You are on page 1of 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perusahaan merupakan perhimpunan individu yang mengoordinasikan diri
mereka sendiri untuk mengubah masukan menjadi keluaran. Individu yang berbeda
akan menyediakan jenis masukan yang berbeda, seperti keterampilan dan berbagai
peralatan modal, dengan harapan dapat memperoleh imbalan dari melakukan hal
tersebut. Oleh karena itu, perusahaan diasumsikan memiliki tujuan utama yaitu
memaksimumkan labanya. Hal ini dilakukan untuk memenuhi harapan dari setiap
individu dalam perusahaan tersebut. Perusahaan yang memaksimumkan laba adalah
perusahaan yang memilih baik masukan maupun keluaran dengan tujuan tunggal
untuk mencapai laba ekonomi maksi-mum, yaitu perusahaan menjadikan selisih
antara pendapatan total dan biaya ekonomi total sebesar mungkin (Nicholson 1995).
Agar tujuan suatu perusahaan tercapai, perusahaan tersebut harus mampu bersaing
dengan perusahaan lain dalam suatu pasar.
Persaingan merupakan suatu proses dinamik yang dilakukan antarperusahaan
atau penjual dengan tujuan memenangkan per-saingan (Indiastuti 2011). Masalah
keputusan setiap perusahaan dalam memaksimumkan laba adalah menentukan
berapa jumlah barang yang tepat yang harus diproduksi sehingga laba ekonomi yang
diperoleh optimum. Secara empiris, strategi yang digunakan perusahaan dalam
menentukan jumlah barang yang diproduksi agar dapat bersaing di pasar perlu
diperhitungkan karena memiliki kemungkinan untuk memengaruhi harga dan
ekuilibrium pasar. Prinsip ekonomi mikro dalam area manajemen telah banyak
memberi tuntunan dalam penentuan harga agar keuntungan maksimum (Misanam
2007). Tulisan yang dibuat berdasarkan paper Keen dan Standish (2006) ini akan
menambah referensi mengenai penentuan tingkat produksi agar keuntungan
maksimum, khususnya saat setiap perusahaan dalam pasar oligopoly menanggapi
strategi perusahaan saingannya. Penanggapan strategi yang dimaksud adalah dengan

menganggap tingkat produksi perusahaan lawan tidak lagi konstan. Secara matematis
pernyataan di atas setara dengan mengatakan bahwa laju perubahan jumlah produk
perusahaan terhadap jumlah produk perusahaan tidak sama dengan nol.
B. Rumusan Masalah
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang

BAB II
PEMBAHASAN
MAKSIMISASI LABA DAN PENAWARAN
Dalam bab ini, kita akan memusatkan perhatian pada tingkat keluaran yang
dipilih oleh perusahaan-perusahaan yang memaksimumkan laba. Sebelum meneliti
keputusan tersebut, sifat perusahaan dan cara-cara dimana pilihan-pilihan perusahaan
dianalisis perlu dibahas terlebih dahulu secara singkat. Pembahasan ini akan menjadi
dasar pembahasan kita tentang maksimalisasi laba dalam bab ini dan alternatif lain
yang kita telaah dalam Bab 14.
Seperti telah kami tunjukkan di awal analisis kita tentang produksi, sebuah
perusahaan merupakan perhimpunan individu yang mengorganisasikan diri mereka
sendiri dengan maksud mengubah masukan menjadi keluaran. Para individu yang
berbeda akan menyediakan jenis-jenis masukan yang berbeda, seperti keterampilan
kerja dan berbagai peralatan modal, dengan harapan dapat menerima imbalan tertentu
dari melakukan hal tersebut.
Sifat hubungan kontraktual di antara para penyedia masukan untuk sebuah
perusahaan kemungkinan cukup rumit. Setiap penyedia masukan sepakat untuk
menyerahkan masukannya untuk kegiatan produksi berdasarkan sekelompok
pemahaman tentang bagaimana masukan tersebut dipergunakan dan apa manfaat
yang diharapkan dari penggunaan itu. Dalam beberapa kasus, kontrak ini dinyatakan
secara eksplisit. Para pekerja sering kali menegosiasikan kontrak yang menyatakan
secara cukup terperinci hal-hal seperti jam kerja, peraturan kerja yang harus diikuti,
dan tingkat upah yang diharapkan. Demikian pula, para pemilik modal menanam
modal dalam sebuah perusahaan berdasarkan sekelompok prinsip hukum yang
eksplisit tentang cara-cara modal tersebut dipergunakan, kompensasi yang dapat
diharapkan untuk diterima oleh pemilik modal tersebut, dan apakah pemilik tersebut
menahan setiap laba atau kerugian setelah semua biaya ekonomi dibayarkan.
Walaupun terdapat pengaturan formal ini jelas bahwa banyak pemahaman antara

