You are on page 1of 11

Navigation

Balai Diklat Keagamaan Semarang


Menu
Search

HARGA PERKIRAAN SENDIRI DALAM PENGADAAN BARANG


DAN JASA PEMERINTAH
Posted on 06/04/2015 09:02 by ADMIN BDK

HARGA PERKIRAAN SENDIRI DALAM PENGADAAN BARANG DAN JASA PEMERINTAH


Oleh : Yeri Adriyanto *)
Abstrak
Pejabat Pembuat Komitmen adalah pejabat yang diangkat oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran sebagai pemilik pekerjaan, yang bertanggung jawab
atas pelaksanaan pengadaan barang dan Jasa. Salah satu tugas Pejabat Pembuat
Komitmen adalah membuat spesikasi teknis dan harga patokan sendiri. Sebelum
kegiatan pengadaan dilakukan/dimulai terlebih dahulu dilakukan dengan membuat Haga
Perkiraan Sendiri, Harga Perkiraan Sendiri dibuat dengan melakukan survey harga pasar
dengan membandingkan dua sumber/harga yang berbeda sehingga ditemukan harga
yang wajar dengan kualitas barang yang baik sehingga Negara tidak dirugikan. Harga
Perkiraan Sendiri dibuat sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran
yang sah untuk pengadaan barang dan jasa, alat untuk menilai kewajaran penawaran
termasuk rinciannya. Nilai total Harga Perkiraan Sendiri bersifat terbuka dan tidak
rahasia, tetapi rincian harga satuan bersifat rahasia.
Kata Kunci : PPK, Harga Perkiraan Sendiri.
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang

Sebelum menyusun harga perkiraan sendiri, langkah pertama yang harus dilakukan
adalah menyusun spesikasi barang (spek) Setelah spesikasi ditetapkan selanjutnya
pejabat yang berwenang dalam hal ini Pejabat Pembuat Komitmen, baru menyusun
harga Perkiraan Sendiri (HPS) sesuai dengan Pasal 66 Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang
Pengadaan barang dan Jasa Pemerintah secara rinci dan detail menegaskan fungsi HPS
dalam proses pengadaan serta persyaratannya.
Menurut hukum permintaan dan penawaran menyebutkan bahwa semakin tinggi

Menurut hukum permintaan dan penawaran menyebutkan bahwa semakin tinggi


permintaan maka akan semakin tinggi pula harga barang/jasa, semakin tinggi atau
banyak penawaran maka harga akan semakin turun. Disisi lain ada faktor produksi,
jumlah penyedia dan jumlah pembeli yang juga turut mempengaruhi. Hal ini
menunjukkan bahwa harga didalam pasar sebagai indikator kompetisi.
Kompetisi antar penyedia diyakini akan menjadi sarana efektif bagi user untuk
mendapatkan barang/jasa yang dibutuhkan dengan kualitas optimal sesuai kemampuan
dana yang tersedia. Maka dalam Perpres No 54 Tahun 2010 dalam pasal 5 menyebutkan
tentang prinsip-prinsip pengadaan yaitu terbuka, transparan, bersaing, adil/tidak
diskriminatif kemudian dibungkus akuntabilitas untuk menjaga trust atau kepercayaan
semua pihak terhadap proses. Tujuan utamanya tentu mendukung tercapainya prinsip
efektif dan esien.
Dalam kerangka kompetisi inilah kemudian HPS disusun. Pasal 66 ayat 5 huruf a
menegaskan bahwa HPS digunakan sebagai alat menilai kewajaran penawaran termasuk
rinciannya. Kemudian ayat 7 menambahkan bahwa HPS didasarkan pada harga pasar
setempat terkini, dikaitkan dengan ayat 2 yaitu 28 hari kerja sebelum batas akhir
pemasukan penawaran. Jadi dapat disimpulkan HPS adalah harga pasar setempat
menjelang pelaksanaan pengadaan.
Fenomena yang terjadi bahwa dalam pelaksanakan pengadaan barang dan jasa
pemerintah adalah banyak pejabat pengadaan yang kesulitan dalam dalam membuat
HPS. Untuk membuat HPS minimal membandingkan dua harga yang berlaku di pasar,
pada hal untuk menemukan harga yang wajar di pasaran tidak mudah. Satu-satu jalan
adalah menentukan hps dengan cara membandingkan dua harga penawaran di
perusahaan atau calon penyedia barang dan jasa.
Kasus yang paling banyak menimpa dalam pelaksanaan pengadaan barang/jasa
adalah kasus mark-up dan salah satu penyebabnya terletak pada penyusunan HPS.
Menyusun HPS membutuhkan keahlian tersendiri. Selain harus memahami karakteristik
spesikasi barang/jasa yang akan diadakan, juga harus mengetahui sumber dari
barang/jasa tersebut. Harga barang pabrikan tentu saja berbeda dengan harga
distributor apalagi harga pasar.
Yang paling sering terjadi, entah karena kesengajaan atau karena ketidaktahuan, PPK
menyerahkan perhitungan HPS kepada penyedia barang/jasa atau malah kepada broker
bin makelar yang melipatgandakan harga tersebut untuk memperoleh keuntungan
pribadi atau kelompok. PPK langsung mengambil harga tersebut tanpa melakukan check
and recheck lagi. Akibatnya, pada saat pengadaan selesai dan dilakukan pemeriksanaan oleh
aparat hukum, ditemukan mark-up harga dan mengakibatkan kerugian negara. Lagi-lagi
karena ketidaktahuan dan keinginan kerja cepat dan tidak teliti menjerumuskan PPK ke
ranah hukum.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka kami membuat karya tulis ilmiah yang berkenaan
dengan penyusunan harga patokan sendiri dalam pengadaan barang dan jasa
pemerintah.
B. Permasalahan
Bagaimana teknik menyusunan HPS yang baik dan benar yang tidak bertentangan

