You are on page 1of 18

PENYUSUTAN ASET TETAP UNTUK PENATAUSAHAAN BARANG

MILIK DAERAH YANG BAIK DI PEMERINTAH KOTA MATARAM

1. LATAR BELAKANG
Reformasi keuangan negara merupakan salah satu amanat dari Undang-Undang
Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Penjelasan mengenai UndangUndang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keungan Negara menyatakan bahwa untuk
mendukung terwujudnya good governance, pengelolaan keuangan negara perlu
diselenggarakan secara profesional, terbuka dan bertanggung jawab.
Kemudian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan
Negara juga menegaskan bahwa untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas
dalam

pengelolaan

keuangan

negara,

pemerintah

membuat

laporan

pertanggungjawan keuangan yang disusun berdasarkan standar akuntansi


pemerintahan. Laporan keuangan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawan
pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Laporan
keuangan pemerintah daerah terdiri dari Laporan Realisasi Anggaran, Neraca,
Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan.
Laporan keuangan yang telah dibuat oleh pemerintah daerah kemudian
diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan. Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah disebut dengan Pemeriksaan Keuangan. Hal ini sesuai dengan
amanat dari Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan
Pengelolaan Dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Pemeriksaan keuangan
adalah dalam rangka menyajikan opini tentang kewajaran informasi yang
disajikan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Berdasarkan pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah, masih terdapat permasalahan terkait dengan kewajaran
penyajian laporan keuangan. Permasalahan-permasalahan tersebut tercermin dari

opini maupun temuan pemeriksaan dari Badan Pemeriksa Keuangan atas Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah. BPK memberikan opini Wajar Dengan
Pengecualian atau Tidak Menyatakan Pendapat/Disclaimer terhadap Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah yang masih diragukan kewajaran penyajian
informasinya.
Pemerintah Kota Mataram merupakan salah satu Kabupaten/Kota di Provinsi
Nusa Tenggara Barat yang masih memiliki masalah dalam penyajian Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah. Sampai dengan pemeriksaan laporan keuangan
tahun anggaran 2013, Pemerintah Kota Mataram masih mendapatkan opini Wajar
Dengan Pengecualian terhadap penyajian Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.
Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat permasalahan di masing-masing pos
laporan keuangan. Salah satu permasalahan yang masih terjadi adalah terkait
dengan penatausahaan aset tetap. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK
tahun anggaran 2013, BPK menyatakan terdapat kelemahan dalam pencatatan dan
penatausahaan aset tetap yang berpengaruh terhadap kewajaran penyajian aset
tetap dalam Neraca Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Mataram.
Permasalahan tersebut meliputi aset tetap yang tidak didukung dokumen
kepemilikan, aset tetap yang fisiknya sudah tidak ada namun masih dicatat
sebagai aset tetap dan aset tetap yang pencatatannya belum didasarkan atas hasil
inventarisasi dan penilaian kembali. Hal ini menunjukkan bahwa akuntansi aset
tetap masih menjadi permasalahan dalam pengelolaan aset tetap pemerintah.
Di dalam pengelolaan aset tetap, Pemerintah Kota Mataram mengacu pada
peraturan-peraturan tentang pengelolaan aset tetap. Peraturan-peraturan tersebut
diantaranya Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang

