You are on page 1of 21

POLA PENGGUNAAN ANTIBIOTIKA YANG TEPAT PADA DEMAM

TIFOID TERHADAP PARAMETER HEMATOLOGI


DI SMF PENYAKIT DALAM RSUD PADANG PANJANG
Elmitra,S.Farm., Apt, Dr.Yufri Aldi, MSi., Apt, Hansen Nasif, S.Si,SpFRS., Apt,
Fakultas Farmasi, Universitas Andalas Padang

Abstrak
Pola penggunaan antibiotik yang tepat pada demam tifoid terhadap parameter
hematologi di SMF Penyakit Dalam RSUD Padang Panjang. Dengan melihat
pengaruh pemberian antibiotik terhadap jumlah leukosit, Hb, trombosit dan suhu
tubuh Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional dengan jenis data
retrospektif selama tahun 2011 sampai dengan 2013 dan prospektif periode 9
Januari sampai dengan 9 Maret 2014 dengan analisa SPSS mengunakan Paired
sampel T test. Jumlah pasien yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 32 pasien.
Antibiotika yang digunakan selama dalam penelitian ini diantaranya adalah
seftriakson (18.75%), sefadroksil (9.38%), siprofloksacin (12.5%), sefotaksim
(9.38%), kloramfenikol (6.25%), Tiamfenikol (37.5%), dan levofloksacin (6.25%) .
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa antibiotik tidak memberikan pengaruh yang
bermakna terhadap perubahan nilai leukosit, hb, trombosit dan suhu tubuh
sedangkan Seftriakson, Sefotaksim dan tiamfenikol dapat memberikan pengaruh
terhadap suhu tubuh.
Kata kunci : pengaruh Antibiotik, Demam tifoid, Leukosit, Hb, Trombosit dan
suhu tubuh
PENDAHULUAN
Demam tifoid merupakan suatu
penyakit yang disebabkan oleh
Salmonella typhi, salah satu bakteri
gram negatif. Beberapa penyakit
serupa tetapi disebabkan oleh
Salmonella serotype paratyphi A
(WHO, 2003). Penyakit ini ditandai
dengan demam tinggi yang secara
berangsur-angsur mencapai 39oC

sampai 41oC dan menetap hingga dua


minggu (Wells, 1999).
Demam tifoid disebabkan oleh
infeksi Salmonella typhi. Organisme
ini masuk melalui makanan dan
minuman yang sudah terkontaminasi
oleh feses atau urin dari orang yang
terinfeksi salmonella. Tifoid disebut
juga paratyphoid fever, enteric fever,
typhus dan para typhus abdominalis
(Widoyono, 2011)
1

Demam
tifoid
masih
merupakan masalah kesehatan yang
penting di berbagai negara sedang
berkembang. Besarnya angka pasti
kasus demam tifoid di dunia ini sangat
sukar ditentukan, sebab penyakit ini
dikenal mempunyai gejala dengan
spektrum klinisnya sangat luas.
Diperkirakan angka kejadian dari
150/100.000/tahun di Amerika Serikat
dan 900/100.000/tahun di Asia. Umur
penderita yang terkena di Indonesia
(daerah endemis) dilaporkan antara 319 tahun mencapai 91 % kasus. Angka
yang kurang lebih sama juga
dilaporkan dari Amerika Serikat
(Soedarmo, 2012)
Saat ini demam tifoid masih
berstatus endemik di banyak wilayah
di Asia, Afrika, dan Amerika Selatan,
di mana sanitasi air dan pengolahan
limbah kotoran tidak memadai.
Sementara,
kasus
tifoid
yang
ditemukan di negara maju saat ini
biasanya akibat terinfeksi saat
melakukan perjalanan ke negaranegara dengan endemik tifoid. Di
seluruh dunia diperkirakan antara 16 16,6 juta kasus baru demam tifoid
ditemukan dan 600.000 diantaranya
meninggal dunia. Di Asia diperkirakan
sebanyak 13 juta kasus setiap
tahunnya. Suatu laporan di Indonesia
diperoleh sekitar 310 - 800 per
100.000 sehingga setiap tahun
didapatkan antara 620.000 - 1.600.000
kasus. Demam tifoid di Indonesia
masih merupakan penyakit endemik,
mulai dari usia balita, anak-anak dan
dewasa (Soedarmo, 2012)
Bahaya yang ditimbulkan
penyakit ini dapat berupa pendarahan
akibat luka pada usus halus yang dapat
menimbulkan syok dan kematian bagi

sipenderita untuk mencegah kejadian


bahaya akibat penyakit tersebut dapat
dilakukan
dengan
pemberian
antibiotika yang sesuai pada waktu
yang tepat sehingga sipenderita dapat
disembuhkan (Effendi, 1981)
Pemakaian kloramfenikol dapat
menimbulkan efek samping berupa
penekanan pada sum-sum tulang dan
yang paling ditakuti terjadinya anemia
aplastis. Sefalosporin generasi III
(seftriakson, sefotaksim, sefiksim),
fluorokinolon
(siprofloksacin,
ofloksacin,
perfloksacin)
dan
azitromisin saat ini sering digunakan
untuk mengobati demam tifoid
(Katzung, 2007)
Berdasarkan masalah di atas
maka penulis akan melakukan
penelitian Pola penggunaan antibiotik
yang tepat pada demam tifoid terhadap
parameter hematologi di SMF
Penyakit Dalam RSUD Padang
Panjang.
METODE PENELITIAN
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian telah dilaksanakan
selama lebih kurang dua bulan (9
januari 2014 sampai dengan 9 maret
2014 ) di SMF Penyakit dalam RSUD
Padang Panjang
Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan
rancangan studi cross sectional yang
dilakukan secara prospektif dan
retrospektif (Suryabrata, 2003)
Populasi dan Sampel
Populasi

Populasi adalah seluruh kasus


demam tifoid yang terdapat di SMF
penyakit dalam RSUD Padang Panjang
Sampel
Semua penderita tifoid yang
mendapat pengobatan antibiotika di
SMF penyakit dalam RSUD padang
panjang 9
Januari 2014 sampai
dengan 9 Maret 2014 dan data selama
tahun 2011 SD 2013

1.

A. Kriteria Inklusi
1. Pasien dengan demam tifoid
yang
memperoleh
terapi
antibiotika dan pemberian
antipiretik
2. Pasien
dengan
diagnosa
demam tifoid yang dirawat
inap selama 9 Januari 2014
sampai dengan 9 maret 2014
dan data tahun 2011 sampai
dengan 2013
3. Pasien demam tifoid yang
memiliki data hematologi (Hb,
leukosit, trombosit) minimal 2
kali pemeriksaan dan (tes
widal)
B. Kriteria Eksklusi
Pasien demam tifoid dengan
penyakit penyerta
Pasien yang pulang paksa
Pasien yang meninggal dunia

2.
3.

Pengumpulan Data
Pengambilan data dilakukan
melalui pencacatan rekam medik di
depo farmasi SMF panyakit dalam
untuk data primer dan diruang rekam
medik untuk data sekunder di RSUD
Padang Panjang. Data yang diambil
meliputi demografi (usia dan jenis
kelamin), data hematologi Hb,
leukosit,
trombosit,
suhu
dan

antibiotika yang digunakan diseratai


dengan pemberian antipyretik dengan
data tersebut kita dapat memilih
antibiotika yang tepat pada pengobatan
demam tifoid. Data yang diambil
dipindahkan ke lembaran pengumpul
data yang telah disiapkan.
Analisa Data
Analisa data yang dapat
dilakukan secara deskriptif. Dan SPSS
menggunakan Paired sample T Test
Penarikan Kesimpulan
Penarikan
kesimpulan
dilakukan berdasarkan analisa data
menggunakan SPSS dengan paired
sample T test
HASIL DAN PEMBAHASAN
HASIL
Berdasarkan data yang
diperoleh dari rekam medik di RSUD
Padang pangang selama tahun 2011
sampai dengan 2013 dan periode 9
Januari sampai dengan 9 Maret 2014.
Pasien demam tifoid di SMF Penyakit
dalam sebanyak 151 Pasien dengan
kriteria Inklusi 32 Pasien dapat dilihat
pada lampiran 3 tabel 5
Antibiotika yang digunakan
selama
dalam
penelitian
ini
diantaranya
adalah
seftriakson
(18.75%),
sefadroksil
(9.38%),
siprofloksacin (12.5%), sefotaksim
(9.38%),
kloramfenikol
(6.25%),
Tiamfenikol
(37.5%),
dan
levofloksacin (6.25%) dapat dilihat
pada lampiran 4 tabel 6
Berdasarkan pada jenis
antibiotika yang diberikan
maka

