You are on page 1of 16

ARTIKEL SEMINAR ILMIAH

MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA


INGGRIS KOMPETENSI PENGUASAAN KOSA
KATA MELALUI MODEL
PEMBELAJARANKOOPERATIF THINK PAIR
SHARE PADA
SISWAKELAS IX-12 SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
SMP NEGERI 3 BANJAR
LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

DISUSUN OLEH
NAMA
NIP
JABATAN

: LUH SUARNITI, S.Pd.


: 196505261987032011
: GURU

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BULELENG


SMP NEGERI 3 BANJAR
2014
MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR BAHASA INGGRIS
KOMPETENSI PENGUASAAN KOSA KATA MELALUI MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF THINK PAIR SHARE PADA
SISWAKELAS IX-12 SEMESTER GENAP
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
SMP NEGERI 3 BANJAR
LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
DISUSUN OLEH
NAMA

: LUH SUARNITI

ABSTRAK
Sebagian besar siswa di kelas IX-12 SMP Negeri 3 Banjar belum
mencapai tingkat ketuntasan belajar yang ditetapkan di sekolah ini yaitu 75.Dari
kekurangan yang ada di lapangan tersebut, peneliti mengupayakan sebuah kajian
ilmiah dengan melakukan penelitian tidnakan kelas. Tujuan penelitian yang
dilakukan ini adalah untuk mengetahui apakah penerapan model Pembelajaran
Kooperatif Think Pair Sharedalam pelaksanaan proses belajar mengajar mampu
meningkatkan prestasi belajar siswa. Penelitian yang dilakukan dalam dua siklus
menggunakan tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi/pengamatan dan
refleksi pada setiap siklusnya memfokuskan pencairan datanya menggunakan tes
prestasi belajar dan melaksanakan analisis dengan analisis deskriptif. Setelah
dilakukan refleksi, terjadi peningkatan prestasi siswa dari rata-rata nilai 66
meningkat menjadi 74,33 rata-rata kelasnya pada siklus I dan pada siklus II
meningkat menjadi 77,7.Data tersebut menunjukkan keberhasilan pelaksanaan
penelitian sesuai indikator yang dicanangkan. Akhirnya peneliti berkesimpulan
bahwa penerapan model Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share dalam
pelaksanaan proses pembelajaran mampu meningkatkan prestasi belajar mereka.
Kata kunci: model pembelajaran Kooperatif, metodeThink Pair Share, prestasi
belajar
I. PENDAHULUAN

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang


Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar
dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki
kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.
Sebagai seorang guru diharapkan mampu mewujudkan tujuan pendidikan
yang dicanangkan dalam undang-undang tersebut, diperlukan berbagai upaya aktif
dari pendidik dalam proses pembelajaran yang efektif dan berdaya guna. Proses
pembelajaran di kelas akan berhasil jika dalam pelaksanaannya guru memahami
dengan baik Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan pada bab VI pasal (28) ayat 3, menyangkut persyaratan
kompetensi profesional yang harus dimilikinya sebagai agen pembelajaran pada
jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini yang
meliputi: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial.
Beberapa kompetensi yang harus dikuasai guru adalah: 1) Kompetensi
pedagogik merupakan kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta
didik dan pengelola pembelajaran yang mendidik dan dialogis. Secara substantif
kompetensi ini mencakup kemampuan pemahaman terhadap peserta didik,
perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan
pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang
dimilikinya; 2) Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang
mencerminkan kepribadian yang yang mantap, arif, dewasa, dan berwibawa,
menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia; 3) Kompetensi
profesional merupakan kemampuan yang berkenaan dengan penguasaan materi
pembelajaran bidang studi secara luas dap mendalam yang mencakup penguasaan
substansi isi materi kurikulum matapelajaran di sekolah dan substansi keilmuan
yang menaungi materi kurikulum tersebut, serta menambah wawasan keilmuan
sebagai guru; 4) Kompetensi sosial berkenaan dengan kemampuan pendidik
sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif
dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali
peserta didik, dan masyarakat sekitar (http://karyono1993.wordpress.com).
4

