You are on page 1of 11

3

BAB II
TINJAUN PUSTAKA

2.1

Sifat Bahan Baku


Untuk menghasilkan produk benzonitril yang bagus, harus dilihat

karakteristik dari bahan baku yang akan digunakan. Berikut adalah karakteristik
dari bahan baku yang akan digunakan :

2.1.1 Ammonia
Ammonia adalah senyawa dari nitrogen dan hidrogen dengan rumus NH3.
Ammonia selain memiliki sifat-sifat fisika juga memiliki sifat-sifat kimia.
Sebagaimana terlampir pada Tabel 2.1
Tabel 2.1 Sifat-sifat fisika dan kimia Ammonia

Nama IUPAC
Nama lain

Amonia, Azana
HidrogenNitrida, SpiritusHartshorn, Nitrosil,
Vaporol
Rumus Molekul
NH3
Massa Molar
17,0306 g/mol
Penampilan
Cairan tidak berwarna berbau tajam
Massa Jenis
616,1 kg/m3
Fasa
Cair
Kelarutan Dalam Air
89,9 g/100 ml pada 0 0C
Titik Didih
-33,34 0C (239,81 K)
Titik Beku
-77,73 0C (195,42 K)
Keasaman (pKa)
9,25
Kebasahan (pKb)
4,75
pH
11,5
kemurnian
99,5 %
Kapasitas panas,
Pada, 0oC : 2097,2
J/(kg.K)
100oC : 2226,2
Panas pembentukan gas Pada, 0oK : -39,222
Hf, kJ/mol
298oK : -46,222
Sumber : (Amonia data at NIST Webbook, 2007)

Ammonia memberikan konstribusi signifikan terhadap nutrisi kebutuhan


organisme terestrial yang digunakan untuk pembuatan pupuk. Ammonia yang
digunakan secara komersial dinamakan amonia anhidrat. Istilah ini menunjukkan
tidak adanya air pada bahan tersebut. Karena ammonia mendidih di suhu -33 C,
cairan ammonia harus disimpan dalam tekanan tinggi atau temperatur sangat
rendah. Walaupun begitu, kalor penguapannya sangat tinggi sehingga dapat
ditangani dengan tabung reaksi biasa di dalam sungkup asap.

a. Kegunaan Ammonia
Penggunaan utama ammonia adalah sebagai pupuk. Ammonia dapat
diterapkan secara langsung atau dalam bentuk garam-garam amonium, seperti
amonium nitrat, NH4NO3, amonium sulfat, (NH4)2SO4, amonium klorida (NH4Cl)
dan berbagai amonium fosfat. Urea juga digunakan sebagai sumber nitrogen untuk
pupuk. Ammonia juga digunakan dalam pembuatan bahan peledak komersial
(misalnya, trinitrotoluene (TNT), nitrogliserin, dan nitroselulosa). Ammonia cair
adalah pelarut yang mengandung amonium hidroksida, dan digunakan sebagai
cairan pembersih rumah tangga.
Zat Ammonia biasanya digunakan sebagai obat obatan, bahan pembuatan
pada baterai, asam nitrat (HNO3), zat pendingin, membuat hidrazin (N2H4),
sebagai bahan bakar roket, kertas plastik, dan detergen. Jika dilarutkan kedalam
air maka zat tersebut akan dapat menjadi pembersih alat perkakas rumah tangga.
Dalam industri tekstil, ammonia digunakan dalam pembuatan serat sintetis
seperti nilon dan rayon. Selain itu, digunakan dalam proses pencelupan dan
gerusan dari kapas, wol, dan sutra. Ammonia berfungsi sebagai katalis dalam
produksi beberapa resin sintetis. Lebih penting lagi, menetralkan asam produk
dari penyulingan minyak bumi, dan industri karet mencegah pembekuan lateks
mentah selama transportasi dari perkebunan ke pabrik. Ammonia juga digunakan
baik dalam proses amonia-soda (juga disebut proses Solvay), metode yang banyak
digunakan untuk memproduksi soda abu, dan proses Ostwald, sebuah metode
untuk mengubah ammonia menjadi asam nitrat.

