You are on page 1of 22

ANALISA JURNAL PENGARUH PEMBERIAN MEDITASI TERHADAP

PENURUNAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DENGAN


HIPERTENSI DI UNIT SOSIAL REHABILITASI
PUCANG GADING SEMARANG

Disusun guna memenuhi tugas Kelompok Stase Keperawatan Gerontik

Disusun Oleh:
Kelompok II-B

Felisiana Batlyol

24.15.0824

Atikah

24.15.0825

Yuni Lestari

24.15.0826

Ni Gusti Ayu Putu Trisnayanti

24.15.0827

Husniatun

24.15.0828

PROGRAM PROFESI NERS ANGKATAN XVII


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
SURYA GLOBAL
YOGYAKARTA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Hipertensi seringkali disebut sebagai pembunuh gelap (silent killer),
karena termasuk penyakit yang mematikan, tanpa disertai dengan gejalagejalanya lebih dahulu sebagai peringatan bagi korbannya. Kalaupun muncul,
gejala tersebut seringkali dianggap gangguan biasa, sehingga korbannya terlambat
menyadari akan datangnya penyakit (Sustrani, 2006).
Hipertensi menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius, karena
jika tidak terkendali akan berkembang dan menimbulkan komplikasi yang
berbahaya. Akibatnya bisa fatal karena sering timbul komplikasi, misalnya stroke
(perdarahan otak), penyakit jantung koroner, dan gagal ginjal (Gunawan, 2001).
Data WHO tahun 2000 menunjukkan, di seluruh dunia, sekitar 972 juta
orang atau 26,4% penghuni bumi mengidap hipertensi dengan perbandingan
26,6% pria dan 26,1% wanita. Angka ini kemungkinan akan meningkat menjadi
29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta berada di negara
maju dan 639 sisanya berada di negara sedang berkembang, temasuk Indonesia
(Andra,2007).
Seiring meningkatnya drajat kesehatan dan kesejahteraan penduduk akan
berpengaruh pada peningkatan UHH di Indonesia. Berdasarkan laporan
perserikatan Bangsa Bangsa 2011, pada tahun 2000 2005 UHH adalah 66,4
tahun (dengan persentase populasi lansia tahun 2000 adalah 7,74 %), angka ini
akan meningkat pada tahun 2045 2050 yang diperkirakan UHH menjadi 77,6
tahun ( dengan persentase populasi lansia 2045 adalah 28,68%), begitu pula
dengan laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terjadi peningkatan UHH. Pada tahun
2000 UHH di Indonesia adalah di Indonesia adalah 64,5 tahun (dengan persentase
populasi lansia adalah 7,18%). Angka ini meningkat menjadi 69,43 tahun pada
tahun 2010 ( dengan persentase populasi lansia adalah 7,56%) dan pada tahun
2011 menjadi 69,65 (dengan persentase lansia adalah 7, 58%).
Prevalensi hipertensi diperkirakan akan terus meningkat, dan diprediksi
pada tahun 2025 sebanyak 2025 sebanyak 29% orang dewasa diseluruh dunia

menderita hipertensi, sedangkan di Indonesia angkanya mencapai 31,7%.