Hanif Nurcholis menjabarkan apa yang tercantum dalam UU No. 14/2005


tentang Guru dan Dosen yang menetapkan jabatan guru sebagai pendidik
profesional, setingkat dokter, apoteker, lawyer, dan lain-lain. Tetapi menurut
Hanif, jika dilihat dari kompetensinya terdapat empat peringkat pembagian
kompetensi guru: 1) profesional; 2) tukang ngajar; 3) juru ngajar; dan 4) pramu
bahan ajar. Guru sebagai tukang, bekerja mengikuti pola atau model tertentu yang
sudah dihafal. Sebagai juru, bekerja berdasarkan petunjuk atasan untuk
mengerjakan pekerjaan teknis. Pramu, bekerja berdasarkan perintah atasan untuk
menyajikan sesuatu. Sedangkan profesional, guru bekerja berdasarkan lima
prinsip kerja profesi: 1) disiplin ilmu yang diperoleh saat mengikuti pendidikan,
2) pelatihan profesi, 3) pengalaman yang panjang dalam melaksanakan tugas
profesi, 4) pengembangan profesi melalui forum-forum ilmiah, dan 5) berperilaku
sesuai kode etik profesinya. Jadi, Guru yang mengajar dengan mengikuti pola/
model yang dihafal, ini tukang mengajar. Guru yang mengajar berdasarkan juklak/
juknis atasan, ini juru ngajar. Guru yang mengajar sekadar menyampaikan bahan
ajar yang diperintahkan atasannya, ini pramu bahan ajar. Sedangkan Guru
profesional

adalah

guru

yang

sangat

ahli

mengembangkan

dan

mengimplementasikan model pembelajaan yang bermutu dengan berpijak pada


lima prinsip kerja profesi tersebut secara mandiri. Cara kerjanya seperti dokter.
Dalam bekerja, dokter tidak berdasarkan model/pola tertentu, juklak/juknis, atau
perintah direktur rumah sakitnya tapi berdasarkan lima prinsip kerja profesi
tersebut secara mandiri (http://pepindogrup.blogspot.com).

Gambaran tentang guru yang dijabarkan di atas tentunya diperuntukkan


bagi semua guru untuk mengukur pribadi mereka masing-masing, dimana mereka
berada, pada peringkat mana mereka dikategorikan, dan upaya apa yang dapat
mereka usahakan untuk memperbaiki peringkat tersebut menjadi ideal. Apa yang
digambarkan di atas mungkin ada banyak benarnya, salah satu yang terkadang
guru lalai adalah perlakuan subyektif kepada siswa. Seringkali guru hanya
memperhatikan siswa-siswa yang bisa membawa daya tarik tersendiri saja,
sementara siswa yang terlihat sederhana dimarginalkan. Implikasi yang dapat
dilihat, terkadang prestasi siswa yang satu dengan yang lain sangat menyolok.
Guru diajarkan pemahaman tentang seorang murid yang membutuhkan bantuan
dalam menapaki tahapan perkembangannya, guru harus memberikan pengetahuan
bagaimana untuk mampu meningkatkan prestasi siswa. Dalam pelaksanaan proses
pembelajaran terkadang kurang memberikan kesempatan kepada peserta didik
secara individual untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam berbagai mata
pelajaran, untuk mengembangkan kemampuan berpikir holistik (menyeluruh),
kreatif, objektif, dan logis mereka, belum memperhatikan perbedaan kemampuan
secara individu yang mengakibatkan masih banyak siswa yang belum bisa
mencapai ketuntasan belajar secara individual dikarenakan perbedaan perlakuan.
Jika kecenderungan ini disandarkan pada tugas dan tanggungjawab serta standar
kompetensi yang harus ditaati oleh seorang guru tentu hal tersebut merupakan
suatu tindakan yang keliru.
Kelemahan-kelemahan

pembelajaran

yang

sudah

terjadi

banyak

berpengaruh terhadap kemauan guru untuk memberikan pengetahuan yang terbaik


bagi setiap siswa, termasuk kemauan guru itu sendiri untuk menyiapkan bahan
yang lebih baik, menerapkan metode-metode ajar yang efektif banyak berdampak
pada belum tercapainya tingkat ketuntasan belajar siswa secara individual.

