Вы находитесь на странице: 1из 19

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mata dapat terkena berbagai kondisi. beberapa diantaranya bersifat primer sedang
yang lain, sekunder akibat kelainan pada sistem organ tubuh lain. kebanyakan kondisi
tersebut dapat dicegah bila terdeteksi awal, dapat dikontrol dan penglihatan dapat
dipertahankan. (Brunner dan Suddarth, 2001)
Infeksi adalah invasi dan pembiakan mikroorganisme pada jaringan tubuh, terutama
yang menyebabkan cedera selular lokal akibat kompetisi metabolisme, toksin, replikasi
intraselular/respon antigen antibodi (dr. Difa Danis, kamus istilah kedokteran , 2002)
Inflamasi dan inefksi dapat terjadi pada beberapa struktur mata dan terhitung lebih dari
setengah kelainan mata. kelainan-kelainan yang umum terjadi pada mata oarng dewasa
meliputi sebagai berikut :
1. Radang/inflamasi pada kelopak mata, konjungtira, kornea, koroid badan ciriary
dan iris
2. Katarak, kekeruhan lensa
3. Glaukoma, peningkatan tekanan dalam bola mata (IOP)
4. Retina robek/lepas
Tetapi sebagian orang mengira penyakit radang mata/mata merah hanya penyakit
biasa cukup diberi tetes mata biasa sudah cukup. padahal bila penyakit radang mata tidak
segera ditangani/diobati bisa menyebabkan kerusakan pada mata/gangguan pada mata dan
menimbulkan komplikasi seperti Glaukoma, katarak maupun ablasi retina. untuk itu kali
ini penulis memusatkan pada pencegahan dan penata laksanaan infeksi/radang mata terdiri
dari konjungtivitis, kerositis dan uveitis (Barbara C.Long, 1996)
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks (pendengaran
dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi seseorang
dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan normal dan
pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain melalui bicara
tergantung pada kemampuan mendengar.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk menambah wawasan pembaca tentang penyakit infeksi mata dan telinga, yang
terdiri dari konjungstivitis, keratitis, uveitis, dan infeksi telinga karena benda asing.
1

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi konjungtivitis, keratitis, uveitis, infeksi telinga karena benda
2.
3.
4.
5.

asing
Mengerti tentang tanda dan gejala infeksi mata dan telinga
Mengetahui macam macam infeksi mata
Mengetahui komplikasi infeksi mata
Mengetahui cara pencegahan dan penatalaksanaan infeksi mata dan telinga

BAB II
TINJAUAN TEORI

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

KONSEP DASAR
A. Definisi
1. Infeksi Pada Mata
a. konjungtivitis
Konjungtivitis (mata merah) adalah inflamasi pada konjungtiva oleh virus,
bakter, clamydia, alergi, trauma (sengatan matahari) (Barbara C Long, 1996).
Konjungtivitas adalah inflamasi peradangan konjungtiva dan ditandai dengan
pembengkakan dan eksudat, matatampak merah sehingga sering disebut penyakit
mata merah.(Brunner dan suddarth, 2001)
b. Keraktitis
Keraktitis adalah inflamasi pada kornea oleh bakteri, virus, hespes simplek,
alergi, kekurangan vit. A . (Barbara C Lonf 1996). Keratitis adalah peradangan
pada kornea, keratitis disebabkan oleh mikrobial dan pemajanan.
Keraktitis Mikrobial adalah infeksi pada kornea yang disebabkan oleh
berbagai organisme bakteri, virus, jamur/parasit. serta abrasi yang sangat bisa
menjadi pintu masuk bakteri. Keraktitis Pemajanan adalah infeksi pada ornea
yang terjadi akibat kornea tidak dilembabkan secara memadai dan dilindungi oleh
kelopak mata kekeringan mata dapat terjadi dan kemudian diikuti ulserasi dan
infeksi sekunder (Brunner dan Suddarth, 2001)
c. Uveitis
Uveitis adalah peradangan pada urea yang terdiri dari 3 struktur yaitu iris,
badan siliar, karoid (www.medicastore.com, 2008). Uveitis adalah invlamasi salah
satu struktur traktus uvea (iris, badan siliar dan karoid). karena uvea mengandung
banyak pembuluh darah yang memberikan nutrisi pada mata maka jika terjadi
peradangan pada lapisan ini dapat mengakibatkan gangguan penglihatan.
(Brunner dan Suddarth, 2001)

