You are on page 1of 3

BAGAIMANA SIH YANG SEHARUSNYA?

Nama : I Made Pradana Kusuma Putra


Kelas : XI MIPA 4
Kurikulum merupakan perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan
oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan, yang berisi rancangan pelajaran yang akan
diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan
perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang
pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut, serta kebutuhan lapangan kerja. Lama
waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem
pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan
pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara
menyeluruh. (Primayandi, 2012)
Di Indonesia, kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum 2013. Namun, berita
yang simpang siur yang menyebutkan bahwa Kurikulum 2013 akan dihapus dan akan kembali
menjadi KTSP 2006. Menteri Pendidikan Anies Baswedan akhirnya melakukan revisi terhadap
Kurikulum 2013 tersebut dikarenakan Kurikulum 2013 memiliki sistem yang rumit seperti
perkuliahan dan materi yang tidak jelas.
Menurut Aulia Ahmadi (2016) kekurangan dari Kurikulum 2013 sebelum direvisi adalah
1). Guru banyak salah kaprah, karena beranggapan dengan Kurikulum 2013, guru tidak perlu
menjelaskan materi kepada siswa di kelas, padahal banyak mata pelajaran yang harus tetap ada
penjelasan oleh guru. 2). Banyak guru yang belum siap secara mental dengan Kurikulum 2013
ini, karena kurikulum ini menuntut guru lebih kreatif, pada kenyataannya sangat sedikit para
guru yang seperti itu. 3). Tugas menganalisis SKL, KI, KD buku siswa dan buku guru belum
sepenuhnya dikerjakan oleh guru, dan banyaknya guru yang hanya menjadi plagiat dalam kasus
ini. 4). Terlalu banyak materi yang harus dikuasai oleh siswa, sehingga tidak setiap materi bisa
tersampaikan dengan baik, belum lagi persoalan guru yang kurang berdedikasi terhadap mata
pelajaran yang dia mampu. 5). Beban belajar siswa dan guru terlalu berat, sehingga waktu belajar
di sekolah terlalu lama. Dan 6). Penguasaan teknologi dan informasi untuk pembelajaran masih
terbatas.
Kemudian, dilakukan beberapa perubahan penilaian dalam K13 yang diterapkan dalam
tahun ini, antara lain: 1). Penilaian sikap, 2). Ketuntasan belajar, 3). Mekanisme dan prosedur, 4).

Pengolahan, 5). Laporan hasil belajar dan 6). Konsep penilaian. Kurikulum 2013 yang sekarang
berlaku, dibuat lebih sederhana dan lebih terstruktur, dan beban siswa dan guru sedikit dikurangi
(Abdulah, 2016).
Kurikulum yang berlaku pasti berpengaruh terhadap proses belajar mengajar di kelas.
Saat ini, guru di kelas banyak yang hanya datang ke kelas untuk memberikan tugas, ataupun
mereka mengajarkan materi dengan cara hanya membacakan materi dan hanya duduk di meja
guru. Cara yang dilakukan oleh guru tersebut akan menambah beban sebagai siswa, karena
materi yang dibacakan oleh guru belum tentu dimengerti oleh siswa, dan siswa tidak dilatih
untuk berfikir kreatif dan efisien, karena secara tidak langsung, cara mengajar tersebut membuat
siswa bosan. Perkembangan yang dilakukan oleh banyak pihak untuk membuat kegiatan belajar
mengajar lebih menarik, contohnya adalah membuat aplikasi pembelajaran, animasi, ataupun
dengan powerpoint, merupakan hal yang sangat baik dilakukan oleh guru, dengan syarat materi
yang dijelaskan mudah dimengerti oleh siswa. Namun, realita yang sekarang terjadi adalah siswa
yang malah lebih mengerti kemajuan teknologi dibandingkan gurunya. Terkadang, guru meminta
bantuan muridnya untuk membuat atau menjalankan aplikasi pembelajarannya. Dan juga, dengan
kemajuan teknologi saat ini, siswa rata-rata sudah memiliki smartphone dan mereka dapat
mencari informasi lebih luas tentang pelajarannya atau informasi.
Sistem

mengajar

guru

yang

dilakukan

terhadap

muridnya,

dapat

dikatakan

membosankan, karena guru hanya membacakan materi kepada muridnya yang ada di buku.
Padahal murid sudah membeli buku dan dapat membaca sendiri di rumah.
Dengan direvisinya Kurikulum 2013, sikap dan prilaku siswa juga masuk ke dalam
penilaian. Namun, sikap dan perilaku siswa tidaklah selalu sama setiap harinya, tergantung dari
suasana dan guru yang mengajar. Jadi, penilaian guru terhadap siswanya tentang sikap dan
perilaku berbeda-beda setiap mata pelajaran atau setiap guru. Namun, realita yang terjadi,
penilaian terhadap siswa di buku hasil pembelajaran atau yang lebih dikenal dengan Rapor,
setiap siswa sama, baik yang sifatnya kurang baik, ataupun yang baik, dan nilai di luar mata
pelajaran baik ekstra atau club, juga disamakan setiap siswa. Apakah penilaian sikap dan
perilaku tersebut yang dibuat dan dilampirkan pada rapor hasil pembelajaran yang ditunjukan
kepada orang tua siswa diperlukan? Karena realita yang terjadi, guru hanya menuliskan kategori
(A, B, C, D) dengan kalimat yang hampir sama, hanya saja diganti atau ditambahkan satu dua
kata saja pada setiap murid.

Jadi, dengan direvisinya Kurikulum 2013 sebaiknya guru sudah mulai belajar dan
mengikuti perkembangan teknologi dengan ruang lingkup yang baik, dalam cara belajar
mengajar kepada siswa, karena cara yang lama dapat dikatakan membosankan bagi murid dan
cara tersebut membuat murid mengantuk, dan dalam penilaian Kurikulum 2013 dalam beberapa
aspek, sebaiknya diberikan penilaian sikap dan perilaku yang sesuai dengan kenyataannya saja.
Tidak dengan istilahnya copy-paste punya siswa lain, dengan maksud mempermudah membuat
hasil pembelajaran atau rapor. (prd)