Hipertensi dikenal dengan tekanan darah tinggi dan sering disebut sebagai sillent
killer karena terjadi tanpa tanda dan gejala, sehingga penderita tidak mengetahui
jika dirinya terkena hipertensi, dari hasil penelitian mengungkapkan sebanyak
76,1% tidak mengetahui dirinya terkena hipertensi.(KEMENKES, 2013)
Jika dilihat dari sebaran penduduk lansia menurut provinsi, persentase
penduduk lansia di atas 10% sekaligus paling tinggi ada di provinsi DI
Yogyakarta (13, 04%), Jawa Timur (10,40%) dan Jawa Tengah (10,34%).
(Suesenas Tahun 2012,). Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah
persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHG dan tekanan diastolic
diatas 90 mmHG. Pada populasi manula, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan
systolic 160 mmHG dan tekanan diastolic 90 mmHg. (Smeltzer & suzanne,
2002).
Selain terapi farmakologis juga terdapat terapi non farmakologis untuk
pengobatan hipertensi. Susilo & wulandari (2011) menyatakan pengobatan non
farmakologis hipertensi adalah mengatasi obesitas atau menurunkan berat badan,
mengurangi asupan garam ke dalam darah, menciptakan keadaan rileks seperti
meditasi, yoga, atau hypnosis yang mengeontrol sisttem syaraf untuk
mengendalikan tekanan darah, melakukan olah raga secara rutin, berhenti
merokok, dan berhenti mengkonsumsi alkohol.
Meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan fisik,
emosi, mental, dan spiritual seseorang (Iskandar, 2008). Meditasi adalah
pemfokusan pikiran menuju status kesadaran yang membawa status ketenangan,
kejelasan, dan kebahagiaan yang merupakan media dari NSR (Sukmono, 2009).
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa meditasi adalah latihan olah jiwa
yang dapat menyeimbangkan fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang yang
dapat menagarahkan pikiran menuju status kesadaran yang membawa
ketenangan, kejelasan, dan kebahagiaan.
Berdasarkan penelitian Anderson, Liu & Kryscio (2007) yang diterbitkan
oleh American Journal Of Hypertension yang berjudul Blood Pressure Response
To Trancedental Meditation, berdasarkan ppenelitian tersebut dapat disimpulkan
bahwa dengan latihan meditasi transedental dengan teratur memiliki potensi
untuk mengurangi tekanan darah systole dan diastole 4,7 mmHg dan 3,2 mmHg

B. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Meningkatnya pengetahuan mahasiswa tentang pengaruh terapi
meditasi terhadap penurunan tekanan darah pada lansia dengan
hipertensi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui penyakit hipertensi pada lansia
b. Mengetahui pengarah terapi meditasi pada lansia dengan hipertensi

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Hipertensi pada Lansia


1. Pengertian Hipertensi
Hipertensi dicirikan dengan peningkatan tekanan darah diastolik dan
sistolik yang intermiten atau menetap. Pengukuran tekanan darah serial
150/95 mmHg atau lebih tinggi pada orang yang berusia diatas 50 tahun
memastikan hipertensi. Insiden hipertensi meningkat seiring bertambahnya
usia (Stockslager , 2008). Hipertensi atau darah tinggi adalah penyakit
kelainan jantung dan pembuluh darah yang ditandai dengan peningkatan
tekanan darah. WHO (World Health Organization) memberikan batasan
tekanan darah normal adalah 140/90 mmHg, dan tekanan darah sama atau
diatas 160/95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. Batasan ini tidak
membedakan antara usia dan jenis kelamin (Marliani, 2007). Hipertensi dapat
didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di
atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan
diastolik 90 mmHg (Rohaendi, 2008).
2. Klasifikasi
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas (Darmojo, 1999) :
a. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140
mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90
mmHg.
b. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar
dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2
golongan besar yaitu :
a

Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang


tidak diketahui penyebabnya

Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh


penyakit lain

Tingkat hipertensi dan anjuran kontrol (Joint National Commitle, U.S 1992)

3. Etiologi
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Meskipun

hipertensi

primer

belum

diketahui

dengan

pasti

penyebabnya, data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang


sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah sebagai
berikut :
1. Faktor keturunan. Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi.
2. Ciri perseorangan. Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya
hipertensi adalah:

Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat )

Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan )

Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih )

Kebiasaan hidup. Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan


timbulnya hipertensi adalah : a. Konsumsi garam yang tinggi
(melebihi dari 30 gr) b. Kegemukan atau makan berlebihan c.