didapatkan lama rawatan setriakson


5.8 hari, sefadroxsil 6 hari,
siprofloksacin 5 hari, sefotaksim 6.8
hari,
kloramfenikol
5
hari,
thiamfenikol
5.8
hari
dan
levofloksacin 4.5 hari. dapat dilihat
pada lampiran 5 tabel 7
Respon penggunaan antibiotika
terhadap jumlah leukosit
seftriakson, sefadroksil,
siprofloksacin,
sefotaksim,
kloramfenikol,
tiamfenikol
dan
levofloksacin
Pengolahan
data
dilakukan mengunakan SPSS dengan
Paired samples test maka diperoleh
hipotesis Ho: diterima H1: ditolak
dimana H0 adalah jumlah leukosit
sebelum dan sesudah terapi antibiotik
tidak signifikan sedangkan H1 adalah
jumlah leukosit sebelum dan sesudah
terapi antibiotik signifikan dan
berdasarkan uji tabel T maka diperoleh
T hitung kecil dari T tabel maka
dikatakan
tidak
signifikan,
(Trihendradi, 2013).
Dapat dilihat pada Lampiran 15 tabel
17, 22,25,28,31,34,37
Respon penggunaan
antibiotika
berdasarkan jumlah HB
Pengolahan data dilakukan
mengunakan SPSS dengan Paired
samples test maka diperoleh hipotesis
Ho: diterima H1: ditolak dimana H0
adalah
jumlah HB sebelum dan
sesudah terapi antibiotik tidak
signifikan sedangkan H1
adalah
jumlah HB sebelum dan sesudah terapi
antibiotik signifikan dan berdasarkan
uji tabel T maka diperoleh T hitung
kecil dari T tabel sehingga data
dikatakan
tidak
signifikan,

(Trihendradi, 2013) Dapat dilihat pada


lampiran16 tabel 40,43,46,49,52,55,58
Respon penggunaan
antibiotika
berdasarkan jumlah Trombosit
Pengolahan data dilakukan
mengunakan SPSS dengan Paired
samples test maka diperoleh hipotesis
Ho: diterima H1: ditolak dimana H0
adalah jumlah trombosit sebelum dan
sesudah terapi antibiotik tidak
signifikan sedangkan H1
adalah
jumlah trombosit
sebelum dan
sesudah terapi antibiotik signifikan dan
berdasarkan uji tabel T maka diperoleh
T hitung kecil dari T tabel sehingga
data dikatakan tidak signifikan,
(Trihendradi, 2013), Dapat dilihat pada
lampiran17 tabel 61,64,67,70,73,76,79
Respon penggunaan
antibiotika
berdasarkan jumlah Suhu tubuh
Dari pengolahan data yang
dilakukan dengan SPSS untuk
kelompok antibiotika
Seftriakson,
Sefotaksim
dan
Tiamfenikol
didapatkan hipotesis H0 ditolak dan
H1 diterima dimana H0 adalah suhu
tubuh sebelum dan sesudah terapi
antibiotic tidak signifikan sedangkan
H1 adalah suhu sebelum dan sesudah
antibiotik
signifikan,dimana
berdasarkan uji T hitung > dari T tabel
maka
data
adalah
signifikan,
sedangkan untuk kelompok antibiotik
sefadroksil,
siprofloksacin,
kloramfenikol dan Levofloksacin
didapatkan H0 diterima dan H1 ditolak
dan berdasarkan uji T hitung < dari T
tabel maka data adalah tidak
signifikan, (Trihendradi, 2013). Dapat
dilihat pada lampiran 18 tabel
82,85,88,91,94,97,100

PEMBAHASAN
Jumlah seluruh pasien demam
tifoid sebanyak 151 pasien diantaranya
78 pasien rawat jalan dan 73 pasien
rawat inap yang termasuk kedalam
data inklusi adalah 32 pasien, rekam
medik diambil diambil mulai dari
tahun 2011 sampai dengan 2013 dan
per 9 januari sampai dengan 9 maret
2014 (lampiran 3 Tabel 5)
Pasien demam tifoid di SMF
Penyakit Dalam RSUD Padang
Panjang
berdasarkan
Disribusi
penggunaan antibiotika selama tahun
2011 sampai dengan 2013 dan periode
9 januari sampai dengan 9 maret 2014
dapat dilihat pada (lampiran 4 tabel 6)
Berdasarkan jenis antibiotika
yang digunakan pada pasien demam
tifoid di SMF Penyakit Dalam RSUD
Padang Panjang terlihat thiamfenikol
paling banyak digunakan, diikuti
dengan seftriakson, siprofloksacin,
sefadrosil dan sefotaksim sama banyak
demikian halnya kloramphenikol dan
levofloksacin. Hal ini berbeda dengan
penelitian yang dilakukan Widia astuti
tahun 2011 mengenai pola penggunaan
antibiotika untuk demam tifoid. Hasil
penelitian
menunjukan
bahwa
seftriakson
merupakan
antibiotik
paling banyak digunakan (31.76%)
dan
siprofloksacin
(21.06%),
(Widiastuti, 2011) demikian halnya
dengan penelitian yang dilakukan
Chowta M.N, Chowta N.K hasil
penelitian tersebut menunjukan bahwa
siprofloksacin merupakan antibiotik
paling banyak digunakan (52.3%).
(Chowta, 2005)

Pasien demam tifoid di SMF


Penyakit Dalam RSUD Padang
Panjang
berdasarkan
Disribusi
penggunaan antibiotika berdasarkan
lama rawatan selama tahun 2011
sampai dengan 2013 dan periode 9
januari sampai dengan 9 maret 2014
dapat dilihat pada (lampiran 5 tabel 7)
Berdasarkan antibiotika yang
dibahas
pada
penelitian
ini
levofloksacin mempunyai hari rawatan
paling singkat yaitu 4.5 hari
dibandingkan dengan antibiotik yang
lain bahkan juga lebih singkat jika
dibandingkan
dengan
antibiotik
golongan
quinolon
lain
yaitu
siprofloksacin dengan lama rawatan 5
hari penelitian ini sesuai dengan kasus
studi yang dilakukan dimana lama
rawatan untuk levofloksacin adalah 3
hari dan 5 hari untuk siprofloksacin,
(Nelwan, 2006). pada penelitian ini
menyimpulkan levofloksacin adalah
antibiotik yang mempunyai lama
rawatan paling singkat dibandingkan
antibiotik yang lain bahkan jika
dibandingkan
dengan
golongan
quinolon. Demikian halnya dengan
penelitian yang dilakukan musnelina
Dkk penelitian tersebut mendapatkan
rata-rata lama hari penggunaan
kloramfenikol 6.598 hari sedangkan
rata-rata rawat inap pasien yang
mendapatkan seftriakson 4.408 hari .
Ketidaksejalanan
penelitian
tersebut kemungkinan disebabkan
subyek yang diteliti berbeda tidak
dalam jumlah yang sama dan
kemungkinan
disebabkan
oleh
penyakit lain (Musnelina, 2004)
Pemberian antibiotika 2-3 hari
pada awal terapi disebabkan karna

pasien telah mendapatkan antibiotika


yang sama sebelum dirawat di rumah
sakit dan telah mengalami demam
sejak 4-7 hari yang lalu, kemudian
terjadi penggantian antibiotika akibat
dari timbulnya resistensi dan suhu
tubuh tidak dapat stabil dapat dilihat
pada
pasien
P2,P6,P8,P11,P16,P17,P27,P29,P30
dan pasien baru dapat dipulangkan jika
jika 48 jam telah bebas demam, dalam
beberapa penelitian clinical trial
diketahui bahwa waktu bebas demam
yang dibutuhkan pasien demam tifoid
adalah 48 jam / 2 hari setelah terapi
diberikan (Islam et al, 1993; Smith et
al, 1994;Frenck et al,2000). Pada
pasien 11 awal masuk kerumah sakit
diberikan
antibiotika
sefotaksim
selama 2 hari dilanjutkan dengan
tiamfenikol selama 8 hari terjadi
penggantian antibiotika karna pada
awal pasien masuk kerumah sakit
belum terdiagnosa sebagai pasien
demam tifoid sehingga pergantian
antibiotik yaitu dari kelompok NARST
kepada kelompok MDR. Sedangkan
pada pasien P10,P13 tidak mengalami
pergantian antibiotik dan pasien
dipulangkan dengan lama rawatan 3
hari dilanjutkan dengan pemberian
antibiotik pada saat pasien pulang. Hal
ini berbeda disebabkan pasien yang
masuk kerumah sakit dengan derajat
penyakit yang berbeda.
Pemberian
antibiotika
Seftriakson pada penelitian ini terlihat
pada P5, P20, P21, P26, P27, P30
dengan dosis yang telah sesuai dengan
terapi yaitu 2-4 g / hari dalam 1 atau 2
dosis, dengan nilai rata rata leukosit
sebelum mendapatkan terapi adalah
6121/mm3 dan mengalami penurunan
jumlah leukosit menjadi 5746/mm3