penyedia masukan dengan perusahaan bersifat implisit. Hubungan antara para


manajer dan pekerja mengikuti prosedur tertentu tentang siapa yang memiliki
kewenangan untuk melakukan hal tertentu dalam mengambil keputusan produksi. Di
antara para pekerja terdapat berbagai pemahaman yang implisit tentang bagaimana
tugas disebarkan, dan para pemilik modal kemungkinan mendelegasikan sebagian
besar dari kewenangan mereka kepada para manajer dan pekerja untuk mengambil
keputusan atas nama mereka (para pemegang saham). General motor misalnya, tidak
pernah terlibat dalam bagaimana peralatan jalur perakitan dipergunakan, walaupun
secara teknis mereka memilikinya. Semua hubungan yang eksplisit dan implisit ini
berubah sebagai tanggapan terhadap pengalaman dan kejadian-kejadian di luar
perusahaan. Sama seperti kebanyakan tim bola basket yang selalu mencoba
permainan dan strategi pertahanan yang baik. Perusahaan juga mengubah sifat
organisasi internal mereka untuk mencapai hasil jangka panjang yang lebih baik.
Hubungan yang rumit antara penyedia masukan dengan perusahaan ini
menghadirkan beberapa masalah bagi para ekonom yang berkeinginan untuk
mengembangkan generalisasi teoritis tentang bagaimana perusahaan berperilaku.
Dalam studi kita tentang teori permintaan, masuk akal bagi kita untuk membicarakan
tentang pilihan-pilihan yang dibuat oleh seorang konsumen yang rasional, karena kita
hanya meneliti keputusan-keputusan dari satu orang. Tetapi untuk perusahaan, banyak
individu kemungkinan terlibat dalam keputusan, dan setiap studi yang terperinci
tentang keputusan-keputusan seperti ini akan segera tenggelam dalam kesulitan topiktopik psikologi, sosiologi dan dinamika kelompok.
Walaupun beberapa ekonom telah menerapkan pendekatan perilaku seperti
itu untuk mempelajari keputusan-keputusan perusahaan, kebanyakan menemukan
bahwa pendekatan itu terlalu menyulitkan untuk masukan umum. Sebaliknya, mereka
menerapkan pendekatan holistik yang memperlakukan perusahaan sebagai satu unit
pengambilan keputusan dan menyingkirkan semua masalah perilaku yang rumit
tentang hubungan di antara para penyedia masukan. Berdasarkan pendekatan ini,
sering kali memudahkan untuk mengasumsikan bahwa keputusan-keputusan sebuah

perusahaan dibuat oleh seorang manajer diktator yang secara rasional mengejar
sasaran tertentu. Kadang-kadang, masalah yang timbul dalam kompleksitas prosedur
pengambilan keputusan yang aktual dalam perusahaan dimasukkan untuk
memperlihatkan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi kemampuan manajer
diktator tersebut untuk mencapai sasaran yang diinginkan, tetapi sebagian besar
diasumsikan bahwa manajer tersebut dapat bekerja dengan bebas.
Jika perusahaan secara ketat berusaha memaksimumkan laba, mereka akan
membuat keputusan secara marginal. Wirausahawan tersebut akan melakukan
eksperimen

