You are on page 1of 9

JURNAL JURUSAN KEPERAWATAN, Volume , Nomor

Tahun 2015, Halaman


Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/

GAMBARAN PELAKSANAAN IDENTIFIKASI PASIEN OLEH


PERAWAT DI RSUD
Ela Riya Suairoh1). Muhammad Hasib Ardani2)
1) Mahasiswa Jurusan Keperawatan, Fakultas Kedokteran, Universitas
Diponegoro (email : e_elariya@yahoo.com)
2) Staf Pengajar Departemen Keperawatan Dasar Keperawatan
Keperawatan
Dasar (DKKD) Jurusan Keperawatan, Fakultas
Kedokteran, Universitas Diponegoro (email : hasib.ardani@gmail.com)

ABSTRACT
Patient identification is one of patient safety indicator that should be implementated to
reduce medical errors. In the implementation process of patient identification in Ungaran
Hospital was found that nurses only use patients name without matching the patients
name in wristband and there were nurses who only asking the patient name when the
patient enter the room for the first time. The object of this research was to describe nurse
implementation in Patient identification in Ungaran Hospital.
Design of this research was descriptive study used phenomenological surveys with
sample was 107 nurses. The data is collected by using questionnaires with 37 statements
and analysed by using descriptive statistic.
The result of this research have shown that implementation in patient identification to
68.45%, patient identification by using wristband to 73.7%, patient identification on the
patient who could not communicate to 77.1% and patient identification on the patient
whos not able to use wristband identity to 65.7% while the results of the overall
identification implementation have shown 71.2%. It is showed that the implementation of
patient identification has not been properly implemented.
Conclution for hospital to develop and make SOP (Standart Operational Procedure)
more specific in patient identification and for nurses to always be responsible for
implementing of the patient identification and implementation procedures.
Keywords : Patient identification, nurse, hospital
ABSTRAK
Identifikasi pasien adalah bentuk keselamatan pasien yang perlu dilakukan untuk
mengurangi medical errors. Dalam proses pelaksanaan identifikasi pasien di RSUD
Ungaran masih terdapat perawat yang hanya menggunakan nama pasien saja tanpa
mencocokkan dengan gelang pasien dan ada perawat yang hanya menanyakan identitas
pasien pada saat pasien pertama kali masuk ruangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran perawat dalam melaksanakan identifikasi pasien di RSUD
Ungaran.
Penelitian ini merupakan penelitian study deskriptif dengan pendekatan surveys dengan
jumlah sampel 107 perawat. Data diambil dengan menggunakan kuisioner dengan 37
item pernyataan dan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan pelaksanaan identifikasi pasien sebesar 68.45%,
penggunaan gelang identitas pasien sebesar 73.7%, identifikasi pasien pada pasien yang

tidak dapat berkomunikasi sebesar 77.1% dan pelaksanaan identifikasi pasien pada
pasien yang tidak memungkinkan dilakukan pemasangan gelang identitas sebesar
65.7% sedangkan hasil keseluruhan pelaksanaan identifikasi menunjukan 71.2%. Hal ini
menunjukkan pelaksanaan identifikasi pasien belum dilaksanakan dengan baik.
Saran yang diberikan kepada pihak rumah sakit agar menggembangkan SPO (Standar
Prosedur Operasional) identifikasi pasien yang lebih spesifik dan bagi perawat agar
senantiasa bertanggung jawab dalam penerapan maupun pelaksanaan prosedur
identifikasi pasien.
Kata kunci : identifikasi pasien, perawat, rumah sakit