Bagaimana teknik menyusunan HPS yang baik dan benar yang tidak bertentangan
dengan aturan yang berlaku?
C. Tujuan
Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, memiliki kompleksitas dan aturan yang
mengikat berdasarkan Peraturan Perundang Undangan, salah satu hal utama didalam
system pengadaan adalah Penyusunan HPS, dimana Setiap pengadaan harus dibuat HPS
untuk melakukan evaluasi harga penawaran barang dan jasa dengan demikian tujuan
penyusunan HPS adalah untuk mendapatkan harga penawaran yang wajar , dapat
dipertanggungjawabkan dan dapat dilaksanakan oleh rekanan sesuai dengan ketentuan
kontrak. Kecermatan dalam penyusunan HPS akan berdampak positif bagi pelaksanaan
Pengadaan Barang dan Jasa disetiap instansi Pemerintah. Oleh karena itu diperlukan
teknik dan metode yang tepat didalam menyusun HPS berdasarkan Peraturan Presiden
No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan barang dan Jasa Pemerintah.
II. KERANGKA TEORI DAN PEMBAHASAN
A. Harga Perkiraan Sendiri
HPS adalah perkiraan biaya atas pekerjaan barang/jasa sesuai dengan syarat-syarat
yang ditentukan dalam dokumen pemilihan penyedia barang/jasa, dikalkulasikan secara
keahlian dan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan (Pedoman
Penyusunan Spek dan HPS, BP-ULP Undip : 2014). Nilai total HPS terbuka dan tidak
rahasia. Yang dimaksud dengan nilai total HPS adalah hasil perhitungan seluruh volume pekerjaan dikalikan dengan
Harga Satuan ditambah dengan seluruh beban pajak dan keuntungan (Perpres 54 Tahun 2014, hal : 150)

Berdasarkan HPS yang ditetapkan oleh PPK, ULP/Pejabat Pengadaan mengumumkan


nilai total HPS. Rincian Harga Satuan dalam perhitungan HPS bersifat rahasia.
HPS digunakan sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah
untuk Pengadaan Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya dan Pengadaan Jasa
Konsultansi yang menggunakan metode Pagu Anggaran. Meskipun batas atas penawaran
dengan evaluasi kualitas dan biaya adalah pagu, namun HPS tetap diumumkan
(http://boekang.blogspot.com/2012)