b. Ciri-Ciri Ammonia
1. Ammonia merupakan gas yang tidak berwarna namun berbau sangat
menyengat.
2. Sangat mudah larut dalam air, dalam keadaan standar, 1 liter air mampu
melarutkan 1180 liter ammonia.
3. Ammonia mudah mencair, ammonia cair membeku pada suhu (-78)
derajat celsius dan mendidih pada suhu -33 derajat celsius.
4. Ammonia digunakan sebagai bahan alat kecantikan seperti bahan
campuran pada cat rambut, meluruskan rambut

2.1.2 Toluen
Toluen adalah cairan jernih tidak larut dalam air dan memiliki bau yang
khas. Toluena merupakan senyawa turunan benzene yang salah satu atom
hidrogennya tersubstitusi oleh gugus metil (-CH3).. Tabel 2.2 memperlihatkan
sifat fisika dan sifat kimia toluen.
Tabel 2.2 sifat-sifat fisika dan sifat kimia Toluen

Nama IUPAC
Nama lain

Toluen
Fenilmetana,
Toluol/Toluena,
Metilbenzena, Anisen
Rumus Molekul
C7H8
Massa Molar
92,14 g/mol
Penampilan
Cairan tak berwarna
Massa Jenis
0,8669 g/mL, zat cair
Fasa
Cair
Kelarutan Dalam Air
0,47 g/l (20-25 C)
Titik Didih
110,63 0C
Titik Lebur
-93 0C
Titik Nyala
4 C/ 39,2 F
Viskositas
0,590 cP at 20 C
Sumber : (Devathasan dkk, 1984)

Toluen atau toluena sebelumnya dikenal sebagai toluol, metil benzena, dan
fenil metana. Nama lain dari toluena adalah metilbenzena atau fenil metana.
Toluen mempunyai rumus molekul C6H5CH3. Toluena adalah hidrokarbon
aromatik yang banyak digunakan sebagai bahan baku industri dan sebagai pelarut.
Toluena secara umum diproduksi bersama dengan benzene, xylene, dan senyawa
aromatik C9 dengan pembentukan katalitik dari nafta. Toluena terjadi secara
alami dalam minyak mentah dan di pohon tolu. Juga diproduksi dalam proses
pembuatan bensin dan bahan bakar lainnya dari minyak mentah serta pembuatan
kokas dari batubara.

a. Kegunaan Toluen
Kegunaan utama toluena adalah sebagai bahan campuran yang
ditambahkan ke dalam bensin untuk meningkatkan nilai oktan. Toluena juga
digunakan untuk memproduksi benzena dan sebagai pelarut dalam cat, pelapis,
pengharum sintetis, lem, tinta, pewarna, desinfektan, produk kosmetik kuku,
silikon sealat, karet percetakan dan agen-agen pembersih. Toluena juga digunakan
dalam produksi polimer yang digunakan untuk membuat nilon, botol soda plastik,
poliuretan serta untuk obat-obatan dan sintesis kimia organik.
Penggunaan industri terbesar toluena adalah dalam produksi benzena,
bahan kimia yang digunakan untuk membuat plastik dan serat sintetis. Toluena
juga digunakan sebagai fullerene dan merupakan bahan baku untuk diisosianat
toluena. Toluen juga hidrokarbon yang banyak digunakan sebagai industri bahan
baku dan sebagai pelarut organik penting yang mampu melarutkan sejumlah kimia
organik terkemuka seperti belerang.

b. Sifat Kimia
1. Reaksi Hidrogenasi, dengan katalis nikel, platinum atau palladium dapat
menjenuhkan

cincin

aromatik

sebagian

maupun

keseluruhan,

menghasilkan benzene, metana dan bifenil.


2. Reaksi Oksidasi, dengan katalis kobalt, mangan dan bromida pada fase
cair menghasilkan asam benzoat.

3. Reaksi Subsitusi oleh metil, pada temperatur tinggi dan reaksi radikal
bebas. Klorinasi pada 100 0C atau dengan ultraviolet membentuk benzil
klorida, benzal klorida dan benzotriklorida.
4. Reaksi Subsitusi oleh logan alkali menghasilkan normal propil benzena,
3-fenil pentana dan 3-etil 3-fenil pentana.