Sesuai kondisi yang telah dipaparkan, sebagai seorang guru harus


berupaya dengan giat untuk memperbaiki kondisi yang ada agar tingkat
perkembangan kemampuan peserta didik tidak mengalami gangguan pada tahapan
berikutnya. Langkah pertama yang ditempuh adalah melakukan observasi awal.
Dari observasi ini diperoleh kenyataan hasil prestasi belajar siswa kelas IX-12 di
semester genap tahun pelajaran 2013/2014 baru mencapai nilai 66. Hasil yang
didapat disadari sepenuhnya masih sangat jauh dari ketetapan standar minimal
pencapaian mutu pendidikan yang ditetapkan.

Dalam situasi dimana guru kurang mampu memberikan pengetahuan yang


maksimal pada siswanya, langkah-langkah perbaikan pembelajaran dengan
menggunakan model pembelajaran Kooperatif Think Pair Share menjadi pilihan
utama dengan pemberian tugas-tugas secara individual yang mampu menuntun
anak-anak mencapai penguasaan terhadap topik-topik bahasan sebelum semua
bahan dapat dipahami. Model ini berpijak pada dasar pemikiran bahwa
pendekatan Kooperatif dapat dilaksanakan dan mempunyai efek meningkatkan
motivasi belajar intrinsik. Pendekatan ini mengakui dan mengakomodasi semua
siswa yang mempunyai berbagai tingkat kemampuan, minat, dan bakat tadi asal
diberikan kondisi-kondisi belajar yang sesuai. Peneliti berkeinginan untuk
menerapkannya dalam pembelajaran sebagai solusi dalam mengatasi masalah
prestasi belajar Bahasa Inggris siswa kelas IX-12 semester genap di SMP Negeri 3
Banjar akibat ketidaksamaan perlakuan yang diberikan kepada masing-masing
siswa. Peneliti mencoba menyampaikan rumusan masalah yang tepat mengacu
pada latar belakang masalah yang telah disampaikan. Dalam hal ini rumusan
masalah yang diajukan adalah: Apakah model pembelajaran Kooperatif
denganThink Pair Sharedapat meningkatkan prestasi belajar siswa kelas IX-12
SMPNegeri3 Banjar?Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan kualitas proses
selama pembelajaran berlangsung agar lebih berkualitas, sehingga peserta didik
pun dapat meningkat kemampuannya sebab prestasi belajar siswa tidak hanya
bertumpu pada hasil yang akan diperoleh.Berdasar hal itu, maka tujuan penelitian
ini adalah: Untuk mengetahui seberapa tinggi peningkatan prestasi belajar siswa
akan terjadi setelah diterapkan model pembelajaran Kooperatif denganThink Pair
Sharedalam pembelajaran. Peneliti menemukan permasalahan belum tuntasnya
prestasi belajar siswa pada siswa kelas IX-12 SMP Negeri 3 Banjar sehingga kelas
tersebut ditetapkan sebagai subjek dalam penelitian ini.Kelas IX-12 terdiri dari 30
orang dengan jumlah laki-laki 17 dan perempuan 13 orang.
II. DISKUSI DAN PEMBAHASAN

Data awal telah menunjukkan banyak kekurangan dalam pelaksanaan


pembelajaran. Hasil yang diperoleh cukup rendah dan tidak sesuai dengan
tuntutan yang dicanangkan untuk peningkatan prestasi belajar di sekolah ini. Hasil
awal yang rata-rata kelas baru mencapai 66 dengan ketuntasan belajar baru
mencapai 23,3% membuat peneliti tertantang untuk memperbaikinya. Oleh
karenanya

model

yang

lebih

konstruktivis

yaitu

menggunakan

model

pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Share.