Harga Perkiraan Sendiri (HPS) harus memperhitungkan biaya seluruh omponen agar
tujuan dari pengadaan barang/jasa dipenuhi dengan esien dan efektif. Untuk
pengadaan barang tidak ada ketentuan mengenai batas atas keuntungan yang wajar. HPS
bukan merupakan alat untuk menilai kewajaran harga. Perhitungan HPS harus dilakukan
dengan cermat, dengan menggunakan data dasar dan mempertimbangkan harga pasar
setempat pada waktu penyusunan HPS. RAB pada TOR/KAK dan Standar Harga yang
ditetapkan Kepala Daerah hanya digunakan untuk menyusun anggaran, sedangkan HPS
diperoleh dari hasil survei pasar terkini.
Sesuai dengan pasal 66 ayat (7) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan
barang dan Jasa Pemerintah menyebutkan bahwa penyusunan HPS didasarkan salah
satunya adalah harga pasar setempat yang didapat dari beberapa sumber informasi, Standar
harga satuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah/Lembaga tidak dapat dijadikan dasar
dalam penyusunan HPS, namun hanya digunakan untuk penyusunan RAB pada saat
pengajuan anggaran. ULP dilarang menambah klausul mengenai harga wajar maksimal
harus sesuai dengan Standar Harga Kepala Daerah/Lembaga tertentu. Meskipun

harus sesuai dengan Standar Harga Kepala Daerah/Lembaga tertentu. Meskipun


demikian bilamana standar tersebut sudah dituangkan dalam DPA, maka penetapan HPS
dan rinciannya tidak boleh melebihi Standar Harga Bupati. Mengingat HPS digunakan
sebagai dasar untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah (pasal 66 ayat (5)
huruf b), dan tidak boleh melampaui pagu yang tersedia (pasal 13).
Karena jenis barang/pekerjaan cukup beragam, maka format penetapan HPS
disesuaikan dengan sifat dan ruang lingkup pekerjaan yang dikompetisikan. HPS tetap
diperlukan untuk semua metoda pemilihan, kecuali kontes dan sayembara.
HPS disusun dengan memperhitungkan keuntungan dan biaya overhead yang
dianggap wajar. Seperti kita ketahui bersama penyusunan HPS ini dikalkulasikan secara
keahlian berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan dan riwayat penyusunan
HPS harus didokumentasikan dengan baik oleh PPK. Komponen HPS meliputi:
Harga Pasar Setempat yaitu harga barang/jasa di lokasi barang/jasa
diproduksi/diserahkan/dilaksanakan, menjelang dilaksanakannya Pengadaan
Barang/Jasa;
2. Informasi Biaya Satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh Badan Pusat Statistik
(BPS);
3. Informasi Biaya Satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh asosiasi terkait dan
sumber data lain yang dapat dipertanggungjawabkan;
4. Daftar Biaya/Tarif Barang/Jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/distributor tunggal;
5. Biaya Kontrak sebelumnya atau yang sedang berjalan dengan mempertimbangkan
faktor perubahan biaya;
6. Inasi tahun sebelumnya, suku bunga berjalan dan/atau kurs tengah Bank
Indonesia;
7. Hasil perbandingan dengan Kontrak sejenis, baik yang dilakukan dengan instansi lain
maupun pihak lain;
8. Perkiraan Perhitungan Biaya yang dilakukan oleh Konsultan Perencana (Engineers
Estimate);
9. Norma Indeks; dan/atau
10. Informasi lain yang dapat dipertanggungjawabkan (Perpres 54 Tahun 2010 pasal 66
ayat 7 (a-i).
1.

B. Tahapan Penysunan HPS Barang, Konstruksi dan Konsultansi

Mengecek besarnya pagu dana dari DIPA/PO


2. Mempelajari dokumen perencanaan umum (DIPA/DPA, KAK dan RAB)
3. Mengecek harga satuan yang berlaku dipasar, harga satuan bahan, upah dan alat
(jasa konstruksi), menghitung komponen biaya (biaya langsung personil dan biaya
langsung non personil) (jasa konsultansi)
4. Menghitung/menetapkan harga satuan, menghitung analisa harga untuk setiap mata
pembayaran (jasa konstruksi) dan menghitung harga satuan untuk biaya tenaga ahli
persatuan waktu tertentu (jasa konsultansi)
5. Menjumlahkan semua biaya untuk seluruh mata pembayaran, menetapkan harga
satuan (jasa konstruksi), menghitung jumlah biaya untuk setiap item pengeluaran
(jasa konsultansi)
1.