Pendahuluan
Keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit
membuat asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesment resiko, identifikasi
pasien dan pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan
dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta
implikasi solusi untuk meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya
cedera yang disebabkan oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan
atau tidak mengambil tindakan yang seharusnya diambil (Depkes RI, 2011).
Keselamatan pasien sudah menjadi isu global seperti hasil studi di Londons
Charing Cross Hospital Departemen kesehatan mengungkap pengawasan
identifikasi pasien hanya dilakukan 17%, dan penggunaan bar-code gelang
pengenal ditingkatkan menjadi 81% (Thomas, 2015). Di Amerika pada tahun
2010 pengukuran dengan Global Triger Tool menunjukkan bahwa KTD (Kejadian
Tidak Diharapkan) meningkat 10 kali lipat menjadi 32%. Selanjutnya data insiden
keselamatan pasien di salah satu Rumah Sakit Indonesia pada periode bulan
Januari sampai dengan September 2013 tercatat sebanyak 76 insiden yang
terdiri
dari
Kejadian Tidak
Diharapkan/KTD(8%),
Kejadian
Nyaris
Cedera/KNC(1%) serta kejadian Tidak Cedera/KTC (91%) (Anggraeni & Hakim,
2014).
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1691/ MENKES
/PER/VIII/2011 tentang keselamatan pasien rumah sakit BAB IV pasal 8 pada
pembahasan sasaran 1 (Ketetapan Identifikasi Pasien) disebutkan bahwa
maksud dari sasaran ini adalah untuk melakukan dua kali pengecekan
identifikasi yaitu untuk identifikasi pasien sebagai individu yang akan menerima
pelayanan atau pengobatan dan untuk kesesuaian pelayanan atau pengobatan
terhadap individu tersebut.Pada sasaran ini juga disebutkan bahwa kebijakan
dan prosedur yang secara kolaboratif dikembangkan untuk memperbaiki proses
identifikasi, khususnya pada proses untuk mengidentifikasi pasien ketika
pemberian obat, darah, atau produk darah, pengambilan darah dan spesimen
lain untuk pemeriksaan klinis atau pemberian pengobatan atau tindakan lain.
Kebijakan dan atau prosedur memerlukan sedikitnya dua cara untuk
mengidentifikasi seseorang pasien, seperti nama pasien, nomor rekam medis,
tanggal lahir, gelang identitas pasien dengan bar-code dan lain-lain.
Proses identifikasi pasien perlu dilakukan sejak awal pasien masuk ke rumah
sakit, dimana identitas tersebut akan selalu dikonfirmasi dalam segala proses di
Rumah Sakit, seperti saat sebelum memberikan obat, transfusi, sebelum
mengambil darah dan spesimen lain untuk pemeriksaan, sebelum memberikan
pengobatan dan tindakan / prosedur.
Hasil survei yang dilakukan didapatkan dalam proses identifikasi pasien
masih ada perawat yang hanya menggunakan nama pasien saja tanpa
mencocokkan dengan gelang pasien dan ada perawat yang hanya menanyakan
identitas pasien pada saat pasien pertama kali masuk ruangan. Hal ini

menunjukkan bahwa perawat belum sepenuhnya melaksanakan identifikasi


pasien.
Metode
Metode penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survei.
Penelitian ini dilakukan pada tanggal 12 Mei 23 Mei 2015 di salah satu RSUD
di Kota Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana yang
bekerja di ruang rawat inap dan IGD (Instalasi Gawat Darurat). Teknik
pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling jenis
proportionate random sampling dengan jumlah sampel 107 perawat.
Variabel penelitian ini adalah pelaksanaan perawat dalam identifikasi pasien.
Instrumen pada penelitian ini adalah kuesioner yang dikembangkan oleh peneliti
dengan acuan teori yang ada dan SOP identifikasi pasien di rumah sakit yang
sebelumnya di uji validitas isi (content validity) oleh dua ahli di bidang
manajemen keperawatan dalam masalah keselamatan pasien (patien safety) dan
kemudian di Uji Konstruk (construct validity) dan uji reliabilitas kepada 30
perawat di rumah sakit yang berbeda dengan 40 item pertanyaan. Uji Validitas
menggunakan uji validitas koefisien Biseral (r-bis). Hasil uji r-bis menunjukkan
terdapat 3 pernyataan yang tidak valid sehingga terdapat 37 item pernyataan. Uji
reliabilitas menggunakan KR (Kudar And Richardson) 20 dengan hasil 0,964
(reliabel). Cara mengukur pelaksanaan identifikasi pasien oleh perawat dengan
memberi skor pada jawaban responden dengan menggunakan skala Guttman.
Pertanyaan favorable dengan jawaban Ya diberi skor 1 dan jawaban Tidak diberi
skor 0. Pada pertanyaan unfavorable jawaban Ya diberi skor 0 dan Tidak diberi
skor 1.
Hasil Penelitian
1. Data Karakteristik Responden
Tabel 1
Distribusi Frekuensi Karakteristik Perawat
Karakteristik
Usia
24-45
Jenis Kelamin
Perempuan
Laki-Laki
Tingkat Pendidikan
D3 Keperawatan
S1 Keperawatan
Ners
Unit Kerja
Melati
Dahlia
Mawar
Cempaka
Perinatologi
Bougenville
ICU
Anggrek (VIP)
IGD