Pembahasan hasil yang diperoleh dari kemampuan guru melakukan
perbaikan proses pada siklus I

Jumlah Nilai
Rata-rata (Mean)
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi
Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan
Prosentase Ketuntasan Belajar

2230
74,3
75
9
21
70

Perbaikan pembelajaran dengan pemantapan pemberian motivasian-motivasi,


arahan-arahan dan tugas-tugas yang lebih menantang telah

memforsir siswa

untuk betul-betul dapat memahami apa yang sudah dipelajari. Nilai rata-rata guru
di siklus I sebesar74,3 menunjukkan bahwa siswa sudah menguasai materi yang
diajarkan walaupun belum begitu sempurna. Hasil ini menunjukkan peningkatan
kemampuan guru dalam membuat perencanaan yang lebih baik dan mampu
melaksanakan secara lebih maksimal dengan melakukan berbagai inovasi. Hasil
yang diperoleh pada siklus I ini sudah lebih baik dari hasil awal yang sudah
disampaikan. Kemampuanguru menyusun RPP di siklus I telah menemukan efek
bahwa penggunaan metode tertentu akan berpengaruh terhadap prestasi belajar
siswa, dalam hal ini adalah model Kooperatif TPS.
Model pembelajaran Kooperatif tipe

Think

Pair

Share

lebih

menitikberatkan pembelajaran pada aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai


pedoman prilaku kehidupan sehari-hari siswa. Untuk penyelesaian kesulitan yang
ada maka penggunaan metode ini dapat membantu guru untuk berkreasi, bertindak
aktif, bertukar informasi. Kemampuan guru yang seperti inilah yang diharapkan
akan mampu menuntun peserta didik untuk berpikir lebih tajam, lebih kreatif dan
kritis sehingga mampu untuk memecahkan masalah-masalah yang kompleks dan
efek selanjutnya adalah para siswa akan dapat memahami dan meresapi materi
pelajaran lebih baik.
Kendala yang masih tersisa yang perlu dibahas adalah hasil yang dicapai
pada siklus I ini belum memenuhi harapan sesuai dengan tuntutan usulan kriteria
keberhasilan penelitian yaitu agar mencapai rata-rata kelas minimal sesuai KKM
dengan ketuntasan belajar minimal 80%. Oleh karenanya upaya perbaikan lebih
lanjut masih perlu diupayakan sehingga perlu dilakukan perencanaan yang lebih
matang untuk siklus selanjutnya.
Jumlah Nilai
Rata-rata (Mean)
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal)
Jumlah Siswa yang Mesti Diremidi
Jumlah Siswa yang Perlu Diberi Pengayaan
Prosentase Ketuntasan Belajar

10

2300
76,7
75
6
24
80%

Hasil yang diperoleh dari kemampuan guru membuat Perencanaan


Pelaksanaan Pembelajaran melakukan pembelajaran di kelas pada siklus II
menunjukkan bahwa kemampuan guru sudah cukup baik. Ini terbukti dari ratarata nilai siswa mencapai 76,7. Hasil ini menunjukkan bahwa model pembelajaran
Kooperatif tipe Think Pair Sharetelah berhasil meningkatkan kemampuan peserta
didik menempa ilmu sesuai harapan. Model pembelajaran Kooperatif tipe Think
Pair Share merupakan model yang cocok bagi siswa apabila guru menginginkan
mereka memiliki kemampuan berkreasi, berargumentasi, mengeluarkan pendapat
secara lugas, bertukar pikiran, berargumentasi, mengingat penggunaan metode ini
adalah untuk mempertinggi kemampuan menerpa ilmu, serta menguasai
keterampilan-keterampilan yang lebih baik.
Hasil penelitian ini ternyata telah memberi efek utama bahwa model yang
diterapkan dalam proses pembelajaran berpengaruh secara signifikan terhadap
prestasi belajar siswa. Temuan ini membuktikan bahwa guru sudah tepat memilih
metode dalam melaksanakan proses pembelajaran karena pemilihan metode
merupakan hal yang tidak boleh dikesampingkan. Hal ini sejalan pula dengan
temuan-temuan peneliti lain seperti yang dilakukan oleh Inten (2004) dan Puger
(2004) yang pada dasarnya menyatakan bahwa metode pembelajaran yang
diterapkan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.
Model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Sharemenitikberatkan
kajiannya pada aspek keuletan berdiskusi, bertanya, dll sebagai pedoman atas
kemampuan peserta didik baik pikiran, prilaku maupun keterampilan yang
dimiliki. Untuk semua bantuan terhadap hal ini, model pembelajaran Kooperatif
tipe Think Pair Sharemenempati tempat yang penting karena dapat mengaktifkan
siswa secara maksimal. Dari nilai yang diperoleh pada Siklus I, lebih setengah
siswa mendapat nilai di atas KKM dan pada Siklus II, hanya 8 siswa yang
nilainya masih dibawah KKM. Ketuntasan yang diperoleh pada siklus ini sudah
mencapai 73,33% dan sudah melebihi tuntutan indikator keberhasilan penelitian.
Perolehan nilai tersebut sudah dapat diyakini bahwa kemampuan guru membuat
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran melaksanakan proses pembelajaran dapat
ditingkatkan. Walaupun penelitian ini sudah bisa dikatakan berhasil, namun pada
saat-saat guru mengajar di kelas selanjutnya, cara ini akan terus dicobakan.