2. Infeksi Pada Telinga


a. Impaksi serumen
Impaksi serumen adalah gangguan pendengaran yang timbul akibat
penumpukan serumen di liang telinga dan menyebabkan rasa tertekan yang
mengganggu (Mansjoer, Arif :1999).
b. Otitis
Otitis adalah radang telinga, yang ditandai dengan nyeri, demam, hilangnya
pendengaran, tinitus dan vertigo. Otitis berarti peradangan dari telinga, dan media
berarti tengah. Jadi otitis media berarti peradangan dari telinga tengah.
3

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga


tengah, tuba eustacheus, antrum mastoid, dan sel-sel mastoid/( soepardi, iskandar ,
1990). Otitis media adalah infeksi atau inflamasi pada telinga tengah
(mediastore,2009 )
B. Etiologi
1. Infeksi pada mata
a. Keratitis
1) Organisme bakteri
2) Virus
3) Jamur atau parasit (Brunner dan Suddarth, 2001)
b. Konjungtivitis
1) Bisa bersifat infeksius (bakteri, klamidia, virus, jamur, parasit)
2) Imunologis (alergi)
3) Iritatif (bahan kimia, suhu listrik, radiasi, misalnya akibat sinar ultraviolet)
4) Berhubungan dengan penyakit sistemik. (Brunner dan Suddarth, 2001)
c. Uveitis
1) Alergen
2) Bakteri
3) Jamur
4) Virus
5) Bahan kimia
6) Trauma
7) Penyakit sistemik seperti sarkoidosis, kolitis, ulserativa, spondilitis, ankilosis,
sindroma reiter, pars planitis, toksoplasmosis, infeksi sitomegalovirus,
nekrosis retina akut, toksokariasis, histoplamosis, tuberkulosis, sifilis,
sindroma behcel, oflamia simpatetik, sindroma vogt-hoyanagi-harada,
sarkoma/limfoma. (www.medicastore.com)
2. Infeksi pada telinga
a. Impaksi serumen
Adapun faktor penyebab dari impaksi serumen, antara lain:
1) Dermatitis kronik pada telinga luar,
2) Liang telinga sempit,
3) Produksi serumen terlalu banyak dan kental,
4) Terdorongnya serumen ke lubang lebih dalam (karena kebiasaan mengorek
telinga).
b. Otitis
Biasanya penyakit ini merupakan komplikasi dari infeksi saluran pernafasan
atas (common cold). Penyebab otitis media akut (OMA) dapat berupa virus
maupun bakteri
C. Menifestasi Klinis/Tanda dan Gejala
1. Infeksi pada mata
a. Konjungtivitis
Tanda dan gejala konjungtivitis bisa meliputi
1) Hiperemia (kemerahan)
2) Cairan
4

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

3) Edema
4) Pengeluaran air mata
5) Gatal pada kornea
6) Rasa terbakar/rasa tercakar
7) Seperti terasa ada benda asing
b. Keratitis
Manifestasi klinis dari keratitis meliputi :
1) Inflamasi bola mata yang jelas
2) Terasa benda asing di mata
3) Cairan mokopurulen dengan kelopak mata saling melekat saat bangun
4) Ulserasi epitel
5) Hipopion (terkumpulnya nanah dalam kamera anterior)
6) Dapat terjadi perforasi kornea
7) Ekstrusi iris dan endoftalmitis
8) Fotofobia
9) Mata berair
10) Kehilangan penglihatan bila tidak terkontrol (Brunner dan Suddarth, 2001)
c. Uveitis
Manifestasi klinis dari uveitis meliputi :
Anterior :
1) nyeri mata
2) fotofobia
3) lakrimasi penglihatan kabur
4) pupil kecil
Posterior :
1) penurunan penglihatan
2) tidak nyaman yang ringan pada mata
3) Gejala awal pada uveitis mungkin tidak terlalu berat. penglihatan menjadi
kabur/penderita melihat bintikbintik hitam yang nelayanglayang. pada
iritis biasanya timbul nyeri hebat, kemerahan pada sklera (bagian putih
mata) dan fotofobia.(www.medicastore.com)
2. Infeksi pada telinga
a. Inpaksi serumen
Gejala klinis yang umumnya dirasakan oleh penderita penyakit impaksi serumen,
antara lain :
1) Pendengaran berkurang.
2) Nyeri di telinga karena serumen yang keras membatu menekan dinding liang
telinga.
3) Telinga berdengung (tinitus).
4) Pusing dimana pasien merasakan lingkungan di sekitarnya berputar (vertigo)
b. Otitis
Gejala klinis otitis media akut (OMA) tergantung pada stadium penyakit dan umur
pasien.
5