(Lampiran 15 tabel 17) selanjutnya


pada antibiotik sefadroksil diberikan
pada P10, P17, P23 dengan dosis yang
telah sesuai, nilai leukosit 8463/mm3
dan mengalami penurunan jumlah
leukosit menjadi 6643/mm3 (lampiran
15 tabel 20) siprofloksacin diberikan
pada P1,P4,P31,P32, dengan dosis
yang telah sesuai didapatkan nilai ratarata leukosit 7890/mm3 dan dan
mengalami penurunan jumlah leukosit
menjadi 7300/mm3 sedangkan pada P1
diberikan dosis 3x 500mg/hari hal ini
disebabkan atas pertimbangan dokter
terhadap derajat penyakit pasien
(lampiran 15 tabel 26). Cefotaxim
diberikan pada P3, P24, P29, dengan
dosis yang sesuai didapatkan nilai ratarata leukosit 12247/mm3 dan setelah
mendapatkan terapi nilai leukosit
menurun
menjadi
11330/mm3
(lampiran 15 tabel 23), kloramfenikol
diberikan pada P13 dan P15
didapatkan nilai rata-rata leukosit
sebelum terapi 5574/mm3Dan setelah
terapi maka terjadi kenaikan jumlah
leukosit menjadi 5756/mm3(lampiran
15 tabel 28) tiamfenikol diberikan
pada P2, P6, P7, P9, P11, P12, P14,
P18, P19, P22, P25, dan P28 diberikan
dengan dosis yang sesuai didapatkan
nilai rata-rata leukosit sebelum terapi
5574/mm3 Dan setelah terapi maka
terjadi kenaikan jumlah leukosit
menjadi 5756/mm3 (lampiran 15 tabel
31) sedangkan untuk levofloksacin
diberikan pada P8 dan p16 dengan
nilai rata-rata leukosit sebelum terapi
11015/mm3 Dan setelah terapi maka
terjadi kenaikan jumlah leukosit
menjadi 11000/mm3 (lampiran 15 tabel
34)
leukosit

Dalam hal ini terlihat jumlah


antibiotika
seftriakson,
6

sefadrosil,siprofloksacin,kloramfenicol
dan tiamfenikol masih berada dalam
batas normal sebagaimana ditetapkan
oleh nilai laboratorium RSUD Padang
Panjang yaitu antara 5000 10000/mm3 sedangkan
antibiotik
sefotaksim dan levofloksacin berada
diatas 10000/mm3. Peningkatan jumlah
leukosit
disebut
leukositosis
menunjukan adanya proses infeksi atau
radang akut misalnya pneumonia
(radang paru-paru), meningitis (radang
selaput otak), apendiksitis (radang
usus buntu), tuberculosis, tonsilitis dan
lain-lain. Selain itu juga dapat
disebabkan
oleh
obat-obatan
,misalnya,
aspirin,
procainamid,
allupurinol,
antibiotika
terutama
ampisillin, eritromisin, kanamycin,
streptomycin, dan lain-lain, sedangkan
penurunan jumlah leukosit disebut
dengan leukopenia dapat terjadi pada
infeksi tertentu terutama virus,
malaria, alkoholik, dan lain-lain.
Selain itu juga dapat disebabkan oleh
obat-obatan terutama asetaminofen,
kemoterapi kanker, anti diabetik oral,
antibiotika (penicilline, sefalosporin,
kloramfenikol), sulfonamide (obat anti
infeksi trutama yang disebabkan oleh
bakteri), (Hadisaputro, 2006 dan
Berliner N, 2011).
Karakteristik leukosit pada
pasien demam tifoid sebelum terapi
antibiotik dimulai menurut hasil
penelitian yang dilakukan oleh Girgis
et al adalah rata-rata 5.120/mm3 dan
5.440/mm3 pada dua kelompok terapi
antibiotik (Girgis et al, 1999). Smith
dan rekan-rekan juga menunjukkan
hasil nilai leukosit yang normal pada
pasien demam tifoid, yakni 4.000/mm3
hingga 11.000/mm3 untuk kelompok
terapi seftriakson dan rata-rata nya

diketahui adalah 6.900/mm3 (Smith et


al, 1994).
Rata-rata nilai leukosit sebelum
terapi antibiotik untuk kelompok
azitromisin
adalah
6.200/mm3,
6.600/mm3
untuk
kelompok
kloramfenikol, dan 6.300/mm3 untuk
kelompok seftriakson (Butler et al,
1999; Frenck et al, 2000). Menurut
penelitian yang dilakukan oleh Islam
et al diketahui hasil leukosit untuk
demam tifoid adalah 3.000/mm3
hingga 21.600/mm3 untuk kedua
kelompok terapi. Setelah 5 hari terapi,
hasil leukosit pasien terapi seftriakson
adalah 4.500/mm3 hingga 16.600/mm3
dan 5.000/mm3 hingga 19.000/mm3
untuk kelompok terapi kloramfenikol
(Islam et al, 1993). Hasil pemeriksaan
leukosit ini memiliki kesamaan dengan
hasil beberapa penelitian diatas.
Pasien masuk kerumah sakit
dalam keadaan tidak terinfeksi karna
nilai leukosit berada dalam batas
normal hal ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh
(syamsul, 2009) bahwa pasien demam
tifoid dengan kadar leukosit normal
lebih banyak dibandingkan dengan
pasien yang leukositnya abnormal.
(Abro, 2009) telah melaporkan bahwa
pada penderita demam tifoid hanya
14,6% penderita saja yang kadar
leukositnya abnormal. Rerata subyek
memperlihatkan hasil laboratorium
darah perifer normal, berdasarkan
kepustakaan pada demam tifoid tidak
selalu ditemukan leukopenia, nilai
leukosit dapat dalam batas normal dan
dapat pula leukositosis terutama bila
disertai komplikasi lain. (Prasetyo,RV,
2011). Hal ini mungkin disebabkan
karena pasien sebelum masuk rumah

sakit telah mendapatkan terapi


antibiotika , dan pada umumnya pasien
masuk ke rumah sakit telah demam
sejak 4-7 hari yang lalu.
Dalam pengolahan data yang
dilakukan dengan SPSS dengan paired
sample test terlihat angka perubahan
nilai leukosit sebelum dan sesudah
mendapatkan
terapi
seftriakson,
sefadroksil, siprofloksacin, sefotaxim,
kloramphenicol,
tiamfenikol
dan
levofloksacin yang tidak signifikan,
Dapat dilihat pada Lampiran 15 tabel
17, 22,25,28, 31,34,37
dimana
terjadi
penurunan
jumlah leukosit tidak terlalu besar
pada
antibiotika
seftriakson,
sefadroksil, siprofloksacin dan masih
berada dalam batas normal, sedangkan
pada antibiotika sefotaksim dan
levofloksacin dengan nilai diatas
10000 sedangkan pada antibiotik
kloramfenikol dan tiamfenikol terjadi
peningkatan jumlah leukosit yang
tidak signifikan dimana nilai leukosit
kloramfenikol masih berada pada batas
normal sedangkan tiamfenikol dengan
nilai lebih dari 10000, dapat dilihat
pada
lampiran
15
tabel
17,20,23,26,28,31,34
pada antibiotika seftriakson
terlihat hubungan jumlah leukosit
sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah
leukosit
setelah
terapi
antibiotika sangat kuat (0.952). nilai
Sig (0.003) < . Jadi dapat
disimpulkan
bahwa
hubungan
signifikan, (lampiran 15 tabel 18) pada
antibiotika
sefadroksil
terlihat
hubungan jumlah leukosit sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
leukosit setelah terapi antibiotika