2.1.3 Oksigen
Oksigen adalah unsur kimia dalam sistem tabel periodik yang mempunyai
lambang O dan nomor atom delapan. Oksigen merupakan unsur golongan
kalkogen dan dapat dengan mudah bereaksi dengan hampir semua unsur lainnya
(utamanya menjadi oksida). Pada temperatur dan tekanan standar, dua atom unsur
ini berikatan menjadi dioksigen, yaitu senyawa gas diatomik dengan rumus O2
yang tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau. Adapun sifat fisika oksigen
diperlihatkan pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Sifat Fisika Oksigen
Sifat gas

O2

Berat molekul

32

Kenampakan

Gas, Tidak berwarna, Tidak berbau

Specific gravity

1,7

Titik leleh, C

-214,8

Titik didih, C

-183

Temperatur kritis, K

154,58

Tekanan kritis (bar)

49,8

Volume kritis (cm /mol)

73,4

Densitas cair (gr/cm3)

1149

Sumber : Kirk & Othmer, 1981


Secara industri, oksigen didapatkan dengan cara penyulingan udara cair.
Udara bebas memiliki komposisi oksigen sebesar 21% dan sekitar 79%
merupakan nitrogen. Adapun berbagai macam cara untuk mendapatkan oksigen
terlarut, diantaranya adalah dengan proses elektrolisis, penguraian suatu

peroksida, penguraian panas oksida logam, penguraian panas garam-garam yang


mengandung anion kaya oksigen.

a. Sifat Kimia Oksigen


Oksigen bereaksi dengan semua elemen kecuali dengan gas-gas seperti He,
Ne, dan Rn. Katalis biasanya diaktifkan dengan pemanasan sebelum reaksi
berlangsung. Oksigen akan melepas elektro negatif valensi dua dalam kombinasi
dengan elemen kimia lainnya. Pada suhu yang rendah dan dengan adanya katalis,
oksigen bereaksi dengan bahan kimia organik menghasilkan hidrokarbon
peroksida.

2.2

Sifat Produk

2.2.1 Benzonitril
Benzonitril adalah senyawa kimia dengan rumus C6H5CN. Adapun sifat
fisika dan kimia benzonitril dapat dilihat pada Tabel 2.4
Tabel 2.4 Tabel sifat-sifat fisika dan kimia Benzonitril

Nama IUPAC
Nama lain
Rumus Molekul
Massa Molar
Penampilan

Fasa
Kelarutan Dalam Air
Titik Didih
Titik Lebur
Titik Nyala
Densitas
Sumber : (Gordon dkk, 1990)

Benzonitril
Siano Benzen, Fenil Sianida
C7H5N
103.12 g/mol
Senyawa aromatik organik tidak
berwarna, dengan bau almond
manis
Cair
< 0.5 g/100 ml (22 C)
191 0C
13 C (9 F; 260 K)
75 C (167 F; 348 K)
1.0 g/ml

Benzonitril merupakan senyawa organik yang tidak berwarna, dengan bau


almond manis. Hal ini tersusun oleh dehidrasi benzamide atau oleh reaksi natrium
sianida dengan bromobenzen. Benzonitril ditemukan oleh Fehlinh (1844).
Benzonitril selain memiliki sifat-sifat fisika juga memiliki sifat-sifat kimia.

2.3

Penentuan Kapasitas Pabrik


Penentuan kapasitas produksi akan ditentukan berdasarkan kebutuhan

dalam negri. Hingga kini belum ada satu perusahaan pun yang memproduksi
benzonitril di Indonesia dan Asia Tenggara. Berdasarkan data dari Dapartemen
Perindustrian dan Perdagangan Indonesia, kebutuhan akan Benzonitril dari tahun
2006 2010 seperti terlihat pada Tabel 2.5
Tabel 2.5 Konsumsi benzonitril di Indonesia tahun 2006-2010
Tahun

Import (Kg)

2006

232.037

2007

804.761

2008

969.320

2009

1.202.651

2010

1.706.282

Sumber : (BPS, 2006)


Berdasarkan Tabel 2.5 dapat kita perkirakan produksi benzonitril untuk
tahun-tahun berikutnya dengan menggunakan rumus persamaan regresi linear.