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

D. Patofisiologi
Sebagian besar infeksi mata disebabkan oleh makroorganisme, irigasi mekanis, atau
sensitivitas terhadap suatu zat. untungnya infeksisi tersebut tidak meningalkan bekas yang
permanen. inflamasi kornea yang berat atau ulkus kornea dapat menyebabkan kerusakan
kornea yang meyebabkan ganguan penglihatan. komplikasi dari uveitis dapat
menimbulkan perekatan, glaukoma sekunder dan hilang penglihatan.
Sebaian besar infeksi mata adalah tembel dan konjungstivitis. Tembel adalah infeksi
folikel bulu mata atau kelenjar pinggir kelopak mata yang relatif ringan. Organisme orang
yang sering menginfeksi adalah stafilokokus. Infeksi ini cenderung berkumpul karena
organisma infeksi menyebar dari folikel rambut yang satu ke yang lainnya. Kebersihan
yang kurang dan gangguan kosmetik yang berlebihan dapat merugikan faktor pendukung.
Orangorang seharusnya diajarkan untuk tidak memencet tembel karena infeksi dapat
menyebar dan menyebabkan selulitis pada kelopak mata.
Konjungtivitis merupakan bagian besar dari penyakit mata dan ada yang akut dan ada
yang kronik. Konjungstivitis bakteri akut biasanya ditularkan oleh kontak langsung. Orang
yang menyentuh matanya dengan jari akan mengkontaminasi bendabenda seperti :
handuk atau lap. Organisme penyebabnya biasanya stafilokokus dan adenovirus.
Konjungstivitis sederhana biasanya tidak lama.
Kadang-kadang pada kanalis dapat terjadi impaksi, yang dapat menyebabkan otalgia,
rasa penuh dalam telinga dan atau kehilangan pendengaran. Penumpukan serumen
terutama bermakna pada populasi geriatrik sebagai penyebab defisit pendengaran . usaha
membersihkan kanalis auditorius dengan batang korek api, jepit rambut, atau alat lain bisa
berbahaya karena trauma terhadap kulit bisa menyebabkan infeksi.
Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga kesterilan
telinga tengah. Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti
radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan infeksi di saluran
tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran, tersumbatnya saluran
menyebabkan transudasi, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri. Sel-sel
darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka sendiri. Sebagai
hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu pembengkakan jaringan
sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang dihasilkan sel-sel di telinga tengah
terkumpul di belakang gendang telinga.
6

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

E. Komplikasi
1. Infeksi pada mata
a. Konjungstivitis
1) Komplikasi pada konjungstivitis kataral teronik merupakan segala penyulit dari
blefaritis seperti ekstropin, trikiasis
2) Komplikasi pada konjungstivitis purulenta adalah seringnya berupa ulkus
kornea
3) Komplikasi pada konjungstivitis membranasea dan pseudomembranasea adalah
bila sembuh akan meninggalkan jaringan perut yang tebal di kornea
dapat mengganggu penglihatan orang menjadi buta
4) Komplikasi konjungstivitis vernal adalah pembentukan jaringan sikratik dapat
mengganggu pengelihatan
b. Keratitis
Komplikasi keratitis
1) Hipopion
2) Perforasi kornea
3) Prognosis
c. Uveitis
Komplikasi uveitis
1) Katarak
2) Retinitis proliferans
3) Ablasi retina
4) Glaukoma sekunder, yang dapat terjadi pada stadium dini dan juga pada stadium
lanjut (dr. Nana Wijana, 1993)
2. Infeksi pada telinga
a. Otitis
1) Infeksi pada tulang di sekitar telinga tengah (mastoiditis atau petrositis)
2) Labirintitis (infeksi pada kanalis semisirkuler)
- Kelumpuhan pada wajah
- Tuli
- Peradangan pada selaput otak (meningitis)
- Abses Otak
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Mata
a. Pemeriksaan tajam penglihatan
b. Pemeriksaan dengan uji konfrontasi, kampimeter dan perimeter (sebagai alat
pemeriksaan lapang pandangan)
c. Pemeriksaan dengan melakukan uji fluoresein (untuk melihat adanya efek epitel
kornea)
d. Pemeriksaan dengan melakukan uji festel (untuk mengetahui letak dan adanya
kebocoran kornea)
e. Pemeriksaan oftalmoskop