Milik Negara/Daerah yang telah diubah melalui Peraturan Pemerintah No. 27


Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah, Peraturan Menteri
Dalam Negeri No. 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang
Milik Daerah dan Peraturan Daerah Kota Mataram No. 17 Tahun 2011 tentang
Pengelolaan Barang Milik Daerah Kota Mataram.
Berbagai langkah telah dilakukan oleh Pemerintah Kota Mataram dalam
menanggulangi berbagai permasalahan-permasalahan aset tetap tersebut, mulai
dari inventarisasi/pencatatan ulang terhadap aset tetap, penelusuran dan
pembuatan bukti-bukti kepemilikan aset tetap sampai pada penilaian kembali
terhadap aset yang tidak diketahui nilainya. Namun diantara upaya-upaya tersebut
terdapat satu kebijakan akuntansi yang belum dilakukan yaitu penyusutan aset
tetap. Sampai dengan tahun 2013, Pemerintah Kota Mataram belum melakukan
kebijakan penyusutan aset tetap, hal ini berdampak pada nilai aset tetap tersebut
menjadi tidak wajar jika dibandingkan dengan kondisinya maupun manfaat
ekonominya, aset tetap banyak yang tidak diketahui keberadaannya karena tahun
perolehannya sudah terlalu lama dan tingginya total aset tetap yang tersaji di
neraca pada laporan keuangan pemerintah daerah.
Berdasarkan latar belakang masalah diatas dapat dirumuskan pokok
permasalahan yaitu Bagaimana pentingnya penyusutan aset tetap dalam rangka
pengelolaan aset tetap yang baik dan akuntabilitas dalam penyajian laporan
keuangan pemerintah daerah?
Tujuan dari paper ini adalah untuk memberikan analisa dan rumusan
rekomendasi mengenai penyusutan aset tetap sehingga dapat bermanfaat dalam
usaha perbaikan pengelolaan aset tetap pada Pemerintah Kota Mataram.

2. PEMBAHASAN
2.1 Aset Tetap
2.1.1 Pengertian Aset Tetap
Raymod H Peterson (2002) dalam bukunya Accounting For Fixed Assets
menyebutkan aset adalah sumber daya yang mempunyai potensi ekonomi di
masa depan dan dimiliki atau dikuasai sebagai akibat dari suatu kejadian atau
transaksi. Raymond H Peterson (2002) juga menyebutkan aset diklasifikasikan
menjadi dua kelompok yaitu aset berwujud dan aset tidak berwujud. Aset
berwujud tersebut di antaranya adalah aset tetap yang merupakan aset fisik
yang digunakan untuk operasional perusahaan. Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) 16 menyatakan aset tetap sebagai aset berwujud yang
dimiliki untuk digunakan dalam proses produksi atau penyedian barang dan
jasa, disewakan, atau untuk tujuan administratif, yang diharapkan dapat
digunakan lebih dari satu periode. Berdasarkan PSAK 16 tersebut, Ng Eng
Juan dan Ersa Tri Wahyuni (2012) menyebutkan aset tetap memiliki beberapa
kareteristik yaitu; digunakan dalam operasi normal entitas, memiliki umur
manfaat lebih dari satu tahun, dan memiliki substansi fisik
2.1.2 Pengertian Aset Tetap Pemerintah
Untuk aset pemerintah, Peryataaan Standar Akuntansi Pemerintahan
Nomor 01 paragraf 8, aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai
dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu
dan

dari

mana

manfaat

ekonomi dan/atau

sosial

di

masa

depan

diharapkan dapat diperoleh, baik oleh pemerintah maupun masyarakat,


serta dapat diukur dalam satuan uang, termasuk sumber daya non

keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum


dan sumber-sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya.
Kerangka konseptual akuntansi pemerintahan menyatakan aset pemerintah
diklasifikasikan menjadi aset lancar dan aset non Lancar. Aset non lancar
meliputi aset tetap, investasi jangka panjang, dana cadangan dan aset lainnya.
Pengertian Aset Tetap pemerintah menurut Indra Bastian dan Gatot
Soepriyanto (2003) adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk jadi
maupun dengan pembangunan yang digunakan dalam operasional entitas
pemerintah, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam aktivitas normal
pemerintahan, serta mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Definisi
dari Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 07,