sangat kuat (0.916). nilai Sig (0.263) <


. Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 15
tabel 14) pada antibiotika sefotaksim
terlihat hubungan jumlah leukosit
sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah
leukosit
setelah
terapi
antibiotika sangat kuat (0.984). nilai
Sig (0.113) < . Jadi dapat
disimpulkan
bahwa
hubungan
signifikan, (lampiran 15 tabel 24)
pada antibiotika siprofloksacin terlihat
hubungan jumlah leukosit sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
leukosit setelah terapi antibiotika
sangat kuat (0.997). nilai Sig (0.003) <
. Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 15
tabel
27)
pada
antibiotika
Kloramfenikol
terlihat
hubungan
jumlah leukosit sebelum terapi
antibiotika dengan jumlah leukosit
setelah terapi antibiotika sangat kuat
(1). nilai Sig (0) < . Jadi dapat
disimpulkan
bahwa
hubungan
signifikan, (lampiran 15 tabel 30),
pada antibiotika Tiamfenikol terlihat
hubungan jumlah leukosit sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
leukosit setelah terapi antibiotika
sangat kuat (0.798). nilai Sig (0.002) <
. Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 15
tabel 33) sedangkan pada antibiotika
Levofloksacin
terlihat
hubungan
jumlah leukosit sebelum terapi
antibiotika dengan jumlah leukosit
setelah terapi antibiotika sangat kuat
(1). nilai Sig (0) < . Jadi dapat
disimpulkan
bahwa
hubungan
signifikan, (lampiran 15 tabel 36)
Penelitian dengan pemberian
antibiotika seftriakson terlihat nilai HB
sebelum terapi 12.8 g/dl Dan setelah
8

terapi maka terjadi penurunan nilai HB


menjadi 12.3 (lampiran 16 tabel 38)
pada sefadroksil didapatkan nilai ratarata HB sebelum terapi 12.8 g/dl Dan
setelah terapi maka terjadi penurunan
nilai HB menjadi 12.1 g/dl, (lampiran
16 tabel 41) siprofloksacin didapatkan
nilai HB sebelum terapi 13.7 g/dl Dan
setelah terapi tidak terjadi kenaikan
dan penurunan jumlah HB
g/dl,
(lampiran 16 tabel 47) sefotaksim
didapatkan nilai rata- rata HB sebelum
terapi 13.1 g/dl Dan setelah terapi
maka terjadi kenaikan jumlah HB
menjadi 13.3 g/dl, (lampiran 16 tabel
44), klorampfenikol didapatkan nilai
rata-rata sebelum terapi 9.5 g/dl Dan
setelah terapi maka terjadi kenaikan
jumlah HB menjadi 11.2 g/dl,
(lampiran 16 tabel 50) Tiamfenikol
sebelum terapi 13.6 g/dl Dan setelah
terapi maka terjadi penurunan jumlah
HB menjadi 12.6 g/dl, (lampiran 16
tabel 53) levofloksacin sebelum terapi
13.0 g/dl Dan setelah terapi maka
terjadi penurunan jumlah HB menjadi
12.5 g/dl, (lampiran 16 tabel 56)
Pasien masuk dalam keadaan HB
normal dan terjadi penurunan jumlah
HB setelah diberikan terapi dengan
antibiotik seftrirakson, sefadroksil,
tiamfenikol dan levofloksacin yang
tidak signifikan sedangkan sefotaksim
dan kloramfenikol terjadi peningkatan
nilai HB dimana peningkatan nilai HB
tidak
signifikan,
namun
pada
antibiotika siprofloksacin tidak terjadi
perubahan nilai HB selama terapi
berlangsung.
Pada antibiotika seftriakson
terlihat hubungan jumlah HB sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
leukosit setelah terapi antibiotika
sangat kuat (0.858). nilai Sig (0.029) <

. Jadi dapat disimpulkan bahwa


hubungan signifikan, (lampiran 16
tabel 39), pada antibiotika sefadroksil
terlihat hubungan jumlah HB sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
leukosit setelah terapi antibiotika
sangat kuat (0.976). nilai Sig (0.14) >
. Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan tidak signifikan, (lampiran
16 tabel 42), pada antibiotika
sefotaksim terlihat hubungan jumlah
HB sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah HB setelah terapi antibiotika
sangat lemah (-0.945). nilai Sig
(0.212) > . Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan tidak signifikan,
(lampiran 16 tabel 45) pada antibiotika
siprofloksacin
terlihat
hubungan
jumlah HB sebelum terapi antibiotika
dengan jumlah HB setelah terapi
antibiotika sangat kuat (0.993). nilai
Sig (0.007) < . Jadi dapat
disimpulkan
bahwa
hubungan
signifikan, (lampiran 16 tabel 48),
pada antibiotika Kloramfenikol terlihat
hubungan jumlah HB sebelum terapi
antibiotika dengan jumlah HB setelah
terapi antibiotika sangat kuat (1). nilai
Sig (0) < . Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan signifikan, (lampiran
16 tabel 51), pada antibiotika
Tiamfenikol terlihat hubungan jumlah
HB sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah HB setelah terapi antibiotika
sangat kuat (0.783). nilai Sig (0.003) <
. Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 16
tabel 54), sedangkan pada antibiotika
Levofloksacin
terlihat
hubungan
jumlah HB sebelum terapi antibiotika
dengan jumlah HB setelah terapi
antibiotika sangat kuat (1). nilai Sig
(0) < . Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 16
tabel 57)
9

Dalam pengolahan data yang


dilakukan dengan SPSS dengan paired
sample test terlihat angka perubahan
nilai HB sebelum dan sesudah
mendapatkan terapi antibiotika yang
tidak signifikan, (lampiran 16 tabel
40,43,46,49,52,55,58, dimana terjadi
penurunan jumlah HB tidak terlalu
besar pada antibiotika seftrirakson,
sefadroksil, tiamfenikol, levofloksacin,
keadaan pasien masih berada dalam
keadaan normal dimana nilai normal
HB untuk pria adalah14-18 g/dl dan
perempuan 12-16 g/dl hal ini sejalan
dengan penelitian (Syamsul, 2009),
Dari data tersebut diketahui bahwa
kadar hemoglobin normal lebih banyak
daripada yang abnormal. Kejadian
kadar hemoglobin abnormal memang
jarang dijumpai. Menurut Hosuglu
penderita demam tifoid yang kadar
hemoglobinnya
abnormal
hanya
berkisar 17%, (Hosoglu, 2004).
Penurunan nilai HB terdapat
pada penderita anemia, kanker,
penyakit ginjal, pemberian cairan
intravena berlebihan dan penyakit
hodkins. Dapat juga disebabkan oleh
obat-obatan misalnya antibiotika,
aspirin, antineoplastik obat kanker)
indometasin, sulfonamida, primaquin,
rifampin dan trimetadion. sedangkan
peningkatan nilai hb didapatkan pada
antibiotika
sefotaksim
dan
kloramfenicol. Peningkatan HB dapat
terjadi
pada
pasien
dehidrasi,
polisitemia, penyakit paru obtruktif
menahun, gagal jantung kongestif dan
luka bakar hebat. Obat yang dapat
meningkatkan hasil pemeriksaan HB
adalah metildopa dan gentamicin
(Hadisaputro S.2006 dan Bunn HF,
2011) dalam penelitian ini nilai HB
meningkat disebabkan karena pasien

dehidrasi akibat pengeluaran keringat


yang berlebih
Uji laboratorium untuk menilai
kuantitas trombosit adalah masa
perdarahan (bleedingtime) dan hitung
trombosit Jumlah trombosit normal
adalah 150.000 - 450.000 per mmk
darah. Dikatakan trombositopenia
ringan apabila jumlah trombosit antara
100.000 - 150.000 per mmk darah.
Apabila jumlah trombosit kurang dari
60.000 per mmk darah maka akan
cenderung terjadi perdarahan. Jika
jumlah trombosit di atas 40.000 per
mmk darah biasanya tidak terjadi
perdarahan spontan, tetapi dapat
terjadi perdarahan setelah trauma. Jika
terjadi
perdarahan
spontan
kemungkinan
fungsi
trombosit
terganggu
atau
ada
gangguan
pembekuan darah. Bila jumlah
trombosit kurang dari 40.000 per mmk
darah, biasanya terjadi perdarahan
spontan dan bila jumlahnya kurang
dari 10.000 per mmk darah perdarahan
akan lebih berat. Dilihat dari segi
klinik, penurunan jumlah trombosit
lebih memerlukan perhatian dari pada
kenaikannya (trombositosis) karena
adanya resiko perdarahan.
Penelitian dengan pemberian
antibiotika seftriakson terlihat nilai
Trombosit sebelum terapi 205666 per
mmk darah Dan setelah terapi maka
terjadi kenaikan jumlah Trombosit
menjadi 209333 per mmk darah,
(lampiran 17 tabel 59), sefadroksil
terlihat nilai Trombosit sebelum terapi
130333 per mmk darah dan setelah
terapi
terjadi
kenaikan
jumlah
trombosit menjadi 170000 per mmk
darah, (lampiran 17 tabel 62),
siprofloksacin terlihat nilai Trombosit