Menghitung jumlah biaya untuk setiap mata pembayaran, menghitung jumlah biaya

Menghitung jumlah biaya untuk setiap mata pembayaran, menghitung jumlah biaya
untuk setiap item pembayaran (jasa konstruksi) dan menjumlahkan semua biaya
untuk seluruh item pembayaran (jasa konsultansi)
7. Menjumlahkan semua biaya untuk seluruh mata pembayaran (jasa konstruksi)
8. Menghitung PPN dan menentukan HPS
6.

C. Penetapan Harga Perkiraan Sendiri

Penetapan HPS dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen. Untuk menentukan HPS
pengadaan barang/jasa lainnya, maka dilakukan studi kelayakan (pasar) untuk mencari
harga yang terendah dengan kualitas baik, maka PPK bisa menugaskan petugas
berdasarkan surat tugas untuk melakukan survey harga pasar. Yang menandatangan
hasil survey pasar adalah petugas yang melakukan survey/ petugas yang di perintahkan
berdasar SK atau surat tugas dari PPK/PA/KPA.. PPK bertanggung jawab untuk
menetapkan HPS , apabila satuan kerja PPK tidak memiliki pegawai yang menguasai
teknis konstruksi maka PPK dapat meminta bantuan tenaga ahli (konsultan perencana)
untuk menyusun HPS.
Sesuai dengan pasal 66 ayat (7) penyusunan HPS didasarkan salah satunya adalah
harga pasar setempat yang didapat dari beberapa sumber informasi, Standar harga
satuan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah/Lembaga tidak dapat dijadikan dasar dalam
penyusunan HPS, namun hanya digunakan untuk penyusunan RAB pada saat pengajuan
anggaran. ULP dilarang menambah klausul mengenai harga wajar maksimal harus sesuai
dengan Standar Harga Kepala Daerah/Lembaga tertentu. Meskipun demikian bilamana
standar tersebut sudah dituangkan dalam DPA, maka penetapan HPS dan rinciannya
tidak boleh melebihi Standar Harga Bupati. Mengingat HPS digunakan sebagai dasar
untuk menetapkan batas tertinggi penawaran yang sah dan dalam pasal 66 ayat (5) huruf
b) menyebutkan bahwa dasar untuk menetapkan batas penawaran teetinggi yang sah
untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya dan pengadaan jasa
konsultansi yang menggunakan metode pagu anggaran, dan tidak boleh melampaui pagu
yang tersedia (pasal 13). Di samping itu HPS juga digunakan sebagai dasar untuk
menetapkan besaran nilai jaminan pelaksanaan bagi penawaran yang nilainya lebih
rendah dari 80 % dari nilai total HPS.
Karena jenis barang/pekerjaan cukup beragam, maka format penetapan HPS
disesuaikan dengan sifat dan ruang lingkup pekerjaan yang dikompetisikan. HPS tetap
diperlukan untuk semua metoda pemilihan, kecuali kontes dan sayembara.
HPS dapat ditentukan dari nilai tertinggi, nilai tengah (median), nilai yang paling
banyak muncul (modus) atau rata-rata (mean) dari hasil survei, sepanjang nilai tersebut
diyakini dapat dipenuhi lebih dari 3 calon penyedia (bukan 3 produk). Nilai tersebut
sudah termasuk keuntungan, overhead, dan pajak.
HPS jasa konsultansi terdiri dari komponen Biaya Langsung Personil (Remuneration),
Biaya Langsung Non Personil (Direct Reimbursable Cost, dan Pajak Pertambahan Nilai
(PPN) Penyusunan HPS Biaya Langsung Personil tenaga ahli dapat bersumber dari
informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh asosiasi terkait dan sumber
data lain yang dapat dipertanggungjawabkan, antara lain INKINDO (pasal 66 ayat (7) b).