10

Kebutuhan Benzonitril (Ton)

Grafik Prediksi Kebutuhan Benzonitril di


Indonesia
2000000
y = 334638x - 670965978
R = 0,9593

1500000
1000000
500000
0
2005

2006

2007

2008

2009

2010

2011

Tahun

Gambar 2.1 Grafik Prediksi Kebutuhan Benzonitril di Indonesia

Sehingga

y = a - bx ...

(Pers 1.1)

Dari perhitungan harga y = 334638x 670965978, sehingga hasil interpolasi


seperti dilihat pada Tabel 2.6.
Dengan menggunakan rumus tersebut, dapat diperkirakan kebutuhan
Benzonitril sampai tahun 2018 yang akan datang di Indonesia ini dapat
diperlihatkan pada Tabel 2.6 sebagai berikut :
Tabel 2.6 Ekstrapolasi dengan excel, kebutuhan Benzonitril di Indonesia
Tahun 2011 2018.
Tahun

Jumlah (Kg)

2011

1.991.040

2012

2.325.680

2013

2.660.320

2014

2.994.960

2015

3.329.600

2016

3.664.240

2017

3.998.880

2018

4.333.520

11

Berdasarkan perkiraan pada Tabel 2.6, Benzonitril di Indonesia diperlukan


untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kebutuhan benzonitril untuk tahun
2018 sebesar 4.333.520 kg. Dari hasil pemaparan diatas memperlihatkan bahwa
kebutuhan benzonitril di Indonesia akan mengalami peningkatan. Oleh sebab itu,
prarancangan pabrik benzonitril direncanakan akan berproduksi dengan kapasitas
279.000 ton/tahun dengan pertimbangan :
1.

Dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri yang diperkirakan terus


mengalami kenaikan.

2.

Dapat memberikan keuntungan karena kapasitas perancangan masuk


kisaran kapasitas yang disyaratkan secara ekonomi menguntungkan.

3.

Dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga angka impor dapat


ditekan serta meningkatkan nilai investasi dalam negeri, juga berorientasi
ekspor untuk memenuhi kebutuhan dunia.

2.4

Pemilihan Lokasi Pabrik


Pemilihan lokasi pabrik merupakan hal yang sangat penting, oleh karena

itu, harus didasarkan pada perhitungan-perhitungan yang matang, baik secara


ekonomis maupun teknis, tanpa melupakan keadaan lingkungan sosial setempat.
Dalam hal ini juga harus diperhitungkan pula kemungkinan perkembangan
peralatan dan lokasi.
Pabrik ini direncanakan untuk didirikan di kawasan Bungkah, Kabupaten
Aceh Utara dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
1) Dekat dengan pelabuhan, memudahkan impor barang-barang kebutuhan
pabrik dan ekspor produk.
2) Dekat dengan sungai sebagai sumber air yaitu Sungai Peusangan.
3) Dekat dengan sumber bahan baku, yaitu ammonia dan oksigen yang dibeli
dari PT. Pupuk Iskandar Muda. Toluene dibeli dari PT Chandra Asri
Petrochemical Tbk.
4) Sarana dan prasarana yang meliputi transportasi, jalan dan listrik memadai.

12

2.5

Pemilihan Proses
Ada dua cara pembuatan Benzonitril dengan bahan Toluen dan Ammonia

yang dilakukan yaitu:


1) Reaksi Toluen dan Ammonia tanpa adanya Udara, dengan katalisator Bi
Mo - O pada suhu sekitar 524C - 540C.
C7H8 + NH3 C7H5N + 3 H2 + Q
Konversi maksimum = 13 %
Proses ini jarang digunakan pada industri-industri karena konversi reaksi
sangat kecil sedangkan suhu yang diperlukan cukup tinggi sehingga jarang
dilakukan (Ludwig, 1965)

