Вы находитесь на странице: 1из 3

Fibroma Iritasi

2.2 Fibroma Iritasi


2.2.1 Definisi
Fibroma iritasi atau fibroma traumatik merupakan lesi oral eksofitik jinak yang timbul
akibat luka jaringan sekunder. Fibroma iritasi merupakan salah satu lesi reaktif ringan yang
sering ditemukan. Studi di Amerika pada orang berusia 35 tahun keatas, menunjukkan
fibroma iritasi merupakan lesi oral benigna kedua yang sering ditemukan. Fibroma
merupakan hasil dari proses perbaikan kronis termasuk jaringan granulasi dan pembentukan
jaringan parut sehingga menghasilkan massa fibrosa submukosa. Massa dapat timbul
dibawah gigi palsu, diantara gigi palsu, dan pada ginggiva yang mengalami inflamasi.
Fibroma iritasi sering terjadi pada orang dewasa (dekade 4 6). Namun dapat terjadi juga
pada semua umur baik laki-laki maupun perempuan.

2.2.2

Etiologi
Penyebab lesi ini adalah trauma yang terjadi pada mukosa. Gigitan yang tak disengaja

sering dilaporkan merupakan penyebab tersering.

2.2.3

Manifestasi Klinis
Massa jaringan lunak bulat berbentuk kubah. Warnanya biasanya merah muda, sama

dengan mukosa sekitar. Namun, warnanya dapat juga pucat akibat penurunan vaskularisasi,
penebalan lapisan keratin atau ulserasi akibat trauma. Konsistensinya lunak. Permukaannya
dapat hiperkeratosis atau ulserasi terutama apabila terdapat trauma berulang. Ukuran bisa
bervariasi antara 1 mm - 2 cm dan biasanya asimptomatik. Pasien secara umum menyadari
adanya lesi pada mulut dalam jangka waktu tahun dengan sedikit perubahan. Massa dapat
muncul sebagai peduncul atau sesil. Daerah yang sering terjadi adalah bibir, komisura,
mukosa bukal dan lidah.
Pada fibroma iritasi yang terjadi pada ginggiva biasanya disebut sebagai fibroma
perifer. Beberapa menunjukkan ciri-ciri histologi yang khas untuk fibroma ginggiva. Jenis
lain yang dapat terjadi didaerah mana saja di dalam mulut adalah giant-cell fibroma.

Secara histologi, fibroma mempunyai gambaran massa nodular, padat, dan tanpa
kapsul dan kadang-kadang jaringan ikat fibrosa dan hyalin yang tersusun dalam fasikula tak
teratur. Infiltrat inflamasi kronis yang ringan kadang dapat muncul. Permukaan epitel dapat
hiperkeratosis, baik hiperplasi maupun atrofi dan dapat juga ulserasi.

Gambaran klinis fibroma iritasi

Gambaran mikroskopis fibroma iritasi


2.2.4

Diagnosis
Diagnosis dilakukan dengan pemeriksaan histopatologi terhadap jaringan lesi.

2.2.5

Pengobatan
Penanganan fibroma adalah dengan eksisi serta mengidentifikasi dan menghilangkan

iritan yang mungkin merupakan penyebab.

2.2.6

Prognosis
Prognosis fibroma iritasi baik. Rekurensi jarang tetapi dapat terjadi apabila iritan

penyebab tidak dihilangkan. Lesi ini tidak memiliki resiko perubahan malignansi.

2.2.7

Diagnosis Banding
- Tumor jinak lain (neurofibroma, neurilemoma, tumor sel granular, tumor kelenjar
-

saliva, lipoma)
Mucocele
Neurofibroma
Granuloma piogenik
Peripheral ossifying fibroma
Benign mesenchymal neoplasm

REFERENSI
Dunlap, Charles L. and Bruce F. Barker. A Guide To Common Oral Lesions. Department of
Oral and Maxillofacial Pathology UMKC School of Dentistry.
Austin, MaryLou. Oral Pathology Clinical Review. The Academy of Dental Learning and
OSHA Training. 2013
Pedron, Irineu Gregnanin, et al. Association of Two Lasers in The Treatment of Traumatic
Fibroma : Excision with Nd:YAP laser and Photobiomodulation Using InGaIP : A Case
Report. J Oral Laser Applications. 2009; 9 (1) : 49-53.