Aset Tetap

adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas
bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum.
2.1.3 Klasifikasi Aset Tetap Pemerintah
Berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah Nomor 07
paragraf 7, sesuai kesamaan dalam sifat atau fungsinya dalam aktivitas operasi
entitas, aset tetap diklasifikasikan menjadi:
1. Tanah
Tanah yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan
operasional pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.
2. Peralatan Mesin
Peralatan dan Mesin yaitu mencakup mesin-mesin dan kendaraan
bermotor, alat elektronik, inventaris kantor, dan peralatan lainnya yang

nilainya signifikan, masa manfaatnya lebih dari 12 bulan dalam kondisi


siap pakai.
3. Gedung Bangunan
Gedung dan Bangunan yaitu mencakup seluruh gedung dan bangunan
yang diperoleh dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan operasional
pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.
4. Jalan, Jaringan, dan Irigasi
Termasuk dalam kelompok ini adalah jalan, irigasi, dan jaringan yang
dibangun oleh pemerintah serta dimiliki dan atau dikuasai oleh pemerintah
dan dalam kondisi siap pakai.
5. Aset Tetap Lainnya
Merupakan aset tetap yang tidak dapat dikelompokkan ke dalam aset tetap
di atas,

yang diperoleh dan dimanfaatkan untuk kegiatan operasional

pemerintah dan dalam kondisi siap pakai.


6. Konstruksi Dalam Pengerjaan
Merupakan aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan namun
pada tanggal laporan keuangan belum selesai seluruhnya.
2.1.4 Pengakuan dan Pengukuran Aset Tetap
Berdasarkan PSAK 16, aset tetap dapat diakui jika kemungkinan manfaat
ekonomis yang berhubungan dengan aset tersebut besar kemungkinan akan
mengalir, dan biaya perolehan aset dapat diukur secara andal. PSAK 16 juga
menyatakan bahwa biaya perolehan aset tetap meliputi:
1. Harga perolehannya;

2. Semua biaya yang dapat diatribusikan secara langsung sampai aset tetap
tersebut siap digunakan;
3. Estimasi awal biaya pembongkaran dan pemindahan aset tetap serta
restorasi lokasi aset, atau liabilitas atas biaya ketika aset diperoleh. Untuk
aset tetap pemerintah, sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi.
Pemerintahan Nomor 07, pengakuan aset tetap akan handal apabila aset
tetap telah diterima dan diserahkan hak kepemilikannya dan/atau pada saat
penguasaannya berpindah. Saat pengakuan aset tersebut akan handal apabila
terdapat bukti bahwa telah terjadi perpindahan hak kepemilikan dan atau
penguasaan secara hukum (paragraf 19, Pernyataan Standar Akuntansi
Pemerintahan Nomor 07).
Paragraf 15 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 07
menyatakan aset tetap dapat diakui pada saat manfaat ekonomi masa depan
dapat diperoleh dan nilainya dapat diukur dengan handal. Paragraf 15
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 07 juga menyebutkan
beberapa kriteria yang harus dipenuhi untuk mengakui aset tetap yaitu:
1. Berwujud;
2. Mempunyai masa manfaat lebih dari dua belas bulan;
3. Biaya perolehan aset dapat diukur secara andal;
4. Tidak dimaksudkan untuk dijual dalam operasi normal entitas; dan
5. Diperoleh atau dibangun dengan maksud untuk digunakan.
Pada paragraf 16 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 07
dinyatakan bahwa untuk menentukan suatu aset tetap mempunyai manfaat
lebih dari dua belas bulan, maka harus dinilai manfaat ekonomi masa depan

