Вы находитесь на странице: 1из 7

Trauma Fisik dan Kimia pada Rongga Mulut

Linea Alba
Linea alba adalah suatu perubahan yang sering terjadi pada mukosa bukal yang
berhubungan dengan adanya penekanan, iritasi friksional akibat gesekan, atau
trauma pada bagian muka gigi karena kebiasaan menghisap (sucking trauma).
Sesuai dengan namanya, perubahan yang terjadi terdiri atas garis putih yang
(biasanya) bilateral. Linea alba terletak pada mukosa bukal setinggi dengan
bidang oklusi gigi yang di dekatnya. Garis yang terbentuk lebih terlihat jelas
pada mukosa bukal yang berbatasan dengan gigi posterior. Tidak ada terapi
yang dibutuhkan dan tidak terdapat komplikasi dari kejadian ini. Linea alba
merupakan jenis trauma pada mukosa mulut yang sering terjadi. Penelitian di
turki menyebutkan linea alba merupakan jenis trauma mulut kedua yang sering
terjadi dengan besar angka kejadian sebesar 5,3 % dari seluruh total trauma
mulut.

Linea alba pada mukosa bukal kanan


Morsicatio Buccarum
Morsicatio berasal dari bahasa latin yang berarti gigitan. Kebiasaan menggigitgigit kronis bias mengakibatkan terbentuknya lesi yang paling sering terletak di
mukosa bukal dan dapat ditemukan juga pada mukosa labial dan batas lateral
lidah. Prevalensi morsicatio buccarum lebih tinggi pada orang-orang yang
mengalami stress atau dengan masalah psikologis.
Lesi morsicatio buccarum biasanya ditemukan bilateral pada mukosa bukal
disertai lesi pada bibir dan lidah, atau bisa juga ditemukan hanya pada bibir atau
libal, dah. Lesi yang terbentuk tebal, seperti area parut berwarna putih (tidak
rata) yang biasa disertai dengan eritema, erosi, aatau ulserasi fokal traumatik.
Mukosa yang mengalami perubahan biasanya terletak di tengah anterior mukosa
bukal di sepanjang bidang oklusi. Lesi yang besar bisa terbentuk melebar ke arah
atas atau bawah bidang oklusi pada pasien yang memiliki kebiasaan menekan
pipi ke arah antara gigi dengan menggunakan jari.

Secara klinis, penampilan morsicatio buccarum cukup untuk menegakkan


diagnosis, sehingga biopsi jarang dilakukan. Hasil biopsi pada kasus ini
menunjukkan hiperkeratosis yang luas serta dapat ditemukan juga sel
bervakuola pada lapisan mukosa. Tidak dibutuhkan penatalaksanaan khusus
untuk lesi ini, juga tidak terdapat komplikasi dari perubahan mukosa yang
terjadi.

Morsicatio buccarum

Ulkus Traumatik (Traumatik Granuloma)


Ulkus traumatik adalah trauma akut yang terjadi pada mukosa mulut yang
diakibatkan oleh kerusakan mekanik seperti kontak dengan makanan yang
tajam, tergigit ketika makan, bicara, bahkan tidur. Lesi ini juga bisa terjadi akibat
luka bakar benda panas, listrik, atau kimia.
Trauma akut atau kronik mukosa mulut mengakibatkan terjadinya ulkus
superficial yang bisa bertahan selama beberapa waktu yang bisa sembuh dalam
beberapa hari tanpa adanya komplikasi. Lesi biasa terjadi pada lidah, bibir, dan
mukosa bukal. Lesi di daerah lainnya biasanya muncul di daerah sekitar sumber
iritasi seperti lipatan mukosa bukal atau ginggiva oleh karena pemakaian sikat
gig dan karena makanan.
Lesi muncul sebagai area eritema yang mengelilingi daerah tengah berupa
membran fibrinopurulen yang berwarna kekuningan dengan perifer keratosis
dengan kedalaman yang bervariasi.
Sumber ulkus traumatik yang ditemukan harus dihilangkan sumber iritasinya
kemudian diberikan dyclonine HCl atau hydroxypropyl cellulose untuk
menghilangkan rasa sakit sementara. Jika penyebabnya tidak ditemukan atau
pasiennya tidak merespon terapi yang diberikan, maka diindikasikan untuk
melakukan biopsi.

Ulkus traumatik

Luka Bakar Elektrik dan Panas


Luka bakar elektrik pada rongga mulut seringkali terjadi. Luka bakar elektrik
dibagi menjadi dua macam, yaitu tipe kontak dan tipe arc.
Tipe kontak membutuhkan alas yang sesuai dan arus listrik. Sebagian besar luka
bakar elektrik yang mengenai rongga mulut adalah tipe arc, yang melibatkan
saliva sebagai media konduksi.
Luka bakar rongga mulut sebagian besar disebabkan oleh makanan atau
minuman yang panas. Penggunaan microwave meningkatkan angka kejadian
luka bakar panas karena dapat membuat makanan yang dingin dingin di bagian
luarnya tetapi sangat panas di bagian dalamnya.
Pada awalnya, luka bakar muncul sebagai area yang tidak nyeri, hangus, dan
kekuningan yang disertai dengan sedikit atau bahkan tidak berdarah. Dalam
beberapa jam akan muncul edema yang dapat bertahan hingga 12 hari. Pada
hari keempat, area tersebut akan mengalami nekrosis dan mulai mengelupas,
dan bisa mengeluarkan darah. Luka yang melibatkan makanan yang panas
biasanya timbul pada palatum atau mukosa lidah bagian posterior berupa area
eritema dan ulserasi yang dapat menyisakan epithelium yang nekrosis pada
daerah perifer.