Namun dalam proses pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi harus dilakukan negosiasi

Namun dalam proses pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi harus dilakukan negosiasi
teknis dan biaya sehingga diperoleh harga yang sesuai dengan harga pasar dan secara
teknis dapat dipertanggungjawabkan (pasal 41 ayat (2))
Sedangkan penyusunan HPS untuk biaya non personil disesuaikan dengan ruang
lingkup dan metodologi pekerjaan untuk mendukung pelaksanaan tugas penyedia jasa
konsultansi tersebut. Harga Satuan Pekerjaan untuk biaya non personil jasa konsultansi
dapat pula mengacu kepada Standar Biaya Umum yang ditetapkan Menteri Keuangan
setiap tahun.
E. Kegunaan HPS

HPS digunakan untuk pengadaan dengan bukti tanda perjanjian berupa kuitansi, SPK
dan surat perjanjian
2. Alat untuk menilai kewajaran penawaran termasuk rinciannya;
3. Sebagai batas tertinggi dari penawaran; Semua penawaran dari penyedia
barang/jasa dalam suatu pengadaan barang jasa akan digugurkan bila melebihi HPS
dari yang ditentukan. Kecuali dalam pengadaan jasa konsultansi karena masih ada
negosiasi.
4. Dasar untuk menetapkan besaran nilai jaminan penawaran apabila penyedia
barang/jasa berkeinginan untuk mengikuti proses pengadaan barang dan jasa
sebesar 1-3 % dari nilai HPS.
5. Nilai penawaran terkoreksi antara 80% (delapan puluh persen) sampai dengan 100%
(seratus persen) dari nilai total HPS, Jaminan Pelaksanaan adalah sebesar 5% (lima
persen) dari nilai Kontrak dan nilai penawaran terkoreksi dibawah 80% (delapan
puluh persen) dari nilai total HPS, besarnya Jaminan Pelaksanaan 5% (lima persen)
dari nilai total HPS.
6. Dasar untuk menetapkan harga satuan timpang
7. Dasar untuk menetapkan besaran jaminan sanggah banding
1.

F. Metode Penyusunan HPS

1. Metode Analogi
Perkiraan biaya dengan cara membandingkan dengan pengadaan barang dan jasa
sejenis. Metode ini digunakan pada tahap awal (misalnya saat menyusun RUP
barang/jasa oleh KPA/PA) dalam hal tidak tersedia informasi biaya yang memadai untuk
melakukan analisis biaya yang agak rinci, jika terdapat perbedaan yang sangat mencolok
konsultasikan dengan para pakar/ahli untuk mendapatkan saran.
Contoh soal :
Hitung dengan meto9de analogi : pengadaan system pembayaran gaji untuk 5.000 orang
dan 100 line rincian. Lembaga lain sudah pernah melakukan untuk 100 line bagi 2.000
orang seharga Rp. 20 milyard. Ahli IT di kantor mengatakan bahwa system yang akan
dibangun 25 % lebih rumit dibandingkan system di lembaga tersebut.
Jawab :
Perkiraan biaya untuk system baru (dari sisi kerumitan) sama-sama 100 line (125% x Rp.

Perkiraan biaya untuk system baru (dari sisi kerumitan) sama-sama 100 line (125% x Rp.
20 milyard) = Rp. 25 milyard.
Perkiraan biaya untuk system baru (dari sisi jumlah pengguna 5.000 orang) : (5.000/2.000)
x Rp. 25 milyard = Rp. 62,5 milyard.
2. Metode Parametrik
Perkiraan biaya dengan cara melihat hubungan matematis antar dua variable,
yakni menghubungkan independent variable dengan dependent variable. Independent
variable merupakan faktor-faktor yang secara spesik memiliki hubungan kuat dengan
biaya total (dependent variable). Biaya berbentuk kurva atau rumusan matematis (y = ax
atau y = ax + b)
3. Metode Indek Harga
Metode indek harga merupakan angka perbandingan antara harga pada suatu
waktu (bulan/tahun) tertentu terhadap harga pada waktu (bulan/tahun) yang digunakan
sebagai dasar. Rumus :
Harga saat A = harga saat B x indeks saat A/indeks saat B
4. Metode Faktor
Metode faktor memakai asumsi bahwa terdapat angka korelasi (faktor) di anntara
harga peralatan utama dengan komponen-komponen yang terkait. Disini, biaya
komponen tersebut dihitung dengan cara memakai faktor perkalian terhadap harga
peralatan utama.
G. Teknik Penyusunan HPS

