Вы находитесь на странице: 1из 6

Proses Pembuatan Metanol

Methanol adalah senyawa Alkohol dengan 1 rantai Karbon. Rumus Kimia CH 3OH, dengan berat molekul 32.
Titik didih 640-650C (tergantung kemurnian), dan berat jenis 0,7920-0,7930 (juga tergantung kemurnian). Secara
fisik Methanol merupakan cairan bening, berbau seperti alkohol, dapat bercampur dengan air, etanol,
chloroform dalam perbandingan berapapun, hygroskopis, mudah menguap dan mudah terbakar dengan api yang
berwarna biru (kalau siang tidak kelihatan).
Methanol lebih racun dari pada Alkohol (Ethanol) dan dalam jumlah sedikitpun dapat mengakibatkan buta
hingga kematian. Ingat belakangan ini, banyak yang mati akibat minum bir oplosan?Setelah di selidiki ternyata
mirasnya mengandung Methanol yang dalam perdagangan umum sering di sebut spiritus. Memang dalam
perdagangan umum, methanol sering di beri warna (biru) akibat di beri tambahan senyawa cupri sulphate untuk
membedakan Methanol teknis dengan Alkohol, dan dijual dengan nama Spiritus.
PEMBUATAN METHANOL
Secara teori Methanol dapat dibuat dari proses penyulingan kayu, gasifikasi batu bara muda dan sintesis gas
alam, tapi yang akan saya tulis di sini adalah sintesis Methanol dari gas alam, sintesa Metanol dari gas alam
inilah yang saat ini tekhnologinya di pakai pada pembuatan Metanol skala industri besar di mana di Indonesia
sendiri baru ada 2 pabrik yang mengolahnya yaitu kilang Metanol Bunyu di Tarakan, Kaltim dengan kapasitas
produksi 1000 MT/day dan kilang Metanol Kaltim Metanol Industri di Bontang juga di Kaltim dengan kapasitas
produksi 2000 MT/day.
Reaksi pembuatan Methanol dengan sintesis gas alam adalah sebagai berikut:
CH4 + H2O <> 3 H2 + CO
CO + 2 H2 <> CH3OH
CO2 + 3 H2 <> CH3OH + H2O
Racun H2S pada Natural Gas ditangkap dengan katalis ZnO, dan racun RSH ditangkap dengan katalis CoMo.
Adapun secara ringkas, tahapan proses sintesis Methanol adalah sebagai berikut (di pakai di kilang KMI
Bontang):
Prereform:
gas alam direaksikan dengan steam superheated, reaksi
CnH2n+2 + n H2O <> CO + (2n+1)H2 -Q
CO

+ 3 H2 <> CH4 + H2O +Q

CO

+ H2O <> CO2 + H2 + Q

Reforming :
merubah CH4 menjadi CO dan H2 dengan bantuan steam, reaksi
CH4 + H2O <> 3 H2 + CO Q
Autotermal:
merubah sisa-sisa CH4 dengan steam dan O2, di mana reaksi partial dan sempurna berlangsung sekaligus, reaksi
2 CnH2n+2 + (3+1n)O2 <> 2nCO2 + (2n+2)H2O+Q
2 CnH2n+2 + 3nO2 <> 2CnCO+ 2H2+ 4nH2O+Q
CH4 + 2O2 <> CO2 + 2H2)+ Q
CH4 + O2 <> CO + H2 + H2O+Q

Sintesis :
gas-gas CO, CO2, dan H2 lalu disintesis dalam reaktor dengan katalis Cu
Destilasi
:
hasil dari sintesis gas di unit reactor kemurniannya masih berkisar 70 %, maka dilakukan tahap akhir yaitu
destilasi untuk mendapatkan Methanol dengan kemurnian tinggi
Kualitas Methanol
Menurut standard IMPCA (International Methanol Producers and Consumer Assocation) kualitas Methanol
tertinggi adalah Grade AA dengan kandungan Methanol minimal 99,85 %, dan kandungan Ethanol maksimal 10
ppm.
Analisa Kimia Methanol
Berikut akan saya tampilkan secara garis besar cara uji untuk analisa Methanol Grade AA beserta standard
kualitasnya.