dari suatu aset tetap baik secara langsung atau tidak langsung berupa aliran
pendapatan atau penghematan belanja. Pengukuran nilai aset tetap dilakukan
dengan harga perolehan, dan jika tidak memungkinkan dengan harga
perolehan maka yang digunakan adalah nilai wajar pada saat perolehan
(paragraf 20, PSAP 07). Untuk aset tetap yang diperoleh tanpa nilai yaitu
berupa hadiah atau donasi, nilai aset adalah nilai wajar pada saat aset tetap
diperoleh (paragraf 24 dan 25, PSAP 07).
2.1.5 Penyajian dan Pengungkapan Aset Tetap
Berdasarkan paragraf 80 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
Nomor 07, aset tetap yang disajikan di laporan keuangan juga diungkapkan
untuk masing-masing jenis aset tetap tentang:
a. Dasar penilaian yang digunakan untuk menentukan nilai tercatat.
b. Rekonsiliasi jumlah tercatat pada awal dan akhir periode yang meliputi
penambahan, pelepasan, akumulasi penyusutan dan perubahan nilai, dan
jika ada mutasi aset tetap lainnya.
c. Informasi penyusutan yang meliputi nilai penyusutan, metode yang
digunakan, masa manfaat atau tarif penyusutan, serta nilai tercatat bruto
dan akumulasi penyusutan pada awal dan akhir periode.
Selanjutnya paragraf 81 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
Nomor 07 menyatakan bahwa laporan keuangan juga harus mengungkapkan:
1. Eksistensi dan batasan hak milik atas aset tetap.
2. Kebijakan akuntansi untuk kapitalisasi yang berkaitan dengan aset tetap.
3. Jumlah pengeluaran pada pos aset tetap dalam konstruksi.
4. Jumlah komitmen untuk akuisisi aset tetap.

Apabila aset tetap dicatat pada jumlah yang dinilai kembali, sesuai
paragraf 81 Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan Nomor 07 maka
harus diungkapkan:
1. Dasar peraturan untuk menilai kembali aset tetap;
2. Tanggal efektif penilaian kembali;
3. Jika ada, nama penilai independen;
4. Hakikat setiap petunjuk yang digunakan untuk menentukan biaya
pengganti;
5. Nilai tercatat setiap jenis aset tetap.
2.2 Penyusutan Aset Tetap
2.2.1 Pengertian Penyusutan Aset Tetap
Penyusutan aset tetap (depresiasi), adalah bentuk pengalokasian harga
perolehan aset tetap sebagai beban periode akuntansi dalam masa manfaat
aktiva tetap tersebut. Nilai aset tetap turun setiap saat, sehingga setelah habis
masa penggunaannya dianggap sudah tidak memberikan manfaat ekonomi
bagi perusahaan.
Menurut Warren, Reeve, dan Fess (2005:507) : Penyusutan adalah
alokasi harga perolehan dan biaya secara sistematis dan rasional sepanjang
umur manfaat aktiva tetap yang bersangkutan (Sondik, 2013). Sedangkan
menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) PSAK No. 17 : Penyusutan adalah
alokasi jumlah suatu aktiva yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat
yang diestimasi. Penyusutan untuk periode akuntansi dibebankan ke
pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung.

Menurut Harahap (2002:53) : Penyusutan adalah pengalokasian harga


pokok aktiva tetap selama masa penggunaannya atau biaya yang dibebankan
terhadap produksi akibat penggunaan aktiva tetap itu dalam proses produksi.
Semua aset tetap akan disusutkan kecuali tanah, untuk itu perlu diadakan
kebijaksanaan untuk mengalokasikan aset tetap selama masa manfaat yang
diberikan. Pengalokasian itu disebut penyusutan.
Dari beberapa definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa penyusutan
adalah pengalokasian harga perolehan aset tetap berdasarkan masa manfaatnya
2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penyusutan
Menurut Smith dan Skousen (Sondik, 2013) ada beberapa faktor yang
perlu dipertimbangkan dalam menentukan beban penyusutan yaitu :
a. Harga Perolehan
Harga perolehan yaitu sejumlah uang yang dikeluarkan dalam memperoleh
aset tetap hingga siap digunakan.
b. Nilai Residu atau Nilai Sisa
Nilai sisa atau nilai residu adalah jumlah yang diperkirakan dapat
direalisasikan pada saat aset tidak digunakan lagi. Menurut IAI (2002:16),
Nilai Residu adalah jumlah yang diperkirakan akan diperoleh entitas saat ini
dari pelepasan asset, setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jika asset
tersebut telah mencapai umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur
manfaatnya.
Menurut PSAK No.16 Aset Tetap (Revisi 2007) nilai residu aset adalah
jumlah yang diperkirakan akan diperoleh entitas saat ini dari pelepasan aset,