11

Setelah dibandingkan nilai awal, nilai siklus I dan nilai siklus II, terjadi
kenaikan yang signifikan, yaitu dari rata-rata nilai awal adalah 66 naik di Siklus I
menjadi 74,33 dan di Siklus II naik menjadi 77,7. Kenaikan ini tidak bisa
dipandang sebelah mata karena kenaikan nilai ini adalah dari upaya-upaya yang
maksimal yang dilaksanakan peneliti demi peningkatan mutu pendidikan dan
kemajuan pendidikan di Indonesia khususnya di SMP Negeri 3 Banjar.
III. PENUTUP

12

Dari kegiatan pembinaan yang telah dilaksanakan secara maksimal


diperoleh fakta sebagai berikut: Guru sebagai pusat peningkatan prestasi yang
diharapkan semua pihak telah mampu melakukan pembelajaran menggunakan
model pembelajaran yang konstruktivis dibarengi dengan penggunaan metodemetoode yang sesuai dengan harapan banyak pihak yang menuntut terjadinya
peningkatan mutu pendidikan. Siswa di lain pihak sudah mulai giat belajar,
semangat, senang melakukan yang dapat dibuktikan dengan peningkatan hasil
yang sudah diperoleh. Semua kegiatan yang telah dilakukan guru dan siswa
memiliki pengaruh yang positif terhadap keberhasilan peningkatan mutu
pendidikan di SMP Negeri 3 Banjar. Dari data awal ada 23 siswa mendapat nilai
dibawah KKM dan pada siklus I menurun menjadi 9 siswa dan siklus II hanya 8
siswa mendapat nilai di bawah KKM. Nilai rata-rata awal 66 naik menjadi 74,33
pada siklus I dan pada siklus II naik menjadi 77,7. Dari data awal siswa yang
tuntas hanya 7 orang sedangkan pada siklus I menjadi lebih banyak yaitu 21 siswa
dan pada siklus II menjadi cukup banyak yaitu 24 siswa. Mengacu pada hasil yang
diperoleh, maka dapat disampaikan saran-saran sebagai berikut: Kepada teman
guru pengajar mata pelajaran Bahasa Inggris disarankan untuk mencoba model
pembelajaran Kooperatif TPS. Dalam melaksanakan proses pembelajaran pada
mata pelajaran Bahasa Inggris, penggunaan metode Kooperatif TPS semestinya
menjadi pilihan dari beberapa metode yang ada mengingat metode ini telah
terbukti dapat meningkatkan kerjasama, berkreasi, bertindak aktif, bertukar
informasi, mengeluarkan pendapat, bertanya, berdiskusi, berargumentasi dan lainlain. Kepada kepala sekolah disarankan untuk memfasilitasi guru yang mau
melaksanakan pembelajaran dengan langkah-langkah model yang sudah diteliti.