Frekuensi

Persentase (%)

107

100

94
13

87.9
12.1

22
63
22

20.6
58.9
20.6

13
14
14
13
9
13
9
9
13

12.1
13.1
13.1
12.1
8.4
12.1
8.4
8.4
12.1

Tabel 1 menjelaskan bahwa usia rata-rata perawat yang bekerja di


RSUD Ungaran Kabupaten Semarang adalah 24-45 tahun yaitu 107 perawat

(100%). Mayoritas perawat berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 94


perawat (87.9%) dan tingkat pendidikan paling banyak yaitu S1 Keperawatan
yang berjumlah 63 perawat (58.9%) serta unit kerja dengan jumlah perawat
paling banyak yaitu pada ruang Dahlia, Mawar dan Cempaka masing-masing
ruang terdapat 14 perawat (13.1%).
2. Pelaksanaan identifikasi pasien
Tabel 2
Distribusi Frekuensi Perawat Mengenai Pelaksanaan Identifikasi Pasien
Kategori
Melaksanakan
Tidak melaksanakan
Jumlah

Frekuensi
76
31
107

Persentase (%)
71.2
28.8
100

Tabel 2 menjelaskan bahwa perawat dalam pelaksanaan identifikasi


pasien secara keseluruhan sebesar 76 perawat (71.2%) melaksanakan
identifikasi pasien, sedangkan 31 perawat (28.8%) tidak melaksanakan
identifikasi pasien
a. Mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien.
Tabel 3
Distribusi Frekuensi Perawat Mengenai Pelaksanaan Identifikasi Pasien
Secara Tepat
Kategori
Melaksanakan
Tidak melaksanakan
Jumlah

Frekuensi
73
34
107

Persentase (%)
68.45
31.55
100

Tabel 3 menjelaskan bahwa perawat melaksanakan identifikasi


pasien sebesar 73 perawat (68.45%) sedangkan yang tidak
melaksanakan yaitu 34 perawat (31.55%).
b. Mengidentifikasi pelaksanaan penggunaan gelang identitas pasien.
Tabel 4
Distribusi Perawat Mengenai Pelaksanaan Penggunaan Gelang Identitas
Pasien
Kategori
Melaksanakan
Tidak melaksanakan
Jumlah

Frekuensi
79
28
107

Persentase (%)
73.7
26.3
100

Tabel 4 menjelaskan bahwa perawat melaksanakan penggunaan


gelang identitas pasien sebesar 79 perawat (73.7%) sedangkan yang
tidak melaksanakan sebanyak 28 perawat (26.3%).
c. Mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien pada pasien yang tidak
dapat berkomunikasi.
Tabel 5.
Distribusi Frekuensi Perawat Mengenai Pelaksanaan Identifikasi Pasien
Pada Pasien yang Tidak Dapat Berkomunikasi Secara Tepat
Kategori
Melaksanakan
Tidak melaksanakan
Jumlah

Frekuensi
82
25
107

Persentase (%)
77.1
22.9
100

Tabel 5 menjelaskan bahwa perawat melaksanakan identifikasi


pasien pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi sebesar 82 perawat
(77.1%) sedangkan yang tidak melaksanakan sebanyak 25 perawat
(22.9%).
d. Mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien pada pasien yang tidak
memungkinkan dilakukan pemasangan gelang identitas.
Tabel 6
Distribusi Frekuensi Perawat Mengenai Pelaksanaan Identifikasi Pasien
Pada Pasien yang Tidak Memungkinkan Dilakukan Pemasangan Gelang
Identitas Secara Tepat
Kategori
Melaksanakan
Tidak melaksanakan
Jumlah