Teknik untuk penyusunan HPS/OE dapat dilakukan dengan beberapa metoda/cara,


antara lain harga pasar, data kontrak di masa lalu, perhitungan Cost of Goods Sold (COGS),
harga dari pabrikan, metoda Delphi maupun referensi harga lainnya seperti standar
Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) ataupun Standar Biaya Umum (SBU)
masing-masing daerah/institusi. Perhitungan-perhitungan didalamnya adalah termasuk
komponen biaya biaya, perhitungan Cost of Goods Manufactured, Perhitungan Cost of Goods Sold,
Perhitungan biaya material dengan metode First in First Out (FIFO), Last In First Out (LIFO) ataupun
Weight Average. Penyusunan HPS/OE juga harus mempertimbangkan analisa titik pulang
pokok atau Break Event Point (BEP) Analysis dengan perhitungan komponen Fixed Cost, Variable Cost
maupun Sales (Devi Widiawati : ULP Untirta).
Contoh Penyusunan HPS Pengadaan Barang
Sebelum menyusun HPS harus memerhatikan beberapa hal, antara lain menetapkan
harga satuan : data harga satuan atau analisa harga satuan berdasarkan harga dasar
dengan memperhitungkan keuntungan dan biaya umum, dihitung jumlah biaya untuk
setiap item barang, yaitu jumlah volume barang x harga satuan, dijumlah semua biaya
untuk seluruh item barang yang akan diadakan, dihitung PPN yaitu 10 % x jumlah semua
biaya untuk seluruh item barang dan total harga pekerjaan HPS/OE ialah jumlah biaya

biaya untuk seluruh item barang dan total harga pekerjaan HPS/OE ialah jumlah biaya
seluruh item barang + PPN 10%.
Contoh 1
HARGA PERKIRAAN SENDIRI
PENGADAAN BARANG
PA/KPA :

Kepala Dinas

K/L/D/I :

Satker :

Dinas

PPK :

Drs.

Pekerjaan :

Pengadaan barang .

Lokasi :

Kota.

Tahun anggaran :

2014

NO. Uraian

Unit/Satuan

Volume

Harga Satuan

Jumlah

Biaya Pengadaan barang

Jenis barang sesuai dgn

buah

1,000,000

1,000,000

set

1,000,000

2,000,000

unit

1,000,000

3,000,000

1,000,000

4,000,000

10,000,000

spesikasi
2

Jenis barang sesuai dgn


spesikasi

Jenis barang sesuai dgn


spesikasi

dst (sesuai dgn jmh brg yg akan


diadakan)

Jumlah sub I

II

Biaya Pemasangan dan Uji Coba

Tenaga ahli pemasangan

org

1,000,000

1,000,000

Tenaga pendukung

org

1,000,000

2,000,000

Sewa peralatan bantu

1,000,000

3,000,000

Pembelian bahan/material yg

1,000,000

4,000,000

diperlukan unt uji coba

Jumlah sub II

10,000,000

III

Biaya transportasi

20,000,000

Transport kapal

1,000,000

1,000,000

Transport lokal

1,000,000

2,000,000

Jumlah sub III

3,000,000

IV

Biaya Pelatihan

Biaya pelatihan

1,000,000

1,000,000

Jumlah Sub IV

1,000,000

Jumlah total

24,000,000

PPN 10%

2,400,000

Jumlah biaya

26,400,000

Contoh 2
Perhitungan HPS per 1 Maret 2014 u8ntuk pe3ngadaan computer laptop merek PQR sebanyak 120 unit dan printer ABC
sebanyak 10 unit. Data survey adalah:

1. Komputer laptop merek PQR, harga satuan yang dikeluarklan oleh suatu departemen 8 juta, harga survey
beberapa toko 7 juta.
2. Komputer laptop spesikasi core2Duo T6400, 2GB DDR2, 250GB HDFD, DVDRW, 56 K Modem, GbE NIC, Wi,
Bluetooth, Fingerprint, VGA Intel GMA 4500 317 MB (shared), Camera, 12.1 WXGA, Win 8.
3. Printer ABC, harga satuan yang dikeluarha oleh suatu departemen 6 juta, harga pabrikan 5 juta
4. Printer ABC, spesikasi A4, 1201200 dpi, 27 ppm, 150 Tray , 1250 tray, NIC, USB
5. PPK. Drs. Agung
No.