Luka bakar elektrik

Terapi untuk luka bakar pada rongga mulut meliputi imunisasi tetanus dan
antibiotik profilaksis (biasanya penisilin) untuk mencegah infeksi sekunder.
Masalah utama yang dapat timbul adalah kontraktur pada pembukaan mulut
selama proses penyembuhan.

Luka Kimiawi pada Mukosa Oral


Banyak zat kimia dan obat-obatan yang kontak dengan jaringan oral pada
akhirnya menimbulkan kerusakan pada jaringan oral. Contoh zat-zat yang dapat
mengakibatkan luka pada mukosa oral diantaranya aspirin, sodium perborat,
hydrogen peroksida, bensin, terpentin, dan alcohol.
Paparan yang singkat dengan zat-zat tersebut dapat mengakibatkan perubahan
mukosa menjadi putih dan keriput. Apabila paparan dilanjutkan, maka akan
terjadi nekrosis dan epitel yang terpapar akan terpisah dari jaringan yang berada
di bawahnya serta menjadi mudah terkelupas. Bila epitel yang nekrotik tersebut
dihilangkan, maka akan terlihat jaringan ikat yang eritem dan berdarah. Area
superficial yang nekrosis akan sembuh tanpa luka parut dalam waktu 10 hingga
14 hari setelah agen penyebabnya dihilangkan.

Luka akibat aspirin


Penyakit Riga Fede
Penyakit Riga fede adalah trauma ulseratif reaktif jinak yang sering terlihat
dibagian ujung atau depan lidah. Lesi yang muncul sering terjadi setelah erupsi
gigi pada masa prenatal, natal dan gigi seri primer
Chelitis Eksfoliativa
Kebiasaan menjilat, menggigit, menyedot, dan mencubit bibir dalam jangka
waktu yang lama dapat mengakibatkan terjadinya perubahan yang signifikan
pada batas vermillion bibir ataupun pada kulit perioral, sebagian besar dalam
bentuk chelitis eksfiloativa.

Chelitis eksfoliativa ini banyak ditemukan pada wanita berusia kurang dari 30
tahun. Kasus yang ringan ditunjukkan dengan adanya kekeringan yang kronis,
terbentuknya fissure dan scar pada batas vermillon bibir. Jika berkembang, maka
vermillon akan tertutup dengan krusta hiperkeratotik yang menebal dan
berwarna kuning. Kulit disekeliling lesi akan membentuk daerah seperti lingkaran
yang melingkari bagian bibir tersebut. Kasus ini juga dapat ditimbulkan oleh
reaksi alergi ataupun sensitivitas terhadap cahaya, meskipun lebih jarang terjadi.
Jika keadaan ini diakibatkan oleh adanya infeksi, maka keadaan ini disebut
dengan angular chelitis.

Chelitis eksfoliativa
Pada sebagian besar kasus chelitis eksfoliativa, tidak ditemukan penyebab yang
jelas. Biasanya dibutuhkan terapi psikoterapi dan penenang ataupun
pencegahan stree untuk mencapai resolusi dari penyakit ini. Pada infeksi
candida, lesi ini tidak akan sembuh kecuali jika trauma kronis sudah dihilangkan.
Perdarahan Submukosa
Setiap orang pernah mengalami memar yang diakibatkan oleh trauma minor. Hal
ini terjadi ketika trauma tersebut mengakibatkan terjadinya perdarahan dan
terkumpulnya darah di dalam jaringan. Jenis-jenis perdarahan berdasarkan
ukurannya:
a. Perdarahan sedikit pada kulit, mukosa, atau serosa (ptekia)
b. Perdarahan yang melibatkan area yang sedikit lebih luas (purpura)
c. Akumulasi perdarahan >2 cm (ekimosis)
d. Akumulasi darah dalam jaringan yang memunculkan massa (hematoma)
Trauma benda tumpul pada mukosa oral biasa mengakibatkan terbentuknya
hematoma. Ptekia dan purpura dapat timbul apabila terjadi peningkatan tekanan
intratoraks yang berulang atau terus-menerus.

Ptekia pada palatum


Perdarahan submukosa muncul sebagai area yang datar atau menonjol, tidak
memucat, dengan warna yang bervariasi dari merah, ungu, hingga biru
kehitaman. Lesi traumatik ini biasanya terdapat pada mukosa labia atau bukal.
Tidak dibutuhkan terapi spesifik jika perdarahan tidak berkaitan dengan penyakit
sistemik dan area perdarahan dapat hilang secara spontan.

Trauma Oral dari Aktivitas Seksual


Lesi yang sering ditemukan pada seks orogenital adalah perdarahan submukosa
palatum akibat fellatio. Lesi dapat berupa eritema, ptekia, purpura, atau
ekimosis dari palatum lunak. Area luka ini tidak memunculkan gejala dan dapat
sembuh tanpa terapi dalam 7-10 hari. Ekstravasasi eritrositik kemungkinan
berasal dari kenaikan muskular palatum lunak dan penekanan terhadap
lingkungan dengan adanya tekanan negatif.
Lesis oral juga dapat terjadi karena melakukan cunnilungus. Lesi berupa ulkus
horizontal dari freulum lidah. Ketika lidah didorong keluar, frenulum tergesek
bagian insisal gigi seri mandibula. Lesi ini dapat sembuh, tetapi dapat muncul
kembali apabila aktivitas serupa diulangi kembali.
Trauma Osseus dan Metaplasia Kondromatus
Pada pengguna gigi palsu, kelunakan pada jaringan alveolar yang menonjol
akibat iritasi mekanis gigi.
Gambaran klinis bervariasi mulai dari area ulkus yang menonjol, kemerahan ,
bernanah, hingga terbantuk polip yang kuat. Pada pemeriksaan radiografi
ditemukan area yang radiopak.