Frekuensi
70
37
107

Persentase (%)
65.7
34.3
100 %

Tabel 6 menjelaskan bahwa perawat melaksanakan identifikasi


pasien pada pasien yang tidak memungkinkan dilakukan pemasangan
gelang identitas secara baik sebesar 70 perawat (65.7%) sedangkan
yang tidak melaksanakan sebanyak 37 perawat (34.3%).
PEMBAHASAN
Pelaksanaan identifikasi pasien secara keseluruhan menunjukkan bahwa
sebesar 76 perawat (71.2%) melaksanakan identifikasi pasien, sedangkan 31
perawat (28.8%) tidak melaksanakan identifikasi pasien. Hal tersebut
menunjukkan bahwa pelaksanaan identifikasi pasien di salah satu RSUD di Kota
Semarang kurang baik karena pelaksanaan identifikasi pasien di RSUD di Kota
Semarang belum sesuai dengan standar akreditasi rumah sakit versi 2012 yang
telah ditetapkan, yang mana pelaksanaan keselamatan pasien terpenuhi jika
memiliki prosentase 80%. Berdasarkan indikator mutu pelayanan RSUD
Ungaran kabupaten semarang bahwa pelaksanaan identifikasi pasien oleh
perawat menunjukkan dalam rentang baik (62.5%-81.25%). Meskipun dalam
pencapain indikator rumah sakit tergolong baik, namun masih ada perawat yaitu
28.8% perawat tidak melaksanakan identifikasi pasien.
Diharapkan pelaksanaan identifikasi pasien dapat mencapai 100% karena
keamanan pelayanan dirumah sakit salah satunya dimulai dari ketepatan
identifikasi pasien dan kesalahan identifikasi pasien di awal pelayanan akan
berdampak pada kesalahan pelayanan pada tahap selanjutnya sehingga rumah
sakit harus menjamin proses identifikasi pasien berjalan dengan benar sejak
pertama kali pasien didaftar (World Health Organization, 2007). Identifikasi
pasien dilakukan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi pasien dalam
melakukan suatu tindakan. Hal ini juga didukung dari WHO (World Health
Organization) bahwa rumah sakit harus menjamin proses identifikasi berjalan
dengan benar sejak pertama kali pasien didaftarkan (World Health Organization,
2007) (KARS, 2012).
a. Mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien.
Pelaksanaan identifikasi pasien sebesar 73 perawat (68.45%) sedangkan
yang tidak melaksanakan yaitu 34 perawat (31.55%). Data tersebut
menunjukkan pelaksanaan identifikasi pasien belum dilakukan dengan baik.
Data penelitian lain bahwa dari 3 dokter dan 3 perawat yang dilakukan
observasi semuanya sudah melakukan identifikasi pasien sesuai dengan
standar bahwa perawat dan dokter melaksanakan identifikasi pasien dengan