konseptual

untuk

menyesuaikan

variabel-variabel

yang

dapat

dikendalikan sampai laba tidak mungkin ditingkatkan lebih lanjut lagi. Hal ini
melibatkan, katakanlah, melihat pada tambahan atau marginal yang dapat diperoleh
dari mempekerjakan satu tenaga kerja tambahan. Selama laba tambahan ini positif,
keluaran tambahan akan dihasilkan tenaga kerja tambahan akan diperkerjakan. Ketika
laba tambahan dari satu kegiatan menjadi nol, wirausahawan tersebut telah
mendorong kegiatan tersebut cukup jauh, dan melangkah lebih lanjut tidak akan
menguntungkan.
Hubungan ini antara maksimalisasi laba dan marginalisme dapat paling jelas
diperlihatkan jika kita meneliti tingkat keluaran yang dipilih untuk diproduksi
perusahaan ketika berusaha untuk memperoleh laba maksimum. Pertama, kita harus
mendefinisikan laba. Dalam kegiatannya, perusahaan menjual tingkat keluaran
tertentu q, dengan harga pasar P per unit. Penghasilan total (TR) karena itu diketahui :
TR(q) = P(q).q
Selisih antara pendapatan dan biaya disebut laba ekonomi (g) karena baik
pendapatan dan biaya bergantung pada jumlah yang diproduksi, laba ekonomi akan
juga bergantung pada jumlah tersebut, yaitu :
(q) = P(q).q TC(q) = TR(q) TC(q)

(13.1)

Kondisi yang diperlukan untuk memilih nilai q yang memaksimumkan laba


ditemukan dengan menetapkan derivatif. Persamaan di atas dalam kaitannya dengan q
menjadi sama dengan O.

d
dTR dTC
' ( q)

O
dq
dq
dq

(13.2)

Sehingga kondisi order pertama untuk maksimum adalah bahwa :


dTR dTC

dq
dq

(13.3)

Persamaan ini semata-mata merupakan pernyataan matematis bahwa


pendapatan marginal sama dengan biaya marginal yang bisa dipelajari dalam mata
kuliah pengantar ekonomi. Jadi, kita memiliki prinsip berikut ini :
Prinsip Optimalisasi
Maksimisasi laba (Profit Maximum) untuk memaksimumkan laba ekonomi,
perusahaan harus memilih keluaran di mana pendapatan marginal sama dengan biaya
marginal, yaitu :
dTR

dTC

MR = dq dq = MC

(13.4)

Pendapatan Marginal Harus Sama dengan Biaya Marginal untuk Maksimisasi


Laba
Karena laba didefinisikan sebagai pendapatan (TR) dikurangi biaya (TC), jelas
bahwa laba mencapai maksimum ketika kemiringan fungsi pendapatan margin sama
dengan kemiringan fungsi biaya (biaya marginal). Kesamaan ini baru merupakan
kondisi yang diperlukan untuk maksimum seperti telihat dengan membandingkan q*
(maksimum yang sebenarnya) dan q** (minimumnya sebenarnya), dimana di kedua
titik tersebut pendapatan marginal sama dengan biaya marginal.
Tidak mempengaruhi harga pasar, pendapatan marginal sama dengan harga
penjualan satu unit.

Tetapi, sebuah perusahaan kemungkinan tidak dapat menjual sebesar yang


diinginkannya dalam harga pasar yang berlaku. Jika perusahaan menghadapi kurva
permintaan dengan kemiringan yang menurun untuk barangnya, tingkat keluaran
yang lebih tinggi dapat dijual hanya dengan menurunkan harga barang. Dalam kasus
ini, pendapatan yang diperoleh dari penjualan satu unit tambahan akan lebih kecil
daripada harga unit tersebut, karena untuk membuat para konsumen membeli unit
tambahan tersebut, harga semua unit harus diturunkan. Hasil ini dapat dengan mudah
didemonstrasikan.