Acetone (mg/kg maks 30 mg/kg)

Untuk mengetahui impurities Methanol yaitu Acetone ini menggunakan ASTM E 346. Menggunakan Gas
Chromatography dengan Coloumn Sorbitol 33% on Chromosorb PNAW 80/100.

Acidity as Acetic Acid (maks 30 mg/kg)

Untuk mengetahui tingkat keasaman Methanol. Menggunakan ASTM D 1613. Pengerjaannya secara Titrasi
Asam basa dengan menggunakan NaOH 0,05 N sebagai Titrant dan Indicator PP.

Alkalinity as NH3 (maks 30 mg/kg)

Untuk mengetahui tingkat kebasaaan Methanol. Menggunakan ASTM D1614. Analisa Acidity atau Alkalinity
dikerjakan salah satu saja tergantung pH Methanol. Biasanya tidak dikerjakan mengingat pH Methanol Grade
AA 6.5-7,0.

Appearance (Clear, free of suspended)

Standar yang dipakai IMPCA 003-98. Pengerjaan Methanol dilihat secara Manual dalam tabung Nessler yang
bersih.

Chloride (max 0.1 mg/kg)

Standar yang dipakai IMPCA 002-98. Pengerjaan secara Titrasi Potensiometric dengan AgNO 3 sebagai Tirant
sampai didapat Titik Equivalen

Colour (Pt-Co Scale max 5)

Standar yang dipakai ASTM D 1209. Menggunakan alat LOVIBOND COMPARATOR DAYLIGHT/sejenisnya.
Analisanya adalah dengan membandingkan warna Methanol dengan Standard Pt-Co. Untuk pembutan standard
Pt-Co sebagai berikut:
Siapkan dulu Standard 500 Pt-Co=1,245 gr K2PtCl6+1,0000 gr CoCl2.6H2O, larutkan dalam 100 ml HCl pekat,
lalu encerkan sampai 1 liter (pengerjaan dengan labu ukur 1000 ml). Ambil 1,00 ml larutan stock encerkan
dengan air sampai 100 ml (pengerjaan dengan labu ukur 100 ml), maka didapat standar 5 Pt-Co.

Distillation Range (64,5 0C max 0,10C)

ASTM D 1078. Ini adalah uji spesifik dari Methanol yaitu dengan mengetahui titik didihnya, dimana Methanol
murni akan mempunyai titik didih pada 64,5 0C 0,10C

Ethanol Content (max. 10 mg/kg)

ASTM E 346. Ethanol adalah imputities terbesar kedua setelah air, pada Methanol murni kandungan Ethanol
maksimal 10 ppm. Analisa menggunakan Gas Chromatography dengan Coloumn yang sama dengan Analisa
Acetone.

Nonvolatile Content (max. 8mg/1000mg)

ASTM D 1353, untuk memastikan tidak ada suspended solid dalam Methanol. Analisanya dengan menguapkan
Methanol pada suhu 1050C dalam cawan Platina. Lalu didinginkan dalam desikator dan ditimbang. Nonvolatile
Content diketahui dari bobot sebelum dan sesudah pemanasan.

Odour (Characteristic free of foreign odour)

ASTM D 1296. Uji dengan organoleptik. Yang harus diperhatikan jangan lansung mencium Methanol langsung
tapi dari uap yang dikibas-kibaskan dengan tangan.

Purity (min. 99.85 %)

IMPCA 001-02. Analisa menggunakan Gas Chromatography dengan Coloumn yang sama dengan Analisa
Acetone, dan Ethanol.

Permanganate Time (min. 60 minute)

ASTM D 1363. Menggunakan Kalium Permanganat dengan konsentrasi 0,2 gr /liter. Larutan pembanding 175
mg CoCl2.6 H2O+21,40 ml Stock Solution 500 Pt-Co yang dilarutkan dalam air sampai 50 ml (labu ukur).
Kalium Permanganat adalah pengoksidasi paling kuat kedua setelah Cerium (IV) Sulfat. Dengan analisa ini
dapat diketahui total zat-zat pengotor yang ada dalam Methanol, baik pengotor dari proses produksi, jalur pipa
maupun Tangki penyimpanan. Bila dalam Methanol tersebut bersih maka Kalium Permanganat yang
ditambahkan tidak akan berubah warnanya walau lebih dari 60 menit. Methanol Grade AA yang langsung dari
unit Destilasi bahkan mempunyai Permanganat Time sampai lebih dari 90 menit.