10

sebelum terapi 232.750 per mmk darah


Dan setelah terapi maka terjadi
kenaikan jumlah Trombosit menjadi
247.750 per mmk darah, (lampiran 17
tabel 68) sefotaksim terlihat nilai
Trombosit sebelum terapi 141.000 per
mmk darah Dan setelah terapi maka
terjadi kenaikan jumlah Trombosit
menjadi 168.000 per mmk darah,
(lampiran 17 tabel 65), kloramfenikol
terlihat nilai Trombosit sebelum terapi
388.500 per mmk darah Dan setelah
terapi maka terjadi penurunan jumlah
Trombosit menjadi 312.500 per mmk
darah, (lampiran 17 tabel 71),
Tiamfenikol terlihat nilai Trombosit
sebelum terapi 157.750 per mmk darah
Dan setelah terapi maka terjadi
peningkatan
jumlah Trombosit
menjadi 160.666 per mmk darah,
(lampiran 17 tabel 74), sedangkan
Levofloksacin terlihat nilai Trombosit
sebelum terapi 140.000 per mmk
darah. Dan setelah terapi maka terjadi
peningkatan
jumlah Trombosit
menjadi 184.000 per mmk darah,
(lampiran 17 tabel 77)
Pada antibiotika seftriakson
terlihat hubungan jumlah Trombosit
sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah Trombosit setelah terapi
antibiotika sangat kuat (0.923). nilai
Sig (0.009) < . Jadi dapat
disimpulkan
bahwa
hubungan
signifikan, (lampiran 17 tabel 60),
pada antibiotika sefadroksil terlihat
hubungan jumlah trombosit sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
trombosit setelah terapi antibiotika
sangat lemah (-0.994). nilai Sig
(0.071) > . Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan tidak signifikan,
(lampiran 17 tabel 63), pada
antibiotika
sefotaksim
terlihat

hubungan jumlah trombosit sebelum


terapi antibiotika dengan jumlah
trombosit setelah terapi antibiotika
sangat lemah (0.995). nilai Sig (0.063)
< . Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 17
tabel
66),
pada
antibiotika
siprofloksacin
terlihat
hubungan
jumlah trombosit sebelum terapi
antibiotika dengan jumlah trombosit
setelah terapi antibiotika sangat lemah
(0.879). nilai Sig (0.121) > . Jadi
dapat disimpulkan bahwa hubungan
tidak signifikan, (lampiran 17 tabel
69), pada antibiotika Kloramfenikol
terlihat hubungan jumlah trombosit
sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah trombosit setelah terapi
antibiotika sangat kuat (1). nilai Sig
(0) < . Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan signifikan, (lampiran 17
tabel 72), pada antibiotika Tiamfenikol
terlihat hubungan jumlah trombosit
sebelum terapi antibiotika dengan
jumlah trombosit setelah terapi
antibiotika sangat kuat (0.888). nilai
Sig (0) < . Jadi dapat disimpulkan
bahwa hubungan signifikan, (lampiran
17 tabel 75), sedangkan pada
antibiotika Levofloksacin terlihat
hubungan jumlah trombosit sebelum
terapi antibiotika dengan jumlah
trombosit setelah terapi antibiotika
sangat kuat (1). nilai Sig (0) < . Jadi
dapat disimpulkan bahwa hubungan
signifikan, (lampiran 17 tabel 78)
Pasien masuk dalam keadaan
Trombosit normal dan terjadi kenaikan
jumlah Trombosit setelah diberikan
terapi dengan antibiotik sefadroksil,
sefotaksim,
siprofloksacin,
tiamfenikol, dan levofloksacin namun
kenaikan terjadi tidak terlalu besar
besar dan masih berada dalam range
11

normal. sedangkan factor lain yang


dapat menyebabkan jumlah trombosit
tinggi adalah keadaan anemia,
hemolitik, tidak adanya limfa setelah
pembedahan untuk mengangkat organ,
penyaki peradangan atau infeksi,
reaksi terhadap obat atau pemulihan
saat kehilangan darah yang serius,
penggunaan alcohol yang berlebihan,
kurangnya vit B12 dan asam folat hal
diatas
dikenal
juga
dengan
trombositosis
sekunder
dimana
terjadinya
trombositosis
karena
diketahui
penyebabnya,
dimana
kondisi ini terjadi jika ada penyakit
lain kondisi atau factor luar yang yang
dapat menyebabkan jumlah trombosit
tinggi sedangkan jika penyebabnya
tidak diketahui disebut juga dengan
trombositemia primer dimana pada
kondisi ini sel-sel induk yang rusak di
sum-sum tulang belakang membuat
terlalu banyak trombosit, tanda dan
gejala trombosit tinggi terkait dengan
pembekuan darah dan pendarahan,
gumpalan darah berhubungan dengan
kondisi dan factor lain yaitu usia yang
lebih
tua,
pembekuan
darah
sebelumnya, diabetes, tekanan darah
tinggi, dan merokok juga dapat
meningkatkan
resiko
pembekuan
darah, jika pendarahan terjadi paling
sering mempengaruhi orang-orang
yang mempunyai jumlah lebih tinggi
dari satu juta trombosit permikroliter
darah.
Tanda-tanda
pendarahan
termasuk mimisan, memar, pendarahan
dari mulut atau gusiatau darah dalam
tinja. Meskipun pendarahan biasanya
dikaitkan dengan jumlah trombosit
rendah, juga dapat terjadi pada orang
yang memiliki jumlah trombosit tinggi
dimana tidak cukup trombosit yang

tersisa dalam aliran darah untuk


menutup luka atau istirahat pada
dinding pembuluh darah.
Penyebab lain pendarahan
pada orang yang memiliki trombosit
yang sangat tinggi adalah suatu
kondisi yang disebut Von Willebrand
disease, kondisi ini mempengaruhi
pembekuan darah namun kasus ini
jarang terjadi (Rockville Pike,
Bethesda MD, 2014) dan penurunan
setelah diberikan antibiotik dengan
seftriaxon dan chloramphenicol dan
tidak terjadi penurunan jumlah yang
yang terlalu besar dan masih berada
dalam range normal.
Dalam pengolahan data yang
dilakukan dengan SPSS dengan paired
sample test terlihat angka perubahan
nilai Trombosit sebelum dan sesudah
mendapatkan
terapi
seftriakson,
sefadroksil, siproflkosacin, sefotaksim,
kloramfenicol,
tiamfenikol
dan
levoflkosacin yang tidak signifikan,
Dapat dilihat pada Lampiran 17 tabel
61,64,67,70, 73,76,79
dimana terjadi penurunan dan
peningkatan jumlah Trombosit tidak
terlalu besar, dan keadaan pasien
masih berada dalam keadaan normal
dimana nilai normal Trombosit
150.000 - 450.000 per mmk darah,
(Hadisaputro, 2006)
pada penelitian yang dilakukan
(syamsul, 2009) Dari data tersebut
diketahui bahwa penderita demam
tifoid dengan kadar trombosit normal
lebih banyak daripada penderita
demam tifoid dengan kadar trombosit
abnormal. Abro et al (2009) telah
melaporkan bahwa hanya 30%

12

penderita demam tifoid saja yang


kadar trombositnya abnormal.
Suhu
tubuh
merupakan
indikator suatu penyakit, oleh sebab itu
pengobatan demam tidak cukup hanya
memberikan antipiretik, tetapi harus
dicari apa etiologinya dan bagaimana
menghilangkan
etiologi
tersebut,
(Sudoyo dkk, 2007). Pada review
article yang dilakukan oleh Parry dan
rekan-rekan, diketahui bahwa suhu
tubuh penderita demam tifoid pada
awalnya berada pada grade yang
rendah, namun ia akan semakin naik
secara progresif di minggu kedua dan
seterusnya, yakni 39.00C hingga
40.00C (Parry, 2002). Perbedaan
pengukuran suhu tubuh secara rektal
dan aksilar adalah lebih 10C. Dalam
pedoman pelayanan kefarmasian untuk
terapi antibiotik, diketahui bahwa
seorang pasien bebas demam bila suhu
tubuh >360C dan <380C (Menkes,
2011).
Penelitian dengan pemberian
antibiotika seftriakson terlihat nilai
rata suhu tubuh sebelum terapi 37.8 0C
Dan setelah terapi maka terjadi
penurunan suhu menjadi 36.9 0C,
(lampiran 18 tabel 80) yaitu P5, P20,
P21, P26, P27, P30 (lampiran 7 tabel
9), pada sefadroksil terlihat nilai rata
suhu tubuh sebelum terapi 38.3 0C Dan
setelah terapi maka terjadi penurunan
suhu menjadi 36.8 0C, (lampiran 18
tabel 83) yaitu P10, P17, P23
(lampiran 7 tabel 9) siprofloksacin
terlihat nilai rata suhu tubuh sebelum
terapi 37.8 0C Dan setelah terapi maka
terjadi penurunan suhu menjadi 37.0
0
C, (lampiran 18 tabel 89) yaitu pada
P1, P4, P31,P32, (lampiran 7 tabel 9),
sefotaksim terlihat nilai rata suhu
tubuh sebelum terapi 38.3 0C Dan