Stress d. Merokok e. Minum alcohol f. Minum obat-obatan


( ephedrine, prednison, epineprin ).
Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah penyakit-penyakit
seperti Ginjal, Glomerulonefritis, Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor,
Vascular, Aterosklerosis, Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli
kolestrol,

Vaskulitis,

Kelainan

endokrin,

DM,

Hipertiroidisme,

Hipotiroidisme, Saraf, Stroke, Ensepalitis. Selain itu dapat juga diakibatkan


karena Obat-obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid.
4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini
bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan
keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.
Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak
ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini,
neuron preganglion melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut
saraf pasca ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor
seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah
terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv
terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis
merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar
adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi.
Medulla adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. Vasokonstriksi yang
mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan pelepasan rennin.
Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi
angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang
sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra
vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan

fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan


tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam
relaksasi otot polos pembuluh darah, yang

pada gilirannya menurunkan

kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta


dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume
darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan
penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya hipertensi palsu
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

5. Pathway

6. Tanda dan Gejala


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan
dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh
dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan
pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai
hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini
merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang
mencari pertolongan medis. Menurut Rokhaeni (2001), manifestasi klinis
beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala,
pusing Lemas, kelelahan, Sesak nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis,
Kesadaran menurun.
7. Pemeriksaan Penunjang
a

Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel-sel


terhadap volume cairan (viskositas ) dan dapat mengindikasikan
factor-factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.

BUN

Memberikan

informasi

tentang

perfusi

ginjal

Glukosa

Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi) dapat


diakibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).
c

Kalium serum Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron


utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.

Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan


hipertensi

Kolesterol

dan

trigliserid

serum

Peningkatan

kadar

dapat

mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak


ateromatosa ( efek kardiovaskuler)
f

Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi


dan hipertensi

Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer


( penyebab )

Urinalisa Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan


atau adanya diabetes.

Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko


hipertensi

Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme

B. Meditasi Terapi
Meditasi terapi didefinisikan oleh Merta Ada (1999) sebagai suatu teknik
untuk mengkonsentrasikan pikiran agar lebih waspada dan bijaksana, serta dapat
digunakan untuk mencegah maupun menyembuhkan penyakit. Teknik inidapat
digunakan oleh semua orang tanpa dibatasi oleh agama dan kepercayaannya. Ada
empat tahapan meditasi terapi yaitu:
1. Meditasi Usada I : Mengelola getaran dan menyehatkan diri sendiri.
2. Meditasi Usada II : Mengelola unsur materi dan menyehatkan diri
sendiri.
3. Meditasi Usada III: Mengelola pikiran dan menyehatkan diri sendiri.
4. Meditasi Usada IV: Menelusur penyakit orang dan menyehatkan diri
sendiri
Pada dasarnya meditasi terapi merupakan usaha sadar untuk mengelola
sistem di otak. Ada tiga sistem yang bekerja di otak. Yang pertama adalah sistem
sensoris yang berkaitan dengan sel saraf yang menerima rangsang dari luar.
Rangsangan tersebut ditangkap oleh panca indera baik oleh penglihatan,
pendengaran, penciuman, peraba, dan pengecap. Kedua adalah sistem motorik
yang terdiri atas sel-sel saraf yang memerintah dan menggerakkan bagian-bagian
atau organ tubuh seperti kaki, tangan dan lain-lain. Ketiga adalah sistem asosiasi
yaitu sel saraf yang menghubungkan atau menggabungkan segala sesuatu yang
diperoleh dari apa yang telah dipelajari, dialami, atau diingat.
Ketiga sistem ini berada pada lapisan Cortex. Sel saraf pada salah satu indera
menerima rangsangan atau stimulus dari luar. Stimulus tersebut akan diteruskan
ke sel berikutnya, begitu seterusnya sehingga sampai pada sel dalam otak.
Selanjutnya stimulus tersebut akan diolah secara integratif, koordinatif, dan
asosiatif dengan simpanan pengalaman dan keinginan yang telah ada, untuk
diputuskan respon apa yang harus diberikan. Menurut Anand Krishna (2002)

