You are on page 1of 10

METODE DIKTE

A. Pendahuluan

Dalam proses pembelajaran, metode mempunyai kedudukan yang sangat


signifikan untuk mencapai tujuan, karena ia menjadi sarana yang bermaknakan materi
pelajaran yang tersusun dari kurikulum pendidikan yang sedemikian rupa sehingga
dapat dipahami atau diserap oleh manusia didik menjadi pengertian-pengertian yang
fungsional terhadap tingkah lakunya.

Mengingat mengajar pada hakikatnya merupakan upaya guru dalam menciptakan


situasi belajar. Metode yang digunakan oleh guru diharapkan mampu menumbuhkan
berbagai kegiatan belajar bagi pelajar sehubungan dengan kegiatan mengajar guru.
Dengan perkataan lain, proses belajar mengajar merupakan proses interaksi edukatif
anatar guru yang menciptakan suasana belajar dan pelajar yang memberi respons
terhadap usaha guru tersebut. Oleh sebab itu, metode mengajar yang baik adalah
metode yang dapat menumbuhkan kegiatan belajar bagi pelajar, dan upaya guru
dalam memilih metode yang baik merupakan upaya mempertinggi mutu
pengajaran/pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya.

Seringkali dijumpai dalam pengajaran, khususnya pengajaran agama Islam adalah


bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diproleh hasil
yang efektif dan efisien. Disamping masalah lainnya yang juga sering didapati adalah
kurangnya perhatian guru agama terhadap variasi penggunaan metode mengajar
dalam upaya meningkatkan mutu pengajaran secara baik.

Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak akan berproses secara efisien dan
efektif dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan.

Metode pendidikan yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran
jalannya proses belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia.
Oleh karena itu metode yang diterapakan oleh seorang guru, baru berdaya guna dan
berhasil-guna jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang
telah ditetapkan.

B. Pengartian Metode Dikte (Imla’)

Metode Imla’ disebut juga metode dikte, atau metode menulis. Di mana guru
membacakan acar pelajaran, dengan menyuruh siswa untuk mendikte / menulis di
buku tulis. Dan imla’ dapat pula berlaku, dimana guru menuliskan materi pelajaran
imla’ di papan tulis, dan setelah selesai diperlihatkan kepada siswa. Maka materi
imla’ tersebut kemudian dihapus, dan menyuruh siswa untuk menuliskannya kembali
di buku tulisnya.

Tujuan Metode Imla’

adapun tujuan pengajaran imla’ ini adalah sebagai berikut :

• Agar anak didik dapat menuliskan kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab
dengan mahir dan benar

• Anak-anak didik bukan saja terampil dalam membaca huruf-huruf dan


kalimat-kalimat dalam bahasa Arab, akan tetai terampil pula menuliskannya.
Dengandemikian pengetahuan anak menjadi inegral. (terpadu)

• Melatih semua panca indera anak didik menjadi aktif. Baik itu perhatian,
pendengaran, pengelihatan maupun pengucapan terlatih dalam bahasaarab.

• Menumbuhkan agar menulis Arab dengan tulisan indah dan rapi

• Menguji pengetahuan murud-murid tentang penulisan kata-kata yang telah


dipelajari

• Memudahkan murid mengarang dalam bahasa Arab dengan memakai gaya


bahasa sendiri.

Metode Mengajar Imla’

Pada dasarnya ada dua cara yang dapat dilakukan dalam pengajaran imla’ di
kelas. Yakni dengan cara mengimla’kan materi pelajaran itu di papan tulis dan murid
mencatat / menuliskannya di buku tulis. Kemudian imla’ dengan cara,gru hanya
membacakan materi pelajaran itu, kemudian murid menuliskannya di buku tulis
mereka masing-masing.

Adapun metode imla’ tersebut adalah sebagai berikut :

1) Memeberikan, apersepsi terlebih dahulu, sebelum memulai imla’. Gunanya adlah


agar perhatian anak didik terpusat kepada pelajaran yang akan dimulai.