10

setelah dikurangi taksiran biaya pelepasan, jika aset tersebut telah mencapai
umur dan kondisi yang diharapkan pada akhir umur manfaatnya.
Pada umumnya nilai residu ditetapkan sebesar nol pada akhir masa
manfaat. Jika merujuk pada kondisi tersebut, ketika suatu aset habis masa
manfaatnya, Aset tetap tersebut sebenarnya masih memiliki nilai residu yang
nilainya lebih besar dari estimasi nilai residu yang ditetapkan sebesar nol.
Sehingga kurang relevan jika aset tetap yang telah habis masa manfaatnya
namun masih dapat digunakan dalam mendukung kegiatan operasional nilai
residunya diakui sebesar nol. Penetapan estimasi nilai residu dapat
menggunakan data historis 2-3 tahun terakhir. Data tesebut dapat berupa hasil
lelang/penjualan aset tetap.
Nilai residu dan umur manfaat setiap aset tetap harus di-review minimum
setiap akhir tahun buku dan apabila ternyata hasil review berbeda dengan
estimasi sebelumnya maka perbedaan tersebut harus diperlakukan sebagai
perubahan estimasi akuntansi sesuai dengan PSAK No. 25 tentang Laba atau
Rugi Bersih untuk Periode Berjalan, Koreksi Kesalahan Mendasar, dan
Perubahan Kebijakan Akuntan.
c. Masa Manfaat atau Umur Ekonomis
Umur manfaat didefenisikan dalam PSAK 16 sebagai suatu periode
dimana aset diharapkan akan digunakan oleh perusahaan, atau sebagai jumlah
produksi atau unit serupa yang diharapkan akan diperoleh dari aset tersebut
oleh perusahaan.
Masa manfaat yaitu taksiran jangka waktu penggunaan aset tetap itu dalam
kegiatan produksi. Masa manfaat terbatas karena beberapa faktor yaitu :

11

Faktor fisik yang membatasinya adalah keausan dan kecacatan,


kemerosotan nilai dan pembusukan, dan kerusakan atau destruksi.

Faktor fungsional yang membatasinya adalah ketidaklayakan dan


keuangan
PSAK 16 menyebutkan bahwa estimasi umur manfaat aset yang dapat

disusutkan adalah persoalan penilaian yang pada umumnya berdasarkan


pengalaman perusahaan yang memiliki aset serupa. PSAK 16 juga
menyatakan bahwa umur manfaat aset yang dapat disusutkan harus
di review minimum setiap akhir tahun buku (paragraf 51). Perubahan estimasi
umur manfaat diperhitungkan sebagai perubahan estimasi akuntansi
berdasarkan PSAK 25 serupa dengan perubahan nilai residu.
d. Pola Penggunaan
Untuk menandingkan harga perolehan aset terhadap pendapatan, beban
penyusutan harus mencerminkan setepat mungkin pola produksi. Jika aset
menghasilkan suatu pola pendapatan

yang bervariasi, maka beban

penyusutannya juga harus bervariasi dengan pola yang sama. Bila penyusutan
diukur dalam satuan faktor waktu, pola penggunaannya harus diestimasikan.
2.2.3 Metode Penyusutan Aset Tetap
Metode penyusutan terdiri dari :
a. Metode Garis Lurus
Metode penyusutan ini merupakan metode penyusutan yang paling
sederhana karena beban penyusutan dibagi rata selama masa umur manfaat.
Nilai Perolehan Nilai Residu
Rumus Penyusutan =
Umur Manfaat