hubungan stimulus-respon tresebut tidak lepas dari instink. Instink yang dimiliki
oleh hewan atau sering dikenal dengan instink hewani meliputi:
1. Kebutuhan makan untuk mengatasi rasa lapar
2. Kebutuhan seks untuk mengatasi gejolak nafsu
3. Kebutuhan tidur untuk mengatasi rasa kantuk
4. Kebutuhan rasa nyaman.
Untuk mengatasi rasa takut atau khawatir, binatang bisa berbuat kekerasan
atau bahkan membunuh. Apabila dikaitkan dengan Kundalini dan Chakra, maka
kebutuhan makan berkaitan dengan chakra pertama. Kebutuhan seks berkaitan
dengan chakra kedua, dan kebutuhan tidur serta rasa nyaman berkaitan dengan
chakra ketiga. Chakra keempat atau lapisan kesadaran cinta merupakan inti
kemanusiaan dalam diri manusia. Chakra kelima sampai dengan ketujuh dikaitkan
dengan keilahian. Dengan demikian tiga lapisan pertama bersifat hewani, lapisan
keempat bersifat manusiawi, dan lapisan kelima sampai dengan ketujuh bersifat
ilahi.
Dalam teknik meditasi disadari bahwa fisik atau raga yang terbuat dari
makanan itu hanya merupakan mesin yang dipakai oleh "mind" untuk
mengoperasikan

dunia

fisik.

Jadi

kesadaran

yang

fundamental

untuk

perkembangan spiritual manusia adalah menyadari bahwa: "Aku bukanlah badan


ini". Manusia terdiri atas berlapis-lapis. Lapisan pertama adalah badan yang
terbuat dari makanan atau sering disebut dengan anna-maya-kosha, lapisan
berikutnya merupakan lapisan energi yang disebut dengan praana-maya-kosha.
Lapisan mental/emosional sering disebut dengan mano-maya-kosha. Lapisan
intejensia

disebut

vigyaana-maya-kosha,

dan

lapisan

spiritual

disebut

Aanadmaya-kosha. Stimulus atau rangsangan yang diterima oleh indera manusia


dapat berupa gelombang cahaya yang ditangkap oleh penglihatan, getaran suara
oleh pendengaran, getaran mekanik oleh perabaan, dan zat kimia oleh rasa kecap
lidah. Selanjutnya saraf indera manusia mengubah semua itu menjadi aliran
listrik, dan diteruskan ke jaringan saraf berikutnya. Peristiwa ini disebut transmisi
impuls. Transmisi impuls diselenggarakan oleh pembawa (carrier) yang
sesungguhnya merupakan molekul protein, dan disebut sebagai neuro transmitter.
Neuro transmitter ini berada dalam synap yang dipancarkan dan diterima oleh
membran reseptor. Membran reseptor memiliki potensi ganda. Bagian dalam
membran bermuatan ion negatif, dan bagian luar bermuatan positif. Hal ini sering
disebut

dengan

polarisasi.