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

f. Pemeriksaan dengan slitlamp dan loupe dengan sentolop (untuk melihat benda
menjadi lebih besar dibanding ukuran normalnya) (Prof.dr. H. Sidafta Ilyas, SpM ,
2008)
2. Pemeriksaan telinga
a. CT-Scan tulang tengkorak, mastoid terlihat kabur, ada kerusakan tulang
b. Scan Galium-67, terlihat focus inf akut yg akan kembali normal dgn resolusi inf.
c. Scan Tekhnetium-99, terlihat aktifitas osteoblastik yg akan kembali normal
beberapa bulan setelah resolusi klinik
d. MRI, monitor serebral, pembuluh darah yang terkait
e. tes Laboratorium,sample nanah untuk kultur dan tes sensitivitas antibiotik
f. Ketajaman Auditorius.
G. Penatalaksanaan
1. Infeksi mata
a. Konjungtvitis
Penatalaksanaan, konjungtivitis biasanya hilang sendiri. Tapi, bergantung pada
penyebabnya, terapi dapat meliputi antibiotik sistemik atau topikal, bahan
antiinflamasi, irigasi mata, pembersih kelopak mata, atau kompres hangat.
Bila konjungtivitis disebabkan oleh mikroorganisme, pasien harus diajari bagaimana
cara menghindari kontraminasi mata yang sehat atau mata orang lain. Perawat dapat
memberikan intruksi pada pasien untuk tidak menggosok mata yang sakit dan
kemudian menyentuh mata yang sehat, untuk mencuci tangan setelah setiap kali
memegang mata yang sakit, dan menggunakan kain lap, handuk, dan sapu tangan
baru yang terpisah. Asuhan khusus harus dilakukan oleh personal asuhan kesehatan.
Untuk mengindari penyebaran konjungtivitis antar pasien.
b. Keraktitis
1) Keraktitis Mikrobial
Pasien dengan infeksi kornea berat dirawat untuk pemberian berseri
(kadang sampai tiap 30 menit sekali) tetes anti mikroba dan pemeriksaan berkala
oleh ahli optalmologi. Cuci tangan secara seksama harus memakai sarung
tangan setiap intervensi keperawatan yang melibatkan mata ,kelopak mata harus
dijaga kebersihannya dan perlu diberi kompres dingin. Diperlukan aseaminofen
untuk mengontrol nyeri. Dan diresepkan sikloplegik dan midriatik untuk
mengurangi nyeri dan inflamasi.
2) Keraktitis Pemajanan
Memplester kelopak mata atau membalut dengan ringan mata yang telah
diberi pelumas. Pada yang mengalami penurunan perlindungan sensori terhadap
kornea dapat dipasang lensa kontak lunak tipe-balutan. Lensa kontak lunak tipebalutan dipasang sesuai ukuran. Hal ini untuk mempertahankan permukaan
kornea, mempercepat penyembuhan efek epitel dan memberikan rasa nyaman
8

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Perisai kolagen bisa dipergunakan untuk perlindungan kornea jangka pendek


(Brunne dan Suddarth, 2001)
c. Uveitis
Penatalaksanaan Uveitis
1) Pada uveitis anterior kronis (iritis), obat mata dilatar harus diberikan segera
untuk mencegah pembentukan jaringan parut dan adesi ke lensa. Kortikosteroid
lakal dipergunakan untuk mengurangi peradangan dan kaca mata hitam
2) Pada uveitis intermediat (pars planis, siklitis kronis), diberikan steroid topikal
atau injeksi untuk kasus yang berat
3) Pada uveitis posterior (peradangan yang mengenai khoroid/retina) biasanya
berhubungan dengan berbagai macam penyakit sistemik seperti AIDS.
Kortikosteroid sistemik diindikasikan untuk mengurangi peradangan bersama
dengan

terapi

terhadap

keadaan

sistemik

yang

mendasarinya.