Specific Gravity 20/200C (max. 0.792-0,793)

ASTM D 4052. Menggunakan alat Density Meter digital atau piknometer kapiler. Dencity Methanol yang
terbaca dibandingkan dengan Dencity air pada 200C.

Total Iron (max 0.1 mg/kg)

ASTM E 394. Berdasarkan reaksi Besi dengan 1,1 orthopenanthroline, analisa dengan menggunakan
Spektrofotometer UV/Vis pada Lambda 510 nm.

Water Content (max 0.1% w/t)

ASTM E 1064. Air adalah impurities terbesar dalam Methanol, karena sifatnya yang Higroskopis.
Menggunakan alat Karl Fisher metode Coulometric.

Sumber : http://haska.org/2012/08/23/metanol/

Pembuatan Metanol dari Gas Alam pada Skala Industri


Dewasa ini metanol diproduksi dalam skala industri terutama berdasarkan perubahan katalitik
dari gas sintesa (catalityc conversion of synthesis gas). Berdasarkan tekanan yang digunakan
proses pembuatannya dibagi menjadi:

1. Proses tekanan tinggi.


Pada proses ini pembuatan metanol dioperasikan pada tekanan 300 bar, menggunakan katalis
krom oksida seng oksida untuk perubahan
katalitik dari CO dan CO2 dengan H2 menjadi metanol pada suhu 320 sampai 400 oC. Kekurangan
proses ini adalah mahalnya komponen yang diperlukan untuk tekanan tinggi, biaya energi yang
lebih tinggi, serta biaya peralatan yang relatif cukup tinggi.

2. Proses tekanan rendah.


Pada proses ini tekanan yang digunakan ialah 50-150 bar dan suhu 200 500 oC. Jenis katalis
yang digunakan ialah dasar tembaga (copper based catalyst). Keunggulan dari proses ini adalah
biaya investasi yang lebih rendah,biaya produksi yang lebih rendah, kemampuan operasi yang
lebih baik dan lebih fleksibel dalam penentuan ukuran pabrik.

Berdasarkan perbandingan dua proses di atas maka proses tekanan rendah dengan
pertimbangan sebagai berikut:

Biaya investasi yang relatif rendah.


Biaya produksi yang lebih rendah.
Kemampuan operasi yang lebih baik.
Lebih fleksibel dalam penentuan ukuran pabrik.

Proses-proses yang menggunakan tekanan rendah antara lain adalah sebagai berikut:
1. Proses Lurgi
Proses ini patennya dimiliki oleh Lurgi Oel Gas Chemie GmbH. Gambaran prosesnya secara garis
besar adalah sebagai berikut. Gas alam dilewatkan dalam proses desulfurisasi untuk
menghilangkan kontaminan sulfur. Proses ini berlangsung kira-kira pada suhu 350-380 0C dalam
reaktor desulfurisasi. Kemudian gas dikompresi dan dialirkan ke dalam unit reformer, dalam
hal ini LURGI reformer dan autothermal reformer. Dalam unit reformer gas dicampur dengan
uap panas dan diubah menjadi gas H2, CO2, dan CO dengan tiga macam langkah pembentukan.
Gas hasil kemudian didinginkan dengan serangkaian alat penukar panas. Panas yang dimiliki
oleh gas hasil digunakan untuk membuat uap panas. Pemanas awal gas alam, pemanas