13

Kepada pengawas sekolah agar dalam membina guru, yang bermasalah dalam
pembelajaran merekomendasikan model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair
Share. Kepada peneliti lain, walaupun penelitian ini sudah dapat membuktikan
efek utama dari model pembelajaran Kooperatif tipe Think Pair Sharedalam
meningkatkan aktivitas dan prestasi belajar, sudah pasti dalam penelitian ini masih
ada hal-hal yang belum sempurna dilakukan, oleh karenanya kepada peneliti lain
yang berminat meneliti topik yang sama untuk meneliti bagian-bagian yang tidak
sempat diteliti. Kepada pengembang pembelajaran dan pemerhati pendidikan agar
selanjutnya untuk adanya penguatan-penguatan, guna verifikasi data hasil
penelitian.

DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi; Suhardjono; Supardi. 2006. Penelitian Tindakan Kelas.
Jakarta: PT Bumi Aksara.
B. Uno Hamzah. 2011. Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Bustalin. 2004. Prestasi Belajar dalam Pengajaran Remedial pada Mata
Pelajaran IPS Ekonomi Kelas II Semester 1 SLTP Negeri 1 Linggang
Bingung Kabupaten Kutai Barat. Artikel. http:/artikel.us/html.
E.P. Hutabarat. 1995. Cara Belajar Sebagai Pedoman Praktis Untuk Belajar
Secara Efisien dan Efektif. Penerbit BPK Gunung Agung. Jakarta.
Hamalik, Oemar. 2005. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Hilke, Eileen Veronica. 1998. Fastback Cooperative Learning. New York:
McGraw-Hill, Inc.
http://karyono1993.wordpress.com
http://pepindogrup.blogspot.com

14

INTEN, I Gede. 2004. Pengaruh Model Pembelajaran dan Pengetahuan Awal


Siswa Terhadap Prestasi Belajar PKN dan Sejarah Pada Siswa Kelas II
SMU Laboratorium IKIP Negeri Singaraja. Tesis. Singaraja. Program
Pascasarjana IKIP Negeri Singaraja.
Johnson, David W. and Roger T. Johnson. 1984. Cooperation in the Classroom.
Edina, Minnesota: A publication Interaction Book Company.
- et al. 1984. Circles of Learning. Fairfax, Va.: Association for Supervision
and Curriculum Development.
and R.T. Johnson. 1987. Learning Together and Alone: Cooperation,
Competition, and Individualistic Learning. Englewood Cliffs, N.J.:
Prentice-Hall.
Kamus Besar Bahasa Indonesia. 2005. Jakarta: Depdiknas.
Lickona, Thomas. 1992. Educating For Character. How Our Schools Can Teach
Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.
Nurman, Muhammad, 2006. Pengaruh Penggunaan Metode Pembelajaran
Problem Based Learning dan Expositori terhadap SIkap Politik
Berdemokrasi dan Prestasi Belajar Siswa pada Pembelajaran PPKn di
SMP (Tesis). Singaraja. Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Negeri
Singaraja, Program Pascasarjana.
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan.
Puger, I Gusti Ngurah. 2004. Belajar Kooperatif. Diktat Perkuliahan Mahasiswa
Unipas.

15

-------. 2004. Pengaruh Metode Pembelajaran dan Kemampuan Berpikir


Silogisme Terhadap Prestasi Belajar Biologi pada Siswa Kelas III SMP
Negeri Seririt (Eksperimen pada Pokok Bahasan Reproduksi Generatif
Tumbuhan Angiospermae).Tesis. Program Pascasarjana IKIP Negeri
Singaraja.
Saifudin Azwar. 1996. Pengantar Psikologi Intelegensi. Jogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Slavin, Robert E. 1995. Cooperative Learning : Theory, Research, and Practice
Boston: Allyn and Bacon.
Sunarto. (2012). Pengertian prestasi belajar. Fasilitator idola [online]. Tersedia :
http://sunartombs.wordpress.com/2009/01/05/pengertian-prestasi-belajar/
Suryabrata, Sumadi. 2006. Psikologi Kepribadian. Jakarta : Raja Grafindo
Persada.
Tjundjing, Sia. 2001. Hubungan Antara IQ, EQ, dan QA dengan Prestasi Studi
pada Siswa SMU. Jurnal Anima Vol. 17. No.1.
Tirtonegoro, Sutratinah. 2001. Penelitian hasil belajar mengajar. Surabaya:
Usaha Nasional.
Undang-Undang No 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Jakarta: Sinar
Grafika.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

16