(Brunner dan Suddarth, 2001)


2. Infeksi telinga
a. Inpaksi serumen
Adapun cara-cara untuk mengeluarkan serumen yang menumpuk di liang telinga,
antara lain:
1) Serumen yang lembek dibersihkan dengan kapas yang dililitkan pada aplikator
(pelilit).
2) Serumen yang keras dikeluarkan dengan pengait atau kuret.
3) Serumen yang sangat keras (membatu), dilembekkan terlebih dahulu dengan
karbogliserin 10%, 3 x 5 tetes sehari, selama 3 5 hari, setelah itu dikeluarkan
dengan pengait atau kuret dan bila perlu dilakukan irigasi telinga dengan air
yang suhunya sesuai dengan suhu tubuh.
4) Serumen yang terlalu dalam dan mendekati membran timpani dikeluarkan
dengan cara mengirigasi liang telinga dengan menggunakan air hangat
bersuhu 37 oC agar tidak menimbulkan vertigo karena terangsangnya
vestibuler.
b. Otitis
Terapi bergantung pada stadium penyakitnya. Pengobatan pada stadium awal
ditujukan untuk mengobati infeksi saluran napas, dengan pemberian antibiotik,
dekongestan lokal atau sistemik, dan antipiretik.

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

INFEKSI MATA
A. Pengkajian
1. Pengkajian ketajaman mata
2. Pengkajian rasa nyeri
3. Kesimetrisan kelopak mata
4. Reaksi mata terhadap cahaya/gerakan mata
5. Warna mata
6. Kemampuan membuka dan menutup mata
7. Pengkajian lapang pandang
8. Menginspeksi struktur luar mata dan inspeksi kelenjar untuk mengetahui adanya
pembengkakan 4 inflamasi ( Brunner dan Suddarth, 2001)
B. Analisa Data
1. Data fokus
a. Gatal-gatal
b. Nyeri (ringan sampai berat)
c. Lakrimasi (mata selalu berair)
d. Fotofobia (sensitif terhadap cahaya) atau blepharospasme (kejang kelopak mata)
2. Diagnosa Kemungkinan Penyebab
- Nyeri : pada mata
- Edema mata, sekresi, fotofobia, peningkatan TIO atau inflamasi
- Potensial infeksi,
- Kurang pengetahuan
10

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

- penyebaran ke mata yang tidak sakit


C. Diagosa Keperawatan
1. Nyeri pada mata berhubungan dengan edema mata, fotofobia dan inflamasi.
2. Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea
3. Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang
pengetahuan
4. Gangguan citra tubuh berhubung dengan hilangnya penglihatan
D. Intervensi
1. Nyeri pada mata berhubungan dengan edema mata, fotofobia dan inflamasi.
Tujuan yang diharapkan : Keadaan nyeri pasien berkurang.
Intervensi :
1) Beri kompres basah hangat
Rasionalisasi : Mengurangi nyeri, mempercepat penyembuhan, dan membersihkan
mata
2) Kompres basah dengan NaCL dingin
Rasionalisasi : mencegah dan mengurangi edema dan gatal-gatal yang berat
3) Beri irigasi
Rasionalisasi : untuk mengeluarkan sekret, benda asing/kotoran dan zat-zat kimia
dari mata (Barbara C .Long, 1996)
4) Dorong penggunaaan kaca mata hitam pada cahaya kuat
Rasionalisasi : cahaya yang kuat meyebabkan rasa tak nyaman
5) Beri obat untuk megontrol nyeri sesuai resep
Rasionalisasi : pemakaian obat sesuai resep akan mengurangi

nyeri

(Brunner dan Suddarth, 1996)


2. Gangguan penglihatan berhubungan dengan kerusakan kornea
Tujuan yang diharapkan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi
individu.
Intervensi :
1) Tentukan ketajaman, catat apakah satu atau kedua mata terlibat
Rasionalisasi : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progesif, bila bilateral, tiap mata dapat
berlanjut pada laju yang berbeda tetapi, biasanya hanya satu mata diperbaiki per
prosedur.
2) Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf, orang lain diareanya
Rasionalisasi : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan
menurunkan

cemas

dan

disorientasi

pascaoperatif

(Marilynn E. Doenges, 2000)


3. Potensial infeksi, penyebaran ke mata yang tak sakit berhubungan dengan kurang
pengetahuan
Tujuan yang diharapkan : Infeksi tidak menyebar ke mata sebelahnya (Barbara C
.Long, 1996)
Intervensi :
1) Monitor pemberian antibiotik dan kaji efek sampingnya
Rasionalisasi : mencegah komplikasi
11