Neuro

transmitter

menyebabkan

terjadinya

depolarisasi, berarti muatannya diubah dan dalam sekejap berubah kembali


menjadi polarisasi.
Perubahan depolarisasi maupun polarisasi kembali ini diteruskan atau
ditransmisikan ke sepanjang serabut saraf ke sel saraf berikutnya, sehingga
sampai pada sel saraf di otak. Kemudian proses yang sama terulangi kembali
untuk menyampaikan respon otak kepada bagian tubuh yang bersangkutan.
Transmisi ini berbentuk aliran listrik atau bio-electric. Transmisi berkecepatan
50m per detik. Bila tinggi orang dua meter, maka dari ujung kaki sampai ke otak
dibutuhkan waktu 1/25 detik. Sirkuit antara penerimaan-transmisi-respon sangat
berkaitan dengan kesadaran diri. Alam kesadaran kita dalam hidup sehari-hari
disebut conscious mind, bawah sadar disebut subconscious mind yang penuh
dengan memori maupun referensi baik dari kehidupan ini maupun kehidupan
sebelumnya. Diatas ini masih ada superconscious mind atau cosmic mind. Selama
masih belum lepas dari subconscious mind seseorang tidak bisa
memasuki superconscious mind.
Pengalaman setiap orang terhadap meditasi bersifat khas karena
"iramasymphoni" getaran "Medan Energi Bio Electric" pada tingkat consc ous
mind seseorang berbeda satu dengan yang lain. Irama symphoni dapat
dilihatdengan menggunakan EEG (Electro Encephalo Graphy). Biasanya tampak
gelombang dengan amplitudo dan frekuensi yang tidak teratur. Gambarandisetiap
lobus otak juga berbeda. Gelombang dan frekuensi yang kacau atautidak sinkron
akan melemahkan energi manusia. Gelombang EEG yang kacaudan menunjukkan
kegelisahan disebut "gelombang beta". Dalam alam meditasi,jika seseorang mulai
mencapai ketenangan, gelombangnya akan berubah menjadi gelombang alpha.
Pada gelombang alpha frekuensi siklus per detik menjadi semakin jarang dan
amplitudonya semakin datar.
Pada saat tidur, conscious mind sudah tidak aktif, sehingga beribu macam
aktivitas sel dan organ menjadi sinkron satu sama lain. Frekuensi nafas menjadi
teratur. Dalam keadaan tidur pulas, EEG akan menunjukkan gelombang delta,
namun begitu ada mimpi, gelombangnya akan berubah dan kembali menjadi
seperti beta. Semakin dalam kita memasuki alam meditasi, rekaman EEG berubah
menjadi gelombang theta yang frekuensinya hanya empat siklus per detik. Jika
frekuensi menurun lagi hingga satu siklus per detik, alat EEG akan menunjukkan
gelombang delta. Pada saat tidur pulas atau relaksasi total, rasio nafas dan denyut
jantung adalah 1:3. Tiga kali jantung berdenyut terjadi satu kali penarikan nafas.

Pada keadaan ini semua organ bahkan molekul menjadi sinkron. Keadaan ini akan
memicu tubuh untuk mengeluarkan antibodi, melatonin, dan endorphin. Hal ini
merupakan efek samping meditasi, karena pada dasarnya meditasi tidak
dimaksudkan untuk kesehatan fisik, namun untuk meningkatkan kesadaran diri.
Iringan musik sebagai sarana memasuki alam meditasi dipandang penting
karena akan mempengaruhi emosi seorang meditator. Emosinya mengalami
pelembutan dan menjadi tenang. Proses ini terjadi di bagian otak yang disebut
limbic system. Lymbic sistem ini mempunyai hubungan sirkuit serabut synap
saraf dengan semua lobus atau cortex otak, sehingga terjadi sinkronisasi getaran
secara serentak di setiap sel dalam tubuh. Musik lembut, tenang dengan rasio 1:3
akan sangat membantu. Begitu pula apabila terus diulangi dua suku kata yang
disesuaikan dengan penarikan dan pembuangan nafas. Kata-kata tersebut
merupakan kata bermakna yang dapat diresapi. Pengulangan kata dan perhatian
pada nafas pada dasarnya dilakukan untuk membuat pikiran kita menjadi fokus.
Dengan demikian sasaran utamanya adalah memusatkan perhatian kita hanya
pada satu hal, pada satu saat dengan segala daya yang dimiliki.Tampaknya
melakukan satu tindakan pada satu saat dapat membebaskan pikiran dari konflik.
Jika otak dianalogikan sebagai komputer maka otak (brain) adalah
perangkat kerasnya, sedangkan pikiran (mind) adalah perangkat lunaknya.
Seluruh pancaindra kita merupakan keyboard atau piranti masukan bagi otak,
sedangkan perkataan, tindakan, dan sikap adalah keluarannya (out put). Kegiatan
elektrik di otak dapat direkam dengan EEG. Alat ini akan mengukur getaran /
gelombang energi yang dihasilkan otak pada saat aktif dengan satuan Hertz (Hz)
atau cps (cycle per second).
Gelombang energi otak manusia dapat dibagi menjadi empat keadaan
yaitu: beta, alpha, theta, dan delta. Keadaan beta (13 - 28 cps) adalah keadaan
gelombang otak yang sedang aktif bertindak atau sadar. Keadaan alpha (7 13
cps) adalah keadaan saat otak kita sadar namun rilex dan tenang. Keadaan alpha
ini sangat penting untuk membuka jalan menuju kekuatan pikiran bawah sadar.
Keadaan theta (3,5 - 7 cps) adalah keadaan dimana pikiran menjadi kreatif dan
inspiratif. Keadaan ini juga terjadi pada saat tertidur dan mimpi. Keadaan delta
(0,5 - 3,5 cps) adalah keadaan gelombang otak pada saat kita tertidur lelap (deep
dreamless state). Pada keadaan ini terjadi penyembuhan alami dan peremajaan
sel-sel tubuh. Gelombang energi otak dibawah 0,5 cps adalah keadaan koma, dan
jika nilainya 0 cps manusia dapat dinyatakan meninggal secara klinis.