2) Jika imla’ dilakukan dengan cara menuliskan materi imla’ maka langkah yang
ditempuh adalah sebagai berikut :

• Guru menuliskan materi pelajaran di papan tulis dengan tulisan yang menarik

• Membacakan materi pelajaran imla’ yang telah ditulis itu secara pelan dan
fasih

• Setelah guru membacakan imla’, maka suruhlah di antara mereka untuk


membacakan acara imla’ hingga benar dan fasih. Jikaperlu semua siswa dapat
membaca imla’ tersebut

• Setelah selesai membca imla’ dari semua siswa, maka guru menyuruh mereka
untuk mencatatnya di buku tulis

• Menagdakan soal jawab, hal-hal yang dianggap belum dimengerti dan


dipahami. Dan kemudian mengulangi sekali lagi bacaan tersebut hingga tidak
ada lagi kesalahan

• Menuliskan kata-kata sulit serta ikhtisar dari materi imla’

• Guru menyuruh semua siswa untuk mencatat / menulis imla’ didepan papan
tulis itu ke dalam buku tulis mereka masing-masing, dengan benar dan rapi.

• Setelah selesai imla’, guru mengumpulkan catatan imla’ semua anak didik
untuk diperiksa atau dinilai

3) Dan jika imla’ dilaksanakan dengan cara : Guru membacakan materi pelajaran
imla’ itu kepada siswa, maka langkah yang ditempuh adalah sebagai berikut :

• Mengadakan apersepsi terlebih dahulu, agar perhatian siswa semua terpusat


pada acar imla’
• Guru memulai mendikte acara imla’ secara terang / jelas, dan tidak terlalu
cepat, apakah itu dengan cara sebagian-sebagian atau dengan membacakan
secara keseluruhan. Dan murid melalui perhatiannya dan pendengarannya
yang cermat, mencatatnya pada buku tulis mereka masing-masing

• Mengumpulkan semua catatan imla’ siswa, untuk kemudian diperiksa, apakah


sudah benar atau belum imla’nya

• Guru mengadakan soal jawab mengenai imla’ yang baru saja dikerjakan itu,
dan kemudian menyuruh salah satu diantara siswa untuk menuliskannya di
papan tulis

• Guru membetulkan imla’ secara keseluruhan, dan dapat menjelaskan kembali


mengenai kalimat yang belum dipahami oleh siswa

• Akhirilah pengajaran dengan memberi berbagai petunjuk dan nasihat-nasihat


kepada anak didik.

4) Mengadakan penilaian (evaluasi), atau post test, mengenai materi imla’, apakah
tujuannya telah mengenai sasaran atau belum, jika belum, maka perlu diulang dan
perbaikan-perbaikan

Saran-Saran Dalam Menggunakan Metode Imla’

Adapun berikut ini adalah beberapa saran dalam menggunakan metode imla’
sebagai berikut :

1) Jika imla’ dengan cara menuliskan di papan tulis, maka tulisan hendaknya
rapi danterang, yang dapat dibaca oleh semua anak didik. Dan kalau imla’
dilakukan dengan cara guru membacakan, maka hendaknya bacaan imla’
dibacakan dengan suara yang lantang (terang), jangan terlalu lembek sehingga
tidak diengar murid yang duduk di belakang. Jadi bacakanlah acara pelajaran
imla’ tersebut dengan tenang tidak tergesa-gesa .

2) Guru janganlah memulai acara imla’, jika suasana kelas belum ditertibkan,
sehingga siswa benar-benar dalam keadaan siap menerima imla’ yang akan
disajikan.

3) Mulailah acara imla’ jika siswa telah dalam keadaan siap, bacakanlah secara
terang dan pelan.
4) Adakanlah soal jawab dan diskusi mengenai materi imla’ tersebut kepada
siswa dan mejelaskan maksud dari padanya.

5) Mengadakan evaluasi / post test.