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

2) Lakukan tehnik steril


Rasionalisasi : mencegah infeksi silang
3) Lakukan
penkes
tentang
pencegahan

dan

penularan

penyakit

Rasionalisasi : memberikan pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri


(Tarwoto dan Warunnah, 2003)
4. Gangguan citra tubuh berhubung dengan hilangnya penglihatan
Tujuan yang diharapkan : Menyatakan dan menunjukkan penerimaan atas penampilan
tentang penilaian diri
Intervensi :
1) Berikan pemahaman tentang kehilangan untuk individu dan orang dekat,
sehubungan dengan terlihatnya kehilangan, kehilangan fungsi, dan emosi yang
terpendam
Rasionalisasi : Dengan kehilangan bagian atau fungsi tubuh bisa menyebabkan
individu melakukan penolakan, syok, marah, dan tertekan
2) Dorong individu tersebut dalam merespon terhadap kekurangannya itu tidak
dengan penolakan, syok, marah,dan tertekan
Rasionalisasi : Supaya pasien dapat menerima kekurangannya dengan lebih ikhlas
3) Sadari pengaruh reaksi-reaksi dari orang lain atas kekurangannya itu dan dorong
membagi perasaan dengan orang lain.
Rasionalisasi : Bila reaksi keluarga bagus dapat meningkatkan rasa percaya diri
individu dan dapat membagi perasaan kepada orang lain.
4) Ajarkan individu memantau kemajuannya sendiri
Rasionalisasi : Mengetahui seberapa jauh kemampuan individu dengan
kekurangan yang dimiliki (Lynda Jual Carpenito, 1998)
INFEKSI TELINGA
A. Pengkajian
1. Biodata pasien dan penanggung jawab
2. Riwayat kesehatan
Keluhan utama saat MRS
Penderita biasanya mengeluhkan pendengarannya mulai menurun, nyeri,
telinga berdengung, dan pusing dimana pasien merasakan lingkungan di
sekitarnya berputar (vertigo).
Riwayat kesehatan masa lalu
Riwayat kesehtan masa lalu yang berhubungan dengan penyakit impaksi
serumen adalah kebiasaan membersihkan telinga yang tidak benar.
3. Pola kebutuhan dasar manusia
Pola kebutuhan dasar manusia meliputi :
Pola napas
Pola makan dan minum
Pola eliminasi (BAB dan BAK)
Pola istirahat dan tidur
12

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Pola berpakaian
Pola rasa nyaman
Pola kebersihan diri
Pola rasa aman
Pola komunikasi
Pola beribadah
Pola produktivitas
Pola rekreasi
Pola kebutuhan belajar
B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d. agen cedera biologi
2. Gangguan persepsi dan sensori (auditori) b.d. perubahan persepsi sensori
3. Gangguan harga diri b.d. stigma berkenaan dengan kondisi
4. Kurang pengetahuan b.d kurang terpapar informasi mengenai penyakit
5. Resiko infeksi b.d trauma pada kulit
C. Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut b.d. agen cedera biologi
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan rasa nyeri pasien berkurang
dengan KH:
Pasien tampak rileks,
skala nyeri (1-3)
Intervensi :

Kaji ulang keluhan nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas.
Berikan posisi yang nyaman pada pasien.
Tingkatkan periode tidur tanpa gangguan
Dorong menggunakan teknik manajemen nyeri, seperti nafas dalam
Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi (analgesik).

Rasional
Memberikan informasi untuk membantu dalam menentukan pilihan atau
keefektifan intervensi.
Untuk meningkatkan relaksasi.
Dapat mengurangi rasa nyeri pasien
Meningkatkan relaksasi dan mengurangi

nyeri,

Diberikan

untuk

menghilangkan nyeri dan memberikan relaksasi mental dan fisik.