menggunakan dua identitas (nama dan tanggal lahir) pasien,


mengidentifikasi pasien sebelum pemberian obat, darah, specimen darah
dan sebelum pemberian pengobatan dan tindakan (Keles, 2015). Adanya
supervisi maupun observasi dari pihak lain atau petugas kesehatan yang lain
memungkinkan tercapainya pelaksanaan identifikasi pasien dengan baik,
sehingga ketika dalam supervisi diketahui adanya perawat yang tidak
melaksanakan identifikasi pasien dapat diberikan teguran maupun
punishment yang dapat membangun maupun memotivasi perawat untuk
senantiasa melaksanakan identifikasi pasien.
Maka perlu adanya peningkatan pelaksanaan identifikasi pasien karena
kekeliruan maupun identification error sering terjadi hampir di semua aspek
atau tahapan diagnosis dan pengobatan sehingga diperlukan tanggung
jawab maupun konsistensi yang lebih dari perawat maupun tenaga medis
lainnya.
b. Mengidentifikasi pelaksanaan penggunaan gelang identitas pasien.
Pelaksanaan penggunaan gelang identitas pasien menunjukkan bahwa
sebesar 79 perawat (73.7%) melaksanakan, sedangkan yang tidak
melaksanakan sebanyak 28 perawat (26.3%). Data penelitian tersebut
menunjukkan bahwa pelaksanakan penggunaan gelang identitas pasien
hampir dilaksanakan dengan baik yaitu hampir mencapai nilai atau standar
yang telah ditetapkan akreditasi yaitu 80%.
Penggunaan ID band atau gelang adalah cara yang paling umum untuk
mengidentifikasi pasien. Penggunaan ID band atau gelang sebagai sarana
menyampaikan informasi identifikasi pasien dan gelang ini harus melekat
pada pasien setiap saat (Henneman, Campbell, & Nathanson, 2010). Tujuan
penggunaan gelang identitas adalah untuk meminimalisir terjadinya
kekeliruan identitas pasien dalam memberikan asuhan dan tindakan
keperawatan (Joint Commision Resaurces, 2009).
Hasil penelitian ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Ni Luh
dengan hasil penelitian bahwa pengetahuan pasien sebagian besar kurang
tentang pengertian gelang identitas pasien (68.9%), kurang tentang tujuan
pemasangan gelang (67.8%), pemakaian (53.3%), dan tentang karaktersitik
gelang identitas pasien (61.1%) (Widyana, 2014). Hasil penelitian ini juga
didukung dalam penelitian Angraini bahwa dalam pelaksanaan identifikasi
pasien dimulai sejak ditempat pendaftaran pasien (TPP), sebelum gelang
dipasangkan pada pasien, perawat wajib memberikan penjelasan terlebih
dahulu tentang tujuan prosedur itu dilakukan, serta kapan perawat akan
melakukan verifikasi (Angraeni, 2009).
c. Mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien pada pasien yang tidak
dapat berkomunikasi.
Hasil penelitan menunjukkan bahwa perawat melaksanakan identifikasi
pasien pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi sebesar 82 perawat
(77.1%) sedangkan yang tidak melaksanakan sebanyak 25 perawat (22.9%).
Data ini menunjukkan bahwa hampir semua perawat melaksanakan
identifikasi pasien dengan baik, hal tersebut dapat meminimalisir adanya
identification error karena pada kenyatannya tidak semua pasien di rumah
sakit dapat mengungkapkan identitas secara lengkap dan benar, keadaan
seperti pasien dalam keadaan teranestesi, disorientasi, tidak sadar
sepenuhnya, ketidakjelasan mengungkapkan identitas merupakan beberapa
alasan tujuan dari pengidentifikasian pasien.
Terkait dengan teori bahwa pelaksanaan verifikasi identitas seharusnya
dilakukan oleh petugas kepada pasien jika pasien dalam keadaan sadar dan
berada dalam kapasitas mampu menjawab pertanyaan dengan benar,