Dalam metode pembelajaran untuk mengembangkan dan merencanakan


pembelajaran yang hendak dicapai perlu memahami prinsip – prinsip pembelajaran
yang hendak dicapai prinsip-prinsip pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Kesiapan ( Readness)

Dalam proses belajar mengajar baik itu pengajaran umum, agama maupun dalam
pengajaran Bahasa sangat dipengaruhi oleh prinsip kesiapan yaitu kesiapan individu
sebagai subyek yang melakukan belajar. Kesiapan belajar adalah kondisi fisik–psikis
(jasmani-mental) individu yang memungkinkan subyek dapat melakukan belajar.
Biasanya kalau beberapa tahap dapat dilalui oleh peserta didik maka ia siap untuk
melaksanakan suatu tugas khusus. Berdasarkan prinsip kesiapan belajar tersebut
dapat dikemukakan hal-hal yang terkait dalam pembelajaran antara lain :

Individu dapat belajar dengan baik apabila tugas yang diberikan kepadanya sesuai
dengan kesiapan ( kematangan usia, kemampuan, minat, dan latar belakang
pengalamannya) Kesiapan belajar harus diakaji lebih dulu untuk memperoleh
gambaran kesiapan belajar siswanya dengan jalam mengetes kesiapan atau
kemmpuan.

Jika individu kurang siap untuk melaksanakan suatau tugas belajar maka akan
menghambat proses pengaitan pengetahuan baru ke dalam stuktur kognitif yang
dimilikinya. Kesiapan belajar mencerminkan jenis dan taraf kesiapan untuk menerima
sesuatu yang baru dalam membentuk atau mengembangkan kemampuan yang lebih
matang. Bahan dan tugas–tugas belajar akan sangat baik kalau divariasi sesuai
dengan faktor kesiapan kognitif, afektif, dan psikomotor pserta didik yang kan
belajar.

2. Prinsip Motivasi (Motivation)


Menurut Morgan yang dikutip dalam bukunya Muhaimin dijelaskan bahwa
Motivasi dapat diartikan sebagai tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan
adanya tingkah laku kearah suatu tujuan tertentu (Muhaimin : 2001: 138). Berkenaan
dengan prinsip motivasi, ada beberapa hal yang perlu diperhtikan dalam
mengembangkan kegiatan pembelajaran yaitu :

• Memberikan dorongan atau (drive)

Tingkah laku seseorang akan terdorong kearah suatu tujuan tertentu apabila
ada kebutuhan. Kebutuhan ini menyebabkan timbulnya dorongan internal,
yang selanjutnya mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu untuk
mencapai tujuan.

• Memberikan Insentif

Adanya karakteristik tujuan menyebabkan seseorang bertingkah laku untuk


mencapai tujuan tersebut. Tujuan yang menyebabkan seseorang bertingkah
laku tersebut disebut insentif. Dalam kegiatan belajar bahasa arab juga perlu
insentif untuk lebih meningkatkan motiasi belajar peserta didik. Dalam hal ini
insentif yang diberikan tidak selalu berupa materi, tetapi bisa berupa nilai atau
penghargaan sesuai dengan kadar kemampuan yang dicapai peserta didik.

• Motivasi Berprestasi

Setiap orang mempuanyai motivasi untuk bekerja karena adanya kebutuhan


untuk dapat berprestasi. Mc Clelland (dalam Carleson,1986) menemukan
bahwa motivasi merupakan fungsi dari tiga variable yaitu

(1) harapan untuk melakukan tugas dengan berhasil;

(2) prestasi tertinggi tentang nilai tugas dan

(3) kebutuhan untuk keberhasilan atau kesuksasan

• Motivasi Kompetensi

Setiap peserta didik memiliki keinginan untuk menunjukkan kompetensi


dengan berusaha menaklukkan lingkungnnnya. Motivasi belajar tidak dapat
dilepaskan dari keinginannya untuk menunjukkan kemampuan dan
penguasaannya kepada yang lain. Karena itu diperlukan yaitu
(1) ketrampilan mengevaluasi diri

(2) nilai tugas bagi peserta didik

(3) harapan untuk sukses

(4) patokan keberhasilan

(5) kontol belajar dan

(6) penguatan diri untuk mencapai tujuan( Worell dan Stilwell, 1981

3. Prinsip Perhatian

Perhatian merupakan suatu strategi kognitif yang mencakup empat ketrmpiln, yaitu

(1) berorientasi pada suatu masalah;