2. Gangguan persepsi dan sensori (auditori) b.d. perubahan persepsi sensori
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan
Gangguan persepsi sensori berkurang / hilang dengan KH :
Pasien dapat mendengar dengan baik
Pasien tidak meminta untuk mengulang setiap pertanyaan yang diajukan
kepadanya
13

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Intervensi
Memandang ketika sedang berbicara
Kaji ketajaman pendengaran pasien
Menggunakan tanda tanda nonverbal (mis. Ekspresi wajah, menunjuk,
atau gerakan tubuh) dan bentuk komunikasi lainnya.
Anjurkan kepada keluarga atau orang terdekat klien untuk tinggal bersama
klien
Anjurkan kepada pasien dan keluarga untuk mematuhi program teraphy
Rasional
Menunjukkan perhatian dan penghargaan
Untuk mengetahui tingkat ketajaman pendengaran pasien dan untuk
menentukan intervensi
Membantu klien untuk mempersepsikan informasi
Untuk menghindari perasaan terisolasi pasien
Mematuhi program therapy akan mempercepat proses penyembuhan
3. Gangguan harga diri b.d. stigma berkenaan dengan kondisi
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 3x24 jam diharapakan gangguan
harga diri pasien teratasi dengan KH :
Bicara/berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan
yang telah terjadi
Mengungkapkan

penerimaan

pada

diri

sendiri

dalam

situasi

Mengenali dan menggabungkan perubahan dalam konsep diri dalam cara


yang akurat tanpa menimbulkan harga diri yang negatif.
Intervensi
Kaji

luasnya

gangguan

persepsi

dan

hubungkan

derajat

ketidakmampuannya
Dorong klien untuk mengeksplorasi perasaan tentang kritikan orang
lain.Diskusikan cara koping perasaan ini dan bagaimana menerima
ketidaksetujuan orang lain tanpa mengalami perasaan gagal
Identifikasi arti dari kehilangan/disfungsi/perubahan pada pasien
Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaannya termasuk rasa
bermusuhan dan perasaan marah
Rasional

14

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Penentuan

faktor-faktor

secara

individual

membantu

dalam

mengembangkan perencanaan asuhan/intervensi.


Mungkin memiliki perasaan tidak realistik saat dikritik dan perlu
mempelajari

bagaimana

pertumbuhan

pribadi

menerapkan
bukan

kriktik

merusak

diri

konstruktif

untuk

sendiri.Membantu

mengembangkan percaya pada kemampuan dan penilaian sendiri


disamping apa yang dipikirkan orang lain
Kadang-kadang pasien menerima dan mengatasi gangguan fungsi secara
efektif dengan sedikit penanganan, dilain pihak ada juga orang yang
mengalami kesulitan dalam menerima dan mengatasi kekurangannya
Mendemontrasikan penerimaan/membantu pasien untuk mengenal dan
mulai memahami perasaan ini
4. Kurang pengetahuan b.d kurang terpapar informasi mengenai penyakit
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1x24 jam kebutuhan akan informasi
terpenuhi dengan KH :
pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit
Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
Intervensi
Tentukan persepsi pasien tentang proses penyakit
Tinjau
proses
penyakit
dan
harapan

masa

depan

Berikan informasi mengenai penanganan dan pengobatan, interaksi,efek


samping dan pentingnya ketaatan pada program
Berikan HE pada pasien
Rasional
Membuat pengetahuan dasar dan memberikan kesadaran kebutuhan belajar
individu
Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan
Meningkatkan pemahaman dan meningkatkan kerja sama dalam proses
penyembuhan
Diharapkan pasien memahami kondisi dan penanganan penyakit yang
dialami
5. Resiko infeksi b.d trauma pada kulit
Setelah diberikan tindakan keperawatan 3X24 jam diharapkan tidak terjadi tandatanda infeksi. Kriteria Hasil :

15

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Tidak

terdapat

tanda

tanda

infeksi

seperti:

Kalor,dubor,tumor,dolor,dan fungsionalasia.
TTV dalam batas normal
Intervensi

Kaji tanda tanda infeksi


Pantau TTV,terutama suhu tubuh.
Ajarkan teknik aseptik pada pasien
Cuci tangan sebelum memberi asuhan keperawatan ke pasien.

Rasional
Untuk mengetahui apakah pasian mengalami infeksi. Dan untuk
menentukan tindakan keperawatan berikutnya.
Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahuikeadaan umum pasien.
Perubahan suhu menjadi tinggi merupakan salah satu tanda tanda infeksi.
Meminimalisasi terjadinya infeksi
Mencegah
terjadinya
infeksi
nosokomial.