Seperti

sebelumnya,

pendapatan

total

(TR)

semata-mata

merupakan hasil perkalian antara jumlah yang dijual (q) dengan harga penjualan (P),
yang kemungkinan bergantung pula pada q. pendapatan marginal (MR) jadi
didefinisikan sebagai perubahan dalam TR yang dihasilkan dari perubahan dalam q.

Pendapatan Marginal (Marginal Revenue)


Pendapatan marginal = MR(q) =

dTR d(P( q).q)


dP

P q.
dq
dq
dq

Perhatikan bahwa pendapatan marginal adalah fungsi dari keluaran. Secara


umum, MR akan berbeda untuk tingkat q yang berbeda. Dari persamaan di atas,
mudah untuk dilihat bahwa jika harga tidak berubah sementara harga meningkat
(dP/dq =0), maka pendapatan marginal akan sama dengan laba. Dalam kasus ini, kita
mengatakan bahwa perusahaan tersebut merupakan penerima harga, karena
keputusan-keputusannya tidak mempengaruhi harga yang diterimanya. Sebaliknya,
jika harga turun sementara jumlah meningkat (dP/dq<0), maka pendapatan marginal
akan lebih kecil daripada harga. Seorang wirausahawan yang memaksimumkan laba
harus mengetahui bagaimana kenaikan dalam keluaran akan mempengaruhi laba yang
diterima sebelum mengambil keputusan keluaran yang optimal. Jika kenaikan dalam
q menyebabkan harga pasar menurun, hal ini harus dipertimbangkan pula.
Konsep pendapatan marginal secara langsung berkaitan dengan konsep
elastisitas permintaan yang dikembangkan. Ingat bahwa elastisitas permintaan pasar
(eQP) didefinisikan sebagai perubahan presentase dalam jumlah yang dihasilkan dari
perubahan sebesar 1 persen dalam harga :
MR = P

qdP
q dP
1
P 1 .
P 1

dq
p
dq
eq
.P

(13.5)

Jika kurva permintaan yang dihadapi sebuah perusahaan memiliki kemiringan


negatif, eq.P<0 dan pendapatan marginal akan lebih kecil daripada harga seperti yang
telah diperlihatkan. Jika permintaan bersifat elastik (eq.P,-1), pendapatan marginal
akan positif. Jika permintaan bersifat elastik, penjualan satu unit tambahan tidak akan
banyak mempengaruhi pendapatan, sehingga pendapatan tambahan akan dihasilkan
dari penjualan tersebut. Pada kenyataannya, jika permintaan yang dihadapi sebuah
perusahaan bersifat elastis secara tidak terbatas (Eq.P=-), pendapatan marginal akan
sama dengan harga. Perusahaan tersebut, dalam kasus ini, merupakan penerima harga.
Tetapi jika permintaan tidak elastik (eq.P>-1), pendapatan marginal akan negatif.

Kenaikan dalam q hanya dapat diperoleh melalui penurunan besar dalam harga
pasar, dan penurunan ini pada kenyataannya mengakibatkan pendapatan total
menurun.
Jika kita mengasumsikan perusahaan untuk memaksimumkan laba. Persamaan
di atas dapat diperluas untuk mengilustrasikan hubungan antara harga dan biaya
marginal. Menetapkan MR = MC menghasilkan

MC=P 1

eq.P

(13.6)