12

Idealnya metode ini digunakan untuk aset tetap yang diperkirakan


memberikan manfaat yang relatif merata sepanjang masa manfaat.
b. Metode Saldo Menurun Ganda
Metode penyusutan ini dihitung berdasarkan nilai buku dengan tarif dua
kali tarif penyusutan garis lurus. Rumus penyusutan ini adalah:
(Nilai yang dapat disusutkan - akumulasi
Penyusutan per periode =

penyusutan periode sebelumnya) X Tarif


Penyusutan

Metode penyusutan ini lebih cocok diterapkan pada aset tetap yang
memiliki manfaat ekonomis yang semakin menurun dari tahun ke tahun dan
peralatan berteknologi tinggi seperti komputer yang setiap saat muncul produk
yang lebih canggih.
c. Metode Unit Produksi
Metode penyusutan ini didasarkan pada jumlah produksi per periode di
bagi dengan jumlah produksi keseluruhan yang diestimasi.
Penyusutan per periode =

Produksi Periode berjalan X Tarif Penyusutan

Metode penyusutan ini lebih cocok diterapkan pada aset tetap yang dapat
dihitung produktivitasnya seperti alat-alat berat dan mesin-mesin produksi.
2.2.4 Perlakuan Akuntansi atas Penyusutan
Terdapat

sedikit

perbedaan

perlakuan

atas

penyusutan

dengan

menggunakan PSAP berbasis akrual dengan PSAP berbasis Kas Menuju


Akrual. Jika entitas pelaporan menggunakan basis akrual besarnya
penyusutan untuk suatu tahun akan dicatat dengan mendebit akun beban

13

penyusutan dan mengkredit akun akumulasi penyusutan. Saldo akun


beban penyusutan pada akhir tahun akan dilaporkan sebagai beban
operasional dalam Laporan Operasional (LO), sementara itu saldo akun
akumulasi penyusutan (yang menunjukkan besarnya penyusutan dari awal
pemakaian aset tetap tersebut sampai akhir tahun

yang berjalan)

dilaporkan di neraca sebagai pengurang dari nilai perolehan aset tetap yang
bersangkutan.
Jika entitas pelaporan menerapkan dasar kas menuju akrual, entitas
pelaporan tidak menyusun laporan operasional, oleh karena itu besarnya
penyusutan untuk setiap tahun akan diperlakukan dengan mendebit akun
Diinvestasikan dalam aset tetap dan mengkredit akun Akumulasi
Penyusutan. Akun Diinvestasikan dalam aset tetap adalah akun ekuitas
sehingga jika akun ini didebit berarti mengurangi jumlah ekuitas. Sementara
itu akun akumulasi penyusutan adalah akun pengurang dari akun aset tetap
sehingga jika akun ini dikredit, maka nilai aset tetap secara neto telah
berkurang. Dengan demikian dapat dikatakan dengan dasar Kas menuju
akrual, besarnya penyusutan diperlakukan sebagai pengurangan terhadap aset
dan ekuitas.
Penyusutan tersebut diakumulasikan setiap semester dan dicatat dalam
akun Akumulasi Penyusutan.

Di Neraca, Akumulasi Penyusutan tersebut

disajikan sebagai pengurang nilai aset tetap dan pengurang dari nilai pos
Diinvestasikan Dalam Aset Tetap. Pencatatan penyusutan aset tetap dalam
neraca dilakukan sejak perolehan sampai dengan aset tetap tersebut
dihapuskan.

14

PMK No. 1/PMK.06/2013 masih menggunakan dasar kas menuju akrual


perlakuan sebagaimana dijelaskan di atas. Jika pemerintah sudah menerapkan
dasar akrual sebagaimana diatur dalam Lampiran I PP 71 tahun 2010
perlakuan penyusutan akan berbada. Jika pemerintah sudah menggunakan
dasar akrual, maka pencatatan penyusutan akan dilakukan dengan mencatat
Beban Penyusutan dan menambah saldo akun Akumulasi Penyusutan.
Selanjutnya sesuai dengan PSAP No. 7 berbasis akrual, Paragraf 54, dikatakan
bahwa Nilai penyusutan untuk masing-masing periode diakui sebagai
pengurang nilai tercatat aset tetap dalam neraca dan beban penyusutan dalam
laporan operasional. Dengan demikian beban penyusutan tersebut akan
dilaporkan

dalam

laporan

operasional sebagai beban operasional.