Manusia memiliki bagian lain dari sistem otak yang disebut sistem limbik
yaitu "otak kecil" diatas tulang belakang, dibawah tulang tengkorak. Sistim
limbik ini memiliki tiga fungsi yaitu mengontrol emosi, mengontrol seksualitas,
dan mengontrol pusat kenikmatan. Emosi merupakan hal yang paling penting
dalam perkembangan otak seseorang. Seperti otak yang terbagi menjadi dua
bagian kanan dan kiri, pikiran terbagi menjadi pikiran sadar dan bawah sadar.
Pikiran sadar adalah pikiran yang digunakan untuk berpikir sehari-hari dan
berinteraksi secara aktif. Pikiran bawah sadar mempunyai tiga fungsi yaitu:
mengendalikan seluruh sistem tubuh, menjadi gudang memori yang sangat besar,
dan memberi tuntunan, arahan, maupun panduan (Aribowo, 2002).

BAB III
ANALISIS JURNAL
A. Sumber Jurnal
1. Pengaruh Pemberian Meditasi Terhadap Penurunan Tekanan Darah
Pada Lansia Dengan Hipertensi
B. Analisis Metode PICO dan Telaah Kritis VIA
Jurnal : Pengaruh Pemberian Meditasi Terhadap Penurunan Tekanan
Darah Pada Lansia Dengan Hipertensi
1. Analisis PICO
a. Problem
Jurnal ini berfokus pada pengaruh meditasi terhadap penurunan
tekanan darah lansia hipertensi di Unit Rehabilitas Sosial
Pucang Gading Semarang.
b. Intervention
Populasi dalam penelitian ini adalah lansia dengan riwayat
hipertensi yang ada di Unit Sosial Rehabilitasii Pucang Gading
Semarang.

Jumlah sampel untuk kelompok kontrol dan

kelompok intervensi sebanyak 15 responden, sehingga total


seluruh sampel adalah sejumlah 30 orang, dalam pelaksanaan
penelitian tidak ada responden yang masuk dalam kategori
drop out. Eksperimen penelitian ini dilakukan mulai tanggal 13
Pebruari sampai 15 Pebruari 2014 di Unit Rehabilitsi Sosial
Pucang Gading Semarang.
c. Comparative
Pada jurnal ini disebutkan bahwa pada kelompok eksperimen
diberikan tekhnik meditasi yang dilakukan selama satu minggu
dengan lama latihan 2 x 15 menit dengan frekuensi 3
kali/seminggu dan kelompok kontrol tidak diberikan terapi
meditasi.
d. Outcome
Hasil penelitian

menunjukkan

bahwa

pada

kelompok

intervensi, sebelum melakukan meditasi, rata-rata tekanan


darah sistole responden sebesar 158,93 mmHg, kemudian turun
menjadi 146,00 mmHg setelah melakukan meditasi, sedangkan