Kurva Pendapatan Marginal


Setiap kurva permintaan memiliki kurva pendapatan marginal yang berkaitan
dengannya. Jika, seperti yang sering kita asumsikan, perusahaan harus menjual semua
keluarannya dengan satu harga, memudahkan bagi kita untuk memandang kurva
permintaan yang dihadapi sebuah perusahaan sebagai kurva pendapatan rata-rata,
yaitu kurva permintaan menunjukkan pendapatan per unit (dengan kata lain, harga)
yang dihasilkan dari pilihan-pilihan keluaran alternatif. Kurva pendapatan marginal,
sebaliknya, memperlihatkan tambahan yang diberikan oleh unit terakhir yang terjual.
Dalam kasus kurva permintaan dengan kemiringan menurun yang biasa, untuk tingkat
keluaran yang lebih besar dari q1, pendapatan marginal negatif. Sementara keluaran
meningkat dari 0 ke q1, pendapatan total (P.q) meningkat. Tetapi di q1, pendapatan
total (P1.q1) maksimum, melewati tingkat keluaran ini, harga menurun secara
proporsional lebih cepat daripada kenaikan keluaran.
Kemungkinan pergeseran kurva permintaan karena perubahan dalam
pendapatan, harga barang lain, dan prefensi. Ketika kurva permintaan bergeser, kurva
pendapatan marginal yang berkaitan dengannya juga bergeser. Hal ini jelas, karena
kurva pendapatan marginal tidak dapat dihitung tanpa merujuk pada kurva
permintaan tertentu. Dalam analisis berikutnya, kita akan mengingat jenis pergeseran
yang terjadi pada kurva pendapatan marginal ketika permintaan terhadap produsen
berubah.

Karena kurva permintaan memiliki kemiringan negatif, kurva pendapatan


akan berada di bawah kurva permintaan (pendapatan rata-rata). Untuk tingkat
keluaran yang lebih tinggi dari q1, MR negatif. Di q1, pendapatan total (P1 X q1),
maksimum melewati titik lini kenaikan tambahan dalam q pada kenyataannya akan
menyebabkan pendapatan total menurun, karena secara bersamaan terjadi pula
penurunan harga.
Harga

D (pendapatan rata-rata)
P1

Jumlah per periode

q1
MR

Dalam jangka pendek, perusahaan penerima harga akan memproduksi tingkat


keluaran dimana SMC = P. di P, misalnya perusahaan tersebut akan memproduksi
q. kurva untuk harga di bawah SAVC, perusahaan tersebut akan memilih untuk tidak
memproduksi keluaran sama sekali. Garis tebal dalam gambar ini akan mewakili
kurva penawaran jangka pendek perusahaan ini.

Penerima harga ini tanpa mempengaruhi harga tersebut, tingkat keluaran q


memberikan laba maksimum, karena di q* harga melebihi biaya rata-rata. Perusahaan
memperoleh laba dari setiap unit yang terjual. Jika harga berada di bawah biaya ratarata (seperti kasus untuk P***), perusahaan mengalami kerugian untuk setiap unit
yang dijual jika harga dan biaya rata-rata sama, laba akan nol.
Pembuktian geometris bahwa laba maksimum di q* adalah sebagai berikut :
untuk tingkat keluaran yang sedikit lebih kecil dari q*, harga (P*) lebih besar dari
biaya marginal jangka pendek. Menurunkan keluaran di bawah q* akan menurunkan
pendapatan lebih besar daripada biaya, dan laba akan menurun. Untuk tingkat
keluaran yang lebih besar dari q*, biaya marginal melebihi P*. Memproduksi lebih
dari q* sekarang akan menyebabkan biaya meningkat lebih cepat daripada
pendapatan, dan sekali lagi laba akan menurun. Hal ini berarti bahwa jika perusahaan
memproduksi lebih banyak atau lebih sedikit daripada q*, labanya akan menjadi lebih
rendah. Hanya di q*, laba maksimum.
Kurva penawaran jangka pendek (short run supply curve), kurva penawaran
jangka pendek perusahaan memperlihatkan berapa jumlah keluaran yang diproduksi
perusahaan di berbagai harga yang mungkin. Bagi perusahaan yang memaksimumkan
laba dan menerima harga keluarannya seperti apa adanya, kurva ini terdiri dari bagian
dari kurva biaya marginal jangka pendek yang memiliki kemiringan positif atas titik
biaya variabel rata-rata. Untuk harga di bawah tingkat ini, keputusan perusahaan yang
memaksimumkan laba adalah menutup perusahaan dan tidak memproduksi keluaran
apapun.
Dalam contoh, kita tentang hamburger, kita menemukan bahwa kurva biaya
total jangka pendek perusahaan tersebut ketika menggunakan empat alat pemanggang
adalah :
STC = 4v +

wq 2
400 *

(13.7)