Sementara itu Akumulasi penyusutan sampai akhir tahun berjalan akan


dilaporkan di neraca sebagai pengurang dari nilai aset tetap, sehingga nilai
yang tersaji di neraca adalah nilai bukunya.
2.2.5 Penyusutan Atas Aset Yang Diperoleh Sebelum Januari 2013
Penyusutan atas aset tetap yang diperoleh sebelum PMK 01/PMK.06/2013
akan diperlakukan sebagai koreksi penyusutan aset tetap. Koreksi ini
dilaporkan pada tahun diberlakukannya penyusutan aset tetap ini. Di neraca,
koreksi ini akan dilaporkan sebagai penambah nilai akumulasi penyusutan dan
pengurang nilai ekuitas dana. Penghitungan penyusutan atas aset tetap ini
dilakukan dengan mengikuti peraturan menteri keuangan.
2.2.6 Perlakuan Atas Aset Yang Sudah Disusutkan Penuh
Aset tetap yang seluruh nilainya telah disusutkan yang secara teknis masih
dapat dimanfaatkan tetap disajikan di neraca dengan menyajikan dengan

15

menunjukkan nilai perolehan dan akumulasi penyusutannya. Aset tetap


yang seluruh nilainya telah disusutkan tidak serta merta dihapuskan.
Penghapusan Aset tetap mengikuti ketentuan peraturan perundang undangan
di bidang pengelolaan Barang Milik Daerah.
3. KESIMPULAN DAN SARAN
Dari pembahasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa aset tetap
pemerintah adalah aset berwujud yang mempunyai masa manfaat lebih dari dua
belas bulan untuk digunakan, atau dimaksudkan untuk digunakan dalam kegiatan
pemerintah atau dimanfaatkan oleh masyarakat umum sedangkan penyusutan aset
tetap merupakan proses pengalokasian harga perolehan aset tetap berdasarkan
masa manfaatnya. Metode-metode yang dapat digunakan dalam melakukan proses
penyusutan aset tetap antara lain metode garis lurus, metode saldo menurun
ganda, dan metode unit produksi.
Penyusutan aset tetap memiliki fungsi yang amat penting di dalam
pengelolaan aset tetap. Jika proses penyusutan aset telah dilakukan maka realitas
atau kewajaran total nilai aset tetap dapat tersaji dalam neraca. Aset-aset yang
sudah lama dan tidak memiliki nilai sisa dapat dilakukan proses penghapusan
sesuai dengan mekanisme yang telah diatur dalam peraturan pengelolaan aset
tetap.
Mekanisme mengenai penyusutan aset tetap ini telah diatur dalam peraturanperaturan pengelolaan aset tetap pemerintah diantaranya Peraturan Pemerintah
No. 27 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah,
Permendagri No. 17 Tahun 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang
Milik Daerah dan PSAK yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia. Dianjurkan
Pemerintah Kota Mataram dalam hal pengelolaan keuangan dan pengelolaan aset
16

tetapnya untuk segera melakukan kebijakan penyusutan aset tetap, hal ini demi
akuntabilitas penyajian laporan aset tetap dalam laporan keuangan pemerintah
daerah dan juga demi mengurangi berbagai permasalahan-permasalahan terkait
pengelolaan aset tetap sehingga opini Wajar Tanpa Pengecualian atas pemeriksaan
laporan keuangan pemerintah daerah oleh Badan Pemeriksa Keuangan dapat cepat
tercapai.

17