tekanan darah diastolenya juga mengalami penurunan dari


88,67 mmHg sebelum melakukan meditasi menjadi 84,87
setelah melakukan meditasi.
2. Telaah Kritis VIA
a. Validity
Desain dalam penelitian menggunakan dua group yang terdiri dari
kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Mendapat persetujuan dari
komite etik, dan memperoleh persetujuan dari pasien dan juga
manajemen rumah sakit. Kriteria inklusi dari responden diantaranya:
1) Lansia dengan hipertensi di Unit Rehabilitsi Sosial Pucang
Gading Semarang.
2) Lansia yang memiliki riwayat hipertensi.
3) Lansia yang tidak mengonsumsi obat anti hipertensi .
4) Sadar dan dapat berkomunikasi dengan baik.
5) Bersedia menjadi responden.
6) Mampu melakukan posisi duduk selama latihan meditasi.
7) Tidak mempunyai komplikasi penyakit penyerta lainnya.
Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program
komputer dan untuk analisa data menggunakan uji statistik parametris
yaitu analisa compare means dengan uji paired sample T test atau uji T
dependen untuk menguji perbedaan hasil pre test dan pos tet tekan
b. Importance
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terapi meditasi
memang terbukti efektif untuk mengatasi tekanan darah tinggi pada
pasien hipertensi. Oleh karena itu, peran perawat tentunya harus lebih
aware terhadap pentingnya terapi meditasi.
c. Applicability
Meditasi adalah latihan olah jiwa yang dapat menyeimbangkan
fisik, emosi, mental, dan spiritual seseorang (Iskandar, 2008). Meditasi
adalah pemfokusan pikiran menuju status kesadaran yang membawa
status ketenangan, kejelasan, dan kebahagiaan yang merupakan media
dari NSR (Sukmono, 2009). Selain itu, ada penelitian Anderson, Liu
& Kryscio (2007) yang diterbitkan oleh American Journal Of
Hypertension yang berjudul Blood Pressure Response To Trancedental
Meditation, berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa

dengan latihan meditasi transedental dengan teratur memiliki potensi


untuk mengurangi tekanan darah systole dan diastole 4,7 mmHg dan
3,2 mmHg. Penggunaan terapi meditasi sangat membatu dalam proses
penurunan tekanan darah. Oleh karena itu, diusahakan agar program
terapi ini terus dijalankan karena tidak mempunyai efek samping dan
juga harga relatif murah.

Jurnal (2): Penurunan Stres Fisik dan Psikososial Melalui Meditasi Pada Lansia
Dengan Hipertensi Primer.
1. Analisis PICO
a.
Problem/Patient
Jurnal ini berfokus pada pengaruh meditasi terhadap penurunan stres fisik
dan psikososial pada lansia dengan Hipertensi primer.
b.
Intervention
Penelitian dengan desain kuasi eksperimen dengan kontrol melibatkan 22
sampel untuk masing-masing kelompok. Kelompok intervebsi melakukan
meditasi setiap hari selama 30 menit antara pukul 14.00-16.00 WIB
selama empat minggu. Sedangkan kelompok kontrol adalah kelompok
lansia dengan hipertensi yang hanya memperoleh terapi anti hipertensi
yang tinggal di PSTW A Yogyakarta.
c.
Comparative
Penelitian ini mencoba membandingkan efektifitas pemberian meditasi
pada pasien hipertensi dan kelompok kontrol hanya diberikan terapi anti
hipertensi.
d.
Outcome
Berdasarkan hasil penelitian dinyatakan bahwa setelah meditasi empat
minggu, baik stres fisik maupun stres psikososial mengalami penurunan
rerata aspek stres. Meskipun pada kelompok kontrol juga mengalami
penurunan satu aspek yaitu frekuensi nadi dan stres psikososial.