Dimana V dan W secara berurutan merupakan biaya per unit modal dan tenaga
kerja. Jika w = v = $4, persamaan di atas dapat ditulis sebagai :
STC = 16

q2
100 *

(13.8)

Biaya marginal jangka pendek sekarang diketahui :


STC
2q
q

q
100 50

SMC =

(13.9)

Maksimasi laba mengharuskan penetapan harga yang sama dengan biaya


marginal :
P= SMC =

q
50

(13.10)

Dan kurva penawaran jangka pendek (dengan q sebagai fungsi dari P)


diketahui
q = 50P

(13.11)

Untuk menemukan harga penutupan perusahaan, kita dapat menggunakan


persamaan 13.15 yang memperlihatkan bahwa :
SVC = q2/100

(13.12)

dan
SAVC =

SVC
q

q
100

(13.13)

Akibatnya, nilai minimum untuk SAVC terjadi ketika q dan SMC = 0. Karena
itu mencerminkan kurva penawaran perusahaan tersebut untuk setiap harga positif
perusahaan hanya akan menutup diri ketiak P = 0. Tetapi, perhatikan bahwa biaya
total rata-rata jangka pendek diketahui
SAC =

STC 16
q

q
q 100

(13.14)

Dan biaya rata-rata jangka pendek minimum terjadi ketika


dSAC 16
1
2
0
dq
100
q

(13.15)

Atau ketika q = 40 (dan SAC= SMC = 0,80). Untuk setiap harga kurang dari
$0,80, perusahaan tersebut akan menderita kerugian. Jika, misalnya P = $0,60.
Persamaan 13.18 memperlihatkan bahwa perusahaan harus memproduksi q = 30
hamburger per jam. Pendapatan sebesar $18 ($0,60.30), tetapi biaya total diketahui
STC = 16

q2
16 9 25
100

(13.16)

Fungsi Penawaran Hamburger


Perusahaan burger raksasa dalam contoh yang lalu tidak sesuai untuk
pengembangan fungsi penawaran, karena fungsi produksinya diasumsikan dicirikan
dengan hasil terhadap skala yang konstan. Dalam situasi dimana baik K (alat
pemanggang) maupun L (pekerja) adalah variabel, biaya marginal akan konstan dan
tidak dipengaruhi oleh jumlah yang dipilih perusahaan untuk diproduksi. Jika harga
pasar sama dengan biaya marginal ini, jumlah yang ditawarkan tidak unik, karena P
= MC dipenuhi di semua titik. Demikian pula, jika P > MC, tidak ada pemecahan
yang memaksimumkan laba. Untuk memperkenalkan biaya marginal yang menarik,
kita harus mengasumsikan masukan tetap ketiga (katakanlah, kapasitas tempat duduk
(F) yang diukur dalam meter persegi) termasuk dalam fungsi produksi burger yang
sekarang diketahui
q = 10K0,25L0,25F0,5

(13.17)

Kita mengasumsikan bahwa, dalam jangka pendek, ruang makan terbatas


dalam bidang empat meter persegi. Jadi, F = 16 dan fungsi produksi jangka pendek
diketahui
q = 40K0,25L0,25

(13.18)

Perhatikan bahwa fungsi produksi perusahaan sekarang memperlihatkan hasil


terhadap skala yang menurun dalam masukan variabel, K dan L. Laba perusahaan
diketahui
x = Pq TC
= P40K0,25L0,25 vK wL R

(13.19)

Dimana R adalah biaya sewa (tetap) yang harus dibayar perusahaan untuk
ruang makan.
Kondisi order pertama untuk laba maksimum adalah

10PK 0,75L0,25 v 0
K

(13.20)

10PK0,75L0,25 = v

(13.21)

10PK0,25L0,75 = w

(13.22)

