuf, 2009).
Gejala lain :
1. Penurunan berat badan
2. Anemia
3. Hematemesis atau melena
4. Odinofagia 3
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Endoskopi
Dewasa ini endoskopi merupakan pemeriksaan pertama yang dipilih oleh evaluasi pasien dengan
dugaan PRGE. Namun harus diingat bahwa PRGE tidak selalu disertai kerusakan mukosa yang
dapat dilihat secara mikroskopik dan dalam keadaan ini merupakan biopsi. Endoskopi
menetapkan tempat asal perdarahan, striktur, dan berguna pula untuk pengobatan (dilatasi
endoskopi).
2. Radiologi
Pemeriksaan ini kurang peka dan seringkali tidak menunjukkan kelainan, terutama pada kasus
esofagitis ringan. Di samping itu hanya sekitar 25 % pasien PRGE menunjukkan refluks barium
secara spontan pada pemeriksaan fluoroskopi. Pada keadaan yang lebih berat, gambar radiologi
dapat berupa penebalan dinding dan lipatan mukosa, tukak, atau penyempitan lumen.
F. TERAPI
Terapi GERD ditujukan untuk mengurangi atau menghilangkan gejala-gejala pasien,
mengurangi frekuensi atau kekambuhan dan durasi refluks esofageal, mempercepat
penyembuhan mukosa yang terluka, dan mencegah berkembangnya komplikasi. Terapi diarahkan
pada peningkatan mekanisme pertahanan yang mencegah refluks dan atau mengurangi faktorfaktor yang memperburuk agresifitas refluks atau kerusakan mukosa.
1. Modifikasi Gaya Hidup
a. Tidak merokok
b. Tempat tidur bagian kepala ditinggikan
c. Tidak minum alkohol
d. Diet rendah lemak
e. Hindari mengangkat barang berat
20

f.
g.
h.
2.

Penurunan berat badan pada pasien gemuk


Jangan makan terlalu kenyang
Hindari pakaian yang ketat, terutama di daerah pinggang
Terapi Endoskopik.
Terapi ini masih terus dikembangkan. Contohnya adalah radiofrekuensi, endoscopic suturing,
dan endoscopic emplatation. Radiofrekuensi adalah dengan memanaskangastroesophageal
junction. Tujuan dari jenis terapi ini adalah untuk mengurangi penggunaan obat, meningkatkan
kualitas hidup, dan mengurangi reflux.
3. Terapi medika mentosa. Sampai pada saat ini dasar yang digunakan untuk terapi ini adalah
supresi pengeluaran asam lambung. Ada dua pendekatan yang biasa dilakukan pada terapi
medika mentosa:
a. Step up
Awal pengobatan pasien diberikan obat-obat yang kurang kuat menekan sekresi asam seperti
antacid, antagonis reseptor H2 ( simetidin, ranitidine, famotidin, nizatidin) atau golongan
prokinetik (metoklorpamid,domperidon,cisaprid) bila gagal berikan obat-obat supresi asam yang
lebih kuat dengan masa terapi lebih lama (PPI).
b. Step down
Pada terapi ini pasien langsung diberikan PPI dan setelah berhasil lanjutkan dengan supresi asam
yang lebih lemah untuk pemeliharaan.
4. Terapi terhadap Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi adalah perdarahan dan striktur. Bila terjadi rangsangan asam
lambung yang kronik dapat terjadi perubahan mukosa esophagus dari squamous menjadi
kolumnar yang metaplastik sebagai esophagus barrets (premaligna) dan dapat menjadi
karsinoma barrets esophagus
a. Striktur esophagus
Bila pasien mengeluh disfagia dan diameter strikturnya kurang dari 13 mm maka dapat
dilakukan dilatasi busi, bila gagal juga lakukanlah operasi.
b. Barrets esophagus
Bila pasien telah mengalami hal ini maka terapi yang dilakukan adalah terapi bedah
(fundoskopi). Selain terapi bedah dapat juga dilakukan terapi endoskopi (baik menggunakan
energy radiofrekuensi, plikasi gastric luminal atau dengan implantasi endoskopi) walapun cara
ini masih dalam penelitian 3
G. KOMPLIKASI
Komplikasi GERD antara lain :
1. Esofagus barret, yaitu perubahan epitel skuamosa menjadi kolumner metaplastik.
2. Esofagitis ulseratif
3. Perdarahan
4. Striktur esofagus
5. Aspirasi 2

21

BAB III
A. KESIMPULAN
1. Gastroesofageal reflux disease (GERD) adalah suatu kondisi dimana cairan lambung mengalami
refluks ke esofagus sehingga menimbulkan gejala khas berupa rasa terbakar, nyeri di dada,
regurgitasi, dan komplikasi. Manifestasi klinis GERD meliputi gejala tipikal (esofagus) dan
atipikal (ekstraesofagus). Faktor yang berperan untuk terjadinya GERD yaitu mekanisme
antirefluks, kandungan cairan lambung, mekanisme bersihan oleh esofagus, dan resistensi sel
epitel esofagus. Untuk menegakkan diagnosis GERD dapat ditegakkan berdasarkan analisa
gejala klinis dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan
diantaranya endoskopi, radiologi, pengukuran pH, tes perfusi Berstein, tes gastro-esophageal
scintigraphy.
Komplikasi penyakit GERD diantaranya Esofagus barret, esofagitis ulseratif, perdarahan,
striktur esofagus, dan aspirasi. GERD merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan
jangka panjang. Pengobatan yang dapat diberikan pada klien GERD meliputi modifikasi gaya
hidup, terapi endoskopi, terapi medikamentosa, dan terapi komplikasi.

DAFTAR PUSTAKA
1.
Aru, Sudoyo. 2007. Buku Ajar Ilmu Bedah Jilid I Edisi IV . Jakarta : Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas Indonesia.
2.
Asroel, Harry. 2002. Penyakit Refluks Gastroesofagus . Universitas Sumatera
Utara : Fakultas Kedoketeran Bagian Tenggorokan Hidung dan Telinga.
3.
Bestari, Muhammad Begawan. 2011. Penatalaksanaan Gastroesofageal Reflux
Disease (GERD). Divisi Gastroentero-Hepatologi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran / RS Dr. Hasan Sadikin Bandung CDK 188 / vol.
38 no. 7 / November 2011.
4.
Djajapranata, Indrawan. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi Ketiga.
Jakarta : FKUI.
5.
Sujono, Hadi. 2002. Gastroenterologi Edisi VII. Bandung: Penerbit PT
Alumni.
6.
Susanto, Agus dkk. 2002. Gambaran Klinis dan Endoskopi Penyakit Refluks
Gastroesofagus. Jakarta : FKUI.
7.
Yusuf, Ismail. 2009. Diagnosis Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) Secara
Klinis.PPDS Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Vol. 22, No.3, Edition September - November
2009.

22