(2) meninjau sepintas isi masalah ;

(3) Memusatkan pada aspek-aspek yang relefan dan

(4) mengabaikan stimuli yang idak relevan ( Worell dan Stilwell, 1981)

Dalam, proses pembelajaran, perhatian merupakan faktor yang besar pengaruhnya


. Kalau peserta didk mempunyai perhatian yang besar mengenai apa yang disajikan
atau dipelajari, peserta didik dapat menerima dan memilih stimuli yang relevan untuk
diproses lebih lanjut diantara sekian banyak stimuli yang datang dari luar.

Perhatian dapat membuat peserta didik untuk :

(1) mengarahkan diri pada tugas yang akan diberikan

(2) melihat masalah-masalah yang akan diberikan

(3) memilih dan memberikan fokus pada masalah yang harus diselesaikan dan

(4) mengabaiakan hal-hal lain yang tidak relevan

Dalam pembelajaran banyak metode yang digunakan salah satunya adalah metode
imla, teknik ini sebagai salah satu strategi belajar mengajar dimana siswa didalam
kelas diuji kemampuannya untuk menangkap dan menerima dengan baik dan benar
tentang apa yang dikatakan atau yang didektekan oleh guru, baik dari segi tulisan atau
ejaan. Juga sebagai sarana untuk memelihara kebiasaan-kebiasaan yang baik. Selain
itu, metode ini juga dapat digunakan untuk memperoleh ketangkasan , ketepatan ,
kesempatan, dan keterampilan siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar di
sekolah.

C. Kelebihan dan Kelemahan Metode Dikte (imla’)

Kelebihan metode imla dari metode yang lain adalah :

1) Untuk memperoleh kecakapan motoris ,seperti menulis, melafalkan huruf,


kata-kata atau kalimat, membuat alat-alat, menggunakan alat-alat ( mesin,
permainan dan atletik) , dan terampil menggunakan peralatan olah raga.

2) Untuk memperoleh kecakapan mental seperti dalam perkalian, menjumlah


pengurangan ,pembagian, tanda-tanda ( symbol), dan liannya.

3) Untuk memperoleh kecakapan dalam bentuk asosiasi yang dibuat seperti


hubungan huruf-huruf dalam ejaan, penggunaan simbol, membaca peta, dan
lain sebagainya.

Selain memiliki beberapa kelebihan dari pada metode yang lain, metode imla ini
juga memiliki kelemahannya.

Adapun kelemahan metode ini antara lain adalah :

1) Menghambat kebiasaan yang dilakukan dan menambah ketepatan serta


kecepatan pelaksanaan .

2) Kadang-kadang imla yang dilaksanakan secara berulang-ulang merupakan hal


yang menoton, dan mudah membosankan sehingga apabila metode ini
dilakuakn terlalu sering.

3) Membentuk kebiasaan yang kaku, dan fasik sehingga murid kurang aktif .

Selain memiliki beberapa kelebihan dari pada metode yang lain, metode imla ini
juga memiliki kelemahannya , memang semua metode yang ada memiliki kelebihan
dan kekurangannya masing-masing, begitu juga dengan metode imla ini. Jadi untuk
menyingkapi masalah ini Cuma terletak kepada guru yang bersangkutan bagaimana
dia bisa mensiasati dan menentukan metode mana yang afektif dan sesuai, sehingga
tujuan dari pada pembelajaran tersebut bisa sesuai dan tercapai dengan baik. Jadi
gurulah yang berperan sangat besar dalam memilih metode mana yang lebih tepat dan
sesuai untuk memperoleh hasil pembelajaran yang memuaskan.
DAFTAR PUSTAKA

http://alhafizh84.wordpress.com/2010/02/04/metode-imla-metode-dikte/

http://heruexa.blogspot.com/2009/06/metode-imla-dikte.html

http://udhiexz.wordpress.com/2008/08/08/metode-imla-dikte/