Akibatnya

Kontroversi kaum marginalis tentang apakah perusahaan benar-benar


memaksimumkan laba, walaupun biasanya tidak aktif dalam profesi ekonomi,
kadang-kadang bangkit kembali yang mendorong berbagai riset teoritis dan empiris.
Selama bertahun-tahun, banyak bukti telah dikumpulkan yang mendukung penolakan
terhadap hipotesis bahwa perusahaan yang memperoleh laba mengusahakan laba
maksimum, tetapi secara keseluruhan, hipotesis tersebut masih dapat bertahan.
Serangan terhadap pendekatan marginalis ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga
jenis umum : (1) bahwa pendekatan maksimisasi laba terlalu sederhana; (2) bahwa
terdapat hipotesis alternatif yang juga sederhana dan dapat menerangkan realitas
secara lebih baik, dan (3) bahwa perusahaan-perusahaan dunia nyata tidak memiliki
informasi yang memadai untuk mampu memaksimumkan laba, dan mereka tidak
secara khusus ingin memaksimumkan laba sekalipun mereka memiliki informasi
tersebut.
Jelas, para ekonomi akan sepakat bahwa perusahaan-perusahaan dunia nyata
tidak memiliki informasi yang memadai untuk memaksimumkan laba dalam arti yang
pasti. Bagi kebanyakan perusahaan, kurva permintaan dan pendapatan marginal yang
mereka hadapi hanya dipahami secara samar-samar. Terdapat juga kemungkinan
bahwa perusahaan tidak memiliki informasi yang memadai dalam struktur biaya
mereka untuk memampukan mereka untuk membuat perhitungan marginal yang
rumit dan tepat. Sebaliknya, para ekonom telah menemukan bahwa hipotesis
maksimisasi laba sangat akurat dalam memprediksi aspek-aspek tertentu dalam

perilaku perusahaan. Misalnya, banyak perusahaan tampaknya sangat ingin masuk


dalam industri-industri yang paling menguntungkan, dan beberapa perusahaan yang
lebih besar dan tidak dapat menjadi lebih besar lagi berusaha melakukan diversifikasi
untuk meningkatkan rentabilitas.
Usaha untuk menggabungkan dua penemuan yang tampaknya berkontradiksi
tentang maksimisasi laba ini telah terpusat pada masalah metodologi dari peran
asumsi dalam teori ekonomi. Seperti yang telah dikemukakan Friedman dan para
ekonom lainnya berargumentasi bahwa kita tidak dapat menilai asumsi maksimisasi
laba baik secara a priori dengan logika maupun dengan menanyakan kepada
perusahaan-perusahaan apakah mereka melakukan hal tersebut. Melainkan, pengujian
terakhir adalah kemampuan prediksi asumsi tersebut. Friedman menggunakan analogi
seorang pemain bilyar yang ahli yang tidak dapat mengetahui hukum-hukum fisika
yang menentukan pergerakan bola di atas meja. Ketidaktahuan di pihak pemain ini
tidak mencegah seseorang pengamat untuk secara akurat memprediksi perilaku
pemain tersebut dalam menerapkan prinsip-prinsip fisika. Sama seperti tokoh Moliere
Monsieur

Jourdain

yang

mengucapkan

prosa

sepanjang

hidupnya

tanpa

mengetahuinya, perusahaan-perusahaan pada kenyataannya dapat memaksimumkan


laba, walaupun mereka memprotes bahwa mereka tidak memiliki maksud seperti itu.
Perusahaan-perusahaan diarahkan oleh semangat pasar ke arah maksimisasi laba.
Kesimpulan
Dalam bab ini, kita mempelajari keputusan penawaran dari sebuah perusahaan
yang memaksimumkan laba. Sasaran umum kita adalah memperlihatkan bagaimana
perusahaan seperti ini menanggapi sinyal harga dari pasar, dan dalam menangani
masalah ini, kita mengembangkan sejumlah hasil analisis :

Untuk memaksimumkan laba, perusahaan harus memilih untuk memproduksi


tingkat keluaran dimana pendapatan marginal (pendapatan dari penjualan satu
unit tambahan) sama dengan biaya marginal (biaya produksi satu unit tambahan).