setelah terapi maka terjadi penurunan


suhu menjadi 36.8 0C, (lampiran 18
tabel 86) yaitu P3, P24, P29 (lampiran
7 tabel 9), kloramfenicol terlihat nilai
rata suhu tubuh sebelum terapi 37.7 0C,
Dan setelah terapi maka terjadi
penurunan suhu menjadi 37.0 0C,
(lampiran 18 tabel 92) diberikan pada
P13 dan P15 (lampiran 7 tabel 9),
Tiamfenikol terlihat nilai rata suhu
tubuh sebelum terapi 38.4 0C Dan
setelah terapi maka terjadi penurunan
suhu menjadi 36.9 0C (lampiran 18
tabel 95) yaitu P2, P6, P7, P9, P11,
P12, P14, P18, P19, P22, P25, dan P28
(lampiran 7 tabel 9),sedangkan
Levofloksacin terlihat nilai rata suhu
tubuh sebelum terapi 36.9 0C yaitu P8
dan p16 (lampiran 7 tabel 9),dan
setelah terapi maka terjadi penurunan
suhu menjadi 37.0 0C (lampiran 18
tabel 100) yaitu pada Pasien masuk ke
rumah sakit dalam keadaan subfebris
dan terjadi penurunan suhu tubuh
setelah diberikan terapi dengan
antibiotik seftriakson, siprofloksacin,
kloramfenikol. Pasien masuk ke rumah
sakit dalam keadaan febris dan terjadi
penurunan
suhu
tubuh
setelah
diberikan terapi dengan antibiotik
sefadroksil,cefotaxim, dan tiamfenikol.
Pasien demam tifoid yang
mengalami pergantian terapi antibiotik
selama rawatan di rumah sakit dan
tidak terjadi perbaikan suhu tubuh
menjadi normal terjadi pada pasien
anak P2, P4, P5, P6, P8, P11, P16,
P17, P21, P27, P29, dan P32. yang
mengalami
pergantian
adalah
kloramfenikol,sefotaksim,siprofloksaci
n dan tiamfenikol sedangkan pada
kelompok seftriakson, sefadroksil dan
levofloksacin tidak terjadi penggantian
antibiotik. pasien, tidak demam, pada
kelompok terapi seftriakson terjadi
13

pada hari ketiga dan keempat dengan


lama terapi lima hari (Limpitikul,
2012; Islam, 1993; Smith, 1994).
Fluoroquinolones adalah paling efektif
untuk mengobati demam tifoid (Parry,
2002). Munculnya
perlawanan
terhadap mereka menjadi perhatian
utama.
Penyebaran resistensi ini akan
menjadikan hanya kurang efektif
resistensi harus diidentifikasi lebih
awal, dan obat-obatan ini harus
digunakan dengan bijaksana. Jika
tidak, masyarakat mungkin dihadapkan
dengan prospek demam tifoid dapat
diobati. Dr Butt adalah seorang ahli
mikrobiologi konsultan dan kepala
Mikrobiologi Departemen di Angkatan
Bersenjata
Institut
of Patologi
Rawalpindi, Pakistan. (Parry, 2002 dan
Wain, 1997)
Pasien yang menerima terapi
antibiotik seftrikson adalan pasien P5,
P20, P21, P26, P27, P30 mengalami
perbaikan suhu tubuh yang normal
pada hari rawatan ke 5-6. Pasien yang
menerima terapi antibiotik sefadroksil
adalah pasien P10, P17, P23
mengalami perbaikan suhu tubuh yang
normal pada hari rawatan ke 6
Sedangkan Pasien yang menerima
terapi antibiotik levofloksacin adalah
pasien P8 dan p16
mengalami
perbaikan suhu tubuh yang normal
pada hari rawatan ke 4-5.
Pada antibiotika seftriakson
terlihat hubungan suhu tubuh sebelum
terapi antibiotika dengan suhu tubuh
setelah terapi antibiotika sangat lemah
(0.181). nilai Sig (0.732) > . Jadi
dapat disimpulkan bahwa hubungan
tidak signifikan, (lampiran 18 tabel

81), pada antibiotika sefadroksil


terlihat hubungan suhu tubuh sebelum
terapi antibiotika dengan suhu tubuh
setelah terapi antibiotika sangat lemah
(-0.5). nilai Sig (0.667) > . Jadi dapat
disimpulkan bahwa hubungan tidak
signifikan, (lampiran 18 tabel 84),
pada antibiotika sefotaksim terlihat
hubungan suhu tubuh sebelum terapi
antibiotika dengan suhu tubuh setelah
terapi antibiotika sangat lemah (0.327).
nilai Sig (0.788) > . Jadi dapat
disimpulkan bahwa hubungan tidak
signifikan, (lampiran 18 tabel 87),
pada antibiotika siprofloksacin terlihat
hubungan suhu tubuh sebelum terapi
antibiotika dengan suhu tubuh setelah
terapi antibiotika sangat lemah (0.182). nilai Sig (0.818) > . Jadi dapat
disimpulkan bahwa hubungan tidak
signifikan, (lampiran 18 tabel 90),
pada antibiotika Kloramfenikol terlihat
tidak ada hubungan suhu tubuh
sebelum terapi antibiotika dengan suhu
tubuh setelah terapi antibiotika (0).
nilai Sig (0) = . Jadi dapat
disimpulkan bahwa hubungan tidak
signifikan, (lampiran 18 tabel 93),
pada antibiotika Tiamfenikol terlihat
hubungan suhu tubuh sebelum terapi
antibiotika dengan suhu tubuh setelah
terapi antibiotika sangat kuat (0.284).
nilai Sig (0.37) > . Jadi dapat
disimpulkan bahwa hubungan tidak
signifikan, (lampiran 18 tabel 96),
sedangkan
pada
antibiotika
Levofloksacin terlihat tidak ada
hubungan suhu tubuh sebelum terapi
antibiotika dengan suhu tubuh setelah
terapi antibiotika (0). nilai Sig (0) = .
Jadi dapat disimpulkan bahwa
hubungan tidak signifikan, (lampiran
18 tabel 99) Dan berdasarkan hasil dari
paired correlation diatas terlihat semua
jenis
antibiotika
diatas
tidak
14

mempunyai hubungan yang kuat


terhadap suhu tubuh oleh karena itu
suhu tubuh tidak bisa dijadikan
parameter dalam menentukan pilihan
antibiotika yang tepat
Dalam pengolahan data yang
dilakukan dengan SPSS dengan Paired
sample test terlihat angka perubahan
suhu
sebelum dan sesudah
mendapatkan
terapi
dengan
Seftriakson,
Sefotaksim
dan
Kloramfenikol adalah signifikan,
dimana terjadi penurunan suhu tubuh
Dimana keadaan pasien telah berada
dalam keadaan normal, karna dalam
penelitian ini suhu tidak bisa dijadikan
parameter dalam pemilihan antibiotika
dan terlihat pada Paired sample
correlation hubungan yang tidak
signifikan pada semua jenis antibiotika
maka berdasarkan lama rawatan yang
paling singkat maka levofloksacin dan
siprofloksacin
adalah antibitioka
pilihan yang paling tepat untuk
pengobatan demam tifoid dan pasien
dapat dipulangkan pada hari ke 4 atau
ke 5 dan keadaan bebas demam 2 hari
sebelum
dipulangkan
dengan
persetujuan dokter yang merawat.
Respons terapi berbagai antibiotik
dinilai dengan waktu bebas demam
dan lama rawat di rumah sakit. Saat
reda
demam
(time
of
fever
defervescence )merupakan parameter
keberhasilan pengobatan dan saat
tersebut
menentukan
efektifitas
antibiotik, (Hadinegoro, 2001)
Penelitian ini sesuai dengan
penelitian
terdahulu
yang
menyebutkan
bahwa
Fluoroquinolones adalah pilihan terapi
tifoid untuk pasien dewasa yang
kemudian diikuti dengan sefalosporin