air umpan masukboiler dan alat re-boiler di kolom distilasi. Gas hasil tersebut kembali
dikompresi hingga 80-90 bar tergantung pada optimasi proses yang ingin dicapai. Setelah
dikompresi gas hasil kemudian dikirim ke dalam reaktor pembentukan metanol. Reaktor yang
digunakan ialah LURGI tubularreaktor (proses isotermal) yang mengubah gas hasil
menjadi crude methanol. Crude methanol hasil kemudian dikirim ke dalam unit kolom distilasi
untuk menghasilkan kemurnian metanol yang dihasilkan.
2. The ICI Low Pressure Methanol (LPM) Process
Proses ini merupakan proses yang paling umum digunakan dalam proses pembutan metanol.
Paten dari proses ini dimiliki oleh Imperial Chemical Industry (ICI) dan sekarang lisensinya
dipegang oleh anak perusahannya yaitu Synetik.
Deskripsi prosesnya adalah sebagai berikut, umpan gas alam dipanaskan dan dikompresi lalu
kemudian didesulfurisasi sebelum dimasukkan ke dalam saturator. Setelah didesulfurisasi gas
alam kemudian di masukkan ke dalam saturator, di dalam saturator gas alam dikontakkan
dengan air panas. Pada proses ini sekitar 90% kebutuhan steam untuk proses dapat dicapai.
Selanjutnya gas alam kemudian dipanaskan ulang dan ditambahkan kekurangan steam yang
dibutuhkan untuk proses. Campuran gas alam dengan uap panas ini kemudian dikirim
kedalammethanol synthesys reformer (MSR). Di dalam MSR ini gas alam dirubah menjadi
H2,CO2, CO. Gas hasil ini kemudian didinginkan dengan serangkaian alat penukar panas. Panas
yang dihasilkan digunakan untuk memanaskan air umpan masuk boiler,menghasilkan uap panas
dan kebutuhan yang lain. Lalu gas hasil ini dikirim ke dalam methanol converter (ICI tube
cooled reactor). Reaksi yang berlangsung dengan bantuan katalis dalam reaktor ini
menghasilkan crude methanol dan bahan lain, hasil dari reaktor kemudian dipisahkan dengan
separator, gas yang masih belum terkonversi dipakai sebagai bahan bakar MSR.Crude
methanol yang sudah dipisahkan dari bahan lain kemudian dikirim ke unit distilasi fraksionasi
untuk menghasilkan metanol yang lebih murni.

3. The ICI Leading Concept Methanol (LCM) Process


Proses ini merupakan perbaikan dari proses ICI LPM, terutama dalam hal unit reformer.
Prosesnya adalah sebagai berikut. Umpan masuk gas alam pertama-tama di desulfurisasi
sebelum memasuki saturator. Dalam saturator gas alam dikontakkan dengan air panas yang
dipanaskan oleh gas hasil yang keluar dari Advanced Gas Heated Reformer (AGHR). Pengaturan
sirkuit saturator ini memungkinkan untuk mendapatkan sebagian uap panas yang dibutuhkan
untuk proses dan mengurangi sistem uap panas dari boiler.Tetapi berbagai macam modifikasi
proses dapat dilakukan tergantung dari pemilihan sistem reformer dan converter.
Campuran gas alam dan uap panas ini kemudian dipanaskan sebelum memasuki AGHR, dalam
AGHR gas campuran memasuki tabung-tabung yang berisi katalis yang dipanaskan oleh gas hasil
dari reformer kedua. Kira-kira 25 % gas alam terkonversi dalam AGHR menjadi CO2. Setelah
keluar dari AGHR gas alam memasuki reformer kedua kemudian ditambahkan semburan
oksigen yang merubah gas alam dengan bantuan katalis menjadi gas hasil yaitu H2, CO2, dan CO.
Gas hasil ini suhunya berkisar 1000 0 C dan hanya mengandung sangat sedikit metana yang tidak

terkonversi. Aliran gas hasil lalu dilewatkan melalui shell side dari AGHR dan serangkaian alat
penukar panas untuk memaksimalkan penggunaan panas. Lalu gas dikompresi sehingga 80 bar.
Gas yang telah dikompresi kemudian dikirim ke methanol converter untuk mengubahnya
menjadi metanol dan air. Metanol hasil kemudian dikirim ke unit distilasi fraksionasi untuk
memurnikannya.
Sumber : http://muhammadyusuffirdaus.wordpress.com/2011/11/08/pembuatanmetanol-dari-gas-alam-pada-skala-industri/