Jika perusahaan merupakan penerima harga, keputusan keluarannya tidak


mempengaruhi harga keluarannya, sehingga pendapatan marginal diketahui dari
harga ini. Tetapi, jika perusahaan menghadapi permintaan dengan kemiringan
yang menurun untuk keluarannya, perusahaan dapat menjual lebih banyak hanya
pada harga yang lebih rendah. Dalam kasus ini, pendapatan marginal akan lebih
kecil daripada harga dan bahkan dapat negatif.

Pendapatan marginal dan elastisitas harga dari permintaan berkaitan dengan


rumus :

MR = P 1
eq, P

Dimana P adalah harga pasar dari keluaran perusahaan dan eqP adalah elastisitas
harga dari permintaan terhadap produknya.

Kurva penawaran untuk perusahaan penerima harga yang memaksimumkan laba


ditetapkan oleh bagian kurva biaya marginal yang memiliki kemiringan positif di
atas titik biaya variabel rata-rata minimum (AVC). Jika harga turun di bawah AVC
minimum, pilihan yang memaksimumkan laba bagi perusahaan adalah menutup
perusahaan dan tidak mempengaruhi apapun.

Masalah maksimisasi laba perusahaan dapat pula didekati sebagai masalah pilihan
masukan yang optimal. Walaupun pendekatan alternatif ini memberikan hasil
yang sama seperti pendekatan yang didasari pilihan keluaran, pendekatan ini
membantu menjelaskan hubungan antara biaya masukan dan keputusan
penawaran.

PENDAHULUAN
Yang telah kita ketahu tentang mikroekonomi adalah cabang dari ilmu ekonomi yang
mempelajari perilaku konsumen dan perusahaan serta penentuan harga-harga pasar
dan kuantitas faktor input, barang, dan jasa yang diperjualbelikan. Ekonomi mikro
meneliti bagaimana berbagai keputusan dan perilaku tersebut mempengaruhi
penawaran dan permintaan atas barang dan jasa, yang akan menentukan harga; dan
bagaimana harga, pada gilirannya, menentukan penawaran dan permintaan barang
dan jasa selanjutnya.[1][2] Individu yang melakukan kombinasi konsumsi atau produksi
secara optimal, bersama-sama individu lainnya di pasar, akan membentuk suatu
keseimbangan dalam skala makro; dengan asumsi bahwa semua hal lain tetap sama
(ceteris paribus).
Kebalikan dari ekonomi mikro ialah ekonomi makro, yang membahas aktivitas
ekonomi secara keseluruhan, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi,
pengangguran, berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan[3], serta dampak
atas beragam tindakan pemerintah (misalnya perubahan tingkat pajak) terhadap halhal tersebut

PENUTUP
Salah satu tujuan ekonomi mikro adalah menganalisa pasar beserta
mekanismenya yang membentuk harga relatif kepada produk dan jasa, dan alokasi
dari sumber terbatas diantara banyak penggunaan alternatif.
Ekonomi mikro menganalisa kegagalan pasar, yaitu ketika pasar gagal dalam
memproduksi hasil yang efisien; serta menjelaskan berbagai kondisi teoritis yang
dibutuhkan bagi suatu pasar persaingan sempurna. Bidang-bidang penelitian yang
penting dalam ekonomi mikro, meliputi pembahasan mengenai keseimbangan umum
(general equilibrium), keadaan pasar dalam informasi asimetris, pilihan dalam situasi
ketidakpastian, serta berbagai aplikasi ekonomi dari teori permainan. Juga mendapat
perhatian ialah pembahasan mengenai elastisitas produk dalam sistem pasar.

Mikro Ekonomi

Chap 13

Di Susun Oleh :
MUH. FURQAN A.
JAMALUDDIN
DIAN EKA LESTARI
A IZWAHYUDI DWI KARYA
AHMADI USMAN
IBRIATI KARTIKA ALIMUDDIN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS EKONOMI

2010