dan azitromisin sebagaimana yang


telah dianjurkan oleh WHO (Effa,
2011)
Karena jutaan orang rentan
terhadap
ancaman
menantang
munculnya resistensi antimikroba di
seluruh dunia dan ancaman yang lebih
menyedihkan di negara berkembang.
Sebanding dengan spesies bakteri lain,
Salmonella enterica serovar Typhi (S.
typhi) dan paratyphi (S. paratyphi)
telah berkembang resistensi multidrug
(MDR) terhadap berbagai macam
antibiotik, termasuk kloramfenikol,
ampisilin dan kotrimoksazol, dan
secara global mempengaruhi 21 juta
orang dengan 220 000 kematian setiap
tahun. S. typhi dan S. paratyphi infeksi
juga endemik di Asia Selatan dan
serangkaian antibiotik digunakan
untuk mengobati infeksi ini, telah
kehilangan efikasi terhadap demam
enterik. Saat ini, kuinolon dianggap
sebagai pilihan untuk mengobati MDR
Salmonella di wilayah ini (Akhtar ,
2014)
Kloramfenikol dan tiamfenikol
masih cukup sensitif untuk demam
tifoid. Tiamfenikol adalah turunan
kloramfenikol yang juga aktif terhadap
spesies Salmonella dan dapat diberikan
secara oral. Obat dapat diberikan
dengan dosis lebih kecil, interval lebih
lama, dengan angka kekambuhan, dan
pengidap kuman (carrier) yang terjadi
lebih
sedikit.
Walaupun
dapat
menyebabkan depresi sumsum tulang,
(Rismarini, 2001). Reaksi toksik
dengan manifestasi depresi sumsum
tulang. Kelainan ini berhubungan
dengan dosis, menjadi sembuh dan
pulih bila pengobatan dihentikan.
Reaksi ini terlihat bila kadar

15

Kloramfenikol
dalam
serum
melampaui 25 mcg/ml. Depresi tulang
ini sangat berbahaya dan dapat
berwujud dalam dua bentuk anemia,
yakni
sebagai:
Penghambatan
pembentukan sel-sel darah (eritosit,
trombosit dan granulosit) yang timbul
dalam waktu 5 hari sesudah
dimulainya terapi. Gangguan ini
tergantung dosis serta lamanya terapi
dan bersifat reversibel. Anemia
aplastis, yang dapat timbul sesudah
beberapa minggu sampai beberapa
bulan
pada
penggunaan
oral,
parenteral dan okuler, maka tetes mata
tidak boleh digunakan lebih dari 10
hari. Bentuk yang kedua bentuknya
lebih buruk karena anemia yang terjadi
bersifat menetap seperti anemia
aplastik
dengan
pansitopenia.
Timbulnya tidak tergantung dari
besarnya dosis atau lama pengobatan.
Efek samping ini diduga disebabkan
oleh
adanya
kelainan
genetik.
Kloramfenikol jarang menyebabkan
gangguan gastrointestinal. Namun,
pemberian lebih dari 3 gram / hari
secara teratur dapat menyebabkan
gangguan pada maturasi sel darah
merah, peningkatan serum besi, dan
anemia. Kelainan ini dapat sembuh
kembali jika obat dihentikan. Kadangkadang terjadi idiosinkrasi terhadap
kloramfenikol dan mengakibatkan
anemia aplastik fatal yang serius.
(Petri, 2001)
Uji widal dalam penelitian ini
pada
pemeriksaan
pertama
memberikan hasil yang negatif karena
pasien telah menerima antibiotik
sebelum pemeriksaan widal. diagnosis,
bakteri dapat diisolasi dari
darah
Selain ini, tidak tersedianya fasilitas
dan mikrobiologis waktu lama

menunggu hasil kultur (7sampai 10


hari) telah diidentifikasi sebagai alasan
untuk preferensi untuk tes Widal (Abm
, 2011) Selain itu Hasil negatif palsu
dapat waktu pengambilan darah
kurang dari 1 minggu sakit, keadaan
umum pasien yang buruk, dan adanya
penyakit imunologik lain.
Titer O meningkat setelah akhir
minggu. Melihat hal-hal di atas maka
permintaan tes widal ini pada
penderita yang baru menderita demam
beberapa hari kurang tepat. Bila hasil
reaktif (positif) maka kemungkinan
besar bukan disebabkan oleh penyakit
saat itu tetapi dari kontak sebelumnya.
(Lusi , 2010 )
Dalam penelitian ini pasien
yang memberikan hasil widal negatif
adalah pada titer O dan titer H adalah
pasien P1, P3, P4, P5, P6, P7, P9, P10,
P12, P17, P19, P20, P21, P26, P27,
P29, P30, P31 dan P32 nilai widal
negatif pada pemeriksaan dengan titer
O saja ditemukan pada pasien P2, P8,
P11, P15, P22, P23, P24 dimana titer
H secara berurutan adalah 1/160, 1/80,
1/320, 1/80, 1/320, 1/320. Nilai widal
negatif pada pemeriksaan dengan titer
H ditemui pada pasien P13, P14, P16,
P18, P25, P28 dimana nilai titer O
secara berurutan yaitu 1/80, 1/160,
1/320, 1/160, 1/320, 1/320 sedangkan
pasien yang menpunyai hasil widal
positif pada kedua titer ini adalah
pasien P25 dimana nilai titer O adalah
1/320 dan titer H 1/320.
Sedangkan pada pemeriksaan
widal yang kedua terlihat nilai positif
pada titer O yaitu pada pasien P16
dengan nilai 1/320 dimana tidak terjadi
peningkatan dan penurunan nilai widal
dari pemeriksaan sebelumnya. Nilai

16

positif pada pemeriksaan yang kedua


kalinya terhadap titer H ditemukan
pada pasien P2, P8, P15 yaitu 1/160
dan tidak terjadi penurunan dan
peningkatan nilai Widal sedangkan
pada pasien P23 terjadi penigkatan
nilai widal dari 1/320 menjadi 1/360.
Pasien P25 terjadi penurunan nilai
widal dari 1/320 menjadi 1/160.dapat
dilihat pada lampiran 6 tabel 8
Hasil penelitian ini tidak bisa
dibandingkan
dengan
penelitianpenelitian sebelumnya karena kriteria
positif untuk tes widal berbeda-beda
disetiap daerah dan tiap negara.
Penelitian yang dilakukan oleh PM
Udani, vimla purohit, dan paresh desai
(1999), menyebutkan tes widal
dikatakan positif apabila titer antigen
O 1/250 dan antigen H > 1/125,
(Udani,
1999).
Sementara
itu
penelitian yang dilakukanY.Fyap dan
S.D (2007) menggunakan titer antigen
salmonella thypii O dan H 1/640
sebagai kriteria positif untuk tes widal
(Yap, 2007)
Setiap titer di atas titer dasar
dapat diambil sebagai titer diagnostik
untuk diagnosis demam enterik. telah
direkomendasikan bahwa titer yang
signifikan dari ' H 'aglutinin dan ' O '
agglutinin Salmonella enterica serotipe
typhi adalah 1 : 80 . Sedangkan titer
signifikan 'H ' agglutinin Salmonella
enterica serotipe paratyphi A adalah
1 : 40, titer signifikan dari agglutinin '
H 'dari Salmonella enterica serotype
paratyphi B adalah 1: 20.
penelitian lain juga telah
membuktikan bahwa lebih dari 95%
dari nilai positif menunjukkan titer
agutinin O 1:160 atau lebih pada Widal
Test. Namun, sebagian besar yang
diduga secara klinis kultur negatif
(lebih dari 80%) juga menunjukkan 4

atau Kenaikan > 4 kali lipat dari 'O'


agglutinintiter.
Alasan
seperti
Fenomena adalah bahwa banyak kasus
demam tifoid sebelumnya yang
meyakinkan didiagnosis diperlakukan
dengan antibiotik (baik cukup atau
tidak cukup) yang menyebabkan
hilangnya bakteri dari perifer darah
dan karenanya hasil kultur darah
negatif. Tapi jika kasus penyakit
demam adalah kasus demam tifoid dan
melewati
setidaknya
7
hari,
kemungkinan kenaikan empat kali
lipat dari 'O' agglutinin pada tes Widal
cukup tinggi. Jadi apapun kasus
penyakit demam, jika dicurigai
memiliki demam tifoid dan uji Widal
menunjukkan kenaikan empat kali
lipat dari 'O' agglutinin, maka harus
diperlakukan dengan antibiotik yang
sesuai.
Penelitian ini mempunyai
beberapa keterbatasan. Kami tidak
melakukan pemeriksaan biakan darah
sebagai baku emas diagnosis demam
tifoid. Selain itu, untuk penelitian
tidak dapat melakukan kontrol dan
penyeragaman terhadap lama rawat di
rumah sakit pada tiap kelompok
antibiotik. Dan Lama rawat di rumah
sakit tidak selalu berhubungan dengan
derajat penyakit.

Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang
telah dilakukan di SMF Penyakit
Dalam RSUD Padang Panjang dapat
disimpulkan
1. Jenis
Antibiotika
yang
digunakan selama dalam
penelitian ini diantaranya
adalah seftriakson (18.75%),
17

2.

3.

4.

5.

sefadroksil
(9.38%),
siprofloksacin
(12.5%),
sefotaksim
(9.38%),
kloramfenikol
(6.25%),
Tiamfenikol (37.5%), dan
levofloksacin (6.25%)
Pemberian
antibiotika
seftriakson,
sefadroksil,
sefotaksim,
siprofloksacin,
kloramfenikol,
Tiamfenikol
dan
levofloksacin
tidak
mempunyai pengaruh yang
bermakna terhadap jumlah
leukosit
Pemberian
antibiotika
seftriakson,
sefadroksil,
sefotaksim
siprofloksacin,
kloramfenikol,
Tiamfenikol
dan
levofloksacin
tidak
mempunyai pengaruh yang
bermakna terhadap jumlah HB
Pemberian
antibiotika
seftriakson,
sefadroksil,
sefotaksim
siprofloksacin,
kloramfenikol,
Tiamfenikol
dan
levofloksacin
tidak
mempunyai pengaruh yang
bermakna terhadap jumlah
trombosit
Pemberian antibiotika,
sefadroksil,
siprofloksacin,
Tiamfenikol dan levofloksacin
tidak mempunyai pengaruh
yang bermakna terhadap suhu
tubuh sedangkan Seftriakson,
Sefotaksim dan Thiamfenikol
dapat memberikan pengaruh
terhadap suhu tubuh.

DAFTAR PUSTAKA

Abro AH, Abdou AMS, Gangwani JL,


Younis NJ, Hussaini HS, 2009,

Hematological
and
biochemical
changes in typhoid fever. Pak J Med
Sci; 25(2): 166-171.
Akhtar S, Sarker Mr, Jabeen K,
Sattar A, Qamar A, Fasih N, 2014,
antimicrobial resistance in salmonella
enterica serovar typhi and paratyphi in
south asia-current status, issues and
prospects.
national
center
for
biotechnology
information,
u.s.
national library of medicine 8600
rockville pike, bethesda md, 20894 usa
Abm SA, Fahim AR, Farhana C, 2011,
Utility A Single Uji Widal Di The
Diagnosis Demam Tifoid Bangladesh
J Kesehatan Anak ; Vol 35 (2):57-31
Berliner N, 2011, leukopenia dan
leukositosis in Goldman L, Schafer al
eds.cecil
medicine.
Ed
24
Philladelphia, Pa saunders elseiver,
chap 170
Butler, T., C. B. Srindhar., M. K.
Daga., K. Pathak., R. B. Pandit., R.
Khakhria., C. N. Potkar., M. T.
Zelasky., R. B. Johnson. 1999.
Treatment Of Typhoid fever with
azitromycin versus chloramphenicol in
a randomized multicenter trial in India.
Journal
Of
Antimicrobial
Chemotherapy. 44: 243 250
Chowta M.N dan Chowta N.K, 2005.
Study of Clinical Profile and
Antibiotic response in Thypoid Fever.
Indian
Journal
of
Medical
Microbiology. Vol 23. Hal 125-127
Effendi L, 1981,
Pencegahan
penyakit Menular, Jakarta: Penerbit
Bhratara Karya Aksara: 698-699

18

Effa EE, Lassi ZS, Critchley JA,


Garner P, Sinclair D, Olliaro PL,
Bhutta ZA, 2011 Fluoroquinolones
untuk mengobati demam tifoid dan
paratifoid (demam enterik) . Cochrane
Database Systematic Reviews, Edisi
10 . Art . No : CD004530 . DOI :
10.1002/14651858.CD004530.pub4.
Link ke Cochrane Library. [PubMed]

Katzung.B.G, 2007, Farmakologi


dasar dan klinis edisi 10 penerbit
kedokteran:Jakarta

Frenck, R. W., Jr., Isabelle, N., Yehia,


S., Samir, B. B., Youssef. F. G., John,
D., Thomas, C. B., Nabil, I. G.,
Mosaad, M. 2000. Azithromycin
versus ceftriaxone for the treatment of
uncomplicated typhoid fever in
children. Clinical Infectious Diseases.
31: 1134 11348

Nelwan RHH, Chen K, Nafrialdi,


Paramita D, 2006, Open study
onefficacy and safety of levofloxacin
in treatment of uncomplicated typhoid
fever. Southeast Asian J Trop Med
PublicHealth; 37: 12630.
Parry CM, Hien TT, Dougan G, White
NJ, Farrar JJ, 2002, Typhoid fever. N
Engl J Med;347(22): 1770-1782.

Girgis, N.I., Thomas, B., Robbert,


W.F., Yehia, S., Forrest, M.B., David,
T and Rasik, K. 1999. Azithromycin
Versus Ciprofloxacin For Treatment Of
Uncomplicated Typhoid Fever In A
Randomized Trial In Egypt That
Included Patients With Multidrug
Resistance. American society for
microbiology. 1441-1444

Musnelina L, Afdhal AF, Gani A,


Andayani P, 2004, Pola pemberian
antibiotika pengobatan demam tifoid
anak di rumah sakit Fatmawati Jakarta
tahun 2001-2002. Makara;8(1): 27-31.

Hosoglu S, Aldemir M, Akalin S,


Geyik MF, Tacyildiz IH, Loeb M,
2004,
Risk factors for enteric
perforation in patients with typhoid
fever. Am J Epidemiol ; 160: 46-50.

Petri WA Jr, 2001, Sulfonamides,


trimethoprim-sulfamethoxazole,
quinolones, and agents for urinary tract
infections. In: Goodman AG, Hardman
JG,
Limbird
LE
(editor).
Goodman&gilmans
the
pharmacological basis of theraupetics.
10th ed. New York: McGraw Hill.
1176-7
Prasetyo RV,ismoedijanto. Metode
diagnostik demam tifoid pada anak.
Divisi tropik dan penyakit infeksi
bagian / SMF ilmu kesehatan anak FK
UNAIR/RSU Dr Soetomo Surabaya.

Islam, A., T. Butler., I. Kabir and N. H.


Alam. 1993. Treatment of typhoid
fever with ceftriaxone for 5 days or
chloramphenicol for 14 days : a
randomized
clinical
trial.
Antimicrobial
agents
and
chemotherapy. 37: 1572 1575

Rockville Pike, Bethesda MD, 2014,


Thrombocythemia and
Thrombocytosis National Center for
Biotechnology Information, U.S.
National Library of Medicine ,
National Heart, Lung, and Blood
Institute Health , 20894 USA
Syamsul .A, Edi. H, Dwi. S, 2009,
Hubungan tingkat demam dengan
19

hasil pemeriksaan hematologi pada


penderita demam tifoid
Suryabrata .M, 2003. Metodologi
penelitian edisi 2 cet 14 jakarta: Pt
Raja Grafindo Persada
Soedarmo, Sumarmo, 2012, Buku ajar
infeksi dan pediatri tropis. edisi kedua
ikatan anak Indonesia
Smith, M. D., Duong, N. M., Hoa, N.
T., Wain, J., Ha, H. D., Diep, T. S.,
Day, N. P., Hien, T. T., White, N. J.
1994. Comperison of Ofloxacin and
Ceftriaxone
for
Short-course
Treatment
of
Enteric
Fever.
Antimicrobial
Agents
and
Chemotherapy. 38: 1716 1720

Viet Nam: dasar molekul resistensi dan


respon klinis terhadap pengobatan.Clin
Infect Dis vol 25:1404-10.
Wells
BG,
dkk,
1999,
Pharmacotherapy A Pathophysiologic
approach sixth edition, MC.grrow WHill
Widoyono, 2011, Penyakit tropis,
epidemiologi, penularan, pencegahan,
dan pemberantasannya edisi kedua
erlangga : Jakarta

R E F E R EN C E S

Sudoyo, A.W., Bambang, S., Idrus, A.,


Marcellus, S.K dan Siti, S. 2007. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III.
Edisi IV. Pusat Penerbitan Departemen
Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Universitas Indonesia: Jakarta Pusat
Trihendradi, C, 2013, step by step IBM
SPSS 21:analisis data statistik,
penerbit Andi Yogyakarta
Udani, PM, Dkk.1999. Typoid fever in
children in the past and present multi
drug resistent type with special
reference to neurogical complications.
Dept of pediatrics. Bombay Hospital
Medical Sciences. Mumbai - 400020
Wain J, Hoa NTT, Chinh NT, Vinh H,
Everett MJ, Diep TS, et al, 1997
Kuinolon-tahan Salmonella typhi di

20