2) Reaksi Amoxidasi, yaitu reaksi antara Toluen dan Ammonia dengan


bantuan udara (Oksigen) pada suhu 300 0C 350 0C
Pada proses ini terdapat 3 reaksi yaitu, 1 reaksi utama dan 2 reaksi
samping.
C7H8 + NH3 + 1,5 O2 C7H5N + 3 H2O
Konversi pembentukan benzonitril mencapai 90 % (Shintara, 2000)

2.6

Seleksi Proses
Dari kedua proses diatas kami memilih proses Amoxidasi antara Toluen

dan Ammonia dengan bantuan udara (Oksigen). Kelebihan dari proses ini karena
memiliki nilai konversi yang tinggi dengan suhu yang lebih rendah. sehingga akan
diperoleh efesiensi pemakaian energi untuk pemanasan.

2.7

Uraian Proses
Pembuatan Benzonitril dari bahan baku Toluen dan Ammonia dilakukan

dengan bantuan udara (Oksigen). Bahan baku berupa ammonia dan toluene cair
ditampung dalam tangki penyimpanan (T-01 dan T-02), dengan suhu ammonia 40 0C dan toluene 35 0C, pada tekanan 1 atm, selanjutnya ammonia dari tangki
dipompakan (P-01) kedalam mixer (Mix-01) dengan laju alir 5961 kg/jam dan
juga toluene dipompa (P-02) dengan laju alir 32.250 kg/jam. Kedua bahan baku
tersebut dicampur didalam mixer. Selanjutnya fluida dingin dari mixer di alirkan

13

ke Heat Exchanger (HE-01) untuk dipanaskan agar berubah dari fasa cair menjadi
fasa gas dipanaskan hingga suhu 900C dengan menggunakan steam. Kemudian,
fluida dingin keluaran dari HE-01 dipanaskan kembali di Heat Exchanger (HE02), pada HE-02 ini fluida panas yang diberikan adalah panas yang di manfaatkan
dari reaktor.
Gas keluaran dari HE-02 dialirkan ke Reaktor (R-01), jenis reaktor yang
digunakan adalah plug flow reaktor (PFR) dengan kondisi operasi pada suhu
3000C dan tekanan 2 atm, didalam reaktor terjadi reaksi antara ammonia dan
toluene dan juga dengan penambahan oksigen dari tangki penyimpanan (T-03)
dengan laju alir oksigen sebesar 16800 kg/jam. Reaksi ini disebut reaksi
amoxidasi. Pada reaktor terjadi reaksi eksotermis yaitu menyerap panas, reaktor
PFR juga menggunakan jaket pendingin, hasil konversi antara reaksi ammonia,
toluene dan juga penambahan oksigen mencapai 90 %.
Gas keluaran dari reaktor kemudian dialirkan ke HE-02 untuk
dimanfaatkan panasnya, kemudian keluaran HE-02 dialirkan ke Cooler (CL-01)
untuk didinginkan dari suhu 2500C ke suhu 1200C dengan tekanan 1 atm. Fluida
yang sudah didinginkan di alirkan ke Separator (SP-01) untuk pemisahan
hidrokarbon yang masih tersisa dari hasil konversi pada reaktor, jenis saparator
yang digunakan adalah flash drum, hasil pemisahannya pada produk bawah adalah
benzonitril dan air, sedangkan produk atas hidrokarbon yang dialirkan ke unit
utilitas. Produk bawah Separator berupa benzonitril dan air dipompa ke Menara
Distilasi (MD-01) untuk dipisahkan kembali antara air dan benzonitril. Fluida
yang masuk ke MD-01 dengan laju alir 3591 kg/jam, jenis distilasi yang
digunakan adalah sieve tray dengan total refluk yang digunakan 10 tray,
sedangkan umpan masuk pada tray ke 3. Kondisi operasi pada Condenser dengan
suhu 990C dan pada Reboiler 1740C, sehingga menghasilkan benzonitril pada
produk bawah dan produk atas air yang dipompa ke unit Utilitas. Produk bawah
benzonitril dipompa ke Cooler (CL-02) untuk didinginkan dan selanjutnya di
alirkan ke tangki penyimpanan (T-04), disimpan pada suhu 1100C dan tekanan 1
atm.