Spesikasi

1 Komputer laptop spesikasi

Jumlah

Harga Satuan

120 7,000,000

Jumlah
840,000,000

core2Duo T6400, 2GB DDR2, 250GB


HDFD, DVDRW, 56 K Modem, GbE
NIC, Wi, Bluetooth, Fingerprint, VGA
Intel GMA 4500 317 MB (shared),
Camera, 12.1 WXGA, Win 8.
Termasuk ongkos kirim
2

Printer ABC, spesikasi A4, 1201200 10

5,000,000

50,000,000

Jumlah

890,000,000

PPN 10 %

89,000,000

Total

979,000,000

dpi, 27 ppm, 150 Tray , 1250 tray,


NIC, USB. Temasuk ongkos kirim

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Untuk menghindari mark-up harga, maka yang harus dilakukaan oleh PPK adalah
melakukan studi kelayakan harga pasar sebagai syarat untuk menentukan HPS.
Sebaiknya survey dilakukan pada salah satu distributor/agen barang. Dengan
demikian nilai total HPS = hasil keuntungan seluruh volume dikalikan harga satuan,
ditambah dengan beban pajak dan keuntungan, yang dimakud adalah : a). harga
satuan = harga pasar secara riil/nyata, b). keuntungan dan overhead maksimal 10 %
dan c). beban PPN 10%.
2. Untuk menghindari ketidaktauan permasalahan tentang HPS, maka PPK (dibantu
oleh tim) dalam membuat HPS sebaiknya dilakukan sendiri tanpa meminta bantuan
pihak penyedia dalam membuat HPS, PPK bisa mendapatkan informasi yang lengkap
dalam pembuatan HPS bisa melalui informasi biaya satuan yang dipublikasikaan
secara resmi oleh BPS, informasi biaya satuan yang dipublikasikan secara resmi oleh
asosiasi terkait, daftar/tarif barang/jasa yang dikeluarkan oleh pabrikan/distributor
tunggal, biaya kontrak sebelumnya atau sedang berjalan, dan sebagainya. Dengan
sumber informasi yang ada seharusnya PPK tidak kesulitan dalam menyusun HPS,
karna dengan membuat HPS sendiri (tanpa minta bantuan rekanan), maka harga
yang kita buat bisa dipertanggung jawabkan bila dikemudian hari ada pemeriksaan
dari pihak pemeriksa fungsional eksternal.
1.

DAFTAR PUSTAKA

BP-ULP Undip, Pedoman Penyusunan spesikasi dan HPS Bagi PPK dan Pengelola Unit

BP-ULP Undip, Pedoman Penyusunan spesikasi dan HPS Bagi PPK dan Pengelola Unit
Layanan Pengadaan, Tahun 2014
http://pengadaan-barang-jasa.blogspot.com/2012/07/hps-harga-perkiraan-sendiri-alam.html,

diunduh 15 April

2013
http://ulp.untirta.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=107:harga-erkiraan-sendiri-hps-apa-danbagaimana-perannya-dalam-pengadaan-barang-dan-jasa,

diunduh 15 April 2013

http://boekang.blogspot.com/2012/01/tugas-dan-tanggungjawab-ppk-1.html,

diunduhtanggal 6 April 2013

Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). (2012).


nomor 70 tahun 2012. Jakarta: LKPP.

Peraturan Presiden

Mudjisantoso, 2012, Mudah Memahami Pengadaan Barang/Jasa, Jakarta, Penerbit


Simetris Graka.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang
dan Jasa Pemerintah, Edisi 2012, Penerbit Citra Umbara, Bandung.
*) Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Semarang

ARTIKEL

Previous post

Next post

Rencana Kegiatan

AUGUST,2016
SORT OPTIONS
No Events

PICS GALLERY

Kapusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan dalam Pembukaan Diklat Periode 8 s.d 22 September 2014

BDKSMG-2016 CW Magazine powered by WordPress