2. Telaah Kritis VIA


a.
Validity
Penelitian ini penelitian quasy experiment with pre-post control group.
Penelitian membandingkan antara kelompok intervensi lansia dengna
hipertensi primer yang melakukan meditasi dengan pemberian terapi anti
hipertensi. Untuk memenuhi syarat penelitian, maka usia pasien bik
kelompok intervensi maupun kontrol umur terbanyak di atas 70 tahun.
Selain itu, berdasarkan kriteria inklusi responden terdapat lansia yang
memiliki keluarga hipertensi; didiagnosa

hipertensi (tekanna darah

sistolik dan atau tekanan darah diastolik) dan memperoleh terapi


farmakologis; mampu melakukan aktivitas sedang sepertid mandi,
mencuci pakain sendiri, piring, gelas dan senam lansia. Uji validitas
menggunakan pearson dan uji reabilitis menggunakan Alpha-Cronbach
didapatkan semua item peryataan valid.
b.
Importance
Hasil penelitian ini menunjukkan secara signifikan tekanan darah diastolik
lansia yang melakukan meditasi menurun lebih banyak (8,64 mmHg)
dibandingkan dengan yang tidak melakukan meditasi. Penelitian ini
sejalan dengan penelitian

OHara (2006), yang menerangkan bahwa

relaksasi meditasi secara signifikan dapat menurunkan tekanan darah


dengan cepat dalam waktu empat sampai enam minggu.
c.
Applicability
Pemberian terapi meditasi dapat bermanfaat dalam menurunkan tekanan
darah, stres, dan depresi. Hal ini karena meditasi dapat menekan
pengeluaran hormon yang dapat meningkatkan tekanan darah, denyut
nadi, frekuensi pernafasan, yaitu epinefrin, kortisol, steroid, dan
aldosteron. Oleh karen itu, perawat perlu memperhatikan terapi
komplementer termasuk meditasi.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang
dapat menimbulkan berbagai komplikasi, misalnya stroke, gagal
ginjal, dan hipertrofi ventrikel kanan. Prevalensi hipertensi semakin
meningkat dengan bertambahnya usia, dan pemberian obat-obatan
terbukti sangat bermanfaat untuk mengobati hipertensi. Namun hanya
pendekatan pengobatan saja tidak dapat mencegah terjadinya penyakit
kardiovaskuler-renal akibat hipertensi di masyarakat. Maka itu perlu
ada pengobatan lain yakni terapi meditasi karena dapat memberikan
dampak penyembuhan bagi para penderita hipertensi.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka ada
beberap saran yang perlu diperhatikan sebagai berikut:
1) Bagi Perawat, terapi meditasi dapat dijadikan sebagai salah satu
alternative intervensi yang dapat dimanfaatkan oleh tenaga
kesehatan, untuk digunakan sebagai terapi komplementer atau
pelaksanaan nonfarmakologi untuk menurunkan tekanan darah
pada lansia dengan riwayat hipertensi.
2) Bagi Lansia dan Masyarakat, terapi meditasi dapat menjadi bahan
pertimbangan untuk pada lansia dan masyarakat yang menderita
hipertensi. Mengingat manfaat terapi meditasi yang dapat
digunakan sebagai untuk menurunkan tekanan darah, maka
diharapkan pada lansia dan masyarakat dapat memanfaatkan terapi
meditasi untuk menurunkan tekanan darah bagi penderita
hipertensi.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, S.(2010). Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek . Jakarta : PT.
Rineka Cipta
Azizah, Lilik Marifatul. (2011). Keperawatan Lanjut Usia ed. Pertama. Yogayakarta
: Graha Ilmu
Aziz, A. H. (2008). Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah. Jakarta: Salemba
Medika.
Hayens, B. dkk.(2003). Buku Pintar Menaklukkan Hipertensi. Alih bahasa: anugrah,
P Jakarta ; Lading Pustaka
Indriana, Yeniar.(2012).Gerontology & Progeria. Yogyakarta: Putaka Pelajar.
Mannan, H. (2012). Faktor Risiko Kejadian Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas
Bangkala Kabupaten Jeneponto Tahun 2012, 113. Ii, B. A. B., & Pengertian, A.
(2003). No Title, 659.