16

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Mata merupakan bagian yang sangat peka. mata dapat terjadi infeksi mata/radang
mata yang disebabkan oleh virus, bakteri, trauma, penyakit sistemik, ataupun sensitivitas
terhadap suatu zat. seperti halnya konjungstivitis (peradangan pada konjungtiva), keratitis
(peradangan pada kornea) dan uveitis (peradangan pada uvea yaitu iris, badan siliar,
karoid). tanda dan gejala pada infeksi mata biasanya gatal-gatal, nyeri (ringanberat) ,
lakrimasi dan fotofobia. Bila infeksi mata ini tidak segera diobati bisa menyebabkan
kerusakan pada mata dan menimbulkan beberapa komplikasi, pada konjungstivitis
komplikasinya dapat berupa ulkus kornea dan meninggalkan jaringan perut, komplikasi
keratitis dapat berupa hipopion, perforasi kornea, prognosis sedangkan komplikasi pada
uveitis dapat berupa katarak, ablasi retina maupun katarak. therapi medik untuk infeksi
mata dapat diberikan antibiotik topikal, obat tetes steroid, sulfat atropin, douridin dan
kompres basah kortikosteroid.
Telinga adalah organ penginderaan dengan fungsi ganda dan kompleks
(pendengaran dan keseimbangan) . Indera pendengaran berperan penting pada partisipasi
seseorang dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Sangat penting untuk perkembangan
normal dan pemeliharaan bicara, dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain
melalui bicara tergantung pada kemampuan mendengar.
Benda asing merupakan benda yang berasal dari luar tubuh atau dari dalam tubuh
yang dalam keadaan normal tidak ada. Telinga sering kemasukan benda asing. Kejadian
tersebut kejadian tersebut banyak penyebabnya, pada orang dewasa biasanya dengan
mencoba membersihkan kanalis eksternus atau mengurangi gatal atau pada anak-anak
yang dengan sengaja memasukkan benda tersebut ke dalam telinganya sendiri.benda
asing di telinga dapat memiliki efek atau tidak. Bisa tanpa gejala sampai dengan gejala
nyeri berat sampai dengan terjadinya penurunan pendengaran. Kejadian tersebut
terkadang dianggap remeh oleh penderita atau keluarganya.

17

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

B. Saran
1. Untuk klien yang terkena penyakit infeksi mata, penulis berharap klien segera berobat
atau infeksi tersebut segera diobati agar tidak terjadi kerusakan pada mata atau
komplikasi-komplikasi yang lain
2. Kita harus menjaga kebersihan mata dan menghindari kosmetik yang berlebihan,
karena kosmetik yang berlebihan merupakan faktor pendukung terjadinya infeksi
mata.
3. Untuk klien yang terkena infeksi mata, disarankan untuk tidak menggosok mata yang
sakit lalu menyentuh mata yang sehat atau menggunakan sapu tangan. hal ini untuk
menghindari kontaminasi mata yang sehat dengan yang sakit.
4. Kebiasaan terlalu sering memakai cotton bud untuk membersihkan telinga sebaiknya
dijauhi karena dapat menimbulkan beberapa efek samping seperti kulit telinga kita
yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang berguna untuk membuat gerakan menyapu
kotoran di telinga kita akan rusak, sehingga mekanisme pembersihan alami ini akan
hilang. Jika kulit kita lecet dapat terjadi infeksi telinga luar yang sangat tidak nyaman
dan kemungkinan lain bila terlalu dalam mendorong Cottonbud, maka dapat melukai
atau menembus gendang telinga. Sebaiknya bersihkan telinga 2-3 kali dalam
seminggu.
5. Hindarkan memberi mainan berupa biji-bijian pada anak-anak, dapat tejadi bahaya di
atas atau juga dapat tertelan dan yang fatal dapat menyumbat jalan nafas (obstruksi
jalan nafas

DAFTAR PUSTAKA
18

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga

Carpenito,Lynda Juall.2006.Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Edisi 10.EGC:Jakarta


George L, Adams.1997.Buku Ajar Penyakit THT.Edisi 6.EGC:Jakarta
Abidin, Taufik.2009.Otitis Media Akut.http:/library.usu.ac.id(10 September 2009)
Adams,George L.dkk.1997.Boies:Buku Ajar Penyakit THT.Ed 6 : Jakarta.EGC
Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah vol 3. Ed 8 : Jakarta. EGC
Doungoes, marilyn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perencanaan Dan pendokumentasian perawatan pasien. Ed 3 : Jakarta. EGC
Mansjoer,Arief,dkk. 1999. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3: Jakarta.Mediaaesculapius
www. iranichi.multiply.com
www.blogdokter.net/2008/.../untung-ruginya-kotoran-telinga

19

Asuhan Keperwatan infeksi pada mata dan telinga