kepada keluarga jika kondisi pasien tidak memungkinkan atau oleh petugas
kepada petugas lain jika pasien mendapatkan perawatan intensif dengan
mencocokkan dengan gelang pasien (Anggraeni & Hakim, 2014).
d. Mengidentifikasi pelaksanaan identifikasi pasien pada pasien yang tidak
memungkinkan dilakukan pemasangan gelang identitas.
Hasil penelitian menjelaskan bahwa perawat melaksanakan identifikasi
pasien pada pasien yang tidak memungkinkan dilakukan pemasangan
gelang identitas secara baik sebesar 70 perawat (65.7%) sedangkan yang
tidak melaksanakan sebanyak 37 perawat (34.3%).
Hasil data tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan identifikasi belum
dilakukan dengan baik karena hasil tersebut belum memenuhi nilai atau
standar yang ditetapkan yaitu 80%. Hal ini sama dengan penelitian yang
dilakukan Sevdalis bahwa masalah yang paling umum yang disebutkan oleh
75 perawat bahwa perawat merasa bingung cara mengidentifikasi pasien
yang cacat sehingga sebagian besar perawat tidak melaporkan masalah
dengan gelang identitas yang terkait dengan keluhan pasien (Sevdalis et
al., 2009).
Seharusnya keadaan tersebut tidak mengurangi perawat untuk tetap
memasang identitas pada pasien sehingga pasien tetap terjaga
keselamatannya. Alternatif yang dapat digunakan untuk identifikasi pasien
dengan keadaan pasien yang tidak memungkinkan pasien untuk memakai
gelang identifikasi dapat ditempatkan pada pergelangan kaki pasien atau
dahi atau dapat diidentifikasi dengan menggunakan gelang atau metode
alternatif dapat digunakan atau identifikasi menggunakan foto pasien (Sally
V.Rudmann, 2005).
Kesimpulan dan Saran
Secara keseluruhan 71.2% perawat melaksanakan identifikasi pasien, jika
dibandingkan dengan indikator maupun standar yang ditetapkan standar
akreditasi (80% terpenuhi) hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan
identifikasi pasien belum dilaksanakan dengan baik. Beberapa poin dalam
pelaksanaan identifikasi pasien yang masih perlu ditingkatkan seperti
menanyakan identitas dengan cara menanyakan nama dan tanggal lahir pasien
dan memberikan simbol penanda pada pasien yang memiliki nama yang sama
dalam satu ruang serta tidak langsung melakukan tindakan kepada pasien yang
tidak memakai gelang pengenal. Pembudayaan terhadap pelaksanaan
identifikasi pasien perlu ditingkatkan seperti mengoptimalkan peran supervisii di
setiap shift dan meningkatkan budaya safety kepada seluruh perawat.
Ucapan Terimakasih
Terima kasih peneliti sampaikan kepada dosen pembimbing, responden,
seluruh civitas akademik kampus keperawatan semua pihak yang telah
membantu penyusunan skripsi ini.
Daftar Pustaka
Anggraeni, D., & Hakim, L. (2014). Evaluasi pelaksanaan sistem identifikasi
pasien di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit. Jurnal Kedokteran Brawijaya,
28(1), 97102.
Angraeni, M. D. (2009). Dukugan Sosial Yang Diterima Oleh Perempuan Yang
Belum Berhasil Dalam Pemgobatan Infertilitas. Jurnal Keperawatan
Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), 4(3), 94101.
Depkes RI. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. No
1691/Menkes/Per/VIII, Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit. Jakarta.

Henneman, P. L., Campbell, M. M., & Nathanson, B. H. (2010). Patient


Identification Errors Are Common in a Simulated Setting. Annals of
Emergency Medicine, 55(6), 503509.
doi:10.1016/j.annemergmed.2009.11.017
Joint Commision Resaurces. (2009). Patien Safety: EssentialsFor Healt Care
fifth Edition. United States of America: Joint Commision Resources.
KARS. (2012). Instrumen Akreditasi Rumah Sakit Standar Akreditasi Versi 2012
(1st ed.). Jakarta: Komisi Akreditasi Rumah Sakit.
Keles, A. (2015). Analisis pelaksanaan standar sasaran keselamatan pasien di
Unit Gawat Darurat RSUD Dr . Sam Ratulangi Tondano sesuai dengan
akreditasi rumah sakit versi 2012. JIKMU, 5(3), 250259.
Sally V.Rudmann. (2005). Textbook of Blood Banking and Transfusion Medicine
(Second Edi.). United States of America: Elsevier Saunders.
Sevdalis, N., Norris, B., Mergs, H., Ranger, C., Ma, B. A., Bothwell, S., Martin,
W. (2009). Designing evidence-based patient safety interventions: the case
of the UK s National Health Service hospital wristbands. Journal of
Evaluation in Clinical Practice, 15, 316322. doi:10.1111/j.13652753.2008.01026.x
Thomas, R. (2015). Practical Medical Procedures at a Glance. British: Library of
Congress Cataloging.
Widyana, N. L. A. (2014). Gambaran pengetahuan pasien tentang pemasangan
gelang identifikasi pasien di Instalasi Rawat Inap A BLU.RSUP.Prof.Dr.R.D.
Kandou Manado. E-Jurnal Keperawatan, 2(2), 18.
World Health Organization. (2007). WHO Collaborating Centre for Patient Safety
Solution: Patient Identification, 1(May).